MENJADI PERAWAT : ANTARA CITA-CITA, DIPILIHKAN, ATAU SALAH JURUSAN?

Menjadi seorang perawat, sebagaimana profesi lain tentunya, juga perlu proses.

Tidak “makjedunduk” langsung bisa pakai baju putih-putih. Lantas anamnesa pasien terkait riwayat kesehatan seenak hati.

Namanya proses, itu panjang. Sepanjang waktu antara akan mendaftar masuk kuliah hingga hari ini.

Jawaban jadi pertanyaan, mengapa jadi seorang perawat, terkadang masih butuh dihayati.

Bagi teman-teman yang memang sedari dulu bercita-cita jadi perawat. Saya haturkan hormat setinggi-tingginya.

Profesi yang sekitar 30 tahun lalu masih jadi primadona. Kini mulai bertarung dengan perubahan.

Semakin banyaknya lulusan. Juga semakin sedikitnya lahan pekerjaan.

Coba bandingkan angka pertumbuhan rumah sakit dengan jumlah lulusan. Duhh, bisa geleng-geleng kita melihatnya.

Lantas, masih melekat erat di benak orang tua. Kalau kuliah perawat, pasti gampang dapat kerja.

Di tahun 90-an boleh jadi benar adanya. Di zaman sekarang? Ada yang nunggu setahun lebih baru surat lamaran terbaca. Baru dipanggil wawancara. Hasilnya? Musti sabar lagi ternyata.

Bagi Anda yang dipilihkan oleh orang tua dalam memasuki profesi ini. Mari kita tos dulu! Hehe.

Setelah kelulusan Madrasah Aliyah. Niat hati ingin ke Universitas mencoba masuk ke Biologi atau Fisika.

3 kali mendaftar. Sudah tereliminasi, bahkan sebelum tes masuk digelar.

Akhirnya. Madep, mantep, nurut sama orang tua. Diminta mendaftar kuliah perawat (sambil mikir, kuliahnya seperti apa nanti. Kalau kerja, ngapain aja. Bener-bener tidak ada gambaran sama sekali).

Lantas ditemani bulek, mendaftar di Poltekkes Semarang. Dulunya bernama Akper Depkes (mikir lagi. Itu kampus kok belum pernah denger namanya ya 😅).

Saya pun mendaftar. Dengan niat membahagiakan orang tua. Soal cita-cita, urusan nanti saja.

Berkah doa orang tua. Tes alhamdulillah lancar. Padahal banyak soal gak paham ketika mengerjakan.

Saat pengumuman. Masuk 20 besar. Saya geleng-geleng. Sambil berujar syukur. Akhirnya bisa kuliah.

3 tahun pendidikan terasa sangat lama. Beruntung, ikut organisasi membuatnya tidak terasa.

Malah banyak ikut BEM dan HIMA dibanding baca handout dari dosen tercinta. Lah gimana, saya masih “denial”, masih mencari cara menumbuhkan rasa suka.

Kuliah berjalan. Sudah saat masuk dipilihkan. Materi gak masuk-masuk. Kadang kepikiran kalau ini salah jurusan. Haha.

Satu-satunya hal yang membuat hati buncah tatkala tahu. Profesi ini ternyata bisa menjadi jalan ke mancanegara.

Ya. Mancanegara!

Pertama kali mulai jatuh cinta dengan profesi ini adalah 3 bulan menjelang wisuda. Duh, Dek. Butuh waktu lama untuk mencintaimu ternyata.

Cinta itu bernama kamar operasi.

Di rumah sakit. Selain ruang perawatan, ada banyak bidang bagi perawat. Mulai dari UGD, ICU, hemodialisa, kemoterapi, dan lain-lain.

Kamar operasi membuat saya jatuh hati. Akhirnya saya tekuni bidang ini. Walaupun sampai saat ini baru sedikit yang saya ketahui.

Bekerja di dalam negeri. Sambil bersabar menanti batas tahun minimal untuk mendaftar ke luar negeri.

Bukan. Bukan karena tidak cinta ibu pertiwi. Tapi ada sesuatu di luar sana yang ingin saya ketahui.

Hal itu karena untaian kalimat di sampul belakang novel Edensor yang bertenaga itu.

“Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri kehidupan dengan sains.

“Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman, lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka.

“Aku ingin hidup dengan kemungkinan-kemungkinan yang saling bereaksi satu sama lain, seperti benturan molekul uranium; meletup tak terduga, menyebar, mengikat, mengganda, terurai, dan berpencar ke arah-arah yang mengejutkan.

“Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang-gemintang. Aku ingin pergi ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkram dingin.

“Aku ingin hidup yang memabukkan, penuh pesona, dan penuh dengan penaklukan. Ku ingin mencari dan menemukan mozaik hidupku di pelosok-pelosok negeri bahkan di ujung-ujung dunia sekalipun.

“Kuingin menemukan jati diriku, Ku akan berjuang untuk menggapai mimpi-mimpi itu sampai titik zenit dan nadir hidupku.

Berkat kalimat itulah. Hingga hari ini. Dalam dunia rantau yang masih penuh dengan berbagai misteri. Saya bertahan.

Sambil terus berjalan. Sembari terus berproses. Lama-lama cinta itu datang walau asalnya dipilihkan dan sempat merasa salah jurusan.

Semua terasa susah pada awalnya. Mustahil kelihatannya. Serta berbagai hal yang membuat nyali ciut hingga enggan berusaha.

Berkah dari orang tua. Hangatnya doa dalam setiap sujud dan tangkupan tangan mereka. Sebuah pencapaian pun terlaksana.

Tapi itu bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, sebuah permulaan baru.

Semakin banyak pintu misteri yang menunggu untuk dibuka.

Semakin banyak kemungkinan untuk dijelajahi.

Dengan segenap tekad, usaha dan lantunan doa yang mengangakasa dari tanar air tercinta.

Sebanyak apapun kemustahilan akan bisa terlampaui. Pasti!

*Uki

PERAWAT INDONESIA DI JEPANG : BERAPA YANG LULUS TAHUN INI?

Tingkat kelulusan tertinggi dicapai tahun ini!

Kira-kira begitu isi artikel di harian online Nishi Nippon bulan lalu.

Perawat asing yang ada di Jepang. Baik dari Indonesia, Filipina, dan Vietnam, menorehkan sejarah baru. Sekaligus tertinggi selama sejarah program IJEPA.

Dari 441 orang asing yang ikut ujian nasional keperawatan di Jepang. 78 orang dinyatakan lulus. Prosentasenya 17.7%.

Tingkat kelulusan ini lebih tinggi dari tahun lalu yang baru mencapai 14.5%. Dengan peserta yang lolos 65 orang dari 447 peserta ujian.

Tahun ini juga. Jumlah kelulusan peserta ujian sebesar 91%. Dari 64.448 peserta ujian, 58.682 orang dinyatakan lolos. Baik orang Jepang maupun orang asing.

Tingkat kelulusan ini, bisa melewati 90%. Setelah 2 tahun terakhir jumlah kelulusan di bawah angka tersebut (2016 : 89.4%. 2017: 88.5%).

Nah, berapa perawat Indonesia yang lulus?

Sebentar, sebentar. Sebelum itu. Ada hal yang ingin saya sampaikan terlebih dulu.

Ketika mengikuti program perawat (kangoshi) ke Jepang lewat IJEPA. Kita diberi kesempatan hingga 3 kali untuk bisa ikut ujian nasional.

Kalau sampai yang ketiga belum lolos? Ada beberapa pilihan.

Pihak rumah sakit memberikan ijin perpanjang kerja hingga setahun lagi. Jadi bisa ikut ujian yang keempat.

Ada yang ikut ujian Junkangoshi (perawat dengan lisensi daerah/provinsi). Jika lulus, nambah kontrak 4 tahun.

Ada yang pulang. Bisa permintaan sendiri. Juga bisa karena rumah sakit tidak memperpanjang kontrak.

Selain itu? Boleh jadi ada lagi yang saya belum saya ketahui.

Perawat yang sudah pulang ke Indonesia masih bisa kah ikut ujian lagi? Bisa.

Akan tetapi, saya belum tahu caranya. Nanti kalau ada senpai yang bersedia saya wawancarai, mungkin kapan-kapan akan saya tulis.

Eh, misal ada yang mau berbagi juga saya persilahkan. Malah bisa jadi bahan diskusi.

Oke. Lanjut.

Perawat Indonesia yang lulus tahun ini ada 29 orang dari 216 peserta ujian. Rinciannya?

Ujian tahun pertama (masuk ke Jepang 2017). 22 orang peserta, belum ada yang lulus.

Ujian tahun kedua (masuk ke Jepang 2016). 44 orang peserta, 5 orang lulus.

Ujian tahun ketiga ( masuk ke Jepang 2015). 56 orang peserta, 5 orang lulus.

Ujian tahun keempat (masuk ke Jepang 2014). 22 orang peserta, 6 orang lulus.

Selain itu. Yang sudah pulang maupun yang nambah kontrak dengan lisensi junkangoshi. 72 orang peserta, 13 orang lulus.

Peserta dari negara lain?

Peserta ujian dari Filipina ada 185 orang. Jumlah yang lulus ada 31 orang. Rinciannya,

Ujian tahun pertama. 28 orang peserta, 1 orang lulus.

Ujian tahun kedua. 59 orang peserta, 9 orang lulus.

Ujian tahun ketiga. 51 orang peserta, 9 orang lulus.

Ujian tahun keempat. 16 orang peserta, 4 orang lulus.

Selain itu. Yang sudah pulang maupun yang nambah kontrak dengan lisensi junkangoshi. 31 orang peserta, 8 orang lulus.

Selanjutnya, dari Vietnam.

Peserta ujian dari Vietnam ada 40 orang. Jumlah yang lulus ada 18 orang. Rinciannya,

Ujian tahun pertama. 21 orang peserta, 7 orang lulus.

Ujian tahun kedua. 14 orang peserta, 8 orang lulus.

Ujian tahun ketiga. 3 orang peserta, 2 orang lulus.

Ujian tahun keempat.1 orang peserta, 1 orang lulus.

Selain itu. Yang sudah pulang maupun yang nambah kontrak dengan lisensi junkangoshi. 1 orang peserta, tapi belum bisa lolos.

Gimana? Pusing baca datanya ya? Haha. Saya nulisnya juga pusing, wkwk.

Setelah melihat data ini. Boleh jadi tiap orang punya pendapatnya masing-masing.

Salah satunya begini. Betul, sampai saat ini jumlah peserta dengan kelulusan terbanyak masih di pegang Indonesia. Dengan melihat data selama 10 tahun terakhir.

Namun, melihat 1 orang Filipina bisa lulus di ujian tahun pertama. Ditambah 7 orang Vietnam yang lulus di tahun pertama juga,

Tentu hal ini bisa jadi bahan renungan yang baik serta intropeksi kita bersama.

Kalau mereka bisa. Kita juga, kan?

*Uki

Link berita terkait.

*Berita kelulusan perawat asing di Nishi Nippon.

https://www.google.co.jp/amp/s/www.nishinippon.co.jp/amp/nnp/medical/article/404170

*informasi nilai batas kelulusan ujian perawat di Jepang 2018.

http://www.mhlw.go.jp/general/sikaku/successlist/2018/siken03_04_05/about.html

*Informasi kelulusan perawat di Jepang 2018.

http://www.mhlw.go.jp/stf/houdou/0000154325.html

Usaha, Doa, Serta Tawakkal

Setelah setahun mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian perawat. Rasanya masih saja kurang.

Bolak-balik membaca fungsi saraf simpatis dan parasimpatis. Masih saja terbalik-balik.

Memahami urutan pemeriksaan leopold. Lupa urutan ketiga dan keempat yang mana.

Ditambah jenis-jenis sistem masuk rumah sakit bagi pasien dengan gangguan mental? Bener-bener muter isi kepala.

Ada juga JCS (Japan Coma Scale), Hasegawa scale, MMT (Manual Muscle Test), serta kawan-kawannya.

Semua itu bersatu padu menemui para peserta ujian nasional keperawatan di Jepang.

Melihat 3 tahun ke belakang. Angka kelulusan tahun ini baru bisa melebihi 90%. Jadi, orang Jepang pun ada yang gagal.

Jika jumlah peserta ujian tahun ini ada sekitar 64 ribu. 9 persen, atau sekitar 5 ribu orang lebih belum bisa lulus.

Saya sendiri?

Malam setelah ujian. Tertunduk lesu.

Bagaimana tidak. Nilai ujian wajib saya tidak bisa melewati batas minimal kelulusan yang ditetapkan. Yaitu 80%.

Total poin ujian wajib adalah 50 poin. Batas untuk bisa lulus adalah minimal 40 poin.

Saat itu? Saya kurang 2 poin.

Malam itu. Makan terasa tidak enak. Tidur tidak bisa nyenyak. Pikiran penuh dengan segala penyesalan.

Mengapa dulu kurang begini. Mengapa dulu tidak seperti itu. Harusnya soal ini tadi saya tidak rubah jawabannya. Harusnya udah mantep dengan jawaban asal. Kurang lebih seperti itu.

Keesokan harinya. Ketika nilai ujian umum dan kasus keluar. Ada secercah harapan.

Nilai saya sepertinya bisa masuk batas kelulusan. Jika tahun kemarin batas minimal adalah 142 dari 250 poin total. Saya sudah melebihi itu.

Yakin di nilai soal umum dan kasus. Gamang di nilai soal wajib.

Solusinya? Curhat ke orang tua.

Minimal saya bisa ngeluarin unek-unek. Sama ngasih tahu ibu dan bapak. Misal tahun ini belum berhasil, kesempatannya tinggal setahun lagi.

“Bukan tinggal setahun lagi. Masih ada setahun lagi buat belajar,” Ibu membesarkan hati. Walau sejatinya juga tidak kalah kepikiran.

Usaha sudah maksimal. Alhamdulillah ujian bisa diselesaikan.

Maka, doa yang terus dipanjatkan mulai sebelum ujian. Ditambah intensitasnya ketika setelah ujian.

Doa dengan pengharapan terbaik.

Jika yang terbaik belum lulus, maka itu harus diterima dengan syukur. Sebaliknya juga. Jika yang terbaik lulus tahun ini, maka jangan takabur.

Semua harus disyukuri. Semua harus diterima. Itulah tawakkal.

Permasalahannya. Ibarat teori kehilangan dalam dunia keperawatan. Saya masih di tahap “denial”. Penolakan.

Tidak serta merta saya bisa menerima hal itu. Saya terus dan masih merasa menyesal. Dan itu tidak baik bagi keseharian saya.

Akhirnya. Istri menyarankan untuk membaca cerita jatuh bangunnya Pak Edi AH Iyubenu dalam mendirikan Diva Press.

Pak Edi ini salah satu esais favorit saya.

Melalui proses membaca itu. Perlahan saya semakin tenang. Perlahan saya bisa berubah dari penolakan menjadi penerimaan.

Karena tahu saya sedang dirundung kegalauan. Bapak sampai secara khusus sowan kepada gurunya untuk minta doa.

Usaha sudah maksimal. Doa juga harus dimaksimalkan.

Perlu cukup waktu saya menjadi tenang dan bisa merasa menerima apapun hasilnya.

26 Maret 2018. Hari pengumuman.

Rasanya pagi hingga siang terasa sangat lama. Untung pagi itu suasanya ruangan sedang sibuk-sibuknya.

Pukul 2 siang. Website kementrian kesehatan Jepang saya buka.

Saya klik di bagian pengumuman hasil ujian. Lalu saya klik lagi Hokkaido, tempat dimana saya ujian.

Saya cari nomor diantara tumpukan nomor ujian peserta lain.

02811! Ada! Alhamdulillah ya Rabb….

Pembimbing saya seketika teriak dan menangis di samping kiri saya. Saya tidak bisa berkata-kata.

Para kepala ruang segera menghambur di ruang keperawatan. Mengucapkan selamat. Saya masih tercekat. Belum bisa bicara apa-apa selain terus mengucap syukur dalam hati.

Kepala keperawatan datang memberikan ucapan selamat.

“Uki kun. Segera hubungi orang tuamu,” Pinta pembimbing.

Segera saya ke musholla rumah sakit. Sujud syukur dan telpon ibu.

Telepon tersambung. “Alhamdulillah lulus, Bu,” Ucap saya setelah salam.

Ibu langsung terisak di ujung telepon. Tidak bisa berkata-kata.

Tidak bisa ternyata kalau semua ini saya lakukan sendiri. Dulu. Sedari dulu. Segala yang saya lakukan selalu minta ijin dan doa mereka.

Boleh jadi usaha saya dalam belajar sudah sekuat tenaga. Namun, tanpa mereka. Proses doa dan tawakkal itu akan sulit saya lalui.

Berkah dari doa. Ada beberapa soal yang dianulir karena tidak ada jawabannya. Sehingga batas minimal yang harusnya 40 menjadi 36. Dan batas nilai ujian umum dan kasus 154 poin. 12 poin lebih tinggi dari tahun lalu.

Matursuwun. Terima kasih kepada bapak, ibu. Kepada istri. Kepada ibu, bapak mertua. Kepada saudara dan semua yang telah ikut mendoakan.

Alhamdulillah. Mulai bulan april ini. Di rumah sakit ini. Rumah sakit Sapporo Higashi Tokushukai. Saya bisa bekerja sebagai perawat (RN) setara dengan perawat Jepang lainnya.

Tantangan ke depan masih akan terus ada. Masih banyak hal yang akan bisa dipelajari. Di ibukota pulau paling utara Jepang ini.

*Uki

PERAWAT : YANG DI JEPANG INGIN KE SAUDI, YANG DI SAUDI INGIN KE JEPANG?

Apakah itu keliru? Tidak. Karena saya tidak menyoroti benar atau salahnya.

Saya tergelitik menulis ini gara-gara seorang teman perawat di Saudi yang bertanya-tanya soal kehidupan perawat di Jepang.

Lantas mengutarakan keinginannnya untuk mencoba mendaftar kesini.

Juga, karena ada teman yang sudah masuk ke Jepang, bertanya bagaimana cara mendaftar ke Saudi.

Kalau misalnya bisa, kedua orang itu bertukar posisi saja, hehe. Mungkin masalah akan terselesaikan.

Mungkin? Iya, mungkin.

Karena mau pindah kerja ternyata tidak sesederhana itu.

Sama halnya dengan proses mulai dari muncul keinginan hingga melakukan pendaftaran. Menikmati masa harap-harap cemas dalam setiap tes lantas terkucur keringat dingin ketika dekat dengan masa pengumuman.

Baik di dalam negeri, maupun yang ke luar negeri. Fase itu sama saja. Sama-sama rumitnya!

Pertanyaanya. Mengapa keinginan pindah kerja itu terjadi? Lantas kurang enak apa kerja di Saudi? Di Jepang juga?

Tentunya, setiap orang memiliki sederet panjang pertimbangannya masing-masing.

Bukan sebuah rahasia jika faktor ekonomi dan kesejahteraan merupakan salah satu hal yang dicari jika kerja di luar negeri.

Saya bilang salah satu. Karena motivasi tiap orang berbeda-beda.

Ada yang ingin mengembangkan potensi diri. Ada yang ingin kerja, bisa sambil jalan-jalan ke tempat-tempat yang terpatri dalam mimpi.

Ada yang coba-coba, karena melamar kerja di daerah asal gak dipanggil-panggil. Ada yang memang cita-cita sedari kecil. Serta kita bisa menambahkan sederet alasan lainnya.

Teman yang dari Saudi bertanya, “Apakah di Jepang bisa shalat jumat? Apakah bisa shalat 5 waktu?”

Sebelum jawab. Saya malah nanya balik.

“Kalau soal shalat, bukannya lebih enak disana, Mas? Malah kalau haji sama umroh deket.”

Dia lantas menjawab, “Iya, sih kalau soal itu.”

Begini. Di Jepang, saya kira semakin kesini. Mereka semakin paham apa itu agama islam. Jadi, soal shalat, asal dikomunikasikan dengan baik. Insyaallah, mereka akan mengizinkan.

Sebagai contoh rumah sakit yang saya tempati. Bahkan ada mushollanya. Kerena konsekuensi dari kewenangan rumah sakit yang bisa menerima pasien asing.

Jadi, saya merasa terbantu ketika menjelaskan apa itu shalat. Apa itu puasa.

Bahkan, saya sering diingatkan untuk shalat ketika waktunya tiba. Juga mendapat libur setiap hari jumat.

Bagaimana caranya? Dikomunikasikan. Dijelaskan baik-baik. Insyaallah mereka mengerti.

Lalu, apakah ada rumah sakit atau panti lansia yang susah dimintai ijin shalat ketika waktunya tiba?

Saat awal-awal bekerja, ada beberapa teman saya bercerita demikian. Tapi, setelah berjalanannya waktu, akhirnya bisa.

Kuncinya? Komunikasi!

Untuk itulah salah satu alasan agar sebelum masuk rumah sakit bisa berbahasa Jepang dengan baik.

Selanjutnya, pertanyaan sensitif. Soal gaji bagaimana, Mas?

Di Jepang. Perawat yang belum lulus ujian negara, mendapatkan gaji yang bervariasi antara 130 ribu sampai 150 ribu yen.

Bisa kurang, ada juga yang lebih. Tergantung daerah juga. Ya, mirip UMR di Indonesia. Tiap daerah beda, Kan?

Kalau sudah lulus ujian? Gaji dimulai seperti karyawan di Jepang pada umumnya. Sekitar 200 ribu yen. Seiring meningkatnya jam kerja dan kemampuan, tentu akan bertambah juga.

Dengan catatan tambahan. Potongan disini itu besar! Lalu biaya hidup di Jepang? Sudah banyak tulisan yang membahas tentang mahalnya biaya hidup disini.

Berbeda dengan gaji teman-teman di Saudi. Tidak terlalu banyak potongan, kata mereka. Harga kebutuhan pokok juga relatif aman.

Kalau misal dibuat hitung-hitungan. Soal gaji itu relatif. Karena soal uang itu juga relatif. Sesuai kebutuhan. Sesuai gaya hidup.

Kalau saya pribadi. Kerja dimana itu bukan soal uang saja. Tapi bagaimana bisa berkembang.

Teman yang di Saudi juga mengamini hal itu. Secara materi insyaallah tercukupi. Tapi secara pengembangan diri, di tempat dia bekerja sekarang. Merasa susah untuk berkembang.

Dalam kondisi seperti itu. Saya tidak akan melarang kalau misalnya dia ingin pindah. Toh, itu juga pilihannya.

Siapa tahu, jalan perkembangan karirnya memang di Jepang. Siapa tahu.

Lantas yang di Jepang? Ada juga memang yang ingin ke Saudi.

Memang gak enak kerja disini? Itu bisa sangat banyak faktornya kalau ingin dibahas.

Salah satunya dalam artikel di bawah ini.

https://theconversation.com/perawat-migran-indonesia-di-jepang-gajinya-tinggi-apakah-mereka-bahagia-90841

Saran saya, baca artikel itu pelan-pelan, hehe.

Jadi. Dari Indonesia mau ke luar negeri? Silakan. Dari Jepang mau pindah ke Saudi? Monggo. Dari Saudi mau mencoba ke Jepang? Sah-sah saja.

Asal sesuai tujuan. Sesuai dengan kebutuhan. Dan yang terpenting, sesuai pilihan.

Eh, ada juga sih, perawat dari Saudi yang pindah ke Jepang. Tapi karena ikut suaminya, hehe.

*Uki

Persiapan Menghadapi Ujian Nasional Perawat di Jepang

“Mas, bagaimana caranya agar bisa lulus ujian

nasional di Jepang?” Tanya seorang teman lewat inbox.

Boleh jadi, pertanyaan ini tidak hanya ditujukan kepada saya seorang.

Para senpai yang sudah lulus, serta 29 orang Indonesia yang lulus tahun ini pun, saya kira juga ditanya.

Jawaban sederhananya tentu saja dengan cara belajar. Tapi, belajar yang bagaimana, Masee?

Akutu bingung. Mulai darimana belajarnya. Buku yang mana dulu yang harus dibuka. Aplikasi di google play terlalu banyak. Coba download di apple store, sekali klik, keluar semua. Udah gitu, kanji semua lagi. Arghhhhh.

Kira-kira seperti itu. Tenang. Bukan hanya kalian. Saya juga merasakannya.

Nah, berhubung kita sama-sama bingung. Mari kita diskusikan bersama.

Semisal ada dari tulisan ini yang bermanfaat, saya sangat bersyukur. Misal blas gak berfaedah, saya mohon maaf.

Baiklah, kita mulai. Dari cara saya belajar bagaimana caranya belajar.

Pak Haji siap? Zidan siap? 😁

Saya mulai persiapan belajar tentang ujian perawat (Kangoshi Kokkashiken) itu ketika di Osaka. Selama di Jakarta, hanya fokus bahasa Jepang saja.

Itu pun masih bingung. Bagaimana cara memulainya.

Hingga kedatangan para senpai yang berbagi kisahnya dalam acara “Kouryuukai”.

Demi menggapai tujuan lulus ujian nasional, kemudian akan saya tulis Kokkashiken, tiap senpai punya cara yang berbeda-beda.

Saya bagi menjadi dua. Ada yang mendapat support dari rumah sakit, ada yang tidak.

Yang mendapat support.

Rata-rata bekerja hanya pagi sampai siang. Ada juga yang bekerja hingga jam 3 sore. Kemudian lanjut belajar.

Belajarnya ada yang mandiri. Ada juga yang didampingi.

Ada yang dibimbing oleh pihak rumah sakit. Ada juga yang dimasukkan ke tempat bimbel semacam Tokyo Academy.

Para senpai yang masuk golongan ini pun, terbagi lagi.

Ada yang belajar hingga waktu pulang tiba. Pulang, bersih-bersih, masak, makan, lalu lanjut belajar lagi hingga waktu tidur.

Ada yang memanjangkan waktu belajarnya di rumah sakit hingga perutnya minta diisi. Bisa sampai jam 7 atau jam 8 malam. Lalu pulang.

Ada juga yang bercerita, sampai lulus ujian, tidak pernah nonton tivi atau film. Yang dibuka hanya buku, buku, dan buku.

Yang tidak mendapatkan support?

Kedengarannya memang sulit, tapi ternyata ada yang lulus.

Sehari-hari, kerja dari pagi sampai malam. Tidak mendapat bimbingan dari rumah sakit.

Akhirnya, dia harus bertindak sendiri bagaimana caranya bisa belajar.

Bertanya kepada siapapun yang bisa ditanya. Diskusi dengan teman seangkatan yang punya guru pembimbing. Dan hampir seluruh hari liburnya digunakan untuk belajar.

Lah gimana lagi. Setelah pulang kerja capek. Belajar tidak maksimal. Waktu paling pas ya hari libur, kata beliau.

Hebatnya, nilai ujian soal wajib senpai ini betul semua! 🙌

Selain cara belajar diatas, saya yakin, masih banyak lagi yang berbeda. Teman-teman silakan menambahkannya.

Saya sendiri? Hingga saat ini, saya juga merasa belum memiliki cara belajar yang “sreg” di hati.

Saya lebih banyak trial and error. Banyak coba-cobanya, lebih banyak gagalnya.

Setelah gagal di ujian tahun lalu. Saya masih belum menemukan cara belajar yang pas. Saat itu, saya hanya mengerjakan soal-soal saja.

Baik buku yang diberi oleh Jicwels, maupun yang dibelikan rumah sakit.

Nama bukunya Deta 70 (出た 70). Yang isinya soal-soal yang prosentase betulnya tinggi di ujian sebelum-sebelumnya.

Itu pun masih bingung. Dan tentu belum cukup.

Nilai ujian saya tahun lalu, soal wajib baru 25% (batas lulus 40%), serta soal umum dan kasus tidak mencapai 100 poin (batas lulus minimal 142 poin dari nilai total 250 poin).

Bulan april hingga mei, saya masih tertatih-tatih mengerjakan soal-soal. Mengartikan satu persatu kanji yang kita tahu bersama kerumitannya.

Pihak rumah sakit juga memasrahkan cara belajar kepada saya. Jadi, saya hanya bertanya hal yang saya belum paham.

Masalahnya, hampir sebagian besar soal-soal beserta penjelasannya itu gak paham. 😞

Hingga pada bulan mei, saat pelatihan di Tokyo, kami diajari cara membuat jadwal belajar.

Ini sangat membantu. Karena rumah sakit yang menerima saya, baru pertama ini ikut program EPA. Mereka juga masih mencari cara bagaimana mengajari saya.

Ibarat mau babat alas. Semua masih gelap. Belum jelas ujungnya dimana.

Setelah pelatihan di Tokyo, saya membuat jadwal hingga bulan febuari menjelang Kokkashiken.

Jadwal tersebut lalu saya ajukan ke pembimbing. Alhamdulillah disetujui.

Jadi, bulan Mei hingga September, saya fokus baca materi. Targetnya, satu bab harus selesai dalam seminggu.

Misal, bab keperawatan dewasa (成人看護) sub bab jantung (心臓・循環器) harus selesai dalam seminggu. Baru kemudian pindah.

Bukan, bukan buku “Review Book” yang tebal itu. Saya membaca versi ringannya, yang berjudul “Kore dake”.

Itupun masih banyak coretan dan tanda tanya yang mesti saya tanyakan.

Penjelasan seputar anatomi fisiologi, diabetes, tekanan darah tinggi, bisa kita cari di internet.

Lah, soal “shakai mondai (社会問題)” atau permasalahan keperawatan masyarakat, perawat kunjungan ke rumah, asuransi beserta berbagai jenis panti lansia di Jepang, itu gak ada Indonesia, Kawan.

Jadinya, ketika ada pembimbing datang, langsung saja tumpah berbagai pertanyaan.

Diskusinya tentu pakai bahasa Jepang. Jadi sebelum diskusi, segala kosakata yang sulit, harus dicari dulu.

Urutannya. Cari tahu bagaimana cara baca kanjinya. Udah kebaca, cari tahu artinya. Udah tahu artinya, cari tahu penjelasannya. Lama memang. Tapi itu satu-satunya cara yang saya bisa.

Semisal, kanji 認知症. Bacanya? にんちしょう(ninchishou). Artinya? Dimensia. Pengertian dimensia apa? Dibagi menjadi berapa. Tanda dan gejalanya apa. Perubahan mood pasien dari pagi hingga pagi lagi bagaimana. Bagaimana cara penanganannya. Lalu jika ada penyakit penyerta lainnya, prioritas keperawatan bagaimana.

Mumet? Toss! Kita sama.

Ketika bosan belajar materi. Saya kerjakan soal-soal. Khususnya soal wajib (必修問題).

Awalnya saya memakai aplikasi “看護 roo (kango roo)”, tapi kemudian ganti aplikasi seperti gambar di bawah.

Saya berganti aplikasi bulan oktober. Bulan april hingga september, masih memakai “kango-roo”.

Menurut saya, aplikasi ini lebih cocok. Karena ada soal harian. Juga ada try out per beberapa hari. Soal-soal disajikan per 20 soal. Jadi memudahkan saat evaluasi.

Soal buku dan aplikasi, saya kira bagus semua. Nah, karena bagus semua, sering membuat bingung.

Saran senpai, pelajarilah salah satu dulu hingga tuntas. Jika sudah paham. Baru ganti. Saran itulah yang saya gunakan.

Oktober hingga desember, mulai belajar soal-soal. Soal umum dan kasus.

Targetnya sama. Setiap minggu harus selesai satu bab.

Soal yang bisa dikerjakan, saya tandai. Yang salah dan butuh penjelasan, saya kumpulkan dan nunggu pembimbing datang.

Januari hingga tanggal 17 febuari, sehari sebelum ujian. Saya belajar soal-soal wajib dan review soal umum dan kasus.

Saya termasuk orang yang tidak bisa belajar di asrama. Setelah seharian kerja dan belajar, sampai asrama bawaannya ngantuk.

Jadi, lebih sering memanjangkan waktu belajar di rumah sakit hingga jam 7 sampai jam 8 malam.

Kalau esoknya libur, pernah sampai jam 9 juga.

Libur saya selalu hari jumat dan sehari lagi acak. Kadang sabtu, senin, dan sebagainya.

Saat libur, biasanya saya nambah tidur hingga agak siang. Lalu siap-siap shalat jumat. Setelah jumatan, jalan-jalan sebentar di sekitar stasiun Sapporo. Lalu baca lagi.

Libur yang sehari lagi. Biasanya saya habiskan di asrama.

Semalas-malasnya belajar, harus saya paksa. Karena ada target mingguan. Ketika target selesai, baru nonton film atau main keluar.

Begitu terus selama setahun terakhir.

Membosankan? Iya.

Ketika sudah mual lihat kanji dan gak paham-paham, saya meminta solusi kepada teman perawat ruangan.

Jawaban mereka?

“Iya, persiapan Kokkashiken itu susah. Udah bahasa Jepangnya susah, ditambah istilah-istilah medis yang rumit.”

Orang Jepang pun merasa kesusahan juga ternyata, batin saya.

“Banyak orang Jepang yang mewajibkan dirinya membaca soal dan penjelasan minimal 10 kali. Ya, minimal 10 kali,”

“Saya juga dulu saat persiapan ujian, sehari belajar sampai 16 jam. Selain belajar, paling makan, ke toilet, sama tidur saja.” Kata teman perawat di ruangan.

Saya hanya bisa menghela napas. Ternyata usaha selama ini belum ada apa-apanya.

Karena ucapan itu, saya kembali bersemangat belajar lagi.

Alhamdulillah, setelah proses selama setahun. Ditambah doa dan support dari berbagai pihak di balik layar, saya bisa melewati batas kelulusan.

Batas minimal kelulusan tahun ini adalah 36 poin untuk soal wajib. Serta 154 untuk soal umum dan kasus.

Setahun kemarin memang berat. Akan tetapi, setelah menerima lisensi sebagai perawat (kangoshi), tantangan ke depan pun akan semakin meningkat.

Bagaimana cara belajar, kitalah yang menentukan. Kalau kita semangat, insyaallah semesta akan mendukung.

Bismillah, ganbarimashou!

*Uki

Waktu Shalat

Setelah pengumuman kelulusan, hal yang menjadi kekhawatiran saya adalah waktu shalat.

Selain sebagai satu-satunya karyawan muslim di rumah sakit ini. Rumor untuk bisa shalat diantara jam kerja itu lumayan sulit

Tapi, ketika kepala ruang saya bilang, “Uki kun, sudah masuk waktu shalat. Silakan shalat dulu.”

Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Seminggu yang lalu. Kembali saya dipanggil ke ruang kepala keperawatan.

Ada beberapa hal yang didiskusikan. Terkait pekerjaan saya setelah kelulusan, dan waktu shalat.

Hasilnya?

Alhamdulillah, sesuai dengan doa orang tua.

Seperti sebelum lulus menjadi perawat, saya tetap diberikan libur hari jumat. Selain itu, menyesuaikan kebutuhan ruangan. Karena liburnya 2 hari dalam seminggu.

Lalu, waktu shalat.

Saya ditanya, dalam sehari, biasanya melakukan shalat pada pukul berapa.

Ini perlu. Selain karena pihak rumah sakit menghormati saya dalam beribadah, juga kaitannya dengan waktu izin dalam melakukan shalat.

Akhirnya, saya perlihatkan waktu shalat selama setahun lewat aplikasi muslimpro.com.

Mereka (kepala keperawatan dan kepala ruang), alhamdulillah bisa memahami hal itu dengan baik.

Saya juga tertolong karena rumah sakit ini memiliki kewenangan dalam menerima pasien non Jepang.

Beberapa kali, ada pasien muslim, sehingga staf rumah sakit sedikit banyak tahu. Apa itu shalat. Oh, ternyata ada ibadah puasa ramadhan.

Karena memang rumah sakit kami dipersiapkan untuk menerima berbagai perbedaan budaya itu.

Jadi, setiap menjelang istirahat siang, maka lumrah kepala ruang, ataupun teman-teman perawat di ruangan mempersilahkan saya agar melakukan shalat.

Ketika sore hari, pas sudah masuk waktu ashar, mereka sering nanya dulu sebelum memberikan pekerjaan.

“Uki kun, saya mau minta tolong untuk dibantu mengantar pasien periksa CT-scan. Apa tidak mengganggu waktu shalatmu?”

Maktratap, hati saya meleleh mendengar hal itu.

*Uki

Halaman Persembahan, Untuk Mereka

“Wah, sampeyan hebat ya! Sendirian di Sapporo aja bisa lulus ujian nasional!” ujar teman yang lulus juga.

Sebagai kandidat program EPA, saya memang terdampar sendirian di ibukota provinsi paling utara Jepang, Hokkaido.

Ada sih, satu orang Indonesia. Letaknya 8 jam perjalanan dari Sapporo. Di kota antah berantah bernama Nemuro. Ada yang pernah dengar?

Tapi, saya tak sehebat itu. Saya tak sekuat itu. Tanpa mereka, ya, tanpa campur tangan mereka, saya bukan apa-apa.

Setelah pengumuman kelulusan senin lalu, saya justru terpaku. Seakan napak tilas ke belakang. Saat duduk di ruang kuliah.

Berawal dari kedatangan kakak tingkat. Berkisah serunya hidup di Amerika, hingga mendapat gelar RN (Register Nurse) atau lisensi perawat di Houston.

Jadilah bertekad, saya juga harus bisa menembus dunia internasional.

Akhirnya sembari kerja, di Batam, juga kursus Bahasa Inggris. Seminggu 3 kali. 1,5 jam tiap pertemuan. Dengan pengajar dari Belanda yang fasih Bahasa Indonesia, Mr. Ronald Ramakers.

Suatu ketika, saya meminta izin mengantarkan beliau pulang. Tentu saja sambil ngobrol ngalor-ngidul. Pesannya yang saya ingat, “Yes. You can reach your dream.”

Tak ada jalan kehidupan yang semulus aspal tol ternyata. Saya, 3 kali gagal melamar kerja ke luar negeri.

Amerika, tak ada kelonggaran visa.

Kuwait, sudah daftar, tak ada tanggapan.

Qatar, nyaris wawancara, tiba-tiba PJTKI-nya bermasalah.

Rasanya, sudah tak ada lagi kesempatan. Hingga saat sowan ke Kampus. Pak Giek Potekkes, Direktur Poltekkes kala itu berpesan,

“Ada lowongan perawat ke Jepang, Mas. Silakan dicoba, saya doakan semoga lancar.”

Alhamdulillah. Sedikit mulai sedikit, ujung terowongan gelap nan pengap terlihat.

Bismillah, fokus ke Jepang.

Yayasan BIMA Jakarta, salah satu yang memberi harapan ke Negeri Sakura. Sebulan setelah ujian, ternyata, harus lebih lama bersabar.

Cari informasi lagi. Tanya-tanya lagi. Searching di internet lagi.

Hingga jalan takdir mempertemukan saya dengan dr. M Ar Effendy dan Pak Sony Arsjad dalam keluarga besar Lpk Bahana Inspirasi Muda, di Bale Endah, Bandung.

Saya sempat mengira, itu bukan pelatihan bahasa. Tapi kawah candradimuka yang akan melahap siapa saja yang membangkang.

Aturan ketat dengan segala keunikannya. Senam setiap pagi, ujian setiap jam, pula disiplin belajar yang tak main-main. Hanya demi lolos test EPA angkatan 9.

Saat sesi diskusi, dr. Arsjad mengajukan pertanyaan yang sulit saya jawab, “Uki san pengen lulus di tahun pertama atau kedua?”

Saya terdiam. Boro-boro lulus ujian keperawatan, menginjak tempat lahirnya Nobita saja sudah syukur.

Akhirnya dijawab sendiri oleh beliau, “Menurut saya, lebih bagus bisa lulus di tahun kedua. Jadi, 1 tahun pertama di rumah sakit. Kerja sambil mempelajari kebiasaan orang Jepang.”

Saya mengangguk setuju. Sambil mengaminkan berkali-kali dalam hati.

Alhamdulillah, setelah serangkaian test sepanjang jalan Anyer-Panarukan, saya lolos dan maching dengan rumah sakit Sapporo Higashi Tokushukai di Kota Sapporo, Hokkaido.

Alasannya simpel, memiliki kewenangan menerima pasien asing dan menyediakan musholla. Ya, musholla.

Setahun terakhir, dua kali diminta menjadi interpreter. Saat ada pasien Indonesia dan Thailand. Alhamdulillah ilmu dari Mr. Ronald sangat membantu. Meski agak kacau.

Untungnya mereka masih memaklumi. Iya, maklum, orang Indonesia, ya fasihnya Bahasa Indonesia. Hehe.

Setelah 6 bulan belajar di Srengseng Sawah, Jaksel, lanjut terbang ke Osaka. Tempat di mana saya menemukan pentingnya pengembangan diri dan kedalaman hati.

Pak dhe Hariadi Pamungkas, penerjemah dengan jam terbang kelewat banyak. Menjadi role model bertahan hidup di tanah orang.

Saya pikir orang Jepang. Lah gimana, penampilannya “Jepang” banget, Je!

Tapi eh, tiba-tiba beliau setengah berteriak, “Ayo, Mas. Masuk, masuk. Shalat jumat meh ndang dimulai.” Lah, ternyata Jawa juga, haha.

Ada pula Mas Asdicka Al-ghony yang entah bagaimana awalnya, bisa bertemu sesaat sebelum shalat Idul Fitri 2 tahun lalu.

Yang membuat jantung saya berdegup tak keruan saat beliau bercerita kalau telah lulus di tahun kedua dalam ujian nasional keperawatan Jepang.

Ketika “Kouryuukai” atau pertemuan dengan senpai (kakak tingkat). Mereka mengajarkan bagaimana belajar efektif dan efisien untuk ujian nasional.

Salah satu dari mereka yang berbagi pengalaman, Mas Taqim Alfatih, lulus dengan nilai soal wajib 100%. Padahal di RS-nya, minim support.

Bagaimana bisa? Iya, karena tak diberi jam khusus belajar saat bekerja, jadilah seluruh waktu liburnya ditransformasi untuk menghapal dan memahami materi.

Saya yakin, setiap orang itu unik. Mereka punya caranya masing-masing dalam belajar. Dan tentu, kesempitan tak akan menghambat siapapun yang memiliki kemauan besar.

Juga, saat berkesempatan bertemu dengan salah satu pionir program EPA angkatan pertama, Mas Mohamad Yusup.

Berbagi kisah jatuh bangunnya kehidupan berkeluarga di Jepang setelah lulus ujian nasional. Ilmu juga ini!

Berada di tempat baru pasti sulit. Tapi berkat bantuan Naohiro Shimada sensei, yang selalu ada untuk memotivasi. Saya, mampu beradaptasi, dan mandiri.

Kakak, adik, saudara, dan istri Marintha Violeta yang menyelipkan nama saya di ujung doa.

Serta masih banyak orang penting yang telah mengantarkan saya hingga titik ini. Yang, maaf, belum dapat saya tuliskan satu persatu.

Dan tentu saja, semesta tak akan cukup menampung ungkap terima kasih pada bapak dan ibu tercinta. Tanpa ikhtiar dan doa luar biasa mereka, segala proses di atas boleh jadi tidak pernah terjadi.

Karena jalan menuju ujung terowongan adalah kesediaan mereka memberikan izin anaknya ini untuk mencoba berbagai ketidakmungkinan. Menembus kegelapan. Hingga menemukan cahaya.

Selembar kertas pengumuman kelulusan ini, saya persembahkan kepada segenap insan di balik layar. Atas luasnya doa dan meluapnya dukungan. Atas kesediaannya berbagi pesan dan motivasi untuk terus bergerak. Hingga saya menjadi seperti sekarang ini.

Mereka, adalah pemain kedua belas dalam sepak bola. Selalu menghentakkan kaki. Tak berhenti menyemangati. Selalu optimis dan percaya. Di tepi arena.

Meski setapak perjalanan telah terlalui. Tapi tantangan ke depan juga semakin terjal, curam dan tak terprediksi.

Sabar dalam mendaki. Terencana dalam berkalkulasi. Serta menggigit kuat optimis dalam sanubari. Adalah koentji!

Jikalau setahun terakhir ini saya merasa sudah banyak belajar. Ternyata belum seberapa. Karena nyatanya, hanya 1 persen saja. Sisanya, doa!

Bagaimanapun, sang Kuasa adalah pemilik segala ketetapan dan jalan hidup manusia.

Sapporo, 29 Maret 2018.

Uki

Matur suwun

皆様のお陰様で国家試験が合格出来ました。応援、心からありがとうございます。感謝しております。これからも大変な事が沢山出てくると思いしますのでよろしくお願いします。

Alhamdulillah, berkat doa dan support dari semuanya. Saya diberikan kelulusan dalam ujian nasional keperawatan di Jepang.

Salam sungkem dumateng sedoyo.. 🙏

Seleksi Perawat ke Jepang : Bagai Marathon!

Bulan febuari telah resmi berganti menjadi maret.

Dan, bulan kemarin juga sekaligus menjadi kabar yang di tunggu-tunggu bagi teman-teman yang ingin mencoba mendaftar program perawat ke Jepang.

Sebelum lanjut baca, saya sarankan tarik napas dalam dan rileks, karena tulisan kali ini bakal cukup panjang!

Saya ingin sharing sekaligus (semoga bisa) menjawab beberapa pertanyaan seputar seleksi perawat ke Jepang.

Here we go..

Setelah saya rangkum beberapa pertanyaan yang masuk inbox ataupun di kolom komentar, kira-kira seperti ini,

“Mas, pemberkasannya kok luar biasa ya..terus ujian keperawatan sama psikotes itu gimana? wawancaranya ditanyain apa aja ya? Japanese quiz sama aptitude test itu ngapain aja?”

Yah, barangkali memang bukan hanya saya saja yang ditanya. Boleh jadi, teman-teman saya yang sekarang sudah di Jepang juga merasakan demikian.

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita flashback 3 tahun yang lalu. Lorong waktu mana lorong waktu?

Zidan siap? Pak haji siap?….

Bulan maret 2015, saat itu boleh jadi saya juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh teman-teman yang akan mendaftar di program ini.

Senang, karena secara resmi telah diumumkan oleh Bnp2tki.

Cemas bercampur khawatir, lumrah ada, karena resiko gagal memang selalu ada.

Tapi menyerah sebelum mencoba? Itu tidak buat saya.

Pertama adalah pemberkasan. Banyaaaaaaak banget dan memang harus teliti.

Saya sampe berulang-ulang kroscek apa yang harus dipersiapkan dengan apa yang diperlukan, sesuai yang tertera di website bnp2tki.

Beberapa teman-teman ada yang ikut lembaga pelatihan sambil mempersiapkan diri, namun ada juga yang “solo” alias mencoba mengurus semuanya sendiri.

Setelah tahap pertama, yaitu pemberkasan usai, yang biasanya sampe akhir mei, maka kita akan dibuat menunggu sampe juni.

Nah, bulan juni akan keluar pengumuman selanjutnya. Siapa saja yang lolos pemberkasan, akan lanjut ke tahap selanjutnya. Yaitu tes keperawatan dan psikotes.

Tes keperawatan itu bagaimana?

Kalau yang “kangoshi”, mirip soal Ukom alias ujian kompetensi keperawatan.

180 soal, selama 180 menit serta menggunakan lembar jawab komputer.

Untuk teman-teman yang ikut “kaigofukushishi”, soal-soalnya hampir 80% tentang gerontik. Itu kata teman saya. Soal waktunya sama.

Nah, psikotes. Mungkin setiap tahun berubah polanya. Saya dulu ada 7 jenis soal, ada kraeplin, adkudag, hitung-hitungan, dan sebagainya.

Kalau yang tahun kemarin, saya kurang tahu. Yang jelas, lebih baik mempersiapkan diri. Bisa beli soal-soal psikotes di toko buku, atau cari di internet, juga banyak.

Yang jelas, tes menggambar pohon dan manusia sepertinya jarang keluar.

Oh ya, biaya tesnya masing-masing 250 ribu. Tahun ini tidak berubah apa tidak, silahkan dicek di website ya.

Setelah tes, nunggu lagi sampai akhir juli. Barulah, setelah pengumuman keluar lagi, jadi tahu siapa yang lanjut ke tahap wawancara dan Japanese quiz beserta aptitude test.

Ngomong-ngomong soal wawancara, bulan agustus 3 tahun lalu merupakan bulan yang mengesankan bagi saya.

Karena saat itulah pertama kalinya mengikuti wawancara dengan pihak asing, yaitu orang jepang.

Sebelumnya, saya juga pernah wawancara, namun dengan HRD sebuah rumah sakit swasta di daerah Jabodetabek.

Hasilnya, setelah wawancara usai, usai pula prosesnya alias saya belum bisa bergabung menjadi tenaga perawat di rumah sakit tersebut.

Kembali ke topik. Saat itu, tempat wawancara dibagi menjadi 3. Di Jakarta ada 2 tempat, dan satu tempat lagi ada di Medan.

Tempat wawancara saya dan teman-teman calon perawat atau Kangoshi, bertempat di Hotel Alila, di daerah Pecenongan, Jakarta.

Lalu, untuk teman-teman calon Careworker atau Perawat lansia, bertempat di hotel Sari Pan Pasific yang terletak di dekat bundaran Hotel Indonesia.

Saat itu, hari rabu, tanggal 19 Agustus, adalah hari yang mendebarkan.

Bagi saya dan teman-teman yang berasal dari luar kota, harus datang minimal satu hari sebelum hari wawancara, dan mencari penginapan sendiri. Beberapa teman juga ada yang menginap di tempat saudaranya di Jakarta.

Proses wawancara dimulai pukul 8 pagi, dan kami diharuskan datang minimal setengah jam sebelumnya untuk melakukan daftar ulang atau registrasi.

Perlengkapan yang dibawa saat itu adalah, memakai baju batik lengan panjang (ini peraturan dari BNP2TKI) dan alat tulis untuk mengerjakan tes.

Saat saya tes, ada pembagian pensil gratis, namun untuk amannya, mending bawa sendri, daripada bingung kalau stoknya habis nanti.

Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan!

Teman-teman yang ikut tes keperawatan, pasti dapat modul singkat tentang tatacara menulis huruf hiragana dan katakana.

Jadi, setelah tes keperawatan, diharapkan bisa “minimal” baca serta menulis huruf hiragana dan katakana dan paham tentang beberapa kosakata bahasa Jepang dasar, seperti memberi salam misalnya.

Lanjut. Setelah registrasi, kami diberi tanda pengenal berupa nama dan nomor peserta. Tanda pengenal tersebut harus dipakai selama proses wawancara sehari tersebut.

Lalu kami memasuki ballroom hotel tersebut dan duduk di tempat yang telah disediakan.
Setelah waktu menunjukan pukul 8 pagi, maka acara pun dibuka.

Saya pun semakin deg-degan. Saat itu, saya duduk di bangku nomor dua dari depan. Dan di sekeliling kami, sudah ada 7 perwakilan dari 21 rumah sakit Jepang yang membutuhkan calon karyawan baru, untuk datang untuk melihat kami, para calon peserta.

Jadi, perwakilan jepang itu ya yang melakukan wawancaranya? Bukan.

Mereka datang untuk memperkenalkan institusi yang mereka wakili. Semacam “stand” produk yang menawarkan barang dagangannya, nah, mereka juga mengenalkan profil rumah sakit masing-masing, di sela-sela proses wawancara.

Saat itu, peserta kangoshi yang hadir ada sekitar 96 orang. Masih ada sekitar 10 orang lagi, namun mereka mengikuti wawancara di Medan di hari yang berbeda.

Setelah acara pembukaan selesai, ada penjelasan singkat tentang proses wawancara di hari tersebut.

Inti dari penjelasan itu adalah, kami harus ngapain aja dan kemana saja. Karena oh karena, tempat wawancaranya ada di ruangan yang berbeda. Bukan di ballroom hotel tersebut.

Penjelasan acara berlangsung kurang lebih selama 1 jam oleh orang Jepang yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Lalu, acara dilanjutkan dengan wawancara.

Saya lupa durasi waktu pastinya, kalau tidak salah, setiap proses wawancara, berlangsung selama 10 sampai 20 menit.

Ada yang lebih cepat, juga ada yang lebih dari estimasi waktu itu. Mungkin keasyikan ngobrol sama pewawancaranya kali, hehe.

Untuk wawancaranya, dibagi pergelombang. Setiap gelombang isinya 10 peserta. Sementara 10 peserta tersebut melakukan wawancara, yang lain menunggu di ballroom hotel sambil berkeliling ke stan-stan yang sudah ada.

Saat itu, perwakilan yang datang berasal dari Hokkaido, Wakayama, Osaka, Tokyo, Aichi, Yamaguchi, dan Nagano.

Di ruangan yang terpisah, sudah menunggu 10 bilik yang digunakan untuk wawancara. Disana, sudah menunggu dua orang. Yang satu adalah pewawancara, yang tentu saja orang jepang. Dan yang satunya lagi adalah penerjemah.

Apakah saat wawancara harus menggunakan bahasa jepang? Tidak harus.

Namun, kalau sudah bisa berbahasa jepang, walaupun sedikit, tentu akan menjadi nilai tersediri.

Dari cerita teman tahun kemarin, saat jikoshoukai, atau pengenalan diri sendiri, rata-rata menggunakan bahasa jepang. Walaupun setelah itu menggunakan bahasa Indonesia lagi.

Sikap dan posisi duduk juga sangat diperhatikan oleh pewawancara. Kalau posisi duduknya tidak tegap, boleh jadi dianggap tidak serius mengikuti wawancara.

Lalu, saat wawancara yang ditanyakan apa saja?

Tentu yang utama adalah perkenalan. Kan ada pepatahnya bukan? Kalau tidak kenal maka tidak sayang, eh.

Setelah perkenalan, maka seputar diri kita akan ditanyakan. Bisa tentang keluarga, asal sekolah darimana? pernah bekerja dimana? berapa lama? pernah belajar bahasa jepang atau belum? kalau sudah, kapan? apakah saat SMA? Atau mengambil kursus tertentu?

Lalu, pertanyaan seputar program ini. Tahu program ini darimana? Diberitahu kawan, kah? Mencari sendiri di internet kah? Motivasinya apa? Bagi calon perawat, kan sudah bekerja, apakah tidak sayang meninggalkan pekerjaan sebelumnya, apalagi yang sudah menjadi karyawan tetap? Sudah punya senpai (senior) di jepang apa belum? Kalau sudah, namanya siapa, tempat kerjanya dimana?

Lalu pertanyaan seputar Jepang. Pandangan tentang jepang itu bagaimana? Apa yang diketahui tentang jepang? Budaya daerah dan budaya kerjanya seperti apa? Mengapa ingin ke Jepang? Tidak ke negara yang lain aja? Cara membina hubungan dengan sesama karyawan nanti bagaimana? Apalagi beda bahasa dan budaya, dan lainnya.

Boleh jadi, kawan-kawan yang lain ada pertanyaan yang berbeda.

Setelah wawancara dirasa cukup, maka kita akan diambil video dengan waktu sekitar 30 detik, untuk melakukan presentasi singkat tentang rangkuman wawancara barusan.

Minimal, isinya adalah perkenalan singkat dan motivasi untuk bekerja di jepang. Kalau masih ada waktu, silahkan ditambahkan yang lain, asal masih ada hubungannya.

Kan gak lucu juga habis perkenalan tiba-tiba cerita kucingnya yang hilang. Yang ada kita dianggap main-main lagi ntar.

Nah, itu bagian wawancaranya.

Sekarang kita kembali ke ballroom. Menurut pengalaman, setelah menerima penjelasan tentang profil rumah sakit, maka akan ada sesi tanya jawab.

Oleh sebab itu, sebisa mungkin, kita harus melakukan persiapan sebelum bertanding! Dalam artian, mulai saat ini, silahkan browsing tentang daerah-daerah yang ada di jepang.

Semisal, Hokkaido, maka kita akan bisa bicara tentang “Yuki matsuri” atau perayaan salju di musim dingin, atau bisa bicara tentang keindahan kota pelabuhan di Hakodate, walaupun belum pernah kesana.

Kalau Osaka, ada Osaka Castle yang terkenal dan daerah wisata belanja di Namba. Kalau Tokyo, ada apa aja. Dan daerah lainnya.

Jadi, kita bisa menghindari pertanyaan monoton, yang sebenarnya tidak begitu disukai oleh mereka.

Contohnya adalah soal gaji, fasilitas, dan lamanya hari cuti. Lalu, apakah itu tidak boleh ditanyakan? Boleh-boleh saja, silahkan. Namun, saat penjelasan, mereka akan dengan gamblang menjelaskan hal tersebut.

Semisal saat itu belum dijelaskan, maka setelah wawancara selesai, kita akan diberikan sebuah alamat web, dengan kata sandi tertentu, untuk bisa membuka profil rumah sakit dan informasi detail lainnya.

Soal gaji, lama hari cuti, fasilitas, pembimbing saat di tempat kerja, dan lainnya akan tertera dengan jelas. Jadi, sebisa mungkin pertanyaan semacam itu kalau bisa dihindari.

Setelah semua peserta melakukan wawancara. Maka selanjutnya adalah Japanese quiz. Isi dari tes tersebut adalah menulis huruf hiragana dan katakana secara lengkap, menebak kosakata sederhana dalam bahasa jepang, dilanjutkan dengan perubahan kata dalam bahasa jepang.

Kalau dalam bahasa inggris ada istilah present, continuous, dan past. Dalam bahasa jepang pun ada.

Semisal, kata kerja “pergi”, yang artinya akan atau kebiasaan adalah “ikimasu”. Bentuk kamusnya adalah “iku”, bentuk negatifnya adalah “ikimasen”, bentuk lampaunya adalah “ikimasita”, dan bentuk lampaunya adalah “ikimasendesita”. Hehe, rumit ya.

bagi yang ingin belajar, ada buku yang bagus yang biasa dipakai oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa jepang. Namanya adalah buku “Minna no Nihongo”. Ada dua jilid, setiap jilid ada dua buku, yang berbahasa jepang dan terjemahannya.

Sebenarnya, buku ini akan diberikan gratis kepada peserta yang lolos dan melakukan pelatihan di Jakarta. Namun, kalau ingin beli sendiri dan belajar duluan, tidak ada salahnya.

Lalu, kalau saya berminat membeli, dimana yang jual? Saya cek di toko jual beli online banyak yang jual, salah satunya adalah Tokopedia (saya bukan promosi ini loh! Sebagai contoh saja, hehe).

Dan yang terakhir adalah aptitude test.

Ini tes apaan ya? ternyata sama dengan psikotes! Hanya saja jumlah soalnya lebih sedikit dibanding dengan tes sebelumnya.

Jadi, tidak usah terlalu khawatir. Simpaisinaide kudasai!

Dan sehari setelah tes adalah Medical check up, jadi jangan terlalu diforsir tenaganya ya.

Setelah semua tes-tes tersebut, maka yang paling akhir adalah proses “matching”. Intinya, kita diharuskan memilih 10 rumah sakit atau panti lansia yang sesuai dengan pilihan kita.

Soal Informasi tentang hal ini, bakal lebih detail akan diterangkan setelah proses wawancara selesai.

Jadi, sekarang, mending fokus satu-satu dulu. Persiapan mendaftar, belajar sedikit demi sedikit tentang bahasa Jepang, review ilmu keperawatan dan berlatih soal-soal psikotes.

Memang, seleksi program ini cukup melelahkan, bagai marathon. Dan tulisan kali ini juga sepertinya cukup “marathon” juga, hehe.

Baiklah, semoga sedikit bisa memberikan gambaran bagi sesama.

Yang jelas, tetap semangat, tetap sehat dan maknyus *pinjem kata-katanya pak bondan……

Sapporo, 7 Maret 2018. 07.50 waktu setempat. Sapporo masih setia dengan suhu minusnya..

*Uki

**Repost catatan 2 thn lalu.

Dari Cerita Seorang Kakak Tingkat

#Yuki 44

Hari ini, semilir angin sejuk membuat saya terhenti sejenak di taman depan bangunan tua di pusat kota Sapporo, namanya Akarenga.

Duduk di bangku taman, sembari burung dara lewat terbang rendah, dan pesona alam pun mulai terlihat, daun maple mulai berubah warna kemerahan.

Hari ini, 6 tahun lalu, tanggal 15 september juga, kedua kalinya saya bertemu dan mendengarkan kisah seorang kakak tingkat yang telah menembus batas baru, menjadi perawat berlisensi di Amerika Serikat, tepatnya di Houston, Texas.

Saya yang memendam cita-cita, agar suatu saat bisa “Go International” juga, tentu antusias datang, menyimak, dan mendengarkan dengan seksama apa saja yang diceritakannya.

Memang terdengar indah, saat dia bercerita keadaannya sekarang. Sudah lulus ujian perawat Internasional di US, dan tentu saja bergaji tinggi, plus foto jalan-jalannya yang sudah ke beberapa benua.

Namun, ketika cerita sampai pada saat perjuangannya bagaimana bisa sampai kesana, pengorbanan, jauh dari keluarga, tawa serta tangis yang ikut menemani, ah, saya kira belum tentu semua bisa mengikuti jejaknya. Termasuk saya juga.

Namun, pencapaian pada puncak tertinggi tentu harus dicapai dengan langkah yang tidak mudah.

Mendaki Gunung Everest tentu tidak sama dengan mendaki gunung Muria di Kudus.

Pernah saya ingin mengikuti jejaknya, namun apa daya, kesempatan ke US sudah ditutup.

Tertutup satu pintu, maka akan terbuka pintu lainnya. Kurang lebih begitulah pepatah berujar.

Dua kali kesempatan ke Timur Tengah ternyata belum mengijinkan saya memasuki pintunya.

Karena memang bandel, saya ingin mencoba lagi, dengan kesempatan yang berbeda.

Lama pendaftaran, sabar menanti hasil dengan harap-harap cemas, ikut membalut perjalanan saya hingga sampai tahap ini.

Belum, saya belumlah bisa disebut perawat disini. Simply, lisensi perawat belum saya dapatkan.

Lolos dan bisa masuk ke Jepang bukanlah suatu akhir, tapi masuk lagi ke dalam awal proses baru, terus, dan akan berlanjut.

Sembari bekerja, orientasi budaya, tugas utama kami adalah belajar. Belajar bahasa serta ilmu keperawatan yang semula berupa bahasa Indonesia dan Inggris, bertransformasi ke dalam deretan huruf kanji.

Susah, tapi tidak mustahil. Bisa, asal memang ada kemauan. Tentu saja hal ini juga kesempatan yang bagus untuk bisa memunculkan potensi terbaik, asal memang mau mengasahnya.

Berselang 6 tahun, pemandangan indah juga turut terlihat di sepanjang perjalanan.

Jika dulu saya tergerak oleh sebuah cerita dari benua seberang, apakah suatu saat saya juga akan bisa memberi kontribusi yang sama?

Entahlah.

Coba kita tanyakan pada daun maple yang bergoyang…

Sapporo, 15 September 2017. Taman Akarenga..

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.