Tag Archives: luar negeri

Festival Salju di Sapporo Sudah Dimulai! 札幌で雪祭りが始まりました!

17 Feb

#Yuki 11

19 Agustus 2015, hampir satu setengah tahun lalu, pertama kali saya mendengar nama kota Sapporo dari pihak Jepang yang mewawancarai saya di Jakarta.

Di sela-sela interview wajib, perwakilan pihak Jepang yang datang juga diberi kesempatan untuk mempresentasikan institusinya masing-masing kepada calon pendaftar. Atau lebih dikenal dengan sebutan “Setsumeikai”.

Saat itu, ketika di stand rumah sakit yang saat ini jadi tempat kerja saya, beberapa pertanyaan diajukan kepada kami.

“Sapporo itu dingin loh, tetap mau kerja di rumah sakit kami?” Ucap Shimada sensei, yang juga merupakan dokter bedah jantung di RS ini.

Beberapa teman menjawab. Lalu saya juga, “Moshi chansu ga areba, zehi kono byouin de zehi hatarakitai desu (Misal ada kesempatannya, saya benar-benar ingin bekerja di RS ini)” Jawab saya waktu itu.

Image may contain: 1 person, smiling, snow, tree, outdoor and nature

Dan semenjak akhir tahun lalu, akhirnya saya benar-benar bisa menginjakkan kaki di Sapporo dan mulai bekerja di RS yang pernah mewawancarai saya satu setengah tahun lalu.

Sapporo, begitu kata ini terucap, banyak orang yang langsung punya keinginan untuk datang dan menyaksikan “Yuki Matsuri” atau perayaan salju yang terkenal sampai mancanegara.

Umumnya, orang yang datang kesini hanya beberapa hari. Wisata ke daerah yang durasi turun saljunya berbeda dengan daerah lain di Jepang.

Nah, kalau rata-rata orang kesini untuk wisata, saya malah tinggal untuk jangka waktu yang cukup lama, hehe.

Kalau saat ini daerah di Osaka sudah mulai menghangat karena bulan maret akan masuk musim semi. Sapporo dan Hokkaido pada umumnya justru kebalikan. Bulan febuari adalah bulan dimana suhu akan mencapai titik terendahnya!

Rata-rata stabil di angka minus 6 sampai minus 10 derajat celcius. Tapi kata teman saya yang orang Jepang, selama festival salju berlangsung, suhu pernah drop sampai minus 15 derajat celcius!

Itu bukan beku lagi, tapi emaknya beku mungkin, hehe.

Sebenarnya, bukan hanya dingin yang jadi persoalan. Saya dulu berfikir kalau pas turun salju itu pasti dingin. Tapi ternyata bukan begitu, kadang saat turun salju, suhunya malah tidak sedingin biasanya.

Yang lebih perlu diwaspadai adalah angin! Walaupun tidak turun salju, tapi kalau pas anginnya kenceng, baju berlapis sama jaket pun seakan tidak berfungsi maksimal.

Mending masuk ke mall atau di kamar aja sambil nyalain penghangat. Beneran deh.
Nah, beberapa teman ada yang berkomentar, “Wah, Mas Uki jalan-jalan terus nih..”

Ya, kan memang setiap hari saya jalan. Dari asrama sampai rumah sakit pasti jalan kaki, hehe.

“Maksud saya, jalan-jalan ke tempat wisata di Sapporo. enaknyaaaa…..” Lanjut teman saya.

Oh, begitu. Baiklah, sebelum saya jawab, saya kutip sebuah tulisan ciamik dari teman saya, Mas Lucky. Berikut petikannya,

“Bekerja di RS memang mau tidak mau harus berhadapan dengan berbagai kejadian-kejadian ‘diluar nalar’ kehidupan.

“Melihat bagaimana seseorang akan meninggal, melihat kondisi yang mengancam, melihat bagaimana reaksi keluarga akan kehilangan, serta bekerja seolah-olah berlomba dengan Sang Maut mana yang lebih cepat atau bahkan melihat saat keluarga dan kerabat kita sakit dan kita adalah orang yang bekerja di RS tersebut.

“Percayalah semua itu bukanlah suasana lingkungan yang baik untuk kesehatan fisik dan mental.

Nah, untuk menanggulangi hal itu, ada berbagai cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan rekreasi atau piknik!

Mumpung sedang di Sapporo, ditambah dengan hari libur, daripada bengong di kamar, juga untuk menghemat biaya mesin penghangat, kan lebih baik keluar dan jalan-jalan.

Yang pertama adalah ke Tsudome, tempat festival salju yang ternyata, sangat dekat dengan asrama saya.

Cukup jalan sekitar 1 km aja sampai! Padahal sebelumnya, saya cuma tahu festival itu diadakan di Odori park aja.

Image may contain: 1 person

Nah, setelah berjalan sekitar 20 menit, tadaaaa, sampailah saya di Tsudome, dekat dengan stasiun Sakaemachi.

Disana, sebuah stadion indoor yang dirubah menjadi wahana bermain bagi anak-anak. Banyaknya perosotan atau “suberidai” menjadikan banyak orang tua dan guru TK dan SD membawa anak ataupun anak didiknya kesini.

Wisatawan lokal dan asing pun banyak yang datang. Sayangnya, saya belum ketemu orang dari Indonesia maupun Malaysia.No automatic alt text available.

Oh ya, festival di Tsudome ini berlangsung dari tanggal 1 sampai 12 febuari. Buka dari jam Image may contain: outdoor9 sampai 5 sore.

Yang unik disini adalah banyaknya perosotan dengan berbagai jenis.

Perosotan Indoor yang terbuat dari karet serta outdoor yang terbuat dari salju, sungguh sangat menggoda. Hanya saja, saya belum mencoba keduanya.

Alasannya, yang indoor, batas usia yang diperbolehkan adalah sampai usia 12 tahun. Saya? 12 dikali dua pun masih lebih, haha.

Yang outdoor, tadinya ingin mencoba. Tapi pas mau antri, tiba-tiba turun salju disertai angin kencenng banget! Tangan saya sampai mati rasa. Padahal sudah pakai sarung tangan!

Segera saya masuk gedung, menghangatkan diri.

Image may contain: one or more people, snow, nature and outdoor

Setelah foto-foto sejenak, kemudian saya lanjut mau lihat persiapan festival salju yang ada di Odori park.

Setelah turun di stasiun Sapporo, saya shalat dulu kemudian lanjut jalan.

Kok tahu jalannya? Saya selalu pakai google maps.

Ternyata, jalan yang saya tempuh, melewati sebuah bangunan fenomenal yang ada di Sapporo. Namanya “Akarenga” atau artinya batu bata merah.

Sebetulnya namanya “Hokkaidochou” atau gedung gubernuran Hokkaido, tapi karena seluruh bangunannya memakai batu bata yang berwarna merah, lebih dikenal dengan nama “Akarenga”.

Gedung ini terbuka untuk umum. Mulai pukul 10 pagi sampai 6 sore. Gratis! Di depan gedung, ada stand pemandu bagi yang ingin mendapatkan layanan bahasa inggris.

Para pemandunya baik banget, ringan tangan, yang datang sendiri kayak saya akhirnya dibantu buat ambil foto, haha.

Tahu aja mereka kalau saya butuh bantuan. Dan….akhirnya saya ketemu dengan Olaf! Sayangnya, Elsa sama Ana nya gak ada, mungkin lagi sibuk syuting film berikutnya, hehe.

Terakhir, yang menjadi magnet jutaan wisatawan asing saat festival salju adalah di Odori koen atau Odori park.

Saya tahu, tamannya belum dibuka karena acaranya baru mulai tanggal 6 sampai 12 febuari nanti. Tapi saya ingin lihat proses pembutannya.

Benar saja, salju dan es dalam ukuran yang sekian banyaknya perlahan-lahan terlihat menjadi berbagai bentuk yang menawan.

Image may contain: sky, tree, snow and outdoor

Alat-alat berat, para pekerja yang hilir mudik, memahat, menyusun, mengukir, membentuk es yang sedemikian dinginnya menjadi bentuk yang beraneka ragam!

Beberapa saya ambil fotonya, sebagai kenang-kenangan.

Juga, yang membuat saya senang adalah dibangunnya Iglo! atau rumah es yang mirip rumah es orang yang tinggal di Kutub.

Rasanya gak sabar nunggu tanggal 6 febuari. Mau keliling-keliling lagi.

Kalau yang mau ikut, ayok bareng-bareng pergi ke festival salju di Odori park hari senin nanti….

 

Sapporo, 2 febuari 2017. 21.50 waktu setempat.

Uki

Iklan

Ketika “Perawat” Menjelajah Dunia Baru

8 Jan

#Yuki 7

Foto Arsyad Syauqi.

Namanya mas Arif Indiarto, lulusan Poltekkes Semarang tahun 2002. Pertama kali saya mengenalnya ketika beliau memberikan kuliah umum di kampus saat saya masih tingkat 2, tahun 2010.

Sekarang beliau sudah menjadi perawat berlisensi Amerika dan bekerja di salah satu rumah sakit di Houston.

Artikel yang pernah ditulisnya, “Dari Logo Poltekkes Semarang Sampai ke Negeri Obama”, yang bisa ditemukan di internet, saya kira telah berhasil menginspirasi banyak orang. Boleh jadi saya satunya.

Ketika itu saya meniatkan diri, saya juga harus bisa sampai ke luar negeri. Tapi caranya bagaimana? Saya belum tahu.

Setelah pertemuan itu, saya mencari kontak facebooknya. Ketemu. Saya menghubungi beliau, dan boleh jadi, ketika itu pertanyaan saya terlalu “kemana-mana”, namun beliau masih bersedia menjawabnya.

Padahal dari cerita beliau, saya tahu betul, kehidupannya disana sungguh sangat sibuk. Bekerja, sembari belajar, dan telah menyelesaikan S1 nya di Amerika.

Info terakhir yang saya dengar, beliau lanjut lagi mengambil program master atau S2 bidang anestesi disana. Sungguh, pembelajar yang tangguh!

Dan tanpa saya sadari, beliaulah yang menjadi role model saya. Menjadi salah satu inspirasi saya untuk menembus batas agar bisa “belajar” di dunia global juga.

Ketika melewati masa kerja selama 2 tahun di Batam, saya kembali aktif mencari info untuk keluar negeri.

Tujuan utama saya saat itu, RN (Registered Nurse) di Amerika. Berbagai info saya cari, tidak lupa bertanya kepada relasi yang mempunyai info tentang cara kesana. Hasilnya nihil.

Program yang pernah diikuti seperti mas Arif bertahun lalu sudah tidak ada. Ditambah dengan info bahwa Amerika sedang mengurangi tenaga perawat asing, karena ingin memberdayakan perawat dalam negeri. lengkaplah sudah, satu pintu telah tertutup.

Lalu saya dapat kabar, ada info ke Kuwait. RS pemerintah disana buka lowongan lewat agen di Jakarta. Saya telpon, diminta kirim lamaran. Segera saya lengkapi lamaran tersebut, kirim lewat pos dan softcopy juga.

Bulan demi bulan berlalu, kabar pun tidak kunjung datang. Saya hubungi nomor telpon yang pernah aktif, tiba-tiba tidak nyambung. Entah mereka “liburan” kemana. Kok tiba-tiba “plesir” begitu saja.

Beberapa bulan kemudian, ada seorang teman dari Semarang yang memposting sebuah informasi “Dibutuhkan Perawat ke Qatar…”.

Segera saya tangkap peluang itu, saya tanya berbagai hal, kemudian bolak-balik Batam-Jakarta hingga beberapa kali.

Pendaftaran lah, latihan wawancara lah, persiapan mengenai ini itu lah. Tidak terhitung waktu dan biaya yang habis saat itu.

Sampai ibu saya bilang, “Kamu itu bolak-balik Jakarta ke Batam kayak pergi main ke rumah tetangga saja..”.

Ibu dan Bapak saya hanya pernah sekali melakukan perjalanan naik pesawat, saat diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa bertamu ke Kabah.

Nah, saya dibilang oleh ibu kalau naik pesawat sudah kayak naik bus aja. Karena saking seringnya.

Padahal kalau boleh memilih, saya mending naik bus aja kalau bisa. Naik pesawat sungguh berat di ongkos coy..

Setelah proses demi proses saya ikuti, kembali saya harus menelan pil pahit lagi.

Saya sudah bayar untuk biaya pelatihan dan persiapan tes. Tiba-tiba dari pihak PJTKI nya bilang bahwa seleksinya ditunda, hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan!

Catat, batas waktu yang belum bisa ditentukan!

Memanglah tipikal khas orang Indonesia, menggunakan bahasa halus untuk memberikan suatu kabar, sampai kabar pahit dari proses seleksi dibatalkan pun dibilang ditunda. Dari 2014, hingga hari ini, tidak ada kabar lagi.

Baru 3 kali, atau sudah 3 kali, sama saja. Yang jelas, ini pil pahit ketiga bagi saya. Saya begitu paham arti kata “ditolak”, betul-betul saya rasakan sampai 3 kali.

“Masih ada kesempatan, Mas,” Kata Direktur Almamater saya.

Perbincangan itu berlangsung sebentar mengingat beliau memang punya banyak agenda. Bisa bertemu sebentar pun saya sudah bersyukur.

Saya punya kebiasaan rutin, kalau pulang setahun sekali, saya usahakan bertemu dengan bapak ibu dosen di kampus, serta guru-guru saya, walaupun hanya sekedar berjabat tangan dan saling bertanya kabar.

Tidak lupa mampir ke Direktorat, siapa tahu bisa bertemu pak Direktur. Karena memang hubungan dengan orang-orang di kampus sudah seperti orang tua saya sendiri.

“Ada program ke Jepang buat perawat. Siapa tahu Mas Uki bisa masuk,” Sambung beliau.

Kemudian, segera saya mencari info tentang perawat ke Jepang. Info saya dapat, lalu saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Saya ingin fokus, ingin kursus dulu, ingin persiapan yang matang setelah “ditolak” tiga kali.

Sebelum itu, tentu saya ijin dulu kepada ibu saya. Boleh tidaknya saya ikut program ini. Ibu saya hanya bepesan sekaligus memberi nasehat,

“Semoga lancar prosesnya. Kalau gagal lagi, lebih baik ikut CPNS saja ya,..” Masih hafal betul ucapan beliau yang satu ini saat disampaikan hampir 2 tahun lalu.

Kemudian saya keluar dari Batam, ikut kursus bahasa selama 4 bulan, persiapan tes yang memang melelahkan, rasa dag-dig-dug masih terus menghantui.

Tidak bisa dibohongi, rasa khawatir itu akan selalu dan terus ada. Cara menanggulanginya hanya satu. Berusaha, Berdoa, dan Tawakkal.

Semenjak waktu itu, berbagai tempat baru, kenalan baru, rasa semangat yang naik turun, merasa senang karena sudah mulai bisa bicara bahasa Jepang, merasa frustasi karena tidak hafal-hafal kosakata baru, sering lupa cara nulis huruf kanji, terus menghiasi perjalanan saya hingga hari ini.

Efektif, hari ini saya telah memasuki 3 minggu di dunia kerja lagi setelah hampir selama setahun lebih belajar di kelas saja.

Sebuah rumah sakit di wilayah timur kota Sapporo yang saat ini beku oleh hamparan salju, menjadi arena belajar saya selanjutnya.

“Loh, masih belajar lagi, Mas?” Tanya adik kelas saya beberapa waktu yang lalu.

Ya, belajar lagi. Memang secara kontrak kerja, saya memang harus kerja selama 5 hari selama seminggu, dengan 2 hari libur.

Tapi, sebelum lulus ujian negara untuk mendapatkan lisensi disini, kami bekerja sebagai asisten perawat yang hanya diberi kewenangan sebatas melakukan kegiatan KDM (Kebutuhan Dasar Manusia).

“Wah, ntar kemampuannya turun dong. Gak bisa nyuntik sama infus lagi,” Tambahnya.

Turun kemampuan itu memang boleh jadi iya, tapi bukan berarti hilang sama sekali.

Bahkan, “skill” saya untuk nyuntik maupun infus memang kurang terlatih, karena selama tiga tahun di Batam dulu saya hanya pegang alat operasi. Nah loh, kapan saya bisa nyuntiknya?

Bagi kami para perawat, kemampuan itu tidak hanya sebatas nyuntik maupun infus saja. Itu hanya bagian kecil dari sekian banyaknya disiplin ilmu dan praktik keperawatan.

Kalau hanya soal “nyuntik”, Kepala keperawatan di sebuah RS bahkan hampir tidak pernah nyuntik. Karena tugas utamanya memang bukan itu. Ia menjadi kepala yang harus memikirkan banyak hal, mengkonsep banyak hal.

Dan disini, bukan soal “nyuntik” atau “infus” dulu yang jadi masalah, tapi komunikasi dengan teman sejawat, dengan pasien, persiapan ujian, yang kesemuanya memakai bahasa Jepang, adalah tantangan tersendiri di dunia baru ini.

Jika komunikasi bisa terjalin dengan baik, lalu bisa bisa memahami huruf kanji yang ribet ini dengan baik, maka kemampuan yang akan didapat saya kira akan lebih banyak dibandingkan hanya soal “nyuntik” saja.

Junkanki byouto (循環器病棟) atau ruangan penyakit kardiovaskuler yang terletak di lantai 2 rumah sakit ini, menjadi tempat bekerja dan belajar yang baru bagi saya.

Apalagi saya belum pernah masuk ke ruangan semenjak lulus kuliah dulu, karena memang di ruang operasi terus. Bakal banyak hal baru yang akan bisa saya pelajari.

Pergi ke tempat baru, berkenalan dengan orang baru, ternyata betul-betul mengubah pandangan saya terhadap banyak hal.

Ada yang mau ikut menembus dunia internasional juga?

“Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat Islam disarankan melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang supaya nasibnya berubah’ Andrea Hirata, Padang Bulan”

Sapporo, 5 Januari 2017. 21.00 waktu setempat. Suhu luar -3 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.