Tag Archives: pengalaman

Tokyo dan Secarik Cerita

17 Feb

#Yuki 10

Image may contain: sky and outdoor

Bandara Chitose Hokkaido yang bersalju

Bandara dan udara. Sampai lulus kuliah, saya begitu asing dengan kata-kata itu.

 

Perjalanan ke Batam beberapa tahun lalu, sekaligus pertama kali memasuki dunia kerja juga, adalah kali pertama saya merasakan perjalanan udara.

Boleh dikata, sekarang saya mulai menapaki pengalaman baru. Pergi dengan pesawat domestik tapi di dalam negeri orang lain.

Hal ini juga baru saya ketahui bulan lalu.

Peserta program perawat ke jepang yang melalui program EPA, mendapatkan kesempatan untuk mengikuti belajar bersama (benkyoukai, bahasa jepangnya) yang diadakan di dua tempat. Osaka dan Tokyo.

Satu catatan penting, seluruh biaya pelatihan dan perjalanan ditanggung..

Nah, untuk daerah Kansai dan sekitarnya, pelatihan bertempat di Osaka. Lalu, peserta yang mendapatkan tempat kerja di daerah Kanto serta Tohoku, mendapatkan kesempatan belajar di Tokyo.

Karena Sapporo masuk wilayah Tohoku, jadi saya harus ke Tokyo untuk mengikuti pelatihan, atau belajar bersama guna persiapan ujian nasional keperawatan di Jepang (kango kokkashiken).Image may contain: 2 people, crowd and outdoor

Jarak Sapporo dengan Tokyo adalah 1,5 jam dengan pesawat. Kalau naik shinkansen sekitar 4 jam, itupun baru sampe kota Hakodate. Masih harus dilanjut dengan kereta cepat dengan waktu tempuh 3,5 jam. Hampir delapan jam…

Jarak 1,5 dengan pesawat itu mirip Batam ke Jakarta, namun untuk keadaan Sapporo dan Tokyo, benar-benar berbeda.

Yang satu masih beku dan akan semakin beku menjelang bulan febuari. Yang satunya, benar-benar cerah dengan sinar matahari yang menghangatkan, walaupu
n suhunya juga drop saat malam juga sih…

Tapi, pertama kali mendarat di bandara Haneda hari minggu yang lalu, saya langsung berkeringat. Ya, secara, pakaian yang saya pakai berlapis-lapis.

Sudah hampir sebulan lebih saya di Sapporo belum pernah keringetan, karena suhunya yang stabil di bawah nol derajat.

Dengan suhu Tokyo yang 11 derajat saja, sudah beda yang saya rasakan, apalagi kalau pas pulang ke Indonesia saat cuti nanti. Mungkin langsung “gobyos” sama keringat badan saya, hehe…

Sekarang cerita soal pelatihan.

Tempat pelatihan bertempat di hotel Dai Ichi Ryougoku, Tokyo. Ruang kelas terpisah dengan ruangan menginap. kemarin saya mendapatkan tempat menginap di lantai 17, bersama teman saya yang sekarang bekerja di Nagano.

Skytree yang terkenal itu terasa begitu dekat dari ketinggian segitu.

Isi dalam ujian nasional keperawatan itu terbagi menjadi 12 tipe. Ada soal wajib, keperawatan dewasa, keperawatan anak, soal undang-undang jepang, dan lain-lain.

Pertemuan 2 hari kemarin itu baru membahas soal wajib atau hisshu mondai saja. Itu pun sudah bikin geleng-geleng. Ternyata, banyaaaak yang belum saya tahu, beneran deh.

Nah, dalam setahun, kesempatan belajar di Tokyo ada 5 kali. Dengan catatan, selama belum lulus ujian nasional masih boleh ikut belajar bareng.

Semisal, bulan depan tanggal 19 di ujian nasional keperawatan jepang yang ke 106 itu lulus, maka sudah tidak perlu belajar lagi ke Tokyo. Lah, kan sudah lulus, iya kan?

Kalau sudah lulus, maka level tantangannya akan naik, harus mulai belajar dengan preseptor yang ada di ruangan. Namun juga, gaji juga bisa naik rata-rata 50-100 persen..

Pelatihan dua hari yang full bahasa jepang itu juga hal baru bagi saya. Awalnya, senseinya masih nyaman didengarkan dan masih bisa diajak diskusi.

Nah, di hari kedua, karena tenggat waktu sampe jam 4 sore, dan soal yang dibahas masih banyak, akhirnya di beberapa bagian dikebut..

Sebagian besar rata-rata bisa dipahami oleh para peserta. Namun, tentu saja ada hal yang belum dimengerti. Oleh sebab itu, pelajaran bisa dilanjutkan secara online le

Image may contain: 1 person, smiling, standing, tree and outdoor

Patung hachiko

wat e-learning.

 

Jadi, kalau mau bertanya, diskusi dengan sensei yang terkait pun bisa.

Pelatihan selesai, kami dapat oleh-oleh sebendel makalah dan buku untuk persiapan ujian bulan depan.

Karena pesawat saya berangkat di hari berikutnya alias hari ini, tadi malam saya berkesempatan untuk silaturahim sekaligus menginap di rumah mas yusup yang sudah menjadi perawat di jepang sejak lulus ujian keperawatan 5 tahun lalu.

Jadi beliau sudah di jepang selama 9 tahun. Cerita demi cerita saya dengarkan dengan seksama.

Banyak hal dari pengalaman beliau yang menjadi masukan buat saya. Insyaallah cerita dengan beliau akan saya tulis di cerita berikutnya..

Image may contain: 2 people, people smiling, sky and outdoor

Di depan Toyo Dome dengan Mas Yusup

Dan tadi pagi, ditemani oleh beliau, saya berkesempatan mengunjungi beberapa tempat wisata “gratisan” di Tokyo.

Baiklah, sebentar lagi pesawat saya berangkat ke Sapporo. Pesawat “Air Do” yang akan membawa saja kembali ke kota es lagi.

Oh ya, bulan depan tanggal 6 sampai 12 febuari akan ada yuki matsuri, atau snow festival, atau festival salju di Sapporo?

Ada yang mau datang? Ntar saya jadi guide nya deh, hehe.

 

Tokyo, 25 Januari 2017. 17.55 waktu setempat. Ruang tunggu Bandara Haneda.

Uki

Iklan

Menjadi Perawat di Jepang, Kenapa Tidak?

19 Jan

#Yuki 8

11 Januari, jika menyebut tentang hal ini, banyak yang langsung teringat salah satu lagunya GIGI yang terkenal itu.

Itu memang benar, saya juga sangat suka dengan lagu itu, tapi “januari” juga menyimpan salah satu kenangan dari perjalanan saya.

Januari, 2 tahun silam, saya mengambil keputusan untuk “resign” dari rumah sakit Awal Bros Batam guna mempersiapkan diri untuk mengikuti serangkaian tes perawat ke Jepang.

Masih terkait tulisan saya di minggu yang lalu. Setelah saya posting, beberapa ada yang bertanya di kolom komentar, juga ada yang bertanya melalui inbox.

Rata-rata pertaannya sama, “Mas, bagaimana caranya bisa menjadi perawat di Jepang?”

Lalu, “Mohon bimbingannya ya, Mas. Saya juga ingin bisa bekerja disana,” Dan beberapa pertanyaan yang lain.

Baiklah, agar semua bisa membaca informasi ini, mari kita bahas bersama-sama.

Pertama, bagaimana cara daftarnya?

Saya langsung balas dengan singkat, silahkan buka website bnp2tki.go.id. Lalu cari bagian program perawat ke Jepang. Setelah terbuka web nya, ada di sebelah kanan bawah.

Disana, ada berbagai informasi tentang program IJEPA, atau pengiriman perawat ke jepang dari beberapa tahun yang lalu.

Kalau bingung tentang “informasinya” yang mana, dibawah saya sudah sertakan “screenshoot” utuh informasi pendaftaran tahun lalu.

Mohon dicatat baik-baik. Kalau perlu diberi garis tebal biar gak salah paham. Itu informasi tahun lalu, tahun 2016, untuk pengiriman ke jepang tahun 2017.

Kedua, “Lalu bisa daftarnya kapan mas?”

Kalau ini saya tidak bisa menjawab dengan pasti, tapi melihat informasi dari beberapa tahun yang lalu, biasanya pengumuman pendaftaran diumumkan di bulan maret.

Jadi, kira-kira 2 bulan lagi akan dibuka pendaftarannya.

Ketiga, “Mas, kok persyaratannya banyaaaaak banget?” Tanya seorang teman.

Ya memang begitu adanya. Secara, ini adalah program antar negara, jadi kualifikasi dan dokumen yang diperlukan juga sesuai keputusan antara pemerintah Indonesia dan Jepang.

Lalu, ini saran pribadi dari saya. Boleh diterima, boleh tidak.

Bagi yang ingin mendaftar sebagai calon perawat di rumah sakit atau “Kangoshi”, alangkah sebaiknya punya pengalaman kerja minimal 2 tahun, baik yang lulusan D3 maupun S1.

Melihat 2 tahun terakhir ini, pemerintah jepang sepertinya mulai merubah kebijakan tentang syarat minimal pengalaman kerja bagi pendaftar Kangoshi.

Keempat, “Sebelum daftar sudah harus bisa bahasa Jepang ya, Mas?”

Memang di persyaratan tidak ada kata “harus”. Tapi ada kolom yang mempersilahkan menyertakan sertifikat kemampuan masing-masing pendaftar.

Entah itu sertifikat kemampuan bahasa Jepang, bahasa inggris, pelatihan BTCLS, atau apapun.

Tapi kalau kita nalar bersama, namanya mau daftar ke Jepang, ya sebaiknya bisa bahasa Jepang walaupun sebatas baca tulis huruf hiragana-katakana serta perkenalan diri.

Apalagi kalau memang sudah niat untuk mempersiapkan diri dengan mengikuti pelatihan atau kursus. Tentu akan menjadi nilai tambah bukan?

Bukankah teman-teman yang ingin bekerja di luar negeri yang mayoritas menggunakan bahasa inggris, rata-rata mempersiapkan diri.

Saya rasa itu juga berlaku hal yang sama.

Kelima, “Mas dulu kursus ya?”

Iya, saya mengikuti pelatihan selama 4 bulan di Bandung sebelum mengikuti tes.

Setelah saya resign dari tempat kerja, sambil menunggu pembukaan pendaftaran, saya ikut kursus di LPK Bahana Inspirasi Muda Bandung.

“Bayar lagi dong mas?” Lanjutnya.

Iya, dimana-mana kalau belajar ya harus bayar. Tapi itu sepadan dengan hasilnya.

Lalu ada yang bilang, “Memang kalau kursus itu dijamin lolos tes, Mas?”

Kalau ada pertanyaan seperti itu, sama saja dengan pertanyaan, “Memang kalau sudah kuliah lantas bisa langsung dapat kerja?”

Hening, orang yang bertanya itupun berhenti mengetik. Hingga hari ini belum bertanya lagi.

Memang, ada suatu lembaga pelatihan di Jakarta yang memberikan semacam “beasiswa” bagi yang ingin bekerja di Jepang.

Namanya “Yayasan Bima”, silahkan dicari sendiri di internet. Kalau lolos tes masuknya, nanti akan dapat mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 10 bulan gratis. Hanya mengeluarkan uang untuk selain biaya pendidikan saja.

Saya tahu karena saya pernah ikut tesnya, tapi saat pengumuman, nama saya tidak tertera.

Dan masih ada banyak lembaga serta kursus di berbagai kota yang bisa menjadi pilihan teman-teman kalau ingin belajar.

Persoalannya hanya satu, mau mempersiapkan diri terlebih dahulu atau tidak.

Kalaupun tidak ingin kursus terlebih dulu, ya tidak apa-apa. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak juga teman-teman saya yang bisa lolos tanpa pelatihan sebelumnya.

Keenam, “Kalaupun saya ikut pelatihan, ikut tes, lalu gak lolos gimana, Mas?”

Duh dek, daftar aja belum sudah takut gak lolos.

Logikanya begini deh, kalau daftar, ikut tes, memang benar, ada kemungkinan tidak lolos.

Kalau ingin aman, ya tidak perlu daftar. Yakin, itu aman banget! Bahkan kemungkinan untuk gagal pun tidak ada. Iya kan?

Namanya kegagalan, saya yakin semua orang juga tidak menginginkannya. Jujur, saya pun juga.

Tapi satu hal yang saya pelajari dan saya “gigit” kuat prinsip ini. Gagal itu bukanlah suatu aib. Gagal itu ada untuk menguji seberapa tangguh kita bisa bangkit lagi.

Kegagalan adalah salah satu jalan terbaik untuk mengetahui seberapa tangguh kualitas seseorang tersebut.

Sebelum saya daftar program ke Jepang, sudah 3 kali saya gagal ikut tes ke luar negeri sebelumnya.

Sakit, iya, kecewa itu pasti.

Tapi bangkit dari kegagalan itu memberikan banyak hal yang tidak didapat oleh mereka yang hanya punya segudang “cita-cita” dan rancangan “angan” yang indah, tapi tidak pernah mau mencoba.

Layaknya “Sang Pemimpi” yang enggan bangun dari tidurnya.

Cita-citanya sungguh luar biasa tapi tidak pernah mau meninggalkan zona nyaman sebelumnya.

Mumpung masih 2 bulan dari pembukaan pendaftaran. Silahkan mempersiapkan diri sebaik mungkin bagi yang berminat.

Pengurusan dokumen itu tidak terlihat sederhana jika kita lihat rentetan daftarnya.

Minimal buat paspor dulu lah, siapa tahu sebelum daftar minimal bisa melancong ke Malaysia atau Singapura dulu.

Teman-teman mau melangkah, mau bergerak, keputusan itu ada dalam diri kalian.

Kalaupun saya selalu bilang, “Sampai bertemu di Jepang”, tapi teman-teman masih takut untuk sekedar mendaftar,

Lalu, kapan kita ketemunya? hehe

Sapporo, 11 Januari 2017. 20.30 waktu setempat. Hari ini suhunya ekstrim, -12 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.