Dari Cerita Seorang Kakak Tingkat

#Yuki 44

Hari ini, semilir angin sejuk membuat saya terhenti sejenak di taman depan bangunan tua di pusat kota Sapporo, namanya Akarenga.

Duduk di bangku taman, sembari burung dara lewat terbang rendah, dan pesona alam pun mulai terlihat, daun maple mulai berubah warna kemerahan.

Hari ini, 6 tahun lalu, tanggal 15 september juga, kedua kalinya saya bertemu dan mendengarkan kisah seorang kakak tingkat yang telah menembus batas baru, menjadi perawat berlisensi di Amerika Serikat, tepatnya di Houston, Texas.

Saya yang memendam cita-cita, agar suatu saat bisa “Go International” juga, tentu antusias datang, menyimak, dan mendengarkan dengan seksama apa saja yang diceritakannya.

Memang terdengar indah, saat dia bercerita keadaannya sekarang. Sudah lulus ujian perawat Internasional di US, dan tentu saja bergaji tinggi, plus foto jalan-jalannya yang sudah ke beberapa benua.

Namun, ketika cerita sampai pada saat perjuangannya bagaimana bisa sampai kesana, pengorbanan, jauh dari keluarga, tawa serta tangis yang ikut menemani, ah, saya kira belum tentu semua bisa mengikuti jejaknya. Termasuk saya juga.

Namun, pencapaian pada puncak tertinggi tentu harus dicapai dengan langkah yang tidak mudah.

Mendaki Gunung Everest tentu tidak sama dengan mendaki gunung Muria di Kudus.

Pernah saya ingin mengikuti jejaknya, namun apa daya, kesempatan ke US sudah ditutup.

Tertutup satu pintu, maka akan terbuka pintu lainnya. Kurang lebih begitulah pepatah berujar.

Dua kali kesempatan ke Timur Tengah ternyata belum mengijinkan saya memasuki pintunya.

Karena memang bandel, saya ingin mencoba lagi, dengan kesempatan yang berbeda.

Lama pendaftaran, sabar menanti hasil dengan harap-harap cemas, ikut membalut perjalanan saya hingga sampai tahap ini.

Belum, saya belumlah bisa disebut perawat disini. Simply, lisensi perawat belum saya dapatkan.

Lolos dan bisa masuk ke Jepang bukanlah suatu akhir, tapi masuk lagi ke dalam awal proses baru, terus, dan akan berlanjut.

Sembari bekerja, orientasi budaya, tugas utama kami adalah belajar. Belajar bahasa serta ilmu keperawatan yang semula berupa bahasa Indonesia dan Inggris, bertransformasi ke dalam deretan huruf kanji.

Susah, tapi tidak mustahil. Bisa, asal memang ada kemauan. Tentu saja hal ini juga kesempatan yang bagus untuk bisa memunculkan potensi terbaik, asal memang mau mengasahnya.

Berselang 6 tahun, pemandangan indah juga turut terlihat di sepanjang perjalanan.

Jika dulu saya tergerak oleh sebuah cerita dari benua seberang, apakah suatu saat saya juga akan bisa memberi kontribusi yang sama?

Entahlah.

Coba kita tanyakan pada daun maple yang bergoyang…

Sapporo, 15 September 2017. Taman Akarenga..

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s