Arsip | Benkyou RSS feed for this section

Hai, Arigatou, dan Kawan-Kawannya

26 Des

#Benkyou 5

Tepat di tanggal ini, sebulan yang lalu, kami datang  ke tempat pelatihan ini. Datang dengan rasa yang bermacam-macam karena telah melewati serangkaian tes yang cukup melelahkan.

Datang ke tempat ini, dengan penuh perbedaan. Berbeda latar belakang daerah asal, berbeda bahasa daerah, dan juga penuh keragaman cerita saat mengikuti tes IJEPA. Namun, saat sudah sampai di tempat ini. kami memiliki satu tujuan yang sama. Yaitu lulus ujian kemampuan bahasa Jepang setara N4 untuk bisa berangkat ke Jepang pada bulan Juni tahun depan nanti.

Kelihatannya memang berat. Namun, memang begitulah adanya. Saat kami memutuskan untuk mendaftar tes pada bulan April lalu. Berbagai persyaratan memang sudah terpampang jelas di website bnp2tki.go.id terkait mulai tata cara pendaftaran hingga ketika kami sudah lulus tahap matching dengan institusi di Jepang.

Ketika kami sudah lolos matching, maka tugas wajib kami adalah belajar agar bisa lulus ujian kemampuan Bahasa Jepang setara N4 itu.

Satu bulan sudah kami lewati. Berarti kesempatan belajar kami tinggal 5 bulan untuk mengejar target tersebut.

Pembelajaran di kelas sudah mulai memasuki tahapan demi tahapan berikutnya. Kami harus menghafalkan kotoba (kosakata bahasa Jepang) sesuai dengan bab yang akan diajarkan, sekaligus harus sering mempergunakan kotoba yang sudah diajarkan dalam kegiatan sehari-hari.

Nah, untuk kotoba itu sendiri, banyak dari cerita teman-teman yang saya rasa, pembelajaran itu sudah mulai masuk ke dalam kegiatan sehari-hari.

Dalam bahasa Jepang, kata “Hai”, yang kalau diucapkan terdengar seperti “Haik”, seakan ada huruf K yang mengakhirinya, yang dalam bahasa Indonesianya berarti “Iya”. Nah, kata-kata “Hai” ini, sering terdengar tidak hanya di lingkungan pelatihan saja. Namun juga di luar tempat latihan.

Ketika beli detergen di warung misalnya. Ketika si mas-mas penjualnya menyerahkan detergen yang dibeli, “Mas, ini detergennya”, teman saya yang membeli secara tanpa sadar bilang, “hai, mas”, “eh, iya Mas”.  Dan…….itupun terjadi di berbagai tempat. Mulai dari beli pulsa, beli nasi goreng, sampai ketika turun dari angkot.

Kata-kata terima kasih pun juga sudah jarang terdengar. Bukan karena budaya untuk bilang terima kasih itu hilang. Bukan. Namun, kata terima kasih itu sudah tergantikan dengan kata-kata Arigatou Gozaimasu. Atau kalau sudah akrab, sesama teman misalnya, maka akan terdengar arigatou ya. Tetep ada embel-embel “ya” nya di belakang. Maklum, masih di Indonesia, hehe.

Dan sedikit demi sedikit kosakata percakapan bahasa Jepang  pun mulai terdengar sepanjang waktu di tempat pelatihan ini. Yang paling ramai tentu saja saat jam makan. Entah itu sarapan, makan siang, ataupun makan malam.

Ketika bertemu teman saat sarapan, maka kata-kata Ohayou gozaimasu (Aisatsu, ucapan salam, atau dalam bahasa Indonesianya berarti selamat pagi) pun akan lumrah terdengar dari ujung ke ujung. Lalu sapaan selanjutnya, Ogenki desuka (Bagaimana kabarnya), kemudian dijawab dengan, hai, genki desu (Ya, kabarnya baik).

Sebelum makan akan terdengar “Itadakimasu”, dan setelah makan akan terdengar juga “Gochisousama deshita”. Lantas, setelah makan, ucapan “permisi” pun digantikan dengan ‘Osakini Shitsureishimasu” (Permisi, saya ijin duluan ya).

Ada juga beberapa teman yang ketika berbelanja ataupun turun dari angkot, secara tidak sengaja bilangnya, “Ikura desuka” (Berapa harganya) ketika akan membayar. Ketika tahu mbak-mbak penjualnya ataupun sopir angkotnya terbengong-bengong. Barulah teman saya menyadari kalau barusan berbicara dengan menggunakan bahasa Jepang.

Kira-kira seperti itulah perubahan yang terjadi dalam waktu sebulan ini.

Boleh jadi, akan lebih banyak lagi cerita yang akan terjadi dalam 5 bulan mendatang. Apalagi, seiring bertambahnya waktu, semakin banyak kosakata yang kami pelajar dan juga tugas yang diberikan kepada kami.

Kalau dibilang berat, memang berat. Walaupun dalam keadaan libur panjang seperti ini, tugas kami pun juga ikut-ikutan panjang daftarnya.

Namun, sekali lagi. Walaupun semua itu berat, kami meyakini satu hal yang pasti. Proses tidak akan mengkhianati hasil.

Srengseng Sawah, 26 Desember 2015

*Uki