Tag Archives: biaya hidup

Tidak Mudah, Tapi Juga Tidak Mustahil

19 Jan

#Yuki 9

Masih seputar perbincangan dengan beberapa teman di inbox facebook seminggu ini.

Beberapa pertanyaan, langsung saya beri link tentang tulisan yang pernah saya tulis. Yaitu, tentang pengalaman pribadi mengikuti seleksi tes IJEPA atau program G to G ke Jepang tahun lalu.

Lalu, beberapa pertanyaan yang lain, saya minta waktu untuk menuliskannya, siapa tahu bisa berguna juga buat yang lain.

“Saya sekarang kerja sambil kursus bahasa jepang, Mas. Awalnya cukup bisa mengikuti, tapi kalau pas badan capek ditambah pelajarannya semakin meningkat levelnya, lama-lama jadi susah ternyata,..” Ujar teman saya.

“Bagaimana sebaiknya ya, Mas?” Lanjutnya.

Lalu, kami berdiskusi selama beberapa saat. Tukar pendapat dan ide.

“Kontrak kerja saya berakhir bulan depan, Mas. Saya sudah mantap untuk resign dan fokus belajar bahasa jepang untuk persiapan tes tahun ini,” Tukasnya mantap.

Tentu dalam setiap proses, peluang untuk gagal dan berhasil itu selalu ada. Syukur kalau berhasil, kalau gagal?

“Saya sudah pikirkan baik-baik, Mas. Tentu peluang gagal itu memang ada. Tapi setidaknya, saya mantap untuk memilih,”

“Saya tidak bisa mengerjakan 2 hal secara bersamaan. Memang harus ada mengalah salah satu,”

“Harapan utama saya tentu ingin lulus. Kalaupun toh gagal, semoga itu menjadi salah satu pembelajaran terbaik buat saya,” Ucap teman saya tersebut.

Pembincangan dengan teman yang lain pun berlanjut,

“Mas, saya lihat di internet, gaji perawat di jepang sampai 30 juta perbulan. Itu bener, Mas?”

Ya, itu memang benar adanya. Bahkan, bisa lebih dari itu.

Tapi, perlu dicatat baik-baik dan diperhatikan dengan seksama. Karena terkadang kita hanya senang membaca sebuah berita dari judulnya saja.

Isinya? nanti-nanti aja.

“Iya, memang benar, Mas” Jawab saya.

Kalau hanya sepintas melihat berita di internet atau media sosial, tentu “judul” itu terlihat “menggiurkan” bagi siapa aja.

Tapi itu diperuntukkan bagi yang sudah lulus ujian negara atau kokkashiken (国家試験). Gampangnya, punya “license” atau STR (Surat Tanda Registrasi) nya Jepang.

Kalau untuk saat ini, saya pun belum menyentuh separuh dari nominal tersebut.

Baiklah, kita singgung sedikit soal pendapatan. Biar jadi catatan saya juga agar kelak bisa mengingat hal ini.

Tidak dapat dipungkiri, salah satu dari berbagai alasan pergi bekerja di luar negeri adalah ingin mendapatkan pemasukan ekonomi yang “lebih” daripada di tanah air.

Kalau saya buat rata-rata, UMR di jepang saat ini berkisar antara 11-14 juta (kalau dirupiahkan, tentu juga tergantung kurs yen ke rupiah).

Tentu ada daerah yang lebih tinggi tapi batas bawahnya tidak terlalu jauh. Masing-masing rumah sakit juga punya kebijakan “tunjangan” yang berbeda-beda.

Memang kelihatan besar dengan jumlah sedemikian dibanding dengan di indonesia, apalagi kalau dibandingkan dengan daerah saya di Kudus, UMR nya belum pernah mencapai 2 juta.

Tapi begini saudara-saudara yang budiman. Di Kudus, saya masih bisa dengan mudah menemukan tempe penyet seharga 7 ribu.

Disini, tempe penyet juga ada, sepiring harganya 800 yen atau sekitar 80 ribu.

Kos-kosan di Semarang, rata-rata masih berada di angka 300 sampai 400 ribuan perbulan.

Sedangkan saya disini, apato (アパート) atau kos-kosan yang saya tempati berada di angka 25 ribu yen perbulan atau sekitar 2,5 juta perbulan.

Itupun sudah disubsidi rumah sakit juga, kalau harus bayar sendiri semuanya, mahal banget! Juga belum termasuk bayar gas, listrik, air dan lain-lainnya.

Apalagi di musim dingin seperti ini. Ditambah saya baru datang di tempat yang beku. Tagihan gas dan minyak tanah untuk penghangat ruangan pun cukup tinggi.

1,2 juta untuk membayar gas untuk memasak dan menghangatkan air, dan minyak tanah buat “danbo” atau penghangat ruangan.

Memang itu menjadi pembelajaran buat saya. Tapi itu juga wajar, kata teman saya yang orang jepang. Daripada sakit karena kedinginan, lebih baik suhu ruangan hangat.

Kan malah jadi susah kalau inginnya berhemat, ruangan jadi dingin, eh, malah jadi sakit.

Lalu soal belanja.

Beras termurah perlima kg yang saya temui di supermarket sebelah rumah sakit, seharga 1600 yen atau sekitar 160 ribu. Kol perbuah sekitar 30 ribu. Yang lumayan mirip dengan di Indonesia adalah telor, 20 ribu dapat 10 butir.

Mengapa saya tahu? Karena selama disini saya selalu masak sendiri. Jadinya, harga-harga bahan masakan jadi tahu, hehe.

Dengan harga-harga barang kebutuhan pokok yang bisa 4 sampai 5 kali di tanah air, maka kalau di kurs kan pun, gaji kami disini dengan standar UMR jepang, ya memang terlihat lebih besar.

Tapi semua itu kembali lagi ke gaya hidup dan kebutuhan hidup.

Kalau apa-apa menuruti gaya hidup, dapat gaji berapapun saya yakin pasti ambyarrr. Apalagi barang disini terlihat murah-murah.

Yang ini 200 yen, yang itu 400 yen, eh, itu bagus cuma 800 yen dan seterusnya.

Tapi kalau bisa mengatur kebutuhan dan mengekang keinginan yang tidak perlu, insyaallah, saya yakin bakal punya tabungan banyak. Syukur-syukur bisa rutin ngirim ke tanah air dan buat sedekah.

Perbincangan pun berlanjut.

“Memang ujian negara di jepang itu beda ya sama di Indonesia?” Teman saya penasaran ingin tahu.

Jelas beda. Utamanya adalah bahasa yang digunakan.

Kalau di Indonesia memakai bahasa indonesia, disini memakai bahasa jepang. Lalu, adanya perbedaan budaya menjadikan materi keperawatan di jepang juga berbeda.

“Susah gak mas?” Lanjutnya.

Saya sendiri baru bulan depan mau mencoba ikut. Tapi sebagai gambaran, saya ambilkan contoh soal tahun kemarin, kokkashiken atau ujian keperawatan nasional ke 105.

Soal ini sudah ada terjemahannya, namun, saat ujian yang sebebarnya nanti, tidak ada. Hanya ada huruf furigana sebagai alat bantu membaca kanji.

Soal dibawah ini adalah “Hisshu mondai” (必修問題) atau soal wajib ujian pagi nomor 1 dan 2.

Ujian pagi? Ya, ujiannya pagi dan siang. Ujian pagi dengan jumlah 120 soal dan siangnya juga 120 soal.

Soal pertama.

日本の平成25年(2013年)における男性の平均寿命はどれか。

(nihon no heisei 25 nen ni okeru dansei no heikin jumyou wa doreka)

(Manakah yang merupakan rata-rata angka harapan hidup pria di Jepang pada tahun Heisei 25/tahun 2013?)

1. 70.21年 (tahun)
2. 75.21年 (tahun)
3. 80.21年 (tahun)
4. 85.21年 (tahun)

Soal kedua.

日本の平成24年(2012年)の国民健康・栄養調査における男性の喫煙習慣者の割合はどれか。

(nihon no heisei 24 nen no kokumin houken eiyou chousa no kitsuen shuukansha no wariai wa doreka)

(Manakah presentasi pria yang mempunyai kebiasaan merokok menurut survey kesehatan dan gizi nasional Jepang pada tahun heisei 24/2012?)

1. 14.1%
2. 34.1%
3. 54.1%
4. 74.1%

Bagaimana? Ada yang sudah punya prediksi jawabannya?

Sapporo, 19 Januari 2017. 20.30 waktu setempat. Suhu luar minus 3 derajat celcius.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Iklan