Tag Archives: dunia

Ujian Nasional Keperawatan Jepang ke 106, Tinggal Menghitung Hari..

17 Feb

#Yuki 13

Bulan febuari, jika di Tanah Air beta sedang semarak dengan pemilihan kepala daerah, disini juga lagi semarak-semaraknya ujian nasional berbagai profesi untuk meraih lisensi.

Saya cek di “homepage” di Jepang khusus tentang ujian profesi, maka bulan ini ada ujian profesi bagi dokter gigi, dokter umum, bidan, perawat, ahli radiologi, ahli rehabilitasi, dan berbagai macam profesi lainnya.

Khusus untuk perawat, sesuai jadwal, akan dilaksanakan pada hari minggu, 19 febuari 2017, atau dengan kata lain, 3 hari lagi!

Kalau ujian bagi senpai-senpai yang mengikuti program kaigofukushishi atau careworker, sudah melaksanakan ujian terlebih dulu pada bulan kemarin, tanggal 29 januari.

Nah, ujian nasional keperawatan di Jepang itu bagaimana sih? Yuk kita bahas bareng-bareng..

Pertama, Apa sih pentingnya ujian keperawatan di Jepang? Bukannya di Indonesia sudah jadi perawat dan punya STR (surat tanda registrasi)?

Itu benar, bagi temen-temen yang mengikuti program perawat (kangoshi) ke Jepang, salah satu syarat wajibnya adalah sudah memiliki STR dan punya pengalaman kerja.

Tapi, untuk menjadi setara dengan perawat yang asli orang sini, ya harus ikut ujian agar mendapatkan lisensi atau STR nya Jepang.

Jadi, sebelum mendapatkan lisensi tersebut, kita belum bisa mendapatkan gelar “kangoshi” atau perawat disini.

Jika belum mendapatkan lisensi, maka kita hanya diberbolehkan melakukan tindakan yang terbatas. Sebagian besar tindakan dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia.

Serta, selain bekerja, kita harus terus belajar agar bisa sesegera mungkin bisa lulus.

Kenapa sesegera mungkin? Karena terbatas pada kontrak kerja.

Berbicara tentang kontrak kerja, kami telah menandatangani kontrak kerja selama 3 tahun.

1 tahun pertama, tugasnya hanya belajar bahasa jepang saja. Di Jakarta dan di Jepang.

Setelah belajar selama setahun, ini adalah kesempatan pertama kami (khusus untuk EPA angkatan 9, kalau EPA 8 berarti adalah kesempatan kedua) dalam mengikuti ujian nasional.

Kedua, tempat ujiannya dimana?

Ada 12 perfektur (provinsi) yang menjadi tempat ujian. Yaitu, Hokkaido, Aomori, Miyagi, Nigata, Tokyo, Aichi, Ishikawa, Osaka, Hiroshima, Kagawa, Fukuoka, dan Okinawa.

Semisal ada yang bekerja di kota yang tidak menjadi tempat ujian, maka biasanya akan mendapatkan tempat ujian yang terdekat dari kota tempat kerjanya.

Ketiga, cara daftarnya bagaimana?

Tidak usah pusing, karena semua dibantu oleh pihak Jepang. Kami dari EPA 9, mendaftar saat masih pelatihan di Osaka kemarin. Jadi, tinggal nurut sama intruksi saja.

Keempat, biayayanya berapa?

Nah, ini dia. Biaya untuk mengikuti ujian nasional sebesar 5.400 yen (silahkan dirupiahkan sendiri ya, kurs saat kami daftar kemarin kira-kira 1 yen = 120 rupiah).

Sebagai catatan, uang pendaftaran itu ada yang harus bayar sendiri, ada juga yang ditanggung sama rumah sakit.

Bahkan ada juga kebijakan dari rumah sakit tertentu yang belum mengijinkan untuk mengikuti ujian di kesempatan pertama.

Karena tiap rumah sakit berbeda kebijakan yang diambil.

Kelima, materi ujian nasional itu apa saja?

Secara garis besar, hampir mirip dengan materi keperawatan di ujian kompetensi perawat di Indonesia. Ada KDM (kebutuhan dasar manusia), keperawatan medikal bedah, keperawatan anak, keperawatan maternitas, keperawatan jiwa, kode etik perawat, dan sebagainya.

Bedanya? Ada juga.

Perbedaan yang paling mendasar yang membuatnya menjadi sulit adalah, semua memakai huruf kanji!

Walaupun sekarang sudah ada kebijakan bahwa ujian untuk orang asing (karena yang ikut program EPA bukan hanya Indonesia saja, ada Filipina dan Vietnam juga) ada kemudahan dengan adanya huruf bantu “furigana”.

Furigana adalah huruf hiragana kecil-kecil yang ada di atas atau di bawah huruf kanji.

Tetapi, ada tapinya. Walaupun itu memang memudahkan untuk membaca kanji, tapi jika ada kosakata yang belum tahu arti serta penjelasannya, sama saja sulitnya.

Sebagai contoh, walaupun kata “apendiktomi” itu ditulis dalam bahasa indonesia, sebagai tenaga kesehatan pun harus mencari tahu arti serta penjelasannya.

Apalagi ini beralih ke bahasa jepang, yang tentu menjadi tantangan tersendiri.

Ditambah lagi, ada ilmu yang khusus hanya ada di Jepang saja.

Contoh, normalnya, untuk mengukur tingkat kesadaran digunakan skala GCS (Glasgow Coma Scale).

Di Jepang, mereka mempunyai alat ukur tersendiri untuk mengukur tingkat kesadaran pasien, yaitu JCS ( Japan Coma Scale).

Lalu di bidang keperawatan jiwa, Jepang juga punya “Hasegawa Scale”, yang belum pernah saya baca ketika di Indonesia.

Serta cabang ilmu yang mempelajari “houmon kango” atau perawat kunjungan ke rumah, yang merupakan salah satu ciri khas keperawatan di Jepang. Yang kesemuanya itu sudah menjadi sistem pelayanan kesehatan yang tertata.

Dan kami, harus mempelajari semua hal itu agar bisa mengerjakan soal-soal ujian nasional.

Keenam, Soalnya ada berapa?

Jumlah soalnya ada 240 soal. Dibagi menjadi tiga jenis. Ada soal wajib (hisshuu mondai) berjumlah 50 soal. Lalu soal umum (ippan mondai) 130 soal. Serta soal kasus (jokyou settei mondai) 60 soal.

240 soal itu dibagi menjadi dua. 120 soal dikerjakan pagi, sisanya 120 dikerjakan siangnya.

kriteria kelulusannya, soal wajib harus benar minimal 80%. Artinya, dari 50 soal, minimal harus benar 40 atau lebih. Jika kurang, otomatis tidak lulus.

Soal umum yang berjumlah 130 soal itu bernilai 1 poin, kalau soal kasus, setiap soal bernilai 2 poin.

Jadi, kalau ditotal, ada 130 ditambah 60 kali 2, jadinya 250 poin. Nah, dari 250 poin ini, nilai minimal kelulusannya berbeda setiap tahunnya. Ada yang pernah minimal 60%, pernah juga 70%.

Kata sensei saya, sebagai batas aman, lebih baik dibuat target minimal 70% saja, atau minimal harus mendapatkan nilai 175 dari jumlah 250 yang disediakan.

Ribet ya? Saya juga bingung pas mau nulis ini. harus coret sana-sini dulu, hehe.

Ketujuh, waktu mengerjakannya berapa lama?

Bagi orang asing, seperti saya dan teman-teman program EPA, mendapatkan porsi waktu yang berbeda.

Jika waktu ujian bagi orang Jepang adalah 2,5 jam pagi, lalu dilanjut 2,5 jam siang. Maka, saya nanti akan mendapatkan waktu 3,5 jam pagi dan 3,5 jam siangnya (alamakkk, ngantuk berat pasti nanti).

Waktu ujian pagi adalah pukul 09.00 sampai 12.30. Siangnya, 14.20 sampai 17.50 sore.

Dengan tambahan, saat pagi, jam 8 kami sudah harus masuk ruangan untuk mendapatkan pengarahan serta persiapan. Lalu siangnya, 13.40 sudah harus masuk ruangan juga!

Benar-benar ujian sehari! melebihi waktu kerja normal yang mulai pukul 08.30 sampai 17.00.

Terakhir, hal apa saja yang perlu dibawa saat ujian?

Hal ini menarik dan tentu saja penting untuk dicermati. Karena ketika ada yang ketinggalan, selesai sudah.

Ada tujuh poin utama , selain kartu ujian (kalau ini tentu sangat wajib!), yang harus dibawa. 1. Bolpoin hitam, 2. Pensil HB (pensil mekanik tidak boleh), 3. Penghapus karet (gak boleh bawa penghapus papan tulis, kegedean, hehe), 4. Rautan pensil, 5. Masker (sebagai jaga-jaga kalau ada yg batuk-batuk, maklum masih musim dingin), 6. Bekal makan siang, 7. lain-lain (boleh bawa penggaris, tapi kalkulator dan kompas dilarang).

Wah, ternyata cukup panjang catatan kali ini.

Oh ya, bagi kami yang akan mengikuti ujian di kesempatan pertama kali ini, sebagian besar pasti merasakan cukup berat.

Beberapa teman berujar, bukan pesimis, tapi realistis. Tapi bukan berarti menutup kesempatan tidak ada yang bisa memenangkan pertarungan perdana kali ini.

Siapapun itu, kami, 46 orang kandidat perawat EPA angkatan ke 9, serta para senpai angkatan 8 dan beberapa angkatan lainnya, memiliki kesempatan yang sama dalam ujian 3 hari lagi.

Ujian memang berat, tapi sekali lagi, tidak mustahil. Nyatanya ada yang lulus dan bisa beradaptasi dengan baik disini.

Semangat yang naik turun dalam belajar itu pasti ada.

Kalau itu terjadi, saya terkadang ingat salah satu penggalan kalimat di Novel “Cinta Dalam Gelas” karya Andrea Hirata, kalimat itu berbunyi,

“Beri aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar!”

Sapporo, 16 Febuari 2017. 20.20 waktu setempat. Suhu Sapporo perlahan mulai menghangat.

Uki

Iklan

Ketika “Perawat” Menjelajah Dunia Baru

8 Jan

#Yuki 7

Foto Arsyad Syauqi.

Namanya mas Arif Indiarto, lulusan Poltekkes Semarang tahun 2002. Pertama kali saya mengenalnya ketika beliau memberikan kuliah umum di kampus saat saya masih tingkat 2, tahun 2010.

Sekarang beliau sudah menjadi perawat berlisensi Amerika dan bekerja di salah satu rumah sakit di Houston.

Artikel yang pernah ditulisnya, “Dari Logo Poltekkes Semarang Sampai ke Negeri Obama”, yang bisa ditemukan di internet, saya kira telah berhasil menginspirasi banyak orang. Boleh jadi saya satunya.

Ketika itu saya meniatkan diri, saya juga harus bisa sampai ke luar negeri. Tapi caranya bagaimana? Saya belum tahu.

Setelah pertemuan itu, saya mencari kontak facebooknya. Ketemu. Saya menghubungi beliau, dan boleh jadi, ketika itu pertanyaan saya terlalu “kemana-mana”, namun beliau masih bersedia menjawabnya.

Padahal dari cerita beliau, saya tahu betul, kehidupannya disana sungguh sangat sibuk. Bekerja, sembari belajar, dan telah menyelesaikan S1 nya di Amerika.

Info terakhir yang saya dengar, beliau lanjut lagi mengambil program master atau S2 bidang anestesi disana. Sungguh, pembelajar yang tangguh!

Dan tanpa saya sadari, beliaulah yang menjadi role model saya. Menjadi salah satu inspirasi saya untuk menembus batas agar bisa “belajar” di dunia global juga.

Ketika melewati masa kerja selama 2 tahun di Batam, saya kembali aktif mencari info untuk keluar negeri.

Tujuan utama saya saat itu, RN (Registered Nurse) di Amerika. Berbagai info saya cari, tidak lupa bertanya kepada relasi yang mempunyai info tentang cara kesana. Hasilnya nihil.

Program yang pernah diikuti seperti mas Arif bertahun lalu sudah tidak ada. Ditambah dengan info bahwa Amerika sedang mengurangi tenaga perawat asing, karena ingin memberdayakan perawat dalam negeri. lengkaplah sudah, satu pintu telah tertutup.

Lalu saya dapat kabar, ada info ke Kuwait. RS pemerintah disana buka lowongan lewat agen di Jakarta. Saya telpon, diminta kirim lamaran. Segera saya lengkapi lamaran tersebut, kirim lewat pos dan softcopy juga.

Bulan demi bulan berlalu, kabar pun tidak kunjung datang. Saya hubungi nomor telpon yang pernah aktif, tiba-tiba tidak nyambung. Entah mereka “liburan” kemana. Kok tiba-tiba “plesir” begitu saja.

Beberapa bulan kemudian, ada seorang teman dari Semarang yang memposting sebuah informasi “Dibutuhkan Perawat ke Qatar…”.

Segera saya tangkap peluang itu, saya tanya berbagai hal, kemudian bolak-balik Batam-Jakarta hingga beberapa kali.

Pendaftaran lah, latihan wawancara lah, persiapan mengenai ini itu lah. Tidak terhitung waktu dan biaya yang habis saat itu.

Sampai ibu saya bilang, “Kamu itu bolak-balik Jakarta ke Batam kayak pergi main ke rumah tetangga saja..”.

Ibu dan Bapak saya hanya pernah sekali melakukan perjalanan naik pesawat, saat diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa bertamu ke Kabah.

Nah, saya dibilang oleh ibu kalau naik pesawat sudah kayak naik bus aja. Karena saking seringnya.

Padahal kalau boleh memilih, saya mending naik bus aja kalau bisa. Naik pesawat sungguh berat di ongkos coy..

Setelah proses demi proses saya ikuti, kembali saya harus menelan pil pahit lagi.

Saya sudah bayar untuk biaya pelatihan dan persiapan tes. Tiba-tiba dari pihak PJTKI nya bilang bahwa seleksinya ditunda, hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan!

Catat, batas waktu yang belum bisa ditentukan!

Memanglah tipikal khas orang Indonesia, menggunakan bahasa halus untuk memberikan suatu kabar, sampai kabar pahit dari proses seleksi dibatalkan pun dibilang ditunda. Dari 2014, hingga hari ini, tidak ada kabar lagi.

Baru 3 kali, atau sudah 3 kali, sama saja. Yang jelas, ini pil pahit ketiga bagi saya. Saya begitu paham arti kata “ditolak”, betul-betul saya rasakan sampai 3 kali.

“Masih ada kesempatan, Mas,” Kata Direktur Almamater saya.

Perbincangan itu berlangsung sebentar mengingat beliau memang punya banyak agenda. Bisa bertemu sebentar pun saya sudah bersyukur.

Saya punya kebiasaan rutin, kalau pulang setahun sekali, saya usahakan bertemu dengan bapak ibu dosen di kampus, serta guru-guru saya, walaupun hanya sekedar berjabat tangan dan saling bertanya kabar.

Tidak lupa mampir ke Direktorat, siapa tahu bisa bertemu pak Direktur. Karena memang hubungan dengan orang-orang di kampus sudah seperti orang tua saya sendiri.

“Ada program ke Jepang buat perawat. Siapa tahu Mas Uki bisa masuk,” Sambung beliau.

Kemudian, segera saya mencari info tentang perawat ke Jepang. Info saya dapat, lalu saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Saya ingin fokus, ingin kursus dulu, ingin persiapan yang matang setelah “ditolak” tiga kali.

Sebelum itu, tentu saya ijin dulu kepada ibu saya. Boleh tidaknya saya ikut program ini. Ibu saya hanya bepesan sekaligus memberi nasehat,

“Semoga lancar prosesnya. Kalau gagal lagi, lebih baik ikut CPNS saja ya,..” Masih hafal betul ucapan beliau yang satu ini saat disampaikan hampir 2 tahun lalu.

Kemudian saya keluar dari Batam, ikut kursus bahasa selama 4 bulan, persiapan tes yang memang melelahkan, rasa dag-dig-dug masih terus menghantui.

Tidak bisa dibohongi, rasa khawatir itu akan selalu dan terus ada. Cara menanggulanginya hanya satu. Berusaha, Berdoa, dan Tawakkal.

Semenjak waktu itu, berbagai tempat baru, kenalan baru, rasa semangat yang naik turun, merasa senang karena sudah mulai bisa bicara bahasa Jepang, merasa frustasi karena tidak hafal-hafal kosakata baru, sering lupa cara nulis huruf kanji, terus menghiasi perjalanan saya hingga hari ini.

Efektif, hari ini saya telah memasuki 3 minggu di dunia kerja lagi setelah hampir selama setahun lebih belajar di kelas saja.

Sebuah rumah sakit di wilayah timur kota Sapporo yang saat ini beku oleh hamparan salju, menjadi arena belajar saya selanjutnya.

“Loh, masih belajar lagi, Mas?” Tanya adik kelas saya beberapa waktu yang lalu.

Ya, belajar lagi. Memang secara kontrak kerja, saya memang harus kerja selama 5 hari selama seminggu, dengan 2 hari libur.

Tapi, sebelum lulus ujian negara untuk mendapatkan lisensi disini, kami bekerja sebagai asisten perawat yang hanya diberi kewenangan sebatas melakukan kegiatan KDM (Kebutuhan Dasar Manusia).

“Wah, ntar kemampuannya turun dong. Gak bisa nyuntik sama infus lagi,” Tambahnya.

Turun kemampuan itu memang boleh jadi iya, tapi bukan berarti hilang sama sekali.

Bahkan, “skill” saya untuk nyuntik maupun infus memang kurang terlatih, karena selama tiga tahun di Batam dulu saya hanya pegang alat operasi. Nah loh, kapan saya bisa nyuntiknya?

Bagi kami para perawat, kemampuan itu tidak hanya sebatas nyuntik maupun infus saja. Itu hanya bagian kecil dari sekian banyaknya disiplin ilmu dan praktik keperawatan.

Kalau hanya soal “nyuntik”, Kepala keperawatan di sebuah RS bahkan hampir tidak pernah nyuntik. Karena tugas utamanya memang bukan itu. Ia menjadi kepala yang harus memikirkan banyak hal, mengkonsep banyak hal.

Dan disini, bukan soal “nyuntik” atau “infus” dulu yang jadi masalah, tapi komunikasi dengan teman sejawat, dengan pasien, persiapan ujian, yang kesemuanya memakai bahasa Jepang, adalah tantangan tersendiri di dunia baru ini.

Jika komunikasi bisa terjalin dengan baik, lalu bisa bisa memahami huruf kanji yang ribet ini dengan baik, maka kemampuan yang akan didapat saya kira akan lebih banyak dibandingkan hanya soal “nyuntik” saja.

Junkanki byouto (循環器病棟) atau ruangan penyakit kardiovaskuler yang terletak di lantai 2 rumah sakit ini, menjadi tempat bekerja dan belajar yang baru bagi saya.

Apalagi saya belum pernah masuk ke ruangan semenjak lulus kuliah dulu, karena memang di ruang operasi terus. Bakal banyak hal baru yang akan bisa saya pelajari.

Pergi ke tempat baru, berkenalan dengan orang baru, ternyata betul-betul mengubah pandangan saya terhadap banyak hal.

Ada yang mau ikut menembus dunia internasional juga?

“Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat Islam disarankan melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang supaya nasibnya berubah’ Andrea Hirata, Padang Bulan”

Sapporo, 5 Januari 2017. 21.00 waktu setempat. Suhu luar -3 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.