Tag Archives: jalan jalan

Festival Salju di Taman Odori, Sapporo.. 大通公園での雪祭り。。

17 Feb

#Yuki 12

Kalau berbicara tentang Jepang, tidak akan lepas dari kesungguhan masyarakatnya dalam menjaga adat dan budaya setempat.

Salah satunya adalah dalam bentuk “matsuri”, atau dalam bahasa indonesianya, perayaan atau festival.

Festival di Jepang sangat beraneka ragam. Tanyakan saja sama “google sensei”, sekali klik, maka banyak sekali tulisan mengenai hal itu.

Contohnya, ada Gion Matsuri di Kyoto. Tahun kemarin saya ingin menontonnya, tapi gak jadi karena bukan pas hari minggu. Secara, senin sampai sabtu harus masuk kelas buat belajar.

Lalu ada Tenjin Matsuri di Osaka. Kalau ini saya bisa lihat tahun kemarin. Kemudian ada Awa Odori di Tokushima, Kanda Matsuri di Tokyo, dan masih banyak lagi.

Begitupun dengan Sapporo, tempat tinggal saya sekarang.

Ada sebuah festival yang begitu terkenal sampai mancanegara. Namanya “Yuki Matsuri”, atau festival salju.

Tahun kemarin, sesuai dengan berita, mampu menarik wisawatan sebanyak 2,6 juta orang. Padahal hanya digelar dalam waktu 12 hari saja.

Oh ya, ternyata ada 3 tempat yang menjadi lokasi yuki matsuri di Sapporo. Minggu kemarin, saya pikir hanya 2 tempat saja.

Pertama, di tsudome kaijou, yang deket asrama saya. Kedua, Odori kouen (Taman Odori). Ketiga, di Taman Susukino.

Kalau ingin bermain perosotan raksasa, ke tsudome lah tempatnya. Tapi, kalau mau melihat patung-patung salju yang beraneka rupa dan berukuran raksasa, ke taman odori tempatnya.

Sebenarnya, hari ini boleh dibilang menyelam sambil minum es serut, eh, minum air.

Karena saya harus mengecek lokasi ujian buat minggu depan, yang jaraknya ternyata dekat saja dengan lokasi festival salju yang ada di taman odori.

Jadi ya sekalian jalan deh akhirnya..

Image may contain: one or more people, sky and outdoor

Lokasi festival di taman odori berjejer sepanjang 12 blok. Jarak totalnya kira-kira 2 km. Kalau ingin lihat bolak-balik kayak saya tadi ya berarti udah jalan minimal kira-kira 4 km..

Kalau dalam bahasa jepangnya, icchome (1丁目) sampai junichome (12丁目). Atau, dari blok 1 sampai blok ke 12.

Image may contain: sky, tree and outdoorDi setiap blok menyuguhkan hal yang berbeda. Misal, di blok pertama yang persis di bawah “Sapporo Tower”, ada lokasi yang diubah menjadi arena ice skating.

Lantas, kalau mau naik ke Sapporo tower juga bisa. Sampai lantai 3 gratis, kalau sampai puncak harus bayar. Saya? tidak melakukan dua-duanya, haha.Image may contain: tree and outdoor

Lalu di blok kedua, ada arena ski sama ice skateboard! Ada 3 sampai 4 pertunjukan setiap harinya. Tadi siang saya bisa lihat pertunjukan yang mulai jam 2 selama 30 menit.

Lalu di blok selanjutnya, ada patung Final fantasy gede banget. Kalau malam ada efek cahayanya yang sayang buat dilewatkan.

Ada juga patung “Star Wars” menakjubkan. Saya penasaran gimana cara mahatnya. detail banget.

Image may contain: 2 people, people standing, sky and outdoor

Serta masih banyak lagi.

Image may contain: tree, sky and outdoorImage may contain: outdoor

Festival seperti ini memang luar biasa. Tapi ada yang lebih membuat saya takjub adalah, kesungguhan penduduk lokal yang terus melestarikan kearifan budaya lokal mereka.

Sapporo menjadi tuan rumah yang menerima tamu dari berbagai negara.

Di sepanjang jalan di arena festival, begitu riuh canda tawa orang-orang dengan berbagai bahasa. Dan entah mengapa, saya menyukai keadaan itu.

Seperti berada di pusaran penduduk dunia dalam satu tempat.

Orang-orang Sapporo begitu ramah dan hangat walaupun selalu hidup dalam suhu rendah sepanjang tahun.

Berbeda bangsa, agama, suku, warna kulit, tinggi badan, dan segala macam perbedaan lainnya, bersatu padu dalam sebuah festival yang ada di titik beku.

Semua tersenyum, bergembira bersama, ahhhh, ternyata kerukunan itu memang menyatukan segala perbedaan..

Festival masih ada hingga akhir Image may contain: one or more people, crowd, table and outdoorpekan ini? Kalau ada kesempatan, silahkan datang..

Datang dan rasakan kehangatan penduduk lokal dalam balutan suhu minus di musim dingin ini..

Sapporo e youkoso!
Selamat datang di Sapporo…

 

Sapporo, 9 Febuari 2017. 20.10 waktu setempat. Hari ini agak hangat, matahari bersinar sepanjang hari..

Uki

Iklan

Festival Salju di Sapporo Sudah Dimulai! 札幌で雪祭りが始まりました!

17 Feb

#Yuki 11

19 Agustus 2015, hampir satu setengah tahun lalu, pertama kali saya mendengar nama kota Sapporo dari pihak Jepang yang mewawancarai saya di Jakarta.

Di sela-sela interview wajib, perwakilan pihak Jepang yang datang juga diberi kesempatan untuk mempresentasikan institusinya masing-masing kepada calon pendaftar. Atau lebih dikenal dengan sebutan “Setsumeikai”.

Saat itu, ketika di stand rumah sakit yang saat ini jadi tempat kerja saya, beberapa pertanyaan diajukan kepada kami.

“Sapporo itu dingin loh, tetap mau kerja di rumah sakit kami?” Ucap Shimada sensei, yang juga merupakan dokter bedah jantung di RS ini.

Beberapa teman menjawab. Lalu saya juga, “Moshi chansu ga areba, zehi kono byouin de zehi hatarakitai desu (Misal ada kesempatannya, saya benar-benar ingin bekerja di RS ini)” Jawab saya waktu itu.

Image may contain: 1 person, smiling, snow, tree, outdoor and nature

Dan semenjak akhir tahun lalu, akhirnya saya benar-benar bisa menginjakkan kaki di Sapporo dan mulai bekerja di RS yang pernah mewawancarai saya satu setengah tahun lalu.

Sapporo, begitu kata ini terucap, banyak orang yang langsung punya keinginan untuk datang dan menyaksikan “Yuki Matsuri” atau perayaan salju yang terkenal sampai mancanegara.

Umumnya, orang yang datang kesini hanya beberapa hari. Wisata ke daerah yang durasi turun saljunya berbeda dengan daerah lain di Jepang.

Nah, kalau rata-rata orang kesini untuk wisata, saya malah tinggal untuk jangka waktu yang cukup lama, hehe.

Kalau saat ini daerah di Osaka sudah mulai menghangat karena bulan maret akan masuk musim semi. Sapporo dan Hokkaido pada umumnya justru kebalikan. Bulan febuari adalah bulan dimana suhu akan mencapai titik terendahnya!

Rata-rata stabil di angka minus 6 sampai minus 10 derajat celcius. Tapi kata teman saya yang orang Jepang, selama festival salju berlangsung, suhu pernah drop sampai minus 15 derajat celcius!

Itu bukan beku lagi, tapi emaknya beku mungkin, hehe.

Sebenarnya, bukan hanya dingin yang jadi persoalan. Saya dulu berfikir kalau pas turun salju itu pasti dingin. Tapi ternyata bukan begitu, kadang saat turun salju, suhunya malah tidak sedingin biasanya.

Yang lebih perlu diwaspadai adalah angin! Walaupun tidak turun salju, tapi kalau pas anginnya kenceng, baju berlapis sama jaket pun seakan tidak berfungsi maksimal.

Mending masuk ke mall atau di kamar aja sambil nyalain penghangat. Beneran deh.
Nah, beberapa teman ada yang berkomentar, “Wah, Mas Uki jalan-jalan terus nih..”

Ya, kan memang setiap hari saya jalan. Dari asrama sampai rumah sakit pasti jalan kaki, hehe.

“Maksud saya, jalan-jalan ke tempat wisata di Sapporo. enaknyaaaa…..” Lanjut teman saya.

Oh, begitu. Baiklah, sebelum saya jawab, saya kutip sebuah tulisan ciamik dari teman saya, Mas Lucky. Berikut petikannya,

“Bekerja di RS memang mau tidak mau harus berhadapan dengan berbagai kejadian-kejadian ‘diluar nalar’ kehidupan.

“Melihat bagaimana seseorang akan meninggal, melihat kondisi yang mengancam, melihat bagaimana reaksi keluarga akan kehilangan, serta bekerja seolah-olah berlomba dengan Sang Maut mana yang lebih cepat atau bahkan melihat saat keluarga dan kerabat kita sakit dan kita adalah orang yang bekerja di RS tersebut.

“Percayalah semua itu bukanlah suasana lingkungan yang baik untuk kesehatan fisik dan mental.

Nah, untuk menanggulangi hal itu, ada berbagai cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan rekreasi atau piknik!

Mumpung sedang di Sapporo, ditambah dengan hari libur, daripada bengong di kamar, juga untuk menghemat biaya mesin penghangat, kan lebih baik keluar dan jalan-jalan.

Yang pertama adalah ke Tsudome, tempat festival salju yang ternyata, sangat dekat dengan asrama saya.

Cukup jalan sekitar 1 km aja sampai! Padahal sebelumnya, saya cuma tahu festival itu diadakan di Odori park aja.

Image may contain: 1 person

Nah, setelah berjalan sekitar 20 menit, tadaaaa, sampailah saya di Tsudome, dekat dengan stasiun Sakaemachi.

Disana, sebuah stadion indoor yang dirubah menjadi wahana bermain bagi anak-anak. Banyaknya perosotan atau “suberidai” menjadikan banyak orang tua dan guru TK dan SD membawa anak ataupun anak didiknya kesini.

Wisatawan lokal dan asing pun banyak yang datang. Sayangnya, saya belum ketemu orang dari Indonesia maupun Malaysia.No automatic alt text available.

Oh ya, festival di Tsudome ini berlangsung dari tanggal 1 sampai 12 febuari. Buka dari jam Image may contain: outdoor9 sampai 5 sore.

Yang unik disini adalah banyaknya perosotan dengan berbagai jenis.

Perosotan Indoor yang terbuat dari karet serta outdoor yang terbuat dari salju, sungguh sangat menggoda. Hanya saja, saya belum mencoba keduanya.

Alasannya, yang indoor, batas usia yang diperbolehkan adalah sampai usia 12 tahun. Saya? 12 dikali dua pun masih lebih, haha.

Yang outdoor, tadinya ingin mencoba. Tapi pas mau antri, tiba-tiba turun salju disertai angin kencenng banget! Tangan saya sampai mati rasa. Padahal sudah pakai sarung tangan!

Segera saya masuk gedung, menghangatkan diri.

Image may contain: one or more people, snow, nature and outdoor

Setelah foto-foto sejenak, kemudian saya lanjut mau lihat persiapan festival salju yang ada di Odori park.

Setelah turun di stasiun Sapporo, saya shalat dulu kemudian lanjut jalan.

Kok tahu jalannya? Saya selalu pakai google maps.

Ternyata, jalan yang saya tempuh, melewati sebuah bangunan fenomenal yang ada di Sapporo. Namanya “Akarenga” atau artinya batu bata merah.

Sebetulnya namanya “Hokkaidochou” atau gedung gubernuran Hokkaido, tapi karena seluruh bangunannya memakai batu bata yang berwarna merah, lebih dikenal dengan nama “Akarenga”.

Gedung ini terbuka untuk umum. Mulai pukul 10 pagi sampai 6 sore. Gratis! Di depan gedung, ada stand pemandu bagi yang ingin mendapatkan layanan bahasa inggris.

Para pemandunya baik banget, ringan tangan, yang datang sendiri kayak saya akhirnya dibantu buat ambil foto, haha.

Tahu aja mereka kalau saya butuh bantuan. Dan….akhirnya saya ketemu dengan Olaf! Sayangnya, Elsa sama Ana nya gak ada, mungkin lagi sibuk syuting film berikutnya, hehe.

Terakhir, yang menjadi magnet jutaan wisatawan asing saat festival salju adalah di Odori koen atau Odori park.

Saya tahu, tamannya belum dibuka karena acaranya baru mulai tanggal 6 sampai 12 febuari nanti. Tapi saya ingin lihat proses pembutannya.

Benar saja, salju dan es dalam ukuran yang sekian banyaknya perlahan-lahan terlihat menjadi berbagai bentuk yang menawan.

Image may contain: sky, tree, snow and outdoor

Alat-alat berat, para pekerja yang hilir mudik, memahat, menyusun, mengukir, membentuk es yang sedemikian dinginnya menjadi bentuk yang beraneka ragam!

Beberapa saya ambil fotonya, sebagai kenang-kenangan.

Juga, yang membuat saya senang adalah dibangunnya Iglo! atau rumah es yang mirip rumah es orang yang tinggal di Kutub.

Rasanya gak sabar nunggu tanggal 6 febuari. Mau keliling-keliling lagi.

Kalau yang mau ikut, ayok bareng-bareng pergi ke festival salju di Odori park hari senin nanti….

 

Sapporo, 2 febuari 2017. 21.50 waktu setempat.

Uki

Tokyo dan Secarik Cerita

17 Feb

#Yuki 10

Image may contain: sky and outdoor

Bandara Chitose Hokkaido yang bersalju

Bandara dan udara. Sampai lulus kuliah, saya begitu asing dengan kata-kata itu.

 

Perjalanan ke Batam beberapa tahun lalu, sekaligus pertama kali memasuki dunia kerja juga, adalah kali pertama saya merasakan perjalanan udara.

Boleh dikata, sekarang saya mulai menapaki pengalaman baru. Pergi dengan pesawat domestik tapi di dalam negeri orang lain.

Hal ini juga baru saya ketahui bulan lalu.

Peserta program perawat ke jepang yang melalui program EPA, mendapatkan kesempatan untuk mengikuti belajar bersama (benkyoukai, bahasa jepangnya) yang diadakan di dua tempat. Osaka dan Tokyo.

Satu catatan penting, seluruh biaya pelatihan dan perjalanan ditanggung..

Nah, untuk daerah Kansai dan sekitarnya, pelatihan bertempat di Osaka. Lalu, peserta yang mendapatkan tempat kerja di daerah Kanto serta Tohoku, mendapatkan kesempatan belajar di Tokyo.

Karena Sapporo masuk wilayah Tohoku, jadi saya harus ke Tokyo untuk mengikuti pelatihan, atau belajar bersama guna persiapan ujian nasional keperawatan di Jepang (kango kokkashiken).Image may contain: 2 people, crowd and outdoor

Jarak Sapporo dengan Tokyo adalah 1,5 jam dengan pesawat. Kalau naik shinkansen sekitar 4 jam, itupun baru sampe kota Hakodate. Masih harus dilanjut dengan kereta cepat dengan waktu tempuh 3,5 jam. Hampir delapan jam…

Jarak 1,5 dengan pesawat itu mirip Batam ke Jakarta, namun untuk keadaan Sapporo dan Tokyo, benar-benar berbeda.

Yang satu masih beku dan akan semakin beku menjelang bulan febuari. Yang satunya, benar-benar cerah dengan sinar matahari yang menghangatkan, walaupu
n suhunya juga drop saat malam juga sih…

Tapi, pertama kali mendarat di bandara Haneda hari minggu yang lalu, saya langsung berkeringat. Ya, secara, pakaian yang saya pakai berlapis-lapis.

Sudah hampir sebulan lebih saya di Sapporo belum pernah keringetan, karena suhunya yang stabil di bawah nol derajat.

Dengan suhu Tokyo yang 11 derajat saja, sudah beda yang saya rasakan, apalagi kalau pas pulang ke Indonesia saat cuti nanti. Mungkin langsung “gobyos” sama keringat badan saya, hehe…

Sekarang cerita soal pelatihan.

Tempat pelatihan bertempat di hotel Dai Ichi Ryougoku, Tokyo. Ruang kelas terpisah dengan ruangan menginap. kemarin saya mendapatkan tempat menginap di lantai 17, bersama teman saya yang sekarang bekerja di Nagano.

Skytree yang terkenal itu terasa begitu dekat dari ketinggian segitu.

Isi dalam ujian nasional keperawatan itu terbagi menjadi 12 tipe. Ada soal wajib, keperawatan dewasa, keperawatan anak, soal undang-undang jepang, dan lain-lain.

Pertemuan 2 hari kemarin itu baru membahas soal wajib atau hisshu mondai saja. Itu pun sudah bikin geleng-geleng. Ternyata, banyaaaak yang belum saya tahu, beneran deh.

Nah, dalam setahun, kesempatan belajar di Tokyo ada 5 kali. Dengan catatan, selama belum lulus ujian nasional masih boleh ikut belajar bareng.

Semisal, bulan depan tanggal 19 di ujian nasional keperawatan jepang yang ke 106 itu lulus, maka sudah tidak perlu belajar lagi ke Tokyo. Lah, kan sudah lulus, iya kan?

Kalau sudah lulus, maka level tantangannya akan naik, harus mulai belajar dengan preseptor yang ada di ruangan. Namun juga, gaji juga bisa naik rata-rata 50-100 persen..

Pelatihan dua hari yang full bahasa jepang itu juga hal baru bagi saya. Awalnya, senseinya masih nyaman didengarkan dan masih bisa diajak diskusi.

Nah, di hari kedua, karena tenggat waktu sampe jam 4 sore, dan soal yang dibahas masih banyak, akhirnya di beberapa bagian dikebut..

Sebagian besar rata-rata bisa dipahami oleh para peserta. Namun, tentu saja ada hal yang belum dimengerti. Oleh sebab itu, pelajaran bisa dilanjutkan secara online le

Image may contain: 1 person, smiling, standing, tree and outdoor

Patung hachiko

wat e-learning.

 

Jadi, kalau mau bertanya, diskusi dengan sensei yang terkait pun bisa.

Pelatihan selesai, kami dapat oleh-oleh sebendel makalah dan buku untuk persiapan ujian bulan depan.

Karena pesawat saya berangkat di hari berikutnya alias hari ini, tadi malam saya berkesempatan untuk silaturahim sekaligus menginap di rumah mas yusup yang sudah menjadi perawat di jepang sejak lulus ujian keperawatan 5 tahun lalu.

Jadi beliau sudah di jepang selama 9 tahun. Cerita demi cerita saya dengarkan dengan seksama.

Banyak hal dari pengalaman beliau yang menjadi masukan buat saya. Insyaallah cerita dengan beliau akan saya tulis di cerita berikutnya..

Image may contain: 2 people, people smiling, sky and outdoor

Di depan Toyo Dome dengan Mas Yusup

Dan tadi pagi, ditemani oleh beliau, saya berkesempatan mengunjungi beberapa tempat wisata “gratisan” di Tokyo.

Baiklah, sebentar lagi pesawat saya berangkat ke Sapporo. Pesawat “Air Do” yang akan membawa saja kembali ke kota es lagi.

Oh ya, bulan depan tanggal 6 sampai 12 febuari akan ada yuki matsuri, atau snow festival, atau festival salju di Sapporo?

Ada yang mau datang? Ntar saya jadi guide nya deh, hehe.

 

Tokyo, 25 Januari 2017. 17.55 waktu setempat. Ruang tunggu Bandara Haneda.

Uki

Ketemu Ruswan Surya Permana Sensei di Sapporo

2 Jan

#Yuki 5

“Besok bisa ketemu?..” Tanya Ruswan sensei di hari jumat yang lalu.

“Sensei mau ke Sapporo?” Saya balik nanya.

“Iya, lagi ada kerjaan, sekalian kalau bisa ketemu,” Sambungnya.

Itu adalah percakapan beberapa hari yang lalu, sehari sebelum beliau berangkat ke Sapporo.

Keesokan harinya, meeting point sudah ditentukan. Jam 3 sore di stasiun Sapporo.

“Saya pakai jaket cokelat ya. Nanti ketemu di pintu barat stasiun JR,” Tulisnya dalam percakapan di inbox facebook.

Setelah beberapa saat, ketika akan segera berangkat, beliau menelpon saya dengan tergesa-gesa.

“Arsyad san, tolong jangan berangkat dulu. Disini macetnya gak ‘ketulungan’. Kata petugasnya, antrinya bisa sampai 3 jam lewat,” Ucap beliau.

Saya yang awalnya mau berangkat, terpaksa menunda beberapa saat.

Eh, beberapa saat kemudian ada pesan masuk, “Saya berangkat sekarang ya.”

Segera saya menuju Stasiun Shindohigashi untuk naik kereta bawah tanah menuju stasiun Sapporo. Tidak terlalu lama, 15 menit kemudian saya sampai dan segera menuju ke meeting point.

Setelah ketemu tempat yang sesuai dengan janji, pesan baru masuk. Saat itu masih jam 3 sore.

“Arsyad san, kayaknya susah untuk ketemu hari ini. Antriannya mengular, dari bandara chitose ke arah manapun macet. Bus, kereta, semua bakal terlambat. Ada salju tebal yang menumpuk…” Tulisnya di pesan facebook.

Kejadian semacam ini memang bisa terjadi di Sapporo.

Jadwal bus dan kereta bisa ditunda lama karena salju. Apalagi hari kamis dan jumat kemarin, terjadi peristiwa turun salju lebat di bulan desember yang terakhir terjadi 50 tahun lalu. Itu sesuai berita yang saya lihat.

Hujan salju di Sapporo, atau Hokkaido secara keseluruhan adalah hal yang lumrah.

Namun, turun salju selebat kemarin dan di bulan desember adalah hal yang tidak wajar. Seperti turunnya salju di bulan November di Tokyo kemarin, juga hal yang sama.

“Saya tunggu sampai jam 6 sensei. Karena jam 7 saya ada janji juga dengan Shimada sensei,” jawab saya di pesan facebook.

“Ok, semoga bisa bertemu sebelum jam 6 sore,” balasnya.

Akhirnya, sambil menunggu. Saya muter-muter di mall yang ada di atas stasiun sapporo. Luasssss bangettt ternyata.

Saya segera buka internet dan cari tempat shalat. Ketemu. Di Mall Daimaru lantai 3. Ada tulisan kanji “礼拝室”, bacanya reihaisitsu atau dalam bahasa inggris prayer room alias tempat shalat.

Saya shalat ashar disana dan ketemu dengan orang Malaysia yang juga habis shalat. Setelah berbincang sebentar, kemudian saya segera shalat.

Setelah itu, saya nyasar ke toko Big Camera untuk mencari tahu bagaimana cara membeli kartu “freetel” agar bisa mempunyai nomor telpon disini sekaligus paket internetnya.

Informasi dapat, harganya lumayan murah, namun sayangnya, harus punya kartu kredit. Karena saya tidak punya, jadi harus buat dulu. Yah, belinya besok-besok lagi deh.

Setelah itu, sekitar jam setengah 5, Kembali saya ke Daimaru untuk shalat maghrib. Setelah itu pesan baru masuk,

“Arsyad san, gomenasai. Kayaknya hari ini susah ketemunya. Insyaallah, saya usahakan ketemu sebelum balik ya,” Tulis beliau.

“Zenzen kamaimasen. Gak apa-apa sensei. Semoga ada kesempatan yang lain,” Balas saya.

Setelah itu saya pulang asrama.

Kemarin, rencananya juga mau ketemu. Tapi sekali lagi, batal karena beliau harus menemani para turis yang dibawanya jalan-jalan hingga larut malam.

Dan beberapa saat yang lalu. Akhirnya saya bisa bertemu dengan beliau. Padahal tidak ada janji sebelumnya.

Biasanya, saya pulang dari RS sekitar jam 6 sore. Namun tadi, jam 7 saya baru pulang karena habis ngobrol dengan staf “Speech therapy” di ruang perpus RS.

Namanya Hirao san, umurnya 3 tahun dibawah saya tapi lancar banget bahasa jepangnya. (Ya iyalah, namanya juga orang jepang, hehe).

Ketika hendak ganti baju, saya kembali dihubungi beliau, “30 menit lagi saya sampai di stasiun Shindohigashi. Tolong tunggu disana ya,”

Kok pas banget, pikir saya. Setelah ganti baju, segera saya meluncur ke tempat yang disebutkan.

Dan alhamdulillah bisa bertemu. Setelah 2 kali gagal, akhirnya yang ketiga bisa ketemu juga.

Sampai di asrama saya, walaupun dalam waktu yang singkat, tidak sampai 1 jam, ada secercah ilmu baru yang saya dapatkan.

“Saya tadi ‘melarikan diri’ sejenak dari rombongan. Mumpung mereka sedang belanja, saya segera kesini,” Ucapnya tadi.

“Saat saya kirim pesan tadi, itupun sambil lari ke stasiun,” Ucapnya.

Ya, pertemuan singkat tadi sungguh sangat berkesan. Sambil menyantap bakwan goreng yang masih hangat, ditemani sambal ulek pedas mantap, beliau bercerita,

“Saya salut dengan teman-teman yang merantau ke Jepang ini,”

“Sejatinya, belajar bahasa jepang itu bukan soal bisa atau tidak. Tapi apakah mau atau tidak,”

“Belajar bahasa itu tidak selalu soal nilai diatas kertas saja. Tapi lebih kepada sebarapa banyak kita mempraktekkannya, khususnya kepada orang jepang yang memang itu bahasa mereka,”

“Jika itu terus dilakukan, saya yakin, kemampuan bahasa jepang akan meningkat dengan cepat. Yakinlah dengan hal itu,” sambungnya.

Kemudian beliau segera pamit pulang karena sudah ditunggu rombongan.

Sebenarnya, beliau adalah bukanlah sensei yang pernah mengajar saya dalam hal bahasa jepang. Beliau adalah sensei bahasa Jepang yang pernah mengajar teman-teman saya di Yayasan Bima, Jakarta.

Saya memanggilnya sensei karena memang beliau adalah seorang sensei, bagi teman-teman saya, maupun bagi siapapun yang mau belajar darinya. Baik tentang bahasa maupun tentang pengalamannya.

Kunjungan yang singkat, obrolan serta bakwan yang hangat dengan sambel yang maknyus, akan menjadi catatan tersendiri buat saya dalam perjalanan di Sapporo ini.

Wazawaza irasshatte itadaki, hontouni arigatou gozaimasu.

Mata aimashou, sensei.

Sapporo, 28 Desember 2016. 23.00 Waktu setempat. Suhu luar minus 5 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.

Selamat Datang Di Bumi Reyog Kawan

14 Okt

#Turn On 71

“Tinggal bentar lagi mas, lurus saja”.

Pernyataan yang datang dari penduduk yang tinggal di tengah hutan itu, akan menjadi salah satu hal yang akan saya ingat untuk waktu lama. Mengapa demikian?.

Pagi ini, waktu menunjukkan pukul 05.30,  setelah direncanakan jauh hari sebelumnya, saya dan bapak akan pergi mengunjungi adik saya yang ada di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Tepatnya di Gontor satu. Sebenarnya, setelah saya membaca novel “Negeri Lima Menara” nya Ahmad Fuadi sekitar empat tahun lalu, justeru saya yang ingin ke tempat ini. untuk menuntut ilmu. Untuk belajar bahasa-bahasa dunia. Karena memang system disini mengharuskan para santri untuk menggunakan bahasa arab dan inggris selama tujuh hari kali dua puluh empat jam. Baca lebih lanjut