Persiapan Menghadapi Ujian Nasional Perawat di Jepang

“Mas, bagaimana caranya agar bisa lulus ujian

nasional di Jepang?” Tanya seorang teman lewat inbox.

Boleh jadi, pertanyaan ini tidak hanya ditujukan kepada saya seorang.

Para senpai yang sudah lulus, serta 29 orang Indonesia yang lulus tahun ini pun, saya kira juga ditanya.

Jawaban sederhananya tentu saja dengan cara belajar. Tapi, belajar yang bagaimana, Masee?

Akutu bingung. Mulai darimana belajarnya. Buku yang mana dulu yang harus dibuka. Aplikasi di google play terlalu banyak. Coba download di apple store, sekali klik, keluar semua. Udah gitu, kanji semua lagi. Arghhhhh.

Kira-kira seperti itu. Tenang. Bukan hanya kalian. Saya juga merasakannya.

Nah, berhubung kita sama-sama bingung. Mari kita diskusikan bersama.

Semisal ada dari tulisan ini yang bermanfaat, saya sangat bersyukur. Misal blas gak berfaedah, saya mohon maaf.

Baiklah, kita mulai. Dari cara saya belajar bagaimana caranya belajar.

Pak Haji siap? Zidan siap? 😁

Saya mulai persiapan belajar tentang ujian perawat (Kangoshi Kokkashiken) itu ketika di Osaka. Selama di Jakarta, hanya fokus bahasa Jepang saja.

Itu pun masih bingung. Bagaimana cara memulainya.

Hingga kedatangan para senpai yang berbagi kisahnya dalam acara “Kouryuukai”.

Demi menggapai tujuan lulus ujian nasional, kemudian akan saya tulis Kokkashiken, tiap senpai punya cara yang berbeda-beda.

Saya bagi menjadi dua. Ada yang mendapat support dari rumah sakit, ada yang tidak.

Yang mendapat support.

Rata-rata bekerja hanya pagi sampai siang. Ada juga yang bekerja hingga jam 3 sore. Kemudian lanjut belajar.

Belajarnya ada yang mandiri. Ada juga yang didampingi.

Ada yang dibimbing oleh pihak rumah sakit. Ada juga yang dimasukkan ke tempat bimbel semacam Tokyo Academy.

Para senpai yang masuk golongan ini pun, terbagi lagi.

Ada yang belajar hingga waktu pulang tiba. Pulang, bersih-bersih, masak, makan, lalu lanjut belajar lagi hingga waktu tidur.

Ada yang memanjangkan waktu belajarnya di rumah sakit hingga perutnya minta diisi. Bisa sampai jam 7 atau jam 8 malam. Lalu pulang.

Ada juga yang bercerita, sampai lulus ujian, tidak pernah nonton tivi atau film. Yang dibuka hanya buku, buku, dan buku.

Yang tidak mendapatkan support?

Kedengarannya memang sulit, tapi ternyata ada yang lulus.

Sehari-hari, kerja dari pagi sampai malam. Tidak mendapat bimbingan dari rumah sakit.

Akhirnya, dia harus bertindak sendiri bagaimana caranya bisa belajar.

Bertanya kepada siapapun yang bisa ditanya. Diskusi dengan teman seangkatan yang punya guru pembimbing. Dan hampir seluruh hari liburnya digunakan untuk belajar.

Lah gimana lagi. Setelah pulang kerja capek. Belajar tidak maksimal. Waktu paling pas ya hari libur, kata beliau.

Hebatnya, nilai ujian soal wajib senpai ini betul semua! 🙌

Selain cara belajar diatas, saya yakin, masih banyak lagi yang berbeda. Teman-teman silakan menambahkannya.

Saya sendiri? Hingga saat ini, saya juga merasa belum memiliki cara belajar yang “sreg” di hati.

Saya lebih banyak trial and error. Banyak coba-cobanya, lebih banyak gagalnya.

Setelah gagal di ujian tahun lalu. Saya masih belum menemukan cara belajar yang pas. Saat itu, saya hanya mengerjakan soal-soal saja.

Baik buku yang diberi oleh Jicwels, maupun yang dibelikan rumah sakit.

Nama bukunya Deta 70 (出た 70). Yang isinya soal-soal yang prosentase betulnya tinggi di ujian sebelum-sebelumnya.

Itu pun masih bingung. Dan tentu belum cukup.

Nilai ujian saya tahun lalu, soal wajib baru 25% (batas lulus 40%), serta soal umum dan kasus tidak mencapai 100 poin (batas lulus minimal 142 poin dari nilai total 250 poin).

Bulan april hingga mei, saya masih tertatih-tatih mengerjakan soal-soal. Mengartikan satu persatu kanji yang kita tahu bersama kerumitannya.

Pihak rumah sakit juga memasrahkan cara belajar kepada saya. Jadi, saya hanya bertanya hal yang saya belum paham.

Masalahnya, hampir sebagian besar soal-soal beserta penjelasannya itu gak paham. 😞

Hingga pada bulan mei, saat pelatihan di Tokyo, kami diajari cara membuat jadwal belajar.

Ini sangat membantu. Karena rumah sakit yang menerima saya, baru pertama ini ikut program EPA. Mereka juga masih mencari cara bagaimana mengajari saya.

Ibarat mau babat alas. Semua masih gelap. Belum jelas ujungnya dimana.

Setelah pelatihan di Tokyo, saya membuat jadwal hingga bulan febuari menjelang Kokkashiken.

Jadwal tersebut lalu saya ajukan ke pembimbing. Alhamdulillah disetujui.

Jadi, bulan Mei hingga September, saya fokus baca materi. Targetnya, satu bab harus selesai dalam seminggu.

Misal, bab keperawatan dewasa (成人看護) sub bab jantung (心臓・循環器) harus selesai dalam seminggu. Baru kemudian pindah.

Bukan, bukan buku “Review Book” yang tebal itu. Saya membaca versi ringannya, yang berjudul “Kore dake”.

Itupun masih banyak coretan dan tanda tanya yang mesti saya tanyakan.

Penjelasan seputar anatomi fisiologi, diabetes, tekanan darah tinggi, bisa kita cari di internet.

Lah, soal “shakai mondai (社会問題)” atau permasalahan keperawatan masyarakat, perawat kunjungan ke rumah, asuransi beserta berbagai jenis panti lansia di Jepang, itu gak ada Indonesia, Kawan.

Jadinya, ketika ada pembimbing datang, langsung saja tumpah berbagai pertanyaan.

Diskusinya tentu pakai bahasa Jepang. Jadi sebelum diskusi, segala kosakata yang sulit, harus dicari dulu.

Urutannya. Cari tahu bagaimana cara baca kanjinya. Udah kebaca, cari tahu artinya. Udah tahu artinya, cari tahu penjelasannya. Lama memang. Tapi itu satu-satunya cara yang saya bisa.

Semisal, kanji 認知症. Bacanya? にんちしょう(ninchishou). Artinya? Dimensia. Pengertian dimensia apa? Dibagi menjadi berapa. Tanda dan gejalanya apa. Perubahan mood pasien dari pagi hingga pagi lagi bagaimana. Bagaimana cara penanganannya. Lalu jika ada penyakit penyerta lainnya, prioritas keperawatan bagaimana.

Mumet? Toss! Kita sama.

Ketika bosan belajar materi. Saya kerjakan soal-soal. Khususnya soal wajib (必修問題).

Awalnya saya memakai aplikasi “看護 roo (kango roo)”, tapi kemudian ganti aplikasi seperti gambar di bawah.

Saya berganti aplikasi bulan oktober. Bulan april hingga september, masih memakai “kango-roo”.

Menurut saya, aplikasi ini lebih cocok. Karena ada soal harian. Juga ada try out per beberapa hari. Soal-soal disajikan per 20 soal. Jadi memudahkan saat evaluasi.

Soal buku dan aplikasi, saya kira bagus semua. Nah, karena bagus semua, sering membuat bingung.

Saran senpai, pelajarilah salah satu dulu hingga tuntas. Jika sudah paham. Baru ganti. Saran itulah yang saya gunakan.

Oktober hingga desember, mulai belajar soal-soal. Soal umum dan kasus.

Targetnya sama. Setiap minggu harus selesai satu bab.

Soal yang bisa dikerjakan, saya tandai. Yang salah dan butuh penjelasan, saya kumpulkan dan nunggu pembimbing datang.

Januari hingga tanggal 17 febuari, sehari sebelum ujian. Saya belajar soal-soal wajib dan review soal umum dan kasus.

Saya termasuk orang yang tidak bisa belajar di asrama. Setelah seharian kerja dan belajar, sampai asrama bawaannya ngantuk.

Jadi, lebih sering memanjangkan waktu belajar di rumah sakit hingga jam 7 sampai jam 8 malam.

Kalau esoknya libur, pernah sampai jam 9 juga.

Libur saya selalu hari jumat dan sehari lagi acak. Kadang sabtu, senin, dan sebagainya.

Saat libur, biasanya saya nambah tidur hingga agak siang. Lalu siap-siap shalat jumat. Setelah jumatan, jalan-jalan sebentar di sekitar stasiun Sapporo. Lalu baca lagi.

Libur yang sehari lagi. Biasanya saya habiskan di asrama.

Semalas-malasnya belajar, harus saya paksa. Karena ada target mingguan. Ketika target selesai, baru nonton film atau main keluar.

Begitu terus selama setahun terakhir.

Membosankan? Iya.

Ketika sudah mual lihat kanji dan gak paham-paham, saya meminta solusi kepada teman perawat ruangan.

Jawaban mereka?

“Iya, persiapan Kokkashiken itu susah. Udah bahasa Jepangnya susah, ditambah istilah-istilah medis yang rumit.”

Orang Jepang pun merasa kesusahan juga ternyata, batin saya.

“Banyak orang Jepang yang mewajibkan dirinya membaca soal dan penjelasan minimal 10 kali. Ya, minimal 10 kali,”

“Saya juga dulu saat persiapan ujian, sehari belajar sampai 16 jam. Selain belajar, paling makan, ke toilet, sama tidur saja.” Kata teman perawat di ruangan.

Saya hanya bisa menghela napas. Ternyata usaha selama ini belum ada apa-apanya.

Karena ucapan itu, saya kembali bersemangat belajar lagi.

Alhamdulillah, setelah proses selama setahun. Ditambah doa dan support dari berbagai pihak di balik layar, saya bisa melewati batas kelulusan.

Batas minimal kelulusan tahun ini adalah 36 poin untuk soal wajib. Serta 154 untuk soal umum dan kasus.

Setahun kemarin memang berat. Akan tetapi, setelah menerima lisensi sebagai perawat (kangoshi), tantangan ke depan pun akan semakin meningkat.

Bagaimana cara belajar, kitalah yang menentukan. Kalau kita semangat, insyaallah semesta akan mendukung.

Bismillah, ganbarimashou!

*Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s