Arsip | Yuki RSS feed for this section

Bulan April, Awal Debut Karyawan Baru di Jepang

30 Mar
17622050_10206992839018452_7755202266522727862_o

Tempat tunggu pasien poliklinik di RS tempat saya bekerja

#Yuki 19

Bulan maret sudah hampir usai. Bulan maret, yang identik dengan suasana hangat di negeri yang memiliki 4 musim, sudah mulai terhiasi oleh semerbak bunga sakura.

Ya, Sakura yang mampu menarik perhatian banyak orang.

Lantas, apa kabar Sapporo? Hmpt, saya sepertinya harus bersabar sedikit lagi. Mungkin di akhir april baru mekar.

Cuaca sekarang? Sudah mulai menghangat, hanya saja kadang-kadang masih ada bonus turun salju seperti sore hingga malam Ini, hehe.

Bulan april di Jepang juga dikenal dengan sebutan “nendo” (年度), atau tahun paskal Jepang.

Di bulan ini, mulai dari TK hingga perkuliahan disini, memasuki tahun ajaran barunya. Serempak!

Berbeda dengan di kampung saya, yang ketika bulan juni-juli, dari TK hingga SMA mulai memasuki tahun ajaran barunya. Kalau perkuliahan, antara bulan agustus-september.

Lalu, di bulan april juga, para karyawan baru di Jepang (khususnya yang baru lulus dari kuliah), memulai debutnya untuk mulai bekerja di berbagai perusahaan dan kantoran.

Jadi, jarak antara prosesi wisuda dan mulai bekerja, dekat sekali. Tidak lebih dari satu bulan.

Ini dikarenakan rata-rata perusahaan di Jepang, termasuk rumah sakit juga, sudah merekrut para calon karyawannya jauh-jauh hari sebelum mereka lulus ujian akhir.

Awalnya saya juga belum paham. Tapi setelah ngobrol dengan teman kerja saya, akhirnya saya mengerti.

Disini, ada istilah “Shuushoku katsudou”, (就職活動) atau kegiatan yang bertujuan mencari tempat kerja setelah lulus nanti.

Biasanya, kegiatan ini dilakukan setahun atau bisa dua tahun sebelum kelulusan.

Misalnya, sekolah keperawatan yang berdurasi 3 tahun. Maka, di awal semester kelima atau awal tahun ketiga, mereka memiliki program untuk mengunjungi berbagai rumah sakit yang diminati.

Ah, saya pengen kerja di daerah sini. Atau, bisa pergi ke luar daerahnya dan melihat-lihat calon tempat kerjanya.

Seperti rumah sakit tempat saya bekerja sekarang, beberapa waktu yang lalu kedatangan berbagai mahasiswa keperawatan dari berbagai daerah untuk melihat-lihat suasana rumah sakit dan pekerjaannya.

Beberapa dari mereka ada yang dari luar Hokkaido. misalnya, dari Iwate, Aomori, bahkan Tokyo.

Nah, setelah mereka melihat-lihat dan mantap dengan pilihannya. Barulah mereka mengikuti seleksi di tempat tersebut.

Seleksinya sendiri dilakukan ketika mereka masih duduk di bangku kuliah, kira-kira setahun sebelum kelulusan itu tadi.

Bisa juga ada semacam “Job fair” atau ajang pencarian kerja.

Jadi, ketika seleksi sudah selesai, lolos, dan kepastian tempat kerja sudah ditetapkan, mereka tinggal fokus ke tahap ujian akhir saja.

Yang jadi pertanyaan saya adalah, ketika mereka sudah dapat tempat kerja tapi ujian akhir gagal?

Ya….., mereka harus dengan berat hati merelakan kesempatan memulai bekerja di tahun itu.

Karena syarat bekerja adalah kelulusan di ujian akhir tersebut.

Tapi, prosentasenya kecil, karena sebagian besar memang bisa melewati ujian tersebut dengan gemilang.

Kalau seperti saya, yang mulai kerja di bulan desember kemarin, adalah pengecualian. Karena saya mengikuti program yang berbeda.

Dan saya pun belum bekerja sebagai perawat, masih asisten, karena memang belum lulus ujian keperawatan disini.

Hanya saja, tiba-tiba menjadi teringat dengan sistem penerimaan karyawan baru di kampung saya.

Syarat untuk “mendaftar” bekerja harus lulus dulu. Harus punya ijazah dulu. Harus punya surat keterangan ini dulu. Dan surat-surat yang lain.

Boleh jadi, saya terkesan “tidak adil” ketika membandingkan dua keadaan yang berbeda ini.

Yang satu kekurangan calon karyawan sekaligus generasi mudanya. Yang satu lagi, kelebihan jumlah lulusan dan semakin berkurangnya lahan pekerjaan di kampung halaman.

Sebagai kata penutup, mungkin saya agak terkesan “ngompor-ngomporin” (apa ya bahasa indonesianya?) teman-teman di kampung.

Mumpung disini sedang kekurangan tenaga kerja (karena pada jarang yang punya anak, dan lansianya awet betul umurnya), Hayuk mulai mempelajari bahasa selain bahasa ibu kita.

Karena menguasai berbagai bahasa itu akan menjadi pintu masuk ke berbagai negara yang akan membuka luas wawasan kita (serta menambah isi dompet tentunya).

Sapporo, 30 Maret 2017. 21.00 Waktu setempat. Malam jumat, yang sering dihiasi salju hingga esok sorenya.

*Uki

“Mas, Kulit Kacangnya Jangan Ikut Dimakan..”

10 Mar

#Yuki 16

Kira-kira Itu yang saya katakan kepada teman saya yang orang Jepang, ketika makan kacang kulit rasa, beberapa waktu yang lalu.

Kacang itu saya dapatkan dari “nitip” kenalan di grup facebook yang datang ke Sapporo sebulan kemarin.

Entah, tiba-tiba saya ingin makan kacang kulit rasa, dan teman yang mau datang ke Sapporo bertanya, “Mas Uki mau nitip apa dari Indonesia?”

“Bisa minta tolong dibawain kacang kulit rasa bawang?” Jawab saya.

“Ada lagi, Mas?” Tanya lagi.

Duhh, saya beneran gak enak nitip sama temen yang niatnya jalan-jalan.

Tapi karena “setengah” dipaksa, dengan alasan, “Saya juga pernah merantau ke Luar negeri, Mas. Jadi tahu rasanya kalau tiba-tiba ingin makan makanan dari tanah air,” Lanjutnya.

Akhirnya, saya nitip yang ringan-ringan saja. Seperti sambal dan beberapa bumbu masak khas Indonesia yang “langka” disini. Kalaupun ada, harganya bisa 5 kali lipat dari harga asalnya. Maklum, karena bumbunya naik pesawat.

Kembali ke teman saya tadi.

“Uki san, ini kacang apa namanya? Belum penah saya makan kacang seenak ini. Apalagi bisa dimakan sama kulitnya..”

Beneran saya tepok jidat. Duhh, apa memang orang Jepang kalau makan kacang kulit sama kulitnya ya. Betul-betul penasaran saya dibuatnya. Sekaligus khawatir kalau kenapa-napa.

Saya tanya balik ke dia. Memang kalau makan kacang sama kulitnya ya? Dia pun jawab, enggak.

Tetapi khusus untuk yang “satu” ini, kacang kulit rasa, beneran itu kacang dimakan “krauk, krauk” sekulit-kulitnya.

Padahal saya sudah bilang kalau biasanya, kulitnya gak ikut dimakan. Takut kenapa-kenapa.

Tapi ya, dia bilang, “Kono rakkasei wa totemo oishii desuyo. Meccha ooshii!” (Kacang ini beneran enak banget!) Sambil terdengar suara “krauk, krauk” disebelah saya.

Entahlah, kulit kacang kan juga organik kan ya? Nyatanya temen saya sehat-sehat saja hingga hari ini.
Yah, mungkin memang berbeda cara kami menikmati kacang kulit tersebut. Dan hingga hari inipun, ada beberapa perbedaan yang saya amati selama hampir 3 bulan berada disini.

Pertama tentang bahasa.

Ada beberapa kosakata yang menarik buat saya, karena dari arti aslinya, berubah sesuai dengan dialek hokkaido.

Kosakata “nageru” yang arti aslinya adalah melempar, seperti melempar bola pada kasti, berubah menjadi membuang yang lekat dengan kata sampah.

Biasanya kalau meminta tolong untuk membuangkan sampah, maka akan terucap, “Gomi wo sutete kudasai..”.

Disini menjadi beda, “Gomi wo nagete kudasai..” Kalau diartikan apa adanya, tolong lemparkan sampahnya! Nah, loh!

Selanjutnya adalah kosakata “kowai” yang artinya takut.

Pertama kali saya disini, saya dibuat bingung sama pasien yang ketika siang-siang, habis rehabilitasi, tiba-tiba bilang, “Karada kowakatta..” Kalau diartikan apa adanya, “Badan saya ketakutan”..

Lah, ini kan siang-siang. Takut apa memangnya. Saya (karena belum tahu) pun nanya balik. “Takut ada apa?”. Si pasien tetep kekeuh bilang, “kowakatta, kowakatta”

Tahu saya menjadi tambah bingung. Teman kerja saya (sambil senyum-senyum) bilang, “Kowakatta, disini itu artinya sama dengan ‘sindokatta’, yaitu capek, atau lelah..”

Yahhh, jadi begitu rupanya. Saya pikir takut kenapa coba.

Lalu ada juga “gokkun” yang artinya sama dengan “nomikomu” atau menelan.

Kemudian, kalau mengakhiri pertanyaan, jarang yang pake “ka”, misal “ogenki desuka” yang artinya bagaimana keadaannya. Tapi berubah, “genki no kai?”. “Ka” berubah jadi “kai” yang dengan ucapan orang setempat begitu menarik di telinga saya.

Lalu ada juga perbedaan budaya “sikat gigi” yang mungkin agak aneh, boleh jadi malah risih kalau dilakukan di Indonesia.

Setiap habis makan siang di ruang istirahat, teman-teman saya kemudian mengambil sikat gigi beserta pasta gigi, dan seketika itu langsung sikat gigi di tempat makan.

Alamakkk, padahal disebelahnya masih asik menyantap sate ayam (yakitori).

Awal-awal disini, terus terang saya merasa “enek”. Bisa-bisanya, yang satu gosok-gosok gigi, sebelahnya “srutup-srutup” nyendok sup.

Tapi lama-lama, akhirnya saya juga terbiasa dan melebur dengan budaya seperti itu.

Mengamati hal yang berbeda, menjadi hal yang mengasikkan buat saya. Karena bagaimanapun, perbedaan itu indah.

Dan ketika ada orang-orang yang enggan menerima perbedaan, dijamin tensinya bakal naik terus, hehe. Apalagi yang ingin memberangus perbedaan.

Sama seperti sekarang, ketika di daerah-daerah lain di Jepang sudah mulai bermekaran bunga sakura, bunga ume, dan masih banyak lagi. Di Sapporo masih begitu setia dengan salju lembutnya (yang katanya masih sampai akhir maret masih turun salju).

Nah, karena melihat perbedaan itu indah, biar tidak melulu lihat salju, insyaallah minggu depan ada kesempatan pelatihan di Tokyo.

Siapa tahu bisa lihat sakura disana.

Ada yang mau ikut?

 

Image may contain: one or more people and people sitting

(Bersama Sugai san, di Warung Ramen Halal di daerah Susukino, Sapporo. Sayangnya, saat itu gak bawa kacang kulit rasa, eh)

Sapporo, 9 Maret 2017. 20.30 waktu setempat. Seharian turun salju euy..

*Uki

 

Ujian Nasional Keperawatan Jepang ke 106, Tinggal Menghitung Hari..

17 Feb

#Yuki 13

Bulan febuari, jika di Tanah Air beta sedang semarak dengan pemilihan kepala daerah, disini juga lagi semarak-semaraknya ujian nasional berbagai profesi untuk meraih lisensi.

Saya cek di “homepage” di Jepang khusus tentang ujian profesi, maka bulan ini ada ujian profesi bagi dokter gigi, dokter umum, bidan, perawat, ahli radiologi, ahli rehabilitasi, dan berbagai macam profesi lainnya.

Khusus untuk perawat, sesuai jadwal, akan dilaksanakan pada hari minggu, 19 febuari 2017, atau dengan kata lain, 3 hari lagi!

Kalau ujian bagi senpai-senpai yang mengikuti program kaigofukushishi atau careworker, sudah melaksanakan ujian terlebih dulu pada bulan kemarin, tanggal 29 januari.

Nah, ujian nasional keperawatan di Jepang itu bagaimana sih? Yuk kita bahas bareng-bareng..

Pertama, Apa sih pentingnya ujian keperawatan di Jepang? Bukannya di Indonesia sudah jadi perawat dan punya STR (surat tanda registrasi)?

Itu benar, bagi temen-temen yang mengikuti program perawat (kangoshi) ke Jepang, salah satu syarat wajibnya adalah sudah memiliki STR dan punya pengalaman kerja.

Tapi, untuk menjadi setara dengan perawat yang asli orang sini, ya harus ikut ujian agar mendapatkan lisensi atau STR nya Jepang.

Jadi, sebelum mendapatkan lisensi tersebut, kita belum bisa mendapatkan gelar “kangoshi” atau perawat disini.

Jika belum mendapatkan lisensi, maka kita hanya diberbolehkan melakukan tindakan yang terbatas. Sebagian besar tindakan dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia.

Serta, selain bekerja, kita harus terus belajar agar bisa sesegera mungkin bisa lulus.

Kenapa sesegera mungkin? Karena terbatas pada kontrak kerja.

Berbicara tentang kontrak kerja, kami telah menandatangani kontrak kerja selama 3 tahun.

1 tahun pertama, tugasnya hanya belajar bahasa jepang saja. Di Jakarta dan di Jepang.

Setelah belajar selama setahun, ini adalah kesempatan pertama kami (khusus untuk EPA angkatan 9, kalau EPA 8 berarti adalah kesempatan kedua) dalam mengikuti ujian nasional.

Kedua, tempat ujiannya dimana?

Ada 12 perfektur (provinsi) yang menjadi tempat ujian. Yaitu, Hokkaido, Aomori, Miyagi, Nigata, Tokyo, Aichi, Ishikawa, Osaka, Hiroshima, Kagawa, Fukuoka, dan Okinawa.

Semisal ada yang bekerja di kota yang tidak menjadi tempat ujian, maka biasanya akan mendapatkan tempat ujian yang terdekat dari kota tempat kerjanya.

Ketiga, cara daftarnya bagaimana?

Tidak usah pusing, karena semua dibantu oleh pihak Jepang. Kami dari EPA 9, mendaftar saat masih pelatihan di Osaka kemarin. Jadi, tinggal nurut sama intruksi saja.

Keempat, biayayanya berapa?

Nah, ini dia. Biaya untuk mengikuti ujian nasional sebesar 5.400 yen (silahkan dirupiahkan sendiri ya, kurs saat kami daftar kemarin kira-kira 1 yen = 120 rupiah).

Sebagai catatan, uang pendaftaran itu ada yang harus bayar sendiri, ada juga yang ditanggung sama rumah sakit.

Bahkan ada juga kebijakan dari rumah sakit tertentu yang belum mengijinkan untuk mengikuti ujian di kesempatan pertama.

Karena tiap rumah sakit berbeda kebijakan yang diambil.

Kelima, materi ujian nasional itu apa saja?

Secara garis besar, hampir mirip dengan materi keperawatan di ujian kompetensi perawat di Indonesia. Ada KDM (kebutuhan dasar manusia), keperawatan medikal bedah, keperawatan anak, keperawatan maternitas, keperawatan jiwa, kode etik perawat, dan sebagainya.

Bedanya? Ada juga.

Perbedaan yang paling mendasar yang membuatnya menjadi sulit adalah, semua memakai huruf kanji!

Walaupun sekarang sudah ada kebijakan bahwa ujian untuk orang asing (karena yang ikut program EPA bukan hanya Indonesia saja, ada Filipina dan Vietnam juga) ada kemudahan dengan adanya huruf bantu “furigana”.

Furigana adalah huruf hiragana kecil-kecil yang ada di atas atau di bawah huruf kanji.

Tetapi, ada tapinya. Walaupun itu memang memudahkan untuk membaca kanji, tapi jika ada kosakata yang belum tahu arti serta penjelasannya, sama saja sulitnya.

Sebagai contoh, walaupun kata “apendiktomi” itu ditulis dalam bahasa indonesia, sebagai tenaga kesehatan pun harus mencari tahu arti serta penjelasannya.

Apalagi ini beralih ke bahasa jepang, yang tentu menjadi tantangan tersendiri.

Ditambah lagi, ada ilmu yang khusus hanya ada di Jepang saja.

Contoh, normalnya, untuk mengukur tingkat kesadaran digunakan skala GCS (Glasgow Coma Scale).

Di Jepang, mereka mempunyai alat ukur tersendiri untuk mengukur tingkat kesadaran pasien, yaitu JCS ( Japan Coma Scale).

Lalu di bidang keperawatan jiwa, Jepang juga punya “Hasegawa Scale”, yang belum pernah saya baca ketika di Indonesia.

Serta cabang ilmu yang mempelajari “houmon kango” atau perawat kunjungan ke rumah, yang merupakan salah satu ciri khas keperawatan di Jepang. Yang kesemuanya itu sudah menjadi sistem pelayanan kesehatan yang tertata.

Dan kami, harus mempelajari semua hal itu agar bisa mengerjakan soal-soal ujian nasional.

Keenam, Soalnya ada berapa?

Jumlah soalnya ada 240 soal. Dibagi menjadi tiga jenis. Ada soal wajib (hisshuu mondai) berjumlah 50 soal. Lalu soal umum (ippan mondai) 130 soal. Serta soal kasus (jokyou settei mondai) 60 soal.

240 soal itu dibagi menjadi dua. 120 soal dikerjakan pagi, sisanya 120 dikerjakan siangnya.

kriteria kelulusannya, soal wajib harus benar minimal 80%. Artinya, dari 50 soal, minimal harus benar 40 atau lebih. Jika kurang, otomatis tidak lulus.

Soal umum yang berjumlah 130 soal itu bernilai 1 poin, kalau soal kasus, setiap soal bernilai 2 poin.

Jadi, kalau ditotal, ada 130 ditambah 60 kali 2, jadinya 250 poin. Nah, dari 250 poin ini, nilai minimal kelulusannya berbeda setiap tahunnya. Ada yang pernah minimal 60%, pernah juga 70%.

Kata sensei saya, sebagai batas aman, lebih baik dibuat target minimal 70% saja, atau minimal harus mendapatkan nilai 175 dari jumlah 250 yang disediakan.

Ribet ya? Saya juga bingung pas mau nulis ini. harus coret sana-sini dulu, hehe.

Ketujuh, waktu mengerjakannya berapa lama?

Bagi orang asing, seperti saya dan teman-teman program EPA, mendapatkan porsi waktu yang berbeda.

Jika waktu ujian bagi orang Jepang adalah 2,5 jam pagi, lalu dilanjut 2,5 jam siang. Maka, saya nanti akan mendapatkan waktu 3,5 jam pagi dan 3,5 jam siangnya (alamakkk, ngantuk berat pasti nanti).

Waktu ujian pagi adalah pukul 09.00 sampai 12.30. Siangnya, 14.20 sampai 17.50 sore.

Dengan tambahan, saat pagi, jam 8 kami sudah harus masuk ruangan untuk mendapatkan pengarahan serta persiapan. Lalu siangnya, 13.40 sudah harus masuk ruangan juga!

Benar-benar ujian sehari! melebihi waktu kerja normal yang mulai pukul 08.30 sampai 17.00.

Terakhir, hal apa saja yang perlu dibawa saat ujian?

Hal ini menarik dan tentu saja penting untuk dicermati. Karena ketika ada yang ketinggalan, selesai sudah.

Ada tujuh poin utama , selain kartu ujian (kalau ini tentu sangat wajib!), yang harus dibawa. 1. Bolpoin hitam, 2. Pensil HB (pensil mekanik tidak boleh), 3. Penghapus karet (gak boleh bawa penghapus papan tulis, kegedean, hehe), 4. Rautan pensil, 5. Masker (sebagai jaga-jaga kalau ada yg batuk-batuk, maklum masih musim dingin), 6. Bekal makan siang, 7. lain-lain (boleh bawa penggaris, tapi kalkulator dan kompas dilarang).

Wah, ternyata cukup panjang catatan kali ini.

Oh ya, bagi kami yang akan mengikuti ujian di kesempatan pertama kali ini, sebagian besar pasti merasakan cukup berat.

Beberapa teman berujar, bukan pesimis, tapi realistis. Tapi bukan berarti menutup kesempatan tidak ada yang bisa memenangkan pertarungan perdana kali ini.

Siapapun itu, kami, 46 orang kandidat perawat EPA angkatan ke 9, serta para senpai angkatan 8 dan beberapa angkatan lainnya, memiliki kesempatan yang sama dalam ujian 3 hari lagi.

Ujian memang berat, tapi sekali lagi, tidak mustahil. Nyatanya ada yang lulus dan bisa beradaptasi dengan baik disini.

Semangat yang naik turun dalam belajar itu pasti ada.

Kalau itu terjadi, saya terkadang ingat salah satu penggalan kalimat di Novel “Cinta Dalam Gelas” karya Andrea Hirata, kalimat itu berbunyi,

“Beri aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar!”

Sapporo, 16 Febuari 2017. 20.20 waktu setempat. Suhu Sapporo perlahan mulai menghangat.

Uki

Festival Salju di Sapporo Sudah Dimulai! 札幌で雪祭りが始まりました!

17 Feb

#Yuki 11

19 Agustus 2015, hampir satu setengah tahun lalu, pertama kali saya mendengar nama kota Sapporo dari pihak Jepang yang mewawancarai saya di Jakarta.

Di sela-sela interview wajib, perwakilan pihak Jepang yang datang juga diberi kesempatan untuk mempresentasikan institusinya masing-masing kepada calon pendaftar. Atau lebih dikenal dengan sebutan “Setsumeikai”.

Saat itu, ketika di stand rumah sakit yang saat ini jadi tempat kerja saya, beberapa pertanyaan diajukan kepada kami.

“Sapporo itu dingin loh, tetap mau kerja di rumah sakit kami?” Ucap Shimada sensei, yang juga merupakan dokter bedah jantung di RS ini.

Beberapa teman menjawab. Lalu saya juga, “Moshi chansu ga areba, zehi kono byouin de zehi hatarakitai desu (Misal ada kesempatannya, saya benar-benar ingin bekerja di RS ini)” Jawab saya waktu itu.

Image may contain: 1 person, smiling, snow, tree, outdoor and nature

Dan semenjak akhir tahun lalu, akhirnya saya benar-benar bisa menginjakkan kaki di Sapporo dan mulai bekerja di RS yang pernah mewawancarai saya satu setengah tahun lalu.

Sapporo, begitu kata ini terucap, banyak orang yang langsung punya keinginan untuk datang dan menyaksikan “Yuki Matsuri” atau perayaan salju yang terkenal sampai mancanegara.

Umumnya, orang yang datang kesini hanya beberapa hari. Wisata ke daerah yang durasi turun saljunya berbeda dengan daerah lain di Jepang.

Nah, kalau rata-rata orang kesini untuk wisata, saya malah tinggal untuk jangka waktu yang cukup lama, hehe.

Kalau saat ini daerah di Osaka sudah mulai menghangat karena bulan maret akan masuk musim semi. Sapporo dan Hokkaido pada umumnya justru kebalikan. Bulan febuari adalah bulan dimana suhu akan mencapai titik terendahnya!

Rata-rata stabil di angka minus 6 sampai minus 10 derajat celcius. Tapi kata teman saya yang orang Jepang, selama festival salju berlangsung, suhu pernah drop sampai minus 15 derajat celcius!

Itu bukan beku lagi, tapi emaknya beku mungkin, hehe.

Sebenarnya, bukan hanya dingin yang jadi persoalan. Saya dulu berfikir kalau pas turun salju itu pasti dingin. Tapi ternyata bukan begitu, kadang saat turun salju, suhunya malah tidak sedingin biasanya.

Yang lebih perlu diwaspadai adalah angin! Walaupun tidak turun salju, tapi kalau pas anginnya kenceng, baju berlapis sama jaket pun seakan tidak berfungsi maksimal.

Mending masuk ke mall atau di kamar aja sambil nyalain penghangat. Beneran deh.
Nah, beberapa teman ada yang berkomentar, “Wah, Mas Uki jalan-jalan terus nih..”

Ya, kan memang setiap hari saya jalan. Dari asrama sampai rumah sakit pasti jalan kaki, hehe.

“Maksud saya, jalan-jalan ke tempat wisata di Sapporo. enaknyaaaa…..” Lanjut teman saya.

Oh, begitu. Baiklah, sebelum saya jawab, saya kutip sebuah tulisan ciamik dari teman saya, Mas Lucky. Berikut petikannya,

“Bekerja di RS memang mau tidak mau harus berhadapan dengan berbagai kejadian-kejadian ‘diluar nalar’ kehidupan.

“Melihat bagaimana seseorang akan meninggal, melihat kondisi yang mengancam, melihat bagaimana reaksi keluarga akan kehilangan, serta bekerja seolah-olah berlomba dengan Sang Maut mana yang lebih cepat atau bahkan melihat saat keluarga dan kerabat kita sakit dan kita adalah orang yang bekerja di RS tersebut.

“Percayalah semua itu bukanlah suasana lingkungan yang baik untuk kesehatan fisik dan mental.

Nah, untuk menanggulangi hal itu, ada berbagai cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan rekreasi atau piknik!

Mumpung sedang di Sapporo, ditambah dengan hari libur, daripada bengong di kamar, juga untuk menghemat biaya mesin penghangat, kan lebih baik keluar dan jalan-jalan.

Yang pertama adalah ke Tsudome, tempat festival salju yang ternyata, sangat dekat dengan asrama saya.

Cukup jalan sekitar 1 km aja sampai! Padahal sebelumnya, saya cuma tahu festival itu diadakan di Odori park aja.

Image may contain: 1 person

Nah, setelah berjalan sekitar 20 menit, tadaaaa, sampailah saya di Tsudome, dekat dengan stasiun Sakaemachi.

Disana, sebuah stadion indoor yang dirubah menjadi wahana bermain bagi anak-anak. Banyaknya perosotan atau “suberidai” menjadikan banyak orang tua dan guru TK dan SD membawa anak ataupun anak didiknya kesini.

Wisatawan lokal dan asing pun banyak yang datang. Sayangnya, saya belum ketemu orang dari Indonesia maupun Malaysia.No automatic alt text available.

Oh ya, festival di Tsudome ini berlangsung dari tanggal 1 sampai 12 febuari. Buka dari jam Image may contain: outdoor9 sampai 5 sore.

Yang unik disini adalah banyaknya perosotan dengan berbagai jenis.

Perosotan Indoor yang terbuat dari karet serta outdoor yang terbuat dari salju, sungguh sangat menggoda. Hanya saja, saya belum mencoba keduanya.

Alasannya, yang indoor, batas usia yang diperbolehkan adalah sampai usia 12 tahun. Saya? 12 dikali dua pun masih lebih, haha.

Yang outdoor, tadinya ingin mencoba. Tapi pas mau antri, tiba-tiba turun salju disertai angin kencenng banget! Tangan saya sampai mati rasa. Padahal sudah pakai sarung tangan!

Segera saya masuk gedung, menghangatkan diri.

Image may contain: one or more people, snow, nature and outdoor

Setelah foto-foto sejenak, kemudian saya lanjut mau lihat persiapan festival salju yang ada di Odori park.

Setelah turun di stasiun Sapporo, saya shalat dulu kemudian lanjut jalan.

Kok tahu jalannya? Saya selalu pakai google maps.

Ternyata, jalan yang saya tempuh, melewati sebuah bangunan fenomenal yang ada di Sapporo. Namanya “Akarenga” atau artinya batu bata merah.

Sebetulnya namanya “Hokkaidochou” atau gedung gubernuran Hokkaido, tapi karena seluruh bangunannya memakai batu bata yang berwarna merah, lebih dikenal dengan nama “Akarenga”.

Gedung ini terbuka untuk umum. Mulai pukul 10 pagi sampai 6 sore. Gratis! Di depan gedung, ada stand pemandu bagi yang ingin mendapatkan layanan bahasa inggris.

Para pemandunya baik banget, ringan tangan, yang datang sendiri kayak saya akhirnya dibantu buat ambil foto, haha.

Tahu aja mereka kalau saya butuh bantuan. Dan….akhirnya saya ketemu dengan Olaf! Sayangnya, Elsa sama Ana nya gak ada, mungkin lagi sibuk syuting film berikutnya, hehe.

Terakhir, yang menjadi magnet jutaan wisatawan asing saat festival salju adalah di Odori koen atau Odori park.

Saya tahu, tamannya belum dibuka karena acaranya baru mulai tanggal 6 sampai 12 febuari nanti. Tapi saya ingin lihat proses pembutannya.

Benar saja, salju dan es dalam ukuran yang sekian banyaknya perlahan-lahan terlihat menjadi berbagai bentuk yang menawan.

Image may contain: sky, tree, snow and outdoor

Alat-alat berat, para pekerja yang hilir mudik, memahat, menyusun, mengukir, membentuk es yang sedemikian dinginnya menjadi bentuk yang beraneka ragam!

Beberapa saya ambil fotonya, sebagai kenang-kenangan.

Juga, yang membuat saya senang adalah dibangunnya Iglo! atau rumah es yang mirip rumah es orang yang tinggal di Kutub.

Rasanya gak sabar nunggu tanggal 6 febuari. Mau keliling-keliling lagi.

Kalau yang mau ikut, ayok bareng-bareng pergi ke festival salju di Odori park hari senin nanti….

 

Sapporo, 2 febuari 2017. 21.50 waktu setempat.

Uki

Tokyo dan Secarik Cerita

17 Feb

#Yuki 10

Image may contain: sky and outdoor

Bandara Chitose Hokkaido yang bersalju

Bandara dan udara. Sampai lulus kuliah, saya begitu asing dengan kata-kata itu.

 

Perjalanan ke Batam beberapa tahun lalu, sekaligus pertama kali memasuki dunia kerja juga, adalah kali pertama saya merasakan perjalanan udara.

Boleh dikata, sekarang saya mulai menapaki pengalaman baru. Pergi dengan pesawat domestik tapi di dalam negeri orang lain.

Hal ini juga baru saya ketahui bulan lalu.

Peserta program perawat ke jepang yang melalui program EPA, mendapatkan kesempatan untuk mengikuti belajar bersama (benkyoukai, bahasa jepangnya) yang diadakan di dua tempat. Osaka dan Tokyo.

Satu catatan penting, seluruh biaya pelatihan dan perjalanan ditanggung..

Nah, untuk daerah Kansai dan sekitarnya, pelatihan bertempat di Osaka. Lalu, peserta yang mendapatkan tempat kerja di daerah Kanto serta Tohoku, mendapatkan kesempatan belajar di Tokyo.

Karena Sapporo masuk wilayah Tohoku, jadi saya harus ke Tokyo untuk mengikuti pelatihan, atau belajar bersama guna persiapan ujian nasional keperawatan di Jepang (kango kokkashiken).Image may contain: 2 people, crowd and outdoor

Jarak Sapporo dengan Tokyo adalah 1,5 jam dengan pesawat. Kalau naik shinkansen sekitar 4 jam, itupun baru sampe kota Hakodate. Masih harus dilanjut dengan kereta cepat dengan waktu tempuh 3,5 jam. Hampir delapan jam…

Jarak 1,5 dengan pesawat itu mirip Batam ke Jakarta, namun untuk keadaan Sapporo dan Tokyo, benar-benar berbeda.

Yang satu masih beku dan akan semakin beku menjelang bulan febuari. Yang satunya, benar-benar cerah dengan sinar matahari yang menghangatkan, walaupu
n suhunya juga drop saat malam juga sih…

Tapi, pertama kali mendarat di bandara Haneda hari minggu yang lalu, saya langsung berkeringat. Ya, secara, pakaian yang saya pakai berlapis-lapis.

Sudah hampir sebulan lebih saya di Sapporo belum pernah keringetan, karena suhunya yang stabil di bawah nol derajat.

Dengan suhu Tokyo yang 11 derajat saja, sudah beda yang saya rasakan, apalagi kalau pas pulang ke Indonesia saat cuti nanti. Mungkin langsung “gobyos” sama keringat badan saya, hehe…

Sekarang cerita soal pelatihan.

Tempat pelatihan bertempat di hotel Dai Ichi Ryougoku, Tokyo. Ruang kelas terpisah dengan ruangan menginap. kemarin saya mendapatkan tempat menginap di lantai 17, bersama teman saya yang sekarang bekerja di Nagano.

Skytree yang terkenal itu terasa begitu dekat dari ketinggian segitu.

Isi dalam ujian nasional keperawatan itu terbagi menjadi 12 tipe. Ada soal wajib, keperawatan dewasa, keperawatan anak, soal undang-undang jepang, dan lain-lain.

Pertemuan 2 hari kemarin itu baru membahas soal wajib atau hisshu mondai saja. Itu pun sudah bikin geleng-geleng. Ternyata, banyaaaak yang belum saya tahu, beneran deh.

Nah, dalam setahun, kesempatan belajar di Tokyo ada 5 kali. Dengan catatan, selama belum lulus ujian nasional masih boleh ikut belajar bareng.

Semisal, bulan depan tanggal 19 di ujian nasional keperawatan jepang yang ke 106 itu lulus, maka sudah tidak perlu belajar lagi ke Tokyo. Lah, kan sudah lulus, iya kan?

Kalau sudah lulus, maka level tantangannya akan naik, harus mulai belajar dengan preseptor yang ada di ruangan. Namun juga, gaji juga bisa naik rata-rata 50-100 persen..

Pelatihan dua hari yang full bahasa jepang itu juga hal baru bagi saya. Awalnya, senseinya masih nyaman didengarkan dan masih bisa diajak diskusi.

Nah, di hari kedua, karena tenggat waktu sampe jam 4 sore, dan soal yang dibahas masih banyak, akhirnya di beberapa bagian dikebut..

Sebagian besar rata-rata bisa dipahami oleh para peserta. Namun, tentu saja ada hal yang belum dimengerti. Oleh sebab itu, pelajaran bisa dilanjutkan secara online le

Image may contain: 1 person, smiling, standing, tree and outdoor

Patung hachiko

wat e-learning.

 

Jadi, kalau mau bertanya, diskusi dengan sensei yang terkait pun bisa.

Pelatihan selesai, kami dapat oleh-oleh sebendel makalah dan buku untuk persiapan ujian bulan depan.

Karena pesawat saya berangkat di hari berikutnya alias hari ini, tadi malam saya berkesempatan untuk silaturahim sekaligus menginap di rumah mas yusup yang sudah menjadi perawat di jepang sejak lulus ujian keperawatan 5 tahun lalu.

Jadi beliau sudah di jepang selama 9 tahun. Cerita demi cerita saya dengarkan dengan seksama.

Banyak hal dari pengalaman beliau yang menjadi masukan buat saya. Insyaallah cerita dengan beliau akan saya tulis di cerita berikutnya..

Image may contain: 2 people, people smiling, sky and outdoor

Di depan Toyo Dome dengan Mas Yusup

Dan tadi pagi, ditemani oleh beliau, saya berkesempatan mengunjungi beberapa tempat wisata “gratisan” di Tokyo.

Baiklah, sebentar lagi pesawat saya berangkat ke Sapporo. Pesawat “Air Do” yang akan membawa saja kembali ke kota es lagi.

Oh ya, bulan depan tanggal 6 sampai 12 febuari akan ada yuki matsuri, atau snow festival, atau festival salju di Sapporo?

Ada yang mau datang? Ntar saya jadi guide nya deh, hehe.

 

Tokyo, 25 Januari 2017. 17.55 waktu setempat. Ruang tunggu Bandara Haneda.

Uki

Tidak Mudah, Tapi Juga Tidak Mustahil

19 Jan

#Yuki 9

Masih seputar perbincangan dengan beberapa teman di inbox facebook seminggu ini.

Beberapa pertanyaan, langsung saya beri link tentang tulisan yang pernah saya tulis. Yaitu, tentang pengalaman pribadi mengikuti seleksi tes IJEPA atau program G to G ke Jepang tahun lalu.

Lalu, beberapa pertanyaan yang lain, saya minta waktu untuk menuliskannya, siapa tahu bisa berguna juga buat yang lain.

“Saya sekarang kerja sambil kursus bahasa jepang, Mas. Awalnya cukup bisa mengikuti, tapi kalau pas badan capek ditambah pelajarannya semakin meningkat levelnya, lama-lama jadi susah ternyata,..” Ujar teman saya.

“Bagaimana sebaiknya ya, Mas?” Lanjutnya.

Lalu, kami berdiskusi selama beberapa saat. Tukar pendapat dan ide.

“Kontrak kerja saya berakhir bulan depan, Mas. Saya sudah mantap untuk resign dan fokus belajar bahasa jepang untuk persiapan tes tahun ini,” Tukasnya mantap.

Tentu dalam setiap proses, peluang untuk gagal dan berhasil itu selalu ada. Syukur kalau berhasil, kalau gagal?

“Saya sudah pikirkan baik-baik, Mas. Tentu peluang gagal itu memang ada. Tapi setidaknya, saya mantap untuk memilih,”

“Saya tidak bisa mengerjakan 2 hal secara bersamaan. Memang harus ada mengalah salah satu,”

“Harapan utama saya tentu ingin lulus. Kalaupun toh gagal, semoga itu menjadi salah satu pembelajaran terbaik buat saya,” Ucap teman saya tersebut.

Pembincangan dengan teman yang lain pun berlanjut,

“Mas, saya lihat di internet, gaji perawat di jepang sampai 30 juta perbulan. Itu bener, Mas?”

Ya, itu memang benar adanya. Bahkan, bisa lebih dari itu.

Tapi, perlu dicatat baik-baik dan diperhatikan dengan seksama. Karena terkadang kita hanya senang membaca sebuah berita dari judulnya saja.

Isinya? nanti-nanti aja.

“Iya, memang benar, Mas” Jawab saya.

Kalau hanya sepintas melihat berita di internet atau media sosial, tentu “judul” itu terlihat “menggiurkan” bagi siapa aja.

Tapi itu diperuntukkan bagi yang sudah lulus ujian negara atau kokkashiken (国家試験). Gampangnya, punya “license” atau STR (Surat Tanda Registrasi) nya Jepang.

Kalau untuk saat ini, saya pun belum menyentuh separuh dari nominal tersebut.

Baiklah, kita singgung sedikit soal pendapatan. Biar jadi catatan saya juga agar kelak bisa mengingat hal ini.

Tidak dapat dipungkiri, salah satu dari berbagai alasan pergi bekerja di luar negeri adalah ingin mendapatkan pemasukan ekonomi yang “lebih” daripada di tanah air.

Kalau saya buat rata-rata, UMR di jepang saat ini berkisar antara 11-14 juta (kalau dirupiahkan, tentu juga tergantung kurs yen ke rupiah).

Tentu ada daerah yang lebih tinggi tapi batas bawahnya tidak terlalu jauh. Masing-masing rumah sakit juga punya kebijakan “tunjangan” yang berbeda-beda.

Memang kelihatan besar dengan jumlah sedemikian dibanding dengan di indonesia, apalagi kalau dibandingkan dengan daerah saya di Kudus, UMR nya belum pernah mencapai 2 juta.

Tapi begini saudara-saudara yang budiman. Di Kudus, saya masih bisa dengan mudah menemukan tempe penyet seharga 7 ribu.

Disini, tempe penyet juga ada, sepiring harganya 800 yen atau sekitar 80 ribu.

Kos-kosan di Semarang, rata-rata masih berada di angka 300 sampai 400 ribuan perbulan.

Sedangkan saya disini, apato (アパート) atau kos-kosan yang saya tempati berada di angka 25 ribu yen perbulan atau sekitar 2,5 juta perbulan.

Itupun sudah disubsidi rumah sakit juga, kalau harus bayar sendiri semuanya, mahal banget! Juga belum termasuk bayar gas, listrik, air dan lain-lainnya.

Apalagi di musim dingin seperti ini. Ditambah saya baru datang di tempat yang beku. Tagihan gas dan minyak tanah untuk penghangat ruangan pun cukup tinggi.

1,2 juta untuk membayar gas untuk memasak dan menghangatkan air, dan minyak tanah buat “danbo” atau penghangat ruangan.

Memang itu menjadi pembelajaran buat saya. Tapi itu juga wajar, kata teman saya yang orang jepang. Daripada sakit karena kedinginan, lebih baik suhu ruangan hangat.

Kan malah jadi susah kalau inginnya berhemat, ruangan jadi dingin, eh, malah jadi sakit.

Lalu soal belanja.

Beras termurah perlima kg yang saya temui di supermarket sebelah rumah sakit, seharga 1600 yen atau sekitar 160 ribu. Kol perbuah sekitar 30 ribu. Yang lumayan mirip dengan di Indonesia adalah telor, 20 ribu dapat 10 butir.

Mengapa saya tahu? Karena selama disini saya selalu masak sendiri. Jadinya, harga-harga bahan masakan jadi tahu, hehe.

Dengan harga-harga barang kebutuhan pokok yang bisa 4 sampai 5 kali di tanah air, maka kalau di kurs kan pun, gaji kami disini dengan standar UMR jepang, ya memang terlihat lebih besar.

Tapi semua itu kembali lagi ke gaya hidup dan kebutuhan hidup.

Kalau apa-apa menuruti gaya hidup, dapat gaji berapapun saya yakin pasti ambyarrr. Apalagi barang disini terlihat murah-murah.

Yang ini 200 yen, yang itu 400 yen, eh, itu bagus cuma 800 yen dan seterusnya.

Tapi kalau bisa mengatur kebutuhan dan mengekang keinginan yang tidak perlu, insyaallah, saya yakin bakal punya tabungan banyak. Syukur-syukur bisa rutin ngirim ke tanah air dan buat sedekah.

Perbincangan pun berlanjut.

“Memang ujian negara di jepang itu beda ya sama di Indonesia?” Teman saya penasaran ingin tahu.

Jelas beda. Utamanya adalah bahasa yang digunakan.

Kalau di Indonesia memakai bahasa indonesia, disini memakai bahasa jepang. Lalu, adanya perbedaan budaya menjadikan materi keperawatan di jepang juga berbeda.

“Susah gak mas?” Lanjutnya.

Saya sendiri baru bulan depan mau mencoba ikut. Tapi sebagai gambaran, saya ambilkan contoh soal tahun kemarin, kokkashiken atau ujian keperawatan nasional ke 105.

Soal ini sudah ada terjemahannya, namun, saat ujian yang sebebarnya nanti, tidak ada. Hanya ada huruf furigana sebagai alat bantu membaca kanji.

Soal dibawah ini adalah “Hisshu mondai” (必修問題) atau soal wajib ujian pagi nomor 1 dan 2.

Ujian pagi? Ya, ujiannya pagi dan siang. Ujian pagi dengan jumlah 120 soal dan siangnya juga 120 soal.

Soal pertama.

日本の平成25年(2013年)における男性の平均寿命はどれか。

(nihon no heisei 25 nen ni okeru dansei no heikin jumyou wa doreka)

(Manakah yang merupakan rata-rata angka harapan hidup pria di Jepang pada tahun Heisei 25/tahun 2013?)

1. 70.21年 (tahun)
2. 75.21年 (tahun)
3. 80.21年 (tahun)
4. 85.21年 (tahun)

Soal kedua.

日本の平成24年(2012年)の国民健康・栄養調査における男性の喫煙習慣者の割合はどれか。

(nihon no heisei 24 nen no kokumin houken eiyou chousa no kitsuen shuukansha no wariai wa doreka)

(Manakah presentasi pria yang mempunyai kebiasaan merokok menurut survey kesehatan dan gizi nasional Jepang pada tahun heisei 24/2012?)

1. 14.1%
2. 34.1%
3. 54.1%
4. 74.1%

Bagaimana? Ada yang sudah punya prediksi jawabannya?

Sapporo, 19 Januari 2017. 20.30 waktu setempat. Suhu luar minus 3 derajat celcius.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.

Menjadi Perawat di Jepang, Kenapa Tidak?

19 Jan

#Yuki 8

11 Januari, jika menyebut tentang hal ini, banyak yang langsung teringat salah satu lagunya GIGI yang terkenal itu.

Itu memang benar, saya juga sangat suka dengan lagu itu, tapi “januari” juga menyimpan salah satu kenangan dari perjalanan saya.

Januari, 2 tahun silam, saya mengambil keputusan untuk “resign” dari rumah sakit Awal Bros Batam guna mempersiapkan diri untuk mengikuti serangkaian tes perawat ke Jepang.

Masih terkait tulisan saya di minggu yang lalu. Setelah saya posting, beberapa ada yang bertanya di kolom komentar, juga ada yang bertanya melalui inbox.

Rata-rata pertaannya sama, “Mas, bagaimana caranya bisa menjadi perawat di Jepang?”

Lalu, “Mohon bimbingannya ya, Mas. Saya juga ingin bisa bekerja disana,” Dan beberapa pertanyaan yang lain.

Baiklah, agar semua bisa membaca informasi ini, mari kita bahas bersama-sama.

Pertama, bagaimana cara daftarnya?

Saya langsung balas dengan singkat, silahkan buka website bnp2tki.go.id. Lalu cari bagian program perawat ke Jepang. Setelah terbuka web nya, ada di sebelah kanan bawah.

Disana, ada berbagai informasi tentang program IJEPA, atau pengiriman perawat ke jepang dari beberapa tahun yang lalu.

Kalau bingung tentang “informasinya” yang mana, dibawah saya sudah sertakan “screenshoot” utuh informasi pendaftaran tahun lalu.

Mohon dicatat baik-baik. Kalau perlu diberi garis tebal biar gak salah paham. Itu informasi tahun lalu, tahun 2016, untuk pengiriman ke jepang tahun 2017.

Kedua, “Lalu bisa daftarnya kapan mas?”

Kalau ini saya tidak bisa menjawab dengan pasti, tapi melihat informasi dari beberapa tahun yang lalu, biasanya pengumuman pendaftaran diumumkan di bulan maret.

Jadi, kira-kira 2 bulan lagi akan dibuka pendaftarannya.

Ketiga, “Mas, kok persyaratannya banyaaaaak banget?” Tanya seorang teman.

Ya memang begitu adanya. Secara, ini adalah program antar negara, jadi kualifikasi dan dokumen yang diperlukan juga sesuai keputusan antara pemerintah Indonesia dan Jepang.

Lalu, ini saran pribadi dari saya. Boleh diterima, boleh tidak.

Bagi yang ingin mendaftar sebagai calon perawat di rumah sakit atau “Kangoshi”, alangkah sebaiknya punya pengalaman kerja minimal 2 tahun, baik yang lulusan D3 maupun S1.

Melihat 2 tahun terakhir ini, pemerintah jepang sepertinya mulai merubah kebijakan tentang syarat minimal pengalaman kerja bagi pendaftar Kangoshi.

Keempat, “Sebelum daftar sudah harus bisa bahasa Jepang ya, Mas?”

Memang di persyaratan tidak ada kata “harus”. Tapi ada kolom yang mempersilahkan menyertakan sertifikat kemampuan masing-masing pendaftar.

Entah itu sertifikat kemampuan bahasa Jepang, bahasa inggris, pelatihan BTCLS, atau apapun.

Tapi kalau kita nalar bersama, namanya mau daftar ke Jepang, ya sebaiknya bisa bahasa Jepang walaupun sebatas baca tulis huruf hiragana-katakana serta perkenalan diri.

Apalagi kalau memang sudah niat untuk mempersiapkan diri dengan mengikuti pelatihan atau kursus. Tentu akan menjadi nilai tambah bukan?

Bukankah teman-teman yang ingin bekerja di luar negeri yang mayoritas menggunakan bahasa inggris, rata-rata mempersiapkan diri.

Saya rasa itu juga berlaku hal yang sama.

Kelima, “Mas dulu kursus ya?”

Iya, saya mengikuti pelatihan selama 4 bulan di Bandung sebelum mengikuti tes.

Setelah saya resign dari tempat kerja, sambil menunggu pembukaan pendaftaran, saya ikut kursus di LPK Bahana Inspirasi Muda Bandung.

“Bayar lagi dong mas?” Lanjutnya.

Iya, dimana-mana kalau belajar ya harus bayar. Tapi itu sepadan dengan hasilnya.

Lalu ada yang bilang, “Memang kalau kursus itu dijamin lolos tes, Mas?”

Kalau ada pertanyaan seperti itu, sama saja dengan pertanyaan, “Memang kalau sudah kuliah lantas bisa langsung dapat kerja?”

Hening, orang yang bertanya itupun berhenti mengetik. Hingga hari ini belum bertanya lagi.

Memang, ada suatu lembaga pelatihan di Jakarta yang memberikan semacam “beasiswa” bagi yang ingin bekerja di Jepang.

Namanya “Yayasan Bima”, silahkan dicari sendiri di internet. Kalau lolos tes masuknya, nanti akan dapat mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 10 bulan gratis. Hanya mengeluarkan uang untuk selain biaya pendidikan saja.

Saya tahu karena saya pernah ikut tesnya, tapi saat pengumuman, nama saya tidak tertera.

Dan masih ada banyak lembaga serta kursus di berbagai kota yang bisa menjadi pilihan teman-teman kalau ingin belajar.

Persoalannya hanya satu, mau mempersiapkan diri terlebih dahulu atau tidak.

Kalaupun tidak ingin kursus terlebih dulu, ya tidak apa-apa. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak juga teman-teman saya yang bisa lolos tanpa pelatihan sebelumnya.

Keenam, “Kalaupun saya ikut pelatihan, ikut tes, lalu gak lolos gimana, Mas?”

Duh dek, daftar aja belum sudah takut gak lolos.

Logikanya begini deh, kalau daftar, ikut tes, memang benar, ada kemungkinan tidak lolos.

Kalau ingin aman, ya tidak perlu daftar. Yakin, itu aman banget! Bahkan kemungkinan untuk gagal pun tidak ada. Iya kan?

Namanya kegagalan, saya yakin semua orang juga tidak menginginkannya. Jujur, saya pun juga.

Tapi satu hal yang saya pelajari dan saya “gigit” kuat prinsip ini. Gagal itu bukanlah suatu aib. Gagal itu ada untuk menguji seberapa tangguh kita bisa bangkit lagi.

Kegagalan adalah salah satu jalan terbaik untuk mengetahui seberapa tangguh kualitas seseorang tersebut.

Sebelum saya daftar program ke Jepang, sudah 3 kali saya gagal ikut tes ke luar negeri sebelumnya.

Sakit, iya, kecewa itu pasti.

Tapi bangkit dari kegagalan itu memberikan banyak hal yang tidak didapat oleh mereka yang hanya punya segudang “cita-cita” dan rancangan “angan” yang indah, tapi tidak pernah mau mencoba.

Layaknya “Sang Pemimpi” yang enggan bangun dari tidurnya.

Cita-citanya sungguh luar biasa tapi tidak pernah mau meninggalkan zona nyaman sebelumnya.

Mumpung masih 2 bulan dari pembukaan pendaftaran. Silahkan mempersiapkan diri sebaik mungkin bagi yang berminat.

Pengurusan dokumen itu tidak terlihat sederhana jika kita lihat rentetan daftarnya.

Minimal buat paspor dulu lah, siapa tahu sebelum daftar minimal bisa melancong ke Malaysia atau Singapura dulu.

Teman-teman mau melangkah, mau bergerak, keputusan itu ada dalam diri kalian.

Kalaupun saya selalu bilang, “Sampai bertemu di Jepang”, tapi teman-teman masih takut untuk sekedar mendaftar,

Lalu, kapan kita ketemunya? hehe

Sapporo, 11 Januari 2017. 20.30 waktu setempat. Hari ini suhunya ekstrim, -12 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.