Tag Archives: jepang

Festival Salju di Sapporo Sudah Dimulai! 札幌で雪祭りが始まりました!

17 Feb

#Yuki 11

19 Agustus 2015, hampir satu setengah tahun lalu, pertama kali saya mendengar nama kota Sapporo dari pihak Jepang yang mewawancarai saya di Jakarta.

Di sela-sela interview wajib, perwakilan pihak Jepang yang datang juga diberi kesempatan untuk mempresentasikan institusinya masing-masing kepada calon pendaftar. Atau lebih dikenal dengan sebutan “Setsumeikai”.

Saat itu, ketika di stand rumah sakit yang saat ini jadi tempat kerja saya, beberapa pertanyaan diajukan kepada kami.

“Sapporo itu dingin loh, tetap mau kerja di rumah sakit kami?” Ucap Shimada sensei, yang juga merupakan dokter bedah jantung di RS ini.

Beberapa teman menjawab. Lalu saya juga, “Moshi chansu ga areba, zehi kono byouin de zehi hatarakitai desu (Misal ada kesempatannya, saya benar-benar ingin bekerja di RS ini)” Jawab saya waktu itu.

Image may contain: 1 person, smiling, snow, tree, outdoor and nature

Dan semenjak akhir tahun lalu, akhirnya saya benar-benar bisa menginjakkan kaki di Sapporo dan mulai bekerja di RS yang pernah mewawancarai saya satu setengah tahun lalu.

Sapporo, begitu kata ini terucap, banyak orang yang langsung punya keinginan untuk datang dan menyaksikan “Yuki Matsuri” atau perayaan salju yang terkenal sampai mancanegara.

Umumnya, orang yang datang kesini hanya beberapa hari. Wisata ke daerah yang durasi turun saljunya berbeda dengan daerah lain di Jepang.

Nah, kalau rata-rata orang kesini untuk wisata, saya malah tinggal untuk jangka waktu yang cukup lama, hehe.

Kalau saat ini daerah di Osaka sudah mulai menghangat karena bulan maret akan masuk musim semi. Sapporo dan Hokkaido pada umumnya justru kebalikan. Bulan febuari adalah bulan dimana suhu akan mencapai titik terendahnya!

Rata-rata stabil di angka minus 6 sampai minus 10 derajat celcius. Tapi kata teman saya yang orang Jepang, selama festival salju berlangsung, suhu pernah drop sampai minus 15 derajat celcius!

Itu bukan beku lagi, tapi emaknya beku mungkin, hehe.

Sebenarnya, bukan hanya dingin yang jadi persoalan. Saya dulu berfikir kalau pas turun salju itu pasti dingin. Tapi ternyata bukan begitu, kadang saat turun salju, suhunya malah tidak sedingin biasanya.

Yang lebih perlu diwaspadai adalah angin! Walaupun tidak turun salju, tapi kalau pas anginnya kenceng, baju berlapis sama jaket pun seakan tidak berfungsi maksimal.

Mending masuk ke mall atau di kamar aja sambil nyalain penghangat. Beneran deh.
Nah, beberapa teman ada yang berkomentar, “Wah, Mas Uki jalan-jalan terus nih..”

Ya, kan memang setiap hari saya jalan. Dari asrama sampai rumah sakit pasti jalan kaki, hehe.

“Maksud saya, jalan-jalan ke tempat wisata di Sapporo. enaknyaaaa…..” Lanjut teman saya.

Oh, begitu. Baiklah, sebelum saya jawab, saya kutip sebuah tulisan ciamik dari teman saya, Mas Lucky. Berikut petikannya,

“Bekerja di RS memang mau tidak mau harus berhadapan dengan berbagai kejadian-kejadian ‘diluar nalar’ kehidupan.

“Melihat bagaimana seseorang akan meninggal, melihat kondisi yang mengancam, melihat bagaimana reaksi keluarga akan kehilangan, serta bekerja seolah-olah berlomba dengan Sang Maut mana yang lebih cepat atau bahkan melihat saat keluarga dan kerabat kita sakit dan kita adalah orang yang bekerja di RS tersebut.

“Percayalah semua itu bukanlah suasana lingkungan yang baik untuk kesehatan fisik dan mental.

Nah, untuk menanggulangi hal itu, ada berbagai cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan rekreasi atau piknik!

Mumpung sedang di Sapporo, ditambah dengan hari libur, daripada bengong di kamar, juga untuk menghemat biaya mesin penghangat, kan lebih baik keluar dan jalan-jalan.

Yang pertama adalah ke Tsudome, tempat festival salju yang ternyata, sangat dekat dengan asrama saya.

Cukup jalan sekitar 1 km aja sampai! Padahal sebelumnya, saya cuma tahu festival itu diadakan di Odori park aja.

Image may contain: 1 person

Nah, setelah berjalan sekitar 20 menit, tadaaaa, sampailah saya di Tsudome, dekat dengan stasiun Sakaemachi.

Disana, sebuah stadion indoor yang dirubah menjadi wahana bermain bagi anak-anak. Banyaknya perosotan atau “suberidai” menjadikan banyak orang tua dan guru TK dan SD membawa anak ataupun anak didiknya kesini.

Wisatawan lokal dan asing pun banyak yang datang. Sayangnya, saya belum ketemu orang dari Indonesia maupun Malaysia.No automatic alt text available.

Oh ya, festival di Tsudome ini berlangsung dari tanggal 1 sampai 12 febuari. Buka dari jam Image may contain: outdoor9 sampai 5 sore.

Yang unik disini adalah banyaknya perosotan dengan berbagai jenis.

Perosotan Indoor yang terbuat dari karet serta outdoor yang terbuat dari salju, sungguh sangat menggoda. Hanya saja, saya belum mencoba keduanya.

Alasannya, yang indoor, batas usia yang diperbolehkan adalah sampai usia 12 tahun. Saya? 12 dikali dua pun masih lebih, haha.

Yang outdoor, tadinya ingin mencoba. Tapi pas mau antri, tiba-tiba turun salju disertai angin kencenng banget! Tangan saya sampai mati rasa. Padahal sudah pakai sarung tangan!

Segera saya masuk gedung, menghangatkan diri.

Image may contain: one or more people, snow, nature and outdoor

Setelah foto-foto sejenak, kemudian saya lanjut mau lihat persiapan festival salju yang ada di Odori park.

Setelah turun di stasiun Sapporo, saya shalat dulu kemudian lanjut jalan.

Kok tahu jalannya? Saya selalu pakai google maps.

Ternyata, jalan yang saya tempuh, melewati sebuah bangunan fenomenal yang ada di Sapporo. Namanya “Akarenga” atau artinya batu bata merah.

Sebetulnya namanya “Hokkaidochou” atau gedung gubernuran Hokkaido, tapi karena seluruh bangunannya memakai batu bata yang berwarna merah, lebih dikenal dengan nama “Akarenga”.

Gedung ini terbuka untuk umum. Mulai pukul 10 pagi sampai 6 sore. Gratis! Di depan gedung, ada stand pemandu bagi yang ingin mendapatkan layanan bahasa inggris.

Para pemandunya baik banget, ringan tangan, yang datang sendiri kayak saya akhirnya dibantu buat ambil foto, haha.

Tahu aja mereka kalau saya butuh bantuan. Dan….akhirnya saya ketemu dengan Olaf! Sayangnya, Elsa sama Ana nya gak ada, mungkin lagi sibuk syuting film berikutnya, hehe.

Terakhir, yang menjadi magnet jutaan wisatawan asing saat festival salju adalah di Odori koen atau Odori park.

Saya tahu, tamannya belum dibuka karena acaranya baru mulai tanggal 6 sampai 12 febuari nanti. Tapi saya ingin lihat proses pembutannya.

Benar saja, salju dan es dalam ukuran yang sekian banyaknya perlahan-lahan terlihat menjadi berbagai bentuk yang menawan.

Image may contain: sky, tree, snow and outdoor

Alat-alat berat, para pekerja yang hilir mudik, memahat, menyusun, mengukir, membentuk es yang sedemikian dinginnya menjadi bentuk yang beraneka ragam!

Beberapa saya ambil fotonya, sebagai kenang-kenangan.

Juga, yang membuat saya senang adalah dibangunnya Iglo! atau rumah es yang mirip rumah es orang yang tinggal di Kutub.

Rasanya gak sabar nunggu tanggal 6 febuari. Mau keliling-keliling lagi.

Kalau yang mau ikut, ayok bareng-bareng pergi ke festival salju di Odori park hari senin nanti….

 

Sapporo, 2 febuari 2017. 21.50 waktu setempat.

Uki

Menjadi Perawat di Jepang, Kenapa Tidak?

19 Jan

#Yuki 8

11 Januari, jika menyebut tentang hal ini, banyak yang langsung teringat salah satu lagunya GIGI yang terkenal itu.

Itu memang benar, saya juga sangat suka dengan lagu itu, tapi “januari” juga menyimpan salah satu kenangan dari perjalanan saya.

Januari, 2 tahun silam, saya mengambil keputusan untuk “resign” dari rumah sakit Awal Bros Batam guna mempersiapkan diri untuk mengikuti serangkaian tes perawat ke Jepang.

Masih terkait tulisan saya di minggu yang lalu. Setelah saya posting, beberapa ada yang bertanya di kolom komentar, juga ada yang bertanya melalui inbox.

Rata-rata pertaannya sama, “Mas, bagaimana caranya bisa menjadi perawat di Jepang?”

Lalu, “Mohon bimbingannya ya, Mas. Saya juga ingin bisa bekerja disana,” Dan beberapa pertanyaan yang lain.

Baiklah, agar semua bisa membaca informasi ini, mari kita bahas bersama-sama.

Pertama, bagaimana cara daftarnya?

Saya langsung balas dengan singkat, silahkan buka website bnp2tki.go.id. Lalu cari bagian program perawat ke Jepang. Setelah terbuka web nya, ada di sebelah kanan bawah.

Disana, ada berbagai informasi tentang program IJEPA, atau pengiriman perawat ke jepang dari beberapa tahun yang lalu.

Kalau bingung tentang “informasinya” yang mana, dibawah saya sudah sertakan “screenshoot” utuh informasi pendaftaran tahun lalu.

Mohon dicatat baik-baik. Kalau perlu diberi garis tebal biar gak salah paham. Itu informasi tahun lalu, tahun 2016, untuk pengiriman ke jepang tahun 2017.

Kedua, “Lalu bisa daftarnya kapan mas?”

Kalau ini saya tidak bisa menjawab dengan pasti, tapi melihat informasi dari beberapa tahun yang lalu, biasanya pengumuman pendaftaran diumumkan di bulan maret.

Jadi, kira-kira 2 bulan lagi akan dibuka pendaftarannya.

Ketiga, “Mas, kok persyaratannya banyaaaaak banget?” Tanya seorang teman.

Ya memang begitu adanya. Secara, ini adalah program antar negara, jadi kualifikasi dan dokumen yang diperlukan juga sesuai keputusan antara pemerintah Indonesia dan Jepang.

Lalu, ini saran pribadi dari saya. Boleh diterima, boleh tidak.

Bagi yang ingin mendaftar sebagai calon perawat di rumah sakit atau “Kangoshi”, alangkah sebaiknya punya pengalaman kerja minimal 2 tahun, baik yang lulusan D3 maupun S1.

Melihat 2 tahun terakhir ini, pemerintah jepang sepertinya mulai merubah kebijakan tentang syarat minimal pengalaman kerja bagi pendaftar Kangoshi.

Keempat, “Sebelum daftar sudah harus bisa bahasa Jepang ya, Mas?”

Memang di persyaratan tidak ada kata “harus”. Tapi ada kolom yang mempersilahkan menyertakan sertifikat kemampuan masing-masing pendaftar.

Entah itu sertifikat kemampuan bahasa Jepang, bahasa inggris, pelatihan BTCLS, atau apapun.

Tapi kalau kita nalar bersama, namanya mau daftar ke Jepang, ya sebaiknya bisa bahasa Jepang walaupun sebatas baca tulis huruf hiragana-katakana serta perkenalan diri.

Apalagi kalau memang sudah niat untuk mempersiapkan diri dengan mengikuti pelatihan atau kursus. Tentu akan menjadi nilai tambah bukan?

Bukankah teman-teman yang ingin bekerja di luar negeri yang mayoritas menggunakan bahasa inggris, rata-rata mempersiapkan diri.

Saya rasa itu juga berlaku hal yang sama.

Kelima, “Mas dulu kursus ya?”

Iya, saya mengikuti pelatihan selama 4 bulan di Bandung sebelum mengikuti tes.

Setelah saya resign dari tempat kerja, sambil menunggu pembukaan pendaftaran, saya ikut kursus di LPK Bahana Inspirasi Muda Bandung.

“Bayar lagi dong mas?” Lanjutnya.

Iya, dimana-mana kalau belajar ya harus bayar. Tapi itu sepadan dengan hasilnya.

Lalu ada yang bilang, “Memang kalau kursus itu dijamin lolos tes, Mas?”

Kalau ada pertanyaan seperti itu, sama saja dengan pertanyaan, “Memang kalau sudah kuliah lantas bisa langsung dapat kerja?”

Hening, orang yang bertanya itupun berhenti mengetik. Hingga hari ini belum bertanya lagi.

Memang, ada suatu lembaga pelatihan di Jakarta yang memberikan semacam “beasiswa” bagi yang ingin bekerja di Jepang.

Namanya “Yayasan Bima”, silahkan dicari sendiri di internet. Kalau lolos tes masuknya, nanti akan dapat mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 10 bulan gratis. Hanya mengeluarkan uang untuk selain biaya pendidikan saja.

Saya tahu karena saya pernah ikut tesnya, tapi saat pengumuman, nama saya tidak tertera.

Dan masih ada banyak lembaga serta kursus di berbagai kota yang bisa menjadi pilihan teman-teman kalau ingin belajar.

Persoalannya hanya satu, mau mempersiapkan diri terlebih dahulu atau tidak.

Kalaupun tidak ingin kursus terlebih dulu, ya tidak apa-apa. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak juga teman-teman saya yang bisa lolos tanpa pelatihan sebelumnya.

Keenam, “Kalaupun saya ikut pelatihan, ikut tes, lalu gak lolos gimana, Mas?”

Duh dek, daftar aja belum sudah takut gak lolos.

Logikanya begini deh, kalau daftar, ikut tes, memang benar, ada kemungkinan tidak lolos.

Kalau ingin aman, ya tidak perlu daftar. Yakin, itu aman banget! Bahkan kemungkinan untuk gagal pun tidak ada. Iya kan?

Namanya kegagalan, saya yakin semua orang juga tidak menginginkannya. Jujur, saya pun juga.

Tapi satu hal yang saya pelajari dan saya “gigit” kuat prinsip ini. Gagal itu bukanlah suatu aib. Gagal itu ada untuk menguji seberapa tangguh kita bisa bangkit lagi.

Kegagalan adalah salah satu jalan terbaik untuk mengetahui seberapa tangguh kualitas seseorang tersebut.

Sebelum saya daftar program ke Jepang, sudah 3 kali saya gagal ikut tes ke luar negeri sebelumnya.

Sakit, iya, kecewa itu pasti.

Tapi bangkit dari kegagalan itu memberikan banyak hal yang tidak didapat oleh mereka yang hanya punya segudang “cita-cita” dan rancangan “angan” yang indah, tapi tidak pernah mau mencoba.

Layaknya “Sang Pemimpi” yang enggan bangun dari tidurnya.

Cita-citanya sungguh luar biasa tapi tidak pernah mau meninggalkan zona nyaman sebelumnya.

Mumpung masih 2 bulan dari pembukaan pendaftaran. Silahkan mempersiapkan diri sebaik mungkin bagi yang berminat.

Pengurusan dokumen itu tidak terlihat sederhana jika kita lihat rentetan daftarnya.

Minimal buat paspor dulu lah, siapa tahu sebelum daftar minimal bisa melancong ke Malaysia atau Singapura dulu.

Teman-teman mau melangkah, mau bergerak, keputusan itu ada dalam diri kalian.

Kalaupun saya selalu bilang, “Sampai bertemu di Jepang”, tapi teman-teman masih takut untuk sekedar mendaftar,

Lalu, kapan kita ketemunya? hehe

Sapporo, 11 Januari 2017. 20.30 waktu setempat. Hari ini suhunya ekstrim, -12 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.

Ketika “Perawat” Menjelajah Dunia Baru

8 Jan

#Yuki 7

Foto Arsyad Syauqi.

Namanya mas Arif Indiarto, lulusan Poltekkes Semarang tahun 2002. Pertama kali saya mengenalnya ketika beliau memberikan kuliah umum di kampus saat saya masih tingkat 2, tahun 2010.

Sekarang beliau sudah menjadi perawat berlisensi Amerika dan bekerja di salah satu rumah sakit di Houston.

Artikel yang pernah ditulisnya, “Dari Logo Poltekkes Semarang Sampai ke Negeri Obama”, yang bisa ditemukan di internet, saya kira telah berhasil menginspirasi banyak orang. Boleh jadi saya satunya.

Ketika itu saya meniatkan diri, saya juga harus bisa sampai ke luar negeri. Tapi caranya bagaimana? Saya belum tahu.

Setelah pertemuan itu, saya mencari kontak facebooknya. Ketemu. Saya menghubungi beliau, dan boleh jadi, ketika itu pertanyaan saya terlalu “kemana-mana”, namun beliau masih bersedia menjawabnya.

Padahal dari cerita beliau, saya tahu betul, kehidupannya disana sungguh sangat sibuk. Bekerja, sembari belajar, dan telah menyelesaikan S1 nya di Amerika.

Info terakhir yang saya dengar, beliau lanjut lagi mengambil program master atau S2 bidang anestesi disana. Sungguh, pembelajar yang tangguh!

Dan tanpa saya sadari, beliaulah yang menjadi role model saya. Menjadi salah satu inspirasi saya untuk menembus batas agar bisa “belajar” di dunia global juga.

Ketika melewati masa kerja selama 2 tahun di Batam, saya kembali aktif mencari info untuk keluar negeri.

Tujuan utama saya saat itu, RN (Registered Nurse) di Amerika. Berbagai info saya cari, tidak lupa bertanya kepada relasi yang mempunyai info tentang cara kesana. Hasilnya nihil.

Program yang pernah diikuti seperti mas Arif bertahun lalu sudah tidak ada. Ditambah dengan info bahwa Amerika sedang mengurangi tenaga perawat asing, karena ingin memberdayakan perawat dalam negeri. lengkaplah sudah, satu pintu telah tertutup.

Lalu saya dapat kabar, ada info ke Kuwait. RS pemerintah disana buka lowongan lewat agen di Jakarta. Saya telpon, diminta kirim lamaran. Segera saya lengkapi lamaran tersebut, kirim lewat pos dan softcopy juga.

Bulan demi bulan berlalu, kabar pun tidak kunjung datang. Saya hubungi nomor telpon yang pernah aktif, tiba-tiba tidak nyambung. Entah mereka “liburan” kemana. Kok tiba-tiba “plesir” begitu saja.

Beberapa bulan kemudian, ada seorang teman dari Semarang yang memposting sebuah informasi “Dibutuhkan Perawat ke Qatar…”.

Segera saya tangkap peluang itu, saya tanya berbagai hal, kemudian bolak-balik Batam-Jakarta hingga beberapa kali.

Pendaftaran lah, latihan wawancara lah, persiapan mengenai ini itu lah. Tidak terhitung waktu dan biaya yang habis saat itu.

Sampai ibu saya bilang, “Kamu itu bolak-balik Jakarta ke Batam kayak pergi main ke rumah tetangga saja..”.

Ibu dan Bapak saya hanya pernah sekali melakukan perjalanan naik pesawat, saat diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa bertamu ke Kabah.

Nah, saya dibilang oleh ibu kalau naik pesawat sudah kayak naik bus aja. Karena saking seringnya.

Padahal kalau boleh memilih, saya mending naik bus aja kalau bisa. Naik pesawat sungguh berat di ongkos coy..

Setelah proses demi proses saya ikuti, kembali saya harus menelan pil pahit lagi.

Saya sudah bayar untuk biaya pelatihan dan persiapan tes. Tiba-tiba dari pihak PJTKI nya bilang bahwa seleksinya ditunda, hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan!

Catat, batas waktu yang belum bisa ditentukan!

Memanglah tipikal khas orang Indonesia, menggunakan bahasa halus untuk memberikan suatu kabar, sampai kabar pahit dari proses seleksi dibatalkan pun dibilang ditunda. Dari 2014, hingga hari ini, tidak ada kabar lagi.

Baru 3 kali, atau sudah 3 kali, sama saja. Yang jelas, ini pil pahit ketiga bagi saya. Saya begitu paham arti kata “ditolak”, betul-betul saya rasakan sampai 3 kali.

“Masih ada kesempatan, Mas,” Kata Direktur Almamater saya.

Perbincangan itu berlangsung sebentar mengingat beliau memang punya banyak agenda. Bisa bertemu sebentar pun saya sudah bersyukur.

Saya punya kebiasaan rutin, kalau pulang setahun sekali, saya usahakan bertemu dengan bapak ibu dosen di kampus, serta guru-guru saya, walaupun hanya sekedar berjabat tangan dan saling bertanya kabar.

Tidak lupa mampir ke Direktorat, siapa tahu bisa bertemu pak Direktur. Karena memang hubungan dengan orang-orang di kampus sudah seperti orang tua saya sendiri.

“Ada program ke Jepang buat perawat. Siapa tahu Mas Uki bisa masuk,” Sambung beliau.

Kemudian, segera saya mencari info tentang perawat ke Jepang. Info saya dapat, lalu saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Saya ingin fokus, ingin kursus dulu, ingin persiapan yang matang setelah “ditolak” tiga kali.

Sebelum itu, tentu saya ijin dulu kepada ibu saya. Boleh tidaknya saya ikut program ini. Ibu saya hanya bepesan sekaligus memberi nasehat,

“Semoga lancar prosesnya. Kalau gagal lagi, lebih baik ikut CPNS saja ya,..” Masih hafal betul ucapan beliau yang satu ini saat disampaikan hampir 2 tahun lalu.

Kemudian saya keluar dari Batam, ikut kursus bahasa selama 4 bulan, persiapan tes yang memang melelahkan, rasa dag-dig-dug masih terus menghantui.

Tidak bisa dibohongi, rasa khawatir itu akan selalu dan terus ada. Cara menanggulanginya hanya satu. Berusaha, Berdoa, dan Tawakkal.

Semenjak waktu itu, berbagai tempat baru, kenalan baru, rasa semangat yang naik turun, merasa senang karena sudah mulai bisa bicara bahasa Jepang, merasa frustasi karena tidak hafal-hafal kosakata baru, sering lupa cara nulis huruf kanji, terus menghiasi perjalanan saya hingga hari ini.

Efektif, hari ini saya telah memasuki 3 minggu di dunia kerja lagi setelah hampir selama setahun lebih belajar di kelas saja.

Sebuah rumah sakit di wilayah timur kota Sapporo yang saat ini beku oleh hamparan salju, menjadi arena belajar saya selanjutnya.

“Loh, masih belajar lagi, Mas?” Tanya adik kelas saya beberapa waktu yang lalu.

Ya, belajar lagi. Memang secara kontrak kerja, saya memang harus kerja selama 5 hari selama seminggu, dengan 2 hari libur.

Tapi, sebelum lulus ujian negara untuk mendapatkan lisensi disini, kami bekerja sebagai asisten perawat yang hanya diberi kewenangan sebatas melakukan kegiatan KDM (Kebutuhan Dasar Manusia).

“Wah, ntar kemampuannya turun dong. Gak bisa nyuntik sama infus lagi,” Tambahnya.

Turun kemampuan itu memang boleh jadi iya, tapi bukan berarti hilang sama sekali.

Bahkan, “skill” saya untuk nyuntik maupun infus memang kurang terlatih, karena selama tiga tahun di Batam dulu saya hanya pegang alat operasi. Nah loh, kapan saya bisa nyuntiknya?

Bagi kami para perawat, kemampuan itu tidak hanya sebatas nyuntik maupun infus saja. Itu hanya bagian kecil dari sekian banyaknya disiplin ilmu dan praktik keperawatan.

Kalau hanya soal “nyuntik”, Kepala keperawatan di sebuah RS bahkan hampir tidak pernah nyuntik. Karena tugas utamanya memang bukan itu. Ia menjadi kepala yang harus memikirkan banyak hal, mengkonsep banyak hal.

Dan disini, bukan soal “nyuntik” atau “infus” dulu yang jadi masalah, tapi komunikasi dengan teman sejawat, dengan pasien, persiapan ujian, yang kesemuanya memakai bahasa Jepang, adalah tantangan tersendiri di dunia baru ini.

Jika komunikasi bisa terjalin dengan baik, lalu bisa bisa memahami huruf kanji yang ribet ini dengan baik, maka kemampuan yang akan didapat saya kira akan lebih banyak dibandingkan hanya soal “nyuntik” saja.

Junkanki byouto (循環器病棟) atau ruangan penyakit kardiovaskuler yang terletak di lantai 2 rumah sakit ini, menjadi tempat bekerja dan belajar yang baru bagi saya.

Apalagi saya belum pernah masuk ke ruangan semenjak lulus kuliah dulu, karena memang di ruang operasi terus. Bakal banyak hal baru yang akan bisa saya pelajari.

Pergi ke tempat baru, berkenalan dengan orang baru, ternyata betul-betul mengubah pandangan saya terhadap banyak hal.

Ada yang mau ikut menembus dunia internasional juga?

“Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat Islam disarankan melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang supaya nasibnya berubah’ Andrea Hirata, Padang Bulan”

Sapporo, 5 Januari 2017. 21.00 waktu setempat. Suhu luar -3 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.