Arsip | Uncategorized RSS feed for this section

Sesuatu Yang Menakutkan Itu Bernama “Perubahan”

22 Sep

#Yuki 43

“Semuanya itu berubah, tidak ada yang abadi. Bahkan, yang abadi adalah perubahan itu sendiri.”

Familiar dengan ungkapan diatas?

Ya, perubahan sebegitu cepatnya merubah berbagai hal dalam kehidupan kita.

Dulu yang hanya cukup memakai ponsel 3310, boleh jadi ponsel tersebut sudah jadi index barang di sebuah museum.

Lalu datanglah Android yang bertarung dengan IOS, sebegitu sengitnya.

Bentuk, fungsi, pemasaran, berbagai hal dilakukan demi menggaet minat para kawula milenial agar mau memakai, yang otomatis akan membelinya.

Itu baru soal HP, belum hal lain yang sebegitu cepat berubah.

Slogan, tidak mau berubah maka akan tertinggal, sudah bukan barang baru lagi.

Hanya, saja, kita sebagai manusia yang juga ikut dalam arus perubahan yang semakin cepat ini, terkadang belum menerima, bahkan belum mau mengakui kalau perubahan itu perlu.

Akibatnya? Jelas, tertinggal.

Dunia keperawatan, yang sedang saya tekuni, pun tidak luput dari hal tersebut.

Dulu, ketika ada lulusan Akper dan bisa kerja di Puskesmas dekat rumah, sudah merupakan hal yang istimewa.

Bisa kenal dengan masyarakat, lalu sambil praktik di rumah, buka klinik luka ataupun sambil khitan.

Sekarang? Masih tetap bisa, tapi kita harus realistis. Jumlah lulusan sekarang dengan 20 tahun lalu tentu berbeda.

Baik secara kuantitas lulusan, juga kualitasnya.

Di Rumah sakit tempat kerja saya sekarang, juga menjadi tempat praktik mahasiswa keperawatan dari beberapa universitas di Sapporo.

Jumlahnya? Setiap ruangan ada 3 orang dengan 1 dosen pendamping yang tiap hari ikut melihat dan membantu mahasiswa praktik.

Padahal saya ingin sesekali bercengkrama dengan mereka, tapi, waktu untuk duduk saja tidak ada saat kerja, apalagi sekedar ngobrol, haha.

Rumah sakit tempat kerja saya adalah bertipe rumah sakit akut dengan jumlah bed 350, yang selalu penuh dan kadang over.

Saya tidak akan membandingkannya dengan rumah sakit sekelas RSCM atau kalau di Semarang, RS Kariadi, karena tidak seimbang dalam jumlah mahasiswa praktikannya.

Hanya saja, rumah sakit swasta pun di negara kita, saya kira sudah terlampau banyak jumlah mahasiswa praktikan yang imbasnya, lulusannya juga banyak.

Nah, kalau kita mau menerima perubahan yang ada, tidak semua mahasiswa yang lulus tadi bisa bekerja di RS tempat mereka praktik dulu.

Juga RS impian yang sudah menjadi angan-angan sejak masih duduk di bangku kuliah.

Kalau kita sudah memahami ini sejak awal, minimal di bangku kuliah, maka saat akan mencoba memasuki dunia kerja boleh jadi akan memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Karena menjadi sarjana kertas saja tidak akan cukup untuk bisa berkiprah di dunia kerja yang mengharuskan kita terus belajar dengan kenyataan di lapangan.

Dan profesi perawat pun sekarang sudah terbuka pintu-pintu ke berbagai mancanegara dengan segala tantangan dan keuntungannya.

Betul, seperti di judul yang saya tulis, merubah kebiasaan kerja dekat rumah dengan lintas negara bukanlah hal yang mudah.

Tapi itu juga merupakan pilihan. Anda boleh tetap kerja di dekat rumah. Anda pun bisa mencoba berkelana dan menjumpai hal-hal yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya.

Yang tidak boleh menurut saya adalah, sudah tidak mau berubah, tapi dengan gampang menyalahkan keadaan.

Apalagi sampai berkoar-koar dengan lantang, kalau bangsa kita sudah diserbu para pekerja asing, tapi kitanya pas ada kesempatan ke luar negeri juga, tidak mau ngambil dengan alasan yang menggunung.

Negara-negara dengan jumlah penduduk terbanyak seperti India ataupun China, sudah banyak yang merantau dan berdamai dengan perubahan.

Di sekitar saya saja disini, sangat mudah menemukan mereka diantara orang Jepang yang lalu lalang memadati Sapporo.

Belum lagi Tokyo, yang merupakan kota terpadat di dunia.

Jikalau mereka bisa berdamai dengan perubahan. Kita kapan?

Sapporo, 7 september 2017. 21.00 waktu setempat.

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Perawat Jepang : Bergaji Tinggi dan Sering Jalan-Jalan

22 Sep

#Yuki 35

Setidaknya, itulah kesan yang dipahami oleh sebagian besar orang Indonesia, wabil khusus, teman-teman perawat dan para mahasiswa keperawatan.

Apakah itu salah? Tidak. Nyatanya memang demikian.

Di Jepang, profesi perawat memang merupakan salah satu profesi dengan gaji tinggi.

Apalagi sesuai dengan kebiasaan orang kita, apa-apa di kurs-kan, jadi sepuluh kali lipat rata-rata UMR, bahkan bisa lebih.

Coba saja tanya mbah google, berapa kisaran gaji perawat di Jepang. Sekali browsing, maka akan banyak data yang muncul.

Lalu, soal jalan-jalan.

Karena memang ritme kerja yang “gila” menurut saya, wajar kalau mereka pergi untuk menghilangkan stress sambil jalan-jalan ke berbagai negara.

Ada yang suka ke Hawaii. Ada yang bolak-balik ke Thailand dan Bali, sampai ceritanya itu wah banget, hanya saja kadang masih gak tahu Bali itu bagian dari Indonesia.

Lalu, ada juga teman seruangan saya yang bakal liburan ke Eropa 3 bulan. Lah, kok bisa? Saya kurang tahu ijinnya bagaimana, hanya saja dia bakal pergi untuk ikut program belajar bahasa inggris selama sebulan, sisanya digunakan buat “mbolang..”

“Lalu, Mas sudah jadi perawat disana?” Tanya seorang teman.

Belum, itu jawaban saya. Namun, Insyaallah saya sedang menuju kesana.

“Maksudnya bagaimana? Bukannya Mas ikut program perawat ke Jepang? Kok belum jadi perawat disana?” Lanjutnya.

Betul. Saya memang ikut program pengiriman perawat ke Jepang lewat Bnp2tki. Namun, sebelum mendapatkan surat tanda registrasi perawat disini, ya belum bisa disebut sebagai perawat.

Sebutan bagi kami yang masih belum mendapatkan surat tanda registrasi, disebut “Kango Joshu”, atau Asisten perawat. Dalam bahasa yang lain, Nurse Aid, atau pembantu perawat.

“Lah, jauh-jauh ke Jepang kok cuma jadi pembantu perawat?” Bisa jadi ada yang berfikiran seperti itu.

Begini, setelah lulus tes di Jakarta, kami diwajibkan mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama setahun. Itu gratis, tempat tinggalnya enak, apalagi kalau sudah mengikuti pelatihan setengah tahun kedua di Jepang, tambah enak fasilitasnya, ditambah dapat uang saku sekitar 10 dollar perhari, baik selama di Indonesia dan di Jepang.

Nah, setelah itu, kami masuk tempat kerja sesuai dengan kontrak yang tersisa. Kalau perawat di RS, tinggal 2 tahun. Kalau perawat di panti lansia, masih ada 3 tahun.

Untuk perawat yang di RS, diberi kesempatan sebanyak 3 kali untuk ikut ujian nasional keperawatan, dimana soal-soalnya “plek”, atau sama persis dengan soal buat orang Jepang.

Hanya saja, untuk orang asing (karena yang ikut program ini, selain Indonesia, ada Filipina dan Vietnam juga), ada keringanan berupa huruf bantu “furigana” atau cara baca kanji, serta waktunya 3,5 jam setiap sesi. Kalau untuk orang Jepang, 2 jam 10 menit.

Apakah soal-soalnya susah?

Kalau paham dan bisa mengerjakan, tentunya mudah. Tapi ternyata tidak sesederhana itu.

Pertama, pemahaman ilmu keperawatan mau tidak mau harus paham. Apalagi soal-soal yang global.

Selanjutnya, dari pemahaman yang dibawa dari negeri asal, berubah menjadi deretan huruf kanji yang terbagi menjadi tiga jenis soal.

Soal wajib sebanyak 50 soal, soal umum sebanyak 130 soal, dan soal kasus sebanyak 60 soal. Dan itu dikerjakan selama 7 jam dengan jeda istirahat 1 jam.

“Klenger”, mungkin itu kata yang pas kalau di bahasa jawa kan.

Selain soal-soal yang global, ada soal-soal khusus yang hanya bisa ditemui di Jepang. Misal, keperawatan lansia, beda jauh dengan ilmu lansia di Indonesia.

Semisal, ada istilah “yousien” (要支援) dan “youkaigo” (要介護), yang menggambarkan dimana level kebutuhan perawatan bagi lansia yang awet betul usianya itu.

Lalu, selain GCS (Glasgow coma scale), ada juga JCS (Japan coma scale).

Disini, saat keadaan gawat darurat, GCS digunakan, atau pasien yang terpasang alat bantu napas semisal. Nah, untuk pasien yang stabil, JCS yang digunakan.

Itu gambaran sekilas soal ilmu keperawatan. Soal kerja bagaimana?

Rata-rata teman yang mengikuti program ini, selain bekerja, juga diwajibkan belajar. Sebenarnya yang utama belajarnya sih, tapi, karena mendapat gaji, ya harus seimbang, bekerja ya iya, belajar ya iya.

Tiap RS bervariasi sistem belajarnya. Ada yang bekerja setengah hari, lalu siang sampai sore belajar. Ada yang kerja dari pagi sampe jam 3 sore, selebihnya belajar. Ada juga yang 4 hari kerja, satu hari full belajar. Boleh jadi masih banyak lagi sistem lainnya.

Di Jepang, menggunakan sistem 5 hari kerja dan 2 hari libur. Jadi, dalam setahun, rata-rata jumlah hari liburnya adalah 105 hingga 110 hari, ditambah dengan cuti tahunan yang berbeda-beda sistemnya.

Sebagai seorang “kango joshu” atau pembantu perawat, kebanyakan ruang lingkup kerjanya adalah “kankyou seibi”, atau menjaga kerapian lingkungan.

Sebagai aplikasinya, semisal ikut perawat membantu ganti popok pasien setiap pagi, ikut memandikan pasien, mengambil obat di farmasi, mengumpulkan serta membuang sampah, membantu pasien ke toilet, membagikan makanan, dan membantu mengambilkan peralatan yang diminta oleh perawatn ruangan.

“Lah, kalau seperti itu kan gampang, Mas..”

Kalau semua pekerjaan itu dilakukan di Indonesia, saya kira tidak terlalu jadi masalah. Yang kadang, dan sering jadi masalah adalah soal bahasa.

Ketika berkomunikasi dengan teman kerja, yang tentu saja berbahasa Jepang, ketika masih ada kendala, pekerjaan yang sederhana pun bisa jadi rumit.

Belum dengan pasien. Apalagi jika pasiennya tua pakai banget. Misal, pasien dengan usia 90 tahun, masih bisa jalan, namun ketika ke toilet perlu diantar. Benar-benar, gak ketangkap apa yang dia omongkan.

Lalu pas membantu menyuapi makan, sambil dengerin dia cerita, ampun, ini orang ngomong apa coba. Saya nanya ke teman kerja, dia juga bingung. Memang dasar cara bicaranya susah dipahami, kata teman saya

Selanjutnya adalah bahasa tulis.

Sebagai karyawan baru, tentu saya juga ikut orientasi. Dijelaskan bagaimana sejarah rumah sakit, cara pengendalian infeksi, cara evakuasi ketika ada bencana, cara memberikan bantuan pertama pada orang yang tidak sadar, dan sebagainya.

Orang Indonesia saya sendiri, dan lainnya orang Jepang semua.

Presentasi menggunakan power point dan semuanya huruf kanji! Alamakkk, rata-rata gak kebaca kanjinya. Apesnya lagi, ada tes setelahnya.

Ketika teman-teman sebelah saya sudah selesai mengerjakan, saya masih megap-megap baca kanjinya. Ini kanji apa coba, bacanya gimana, artinya apa, haha.

Walhasil, hanya separuh yang bisa saya kerjakan. Habis itu, remidi, mengulang tes didampingi staf rumah sakit, sambil dijelaskan cara baca kanjinya.

Lalu ketika ada informasi di ruangan atau lewat komputer yang masuk ke dalam akun masing-masing karyawan.

Karena sebagian besar RS di Jepang sudah terkomputerisasi. Semua informasi itu pakai kanji dan bahasanya formal banget.

Mau tidak mau saya harus bertanya kepada rekan kerja tentang cara baca kanjinya, juga artinya. Penjelasannya? Tentu menggunakan bahasa Jepang juga.

Jadi, kalau bicara tentang gaji tinggi, dan mau menuruti keinginan hati untuk jalan-jalan, boleh-boleh saja. Tapi, syaratnya ya itu, harus lulus ujian nasional keperawatan dulu. Biar setara dengan perawat yang asli orang Jepang.

Ibarat sebuah pohon, semakin tinggi pohonnya, semakin kencang angin yang menerpanya. Lalu semakin tinggi layang-layang, semakin senang kita memandangnya. Eh, gak nyambung lagi ya, haha.

Sapporo, 13 Juli 2017. 23.00 waktu setempat. Musim panas, malam pun harus buka jendela…

Uki

*Di lampiran foto, saya sertakan contoh soal “mogishiken” atau try out ujian bulan kemarin.
Contoh soal tentang keperawatan anak. Ada yang mau bantu saya ngerjakan?

 

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.

​Uki, Sebuah Nama dan Musim…

25 Mei

#Yuki 28
Cukup menarik ketika ada beberapa pasien yang menanyakan tentang nama saya,

“Uki wa nan no myouji desuka?” Tanya pasien beberapa waktu yang lalu.

Artinya, “(nama) Uki itu dari marga apa?”..

Karena memang nama yang tertera di kartu pengenal saya adalah “Uki”, ditulis dengan huruf katakana, dan dibawahnya ada nama depan saya, yaitu Arsyad.

Nama panggilan ini saya pilih karena orang Jepang mudah mengucapkannya, kalau nama depan saya (yang dikira nama keluarga), agak susah. Arsyad, ketika ditulis pakai katakana, jadi “Arusyado”, malah jadi aneh, haha.

Nah, umumnya, di tanda pengenal teman-teman saya, tertulis nama depan atau nama keluarga yang dalam bahasa Jepangnya disebut “myouji” (名字) atau marga, dalam bahasa Indonesianya.

Misalnya, nama-nama keluarga yang banyak adalah, Sato, Shimada, Ishikawa, Yamada, dan lain-lain.

Kalau diartikan, mungkin terdengar menarik bagi orang Indonesia. Misalnya, Sato artinya gula, Shimada artinya pulau dan sawah, Ishikawa artinya batu dan sungai, serta Yamada adalah gunung dan sawah.

Kebanyakan nama marga Jepang adalah berkaitan dengan alam, karena itu sudah terbentuk sejak nenek moyang mereka dulu.

Ketika sekilas melihat nama saya, beberapa ada yang paham dan langsung menanyakan saya berasal dari mana.

“Uki san wa doko no kuni kara kimasitaka?” Yang artinya, Uki berasal dari negara mana?

“Indonesia desu..” Dari Indonesia, jawab saya.

Setelah itu, biasanya mengalir satu dua pertanyaan tentang Indonesia.

Kadang, ada yang bilang, bahwa kalau ke Indonesia belum pernah, tapi ke Bali sudah beberapa kali, hiya… (Saya saja belum pernah ke Bali, eh)

Dikira Indonesia itu cuma negara yang terdiri atas satu pulau besar saja, layaknya Australia.

Lalu obrolan berlanjut tentang Indonesia yang merupakan negara kepulauan, sama seperti Jepang, dan sebagainya.

Dan yang sering dibahas adalah tentang musim. Mengapa?

Uki, dalam bahasa Jepang, memiliki beberapa arti. Kaitannya dengan musim, kosakata “Uki” (雨季) berarti musim hujan.

Haha, awal saya tahu tentang hal ini, saya kira itu kosakata yang menarik. Ternyata, orang Jepang sendiri kurang menyukai hujan.

Kalau di Indonesia, ada dua musim. Yaitu musim hujan, bahasa Jepangnya “Uki” (雨季) dan musim kemarau, bahasa Jepangnya “kanki” (乾季).

Jadi, di negara kita, kalau gak hujan ya panas, sudah, itu memang yang telah diatur oleh Sang Maha di negara yang berada di jalur khatulistiwa.

Kalau mau melihat salju, bisa sih, tapi harus ke Puncak Jaya Wijaya di ujung timur dulu.

Nah, disini, ada empat musim. Musim semi atau “haru” (春), musim panas atau “natsu” (夏), musim gugur atau “aki” (秋), serta musim dingin atau “fuyu” (冬).

Berbeda dengan kebanyakan orang di negara kita, orang Jepang sangat antusias betul melihat perkiraan cuaca, baik informasi di tivi maupun di internet.

Bagi mereka, pembicaraan tentang cuaca adalah seperti kalau kita bicara tentang naik turunnya harga cabe. Lumrah.

Kalau orang kita, yang terbiasa dengan masakan pedas, apapun jenis masakannya, akan terasa susah kalau musim lagi kurang bersahabat dan harga cabe meningkat.

Bagi orang Jepang, akan terasa susah kalau pas libur kerja, eh, sudah tahu kalau hari itu cuaca sepertinya akan kurang bersahabat.

Jadi, pembicaraan seperti berikut akan terdengar lumrah disini,

“Wah, senangnya, minggu depan pas libur cuacanya cerah seharian…”

atau,

“Yah…sabtu depan pas libur, bakal hujan dari pagi sampai sore..” Sambil memasang muka murung..

Karena ketika cuaca cerah adalah salah satu anugrah disela-sela kesibukan kerja yang bikin snewen.

Ketika cuaca cerah, mereka bisa jalan-jalan bersama keluarga, atau bisa melakukan kegiatan apa saja di luar ruangan.

Kalau hujan, ya pasti bakalan di rumah saja, hanya saja mereka gak bakal bikin indomie rebus pedas dengan telur dobel, karena itu bukan budaya mereka, hehe.

Nah, loh, musim di Jepang kan ada empat saja, kapan ada hujannya?

Saya juga dulu berfikir seperti itu.

Ternyata, selain musim dingin, hujan bisa turun di dalam 3 musim lainnya.

Dan uniknya, nama-nama hujan di setiap musim juga berbeda-beda.

Bicara soal musim hujan, atau “Uki”, ada teman yang bikin joke atau lucu-lucuan.

“Mukasi kara Hokkaido ni uki wa arimasen. Kyonen no juuni gatsu kara Hokkaido ni uki ga kimasita..”

Artinya,

Dari dulu, tidak ada “Uki” (musim hujan) di Hokkaido. Tapi sejak bulan desember tahun lalu, ada Uki (nama saya) datang ke Hokkaido.

Entah, ternyata itu lucu bagi mereka, haha.

Sapporo, 26 Mei 2017. 01.10 waktu setempat.

*Insyaallah nanti malam kita bakal mulai tarawih, baca niat puasa, serta sahur, semoga puasanya lancar bagi teman-teman semua…

Uki

​Pemandangan Baru di Luar Sana

20 Mei

#Yuki 27
Kereta cepat membawa saya pergi ke bandara lagi pagi ini. 

Dari stasiun Sapporo menuju bandara Shin Chitose untuk kemudian berlanjut penerbangan ke bandara Haneda di Tokyo.

Belum, memang belum untuk kembali ke tanah air untuk berbagi ilmu atau sekedar libur cuti. Tapi, sesuai dengan jadwal dari program yang membawaku ke sini, tiap 2 bulan sekali ada pelatihan di jantung kota negeri Sakura ini.

Kereta melaju cepat, melewati rindangnya hehijauan yang beberapa bulan lalu masih semerbak putih menghampar.

“Musim semi itu mitos belaka!” Ujar salah satu teman yang bertandang ke Sapporo awal bulan april lalu.

Bagaimana tidak, ketika di daerah lain sudah hijau dan bunga bermekaran dimana-mana, Sapporo masih setia dengan salju dan suhu minusnya.

Namun, sebulan kemudian, musim pun benar-benar berganti. 

Hujan yang turun serta cahaya mentari yang mengelus lembut daratan paling utara Jepang ini telah mencairkan salju yang tebal.

Sesuai berita, ketebalan salju tahun ini sama dengan 50 tahun lalu. Benar-benar tebal!

Sepanjang jalan, memang tidak terlihat pohon cemara, sesuai dengan lagu kesukaan kita itu. Namun, hijaunya dedaunan dan merah muda mekarnya sakura masih terlihat sejauh mata memandang.

Sungguh, begitu agung alam milik Sang Maha ini, hanya saja, kadang rasa syukur itu masih terlalu kerdil untuk bisa kita haturkan.

Hutan, sawah, sungai, dan berbagai pemandangan baru di negeri-negeri terjauh ini telah membuat saya semakin memahami indahnya perbedaan.

Rumah dan bangunan yang terlihat mungil di kejauhan, seakan membawa saya ke dalam imajinasi dalam buku dongeng.

Rapi dan tertatanya orang maupun kendaraan yang antri, terlihat tenang tanpa adanya kasak-kusuk maupun bunyi klakson.

Semua saling memahami dan menjaga toleransi. Segala budaya baik yang diajarkan oleh agama saya, terlihat mengakar kuat dan sejuk di dalam tatanan masyarakat di negeri yang pernah merasakan pil pahit berupa bom atom berpuluh tahun lalu ini.

Mereka bersatu, mengesampingkan perbedaan, merendahkan ego, menyatukan persamaan dari berbagai warna untuk bangkit. 

Dan itu, bukan sekedar cerita dongeng atau isapan jempol belaka.

Jarak yang jauh mereka kalahkan dengan kereta peluru. Laut yang membentang antar pulau mereka satukan dengan terowongan bawah laut. Serta, diatas laut pun mereka bangun sebuah bandara yang menghubungkan antar negeri-negeri terjauh juga.

Bukan, saya bukan sedang membangga-banggakan negeri yang sedang saya tinggali ini. Tapi sekedar ingin mengajak membuka wawasan kita agar tidak selalu terkungkung dengan dunia sebatas layar sentuh 5 inchi.

Toh, saya lebih bangga dengan kampung halaman yang sederhana, serta berbagai pemahaman kuat akan toleransi dengan sesama.

Hanya sayangnya, akhir-akhir ini ada beberapa orang yang ingin memberangus indahnya perbedaan itu. 

Saya berharap, suatu saat mereka akan memahami rahmat serta berbagai perbedaan itu.

Masih ingat betul dalam pikiran saya, tentang nasehat serta ajaran para orang tua,

“Kita ini diciptakan dengan berbagai perbedaan, baik suku, bangsa, budaya, bahasa serta banyak lainnya. Kenalilah, pelajarilah, suatu saat engkau akan paham betapa kita itu begitu kecil diantara berbagai ciptaan serta keagunganNya..”

“Sebelum engkau bisa merasakan serta memahami indahnya perbedaan dari berbagai pemandangan di luar sana. Jangan pernah terbersit pikiran untuk berhenti belajar..”

“Karena jika seseorang baru tahu sedikit dan berhenti belajar, maka hanya rasa jumawa dan egonya saja yang akan sangat nampak..”

Kereta saya sudah sampai bandara, saatnya check in dan mulai kembali merenungkan nasehat serta petuah yang telah mengkristal dalam kata mutiara para orang berilmu itu.

Sapporo, 20 Mei 2017.

Uki

​Menyambut Ramadhan di Sapporo

20 Mei

#Yuki 26
“Jadi puasanya mulai kapan dan berapa lama?” Tanya teman kerja saya.

“Mulai minggu depan, selama sebulan?” Jawab saya.

“Hah? Uki san kuat? Selama sebulan tidak makan?” Lanjut teman saya, dengan ekspresi ingin tahunya.

Akhirnya diskusi pun berlanjut di sela-sela makan siang beberapa waktu yang lalu.

Saya jelaskan secara sederhana, waktunya mulai terbit matahari (karena saya belum bisa menjelaskan kosakata “shubuh”) sampe tenggelamnya matahari.

Mereka ber “oh…” pelan. Tanda paham.

“Jadi kalau malam boleh makan dan minum kan?” Lanjut mereka.

“Iya, boleh” Jawab saya.

Ada dua hal yang mereka pikiran, sekaligus khawatirkan.

Pertama, terkait pekerjaan, apakah tidak apa-apa? Selanjutnya, perbedaan lama waktu di Sapporo dan Indonesia yang memang benar-benar berbeda.

Terkait pekerjaan, insyaallah tidak apa-apa, jawab saya. Kalau soal lamanya waktu, tentu akan menjadi pengalaman baru tentunya.

Karena tahun kemarin, saat di Osaka, waktu shubuh tercepat adalah pukul 3 dini hari. Dan minggu depan, saya akan disambut waktu shubuh pada pukul 01.52 dini hari.

Dan jam 3 pagi? Matahari sudah terbit, di sekitar asrama tempat tinggal saya, bakalan cerah dengan cahaya pagi!

Saat ini saja, seperti tadi pagi, pukul 4 pagi sudah ada cahaya matahari masuk jendela kamar saya.

Tentu, lamanya waktu akan menjadi hal baru, sekaligus menjadi tantangan tersendiri selama ada di Sapporo ini.

Namun, dibalik semua itu, Ramadhan adalah momentum yang bisa kita gunakan untuk mengevaluasi diri.

Evaluasi terhadap sebelas bulan yang telaj terlewati.

Terkait dengan hal itu, tak bosan-bosannya saya membaca tulisan Gus Mus yang bertajuk “Membuka pintu langit” di bawah ini.

Mari, kita baca dan insyaallah bagus untuk kita renungkan bersama.

“Membuka Pintu Langit, Momentum Tahunan Untuk Evaluasi Perilaku”

Oleh Gus Mus,

Ada Hadis shahih yang menyebutkan pernyataan Kanjeng Nabi Muhammad SAW bahwa apabila ada datang Ramadhan, pintu langit (dalam riwayat lain : pintu sorga) dibuka, pintu neraka jahannam ditutup, dan setan-setan dirantai. 

Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pernyataan itu adalah seperti yang tersurat. 

Bila Ramadhan datang, langit atau sorga memang dibuka pintu-pintunya; neraka jahannam memang ditutup; dan setan-setan memang dirantai.

Namun, ada juga yang menafsirkan bahwa dibukanya pintu langit atau sorga mempunyai arti diturunkannya rahmat Allah atau dibukanya peluang diterimanya amal-amal baik hamba-Nya melalui pertolongan-Nya.

Yang sering ditanyakan : apabila setan-setan dirantai, mengapa kok kenyataannya pada Ramadhan masih banyak orang yang melakukan perbuatan buruk sebagaimana yang dianjur-bujukkan setan?

Ada yang menjawab, yang dimaksudkan dengan setan-setan yang dirantai ialah setan-setan married, setan-setan yang biasa keluyuran, nguping berita-berita dari langit (untuk dibisikkan ke dukun-dukun tukang ramal).

Pada Ramadhan setan-setan itu tidak bisa lagi naik ke langit karena dirantai.

Adapula yang menjawab, setan-setan itu makhluk yang gigih, meskipun “kecincukan”, tertatih-tatih, karena dirantai; setan-setan tetap berusaha melaksanakan misinya membujuk dan menjerumuskan anak cucu Adam. 

Hanya, anak-cucu Adam lebih ringan menghadapinya dibanding apabila setan-setan itu bebas tanpa hambatan seperti pada bulan-bulan lainnya.

Adalagi yang menjawab, setan-setan itu meskipun dirantai, bahkan tidak bisa kemana-mana, ada saja anak-cucu Adam yang kangen untuk minta advis. Mungkin karena menganggap advis setan-setan itu manjur, terutama bila berkaitan dengan kepentingan duniawi, cepat tembus.

Apa pun tafsir orang terhadap hadis itu, yang jelas pada bulan suci Ramadhan, kita merasakan sendiri kekhususan-nya. Kondisi dan suasananya lain daripada bulan-bulan yang lain. Ada kedamaian, kekhusyukan, keakraban, dan kebersamaan yang istimewa. 

Kondisi dan  suasana yang benar-benar kondusif, terutama bagi kaum muslimin untuk melakukan hal-hal khusus yang tidak sama dengan pada bulan-bulan lain. Sesuatu yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas sebagai hamba Allah.

Tinggal bagaimana kita menyikapi dengan benar rahmat Allah berupa bulan suci ini untuk kepentingan kita sendiri. Ingat, Allah sendiri tidak punya kepentingan. 

Bagaimana kita akan menghayati makna puasa kita? bagaimana kita menyadari “kesendirian” kita dengan Sang Pencipta kita? sejauh mana intensitas dialog kita dengan diri kita sendiri. Dan sebagainya dan seterusnya.

Bulan puasa adalah bulan antara kita dan Allah. Hanya kita dan Allah yang mengetahui kualitas pengisian kita terhadapnya. Hanya kita dan Allah yang mengetahui seberapa besar kesungguhan kita mengabdi kepada-Nya. Dan hanya Dia yang mengetahui seberapa besar ganjaran yang akan dilimpahkan kepada kita.

Puasa merupakan momentum istimewa yang hanya datang setahun sekali, dimana kita bisa mendidik diri kita untuk jujur dan ikhlas, terutama untuk diri kita sendiri. Juga momentum untuk mengadakan evaluasi tahunan tentang perilaku kita selama sebelas bulan yang sudah; baik kaitannya dengan Tuhan kita, maupun yang berkenaan dengan hamba-Nya.

Namun bulan Ramadhan, karena datangnya rutin, juga berpotensi membuat kita terjerembab ke dalam rutinitas sebagaimana hal-hal rutin yang lain. Dia bisa datang dan pergi hanya sebagaimana angin lewat. Inilah kiranya yang perlu kita waspadai.

Jangan sampai mulut kita berucap Ramadhan bulan suci, tetapi selalu terlewatkan oleh kita kesuciannya. Semoga rahmat dan ampunan Allah terlimpah kepada kita. Amin

Sapporo, 18 Mei 2017

Uki

​Perjalanan Panjang

13 Mei

#Yuki 25

“Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain. Dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Keraguan. 

Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja” (“Pulang”, karya Tere liye)

Sengaja saya mengutip salah satu quote yang ada di novel Tere Liye sebagai pembuka tulisan kali ini.

Mengapa? Sebagai seorang pembelajar, apapun jenis pelajarannya, boleh jadi akan mengalami dua hal.

Membandingkan dan dibandingkan.

Pertama, ketika “kebetulan” berada di kelas atau kumpulan orang-orang yang “level”nya kita anggap lebih tinggi dari kita, secara tidak sadar (atau sadar sebetulnya), kita akan langsung membandingkan diri kita dengan yang lain.

“Kok dia cepet ‘nyantol’ sama pelajarannya ya,” misal, atau “Berapakalipun mempelajarinya, kok kayaknya sama aja, gak masuk-masuk. Sedangkan dia, orang itu, yang duduk di sebelah sana…” Fokus kita malah menjadi kacau balau.

Itu memang manusiawi. Saya pun pernah mengalaminya. Hanya saja, sebelum terlalu dalam “baper” dengan hal itu, akhirnya saya paham akan sesuatu.

Kita diciptakan oleh Yang Maha Menciptakan dengan keunikan masing-masing. 

Memang benar, ada yang diberi anugerah sejak lahir dengan bakat tertentu, sementara yang lain, butuh perjuangan yang tidak mudah ketika memahami sesuatu.

Apakah kita akan menyalahkan Sang Maha, ketika kita terkesan “lambat” dibanding yang lain? Padahal, ketika dibandingkan dengan segala hal yang telah diberi saja, setitik rasa syukur saja boleh jadi sering terlupa.

Kita tidak bisa mengukur ukuran sepatu kita dengan kaki milik orang lain. Ukuran kaki kita ya jelas harus diukur sesuai dengan ukuran yang ada.

Oleh karenanya, lambat atau cepat itu kadang relatif. Dan tentu saja, baiknya kita tanyakan dulu pada diri sendiri.

Orang yang menurut kita “wah” tersebut, ternyata juga tidak hanya mengandalkan bakat saja. 

Setelah tahu, ternyata malam dan siangnya lebih banyak dihabiskan dengan tebalnya tumpukan buku, rumitnya pemahaman yang harus diurai, berlembar-lembar kalimat penting yang dicatat, serta pengulangan yang boleh jadi sangat menjenuhkan.

Sedangkan sebagian dari kita? Hanya ingin langsung ingin berada di puncak tanpa pernah mau melangkah susah di anak tangga.

Sebuah lelucon pernah diutarakan teman saya, “Se instan-instannya mie instan, tetap harus melewati proses yang rumit hingga menjadi sebuah produk bernama mie instan,”

Yang kedua, Dibandingkan.

Hal ini berkaitan dengan penilaian orang terhadap diri kita. Bicara tentang hasilnya, itu tergantung diri kita tentunya.

Ada yang ketika dibandingkan dengan orang lain, langsung keras reaksinya. Juga, ada yang tenang, tidak menanggapi, dan menjadikannya pembelajaran.

Para orang tua pernah bilang bahwa sebaik-baiknya pekerjaan yang kita lakukan, akan selalu diremehkan oleh mereka yang belum paham atau belum tahu.

Diremehkan disini, berarti, bisa juga kadang dibandingkan dengan apapun.

Semisal, panjang perjalanan sebuah proses pembelajaran yang kita lalui, oleh mereka yang belum paham, atau memang tidak mau memahami, akan selalu “dimentahkan”.

Karena apa? Orang-orang yang belum paham, hanya akan menggunakan sebatas pengetahuannya untuk menilai orang lain, serta biasanya akan memancing untuk berdebat kusir. Yang tanpa tujuan, dan hanya ingin menunjukan kebesaran ego nya saja.

Banyak contoh yang tersebar di masyarakat. Sekali anda luangkan waktu untuk memandang sekitar, boleh jadi hal-hal tersebut akan muncul dengan sendirinya.

Belajar, adalah sebuah proses yang melelahkan dan sangat panjang.

Jika ada yang bilang belajar itu menyenangkan, maka itu akan terucap oleh mereka yang telah kenyang dengan pahitnya perjalanan panjang tersebut.

Karena, segala hal yang hebat, luar biasa, dan menakjubkan, itu akan selalu ada hal pahit yang mendahuluinya.

Seperti kata Tere Liye di novelnya yang lain,

“Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justru menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya. 

Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh.”

Sapporo, 11 Mei 2017. 21.30 waktu setempat. Kamis hujan seharian.

Uki

​Terlatih Karena Berlatih

13 Mei

#Yuki 24

Namanya Pak Abdal, saya memanggilnya Abdal san, sesuai dengan panggilan lumrah di Jepang.

Dia keturunan asli India, namun, beberapa pelanggannya yang belum pernah bertemu dan hanya memesan makanan lewat telpon, rata-rata mengira sedang berbicara dengan orang asli Jepang.

Tidak perlu saya menanyakan alasannya. Ketika saya berbicara dengannya, saat memesan makan “chicken curry”, rasanya seperti berbicara dengan orang Jepang saja.

Aksen, pengucapan, kecepatan, penggunaan kosakata dan tata bahasa, menunjukan betapa telah terasah kemampuan tersebut selama bertahun-tahun.

“Abdal san, sudah berapa lama di Jepang?” Akhirnya saya kepo juga, sembari menyantap kare ayam buatannya.

“Berapa ya,” Sambil mikir. “Tahun ini genap 18 tahun,” Kata pemilik warung makanan halal yang bernama Dawat Cage ini.

Saya terhenyak dalam hati, luar biasa!

Bahasa, budaya, dan apapun yang berbeda dari budaya asalnya, seakan benar-benar telah menyatu dengannya.

Selain fasih berbahasa Jepang, selayaknya para perantau dari India, bahasa inggrisnya mantap dan cakap!

Awal bertemu dengannya, saya disapa menggunakan bahasa inggris. Saya paham maksudnya, tapi entah mengapa, terasa begitu sulit saat menjawabnya menggunakan bahasa inggris juga.

“Pakai bahasa Jepang tidak apakah?” Tanya saja. “Ya, gak apa-apa,” Jawabnya ramah sambil tersenyum.

Hampir setiap jumat kami bertemu di Masjid Sapporo, dan baru dua kali saya makan di Dawat Cafe. Namun, ngobrol dan mendengarkan kisahnya merupakan kesenangan sendiri buat saya.

Darinya, saya belajar hal mendasar tentang belajar, khususnya bahasa.

Panjang cerita yang saya dengarkan, kembali mengingatkan saya akan salah satu tulisan fenomenal yang ada di Bukit Diponegoro, Semarang.

“Terlatih Karena Berlatih”

Hal itu betul-betul melekat erat dengan keseharian Abdal san.

Lamanya waktu selama di Jepang, akan menjadi tidak berguna kalau memang tidak digunakan untuk latihan. Apalagi jika (maaf) alergi dengan kosakata, tata bahasa, serta apapun yang baru.

Bahasa Jepang itu sangat luas jangkauannya. banyaknya kanji yang ada, bahkan membuat orang Jepang sendiri kadang merasa kesulitan.

Lah, bagi kita yang bukan orang Jepang, nambah susah dong? Betul, memang susah, tapi bisa dipelajari.

Selayaknya bahasa Indonesia, walaupun kita asli orang Indonesia, coba deh, sesekali baca cerpen yang ada di harian Kompas. Kebacanya sih kebaca, tapi inti ceritanya belum tentu semua orang tahu.

Juga, soal keterbukaan. Belajar bahasa berarti siap menerima setiap masukan dan menyadari betapa banyaknya hal yang belum kita tahu.

Hanya saja, ketika kita memutuskan untuk berhenti belajar dan menutup diri dari hal baru, apalagi sampai “jumawa” dan beranggapan sudah tahu banyak, tamatlah sudah.

Bertemu dengan orang baru, mendengarkan kisahnya, bak membuka sebuah buku yang belum terlihat batas akhirnya. Semakin dibaca, seakan rangkaian kata itu terus mengukirkan dirinya dalam lembaran yang tak berkesudahan.

Begitulah sejatinya ilmu dan pengetahuan. Semakin dipelajari, semakin tak terlihat ujungnya, dan semakin membuat kita menjadi kecil.

Seperti salah satu quote yang saya suka,

“Puncak dari pengetahuan adalah ketidak tahuan”.

Terima kasih, Abdal san, insyaallah semoga bisa mampir lagi. Masih banyak hal yang saya ingin dengarkan dari kisahmu..

Sapporo, 4 Mei 2017. 22.10 waktu setempat. Hari ini, Sapporo benar-benar hangat!

Uki