PERAWAT INDONESIA DI JEPANG : BERAPA YANG LULUS TAHUN INI?

Tingkat kelulusan tertinggi dicapai tahun ini!

Kira-kira begitu isi artikel di harian online Nishi Nippon bulan lalu.

Perawat asing yang ada di Jepang. Baik dari Indonesia, Filipina, dan Vietnam, menorehkan sejarah baru. Sekaligus tertinggi selama sejarah program IJEPA.

Dari 441 orang asing yang ikut ujian nasional keperawatan di Jepang. 78 orang dinyatakan lulus. Prosentasenya 17.7%.

Tingkat kelulusan ini lebih tinggi dari tahun lalu yang baru mencapai 14.5%. Dengan peserta yang lolos 65 orang dari 447 peserta ujian.

Tahun ini juga. Jumlah kelulusan peserta ujian sebesar 91%. Dari 64.448 peserta ujian, 58.682 orang dinyatakan lolos. Baik orang Jepang maupun orang asing.

Tingkat kelulusan ini, bisa melewati 90%. Setelah 2 tahun terakhir jumlah kelulusan di bawah angka tersebut (2016 : 89.4%. 2017: 88.5%).

Nah, berapa perawat Indonesia yang lulus?

Sebentar, sebentar. Sebelum itu. Ada hal yang ingin saya sampaikan terlebih dulu.

Ketika mengikuti program perawat (kangoshi) ke Jepang lewat IJEPA. Kita diberi kesempatan hingga 3 kali untuk bisa ikut ujian nasional.

Kalau sampai yang ketiga belum lolos? Ada beberapa pilihan.

Pihak rumah sakit memberikan ijin perpanjang kerja hingga setahun lagi. Jadi bisa ikut ujian yang keempat.

Ada yang ikut ujian Junkangoshi (perawat dengan lisensi daerah/provinsi). Jika lulus, nambah kontrak 4 tahun.

Ada yang pulang. Bisa permintaan sendiri. Juga bisa karena rumah sakit tidak memperpanjang kontrak.

Selain itu? Boleh jadi ada lagi yang saya belum saya ketahui.

Perawat yang sudah pulang ke Indonesia masih bisa kah ikut ujian lagi? Bisa.

Akan tetapi, saya belum tahu caranya. Nanti kalau ada senpai yang bersedia saya wawancarai, mungkin kapan-kapan akan saya tulis.

Eh, misal ada yang mau berbagi juga saya persilahkan. Malah bisa jadi bahan diskusi.

Oke. Lanjut.

Perawat Indonesia yang lulus tahun ini ada 29 orang dari 216 peserta ujian. Rinciannya?

Ujian tahun pertama (masuk ke Jepang 2017). 22 orang peserta, belum ada yang lulus.

Ujian tahun kedua (masuk ke Jepang 2016). 44 orang peserta, 5 orang lulus.

Ujian tahun ketiga ( masuk ke Jepang 2015). 56 orang peserta, 5 orang lulus.

Ujian tahun keempat (masuk ke Jepang 2014). 22 orang peserta, 6 orang lulus.

Selain itu. Yang sudah pulang maupun yang nambah kontrak dengan lisensi junkangoshi. 72 orang peserta, 13 orang lulus.

Peserta dari negara lain?

Peserta ujian dari Filipina ada 185 orang. Jumlah yang lulus ada 31 orang. Rinciannya,

Ujian tahun pertama. 28 orang peserta, 1 orang lulus.

Ujian tahun kedua. 59 orang peserta, 9 orang lulus.

Ujian tahun ketiga. 51 orang peserta, 9 orang lulus.

Ujian tahun keempat. 16 orang peserta, 4 orang lulus.

Selain itu. Yang sudah pulang maupun yang nambah kontrak dengan lisensi junkangoshi. 31 orang peserta, 8 orang lulus.

Selanjutnya, dari Vietnam.

Peserta ujian dari Vietnam ada 40 orang. Jumlah yang lulus ada 18 orang. Rinciannya,

Ujian tahun pertama. 21 orang peserta, 7 orang lulus.

Ujian tahun kedua. 14 orang peserta, 8 orang lulus.

Ujian tahun ketiga. 3 orang peserta, 2 orang lulus.

Ujian tahun keempat.1 orang peserta, 1 orang lulus.

Selain itu. Yang sudah pulang maupun yang nambah kontrak dengan lisensi junkangoshi. 1 orang peserta, tapi belum bisa lolos.

Gimana? Pusing baca datanya ya? Haha. Saya nulisnya juga pusing, wkwk.

Setelah melihat data ini. Boleh jadi tiap orang punya pendapatnya masing-masing.

Salah satunya begini. Betul, sampai saat ini jumlah peserta dengan kelulusan terbanyak masih di pegang Indonesia. Dengan melihat data selama 10 tahun terakhir.

Namun, melihat 1 orang Filipina bisa lulus di ujian tahun pertama. Ditambah 7 orang Vietnam yang lulus di tahun pertama juga,

Tentu hal ini bisa jadi bahan renungan yang baik serta intropeksi kita bersama.

Kalau mereka bisa. Kita juga, kan?

*Uki

Link berita terkait.

*Berita kelulusan perawat asing di Nishi Nippon.

https://www.google.co.jp/amp/s/www.nishinippon.co.jp/amp/nnp/medical/article/404170

*informasi nilai batas kelulusan ujian perawat di Jepang 2018.

http://www.mhlw.go.jp/general/sikaku/successlist/2018/siken03_04_05/about.html

*Informasi kelulusan perawat di Jepang 2018.

http://www.mhlw.go.jp/stf/houdou/0000154325.html

Iklan

Usaha, Doa, Serta Tawakkal

Setelah setahun mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian perawat. Rasanya masih saja kurang.

Bolak-balik membaca fungsi saraf simpatis dan parasimpatis. Masih saja terbalik-balik.

Memahami urutan pemeriksaan leopold. Lupa urutan ketiga dan keempat yang mana.

Ditambah jenis-jenis sistem masuk rumah sakit bagi pasien dengan gangguan mental? Bener-bener muter isi kepala.

Ada juga JCS (Japan Coma Scale), Hasegawa scale, MMT (Manual Muscle Test), serta kawan-kawannya.

Semua itu bersatu padu menemui para peserta ujian nasional keperawatan di Jepang.

Melihat 3 tahun ke belakang. Angka kelulusan tahun ini baru bisa melebihi 90%. Jadi, orang Jepang pun ada yang gagal.

Jika jumlah peserta ujian tahun ini ada sekitar 64 ribu. 9 persen, atau sekitar 5 ribu orang lebih belum bisa lulus.

Saya sendiri?

Malam setelah ujian. Tertunduk lesu.

Bagaimana tidak. Nilai ujian wajib saya tidak bisa melewati batas minimal kelulusan yang ditetapkan. Yaitu 80%.

Total poin ujian wajib adalah 50 poin. Batas untuk bisa lulus adalah minimal 40 poin.

Saat itu? Saya kurang 2 poin.

Malam itu. Makan terasa tidak enak. Tidur tidak bisa nyenyak. Pikiran penuh dengan segala penyesalan.

Mengapa dulu kurang begini. Mengapa dulu tidak seperti itu. Harusnya soal ini tadi saya tidak rubah jawabannya. Harusnya udah mantep dengan jawaban asal. Kurang lebih seperti itu.

Keesokan harinya. Ketika nilai ujian umum dan kasus keluar. Ada secercah harapan.

Nilai saya sepertinya bisa masuk batas kelulusan. Jika tahun kemarin batas minimal adalah 142 dari 250 poin total. Saya sudah melebihi itu.

Yakin di nilai soal umum dan kasus. Gamang di nilai soal wajib.

Solusinya? Curhat ke orang tua.

Minimal saya bisa ngeluarin unek-unek. Sama ngasih tahu ibu dan bapak. Misal tahun ini belum berhasil, kesempatannya tinggal setahun lagi.

“Bukan tinggal setahun lagi. Masih ada setahun lagi buat belajar,” Ibu membesarkan hati. Walau sejatinya juga tidak kalah kepikiran.

Usaha sudah maksimal. Alhamdulillah ujian bisa diselesaikan.

Maka, doa yang terus dipanjatkan mulai sebelum ujian. Ditambah intensitasnya ketika setelah ujian.

Doa dengan pengharapan terbaik.

Jika yang terbaik belum lulus, maka itu harus diterima dengan syukur. Sebaliknya juga. Jika yang terbaik lulus tahun ini, maka jangan takabur.

Semua harus disyukuri. Semua harus diterima. Itulah tawakkal.

Permasalahannya. Ibarat teori kehilangan dalam dunia keperawatan. Saya masih di tahap “denial”. Penolakan.

Tidak serta merta saya bisa menerima hal itu. Saya terus dan masih merasa menyesal. Dan itu tidak baik bagi keseharian saya.

Akhirnya. Istri menyarankan untuk membaca cerita jatuh bangunnya Pak Edi AH Iyubenu dalam mendirikan Diva Press.

Pak Edi ini salah satu esais favorit saya.

Melalui proses membaca itu. Perlahan saya semakin tenang. Perlahan saya bisa berubah dari penolakan menjadi penerimaan.

Karena tahu saya sedang dirundung kegalauan. Bapak sampai secara khusus sowan kepada gurunya untuk minta doa.

Usaha sudah maksimal. Doa juga harus dimaksimalkan.

Perlu cukup waktu saya menjadi tenang dan bisa merasa menerima apapun hasilnya.

26 Maret 2018. Hari pengumuman.

Rasanya pagi hingga siang terasa sangat lama. Untung pagi itu suasanya ruangan sedang sibuk-sibuknya.

Pukul 2 siang. Website kementrian kesehatan Jepang saya buka.

Saya klik di bagian pengumuman hasil ujian. Lalu saya klik lagi Hokkaido, tempat dimana saya ujian.

Saya cari nomor diantara tumpukan nomor ujian peserta lain.

02811! Ada! Alhamdulillah ya Rabb….

Pembimbing saya seketika teriak dan menangis di samping kiri saya. Saya tidak bisa berkata-kata.

Para kepala ruang segera menghambur di ruang keperawatan. Mengucapkan selamat. Saya masih tercekat. Belum bisa bicara apa-apa selain terus mengucap syukur dalam hati.

Kepala keperawatan datang memberikan ucapan selamat.

“Uki kun. Segera hubungi orang tuamu,” Pinta pembimbing.

Segera saya ke musholla rumah sakit. Sujud syukur dan telpon ibu.

Telepon tersambung. “Alhamdulillah lulus, Bu,” Ucap saya setelah salam.

Ibu langsung terisak di ujung telepon. Tidak bisa berkata-kata.

Tidak bisa ternyata kalau semua ini saya lakukan sendiri. Dulu. Sedari dulu. Segala yang saya lakukan selalu minta ijin dan doa mereka.

Boleh jadi usaha saya dalam belajar sudah sekuat tenaga. Namun, tanpa mereka. Proses doa dan tawakkal itu akan sulit saya lalui.

Berkah dari doa. Ada beberapa soal yang dianulir karena tidak ada jawabannya. Sehingga batas minimal yang harusnya 40 menjadi 36. Dan batas nilai ujian umum dan kasus 154 poin. 12 poin lebih tinggi dari tahun lalu.

Matursuwun. Terima kasih kepada bapak, ibu. Kepada istri. Kepada ibu, bapak mertua. Kepada saudara dan semua yang telah ikut mendoakan.

Alhamdulillah. Mulai bulan april ini. Di rumah sakit ini. Rumah sakit Sapporo Higashi Tokushukai. Saya bisa bekerja sebagai perawat (RN) setara dengan perawat Jepang lainnya.

Tantangan ke depan masih akan terus ada. Masih banyak hal yang akan bisa dipelajari. Di ibukota pulau paling utara Jepang ini.

*Uki

PERAWAT : YANG DI JEPANG INGIN KE SAUDI, YANG DI SAUDI INGIN KE JEPANG?

Apakah itu keliru? Tidak. Karena saya tidak menyoroti benar atau salahnya.

Saya tergelitik menulis ini gara-gara seorang teman perawat di Saudi yang bertanya-tanya soal kehidupan perawat di Jepang.

Lantas mengutarakan keinginannnya untuk mencoba mendaftar kesini.

Juga, karena ada teman yang sudah masuk ke Jepang, bertanya bagaimana cara mendaftar ke Saudi.

Kalau misalnya bisa, kedua orang itu bertukar posisi saja, hehe. Mungkin masalah akan terselesaikan.

Mungkin? Iya, mungkin.

Karena mau pindah kerja ternyata tidak sesederhana itu.

Sama halnya dengan proses mulai dari muncul keinginan hingga melakukan pendaftaran. Menikmati masa harap-harap cemas dalam setiap tes lantas terkucur keringat dingin ketika dekat dengan masa pengumuman.

Baik di dalam negeri, maupun yang ke luar negeri. Fase itu sama saja. Sama-sama rumitnya!

Pertanyaanya. Mengapa keinginan pindah kerja itu terjadi? Lantas kurang enak apa kerja di Saudi? Di Jepang juga?

Tentunya, setiap orang memiliki sederet panjang pertimbangannya masing-masing.

Bukan sebuah rahasia jika faktor ekonomi dan kesejahteraan merupakan salah satu hal yang dicari jika kerja di luar negeri.

Saya bilang salah satu. Karena motivasi tiap orang berbeda-beda.

Ada yang ingin mengembangkan potensi diri. Ada yang ingin kerja, bisa sambil jalan-jalan ke tempat-tempat yang terpatri dalam mimpi.

Ada yang coba-coba, karena melamar kerja di daerah asal gak dipanggil-panggil. Ada yang memang cita-cita sedari kecil. Serta kita bisa menambahkan sederet alasan lainnya.

Teman yang dari Saudi bertanya, “Apakah di Jepang bisa shalat jumat? Apakah bisa shalat 5 waktu?”

Sebelum jawab. Saya malah nanya balik.

“Kalau soal shalat, bukannya lebih enak disana, Mas? Malah kalau haji sama umroh deket.”

Dia lantas menjawab, “Iya, sih kalau soal itu.”

Begini. Di Jepang, saya kira semakin kesini. Mereka semakin paham apa itu agama islam. Jadi, soal shalat, asal dikomunikasikan dengan baik. Insyaallah, mereka akan mengizinkan.

Sebagai contoh rumah sakit yang saya tempati. Bahkan ada mushollanya. Kerena konsekuensi dari kewenangan rumah sakit yang bisa menerima pasien asing.

Jadi, saya merasa terbantu ketika menjelaskan apa itu shalat. Apa itu puasa.

Bahkan, saya sering diingatkan untuk shalat ketika waktunya tiba. Juga mendapat libur setiap hari jumat.

Bagaimana caranya? Dikomunikasikan. Dijelaskan baik-baik. Insyaallah mereka mengerti.

Lalu, apakah ada rumah sakit atau panti lansia yang susah dimintai ijin shalat ketika waktunya tiba?

Saat awal-awal bekerja, ada beberapa teman saya bercerita demikian. Tapi, setelah berjalanannya waktu, akhirnya bisa.

Kuncinya? Komunikasi!

Untuk itulah salah satu alasan agar sebelum masuk rumah sakit bisa berbahasa Jepang dengan baik.

Selanjutnya, pertanyaan sensitif. Soal gaji bagaimana, Mas?

Di Jepang. Perawat yang belum lulus ujian negara, mendapatkan gaji yang bervariasi antara 130 ribu sampai 150 ribu yen.

Bisa kurang, ada juga yang lebih. Tergantung daerah juga. Ya, mirip UMR di Indonesia. Tiap daerah beda, Kan?

Kalau sudah lulus ujian? Gaji dimulai seperti karyawan di Jepang pada umumnya. Sekitar 200 ribu yen. Seiring meningkatnya jam kerja dan kemampuan, tentu akan bertambah juga.

Dengan catatan tambahan. Potongan disini itu besar! Lalu biaya hidup di Jepang? Sudah banyak tulisan yang membahas tentang mahalnya biaya hidup disini.

Berbeda dengan gaji teman-teman di Saudi. Tidak terlalu banyak potongan, kata mereka. Harga kebutuhan pokok juga relatif aman.

Kalau misal dibuat hitung-hitungan. Soal gaji itu relatif. Karena soal uang itu juga relatif. Sesuai kebutuhan. Sesuai gaya hidup.

Kalau saya pribadi. Kerja dimana itu bukan soal uang saja. Tapi bagaimana bisa berkembang.

Teman yang di Saudi juga mengamini hal itu. Secara materi insyaallah tercukupi. Tapi secara pengembangan diri, di tempat dia bekerja sekarang. Merasa susah untuk berkembang.

Dalam kondisi seperti itu. Saya tidak akan melarang kalau misalnya dia ingin pindah. Toh, itu juga pilihannya.

Siapa tahu, jalan perkembangan karirnya memang di Jepang. Siapa tahu.

Lantas yang di Jepang? Ada juga memang yang ingin ke Saudi.

Memang gak enak kerja disini? Itu bisa sangat banyak faktornya kalau ingin dibahas.

Salah satunya dalam artikel di bawah ini.

https://theconversation.com/perawat-migran-indonesia-di-jepang-gajinya-tinggi-apakah-mereka-bahagia-90841

Saran saya, baca artikel itu pelan-pelan, hehe.

Jadi. Dari Indonesia mau ke luar negeri? Silakan. Dari Jepang mau pindah ke Saudi? Monggo. Dari Saudi mau mencoba ke Jepang? Sah-sah saja.

Asal sesuai tujuan. Sesuai dengan kebutuhan. Dan yang terpenting, sesuai pilihan.

Eh, ada juga sih, perawat dari Saudi yang pindah ke Jepang. Tapi karena ikut suaminya, hehe.

*Uki

Persiapan Menghadapi Ujian Nasional Perawat di Jepang

“Mas, bagaimana caranya agar bisa lulus ujian

nasional di Jepang?” Tanya seorang teman lewat inbox.

Boleh jadi, pertanyaan ini tidak hanya ditujukan kepada saya seorang.

Para senpai yang sudah lulus, serta 29 orang Indonesia yang lulus tahun ini pun, saya kira juga ditanya.

Jawaban sederhananya tentu saja dengan cara belajar. Tapi, belajar yang bagaimana, Masee?

Akutu bingung. Mulai darimana belajarnya. Buku yang mana dulu yang harus dibuka. Aplikasi di google play terlalu banyak. Coba download di apple store, sekali klik, keluar semua. Udah gitu, kanji semua lagi. Arghhhhh.

Kira-kira seperti itu. Tenang. Bukan hanya kalian. Saya juga merasakannya.

Nah, berhubung kita sama-sama bingung. Mari kita diskusikan bersama.

Semisal ada dari tulisan ini yang bermanfaat, saya sangat bersyukur. Misal blas gak berfaedah, saya mohon maaf.

Baiklah, kita mulai. Dari cara saya belajar bagaimana caranya belajar.

Pak Haji siap? Zidan siap? 😁

Saya mulai persiapan belajar tentang ujian perawat (Kangoshi Kokkashiken) itu ketika di Osaka. Selama di Jakarta, hanya fokus bahasa Jepang saja.

Itu pun masih bingung. Bagaimana cara memulainya.

Hingga kedatangan para senpai yang berbagi kisahnya dalam acara “Kouryuukai”.

Demi menggapai tujuan lulus ujian nasional, kemudian akan saya tulis Kokkashiken, tiap senpai punya cara yang berbeda-beda.

Saya bagi menjadi dua. Ada yang mendapat support dari rumah sakit, ada yang tidak.

Yang mendapat support.

Rata-rata bekerja hanya pagi sampai siang. Ada juga yang bekerja hingga jam 3 sore. Kemudian lanjut belajar.

Belajarnya ada yang mandiri. Ada juga yang didampingi.

Ada yang dibimbing oleh pihak rumah sakit. Ada juga yang dimasukkan ke tempat bimbel semacam Tokyo Academy.

Para senpai yang masuk golongan ini pun, terbagi lagi.

Ada yang belajar hingga waktu pulang tiba. Pulang, bersih-bersih, masak, makan, lalu lanjut belajar lagi hingga waktu tidur.

Ada yang memanjangkan waktu belajarnya di rumah sakit hingga perutnya minta diisi. Bisa sampai jam 7 atau jam 8 malam. Lalu pulang.

Ada juga yang bercerita, sampai lulus ujian, tidak pernah nonton tivi atau film. Yang dibuka hanya buku, buku, dan buku.

Yang tidak mendapatkan support?

Kedengarannya memang sulit, tapi ternyata ada yang lulus.

Sehari-hari, kerja dari pagi sampai malam. Tidak mendapat bimbingan dari rumah sakit.

Akhirnya, dia harus bertindak sendiri bagaimana caranya bisa belajar.

Bertanya kepada siapapun yang bisa ditanya. Diskusi dengan teman seangkatan yang punya guru pembimbing. Dan hampir seluruh hari liburnya digunakan untuk belajar.

Lah gimana lagi. Setelah pulang kerja capek. Belajar tidak maksimal. Waktu paling pas ya hari libur, kata beliau.

Hebatnya, nilai ujian soal wajib senpai ini betul semua! 🙌

Selain cara belajar diatas, saya yakin, masih banyak lagi yang berbeda. Teman-teman silakan menambahkannya.

Saya sendiri? Hingga saat ini, saya juga merasa belum memiliki cara belajar yang “sreg” di hati.

Saya lebih banyak trial and error. Banyak coba-cobanya, lebih banyak gagalnya.

Setelah gagal di ujian tahun lalu. Saya masih belum menemukan cara belajar yang pas. Saat itu, saya hanya mengerjakan soal-soal saja.

Baik buku yang diberi oleh Jicwels, maupun yang dibelikan rumah sakit.

Nama bukunya Deta 70 (出た 70). Yang isinya soal-soal yang prosentase betulnya tinggi di ujian sebelum-sebelumnya.

Itu pun masih bingung. Dan tentu belum cukup.

Nilai ujian saya tahun lalu, soal wajib baru 25% (batas lulus 40%), serta soal umum dan kasus tidak mencapai 100 poin (batas lulus minimal 142 poin dari nilai total 250 poin).

Bulan april hingga mei, saya masih tertatih-tatih mengerjakan soal-soal. Mengartikan satu persatu kanji yang kita tahu bersama kerumitannya.

Pihak rumah sakit juga memasrahkan cara belajar kepada saya. Jadi, saya hanya bertanya hal yang saya belum paham.

Masalahnya, hampir sebagian besar soal-soal beserta penjelasannya itu gak paham. 😞

Hingga pada bulan mei, saat pelatihan di Tokyo, kami diajari cara membuat jadwal belajar.

Ini sangat membantu. Karena rumah sakit yang menerima saya, baru pertama ini ikut program EPA. Mereka juga masih mencari cara bagaimana mengajari saya.

Ibarat mau babat alas. Semua masih gelap. Belum jelas ujungnya dimana.

Setelah pelatihan di Tokyo, saya membuat jadwal hingga bulan febuari menjelang Kokkashiken.

Jadwal tersebut lalu saya ajukan ke pembimbing. Alhamdulillah disetujui.

Jadi, bulan Mei hingga September, saya fokus baca materi. Targetnya, satu bab harus selesai dalam seminggu.

Misal, bab keperawatan dewasa (成人看護) sub bab jantung (心臓・循環器) harus selesai dalam seminggu. Baru kemudian pindah.

Bukan, bukan buku “Review Book” yang tebal itu. Saya membaca versi ringannya, yang berjudul “Kore dake”.

Itupun masih banyak coretan dan tanda tanya yang mesti saya tanyakan.

Penjelasan seputar anatomi fisiologi, diabetes, tekanan darah tinggi, bisa kita cari di internet.

Lah, soal “shakai mondai (社会問題)” atau permasalahan keperawatan masyarakat, perawat kunjungan ke rumah, asuransi beserta berbagai jenis panti lansia di Jepang, itu gak ada Indonesia, Kawan.

Jadinya, ketika ada pembimbing datang, langsung saja tumpah berbagai pertanyaan.

Diskusinya tentu pakai bahasa Jepang. Jadi sebelum diskusi, segala kosakata yang sulit, harus dicari dulu.

Urutannya. Cari tahu bagaimana cara baca kanjinya. Udah kebaca, cari tahu artinya. Udah tahu artinya, cari tahu penjelasannya. Lama memang. Tapi itu satu-satunya cara yang saya bisa.

Semisal, kanji 認知症. Bacanya? にんちしょう(ninchishou). Artinya? Dimensia. Pengertian dimensia apa? Dibagi menjadi berapa. Tanda dan gejalanya apa. Perubahan mood pasien dari pagi hingga pagi lagi bagaimana. Bagaimana cara penanganannya. Lalu jika ada penyakit penyerta lainnya, prioritas keperawatan bagaimana.

Mumet? Toss! Kita sama.

Ketika bosan belajar materi. Saya kerjakan soal-soal. Khususnya soal wajib (必修問題).

Awalnya saya memakai aplikasi “看護 roo (kango roo)”, tapi kemudian ganti aplikasi seperti gambar di bawah.

Saya berganti aplikasi bulan oktober. Bulan april hingga september, masih memakai “kango-roo”.

Menurut saya, aplikasi ini lebih cocok. Karena ada soal harian. Juga ada try out per beberapa hari. Soal-soal disajikan per 20 soal. Jadi memudahkan saat evaluasi.

Soal buku dan aplikasi, saya kira bagus semua. Nah, karena bagus semua, sering membuat bingung.

Saran senpai, pelajarilah salah satu dulu hingga tuntas. Jika sudah paham. Baru ganti. Saran itulah yang saya gunakan.

Oktober hingga desember, mulai belajar soal-soal. Soal umum dan kasus.

Targetnya sama. Setiap minggu harus selesai satu bab.

Soal yang bisa dikerjakan, saya tandai. Yang salah dan butuh penjelasan, saya kumpulkan dan nunggu pembimbing datang.

Januari hingga tanggal 17 febuari, sehari sebelum ujian. Saya belajar soal-soal wajib dan review soal umum dan kasus.

Saya termasuk orang yang tidak bisa belajar di asrama. Setelah seharian kerja dan belajar, sampai asrama bawaannya ngantuk.

Jadi, lebih sering memanjangkan waktu belajar di rumah sakit hingga jam 7 sampai jam 8 malam.

Kalau esoknya libur, pernah sampai jam 9 juga.

Libur saya selalu hari jumat dan sehari lagi acak. Kadang sabtu, senin, dan sebagainya.

Saat libur, biasanya saya nambah tidur hingga agak siang. Lalu siap-siap shalat jumat. Setelah jumatan, jalan-jalan sebentar di sekitar stasiun Sapporo. Lalu baca lagi.

Libur yang sehari lagi. Biasanya saya habiskan di asrama.

Semalas-malasnya belajar, harus saya paksa. Karena ada target mingguan. Ketika target selesai, baru nonton film atau main keluar.

Begitu terus selama setahun terakhir.

Membosankan? Iya.

Ketika sudah mual lihat kanji dan gak paham-paham, saya meminta solusi kepada teman perawat ruangan.

Jawaban mereka?

“Iya, persiapan Kokkashiken itu susah. Udah bahasa Jepangnya susah, ditambah istilah-istilah medis yang rumit.”

Orang Jepang pun merasa kesusahan juga ternyata, batin saya.

“Banyak orang Jepang yang mewajibkan dirinya membaca soal dan penjelasan minimal 10 kali. Ya, minimal 10 kali,”

“Saya juga dulu saat persiapan ujian, sehari belajar sampai 16 jam. Selain belajar, paling makan, ke toilet, sama tidur saja.” Kata teman perawat di ruangan.

Saya hanya bisa menghela napas. Ternyata usaha selama ini belum ada apa-apanya.

Karena ucapan itu, saya kembali bersemangat belajar lagi.

Alhamdulillah, setelah proses selama setahun. Ditambah doa dan support dari berbagai pihak di balik layar, saya bisa melewati batas kelulusan.

Batas minimal kelulusan tahun ini adalah 36 poin untuk soal wajib. Serta 154 untuk soal umum dan kasus.

Setahun kemarin memang berat. Akan tetapi, setelah menerima lisensi sebagai perawat (kangoshi), tantangan ke depan pun akan semakin meningkat.

Bagaimana cara belajar, kitalah yang menentukan. Kalau kita semangat, insyaallah semesta akan mendukung.

Bismillah, ganbarimashou!

*Uki

Waktu Shalat

Setelah pengumuman kelulusan, hal yang menjadi kekhawatiran saya adalah waktu shalat.

Selain sebagai satu-satunya karyawan muslim di rumah sakit ini. Rumor untuk bisa shalat diantara jam kerja itu lumayan sulit

Tapi, ketika kepala ruang saya bilang, “Uki kun, sudah masuk waktu shalat. Silakan shalat dulu.”

Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Seminggu yang lalu. Kembali saya dipanggil ke ruang kepala keperawatan.

Ada beberapa hal yang didiskusikan. Terkait pekerjaan saya setelah kelulusan, dan waktu shalat.

Hasilnya?

Alhamdulillah, sesuai dengan doa orang tua.

Seperti sebelum lulus menjadi perawat, saya tetap diberikan libur hari jumat. Selain itu, menyesuaikan kebutuhan ruangan. Karena liburnya 2 hari dalam seminggu.

Lalu, waktu shalat.

Saya ditanya, dalam sehari, biasanya melakukan shalat pada pukul berapa.

Ini perlu. Selain karena pihak rumah sakit menghormati saya dalam beribadah, juga kaitannya dengan waktu izin dalam melakukan shalat.

Akhirnya, saya perlihatkan waktu shalat selama setahun lewat aplikasi muslimpro.com.

Mereka (kepala keperawatan dan kepala ruang), alhamdulillah bisa memahami hal itu dengan baik.

Saya juga tertolong karena rumah sakit ini memiliki kewenangan dalam menerima pasien non Jepang.

Beberapa kali, ada pasien muslim, sehingga staf rumah sakit sedikit banyak tahu. Apa itu shalat. Oh, ternyata ada ibadah puasa ramadhan.

Karena memang rumah sakit kami dipersiapkan untuk menerima berbagai perbedaan budaya itu.

Jadi, setiap menjelang istirahat siang, maka lumrah kepala ruang, ataupun teman-teman perawat di ruangan mempersilahkan saya agar melakukan shalat.

Ketika sore hari, pas sudah masuk waktu ashar, mereka sering nanya dulu sebelum memberikan pekerjaan.

“Uki kun, saya mau minta tolong untuk dibantu mengantar pasien periksa CT-scan. Apa tidak mengganggu waktu shalatmu?”

Maktratap, hati saya meleleh mendengar hal itu.

*Uki

Sesuatu Yang Menakutkan Itu Bernama “Perubahan”

#Yuki 43

“Semuanya itu berubah, tidak ada yang abadi. Bahkan, yang abadi adalah perubahan itu sendiri.”

Familiar dengan ungkapan diatas?

Ya, perubahan sebegitu cepatnya merubah berbagai hal dalam kehidupan kita.

Dulu yang hanya cukup memakai ponsel 3310, boleh jadi ponsel tersebut sudah jadi index barang di sebuah museum.

Lalu datanglah Android yang bertarung dengan IOS, sebegitu sengitnya.

Bentuk, fungsi, pemasaran, berbagai hal dilakukan demi menggaet minat para kawula milenial agar mau memakai, yang otomatis akan membelinya.

Itu baru soal HP, belum hal lain yang sebegitu cepat berubah.

Slogan, tidak mau berubah maka akan tertinggal, sudah bukan barang baru lagi.

Hanya, saja, kita sebagai manusia yang juga ikut dalam arus perubahan yang semakin cepat ini, terkadang belum menerima, bahkan belum mau mengakui kalau perubahan itu perlu.

Akibatnya? Jelas, tertinggal.

Dunia keperawatan, yang sedang saya tekuni, pun tidak luput dari hal tersebut.

Dulu, ketika ada lulusan Akper dan bisa kerja di Puskesmas dekat rumah, sudah merupakan hal yang istimewa.

Bisa kenal dengan masyarakat, lalu sambil praktik di rumah, buka klinik luka ataupun sambil khitan.

Sekarang? Masih tetap bisa, tapi kita harus realistis. Jumlah lulusan sekarang dengan 20 tahun lalu tentu berbeda.

Baik secara kuantitas lulusan, juga kualitasnya.

Di Rumah sakit tempat kerja saya sekarang, juga menjadi tempat praktik mahasiswa keperawatan dari beberapa universitas di Sapporo.

Jumlahnya? Setiap ruangan ada 3 orang dengan 1 dosen pendamping yang tiap hari ikut melihat dan membantu mahasiswa praktik.

Padahal saya ingin sesekali bercengkrama dengan mereka, tapi, waktu untuk duduk saja tidak ada saat kerja, apalagi sekedar ngobrol, haha.

Rumah sakit tempat kerja saya adalah bertipe rumah sakit akut dengan jumlah bed 350, yang selalu penuh dan kadang over.

Saya tidak akan membandingkannya dengan rumah sakit sekelas RSCM atau kalau di Semarang, RS Kariadi, karena tidak seimbang dalam jumlah mahasiswa praktikannya.

Hanya saja, rumah sakit swasta pun di negara kita, saya kira sudah terlampau banyak jumlah mahasiswa praktikan yang imbasnya, lulusannya juga banyak.

Nah, kalau kita mau menerima perubahan yang ada, tidak semua mahasiswa yang lulus tadi bisa bekerja di RS tempat mereka praktik dulu.

Juga RS impian yang sudah menjadi angan-angan sejak masih duduk di bangku kuliah.

Kalau kita sudah memahami ini sejak awal, minimal di bangku kuliah, maka saat akan mencoba memasuki dunia kerja boleh jadi akan memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Karena menjadi sarjana kertas saja tidak akan cukup untuk bisa berkiprah di dunia kerja yang mengharuskan kita terus belajar dengan kenyataan di lapangan.

Dan profesi perawat pun sekarang sudah terbuka pintu-pintu ke berbagai mancanegara dengan segala tantangan dan keuntungannya.

Betul, seperti di judul yang saya tulis, merubah kebiasaan kerja dekat rumah dengan lintas negara bukanlah hal yang mudah.

Tapi itu juga merupakan pilihan. Anda boleh tetap kerja di dekat rumah. Anda pun bisa mencoba berkelana dan menjumpai hal-hal yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya.

Yang tidak boleh menurut saya adalah, sudah tidak mau berubah, tapi dengan gampang menyalahkan keadaan.

Apalagi sampai berkoar-koar dengan lantang, kalau bangsa kita sudah diserbu para pekerja asing, tapi kitanya pas ada kesempatan ke luar negeri juga, tidak mau ngambil dengan alasan yang menggunung.

Negara-negara dengan jumlah penduduk terbanyak seperti India ataupun China, sudah banyak yang merantau dan berdamai dengan perubahan.

Di sekitar saya saja disini, sangat mudah menemukan mereka diantara orang Jepang yang lalu lalang memadati Sapporo.

Belum lagi Tokyo, yang merupakan kota terpadat di dunia.

Jikalau mereka bisa berdamai dengan perubahan. Kita kapan?

Sapporo, 7 september 2017. 21.00 waktu setempat.

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.

Perawat Jepang : Bergaji Tinggi dan Sering Jalan-Jalan

#Yuki 35

Setidaknya, itulah kesan yang dipahami oleh sebagian besar orang Indonesia, wabil khusus, teman-teman perawat dan para mahasiswa keperawatan.

Apakah itu salah? Tidak. Nyatanya memang demikian.

Di Jepang, profesi perawat memang merupakan salah satu profesi dengan gaji tinggi.

Apalagi sesuai dengan kebiasaan orang kita, apa-apa di kurs-kan, jadi sepuluh kali lipat rata-rata UMR, bahkan bisa lebih.

Coba saja tanya mbah google, berapa kisaran gaji perawat di Jepang. Sekali browsing, maka akan banyak data yang muncul.

Lalu, soal jalan-jalan.

Karena memang ritme kerja yang “gila” menurut saya, wajar kalau mereka pergi untuk menghilangkan stress sambil jalan-jalan ke berbagai negara.

Ada yang suka ke Hawaii. Ada yang bolak-balik ke Thailand dan Bali, sampai ceritanya itu wah banget, hanya saja kadang masih gak tahu Bali itu bagian dari Indonesia.

Lalu, ada juga teman seruangan saya yang bakal liburan ke Eropa 3 bulan. Lah, kok bisa? Saya kurang tahu ijinnya bagaimana, hanya saja dia bakal pergi untuk ikut program belajar bahasa inggris selama sebulan, sisanya digunakan buat “mbolang..”

“Lalu, Mas sudah jadi perawat disana?” Tanya seorang teman.

Belum, itu jawaban saya. Namun, Insyaallah saya sedang menuju kesana.

“Maksudnya bagaimana? Bukannya Mas ikut program perawat ke Jepang? Kok belum jadi perawat disana?” Lanjutnya.

Betul. Saya memang ikut program pengiriman perawat ke Jepang lewat Bnp2tki. Namun, sebelum mendapatkan surat tanda registrasi perawat disini, ya belum bisa disebut sebagai perawat.

Sebutan bagi kami yang masih belum mendapatkan surat tanda registrasi, disebut “Kango Joshu”, atau Asisten perawat. Dalam bahasa yang lain, Nurse Aid, atau pembantu perawat.

“Lah, jauh-jauh ke Jepang kok cuma jadi pembantu perawat?” Bisa jadi ada yang berfikiran seperti itu.

Begini, setelah lulus tes di Jakarta, kami diwajibkan mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama setahun. Itu gratis, tempat tinggalnya enak, apalagi kalau sudah mengikuti pelatihan setengah tahun kedua di Jepang, tambah enak fasilitasnya, ditambah dapat uang saku sekitar 10 dollar perhari, baik selama di Indonesia dan di Jepang.

Nah, setelah itu, kami masuk tempat kerja sesuai dengan kontrak yang tersisa. Kalau perawat di RS, tinggal 2 tahun. Kalau perawat di panti lansia, masih ada 3 tahun.

Untuk perawat yang di RS, diberi kesempatan sebanyak 3 kali untuk ikut ujian nasional keperawatan, dimana soal-soalnya “plek”, atau sama persis dengan soal buat orang Jepang.

Hanya saja, untuk orang asing (karena yang ikut program ini, selain Indonesia, ada Filipina dan Vietnam juga), ada keringanan berupa huruf bantu “furigana” atau cara baca kanji, serta waktunya 3,5 jam setiap sesi. Kalau untuk orang Jepang, 2 jam 10 menit.

Apakah soal-soalnya susah?

Kalau paham dan bisa mengerjakan, tentunya mudah. Tapi ternyata tidak sesederhana itu.

Pertama, pemahaman ilmu keperawatan mau tidak mau harus paham. Apalagi soal-soal yang global.

Selanjutnya, dari pemahaman yang dibawa dari negeri asal, berubah menjadi deretan huruf kanji yang terbagi menjadi tiga jenis soal.

Soal wajib sebanyak 50 soal, soal umum sebanyak 130 soal, dan soal kasus sebanyak 60 soal. Dan itu dikerjakan selama 7 jam dengan jeda istirahat 1 jam.

“Klenger”, mungkin itu kata yang pas kalau di bahasa jawa kan.

Selain soal-soal yang global, ada soal-soal khusus yang hanya bisa ditemui di Jepang. Misal, keperawatan lansia, beda jauh dengan ilmu lansia di Indonesia.

Semisal, ada istilah “yousien” (要支援) dan “youkaigo” (要介護), yang menggambarkan dimana level kebutuhan perawatan bagi lansia yang awet betul usianya itu.

Lalu, selain GCS (Glasgow coma scale), ada juga JCS (Japan coma scale).

Disini, saat keadaan gawat darurat, GCS digunakan, atau pasien yang terpasang alat bantu napas semisal. Nah, untuk pasien yang stabil, JCS yang digunakan.

Itu gambaran sekilas soal ilmu keperawatan. Soal kerja bagaimana?

Rata-rata teman yang mengikuti program ini, selain bekerja, juga diwajibkan belajar. Sebenarnya yang utama belajarnya sih, tapi, karena mendapat gaji, ya harus seimbang, bekerja ya iya, belajar ya iya.

Tiap RS bervariasi sistem belajarnya. Ada yang bekerja setengah hari, lalu siang sampai sore belajar. Ada yang kerja dari pagi sampe jam 3 sore, selebihnya belajar. Ada juga yang 4 hari kerja, satu hari full belajar. Boleh jadi masih banyak lagi sistem lainnya.

Di Jepang, menggunakan sistem 5 hari kerja dan 2 hari libur. Jadi, dalam setahun, rata-rata jumlah hari liburnya adalah 105 hingga 110 hari, ditambah dengan cuti tahunan yang berbeda-beda sistemnya.

Sebagai seorang “kango joshu” atau pembantu perawat, kebanyakan ruang lingkup kerjanya adalah “kankyou seibi”, atau menjaga kerapian lingkungan.

Sebagai aplikasinya, semisal ikut perawat membantu ganti popok pasien setiap pagi, ikut memandikan pasien, mengambil obat di farmasi, mengumpulkan serta membuang sampah, membantu pasien ke toilet, membagikan makanan, dan membantu mengambilkan peralatan yang diminta oleh perawatn ruangan.

“Lah, kalau seperti itu kan gampang, Mas..”

Kalau semua pekerjaan itu dilakukan di Indonesia, saya kira tidak terlalu jadi masalah. Yang kadang, dan sering jadi masalah adalah soal bahasa.

Ketika berkomunikasi dengan teman kerja, yang tentu saja berbahasa Jepang, ketika masih ada kendala, pekerjaan yang sederhana pun bisa jadi rumit.

Belum dengan pasien. Apalagi jika pasiennya tua pakai banget. Misal, pasien dengan usia 90 tahun, masih bisa jalan, namun ketika ke toilet perlu diantar. Benar-benar, gak ketangkap apa yang dia omongkan.

Lalu pas membantu menyuapi makan, sambil dengerin dia cerita, ampun, ini orang ngomong apa coba. Saya nanya ke teman kerja, dia juga bingung. Memang dasar cara bicaranya susah dipahami, kata teman saya

Selanjutnya adalah bahasa tulis.

Sebagai karyawan baru, tentu saya juga ikut orientasi. Dijelaskan bagaimana sejarah rumah sakit, cara pengendalian infeksi, cara evakuasi ketika ada bencana, cara memberikan bantuan pertama pada orang yang tidak sadar, dan sebagainya.

Orang Indonesia saya sendiri, dan lainnya orang Jepang semua.

Presentasi menggunakan power point dan semuanya huruf kanji! Alamakkk, rata-rata gak kebaca kanjinya. Apesnya lagi, ada tes setelahnya.

Ketika teman-teman sebelah saya sudah selesai mengerjakan, saya masih megap-megap baca kanjinya. Ini kanji apa coba, bacanya gimana, artinya apa, haha.

Walhasil, hanya separuh yang bisa saya kerjakan. Habis itu, remidi, mengulang tes didampingi staf rumah sakit, sambil dijelaskan cara baca kanjinya.

Lalu ketika ada informasi di ruangan atau lewat komputer yang masuk ke dalam akun masing-masing karyawan.

Karena sebagian besar RS di Jepang sudah terkomputerisasi. Semua informasi itu pakai kanji dan bahasanya formal banget.

Mau tidak mau saya harus bertanya kepada rekan kerja tentang cara baca kanjinya, juga artinya. Penjelasannya? Tentu menggunakan bahasa Jepang juga.

Jadi, kalau bicara tentang gaji tinggi, dan mau menuruti keinginan hati untuk jalan-jalan, boleh-boleh saja. Tapi, syaratnya ya itu, harus lulus ujian nasional keperawatan dulu. Biar setara dengan perawat yang asli orang Jepang.

Ibarat sebuah pohon, semakin tinggi pohonnya, semakin kencang angin yang menerpanya. Lalu semakin tinggi layang-layang, semakin senang kita memandangnya. Eh, gak nyambung lagi ya, haha.

Sapporo, 13 Juli 2017. 23.00 waktu setempat. Musim panas, malam pun harus buka jendela…

Uki

*Di lampiran foto, saya sertakan contoh soal “mogishiken” atau try out ujian bulan kemarin.
Contoh soal tentang keperawatan anak. Ada yang mau bantu saya ngerjakan?

 

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.