MENJADI PERAWAT : ANTARA CITA-CITA, DIPILIHKAN, ATAU SALAH JURUSAN?

Menjadi seorang perawat, sebagaimana profesi lain tentunya, juga perlu proses.

Tidak “makjedunduk” langsung bisa pakai baju putih-putih. Lantas anamnesa pasien terkait riwayat kesehatan seenak hati.

Namanya proses, itu panjang. Sepanjang waktu antara akan mendaftar masuk kuliah hingga hari ini.

Jawaban jadi pertanyaan, mengapa jadi seorang perawat, terkadang masih butuh dihayati.

Bagi teman-teman yang memang sedari dulu bercita-cita jadi perawat. Saya haturkan hormat setinggi-tingginya.

Profesi yang sekitar 30 tahun lalu masih jadi primadona. Kini mulai bertarung dengan perubahan.

Semakin banyaknya lulusan. Juga semakin sedikitnya lahan pekerjaan.

Coba bandingkan angka pertumbuhan rumah sakit dengan jumlah lulusan. Duhh, bisa geleng-geleng kita melihatnya.

Lantas, masih melekat erat di benak orang tua. Kalau kuliah perawat, pasti gampang dapat kerja.

Di tahun 90-an boleh jadi benar adanya. Di zaman sekarang? Ada yang nunggu setahun lebih baru surat lamaran terbaca. Baru dipanggil wawancara. Hasilnya? Musti sabar lagi ternyata.

Bagi Anda yang dipilihkan oleh orang tua dalam memasuki profesi ini. Mari kita tos dulu! Hehe.

Setelah kelulusan Madrasah Aliyah. Niat hati ingin ke Universitas mencoba masuk ke Biologi atau Fisika.

3 kali mendaftar. Sudah tereliminasi, bahkan sebelum tes masuk digelar.

Akhirnya. Madep, mantep, nurut sama orang tua. Diminta mendaftar kuliah perawat (sambil mikir, kuliahnya seperti apa nanti. Kalau kerja, ngapain aja. Bener-bener tidak ada gambaran sama sekali).

Lantas ditemani bulek, mendaftar di Poltekkes Semarang. Dulunya bernama Akper Depkes (mikir lagi. Itu kampus kok belum pernah denger namanya ya ๐Ÿ˜…).

Saya pun mendaftar. Dengan niat membahagiakan orang tua. Soal cita-cita, urusan nanti saja.

Berkah doa orang tua. Tes alhamdulillah lancar. Padahal banyak soal gak paham ketika mengerjakan.

Saat pengumuman. Masuk 20 besar. Saya geleng-geleng. Sambil berujar syukur. Akhirnya bisa kuliah.

3 tahun pendidikan terasa sangat lama. Beruntung, ikut organisasi membuatnya tidak terasa.

Malah banyak ikut BEM dan HIMA dibanding baca handout dari dosen tercinta. Lah gimana, saya masih “denial”, masih mencari cara menumbuhkan rasa suka.

Kuliah berjalan. Sudah saat masuk dipilihkan. Materi gak masuk-masuk. Kadang kepikiran kalau ini salah jurusan. Haha.

Satu-satunya hal yang membuat hati buncah tatkala tahu. Profesi ini ternyata bisa menjadi jalan ke mancanegara.

Ya. Mancanegara!

Pertama kali mulai jatuh cinta dengan profesi ini adalah 3 bulan menjelang wisuda. Duh, Dek. Butuh waktu lama untuk mencintaimu ternyata.

Cinta itu bernama kamar operasi.

Di rumah sakit. Selain ruang perawatan, ada banyak bidang bagi perawat. Mulai dari UGD, ICU, hemodialisa, kemoterapi, dan lain-lain.

Kamar operasi membuat saya jatuh hati. Akhirnya saya tekuni bidang ini. Walaupun sampai saat ini baru sedikit yang saya ketahui.

Bekerja di dalam negeri. Sambil bersabar menanti batas tahun minimal untuk mendaftar ke luar negeri.

Bukan. Bukan karena tidak cinta ibu pertiwi. Tapi ada sesuatu di luar sana yang ingin saya ketahui.

Hal itu karena untaian kalimat di sampul belakang novel Edensor yang bertenaga itu.

“Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri kehidupan dengan sains.

“Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman, lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka.

“Aku ingin hidup dengan kemungkinan-kemungkinan yang saling bereaksi satu sama lain, seperti benturan molekul uranium; meletup tak terduga, menyebar, mengikat, mengganda, terurai, dan berpencar ke arah-arah yang mengejutkan.

“Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang-gemintang. Aku ingin pergi ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkram dingin.

“Aku ingin hidup yang memabukkan, penuh pesona, dan penuh dengan penaklukan. Ku ingin mencari dan menemukan mozaik hidupku di pelosok-pelosok negeri bahkan di ujung-ujung dunia sekalipun.

“Kuingin menemukan jati diriku, Ku akan berjuang untuk menggapai mimpi-mimpi itu sampai titik zenit dan nadir hidupku.

Berkat kalimat itulah. Hingga hari ini. Dalam dunia rantau yang masih penuh dengan berbagai misteri. Saya bertahan.

Sambil terus berjalan. Sembari terus berproses. Lama-lama cinta itu datang walau asalnya dipilihkan dan sempat merasa salah jurusan.

Semua terasa susah pada awalnya. Mustahil kelihatannya. Serta berbagai hal yang membuat nyali ciut hingga enggan berusaha.

Berkah dari orang tua. Hangatnya doa dalam setiap sujud dan tangkupan tangan mereka. Sebuah pencapaian pun terlaksana.

Tapi itu bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, sebuah permulaan baru.

Semakin banyak pintu misteri yang menunggu untuk dibuka.

Semakin banyak kemungkinan untuk dijelajahi.

Dengan segenap tekad, usaha dan lantunan doa yang mengangakasa dari tanar air tercinta.

Sebanyak apapun kemustahilan akan bisa terlampaui. Pasti!

*Uki

Iklan

Halaman Persembahan, Untuk Mereka

“Wah, sampeyan hebat ya! Sendirian di Sapporo aja bisa lulus ujian nasional!” ujar teman yang lulus juga.

Sebagai kandidat program EPA, saya memang terdampar sendirian di ibukota provinsi paling utara Jepang, Hokkaido.

Ada sih, satu orang Indonesia. Letaknya 8 jam perjalanan dari Sapporo. Di kota antah berantah bernama Nemuro. Ada yang pernah dengar?

Tapi, saya tak sehebat itu. Saya tak sekuat itu. Tanpa mereka, ya, tanpa campur tangan mereka, saya bukan apa-apa.

Setelah pengumuman kelulusan senin lalu, saya justru terpaku. Seakan napak tilas ke belakang. Saat duduk di ruang kuliah.

Berawal dari kedatangan kakak tingkat. Berkisah serunya hidup di Amerika, hingga mendapat gelar RN (Register Nurse) atau lisensi perawat di Houston.

Jadilah bertekad, saya juga harus bisa menembus dunia internasional.

Akhirnya sembari kerja, di Batam, juga kursus Bahasa Inggris. Seminggu 3 kali. 1,5 jam tiap pertemuan. Dengan pengajar dari Belanda yang fasih Bahasa Indonesia, Mr. Ronald Ramakers.

Suatu ketika, saya meminta izin mengantarkan beliau pulang. Tentu saja sambil ngobrol ngalor-ngidul. Pesannya yang saya ingat, “Yes. You can reach your dream.”

Tak ada jalan kehidupan yang semulus aspal tol ternyata. Saya, 3 kali gagal melamar kerja ke luar negeri.

Amerika, tak ada kelonggaran visa.

Kuwait, sudah daftar, tak ada tanggapan.

Qatar, nyaris wawancara, tiba-tiba PJTKI-nya bermasalah.

Rasanya, sudah tak ada lagi kesempatan. Hingga saat sowan ke Kampus. Pak Giek Potekkes, Direktur Poltekkes kala itu berpesan,

“Ada lowongan perawat ke Jepang, Mas. Silakan dicoba, saya doakan semoga lancar.”

Alhamdulillah. Sedikit mulai sedikit, ujung terowongan gelap nan pengap terlihat.

Bismillah, fokus ke Jepang.

Yayasan BIMA Jakarta, salah satu yang memberi harapan ke Negeri Sakura. Sebulan setelah ujian, ternyata, harus lebih lama bersabar.

Cari informasi lagi. Tanya-tanya lagi. Searching di internet lagi.

Hingga jalan takdir mempertemukan saya dengan dr. M Ar Effendy dan Pak Sony Arsjad dalam keluarga besar Lpk Bahana Inspirasi Muda, di Bale Endah, Bandung.

Saya sempat mengira, itu bukan pelatihan bahasa. Tapi kawah candradimuka yang akan melahap siapa saja yang membangkang.

Aturan ketat dengan segala keunikannya. Senam setiap pagi, ujian setiap jam, pula disiplin belajar yang tak main-main. Hanya demi lolos test EPA angkatan 9.

Saat sesi diskusi, dr. Arsjad mengajukan pertanyaan yang sulit saya jawab, “Uki san pengen lulus di tahun pertama atau kedua?”

Saya terdiam. Boro-boro lulus ujian keperawatan, menginjak tempat lahirnya Nobita saja sudah syukur.

Akhirnya dijawab sendiri oleh beliau, “Menurut saya, lebih bagus bisa lulus di tahun kedua. Jadi, 1 tahun pertama di rumah sakit. Kerja sambil mempelajari kebiasaan orang Jepang.”

Saya mengangguk setuju. Sambil mengaminkan berkali-kali dalam hati.

Alhamdulillah, setelah serangkaian test sepanjang jalan Anyer-Panarukan, saya lolos dan maching dengan rumah sakit Sapporo Higashi Tokushukai di Kota Sapporo, Hokkaido.

Alasannya simpel, memiliki kewenangan menerima pasien asing dan menyediakan musholla. Ya, musholla.

Setahun terakhir, dua kali diminta menjadi interpreter. Saat ada pasien Indonesia dan Thailand. Alhamdulillah ilmu dari Mr. Ronald sangat membantu. Meski agak kacau.

Untungnya mereka masih memaklumi. Iya, maklum, orang Indonesia, ya fasihnya Bahasa Indonesia. Hehe.

Setelah 6 bulan belajar di Srengseng Sawah, Jaksel, lanjut terbang ke Osaka. Tempat di mana saya menemukan pentingnya pengembangan diri dan kedalaman hati.

Pak dhe Hariadi Pamungkas, penerjemah dengan jam terbang kelewat banyak. Menjadi role model bertahan hidup di tanah orang.

Saya pikir orang Jepang. Lah gimana, penampilannya “Jepang” banget, Je!

Tapi eh, tiba-tiba beliau setengah berteriak, “Ayo, Mas. Masuk, masuk. Shalat jumat meh ndang dimulai.” Lah, ternyata Jawa juga, haha.

Ada pula Mas Asdicka Al-ghony yang entah bagaimana awalnya, bisa bertemu sesaat sebelum shalat Idul Fitri 2 tahun lalu.

Yang membuat jantung saya berdegup tak keruan saat beliau bercerita kalau telah lulus di tahun kedua dalam ujian nasional keperawatan Jepang.

Ketika “Kouryuukai” atau pertemuan dengan senpai (kakak tingkat). Mereka mengajarkan bagaimana belajar efektif dan efisien untuk ujian nasional.

Salah satu dari mereka yang berbagi pengalaman, Mas Taqim Alfatih, lulus dengan nilai soal wajib 100%. Padahal di RS-nya, minim support.

Bagaimana bisa? Iya, karena tak diberi jam khusus belajar saat bekerja, jadilah seluruh waktu liburnya ditransformasi untuk menghapal dan memahami materi.

Saya yakin, setiap orang itu unik. Mereka punya caranya masing-masing dalam belajar. Dan tentu, kesempitan tak akan menghambat siapapun yang memiliki kemauan besar.

Juga, saat berkesempatan bertemu dengan salah satu pionir program EPA angkatan pertama, Mas Mohamad Yusup.

Berbagi kisah jatuh bangunnya kehidupan berkeluarga di Jepang setelah lulus ujian nasional. Ilmu juga ini!

Berada di tempat baru pasti sulit. Tapi berkat bantuan Naohiro Shimada sensei, yang selalu ada untuk memotivasi. Saya, mampu beradaptasi, dan mandiri.

Kakak, adik, saudara, dan istri Marintha Violeta yang menyelipkan nama saya di ujung doa.

Serta masih banyak orang penting yang telah mengantarkan saya hingga titik ini. Yang, maaf, belum dapat saya tuliskan satu persatu.

Dan tentu saja, semesta tak akan cukup menampung ungkap terima kasih pada bapak dan ibu tercinta. Tanpa ikhtiar dan doa luar biasa mereka, segala proses di atas boleh jadi tidak pernah terjadi.

Karena jalan menuju ujung terowongan adalah kesediaan mereka memberikan izin anaknya ini untuk mencoba berbagai ketidakmungkinan. Menembus kegelapan. Hingga menemukan cahaya.

Selembar kertas pengumuman kelulusan ini, saya persembahkan kepada segenap insan di balik layar. Atas luasnya doa dan meluapnya dukungan. Atas kesediaannya berbagi pesan dan motivasi untuk terus bergerak. Hingga saya menjadi seperti sekarang ini.

Mereka, adalah pemain kedua belas dalam sepak bola. Selalu menghentakkan kaki. Tak berhenti menyemangati. Selalu optimis dan percaya. Di tepi arena.

Meski setapak perjalanan telah terlalui. Tapi tantangan ke depan juga semakin terjal, curam dan tak terprediksi.

Sabar dalam mendaki. Terencana dalam berkalkulasi. Serta menggigit kuat optimis dalam sanubari. Adalah koentji!

Jikalau setahun terakhir ini saya merasa sudah banyak belajar. Ternyata belum seberapa. Karena nyatanya, hanya 1 persen saja. Sisanya, doa!

Bagaimanapun, sang Kuasa adalah pemilik segala ketetapan dan jalan hidup manusia.

Sapporo, 29 Maret 2018.

Uki

Matur suwun

็š†ๆง˜ใฎใŠ้™ฐๆง˜ใงๅ›ฝๅฎถ่ฉฆ้จ“ใŒๅˆๆ ผๅ‡บๆฅใพใ—ใŸใ€‚ๅฟœๆดใ€ๅฟƒใ‹ใ‚‰ใ‚ใ‚ŠใŒใจใ†ใ”ใ–ใ„ใพใ™ใ€‚ๆ„Ÿ่ฌใ—ใฆใŠใ‚Šใพใ™ใ€‚ใ“ใ‚Œใ‹ใ‚‰ใ‚‚ๅคงๅค‰ใชไบ‹ใŒๆฒขๅฑฑๅ‡บใฆใใ‚‹ใจๆ€ใ„ใ—ใพใ™ใฎใงใ‚ˆใ‚ใ—ใใŠ้ก˜ใ„ใ—ใพใ™ใ€‚

Alhamdulillah, berkat doa dan support dari semuanya. Saya diberikan kelulusan dalam ujian nasional keperawatan di Jepang.

Salam sungkem dumateng sedoyo.. ๐Ÿ™

Bang Toyib dan Grup WA Keluarga

#Yuki 32

Sebentar. Biar saya luruskan sedari awal biar gak salah paham.

Itu memang foto keluarga saya, bukan keluarga cemara, apalagi keluarga cendana.

Ada bapak, ibu dan saudara-saudara dan suami mbak saya. Namun, itu adalah 3 tahun lalu. Tepatnya saat lebaran tahun 2014, saat kami (para anak-anaknya) yang “gemar” merantau, ndilalah bisa kumpul di Kudus.

Ndilalah, karena setelah negara api menyerang kembali, eh, setelah kami pada merantau lagi, jarang bisa kumpul komplit (pake telor) seperti itu.

Ya, memang saya yang jarang ikut kumpul sih. Soalnya yang paling sering loncat kesana-kemari, tapi sampai sekarang belum punya kemampuan seperti kera sakti.

Seperti tahun ini saja, ketika saya sedang mengetik tulisan ini, adik saya sudah nangkring di Kudus menikmati liburan dari Pondok Gontor, serta keluarga mbak saya, sedang siap-siap mudik dari Jogja.

Kok tiba-tiba pengen dibawain gudeg ya..

Oleh karena itu, insyaallah tahun ini, akhirnya saya resmi bergabung dengan jamaah “Bang Toyib” nasional.

Tahu kan, bang toyib? Yang liriknya fenomenal itu, “Tiga kali puasa, tiga kali lebaran…”

Dua kali puasa plus lebaran saat dulu masih bekerja di Batam (tahun 2012 dan 2013, karena 2014 saya mudik). Lalu tahun ini sebagai pelengkapnya.

Loh, bukannya tahun kemarin sudah di Jepang? Iya, tapi setengah bulan saya ada di Indonesia, jadi gak masuk hitungan.

Tinggal menunggu beberapa hari lagi, jika lebaran tiba, ketika para anak-anak di kampung sibuk dengan baju barunya, lepas pasang sandal gunung karena silaturahim le rumah tetangga, serta sesekali mendapatkan kejutan berupa rengginang yang ada di kaleng Khong Guan.

Saat itu, gelar bang toyib akan resmi saya dapatkan (lah, ini bangga apa ngenes ya, haha).

“Eh, kalau cowok bisa dong disebut bang toyib, kalau cewek bagaimana?” Ujar teman saya.

“Kalau cewek ya bukan bang toyib, tapi mbak Sri. Ingat kan lirik lagunya?”

“Sri, kapan kowe bali…..” Hiyaaaaa

Kemudian tentang grup WA keluarga.

Ada sebuah artikel yang saya baca dan menyebutkan kira-kira begini,

“Tiga hal yang menjadikan ramai sosmed atau sosial media adalah, pertama, komentar netizen. Dua, grup chat sekolah atau alumni, dan ketiga adalah grup WA keluarga…”

Soal komentar netizen atau pengguna sosmed tidak perlu saya bahas, toh saya yakin sudah pada tahu semua.

Beritanya apa, komentarnya apa. Mulai dari debat kusir, adu makian serta sumpah serapah, sampai komentar yang paling maknyuss yang seperti ini,

“Apa cuman gue disini yang langsung liat komentar sebelum baca beritanya?” Nah loh.

Lalu soal grup chatting. Mulai dari WA, BBM, Line, dan lainnya. Yang ketika lagi seru yang dibahas, ibarat mata sekejap berkedip, sudah harus langsung scroll ke bawah lama..

Mulai dari ajakan buka bersama teman-teman kuliah, ramai soal kapan lebaran, apakah tahun ini NU dan Muhammadiyah akan barengan, sampai yang nge-share status panjangnya gak ketulungan.

Di tengah keramaian tersebut, ibarat oase, hadirlah grup WA keluarga.

Saya perlu berbangga terhadap hal ini. Walaupun terbilang telat, karena nunggu adik saya punya hape layar datar, barulah mbak saya berinisiatif membuat grup ini.

Ibu dan bapak saya malah sudah punya hape android duluan.

Tapi ya begitu. Ibu saya, cuma digunakan buat “mantau” anak-anaknya lewat status-status facebook dan sesekali video call kalau pas jaringannya lagi gak ngambek.

Maklum, rumah saya itu “mewah”, mepet dengan persawahan dan jauh dari kota.

Soal nulis komentar di facecook? Pernah sekali ibu saya ngetik komentar, eh, yang ketulis huruf konsonan semua.

“Susah, sekali pencet, kepencet semua, haha…” Kata Ibu saya. Maklum, mencetnya bebarengan soalnya, hehe.

Bapak saya? Punya tablet 7 inchi, dengan sinyal 3G.

Hanya saja, lebih banyak digunakan buat lihat video pengajian yang diisi oleh temannya. Jadi lebih berfungsi kayak tivi yang bisa dibawa kemana-mana. Selebihnya? Bahkan aplikasi cuaca pun saya yakin gak pernah dibuka.

Jadi, keluarga kami masing-masing terkoneksi di grup ini (kecuali keponakan saya yang masih kelas 1 SD, seringnya ikut nimbrung pakai hape mbak saya).

Apapun bisa dibahas. Apalagi grup ini dimulai pas awal ramadhan kemarin. Jadi, saat mau berbuka, masing-masing pada ngirim gambar menu berbukanya.

Keponakan saya, ikut-ikutan, setiap jam 12 siang, ngirim foto, mau berbuka, karena masih latihan puasa setengah hari.

Mulai dari mie goreng, tumis kangkung, pecel, oseng teri, dan masih banyak lagi, pernah mampir di grup ini.

Salah satu yang seru adalah, ketika beberapa waktu yang lalu, pas adik saya mudik naik kereta dan upload foto roti dan minuman botol untuk berbuka.

Langsung jadi sasaran bully an, haha. “Lah, kalau cuma roti itu ntar sampe tenggorokan langsung hilang fud…” Kira-kira seperti itu. Maklum, walaupun kami kurus, jangan ditanya soal porsi makan, haha.

Namun, apapun yang kami tulis di grup itu, selalu membuat ibu saya senang.

“Setidaknya kalian tetap rukun walaupun berbeda daerah…..” Begitu ucap ibu saya beberapa waktu yang lalu.

Kami memang berjauhan, tapi, selalu menyempatkan diri untuk selalu berpamitan sebelum pergi kemanapun.

Seperti saya misal. Semenjak merantau 6 tahun lalu, setiap akan berangkat kerja, selalu mengirim sms atau kalau sekarang, pakai chatting di Line atau WA.

“Pamit berangkat bu, Assalamualaikum..” Minimal seperti itu.

Jadi, ibu saya selalu membaca pesan-pesan itu, kecuali pas sedang ada perlu.

Dan ketika grup keluarga ini hadir, minat ibu saya untuk buka facebook menurun dan lebih asik melihat para anak-anaknya “berantem” di grup WA ini.

Walaupun kami terpisah kota, provinsi, bahkan negara, insyaallah grup WA ini akan selalu ramai oleh keceriaan para anaknya.

Karena silaturahim itu mendekatkan dan insyaallah akan selalu memberikan keberkahan.

Sapporo, 22 Juni 2017. 20.45 waktu setempat.

Insyaallah beberapa hari lagi lebaran, mari senantiasa bersihkan hati dan diri, agar selalu “fitri”…

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.

Festival Salju di Sapporo Sudah Dimulai! ๆœญๅนŒใง้›ช็ฅญใ‚ŠใŒๅง‹ใพใ‚Šใพใ—ใŸ๏ผ

#Yuki 11

19 Agustus 2015, hampir satu setengah tahun lalu, pertama kali saya mendengar nama kota Sapporo dari pihak Jepang yang mewawancarai saya di Jakarta.

Di sela-sela interview wajib, perwakilan pihak Jepang yang datang juga diberi kesempatan untuk mempresentasikan institusinya masing-masing kepada calon pendaftar. Atau lebih dikenal dengan sebutan “Setsumeikai”.

Saat itu, ketika di stand rumah sakit yang saat ini jadi tempat kerja saya, beberapa pertanyaan diajukan kepada kami.

“Sapporo itu dingin loh, tetap mau kerja di rumah sakit kami?” Ucap Shimada sensei, yang juga merupakan dokter bedah jantung di RS ini.

Beberapa teman menjawab. Lalu saya juga, “Moshi chansu ga areba, zehi kono byouin de zehi hatarakitai desu (Misal ada kesempatannya, saya benar-benar ingin bekerja di RS ini)” Jawab saya waktu itu.

Image may contain: 1 person, smiling, snow, tree, outdoor and nature

Dan semenjak akhir tahun lalu, akhirnya saya benar-benar bisa menginjakkan kaki di Sapporo dan mulai bekerja di RS yang pernah mewawancarai saya satu setengah tahun lalu.

Sapporo, begitu kata ini terucap, banyak orang yang langsung punya keinginan untuk datang dan menyaksikan “Yuki Matsuri” atau perayaan salju yang terkenal sampai mancanegara.

Umumnya, orang yang datang kesini hanya beberapa hari. Wisata ke daerah yang durasi turun saljunya berbeda dengan daerah lain di Jepang.

Nah, kalau rata-rata orang kesini untuk wisata, saya malah tinggal untuk jangka waktu yang cukup lama, hehe.

Kalau saat ini daerah di Osaka sudah mulai menghangat karena bulan maret akan masuk musim semi. Sapporo dan Hokkaido pada umumnya justru kebalikan. Bulan febuari adalah bulan dimana suhu akan mencapai titik terendahnya!

Rata-rata stabil di angka minus 6 sampai minus 10 derajat celcius. Tapi kata teman saya yang orang Jepang, selama festival salju berlangsung, suhu pernah drop sampai minus 15 derajat celcius!

Itu bukan beku lagi, tapi emaknya beku mungkin, hehe.

Sebenarnya, bukan hanya dingin yang jadi persoalan. Saya dulu berfikir kalau pas turun salju itu pasti dingin. Tapi ternyata bukan begitu, kadang saat turun salju, suhunya malah tidak sedingin biasanya.

Yang lebih perlu diwaspadai adalah angin! Walaupun tidak turun salju, tapi kalau pas anginnya kenceng, baju berlapis sama jaket pun seakan tidak berfungsi maksimal.

Mending masuk ke mall atau di kamar aja sambil nyalain penghangat. Beneran deh.
Nah, beberapa teman ada yang berkomentar, “Wah, Mas Uki jalan-jalan terus nih..”

Ya, kan memang setiap hari saya jalan. Dari asrama sampai rumah sakit pasti jalan kaki, hehe.

“Maksud saya, jalan-jalan ke tempat wisata di Sapporo. enaknyaaaa…..” Lanjut teman saya.

Oh, begitu. Baiklah, sebelum saya jawab, saya kutip sebuah tulisan ciamik dari teman saya, Mas Lucky. Berikut petikannya,

“Bekerja di RS memang mau tidak mau harus berhadapan dengan berbagai kejadian-kejadian ‘diluar nalar’ kehidupan.

“Melihat bagaimana seseorang akan meninggal, melihat kondisi yang mengancam, melihat bagaimana reaksi keluarga akan kehilangan, serta bekerja seolah-olah berlomba dengan Sang Maut mana yang lebih cepat atau bahkan melihat saat keluarga dan kerabat kita sakit dan kita adalah orang yang bekerja di RS tersebut.

“Percayalah semua itu bukanlah suasana lingkungan yang baik untuk kesehatan fisik dan mental.

Nah, untuk menanggulangi hal itu, ada berbagai cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan rekreasi atau piknik!

Mumpung sedang di Sapporo, ditambah dengan hari libur, daripada bengong di kamar, juga untuk menghemat biaya mesin penghangat, kan lebih baik keluar dan jalan-jalan.

Yang pertama adalah ke Tsudome, tempat festival salju yang ternyata, sangat dekat dengan asrama saya.

Cukup jalan sekitar 1 km aja sampai! Padahal sebelumnya, saya cuma tahu festival itu diadakan di Odori park aja.

Image may contain: 1 person

Nah, setelah berjalan sekitar 20 menit, tadaaaa, sampailah saya di Tsudome, dekat dengan stasiun Sakaemachi.

Disana, sebuah stadion indoor yang dirubah menjadi wahana bermain bagi anak-anak. Banyaknya perosotan atau “suberidai” menjadikan banyak orang tua dan guru TK dan SD membawa anak ataupun anak didiknya kesini.

Wisatawan lokal dan asing pun banyak yang datang. Sayangnya, saya belum ketemu orang dari Indonesia maupun Malaysia.No automatic alt text available.

Oh ya, festival di Tsudome ini berlangsung dari tanggal 1 sampai 12 febuari. Buka dari jam Image may contain: outdoor9 sampai 5 sore.

Yang unik disini adalah banyaknya perosotan dengan berbagai jenis.

Perosotan Indoor yang terbuat dari karet serta outdoor yang terbuat dari salju, sungguh sangat menggoda. Hanya saja, saya belum mencoba keduanya.

Alasannya, yang indoor, batas usia yang diperbolehkan adalah sampai usia 12 tahun. Saya? 12 dikali dua pun masih lebih, haha.

Yang outdoor, tadinya ingin mencoba. Tapi pas mau antri, tiba-tiba turun salju disertai angin kencenng banget! Tangan saya sampai mati rasa. Padahal sudah pakai sarung tangan!

Segera saya masuk gedung, menghangatkan diri.

Image may contain: one or more people, snow, nature and outdoor

Setelah foto-foto sejenak, kemudian saya lanjut mau lihat persiapan festival salju yang ada di Odori park.

Setelah turun di stasiun Sapporo, saya shalat dulu kemudian lanjut jalan.

Kok tahu jalannya? Saya selalu pakai google maps.

Ternyata, jalan yang saya tempuh, melewati sebuah bangunan fenomenal yang ada di Sapporo. Namanya “Akarenga” atau artinya batu bata merah.

Sebetulnya namanya “Hokkaidochou” atau gedung gubernuran Hokkaido, tapi karena seluruh bangunannya memakai batu bata yang berwarna merah, lebih dikenal dengan nama “Akarenga”.

Gedung ini terbuka untuk umum. Mulai pukul 10 pagi sampai 6 sore. Gratis! Di depan gedung, ada stand pemandu bagi yang ingin mendapatkan layanan bahasa inggris.

Para pemandunya baik banget, ringan tangan, yang datang sendiri kayak saya akhirnya dibantu buat ambil foto, haha.

Tahu aja mereka kalau saya butuh bantuan. Dan….akhirnya saya ketemu dengan Olaf! Sayangnya, Elsa sama Ana nya gak ada, mungkin lagi sibuk syuting film berikutnya, hehe.

Terakhir, yang menjadi magnet jutaan wisatawan asing saat festival salju adalah di Odori koen atau Odori park.

Saya tahu, tamannya belum dibuka karena acaranya baru mulai tanggal 6 sampai 12 febuari nanti. Tapi saya ingin lihat proses pembutannya.

Benar saja, salju dan es dalam ukuran yang sekian banyaknya perlahan-lahan terlihat menjadi berbagai bentuk yang menawan.

Image may contain: sky, tree, snow and outdoor

Alat-alat berat, para pekerja yang hilir mudik, memahat, menyusun, mengukir, membentuk es yang sedemikian dinginnya menjadi bentuk yang beraneka ragam!

Beberapa saya ambil fotonya, sebagai kenang-kenangan.

Juga, yang membuat saya senang adalah dibangunnya Iglo! atau rumah es yang mirip rumah es orang yang tinggal di Kutub.

Rasanya gak sabar nunggu tanggal 6 febuari. Mau keliling-keliling lagi.

Kalau yang mau ikut, ayok bareng-bareng pergi ke festival salju di Odori park hari senin nanti….

 

Sapporo, 2 febuari 2017. 21.50 waktu setempat.

Uki

Menjadi Perawat di Jepang, Kenapa Tidak?

#Yuki 8

11 Januari, jika menyebut tentang hal ini, banyak yang langsung teringat salah satu lagunya GIGI yang terkenal itu.

Itu memang benar, saya juga sangat suka dengan lagu itu, tapi “januari” juga menyimpan salah satu kenangan dari perjalanan saya.

Januari, 2 tahun silam, saya mengambil keputusan untuk “resign” dari rumah sakit Awal Bros Batam guna mempersiapkan diri untuk mengikuti serangkaian tes perawat ke Jepang.

Masih terkait tulisan saya di minggu yang lalu. Setelah saya posting, beberapa ada yang bertanya di kolom komentar, juga ada yang bertanya melalui inbox.

Rata-rata pertaannya sama, “Mas, bagaimana caranya bisa menjadi perawat di Jepang?”

Lalu, “Mohon bimbingannya ya, Mas. Saya juga ingin bisa bekerja disana,” Dan beberapa pertanyaan yang lain.

Baiklah, agar semua bisa membaca informasi ini, mari kita bahas bersama-sama.

Pertama, bagaimana cara daftarnya?

Saya langsung balas dengan singkat, silahkan buka website bnp2tki.go.id. Lalu cari bagian program perawat ke Jepang. Setelah terbuka web nya, ada di sebelah kanan bawah.

Disana, ada berbagai informasi tentang program IJEPA, atau pengiriman perawat ke jepang dari beberapa tahun yang lalu.

Kalau bingung tentang “informasinya” yang mana, dibawah saya sudah sertakan “screenshoot” utuh informasi pendaftaran tahun lalu.

Mohon dicatat baik-baik. Kalau perlu diberi garis tebal biar gak salah paham. Itu informasi tahun lalu, tahun 2016, untuk pengiriman ke jepang tahun 2017.

Kedua, “Lalu bisa daftarnya kapan mas?”

Kalau ini saya tidak bisa menjawab dengan pasti, tapi melihat informasi dari beberapa tahun yang lalu, biasanya pengumuman pendaftaran diumumkan di bulan maret.

Jadi, kira-kira 2 bulan lagi akan dibuka pendaftarannya.

Ketiga, “Mas, kok persyaratannya banyaaaaak banget?” Tanya seorang teman.

Ya memang begitu adanya. Secara, ini adalah program antar negara, jadi kualifikasi dan dokumen yang diperlukan juga sesuai keputusan antara pemerintah Indonesia dan Jepang.

Lalu, ini saran pribadi dari saya. Boleh diterima, boleh tidak.

Bagi yang ingin mendaftar sebagai calon perawat di rumah sakit atau “Kangoshi”, alangkah sebaiknya punya pengalaman kerja minimal 2 tahun, baik yang lulusan D3 maupun S1.

Melihat 2 tahun terakhir ini, pemerintah jepang sepertinya mulai merubah kebijakan tentang syarat minimal pengalaman kerja bagi pendaftar Kangoshi.

Keempat, “Sebelum daftar sudah harus bisa bahasa Jepang ya, Mas?”

Memang di persyaratan tidak ada kata “harus”. Tapi ada kolom yang mempersilahkan menyertakan sertifikat kemampuan masing-masing pendaftar.

Entah itu sertifikat kemampuan bahasa Jepang, bahasa inggris, pelatihan BTCLS, atau apapun.

Tapi kalau kita nalar bersama, namanya mau daftar ke Jepang, ya sebaiknya bisa bahasa Jepang walaupun sebatas baca tulis huruf hiragana-katakana serta perkenalan diri.

Apalagi kalau memang sudah niat untuk mempersiapkan diri dengan mengikuti pelatihan atau kursus. Tentu akan menjadi nilai tambah bukan?

Bukankah teman-teman yang ingin bekerja di luar negeri yang mayoritas menggunakan bahasa inggris, rata-rata mempersiapkan diri.

Saya rasa itu juga berlaku hal yang sama.

Kelima, “Mas dulu kursus ya?”

Iya, saya mengikuti pelatihan selama 4 bulan di Bandung sebelum mengikuti tes.

Setelah saya resign dari tempat kerja, sambil menunggu pembukaan pendaftaran, saya ikut kursus di LPK Bahana Inspirasi Muda Bandung.

“Bayar lagi dong mas?” Lanjutnya.

Iya, dimana-mana kalau belajar ya harus bayar. Tapi itu sepadan dengan hasilnya.

Lalu ada yang bilang, “Memang kalau kursus itu dijamin lolos tes, Mas?”

Kalau ada pertanyaan seperti itu, sama saja dengan pertanyaan, “Memang kalau sudah kuliah lantas bisa langsung dapat kerja?”

Hening, orang yang bertanya itupun berhenti mengetik. Hingga hari ini belum bertanya lagi.

Memang, ada suatu lembaga pelatihan di Jakarta yang memberikan semacam “beasiswa” bagi yang ingin bekerja di Jepang.

Namanya “Yayasan Bima”, silahkan dicari sendiri di internet. Kalau lolos tes masuknya, nanti akan dapat mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 10 bulan gratis. Hanya mengeluarkan uang untuk selain biaya pendidikan saja.

Saya tahu karena saya pernah ikut tesnya, tapi saat pengumuman, nama saya tidak tertera.

Dan masih ada banyak lembaga serta kursus di berbagai kota yang bisa menjadi pilihan teman-teman kalau ingin belajar.

Persoalannya hanya satu, mau mempersiapkan diri terlebih dahulu atau tidak.

Kalaupun tidak ingin kursus terlebih dulu, ya tidak apa-apa. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak juga teman-teman saya yang bisa lolos tanpa pelatihan sebelumnya.

Keenam, “Kalaupun saya ikut pelatihan, ikut tes, lalu gak lolos gimana, Mas?”

Duh dek, daftar aja belum sudah takut gak lolos.

Logikanya begini deh, kalau daftar, ikut tes, memang benar, ada kemungkinan tidak lolos.

Kalau ingin aman, ya tidak perlu daftar. Yakin, itu aman banget! Bahkan kemungkinan untuk gagal pun tidak ada. Iya kan?

Namanya kegagalan, saya yakin semua orang juga tidak menginginkannya. Jujur, saya pun juga.

Tapi satu hal yang saya pelajari dan saya “gigit” kuat prinsip ini. Gagal itu bukanlah suatu aib. Gagal itu ada untuk menguji seberapa tangguh kita bisa bangkit lagi.

Kegagalan adalah salah satu jalan terbaik untuk mengetahui seberapa tangguh kualitas seseorang tersebut.

Sebelum saya daftar program ke Jepang, sudah 3 kali saya gagal ikut tes ke luar negeri sebelumnya.

Sakit, iya, kecewa itu pasti.

Tapi bangkit dari kegagalan itu memberikan banyak hal yang tidak didapat oleh mereka yang hanya punya segudang “cita-cita” dan rancangan “angan” yang indah, tapi tidak pernah mau mencoba.

Layaknya “Sang Pemimpi” yang enggan bangun dari tidurnya.

Cita-citanya sungguh luar biasa tapi tidak pernah mau meninggalkan zona nyaman sebelumnya.

Mumpung masih 2 bulan dari pembukaan pendaftaran. Silahkan mempersiapkan diri sebaik mungkin bagi yang berminat.

Pengurusan dokumen itu tidak terlihat sederhana jika kita lihat rentetan daftarnya.

Minimal buat paspor dulu lah, siapa tahu sebelum daftar minimal bisa melancong ke Malaysia atau Singapura dulu.

Teman-teman mau melangkah, mau bergerak, keputusan itu ada dalam diri kalian.

Kalaupun saya selalu bilang, “Sampai bertemu di Jepang”, tapi teman-teman masih takut untuk sekedar mendaftar,

Lalu, kapan kita ketemunya? hehe

Sapporo, 11 Januari 2017. 20.30 waktu setempat. Hari ini suhunya ekstrim, -12 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.

Ketika “Perawat” Menjelajah Dunia Baru

#Yuki 7

Foto Arsyad Syauqi.

Namanya mas Arif Indiarto, lulusan Poltekkes Semarang tahun 2002. Pertama kali saya mengenalnya ketika beliau memberikan kuliah umum di kampus saat saya masih tingkat 2, tahun 2010.

Sekarang beliau sudah menjadi perawat berlisensi Amerika dan bekerja di salah satu rumah sakit di Houston.

Artikel yang pernah ditulisnya, “Dari Logo Poltekkes Semarang Sampai ke Negeri Obama”, yang bisa ditemukan di internet, saya kira telah berhasil menginspirasi banyak orang. Boleh jadi saya satunya.

Ketika itu saya meniatkan diri, saya juga harus bisa sampai ke luar negeri. Tapi caranya bagaimana? Saya belum tahu.

Setelah pertemuan itu, saya mencari kontak facebooknya. Ketemu. Saya menghubungi beliau, dan boleh jadi, ketika itu pertanyaan saya terlalu “kemana-mana”, namun beliau masih bersedia menjawabnya.

Padahal dari cerita beliau, saya tahu betul, kehidupannya disana sungguh sangat sibuk. Bekerja, sembari belajar, dan telah menyelesaikan S1 nya di Amerika.

Info terakhir yang saya dengar, beliau lanjut lagi mengambil program master atau S2 bidang anestesi disana. Sungguh, pembelajar yang tangguh!

Dan tanpa saya sadari, beliaulah yang menjadi role model saya. Menjadi salah satu inspirasi saya untuk menembus batas agar bisa “belajar” di dunia global juga.

Ketika melewati masa kerja selama 2 tahun di Batam, saya kembali aktif mencari info untuk keluar negeri.

Tujuan utama saya saat itu, RN (Registered Nurse) di Amerika. Berbagai info saya cari, tidak lupa bertanya kepada relasi yang mempunyai info tentang cara kesana. Hasilnya nihil.

Program yang pernah diikuti seperti mas Arif bertahun lalu sudah tidak ada. Ditambah dengan info bahwa Amerika sedang mengurangi tenaga perawat asing, karena ingin memberdayakan perawat dalam negeri. lengkaplah sudah, satu pintu telah tertutup.

Lalu saya dapat kabar, ada info ke Kuwait. RS pemerintah disana buka lowongan lewat agen di Jakarta. Saya telpon, diminta kirim lamaran. Segera saya lengkapi lamaran tersebut, kirim lewat pos dan softcopy juga.

Bulan demi bulan berlalu, kabar pun tidak kunjung datang. Saya hubungi nomor telpon yang pernah aktif, tiba-tiba tidak nyambung. Entah mereka “liburan” kemana. Kok tiba-tiba “plesir” begitu saja.

Beberapa bulan kemudian, ada seorang teman dari Semarang yang memposting sebuah informasi “Dibutuhkan Perawat ke Qatar…”.

Segera saya tangkap peluang itu, saya tanya berbagai hal, kemudian bolak-balik Batam-Jakarta hingga beberapa kali.

Pendaftaran lah, latihan wawancara lah, persiapan mengenai ini itu lah. Tidak terhitung waktu dan biaya yang habis saat itu.

Sampai ibu saya bilang, “Kamu itu bolak-balik Jakarta ke Batam kayak pergi main ke rumah tetangga saja..”.

Ibu dan Bapak saya hanya pernah sekali melakukan perjalanan naik pesawat, saat diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa bertamu ke Kabah.

Nah, saya dibilang oleh ibu kalau naik pesawat sudah kayak naik bus aja. Karena saking seringnya.

Padahal kalau boleh memilih, saya mending naik bus aja kalau bisa. Naik pesawat sungguh berat di ongkos coy..

Setelah proses demi proses saya ikuti, kembali saya harus menelan pil pahit lagi.

Saya sudah bayar untuk biaya pelatihan dan persiapan tes. Tiba-tiba dari pihak PJTKI nya bilang bahwa seleksinya ditunda, hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan!

Catat, batas waktu yang belum bisa ditentukan!

Memanglah tipikal khas orang Indonesia, menggunakan bahasa halus untuk memberikan suatu kabar, sampai kabar pahit dari proses seleksi dibatalkan pun dibilang ditunda. Dari 2014, hingga hari ini, tidak ada kabar lagi.

Baru 3 kali, atau sudah 3 kali, sama saja. Yang jelas, ini pil pahit ketiga bagi saya. Saya begitu paham arti kata “ditolak”, betul-betul saya rasakan sampai 3 kali.

“Masih ada kesempatan, Mas,” Kata Direktur Almamater saya.

Perbincangan itu berlangsung sebentar mengingat beliau memang punya banyak agenda. Bisa bertemu sebentar pun saya sudah bersyukur.

Saya punya kebiasaan rutin, kalau pulang setahun sekali, saya usahakan bertemu dengan bapak ibu dosen di kampus, serta guru-guru saya, walaupun hanya sekedar berjabat tangan dan saling bertanya kabar.

Tidak lupa mampir ke Direktorat, siapa tahu bisa bertemu pak Direktur. Karena memang hubungan dengan orang-orang di kampus sudah seperti orang tua saya sendiri.

“Ada program ke Jepang buat perawat. Siapa tahu Mas Uki bisa masuk,” Sambung beliau.

Kemudian, segera saya mencari info tentang perawat ke Jepang. Info saya dapat, lalu saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Saya ingin fokus, ingin kursus dulu, ingin persiapan yang matang setelah “ditolak” tiga kali.

Sebelum itu, tentu saya ijin dulu kepada ibu saya. Boleh tidaknya saya ikut program ini. Ibu saya hanya bepesan sekaligus memberi nasehat,

“Semoga lancar prosesnya. Kalau gagal lagi, lebih baik ikut CPNS saja ya,..” Masih hafal betul ucapan beliau yang satu ini saat disampaikan hampir 2 tahun lalu.

Kemudian saya keluar dari Batam, ikut kursus bahasa selama 4 bulan, persiapan tes yang memang melelahkan, rasa dag-dig-dug masih terus menghantui.

Tidak bisa dibohongi, rasa khawatir itu akan selalu dan terus ada. Cara menanggulanginya hanya satu. Berusaha, Berdoa, dan Tawakkal.

Semenjak waktu itu, berbagai tempat baru, kenalan baru, rasa semangat yang naik turun, merasa senang karena sudah mulai bisa bicara bahasa Jepang, merasa frustasi karena tidak hafal-hafal kosakata baru, sering lupa cara nulis huruf kanji, terus menghiasi perjalanan saya hingga hari ini.

Efektif, hari ini saya telah memasuki 3 minggu di dunia kerja lagi setelah hampir selama setahun lebih belajar di kelas saja.

Sebuah rumah sakit di wilayah timur kota Sapporo yang saat ini beku oleh hamparan salju, menjadi arena belajar saya selanjutnya.

“Loh, masih belajar lagi, Mas?” Tanya adik kelas saya beberapa waktu yang lalu.

Ya, belajar lagi. Memang secara kontrak kerja, saya memang harus kerja selama 5 hari selama seminggu, dengan 2 hari libur.

Tapi, sebelum lulus ujian negara untuk mendapatkan lisensi disini, kami bekerja sebagai asisten perawat yang hanya diberi kewenangan sebatas melakukan kegiatan KDM (Kebutuhan Dasar Manusia).

“Wah, ntar kemampuannya turun dong. Gak bisa nyuntik sama infus lagi,” Tambahnya.

Turun kemampuan itu memang boleh jadi iya, tapi bukan berarti hilang sama sekali.

Bahkan, “skill” saya untuk nyuntik maupun infus memang kurang terlatih, karena selama tiga tahun di Batam dulu saya hanya pegang alat operasi. Nah loh, kapan saya bisa nyuntiknya?

Bagi kami para perawat, kemampuan itu tidak hanya sebatas nyuntik maupun infus saja. Itu hanya bagian kecil dari sekian banyaknya disiplin ilmu dan praktik keperawatan.

Kalau hanya soal “nyuntik”, Kepala keperawatan di sebuah RS bahkan hampir tidak pernah nyuntik. Karena tugas utamanya memang bukan itu. Ia menjadi kepala yang harus memikirkan banyak hal, mengkonsep banyak hal.

Dan disini, bukan soal “nyuntik” atau “infus” dulu yang jadi masalah, tapi komunikasi dengan teman sejawat, dengan pasien, persiapan ujian, yang kesemuanya memakai bahasa Jepang, adalah tantangan tersendiri di dunia baru ini.

Jika komunikasi bisa terjalin dengan baik, lalu bisa bisa memahami huruf kanji yang ribet ini dengan baik, maka kemampuan yang akan didapat saya kira akan lebih banyak dibandingkan hanya soal “nyuntik” saja.

Junkanki byouto (ๅพช็’ฐๅ™จ็—…ๆฃŸ) atau ruangan penyakit kardiovaskuler yang terletak di lantai 2 rumah sakit ini, menjadi tempat bekerja dan belajar yang baru bagi saya.

Apalagi saya belum pernah masuk ke ruangan semenjak lulus kuliah dulu, karena memang di ruang operasi terus. Bakal banyak hal baru yang akan bisa saya pelajari.

Pergi ke tempat baru, berkenalan dengan orang baru, ternyata betul-betul mengubah pandangan saya terhadap banyak hal.

Ada yang mau ikut menembus dunia internasional juga?

“Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat Islam disarankan melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang supaya nasibnya berubah’ Andrea Hirata, Padang Bulan”

Sapporo, 5 Januari 2017. 21.00 waktu setempat. Suhu luar -3 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.