Dari Cerita Seorang Kakak Tingkat

22 Sep

#Yuki 44

Hari ini, semilir angin sejuk membuat saya terhenti sejenak di taman depan bangunan tua di pusat kota Sapporo, namanya Akarenga.

Duduk di bangku taman, sembari burung dara lewat terbang rendah, dan pesona alam pun mulai terlihat, daun maple mulai berubah warna kemerahan.

Hari ini, 6 tahun lalu, tanggal 15 september juga, kedua kalinya saya bertemu dan mendengarkan kisah seorang kakak tingkat yang telah menembus batas baru, menjadi perawat berlisensi di Amerika Serikat, tepatnya di Houston, Texas.

Saya yang memendam cita-cita, agar suatu saat bisa “Go International” juga, tentu antusias datang, menyimak, dan mendengarkan dengan seksama apa saja yang diceritakannya.

Memang terdengar indah, saat dia bercerita keadaannya sekarang. Sudah lulus ujian perawat Internasional di US, dan tentu saja bergaji tinggi, plus foto jalan-jalannya yang sudah ke beberapa benua.

Namun, ketika cerita sampai pada saat perjuangannya bagaimana bisa sampai kesana, pengorbanan, jauh dari keluarga, tawa serta tangis yang ikut menemani, ah, saya kira belum tentu semua bisa mengikuti jejaknya. Termasuk saya juga.

Namun, pencapaian pada puncak tertinggi tentu harus dicapai dengan langkah yang tidak mudah.

Mendaki Gunung Everest tentu tidak sama dengan mendaki gunung Muria di Kudus.

Pernah saya ingin mengikuti jejaknya, namun apa daya, kesempatan ke US sudah ditutup.

Tertutup satu pintu, maka akan terbuka pintu lainnya. Kurang lebih begitulah pepatah berujar.

Dua kali kesempatan ke Timur Tengah ternyata belum mengijinkan saya memasuki pintunya.

Karena memang bandel, saya ingin mencoba lagi, dengan kesempatan yang berbeda.

Lama pendaftaran, sabar menanti hasil dengan harap-harap cemas, ikut membalut perjalanan saya hingga sampai tahap ini.

Belum, saya belumlah bisa disebut perawat disini. Simply, lisensi perawat belum saya dapatkan.

Lolos dan bisa masuk ke Jepang bukanlah suatu akhir, tapi masuk lagi ke dalam awal proses baru, terus, dan akan berlanjut.

Sembari bekerja, orientasi budaya, tugas utama kami adalah belajar. Belajar bahasa serta ilmu keperawatan yang semula berupa bahasa Indonesia dan Inggris, bertransformasi ke dalam deretan huruf kanji.

Susah, tapi tidak mustahil. Bisa, asal memang ada kemauan. Tentu saja hal ini juga kesempatan yang bagus untuk bisa memunculkan potensi terbaik, asal memang mau mengasahnya.

Berselang 6 tahun, pemandangan indah juga turut terlihat di sepanjang perjalanan.

Jika dulu saya tergerak oleh sebuah cerita dari benua seberang, apakah suatu saat saya juga akan bisa memberi kontribusi yang sama?

Entahlah.

Coba kita tanyakan pada daun maple yang bergoyang…

Sapporo, 15 September 2017. Taman Akarenga..

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Sesuatu Yang Menakutkan Itu Bernama “Perubahan”

22 Sep

#Yuki 43

“Semuanya itu berubah, tidak ada yang abadi. Bahkan, yang abadi adalah perubahan itu sendiri.”

Familiar dengan ungkapan diatas?

Ya, perubahan sebegitu cepatnya merubah berbagai hal dalam kehidupan kita.

Dulu yang hanya cukup memakai ponsel 3310, boleh jadi ponsel tersebut sudah jadi index barang di sebuah museum.

Lalu datanglah Android yang bertarung dengan IOS, sebegitu sengitnya.

Bentuk, fungsi, pemasaran, berbagai hal dilakukan demi menggaet minat para kawula milenial agar mau memakai, yang otomatis akan membelinya.

Itu baru soal HP, belum hal lain yang sebegitu cepat berubah.

Slogan, tidak mau berubah maka akan tertinggal, sudah bukan barang baru lagi.

Hanya, saja, kita sebagai manusia yang juga ikut dalam arus perubahan yang semakin cepat ini, terkadang belum menerima, bahkan belum mau mengakui kalau perubahan itu perlu.

Akibatnya? Jelas, tertinggal.

Dunia keperawatan, yang sedang saya tekuni, pun tidak luput dari hal tersebut.

Dulu, ketika ada lulusan Akper dan bisa kerja di Puskesmas dekat rumah, sudah merupakan hal yang istimewa.

Bisa kenal dengan masyarakat, lalu sambil praktik di rumah, buka klinik luka ataupun sambil khitan.

Sekarang? Masih tetap bisa, tapi kita harus realistis. Jumlah lulusan sekarang dengan 20 tahun lalu tentu berbeda.

Baik secara kuantitas lulusan, juga kualitasnya.

Di Rumah sakit tempat kerja saya sekarang, juga menjadi tempat praktik mahasiswa keperawatan dari beberapa universitas di Sapporo.

Jumlahnya? Setiap ruangan ada 3 orang dengan 1 dosen pendamping yang tiap hari ikut melihat dan membantu mahasiswa praktik.

Padahal saya ingin sesekali bercengkrama dengan mereka, tapi, waktu untuk duduk saja tidak ada saat kerja, apalagi sekedar ngobrol, haha.

Rumah sakit tempat kerja saya adalah bertipe rumah sakit akut dengan jumlah bed 350, yang selalu penuh dan kadang over.

Saya tidak akan membandingkannya dengan rumah sakit sekelas RSCM atau kalau di Semarang, RS Kariadi, karena tidak seimbang dalam jumlah mahasiswa praktikannya.

Hanya saja, rumah sakit swasta pun di negara kita, saya kira sudah terlampau banyak jumlah mahasiswa praktikan yang imbasnya, lulusannya juga banyak.

Nah, kalau kita mau menerima perubahan yang ada, tidak semua mahasiswa yang lulus tadi bisa bekerja di RS tempat mereka praktik dulu.

Juga RS impian yang sudah menjadi angan-angan sejak masih duduk di bangku kuliah.

Kalau kita sudah memahami ini sejak awal, minimal di bangku kuliah, maka saat akan mencoba memasuki dunia kerja boleh jadi akan memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Karena menjadi sarjana kertas saja tidak akan cukup untuk bisa berkiprah di dunia kerja yang mengharuskan kita terus belajar dengan kenyataan di lapangan.

Dan profesi perawat pun sekarang sudah terbuka pintu-pintu ke berbagai mancanegara dengan segala tantangan dan keuntungannya.

Betul, seperti di judul yang saya tulis, merubah kebiasaan kerja dekat rumah dengan lintas negara bukanlah hal yang mudah.

Tapi itu juga merupakan pilihan. Anda boleh tetap kerja di dekat rumah. Anda pun bisa mencoba berkelana dan menjumpai hal-hal yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya.

Yang tidak boleh menurut saya adalah, sudah tidak mau berubah, tapi dengan gampang menyalahkan keadaan.

Apalagi sampai berkoar-koar dengan lantang, kalau bangsa kita sudah diserbu para pekerja asing, tapi kitanya pas ada kesempatan ke luar negeri juga, tidak mau ngambil dengan alasan yang menggunung.

Negara-negara dengan jumlah penduduk terbanyak seperti India ataupun China, sudah banyak yang merantau dan berdamai dengan perubahan.

Di sekitar saya saja disini, sangat mudah menemukan mereka diantara orang Jepang yang lalu lalang memadati Sapporo.

Belum lagi Tokyo, yang merupakan kota terpadat di dunia.

Jikalau mereka bisa berdamai dengan perubahan. Kita kapan?

Sapporo, 7 september 2017. 21.00 waktu setempat.

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.

Asem Manis Ngurus Perpanjangan Paspor di KBRI Tokyo

22 Sep

#Yuki 42

Iya, Tokyo. Saya harus kembali lagi ke kota ini lantaran harus memperpanjang paspor, eh, memperbarui paspor yang sebentar lagi memasuki masa injury time, haha.

Harusnya bulan juli kemarin selesai. Harusnya. Jadi rencananya pas ada pelatihan di Tokyo, mau nambah sehari buat sowan ke KBRI.

Hanya, dari pihak RS saya tidak mengijinkan. Karena saya biasanya datang sehari sebelum pelatihan, dicarikankah tiket paling pagi, yang mengharuskan saya berangkat jam 5 lewat dari asrama.

Lah dalah. Saya juga gak tahu, pihak RS juga tidak menyadari. Ternyata hari itu adalah 17 juli yang merupakan hari laut, alias tanggal merah.

Alamak!!!

KBRI pun tutup. Saya pun akhirnya jalan-jalan ke Asakusa dan mampir ke TKC tempat pelatihan teman-teman EPA 10.

Untung sih untung, bisa jalan-jalan. Tapi urusan paspor saya jadi kacau.

Karena bulan september ini mau mudik (ehem), akhirnya saya cari info di internet, tentang paspor yang masa aktifnya kurang dari 6 bulan.

Sekali klik, bertebaranlah informasi yang hampir 90% membuat saya semakin was-was.

Lah gimana tidak, banyak yang bilang kalau masa aktif kurang dari 6 bulan, bakal bermasalah di bagian imigrasi, dan ada juga yang tidak boleh lewat gerbang imigrasi, alias tidak boleh ikut terbang.

Lah masak tiket pesawat yang harganya hampir bisa dibuat beli sepeda motor “beat” baru harus hangus gara-gara paspor yang sudah masuk injury time?

Saya kontak pihak KBRI, lalu saya mendapat informasi kalau tidak ada masalah selama paspor masih “hidup”.

Hanya saja, saya terlanjur khawatir, dan kebayang kalau tiket hangus. Itu beneran gak lucu kalau terjadi.

Akhirnya, saya bilang kepada pihak rumah sakit tentang keresahan saya itu. Lah kan juga karena mereka juga, wong saya sudah minta tambahan sehari buat mengurus paspor tapi tidak diijinkan.

Sebelum ijin keluar, saya sudah membayangkan harus membeli tiket pesawat PP yang tidaklah murah. Karena memang biasanya ke Tokyo buat pelatihan itu tiketnya ditanggung.

Ya sudahlah. Setelah mengingat, menimbang, memperhatikan, kemudian saya memutuskan, toh memang saya harus ke Tokyo, dengan catatan, uang jajan dan tabungan saya harus kepotong. Lah, daripada gak bisa mudik? Haha.

Akhirnya, ijin saya dapat beserta tiket PP Sapporo-Tokyo dari RS (Alhamdulillah, langsung sujud syukur).

Ternyata, mereka merasa bersalah saat bulan juli kemarin gak ngasih ijin, dan sebagai gantinya saya dibelikan tiket, hehe.

Segera saya cek kembali “uborampe” yang akan saya bawa ke Tokyo. Yaitu, paspor lama, fotokopi KTP Jepang (zairyoukaado), fotokopi akta lahir, fotokopi ijazah terakhir, dan foto 3×4 1 lembar.

Ada persyaratan tambahan berupa fotokopi surat nikah, tapi karena saya belum punya ya akhirnya tidak bawa, hehe.

Sampai di Tokyo, saya nginep di tempat teman. Kalau di hotel mahall.

Lalu jumat pagi, seminggu kemarin, segera ke KBRI Tokyo di daerah Gotanda, dari stasiun Meguro juga dekat.

Nah, enaknya kalau di Jepang, kita tidak perlu ngambil paspor kalau sudah jadi, karena jarak jauh tentu.

Masa iya saya harus ke Tokyo lagi hanya buat ngambil paspor, mahal bro!

Sebagai gantinya, kita diharuskan membeli letterpack (ada di foto) seharga 510 yen, berwarna merah (padahal saya mau beli yang 310 yen, berwarna biru, yang murah, eh, ternyata gak boleh).

Jadi, kita tinggal menulis nama dan alamat yang dituju. Kalau paspor sudah jadi, maka akan dikirim dari KBRI ke tempat tinggal kita.

Setelah semua lengkap, datanglah saya ke KBRI. Eh, ternyata belum buka. Karena hari jumat, baru jam 09.30 bukanya.

Setelah buka dan ambil nomor antrian, saya legaaaa, karena dapat nomor antri kedua dari dua orang yang datang buat perpanjang paspor.

Saya dikasih formulir buat diisi, dan menunggu si bapak-bapak nomor undian 1 yang juga sedang nulis.

Cukup lama bapak itu nulis, dan saya sudah selesai. Akhirnya saya malah dipanggil duluan, setelah sebelumnya saya ijin ke bapak itu untuk mendahului dan diperbolehkan.

Diawali wawancara, tanya jawab seputar paspor, pekerjaan, kegiatan selama di Jepang, lalu dilanjutkan pencocokan data, foto dan perekaman sidik jari secara biometrik, dan selesai!

15 menit saja! Selesai!

Si ibu-ibu yang mewawancarai saya, sekaligus mengurus perpanjang paspor itu bilang, kalau lancar, Insyaallah tidak sampai seminggu paspor akan sampai.

Alhamdulillah. Semoga lancar semuanya, harapan saya.

Perpanjangan selesai, lalu saya berkesempatan mengunjungi masjid Indonesia yang ada di komplek SRIT Tokyo.

Lalu jalan-jalan ke Shin Okubo buat nemeni belanja Said, ke toko Indonesia buat nyetok bahan makanan.

Urusan di Tokyo selesai, kemudian saya kembali ke Sapporo.

Alhamdulillah, selasa kemarin, paspor saya sudah masuk kotak surat di asrama.

Ah, benar-benar pengalaman baru. Serta saya pun tenang menunggu waktu mudik yang Insyaallah di akhir bulan ini…

Sapporo, 1 September 2017. 14.17 waktu setempat.

Selamat hari raya idul adha buat semua, btw, ada yang nyate hari ini?

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.

Merayakan Kegagalan

22 Sep

#Yuki 41

Malam ini kembali saya menginjakkan kaki di Tokyo.

Bukan untuk datang pelatihan seperti biasanya. Tapi karena besok harus “sowan” ke KBRI untuk mengurus perpanjangan paspor.

Berbagai dokumen sudah saya siapkan, semoga tidak ada masalah.

Serta yang membuat saya senang adalah, malam ini saya berkesempatan silaturahim sekalian “nginep” di tempat teman seangkatan EPA 9, Said Amin.

Datang, lalu buka pintu dan ruangan kamarnya ampun, rapi banget! Jadi keinget kamar sendiri yang masih lebih parah dibanding kapal pecah, haha.

Setidaknya, saya bisa “kengaku” atau studi banding, saat nanti balik ke Sapporo bisa nata kamar jadi lebih baik (semoga, hehe).

Silaturahim, yang jelas kita sudah tahu banyak manfaatnya, juga memberikan waktu bagi saya untuk berbagi dengan Said tentang makna kegagalan (kok kayaknya serius amat yak).

Begini, sebagaimana keberhasilan, kegagalan pun sebaiknya diberikan porsi untuk dirayakan, bahkan harus porsi lebih malahan.

Seperti contoh, ada senpai EPA angkatan awal-awal yang sudah hampir 10 tahun merajut asa sembari bermanfaat bagi orang banyak, dari segi keilmuan maupun berkah materi yang dipunya.

Sebagai manusia biasa, rasa pengen bisa menjadi seperti itu dan kadang iri itu bisa timbul kapan saja.

Sialnya, terkadang rasa pengen itu hanya sebatas pengen saat sudah jadi tanpa melihat bagaimana jatuh bangun serta kegagalan demi kegagalan yang pernah dialami.

Bagaimana mereka bertahan dan kembali bangkit dari rasa kecewa, frustasi, stres, dan segala hal yang gak enak lah pokoknya.

Misal lagi yang masih hangat di beberapa hari ini. Ketika melihat hasil pengumuman tes bahasa Jepang atau JLPT yang belum sesuai harapan (atau bilang aja gak lulus), lalu tiba-tiba melihat teman atau orang lain memajang hasil ujiannya dengan nilai sempurna!

Lah, tiba-tiba kok ada yang terasa panas, haha. Apa lupa matikan kompor ya. Atau kabel setrika belum dicabut? Eh,

Saya bukan sedang membicarakan orang lain, karena itu yang terjadi pada saya.

Ujian bulan desember tahun kemarin, saya gagal. Ujian tahun ini, belum berhasil.

Awal menerima pengumuman, walaupun sudah saya tegar-tegarkan, ternyata bubar saat melihat ada teman yang lulus dengan nilai yang jauh dari pencapaian saya.

Mungkin ada yang bakal menegur saya, “Loh, sampean mbok ya jangan iri sama orang lain. Tiap orang kan beda-beda…”

Nah! Itulah jawabannya.

Kesalahan saya adalah membandingkan diri saya dengan hasil orang lain, tanpa melihat bagaimana kerasnya perjuangan orang itu dalam menggapai hasil yang telah dicapainya.

Saya sadar, saya keliru. Makanya buru-buru saya merubah pandangan saya terhadap hal ini.

Memang, secara batas minimal kelulusan saya belum sampai. Tapi dibanding ujian sebelumnya, alhamdulillah ada peningkatan (walaupun memang belum lulus sih, haha).

Saya jadi ingat “wejangan” seorang guru yang kembali menghentakkan kesadaran saya.

Bahwa, keberhasilan adalah kumpulan dari sikap bangkit dari keterpurukan.

Gagal itu jelas sakit. Tapi bisa bangkit, atau bahasa anak sekarang, move on, adalah proses untuk melampaui rasa gagal itu sendiri.

Seseorang yang tangguh, tidak hanya dilihat dari sebuah kesuksesannya saja, tapi bagaimana ketika dia bisa bangkit dari kegagalannya yang berkali-kali.

Mungkin, saat ini kita tidak akan menikmati lampu yang terang jika Om Alfa Edison langsung ngambek saat gagal dalam percobaan pertamanya.

Nyatanya, dia selalu merayakan kegagalannya dengan mencari jalan lain, mencoba cara baru, hingga ribuan kali sampai lampu bisa berpijar dan menerangi kehidupan sampai lintas generasi.

Ucapannya yang terkenal saat itu kira-kira begini, “Aku bukan gagal dalam ribuan percobaanku, tapi aku telah menemukan ribuan cara agar bisa membuat lampu itu bisa menyala..”

Ah, om Alfa, semoga bisa aku meneladani sikapmu walau hanya sedikit..

Selain om Alfa, ada juga pesan moral dari Dory, si ikan berwarna biru yang mempunyai sindrom sering lupa di kisah “Finding Dory”,

“Ketika banyak kegagalan dalam kehidupanmu, tahu gak apa yang harus kamu lakukan?”

“Terus berenang…” Jawab Dory dengan sikap riangnya…

Tokyo, 24 Agustus 2017. 24.00 waktu setempat..

*Lah mas, itu ada fotonya bang Said kok gak ada ceritanya? (Eh, iya ya, malah aku keasikan cerita hal lain. Ya, setidaknya jadi tahu lah kali ini bisa silaturahim sam nginep di tempatnya Said, hehe)

 

Foto Arsyad Syauqi.

Ketika Ditanya, “Apa Yang Anda Ketahui Tentang Jepang?”

22 Sep

#Yuki 40

Tanggal 19 agustus, 2 tahun silam. Saat berhadapan dengan pihak pewawancara Jepang,

“Nihon ni tsuite osiete kudasai”, yang kemudian diterjemahkan oleh penerjemah disamping bapak-bapak yang mewawancarai saya.

“Apa yang Anda ketahui tentang Jepang?” Seorang ibu yang saya gak tahu namanya, menerjemahkan.

Masih ingat betul rasanya bagaimana diwawancarai oleh orang asing, yang tentu saja diterjemahkan. Karena memang, tidak ada syarat wajib untuk bisa berbahasa Jepang saat mendaftar program perawat ke Jepang ini.

Namun, kalau misal sudah bisa, walaupun hanya sedikit-sedikit, apalagi lancar, tentu akan mempengaruhi jalannya wawancara tentunya.

Saat itu, jawaban saya masih seputar keindahan alam Jepang. Informasi seputar budaya dan bagaimana rapi serta disiplinnya orang Jepang dalam menjaga peraturan, walaupun memang ada yang melanggar, tapi sangat sedikit sekali.

Kalau soal keindahan alam Jepang, sekali mencari di Internet, sampe tumpah-tumpah deh informasinya.

Mulai dari terkenalnya masakan berbahan pare di Okinawa, yang dikenal dengan nama “goya campuru”, sampai indah dan bekunya festival salju di Hokkaido, ada semua.

Soal tradisi. Mulai dari “hatsumoude” atau tradisi ke kuil pada tanggal 1 januari, membagi-bagikan masakan khas tahun baru yang disebut “osechi ryouri”, sampai tradisi pesta akhir tahun yang disebut “bounenkai”.

Jika sudah mampu menyebutkan berbagai hal yang “berbau” Jepang, pihak pewawancara pasti akan merasa, “Wah, ini anak memang sudah berusaha mencari berbagai hal tentang Jepang kayaknya..”

Nah, dalam tulisan kali ini. Saya akan mencoba berbagi hal yang saya pelajari disini, yang terkait dengan info seputar dunia kesehatan di Jepang, khususnya di bidang keperawatan tentunya.

Siapa tahu, yang bakal maju wawancara, bisa nambah wawasannya, walaupun informasinya (mohon maaf) hanya sedikit ya, hehe.

Selayaknya ilmu pengetahuan keperawatan di Indonesia, di Jepang pun, banyak ilmu yang secara global juga dipelajari.

Misalnya. Ketika ada orang mengalami perdarahan, misal akibat kecelakaan, dan volume cairan tubuh berkurang sampai 20 persen, maka akan beresiko terjadi syok hipovolemik (dalam bahasa Jepangnya, junkan-ketsuekiryou-genshousei-shokku, 循環血液量減少性ショック).

Lalu, jika perdarahan sampai mengakibatkan volume cairan tubuh berkurang sampai 40 persen, maka akan mengakibatkan henti jantung (dalam bahasa Jepangnya, shinteishi, 心停止).

Kalau pengetahuan tentang syok, di tanah air beta juga dipelajari, di Eropa sana juga dipelajari. Bedanya? Tentu saja bahasa pengantarnya.

Yang khusus ada di Jepang contohnya seperti apa?

Salah satunya adalah soal kependudukan, atau demografi.

Saat ini populasi Jepang ada sekitar 127 juta penduduk, atau setengah dari populasi manusia yang ada di Indonesia.

Dari populasi tersebut, dibagi menjadi 3 kategori. 年少人口, nennshou jinkou, adalah populasi yang ada di antara usia 0 sampai 14 tahun. Jumlahnya ada sekitar 16 juta orang (12.8%).

生産年齢, seisan-nenrei, atau usia produktif, adalah populasi yang ada diantara usia 15 sampai 64 tahun. Jumlahnya sekitar 78 juta orang (61.8%)

Lalu, 老年, rounen, usia senja, yang ada diatas usia 65 tahun. Jumlahnya ada sekitar 34 juta orang (26%).

Itupun masih dibagi lagi. Yang dibawah 74 tahun, ada sekitar 17 juta orang. Begitu juga yang diatas 75 tahun, 17 juta orang juga.

Dan kita tahu sendiri, karena usia orang Jepang awet betul dan pada enggan punya momongan. Maka kurva lansia cenderung naik dan populasi anak-anak semakin menurun.

Oleh karena itu, tidak heran betapa pusingnya pemerintah Jepang dalam mengkampanyekan agar para warganya punya keturunan.

Kalau tidak? Maka dalam beberapa tahun ke depan, kalau teman-teman berkesempatan liburan ke Jepang, maka kemana-mana hanya akan menjumpai lansia saja.

Berbeda dengan dengan tanah air beta. Slogan “Dua anak cukup” itu bisa diartikan, “sudah punya dua anak” atau “baru punya dua anak”, hehe.

Ditambah lagi, usia harapan hidup orang Jepang adalah yang tertinggi di dunia.

Usia harapan hidup untuk laki-laki adalah 80 tahun. Untuk wanita? 86 tahun.

Diantara rentang usia itu, ada beberapa informasi yang bisa diambil.

Rata-rata usia subur orang Jepang adalah mulai 15 sampai 49 tahun. Karena ketika memasuki usia 50 tahun, para wanita disini akan mengalami menopouse, atau henti haid.

Dari rentang usia itu, rata-rata tingkat kelahiran per tahun 2015 adalah 1.46. Atau, kalau dihitung berdasarkan data, kelahiran di tahun 2015 adalah sekitar 1 juta lebih 5 ribu bayi. Data tahun 2016, malah kurang dari satu juta bayi yang lahir.

Lalu soal penyakit yang menyebabkan kematian. 3 penyakit yang paling banyak diderita adalah,

Pertama, 悪性新生物, akusei-sinseibutsu, atau tumor malignant adalah yang terbanyak (28.9%). Kedua, 心疾患, shinsikkan, penyakit jantung (15.5%). Ketiga, 肺炎, haien, pneumonia (9.4%).

Data itu adalah data 3 tahun lalu dengan jumlah kematian total sekitar 1,273 juta penduduk.

Tumor malignan memang paling banyak menyebabkan kematian, tapi tidak bagi orang Jepang dalam rentang usia produktif antara 15 sampai 39 tahun.

Dalam rentang usia itu, penyebab kematian paling banyak adalah 自殺, jisatsu, bunuh diri. Dan berturut-turut masalah yang menyebabkan hingga sampai bunuh diri adalah masalah kesehatan (健康問題, kenkou-mondai, 67.9%). Disusul dengan masalah ekonomi dan masalah keluarga.

Lalu kita lihat rata-rata keluhan pasien saat ke poliklinik. 3 masalah utama yang sering dikeluhkan adalah 高血圧, kouketsuatsu, tekanan darah tinggi. Lalu, 腰痛症, youtsuushou, sakit pinggang, dan 歯の病気, ha-no-byouki, sakit gigi.

Hanya saja, ada data menarik selanjutnya. Rata-rata pasien yang ke poliklinik adalah berusia 80-84 tahun bagi laki-laki, dan 75-79 tahun bagi wanita. Alamak!

Dan pasien yang rawat inap adalah mereka yang rata-rata usianya diatas 90 tahun!

Tak heran jika isi rumah sakit di Jepang, baik yang bertipe 急性期, kyuuseiki, tipe akut. Atau, 慢性期, manseiki, tipe kronis, adalah lansia semua.

Jarang sekali menemukan anak muda yang “mondok” atau sekedar mampir periksa ke poliklinik di rumah sakit.

Baiklah, boleh jadi ada yang tertarik dengan cerita dan data yang saya sajikan. Atau bisa saja sebaliknya, malah mual, haha.

Kalau mual, saya juga merasakannya. Apalagi hal ini adalah yang sehari-hari kami pelajari dengan huruf kanji yang mirip sandi rumput kalau kata bapak saya.

Pengumuman tes keperawatan serta psikotes bagi teman-teman EPA angkatan 11 telah diumumkan.

Boleh jadi banyak yang dag-dig-dug menanti wawancara, Japanese quiz, serta aptitude test minggu depan.

Semoga lancar buat semua.

Kalau tulisan diatas ada yang bermanfaat, silahkan diambil. Kalau bikin mual, yah, itung-itung nambah pengetahuan saja.

Karena, jika suatu saat kalian yang berhasil lolos tes di Indonesia dan masuk ke Jepang, ya bakalan itu juga yang kalian pelajari, hehe.

Salam kemerdekaan dari ujung utara negeri matahari terbit!

Sapporo, 17 Agustus 2017. 17.00 waktu setempat, hayok kita liat upacara penurunan bendera, lewat streaming tentunya…

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.

Soal Yang Menarik

22 Sep

#Yuki 39

Ujian percobaan, atau dalam bahasa inggrisnya, Try Out, juga diujicobakan kepada kami, para perawat Indonesia yang sedang berusaha memperoleh lisensi di Jepang.

Hanya saja, namanya pun berubah, Mogishiken, artinya? Ya sama saja.

Mogishiken yang pertama diadakan pada bulan juni kemarin. Hasil saya? Masih amburadul, haha. Untuk mencapai target lulus ternyata masih jauh.

Lalu mogishiken yang kedua dilaksanakan bulan ini. Beberapa teman ada yang sudah, termasuk saya. Beberapa mungkin ada yang belum, karena tergantung dengan kesepakatan pihak RS masing-masing.

Susah? Jelas. Namun setidaknya ada peningkatan, Insyaallah. Mengingat ujian masih sekitar 6 bulan lagi, jadi membaca materi, mengerjakan soal, evaluasi, bertanya saat belum paham, adalah rutinitas kami sehari-hari.

Setelah mengerjakan soal-soal mogishiken yang kedua ini, ada 2 soal yang menarik perhatian saya.

Kali ini saya tulis satu dulu, yang satu ntar lain waktu.

Soal yang masuk ke dalam kriteria soal kasuls ini, saya pikir tidak akan muncul selain di negara empat musim, khususnya Jepang.

Seperti apa soalnya? Saya akan tulis berupa huruf kanji dan artinya.

Soal ke 118, ujian mogishiken sesi pagi.

Aくん(10歳、男児) は一型糖尿病で、両親と3人暮しである。糖尿病サマーキャンプにも参加し、インスリン注射をAくん自身で持っていた。ある日、震度6の地震が起こり、その数日後にさらに大きな本震が起こり、Aくんの家は倒壊してしまった。Aくん家族は、インスリン投与に必要な物品を持ち、近くの小学校に避難した。その日の夜は、配給された水とおにぎりを食べて寝た。インスリン注射もいつもどおりAくんが実施した。翌日、災害支援チームが避難所を訪問し、被災者の健康状態を確認した。

Artinya,

Anak A, usia 10 tahun, laki-laki, mengidap penyakit diabetes tipe 1, hidup bertiga dengan kedua orang tuanya.

Dia mengikuti perkemahan musim panas untuk penderita diabetes, serta anak A membawa suntikan insulin untuk dirinya.

Suatu ketika, terjadi gempa dengan kekuatan shindo 6 (ukuran kekuatan gempa Jepang), disusul beberapa hari setelah itu terjadi lagi gempa yang lebih besar. Rumah anak A roboh.

Anak A dan keluarganya mengungsi ke gedung SD terdekat. Malamnya, setelah makan onigiri dan minum air dari jatah yang dibagikan, kemudian tidur.

Untuk penyuntikan insulin, seperti biasa, dilalukan oleh anak A sendiri. Hari berikutnya, datanglah tim penanganan bencana untuk memeriksa kesehatan para pengungsi.

Saya hanya berfikir, ini soal tentang diabetes tipe 1, diderita anak kecil, dihubungkan sama bencana alam. Alamak, kompleks banget.

Nah, pertanyaannya adalah,

Ketika tim tanggap bencana datang, ibu dari si anak menyampaikan bahwa anak A merasa menderita akibat penyakit diabetes tipe 1 yang dideritanya ditambah selalu melakukan suntik insulin secara mandiri.

Sebagai perawat yang ikut menangani kejadian bencana, tindakan yang paling tepat untuk menangani kejadian tersebut adalah?

A. Karena keadaan darurat, maka segera menyarankan untuk ke rumah sakit.

B. Memastikan lingkungan yang memungkinkan agar anak A bisa melakukan suntik insulin secara mandiri.

C. Karena makanan di tempat pengungsian terbatas, maka mengingtruksikan agar menghentikan suntik insulin.

D. Dengan memperhatikan tingkat stress yang ada di tempat pengungsian, maka menyarankan agar ibunya saja yang menyuntik

Ada yang sudah punya jawaban?

Sapporo, 10 Agustus 2017. 22.00 waktu setempat.

Uki

Ujian Nasional Keperawatan di Jepang : 199 Hari Lagi…

22 Sep

#Yuki 38

Sebagai pembuka tulisan ini, perkenananlah saya menaruh respek serta penghargaan kepada para senpai yang telah lulus ujian.

Khususnya para senpai di angkatan awal-awal program IJEPA ini.

Bagaimana tidak, jika di ujian yang sekarang, dengan berbagai kesulitannya, sudah mendapatkan tambahan keringanan berupa tambahan waktu serta huruf “furigana”, para senpai di angkatan awal itu tidak.

Soal ujiannya memang sama “plek” dengan yang dikerjakan oleh para calon perawat yang asli orang Jepang.

Plek, maksudnya, durasi waktunya ya sama, serta tidak ada keterangan tambahan huruf bacanya.

Pernah ada yang bertanya kepada saya, “Mas, Ujiannya susah tidak?..”

Saya jawab dengan agak dramatis, “Kalau gak susah, para senpai saya yakin sudah pada lulus semua, Mas…”

Ya, karena tiap tahun jenis soalnya pun mengalami perubahan dan perkembangan tentunya.

Oleh karena itu, tiada kata yang pas selain kata respek kepada mereka, menurut saya.

Dari berbagai cerita yang beredar di kalangan perawat EPA yang ada di Jepang, ada beberapa hal yang menjadi catatan tersendiri bagi saya.

Rata-rata para senpai itu lulus di kesempatan ujian ketiga. Sebagian kecil di kesempatan kedua. Dengar-dengar sih ada yang sekali ujian langsung lulus, tapi saya belum dapat identitasnya.

Nah, diantara mereka, yang telah lulus itu, tidak selalu mendapatkan fasilitas yang sesuai harapan.

Maksudnya?

Harapan sebagian besar dari kami adalah, waktu bekerja dan belajar seimbang, serta mendapatkan pembimbing selama belajar di rumah sakit, itu salah satunya.

Boleh jadi, ada harapan-harapan lain tentunya.

Kenyataan di lapangan ternyata tidak selalu sedemikian.

Memang ada yang mendapatkan fasilitas seperti itu. Dalam sehari, ada yang separuh hari kerja, serta setelah istirahat makan siang, bisa belajar.

Namun, ada juga yang hanya diberi kesempatan belajar selama 1 jam. Yakni setelah makan siang. Setelah itu, balik kerja lagi.

Ada juga yang diberi kesempatan belajar selama 2 jam, yaitu kerja sampai jam 3 sore kemudian belajar hingga pulang.

Ada juga yang kerja selama 4 hari, dan 1 harinya khusus belajar. Serta bermacam-macam lainnya.

Lah, kok tidak sama, Mas?

Karena setiap rumah sakit berbeda sistem pembelajarannya. Ditambah faktor lain, jika sudah ada senpai dari angkatan sebelumnya, kemungkinan besar sistem sudah terbentuk.

Jika seperti saya misal, baru orang pertama yang masuk, maka sistem juga baru dibuat. Caranya? Saya banyak bertanya pada teman-teman di RS lain, serta sering diskusi dengan pihak RS.

Nah, dengan fasilitas serta jam belajar yang berbeda-beda ini, godaan yang paling rentan adalah ketika muncul rasa “membandingkan”.

Rumput tetangga kok kelihatannya lebih hijau yak, begitu kira-kira.

Lalu, diikuti dengan menyalahkan keadaan. Ini sudah masuk tahap yang mengkhawatirkan.

Nah, kalau sudah mulai menyalahkan keadaan, maka sudahlah, orang yang demikian boleh dianggap sudah gugur sebelum perang.

Sudah gugur bahkan jauh sebelum ujian dilaksanakan.

Kalau begini, saya teringat salah satu senpai yang sudah lulus, dengan cerita yang “Wah”.

Dalam bahasa lainnya, dia telah berdamai dengan tantangan serta kesulitan.

Jika kami masih mendapat jam belajar, maka dia tidak mendapatkan kemewahan itu sama sekali.

Tiap hari kerja ya kerja, sampai batas waktu pulang tiba. Terus waktu belajarnya? Sepulang kerja dan seluruh hari libur!

Jadi, dengan niat ingin segera lulus ujian, dia mengorbankan kemewahan lainnya, yaitu hari liburnya.

Hampir seluruh waktu luangnya digunakan untuk belajar, demi tujuan yang telah ditetapkannya.

Boleh jadi, dia bisa saja merasa iri dengan fasilitas yang diterima teman-teman seangkatannya, namun itu tidak dilakukannya. Dia fokus, dan hanya ingin mengalahkan “kebodohan” dirinya sendiri.

Karena baginya, jika sudah bisa “selesai” dengan dirinya, itu akan lebih dari cukup untuk persiapan ujian.

Hasilnya? Gelar setara dengan para perawat asli orang Jepang pun diperolehnya.

Baiklah, hari ujian nasional keperawatan ke 107 telah resmi diumumkan. Insyaallah akan dilaksanakan tanggal 18 febuari tahun depan.

Saatnya evaluasi, saatnya memperbaiki diri, semoga kami bisa mengikuti jejak para senpai yang telah lulus dan menjadi perawat di Jepang dengan lisensi…

Sapporo, 3 Agustus 2017. 20.15 waktu setempat..

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.