Archive | Uncategorized RSS feed for this section

​Uki, Sebuah Nama dan Musim…

25 Mei

#Yuki 28
Cukup menarik ketika ada beberapa pasien yang menanyakan tentang nama saya,

“Uki wa nan no myouji desuka?” Tanya pasien beberapa waktu yang lalu.

Artinya, “(nama) Uki itu dari marga apa?”..

Karena memang nama yang tertera di kartu pengenal saya adalah “Uki”, ditulis dengan huruf katakana, dan dibawahnya ada nama depan saya, yaitu Arsyad.

Nama panggilan ini saya pilih karena orang Jepang mudah mengucapkannya, kalau nama depan saya (yang dikira nama keluarga), agak susah. Arsyad, ketika ditulis pakai katakana, jadi “Arusyado”, malah jadi aneh, haha.

Nah, umumnya, di tanda pengenal teman-teman saya, tertulis nama depan atau nama keluarga yang dalam bahasa Jepangnya disebut “myouji” (名字) atau marga, dalam bahasa Indonesianya.

Misalnya, nama-nama keluarga yang banyak adalah, Sato, Shimada, Ishikawa, Yamada, dan lain-lain.

Kalau diartikan, mungkin terdengar menarik bagi orang Indonesia. Misalnya, Sato artinya gula, Shimada artinya pulau dan sawah, Ishikawa artinya batu dan sungai, serta Yamada adalah gunung dan sawah.

Kebanyakan nama marga Jepang adalah berkaitan dengan alam, karena itu sudah terbentuk sejak nenek moyang mereka dulu.

Ketika sekilas melihat nama saya, beberapa ada yang paham dan langsung menanyakan saya berasal dari mana.

“Uki san wa doko no kuni kara kimasitaka?” Yang artinya, Uki berasal dari negara mana?

“Indonesia desu..” Dari Indonesia, jawab saya.

Setelah itu, biasanya mengalir satu dua pertanyaan tentang Indonesia.

Kadang, ada yang bilang, bahwa kalau ke Indonesia belum pernah, tapi ke Bali sudah beberapa kali, hiya… (Saya saja belum pernah ke Bali, eh)

Dikira Indonesia itu cuma negara yang terdiri atas satu pulau besar saja, layaknya Australia.

Lalu obrolan berlanjut tentang Indonesia yang merupakan negara kepulauan, sama seperti Jepang, dan sebagainya.

Dan yang sering dibahas adalah tentang musim. Mengapa?

Uki, dalam bahasa Jepang, memiliki beberapa arti. Kaitannya dengan musim, kosakata “Uki” (雨季) berarti musim hujan.

Haha, awal saya tahu tentang hal ini, saya kira itu kosakata yang menarik. Ternyata, orang Jepang sendiri kurang menyukai hujan.

Kalau di Indonesia, ada dua musim. Yaitu musim hujan, bahasa Jepangnya “Uki” (雨季) dan musim kemarau, bahasa Jepangnya “kanki” (乾季).

Jadi, di negara kita, kalau gak hujan ya panas, sudah, itu memang yang telah diatur oleh Sang Maha di negara yang berada di jalur khatulistiwa.

Kalau mau melihat salju, bisa sih, tapi harus ke Puncak Jaya Wijaya di ujung timur dulu.

Nah, disini, ada empat musim. Musim semi atau “haru” (春), musim panas atau “natsu” (夏), musim gugur atau “aki” (秋), serta musim dingin atau “fuyu” (冬).

Berbeda dengan kebanyakan orang di negara kita, orang Jepang sangat antusias betul melihat perkiraan cuaca, baik informasi di tivi maupun di internet.

Bagi mereka, pembicaraan tentang cuaca adalah seperti kalau kita bicara tentang naik turunnya harga cabe. Lumrah.

Kalau orang kita, yang terbiasa dengan masakan pedas, apapun jenis masakannya, akan terasa susah kalau musim lagi kurang bersahabat dan harga cabe meningkat.

Bagi orang Jepang, akan terasa susah kalau pas libur kerja, eh, sudah tahu kalau hari itu cuaca sepertinya akan kurang bersahabat.

Jadi, pembicaraan seperti berikut akan terdengar lumrah disini,

“Wah, senangnya, minggu depan pas libur cuacanya cerah seharian…”

atau,

“Yah…sabtu depan pas libur, bakal hujan dari pagi sampai sore..” Sambil memasang muka murung..

Karena ketika cuaca cerah adalah salah satu anugrah disela-sela kesibukan kerja yang bikin snewen.

Ketika cuaca cerah, mereka bisa jalan-jalan bersama keluarga, atau bisa melakukan kegiatan apa saja di luar ruangan.

Kalau hujan, ya pasti bakalan di rumah saja, hanya saja mereka gak bakal bikin indomie rebus pedas dengan telur dobel, karena itu bukan budaya mereka, hehe.

Nah, loh, musim di Jepang kan ada empat saja, kapan ada hujannya?

Saya juga dulu berfikir seperti itu.

Ternyata, selain musim dingin, hujan bisa turun di dalam 3 musim lainnya.

Dan uniknya, nama-nama hujan di setiap musim juga berbeda-beda.

Bicara soal musim hujan, atau “Uki”, ada teman yang bikin joke atau lucu-lucuan.

“Mukasi kara Hokkaido ni uki wa arimasen. Kyonen no juuni gatsu kara Hokkaido ni uki ga kimasita..”

Artinya,

Dari dulu, tidak ada “Uki” (musim hujan) di Hokkaido. Tapi sejak bulan desember tahun lalu, ada Uki (nama saya) datang ke Hokkaido.

Entah, ternyata itu lucu bagi mereka, haha.

Sapporo, 26 Mei 2017. 01.10 waktu setempat.

*Insyaallah nanti malam kita bakal mulai tarawih, baca niat puasa, serta sahur, semoga puasanya lancar bagi teman-teman semua…

Uki

​Pemandangan Baru di Luar Sana

20 Mei

#Yuki 27
Kereta cepat membawa saya pergi ke bandara lagi pagi ini. 

Dari stasiun Sapporo menuju bandara Shin Chitose untuk kemudian berlanjut penerbangan ke bandara Haneda di Tokyo.

Belum, memang belum untuk kembali ke tanah air untuk berbagi ilmu atau sekedar libur cuti. Tapi, sesuai dengan jadwal dari program yang membawaku ke sini, tiap 2 bulan sekali ada pelatihan di jantung kota negeri Sakura ini.

Kereta melaju cepat, melewati rindangnya hehijauan yang beberapa bulan lalu masih semerbak putih menghampar.

“Musim semi itu mitos belaka!” Ujar salah satu teman yang bertandang ke Sapporo awal bulan april lalu.

Bagaimana tidak, ketika di daerah lain sudah hijau dan bunga bermekaran dimana-mana, Sapporo masih setia dengan salju dan suhu minusnya.

Namun, sebulan kemudian, musim pun benar-benar berganti. 

Hujan yang turun serta cahaya mentari yang mengelus lembut daratan paling utara Jepang ini telah mencairkan salju yang tebal.

Sesuai berita, ketebalan salju tahun ini sama dengan 50 tahun lalu. Benar-benar tebal!

Sepanjang jalan, memang tidak terlihat pohon cemara, sesuai dengan lagu kesukaan kita itu. Namun, hijaunya dedaunan dan merah muda mekarnya sakura masih terlihat sejauh mata memandang.

Sungguh, begitu agung alam milik Sang Maha ini, hanya saja, kadang rasa syukur itu masih terlalu kerdil untuk bisa kita haturkan.

Hutan, sawah, sungai, dan berbagai pemandangan baru di negeri-negeri terjauh ini telah membuat saya semakin memahami indahnya perbedaan.

Rumah dan bangunan yang terlihat mungil di kejauhan, seakan membawa saya ke dalam imajinasi dalam buku dongeng.

Rapi dan tertatanya orang maupun kendaraan yang antri, terlihat tenang tanpa adanya kasak-kusuk maupun bunyi klakson.

Semua saling memahami dan menjaga toleransi. Segala budaya baik yang diajarkan oleh agama saya, terlihat mengakar kuat dan sejuk di dalam tatanan masyarakat di negeri yang pernah merasakan pil pahit berupa bom atom berpuluh tahun lalu ini.

Mereka bersatu, mengesampingkan perbedaan, merendahkan ego, menyatukan persamaan dari berbagai warna untuk bangkit. 

Dan itu, bukan sekedar cerita dongeng atau isapan jempol belaka.

Jarak yang jauh mereka kalahkan dengan kereta peluru. Laut yang membentang antar pulau mereka satukan dengan terowongan bawah laut. Serta, diatas laut pun mereka bangun sebuah bandara yang menghubungkan antar negeri-negeri terjauh juga.

Bukan, saya bukan sedang membangga-banggakan negeri yang sedang saya tinggali ini. Tapi sekedar ingin mengajak membuka wawasan kita agar tidak selalu terkungkung dengan dunia sebatas layar sentuh 5 inchi.

Toh, saya lebih bangga dengan kampung halaman yang sederhana, serta berbagai pemahaman kuat akan toleransi dengan sesama.

Hanya sayangnya, akhir-akhir ini ada beberapa orang yang ingin memberangus indahnya perbedaan itu. 

Saya berharap, suatu saat mereka akan memahami rahmat serta berbagai perbedaan itu.

Masih ingat betul dalam pikiran saya, tentang nasehat serta ajaran para orang tua,

“Kita ini diciptakan dengan berbagai perbedaan, baik suku, bangsa, budaya, bahasa serta banyak lainnya. Kenalilah, pelajarilah, suatu saat engkau akan paham betapa kita itu begitu kecil diantara berbagai ciptaan serta keagunganNya..”

“Sebelum engkau bisa merasakan serta memahami indahnya perbedaan dari berbagai pemandangan di luar sana. Jangan pernah terbersit pikiran untuk berhenti belajar..”

“Karena jika seseorang baru tahu sedikit dan berhenti belajar, maka hanya rasa jumawa dan egonya saja yang akan sangat nampak..”

Kereta saya sudah sampai bandara, saatnya check in dan mulai kembali merenungkan nasehat serta petuah yang telah mengkristal dalam kata mutiara para orang berilmu itu.

Sapporo, 20 Mei 2017.

Uki

​Menyambut Ramadhan di Sapporo

20 Mei

#Yuki 26
“Jadi puasanya mulai kapan dan berapa lama?” Tanya teman kerja saya.

“Mulai minggu depan, selama sebulan?” Jawab saya.

“Hah? Uki san kuat? Selama sebulan tidak makan?” Lanjut teman saya, dengan ekspresi ingin tahunya.

Akhirnya diskusi pun berlanjut di sela-sela makan siang beberapa waktu yang lalu.

Saya jelaskan secara sederhana, waktunya mulai terbit matahari (karena saya belum bisa menjelaskan kosakata “shubuh”) sampe tenggelamnya matahari.

Mereka ber “oh…” pelan. Tanda paham.

“Jadi kalau malam boleh makan dan minum kan?” Lanjut mereka.

“Iya, boleh” Jawab saya.

Ada dua hal yang mereka pikiran, sekaligus khawatirkan.

Pertama, terkait pekerjaan, apakah tidak apa-apa? Selanjutnya, perbedaan lama waktu di Sapporo dan Indonesia yang memang benar-benar berbeda.

Terkait pekerjaan, insyaallah tidak apa-apa, jawab saya. Kalau soal lamanya waktu, tentu akan menjadi pengalaman baru tentunya.

Karena tahun kemarin, saat di Osaka, waktu shubuh tercepat adalah pukul 3 dini hari. Dan minggu depan, saya akan disambut waktu shubuh pada pukul 01.52 dini hari.

Dan jam 3 pagi? Matahari sudah terbit, di sekitar asrama tempat tinggal saya, bakalan cerah dengan cahaya pagi!

Saat ini saja, seperti tadi pagi, pukul 4 pagi sudah ada cahaya matahari masuk jendela kamar saya.

Tentu, lamanya waktu akan menjadi hal baru, sekaligus menjadi tantangan tersendiri selama ada di Sapporo ini.

Namun, dibalik semua itu, Ramadhan adalah momentum yang bisa kita gunakan untuk mengevaluasi diri.

Evaluasi terhadap sebelas bulan yang telaj terlewati.

Terkait dengan hal itu, tak bosan-bosannya saya membaca tulisan Gus Mus yang bertajuk “Membuka pintu langit” di bawah ini.

Mari, kita baca dan insyaallah bagus untuk kita renungkan bersama.

“Membuka Pintu Langit, Momentum Tahunan Untuk Evaluasi Perilaku”

Oleh Gus Mus,

Ada Hadis shahih yang menyebutkan pernyataan Kanjeng Nabi Muhammad SAW bahwa apabila ada datang Ramadhan, pintu langit (dalam riwayat lain : pintu sorga) dibuka, pintu neraka jahannam ditutup, dan setan-setan dirantai. 

Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pernyataan itu adalah seperti yang tersurat. 

Bila Ramadhan datang, langit atau sorga memang dibuka pintu-pintunya; neraka jahannam memang ditutup; dan setan-setan memang dirantai.

Namun, ada juga yang menafsirkan bahwa dibukanya pintu langit atau sorga mempunyai arti diturunkannya rahmat Allah atau dibukanya peluang diterimanya amal-amal baik hamba-Nya melalui pertolongan-Nya.

Yang sering ditanyakan : apabila setan-setan dirantai, mengapa kok kenyataannya pada Ramadhan masih banyak orang yang melakukan perbuatan buruk sebagaimana yang dianjur-bujukkan setan?

Ada yang menjawab, yang dimaksudkan dengan setan-setan yang dirantai ialah setan-setan married, setan-setan yang biasa keluyuran, nguping berita-berita dari langit (untuk dibisikkan ke dukun-dukun tukang ramal).

Pada Ramadhan setan-setan itu tidak bisa lagi naik ke langit karena dirantai.

Adapula yang menjawab, setan-setan itu makhluk yang gigih, meskipun “kecincukan”, tertatih-tatih, karena dirantai; setan-setan tetap berusaha melaksanakan misinya membujuk dan menjerumuskan anak cucu Adam. 

Hanya, anak-cucu Adam lebih ringan menghadapinya dibanding apabila setan-setan itu bebas tanpa hambatan seperti pada bulan-bulan lainnya.

Adalagi yang menjawab, setan-setan itu meskipun dirantai, bahkan tidak bisa kemana-mana, ada saja anak-cucu Adam yang kangen untuk minta advis. Mungkin karena menganggap advis setan-setan itu manjur, terutama bila berkaitan dengan kepentingan duniawi, cepat tembus.

Apa pun tafsir orang terhadap hadis itu, yang jelas pada bulan suci Ramadhan, kita merasakan sendiri kekhususan-nya. Kondisi dan suasananya lain daripada bulan-bulan yang lain. Ada kedamaian, kekhusyukan, keakraban, dan kebersamaan yang istimewa. 

Kondisi dan  suasana yang benar-benar kondusif, terutama bagi kaum muslimin untuk melakukan hal-hal khusus yang tidak sama dengan pada bulan-bulan lain. Sesuatu yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas sebagai hamba Allah.

Tinggal bagaimana kita menyikapi dengan benar rahmat Allah berupa bulan suci ini untuk kepentingan kita sendiri. Ingat, Allah sendiri tidak punya kepentingan. 

Bagaimana kita akan menghayati makna puasa kita? bagaimana kita menyadari “kesendirian” kita dengan Sang Pencipta kita? sejauh mana intensitas dialog kita dengan diri kita sendiri. Dan sebagainya dan seterusnya.

Bulan puasa adalah bulan antara kita dan Allah. Hanya kita dan Allah yang mengetahui kualitas pengisian kita terhadapnya. Hanya kita dan Allah yang mengetahui seberapa besar kesungguhan kita mengabdi kepada-Nya. Dan hanya Dia yang mengetahui seberapa besar ganjaran yang akan dilimpahkan kepada kita.

Puasa merupakan momentum istimewa yang hanya datang setahun sekali, dimana kita bisa mendidik diri kita untuk jujur dan ikhlas, terutama untuk diri kita sendiri. Juga momentum untuk mengadakan evaluasi tahunan tentang perilaku kita selama sebelas bulan yang sudah; baik kaitannya dengan Tuhan kita, maupun yang berkenaan dengan hamba-Nya.

Namun bulan Ramadhan, karena datangnya rutin, juga berpotensi membuat kita terjerembab ke dalam rutinitas sebagaimana hal-hal rutin yang lain. Dia bisa datang dan pergi hanya sebagaimana angin lewat. Inilah kiranya yang perlu kita waspadai.

Jangan sampai mulut kita berucap Ramadhan bulan suci, tetapi selalu terlewatkan oleh kita kesuciannya. Semoga rahmat dan ampunan Allah terlimpah kepada kita. Amin

Sapporo, 18 Mei 2017

Uki

​Perjalanan Panjang

13 Mei

#Yuki 25

“Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain. Dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Keraguan. 

Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja” (“Pulang”, karya Tere liye)

Sengaja saya mengutip salah satu quote yang ada di novel Tere Liye sebagai pembuka tulisan kali ini.

Mengapa? Sebagai seorang pembelajar, apapun jenis pelajarannya, boleh jadi akan mengalami dua hal.

Membandingkan dan dibandingkan.

Pertama, ketika “kebetulan” berada di kelas atau kumpulan orang-orang yang “level”nya kita anggap lebih tinggi dari kita, secara tidak sadar (atau sadar sebetulnya), kita akan langsung membandingkan diri kita dengan yang lain.

“Kok dia cepet ‘nyantol’ sama pelajarannya ya,” misal, atau “Berapakalipun mempelajarinya, kok kayaknya sama aja, gak masuk-masuk. Sedangkan dia, orang itu, yang duduk di sebelah sana…” Fokus kita malah menjadi kacau balau.

Itu memang manusiawi. Saya pun pernah mengalaminya. Hanya saja, sebelum terlalu dalam “baper” dengan hal itu, akhirnya saya paham akan sesuatu.

Kita diciptakan oleh Yang Maha Menciptakan dengan keunikan masing-masing. 

Memang benar, ada yang diberi anugerah sejak lahir dengan bakat tertentu, sementara yang lain, butuh perjuangan yang tidak mudah ketika memahami sesuatu.

Apakah kita akan menyalahkan Sang Maha, ketika kita terkesan “lambat” dibanding yang lain? Padahal, ketika dibandingkan dengan segala hal yang telah diberi saja, setitik rasa syukur saja boleh jadi sering terlupa.

Kita tidak bisa mengukur ukuran sepatu kita dengan kaki milik orang lain. Ukuran kaki kita ya jelas harus diukur sesuai dengan ukuran yang ada.

Oleh karenanya, lambat atau cepat itu kadang relatif. Dan tentu saja, baiknya kita tanyakan dulu pada diri sendiri.

Orang yang menurut kita “wah” tersebut, ternyata juga tidak hanya mengandalkan bakat saja. 

Setelah tahu, ternyata malam dan siangnya lebih banyak dihabiskan dengan tebalnya tumpukan buku, rumitnya pemahaman yang harus diurai, berlembar-lembar kalimat penting yang dicatat, serta pengulangan yang boleh jadi sangat menjenuhkan.

Sedangkan sebagian dari kita? Hanya ingin langsung ingin berada di puncak tanpa pernah mau melangkah susah di anak tangga.

Sebuah lelucon pernah diutarakan teman saya, “Se instan-instannya mie instan, tetap harus melewati proses yang rumit hingga menjadi sebuah produk bernama mie instan,”

Yang kedua, Dibandingkan.

Hal ini berkaitan dengan penilaian orang terhadap diri kita. Bicara tentang hasilnya, itu tergantung diri kita tentunya.

Ada yang ketika dibandingkan dengan orang lain, langsung keras reaksinya. Juga, ada yang tenang, tidak menanggapi, dan menjadikannya pembelajaran.

Para orang tua pernah bilang bahwa sebaik-baiknya pekerjaan yang kita lakukan, akan selalu diremehkan oleh mereka yang belum paham atau belum tahu.

Diremehkan disini, berarti, bisa juga kadang dibandingkan dengan apapun.

Semisal, panjang perjalanan sebuah proses pembelajaran yang kita lalui, oleh mereka yang belum paham, atau memang tidak mau memahami, akan selalu “dimentahkan”.

Karena apa? Orang-orang yang belum paham, hanya akan menggunakan sebatas pengetahuannya untuk menilai orang lain, serta biasanya akan memancing untuk berdebat kusir. Yang tanpa tujuan, dan hanya ingin menunjukan kebesaran ego nya saja.

Banyak contoh yang tersebar di masyarakat. Sekali anda luangkan waktu untuk memandang sekitar, boleh jadi hal-hal tersebut akan muncul dengan sendirinya.

Belajar, adalah sebuah proses yang melelahkan dan sangat panjang.

Jika ada yang bilang belajar itu menyenangkan, maka itu akan terucap oleh mereka yang telah kenyang dengan pahitnya perjalanan panjang tersebut.

Karena, segala hal yang hebat, luar biasa, dan menakjubkan, itu akan selalu ada hal pahit yang mendahuluinya.

Seperti kata Tere Liye di novelnya yang lain,

“Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justru menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya. 

Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh.”

Sapporo, 11 Mei 2017. 21.30 waktu setempat. Kamis hujan seharian.

Uki

​Terlatih Karena Berlatih

13 Mei

#Yuki 24

Namanya Pak Abdal, saya memanggilnya Abdal san, sesuai dengan panggilan lumrah di Jepang.

Dia keturunan asli India, namun, beberapa pelanggannya yang belum pernah bertemu dan hanya memesan makanan lewat telpon, rata-rata mengira sedang berbicara dengan orang asli Jepang.

Tidak perlu saya menanyakan alasannya. Ketika saya berbicara dengannya, saat memesan makan “chicken curry”, rasanya seperti berbicara dengan orang Jepang saja.

Aksen, pengucapan, kecepatan, penggunaan kosakata dan tata bahasa, menunjukan betapa telah terasah kemampuan tersebut selama bertahun-tahun.

“Abdal san, sudah berapa lama di Jepang?” Akhirnya saya kepo juga, sembari menyantap kare ayam buatannya.

“Berapa ya,” Sambil mikir. “Tahun ini genap 18 tahun,” Kata pemilik warung makanan halal yang bernama Dawat Cage ini.

Saya terhenyak dalam hati, luar biasa!

Bahasa, budaya, dan apapun yang berbeda dari budaya asalnya, seakan benar-benar telah menyatu dengannya.

Selain fasih berbahasa Jepang, selayaknya para perantau dari India, bahasa inggrisnya mantap dan cakap!

Awal bertemu dengannya, saya disapa menggunakan bahasa inggris. Saya paham maksudnya, tapi entah mengapa, terasa begitu sulit saat menjawabnya menggunakan bahasa inggris juga.

“Pakai bahasa Jepang tidak apakah?” Tanya saja. “Ya, gak apa-apa,” Jawabnya ramah sambil tersenyum.

Hampir setiap jumat kami bertemu di Masjid Sapporo, dan baru dua kali saya makan di Dawat Cafe. Namun, ngobrol dan mendengarkan kisahnya merupakan kesenangan sendiri buat saya.

Darinya, saya belajar hal mendasar tentang belajar, khususnya bahasa.

Panjang cerita yang saya dengarkan, kembali mengingatkan saya akan salah satu tulisan fenomenal yang ada di Bukit Diponegoro, Semarang.

“Terlatih Karena Berlatih”

Hal itu betul-betul melekat erat dengan keseharian Abdal san.

Lamanya waktu selama di Jepang, akan menjadi tidak berguna kalau memang tidak digunakan untuk latihan. Apalagi jika (maaf) alergi dengan kosakata, tata bahasa, serta apapun yang baru.

Bahasa Jepang itu sangat luas jangkauannya. banyaknya kanji yang ada, bahkan membuat orang Jepang sendiri kadang merasa kesulitan.

Lah, bagi kita yang bukan orang Jepang, nambah susah dong? Betul, memang susah, tapi bisa dipelajari.

Selayaknya bahasa Indonesia, walaupun kita asli orang Indonesia, coba deh, sesekali baca cerpen yang ada di harian Kompas. Kebacanya sih kebaca, tapi inti ceritanya belum tentu semua orang tahu.

Juga, soal keterbukaan. Belajar bahasa berarti siap menerima setiap masukan dan menyadari betapa banyaknya hal yang belum kita tahu.

Hanya saja, ketika kita memutuskan untuk berhenti belajar dan menutup diri dari hal baru, apalagi sampai “jumawa” dan beranggapan sudah tahu banyak, tamatlah sudah.

Bertemu dengan orang baru, mendengarkan kisahnya, bak membuka sebuah buku yang belum terlihat batas akhirnya. Semakin dibaca, seakan rangkaian kata itu terus mengukirkan dirinya dalam lembaran yang tak berkesudahan.

Begitulah sejatinya ilmu dan pengetahuan. Semakin dipelajari, semakin tak terlihat ujungnya, dan semakin membuat kita menjadi kecil.

Seperti salah satu quote yang saya suka,

“Puncak dari pengetahuan adalah ketidak tahuan”.

Terima kasih, Abdal san, insyaallah semoga bisa mampir lagi. Masih banyak hal yang saya ingin dengarkan dari kisahmu..

Sapporo, 4 Mei 2017. 22.10 waktu setempat. Hari ini, Sapporo benar-benar hangat!

Uki

​Sakura dan Zona Waktu

13 Mei

#Yuki 23

Beberapa kali saya pernah ditanya oleh teman maupun kenalan yang ketemu di dunia maya,

“Mas, gimana caranya agar bisa cepat menguasai bahasa Jepang?..”

Cara cepat menguasai bahasa jepang? Batin saya.

Hmpt, saya bingung, lantas pertanyaan tersebut pun bertepuk sebelah tangan, belum saya jawab hingga saat ini.

Memang, beberapa teman yang pernah melihat saya menulis menggunakan huruf kanji di media sosial, mungkin saja beranggapan kalau saya sudah jago berbahasa Jepang.

Jago? Duuuh, masih jauh betul saya dari kata itu.

Dari pertanyaan teman saya itu, menjadikan saya mengingat-ingat bagaimana perjalanan saya dalam memulai belajar bahasa yang baru ini.

Kurang lebih dua tahun lalu, saya mulai berkenalan dengan bahasa Jepang. Mulai dari tingkat paling dasar, baca tulis huruf hiragana!

Saat itu pun, susahnya minta ampun. Sudah hafal huruf hiragana AIUEO, kemudian lanjut belajar huruf selanjutnya, eh, yang dipelajari kemarin lupa.

Apalagi saat sudah masuk ke huruf katakana dan kanji, benar-benar seperti main puzzle, campur aduk gak karuan.

Apakah saya pernah frustasi dan down dalam belajar?

Seperti kebanyakan para pembelajar pada umumnya, saya pun pernah merasakannya.

Saya pernah berada di sebuah kelas dengan orang-orang yang memiliki level pemahaman yang luar biasa cepat.

Sesaat setelah diajarkan beberapa pelajaran oleh sensei, mereka pun mengangguk, atau ber “oh..” pelan, tanda paham.

Lah saya? Diulang hingga beberapa kalipun rasanya belum paham-paham. Ketika bertanya lagi, malah seakan “menghambat” yang lain dalam belajar. Akhirnya, saya memutuskan bertanya di luar kelas.

Sebagai manusia normal, wajar kalau kadang muncul pikiran, “Saya ini yang terlalu bodoh, atau memang mereka yang terlalu pintar..”

Celakanya, semakin memikirkan hal itu, bukannya membuat semangat belajar menjadi baik, eh, malah menjadi down!

Lantas, solusinya bagaimana?

Tiap orang memilki zona waktunya masing-masing.

Pemahaman seperti itu datang setelah saya membaca artikel yang menyebutkan hal serupa. Sederhananya begini, kita bisa lihat bersama.

Ada orang yang dalam usia mudanya sudah jadi pengusaha besar, juga ada yang baru menjadi pengusaha di usianya yang sudah menginjak 70 tahun.

Ada juga yang menjadi profesor di usia 30 tahun, namun ada juga yang baru meraih gelar tersebut di usia 50 tahun.

Ada orang yang ketika sekali membaca, langsung “nyantol”, lalu ada juga yang perlu membaca 10 kali lebih baru paham.

Apakah yang terkesan “lambat” itu kurang baik?

“Walaupun kecepatannya berbeda, hasil akhirnya tercapai kan?” Jawab sensei saya di Jakarta dulu.

Layaknya Sakura di Hokkaido, walaupun mekarnya “telat” dibanding daerah-daerah lain di Jepang (Apalagi di Okinawa yang mekarnya bulan febuari), hasil akhirnya nyatanya tetap memberikan keindahan bagi sekitarnya.

Menanti mekarnya sakura di Hokkaido memang perlu bersabar lebih, begitu juga dalam belajar.

Setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing. Asalkan terus bergerak, asalkan tetap belajar, saya yakin suatu ketika masing-masing akan sampai di zona waktunya.

Jalan memang terjal, rintangan memang pedih tak terperi, tapi setidaknya, dari bunga sakura kita bisa belajar.

Setelah daun-daunnya gugur, seakan meranggas, lalu di terpa “gila” nya musim dingin, apalagi di Hokkaido, pohonnya membeku, entah bagaimana menderitanya, tapi ketika musim semi datang, mekarnya bunga sakura seakan ingin menyampaikan kepada dunia,

“Alam memang keras, rintangan akan terus datang silih berganti, tapi lihatlah! lihatlah! ketika musim semi tiba, mekar bungaku akan menjadi saksi bahwa aku telah berhasil menghadapi semua ini!”

Jadi, bagaimana cara cepat agar bisa menguasai bahasa Jepang?

Sapporo, 27 April 2017. Selamat datang Sakura!

Uki

​….. Dan Salju Pun Mulai Mencai

13 Mei

#Yuki 22
Seperti terlempar ke masa kuliah yang hampir 7 tahun yang lalu, saat itu, di ruang diskusi,

“Sebenarnya, ada beberapa dari alumni kita yang mencoba bekerja di luar negeri,” Kata Kaprodi saya saat itu.

“Hanya saja, ada yang tidak tahan dengan perubahan cuaca, apalagi di tempat yang bersalju, sehingga dengan berat hati, memutuskan untuk pulang ke Indonesia lagi…” Lanjutnya.

Saat itu saya hanya terdiam saja. Mencerna setiap kalimat yang sekaligus petuah yang berharga di sela-sela padatnya jadwal kuliah.

Apakah saya nanti juga tidak tahan salju? Pikir saya. Apalagi saya berpostur kurus, susah nambah berat badan pula. Jadi nambah kepikiran.

Waktu pun melesat. Hari demi hari berlalu, menyalip bulan dan tahun, hingga sampailah di hari ini.

Melesat dari tahun itu, saya pun sekarang, seperti masih merasakan “rasanya” duduk di ruang diskusi itu. Entah kenapa malam ini teringat isi dari percakapan singkat itu.

Bulan desember kemarin, saat pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Chitose, Hokkaido, hanya kemantapan hati yang selalu saya teguhkan.

Bagaimana tidak? Salju dimana-mana dan menghias seluruh pemandangan sejauh mata memandang.

Indah? Tentu. Apalagi seumur hidup baru kali pertama saya melihatnya. Melihat salju itu memang menyenangkan kalau hanya beberapa hari, seperti pergi liburan misalnya.

Tapi untuk hidup di tanah bersalju, tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi orang berdarah tropis seperti saya.

“Suhu terendah disana berapa?” Tanya teman kerja saya.

“Berapa ya,” Sejenak saya melihat aplikasi cuaca saat musim hujan awal tahun lalu. Dan angka 24 derajat itu ada pada cuaca hujan yang lebat!

Itu sudah termasuk dingin bagi kebanyakan orang tropis. Enak di dalam rumah, anget, apalagi ada mi rebus dobel dengan telor, ditambah potongan cabe. Enak banget dah pokoknya!

Disini? Bulan desember hingga maret kemarin, suhu terus tenang di angka dibawah nol derajat. Tenang, bagaikan orang yang sedang makan mi rebus yang masih hangat-hangatnya.

Suatu ketika, ketika hari lumayan cerah, suhu menunjukan persis nol derajat, ada teman kerja yang tersenyum sambil berkata, “Wahhhh, hari ini lumayan hangat ya…”

Kening saya pun berkerut, dan teman saya pun tersenyum, “Oh iya, di Indonesia selalu panas kok ya,” Celetuknya.

Tapi, apakah itu menyurutkan semangat saya? Alhamdulillah, sama sekali tidak.

Entah, rasanya saya seperti mulai menjalani setapak demi setapak mimpi yang pernah saya ikrarkan bertahun yang lalu,

“Pergi ke tempat baru, belajar bahasa dan budaya baru, menjelajah ke tempat yang belum saya ketahui sebelumnya..”

Saat musim dingin, memang, betul-betul dingin ketika berada di luar ruangan. Bahkan, kalau ada orang yang melihat saya, mungkin hanya kelihatan mata saja. “Tutupan, krekep..” Kalau orang Kudus bilangnya.

Namun, ketika di dalam ruangan, suhu berubah menjadi hangat karena ada “danbo” atau penghangat yang ada di rumah-rumah di daerah dingin seperti tempat saya sekarang.

Salju pun mulai mencair, kuncup-kuncup sakura pun mulai nampak. Walaupun memang lebih telat di banding daerah lainnya.

Musim semi di Sapporo, tentu akan menjadi hal yang berbeda dan tentu, akan mengisi potongan demi potongan mozaik dalam perjalanan yang entah akan kemana lagi kaki ini melangkah selanjutnya.

Sapporo, 20 April 2017, Salju pun sempurna mencair! Selamat datang musim semi…

Uki