Tag Archives: sapporo

Bulan April, Awal Debut Karyawan Baru di Jepang

30 Mar
17622050_10206992839018452_7755202266522727862_o

Tempat tunggu pasien poliklinik di RS tempat saya bekerja

#Yuki 19

Bulan maret sudah hampir usai. Bulan maret, yang identik dengan suasana hangat di negeri yang memiliki 4 musim, sudah mulai terhiasi oleh semerbak bunga sakura.

Ya, Sakura yang mampu menarik perhatian banyak orang.

Lantas, apa kabar Sapporo? Hmpt, saya sepertinya harus bersabar sedikit lagi. Mungkin di akhir april baru mekar.

Cuaca sekarang? Sudah mulai menghangat, hanya saja kadang-kadang masih ada bonus turun salju seperti sore hingga malam Ini, hehe.

Bulan april di Jepang juga dikenal dengan sebutan “nendo” (年度), atau tahun paskal Jepang.

Di bulan ini, mulai dari TK hingga perkuliahan disini, memasuki tahun ajaran barunya. Serempak!

Berbeda dengan di kampung saya, yang ketika bulan juni-juli, dari TK hingga SMA mulai memasuki tahun ajaran barunya. Kalau perkuliahan, antara bulan agustus-september.

Lalu, di bulan april juga, para karyawan baru di Jepang (khususnya yang baru lulus dari kuliah), memulai debutnya untuk mulai bekerja di berbagai perusahaan dan kantoran.

Jadi, jarak antara prosesi wisuda dan mulai bekerja, dekat sekali. Tidak lebih dari satu bulan.

Ini dikarenakan rata-rata perusahaan di Jepang, termasuk rumah sakit juga, sudah merekrut para calon karyawannya jauh-jauh hari sebelum mereka lulus ujian akhir.

Awalnya saya juga belum paham. Tapi setelah ngobrol dengan teman kerja saya, akhirnya saya mengerti.

Disini, ada istilah “Shuushoku katsudou”, (就職活動) atau kegiatan yang bertujuan mencari tempat kerja setelah lulus nanti.

Biasanya, kegiatan ini dilakukan setahun atau bisa dua tahun sebelum kelulusan.

Misalnya, sekolah keperawatan yang berdurasi 3 tahun. Maka, di awal semester kelima atau awal tahun ketiga, mereka memiliki program untuk mengunjungi berbagai rumah sakit yang diminati.

Ah, saya pengen kerja di daerah sini. Atau, bisa pergi ke luar daerahnya dan melihat-lihat calon tempat kerjanya.

Seperti rumah sakit tempat saya bekerja sekarang, beberapa waktu yang lalu kedatangan berbagai mahasiswa keperawatan dari berbagai daerah untuk melihat-lihat suasana rumah sakit dan pekerjaannya.

Beberapa dari mereka ada yang dari luar Hokkaido. misalnya, dari Iwate, Aomori, bahkan Tokyo.

Nah, setelah mereka melihat-lihat dan mantap dengan pilihannya. Barulah mereka mengikuti seleksi di tempat tersebut.

Seleksinya sendiri dilakukan ketika mereka masih duduk di bangku kuliah, kira-kira setahun sebelum kelulusan itu tadi.

Bisa juga ada semacam “Job fair” atau ajang pencarian kerja.

Jadi, ketika seleksi sudah selesai, lolos, dan kepastian tempat kerja sudah ditetapkan, mereka tinggal fokus ke tahap ujian akhir saja.

Yang jadi pertanyaan saya adalah, ketika mereka sudah dapat tempat kerja tapi ujian akhir gagal?

Ya….., mereka harus dengan berat hati merelakan kesempatan memulai bekerja di tahun itu.

Karena syarat bekerja adalah kelulusan di ujian akhir tersebut.

Tapi, prosentasenya kecil, karena sebagian besar memang bisa melewati ujian tersebut dengan gemilang.

Kalau seperti saya, yang mulai kerja di bulan desember kemarin, adalah pengecualian. Karena saya mengikuti program yang berbeda.

Dan saya pun belum bekerja sebagai perawat, masih asisten, karena memang belum lulus ujian keperawatan disini.

Hanya saja, tiba-tiba menjadi teringat dengan sistem penerimaan karyawan baru di kampung saya.

Syarat untuk “mendaftar” bekerja harus lulus dulu. Harus punya ijazah dulu. Harus punya surat keterangan ini dulu. Dan surat-surat yang lain.

Boleh jadi, saya terkesan “tidak adil” ketika membandingkan dua keadaan yang berbeda ini.

Yang satu kekurangan calon karyawan sekaligus generasi mudanya. Yang satu lagi, kelebihan jumlah lulusan dan semakin berkurangnya lahan pekerjaan di kampung halaman.

Sebagai kata penutup, mungkin saya agak terkesan “ngompor-ngomporin” (apa ya bahasa indonesianya?) teman-teman di kampung.

Mumpung disini sedang kekurangan tenaga kerja (karena pada jarang yang punya anak, dan lansianya awet betul umurnya), Hayuk mulai mempelajari bahasa selain bahasa ibu kita.

Karena menguasai berbagai bahasa itu akan menjadi pintu masuk ke berbagai negara yang akan membuka luas wawasan kita (serta menambah isi dompet tentunya).

Sapporo, 30 Maret 2017. 21.00 Waktu setempat. Malam jumat, yang sering dihiasi salju hingga esok sorenya.

*Uki

Ujian Nasional Keperawatan Jepang ke 106, Tinggal Menghitung Hari..

17 Feb

#Yuki 13

Bulan febuari, jika di Tanah Air beta sedang semarak dengan pemilihan kepala daerah, disini juga lagi semarak-semaraknya ujian nasional berbagai profesi untuk meraih lisensi.

Saya cek di “homepage” di Jepang khusus tentang ujian profesi, maka bulan ini ada ujian profesi bagi dokter gigi, dokter umum, bidan, perawat, ahli radiologi, ahli rehabilitasi, dan berbagai macam profesi lainnya.

Khusus untuk perawat, sesuai jadwal, akan dilaksanakan pada hari minggu, 19 febuari 2017, atau dengan kata lain, 3 hari lagi!

Kalau ujian bagi senpai-senpai yang mengikuti program kaigofukushishi atau careworker, sudah melaksanakan ujian terlebih dulu pada bulan kemarin, tanggal 29 januari.

Nah, ujian nasional keperawatan di Jepang itu bagaimana sih? Yuk kita bahas bareng-bareng..

Pertama, Apa sih pentingnya ujian keperawatan di Jepang? Bukannya di Indonesia sudah jadi perawat dan punya STR (surat tanda registrasi)?

Itu benar, bagi temen-temen yang mengikuti program perawat (kangoshi) ke Jepang, salah satu syarat wajibnya adalah sudah memiliki STR dan punya pengalaman kerja.

Tapi, untuk menjadi setara dengan perawat yang asli orang sini, ya harus ikut ujian agar mendapatkan lisensi atau STR nya Jepang.

Jadi, sebelum mendapatkan lisensi tersebut, kita belum bisa mendapatkan gelar “kangoshi” atau perawat disini.

Jika belum mendapatkan lisensi, maka kita hanya diberbolehkan melakukan tindakan yang terbatas. Sebagian besar tindakan dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia.

Serta, selain bekerja, kita harus terus belajar agar bisa sesegera mungkin bisa lulus.

Kenapa sesegera mungkin? Karena terbatas pada kontrak kerja.

Berbicara tentang kontrak kerja, kami telah menandatangani kontrak kerja selama 3 tahun.

1 tahun pertama, tugasnya hanya belajar bahasa jepang saja. Di Jakarta dan di Jepang.

Setelah belajar selama setahun, ini adalah kesempatan pertama kami (khusus untuk EPA angkatan 9, kalau EPA 8 berarti adalah kesempatan kedua) dalam mengikuti ujian nasional.

Kedua, tempat ujiannya dimana?

Ada 12 perfektur (provinsi) yang menjadi tempat ujian. Yaitu, Hokkaido, Aomori, Miyagi, Nigata, Tokyo, Aichi, Ishikawa, Osaka, Hiroshima, Kagawa, Fukuoka, dan Okinawa.

Semisal ada yang bekerja di kota yang tidak menjadi tempat ujian, maka biasanya akan mendapatkan tempat ujian yang terdekat dari kota tempat kerjanya.

Ketiga, cara daftarnya bagaimana?

Tidak usah pusing, karena semua dibantu oleh pihak Jepang. Kami dari EPA 9, mendaftar saat masih pelatihan di Osaka kemarin. Jadi, tinggal nurut sama intruksi saja.

Keempat, biayayanya berapa?

Nah, ini dia. Biaya untuk mengikuti ujian nasional sebesar 5.400 yen (silahkan dirupiahkan sendiri ya, kurs saat kami daftar kemarin kira-kira 1 yen = 120 rupiah).

Sebagai catatan, uang pendaftaran itu ada yang harus bayar sendiri, ada juga yang ditanggung sama rumah sakit.

Bahkan ada juga kebijakan dari rumah sakit tertentu yang belum mengijinkan untuk mengikuti ujian di kesempatan pertama.

Karena tiap rumah sakit berbeda kebijakan yang diambil.

Kelima, materi ujian nasional itu apa saja?

Secara garis besar, hampir mirip dengan materi keperawatan di ujian kompetensi perawat di Indonesia. Ada KDM (kebutuhan dasar manusia), keperawatan medikal bedah, keperawatan anak, keperawatan maternitas, keperawatan jiwa, kode etik perawat, dan sebagainya.

Bedanya? Ada juga.

Perbedaan yang paling mendasar yang membuatnya menjadi sulit adalah, semua memakai huruf kanji!

Walaupun sekarang sudah ada kebijakan bahwa ujian untuk orang asing (karena yang ikut program EPA bukan hanya Indonesia saja, ada Filipina dan Vietnam juga) ada kemudahan dengan adanya huruf bantu “furigana”.

Furigana adalah huruf hiragana kecil-kecil yang ada di atas atau di bawah huruf kanji.

Tetapi, ada tapinya. Walaupun itu memang memudahkan untuk membaca kanji, tapi jika ada kosakata yang belum tahu arti serta penjelasannya, sama saja sulitnya.

Sebagai contoh, walaupun kata “apendiktomi” itu ditulis dalam bahasa indonesia, sebagai tenaga kesehatan pun harus mencari tahu arti serta penjelasannya.

Apalagi ini beralih ke bahasa jepang, yang tentu menjadi tantangan tersendiri.

Ditambah lagi, ada ilmu yang khusus hanya ada di Jepang saja.

Contoh, normalnya, untuk mengukur tingkat kesadaran digunakan skala GCS (Glasgow Coma Scale).

Di Jepang, mereka mempunyai alat ukur tersendiri untuk mengukur tingkat kesadaran pasien, yaitu JCS ( Japan Coma Scale).

Lalu di bidang keperawatan jiwa, Jepang juga punya “Hasegawa Scale”, yang belum pernah saya baca ketika di Indonesia.

Serta cabang ilmu yang mempelajari “houmon kango” atau perawat kunjungan ke rumah, yang merupakan salah satu ciri khas keperawatan di Jepang. Yang kesemuanya itu sudah menjadi sistem pelayanan kesehatan yang tertata.

Dan kami, harus mempelajari semua hal itu agar bisa mengerjakan soal-soal ujian nasional.

Keenam, Soalnya ada berapa?

Jumlah soalnya ada 240 soal. Dibagi menjadi tiga jenis. Ada soal wajib (hisshuu mondai) berjumlah 50 soal. Lalu soal umum (ippan mondai) 130 soal. Serta soal kasus (jokyou settei mondai) 60 soal.

240 soal itu dibagi menjadi dua. 120 soal dikerjakan pagi, sisanya 120 dikerjakan siangnya.

kriteria kelulusannya, soal wajib harus benar minimal 80%. Artinya, dari 50 soal, minimal harus benar 40 atau lebih. Jika kurang, otomatis tidak lulus.

Soal umum yang berjumlah 130 soal itu bernilai 1 poin, kalau soal kasus, setiap soal bernilai 2 poin.

Jadi, kalau ditotal, ada 130 ditambah 60 kali 2, jadinya 250 poin. Nah, dari 250 poin ini, nilai minimal kelulusannya berbeda setiap tahunnya. Ada yang pernah minimal 60%, pernah juga 70%.

Kata sensei saya, sebagai batas aman, lebih baik dibuat target minimal 70% saja, atau minimal harus mendapatkan nilai 175 dari jumlah 250 yang disediakan.

Ribet ya? Saya juga bingung pas mau nulis ini. harus coret sana-sini dulu, hehe.

Ketujuh, waktu mengerjakannya berapa lama?

Bagi orang asing, seperti saya dan teman-teman program EPA, mendapatkan porsi waktu yang berbeda.

Jika waktu ujian bagi orang Jepang adalah 2,5 jam pagi, lalu dilanjut 2,5 jam siang. Maka, saya nanti akan mendapatkan waktu 3,5 jam pagi dan 3,5 jam siangnya (alamakkk, ngantuk berat pasti nanti).

Waktu ujian pagi adalah pukul 09.00 sampai 12.30. Siangnya, 14.20 sampai 17.50 sore.

Dengan tambahan, saat pagi, jam 8 kami sudah harus masuk ruangan untuk mendapatkan pengarahan serta persiapan. Lalu siangnya, 13.40 sudah harus masuk ruangan juga!

Benar-benar ujian sehari! melebihi waktu kerja normal yang mulai pukul 08.30 sampai 17.00.

Terakhir, hal apa saja yang perlu dibawa saat ujian?

Hal ini menarik dan tentu saja penting untuk dicermati. Karena ketika ada yang ketinggalan, selesai sudah.

Ada tujuh poin utama , selain kartu ujian (kalau ini tentu sangat wajib!), yang harus dibawa. 1. Bolpoin hitam, 2. Pensil HB (pensil mekanik tidak boleh), 3. Penghapus karet (gak boleh bawa penghapus papan tulis, kegedean, hehe), 4. Rautan pensil, 5. Masker (sebagai jaga-jaga kalau ada yg batuk-batuk, maklum masih musim dingin), 6. Bekal makan siang, 7. lain-lain (boleh bawa penggaris, tapi kalkulator dan kompas dilarang).

Wah, ternyata cukup panjang catatan kali ini.

Oh ya, bagi kami yang akan mengikuti ujian di kesempatan pertama kali ini, sebagian besar pasti merasakan cukup berat.

Beberapa teman berujar, bukan pesimis, tapi realistis. Tapi bukan berarti menutup kesempatan tidak ada yang bisa memenangkan pertarungan perdana kali ini.

Siapapun itu, kami, 46 orang kandidat perawat EPA angkatan ke 9, serta para senpai angkatan 8 dan beberapa angkatan lainnya, memiliki kesempatan yang sama dalam ujian 3 hari lagi.

Ujian memang berat, tapi sekali lagi, tidak mustahil. Nyatanya ada yang lulus dan bisa beradaptasi dengan baik disini.

Semangat yang naik turun dalam belajar itu pasti ada.

Kalau itu terjadi, saya terkadang ingat salah satu penggalan kalimat di Novel “Cinta Dalam Gelas” karya Andrea Hirata, kalimat itu berbunyi,

“Beri aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar!”

Sapporo, 16 Febuari 2017. 20.20 waktu setempat. Suhu Sapporo perlahan mulai menghangat.

Uki

Festival Salju di Sapporo Sudah Dimulai! 札幌で雪祭りが始まりました!

17 Feb

#Yuki 11

19 Agustus 2015, hampir satu setengah tahun lalu, pertama kali saya mendengar nama kota Sapporo dari pihak Jepang yang mewawancarai saya di Jakarta.

Di sela-sela interview wajib, perwakilan pihak Jepang yang datang juga diberi kesempatan untuk mempresentasikan institusinya masing-masing kepada calon pendaftar. Atau lebih dikenal dengan sebutan “Setsumeikai”.

Saat itu, ketika di stand rumah sakit yang saat ini jadi tempat kerja saya, beberapa pertanyaan diajukan kepada kami.

“Sapporo itu dingin loh, tetap mau kerja di rumah sakit kami?” Ucap Shimada sensei, yang juga merupakan dokter bedah jantung di RS ini.

Beberapa teman menjawab. Lalu saya juga, “Moshi chansu ga areba, zehi kono byouin de zehi hatarakitai desu (Misal ada kesempatannya, saya benar-benar ingin bekerja di RS ini)” Jawab saya waktu itu.

Image may contain: 1 person, smiling, snow, tree, outdoor and nature

Dan semenjak akhir tahun lalu, akhirnya saya benar-benar bisa menginjakkan kaki di Sapporo dan mulai bekerja di RS yang pernah mewawancarai saya satu setengah tahun lalu.

Sapporo, begitu kata ini terucap, banyak orang yang langsung punya keinginan untuk datang dan menyaksikan “Yuki Matsuri” atau perayaan salju yang terkenal sampai mancanegara.

Umumnya, orang yang datang kesini hanya beberapa hari. Wisata ke daerah yang durasi turun saljunya berbeda dengan daerah lain di Jepang.

Nah, kalau rata-rata orang kesini untuk wisata, saya malah tinggal untuk jangka waktu yang cukup lama, hehe.

Kalau saat ini daerah di Osaka sudah mulai menghangat karena bulan maret akan masuk musim semi. Sapporo dan Hokkaido pada umumnya justru kebalikan. Bulan febuari adalah bulan dimana suhu akan mencapai titik terendahnya!

Rata-rata stabil di angka minus 6 sampai minus 10 derajat celcius. Tapi kata teman saya yang orang Jepang, selama festival salju berlangsung, suhu pernah drop sampai minus 15 derajat celcius!

Itu bukan beku lagi, tapi emaknya beku mungkin, hehe.

Sebenarnya, bukan hanya dingin yang jadi persoalan. Saya dulu berfikir kalau pas turun salju itu pasti dingin. Tapi ternyata bukan begitu, kadang saat turun salju, suhunya malah tidak sedingin biasanya.

Yang lebih perlu diwaspadai adalah angin! Walaupun tidak turun salju, tapi kalau pas anginnya kenceng, baju berlapis sama jaket pun seakan tidak berfungsi maksimal.

Mending masuk ke mall atau di kamar aja sambil nyalain penghangat. Beneran deh.
Nah, beberapa teman ada yang berkomentar, “Wah, Mas Uki jalan-jalan terus nih..”

Ya, kan memang setiap hari saya jalan. Dari asrama sampai rumah sakit pasti jalan kaki, hehe.

“Maksud saya, jalan-jalan ke tempat wisata di Sapporo. enaknyaaaa…..” Lanjut teman saya.

Oh, begitu. Baiklah, sebelum saya jawab, saya kutip sebuah tulisan ciamik dari teman saya, Mas Lucky. Berikut petikannya,

“Bekerja di RS memang mau tidak mau harus berhadapan dengan berbagai kejadian-kejadian ‘diluar nalar’ kehidupan.

“Melihat bagaimana seseorang akan meninggal, melihat kondisi yang mengancam, melihat bagaimana reaksi keluarga akan kehilangan, serta bekerja seolah-olah berlomba dengan Sang Maut mana yang lebih cepat atau bahkan melihat saat keluarga dan kerabat kita sakit dan kita adalah orang yang bekerja di RS tersebut.

“Percayalah semua itu bukanlah suasana lingkungan yang baik untuk kesehatan fisik dan mental.

Nah, untuk menanggulangi hal itu, ada berbagai cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan rekreasi atau piknik!

Mumpung sedang di Sapporo, ditambah dengan hari libur, daripada bengong di kamar, juga untuk menghemat biaya mesin penghangat, kan lebih baik keluar dan jalan-jalan.

Yang pertama adalah ke Tsudome, tempat festival salju yang ternyata, sangat dekat dengan asrama saya.

Cukup jalan sekitar 1 km aja sampai! Padahal sebelumnya, saya cuma tahu festival itu diadakan di Odori park aja.

Image may contain: 1 person

Nah, setelah berjalan sekitar 20 menit, tadaaaa, sampailah saya di Tsudome, dekat dengan stasiun Sakaemachi.

Disana, sebuah stadion indoor yang dirubah menjadi wahana bermain bagi anak-anak. Banyaknya perosotan atau “suberidai” menjadikan banyak orang tua dan guru TK dan SD membawa anak ataupun anak didiknya kesini.

Wisatawan lokal dan asing pun banyak yang datang. Sayangnya, saya belum ketemu orang dari Indonesia maupun Malaysia.No automatic alt text available.

Oh ya, festival di Tsudome ini berlangsung dari tanggal 1 sampai 12 febuari. Buka dari jam Image may contain: outdoor9 sampai 5 sore.

Yang unik disini adalah banyaknya perosotan dengan berbagai jenis.

Perosotan Indoor yang terbuat dari karet serta outdoor yang terbuat dari salju, sungguh sangat menggoda. Hanya saja, saya belum mencoba keduanya.

Alasannya, yang indoor, batas usia yang diperbolehkan adalah sampai usia 12 tahun. Saya? 12 dikali dua pun masih lebih, haha.

Yang outdoor, tadinya ingin mencoba. Tapi pas mau antri, tiba-tiba turun salju disertai angin kencenng banget! Tangan saya sampai mati rasa. Padahal sudah pakai sarung tangan!

Segera saya masuk gedung, menghangatkan diri.

Image may contain: one or more people, snow, nature and outdoor

Setelah foto-foto sejenak, kemudian saya lanjut mau lihat persiapan festival salju yang ada di Odori park.

Setelah turun di stasiun Sapporo, saya shalat dulu kemudian lanjut jalan.

Kok tahu jalannya? Saya selalu pakai google maps.

Ternyata, jalan yang saya tempuh, melewati sebuah bangunan fenomenal yang ada di Sapporo. Namanya “Akarenga” atau artinya batu bata merah.

Sebetulnya namanya “Hokkaidochou” atau gedung gubernuran Hokkaido, tapi karena seluruh bangunannya memakai batu bata yang berwarna merah, lebih dikenal dengan nama “Akarenga”.

Gedung ini terbuka untuk umum. Mulai pukul 10 pagi sampai 6 sore. Gratis! Di depan gedung, ada stand pemandu bagi yang ingin mendapatkan layanan bahasa inggris.

Para pemandunya baik banget, ringan tangan, yang datang sendiri kayak saya akhirnya dibantu buat ambil foto, haha.

Tahu aja mereka kalau saya butuh bantuan. Dan….akhirnya saya ketemu dengan Olaf! Sayangnya, Elsa sama Ana nya gak ada, mungkin lagi sibuk syuting film berikutnya, hehe.

Terakhir, yang menjadi magnet jutaan wisatawan asing saat festival salju adalah di Odori koen atau Odori park.

Saya tahu, tamannya belum dibuka karena acaranya baru mulai tanggal 6 sampai 12 febuari nanti. Tapi saya ingin lihat proses pembutannya.

Benar saja, salju dan es dalam ukuran yang sekian banyaknya perlahan-lahan terlihat menjadi berbagai bentuk yang menawan.

Image may contain: sky, tree, snow and outdoor

Alat-alat berat, para pekerja yang hilir mudik, memahat, menyusun, mengukir, membentuk es yang sedemikian dinginnya menjadi bentuk yang beraneka ragam!

Beberapa saya ambil fotonya, sebagai kenang-kenangan.

Juga, yang membuat saya senang adalah dibangunnya Iglo! atau rumah es yang mirip rumah es orang yang tinggal di Kutub.

Rasanya gak sabar nunggu tanggal 6 febuari. Mau keliling-keliling lagi.

Kalau yang mau ikut, ayok bareng-bareng pergi ke festival salju di Odori park hari senin nanti….

 

Sapporo, 2 febuari 2017. 21.50 waktu setempat.

Uki

Hangatnya Keluarga Indonesia di Sapporo

2 Jan

#Yuki 6

“Foto masjid kok hanya luarnya saja. ‘mbok’ ya dalamnya juga…” Komplain ibu saya saat video call beberapa waktu yang lalu.

Itulah salah satu hal “wajib” yang dilakukan ibu saya setelah saya posting tulisan di facebook.

Jadi cerita yang saya tulis itu akan “dibahas” dalam obrolan yang biasanya minimal 1 jam ketika video call. Kalau ada informasi di kampung, telponnya bisa tambah lama.

Bahkan, ketika ada info ayam peliharaan nenek saya yang bertelur banyak pun saya bisa tahu. Saking detailnya cerita yang ibu saya sampaikan.

Kembali ke topik kali ini, jadi ceritanya saya “hutang” cerita pada ibu saya tentang orang indonesia yang mukim di Sapporo.

Yang pertama, alhamdulillah saya hari ini tidak tersesat saat ke masjid, hehe. Jadi saya keluar dari pintu keluar nomor 1 dan alhamdulillah lancar…

Foto Arsyad Syauqi.

Yang kedua, di jumat ketiga saya di Sapporo ini, alhamdulillah bisa bertambah akrab dengan para orang indonesia yang saya temui di masjid Sapporo.

Kebanyakan oleh mereka adalah para pelajar di Hokudai, singkatan dari Hokkaido Daigaku atau Universitas Hokkaido. Ada yang sedang mengambil program master atau S2 serta ada juga yang mengambil program doktoral atau S3.

Beberapa lainnya ada juga yang tinggal serta berbisnis disini. Contohnya adalah mbak widya, owner Halal Food Warung Jawa yang terkenal di seantero Hokkaido.

Yang ketiga, setelah 2 kali belum bisa datang di pertemuan mingguan PPI atau Persatuan Pelajar Islam Hokkaido yang rutin dilaksanakan setiap jumat malam, alhamdulillah malam ini saya bisa datang.

Setelah beberapa hari sebelumnya saya dimasukkan ke dalam grup facebook “perkumpulan orang Indonesia” di Sapporo, beberapa orang langsung menyapa nama saya saat acara baru dimulai.

Saya pun membalas dengan menyalami satu-satu dengan mencoba menghafal nama mereka masing-masing.

Beberapa diantaranya adalah Mas Yadi dari Jogja, Pak Hari dan Pak Heri dari Madiun, Mas Yuza dari Lampung, dan beberapa orang lain yang saya belum hafal.

Yang jelas, saya dan keluarga baru ini bisa segera menjadi akrab.

Acara dimulai pukul 9 malam setelah sebelumnya dilakukan shalat isya berjamaah. Acara pembukaan adalah makan malam dengan masakan khas Indonesia.

Foto Arsyad Syauqi.

Serta cara makannya, “muluk” atau makan langsung dengan tangan. Duhhh, terasa Indonesianya banget euy..

Dan yang menjadi penyemangat tambahannnya adalah dengan adanya sambel!

Makan “ndeprok” atau lesehan, nasi anget, sambal dan makan langsung pakai tangan. Hati jadi ayem dan mata “mbrebes mili” jadinya.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an serta hadist, disambung dengan diskusi hangat dengan berbagai tema.

Intinya adalah satu, bagaimana keluarga indonesia yang ada di Sapporo ini tetap solid dan tetap hangat.

Bagaimanapun, kalau di perantauan, di negeri manapun itu, sekali tahu kalau sama dari Indonesia, ikatan persaudaraan itu langsung terbentuk.

Perbincangan malam ini hangat, sehangat nasi liwet bertabur sambel yang dimakan dengan “muluk”.

Terima kasih untuk segenap keluarga baru di Sapporo.

Matur nuwun sanget…

Sapporo, 30 Desember 2016. 22.50 waktu setempat, di luar turun salju, suhu minus 1 derajat.

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.Foto Arsyad Syauqi.

Baca lebih lanjut

Ketemu Ruswan Surya Permana Sensei di Sapporo

2 Jan

#Yuki 5

“Besok bisa ketemu?..” Tanya Ruswan sensei di hari jumat yang lalu.

“Sensei mau ke Sapporo?” Saya balik nanya.

“Iya, lagi ada kerjaan, sekalian kalau bisa ketemu,” Sambungnya.

Itu adalah percakapan beberapa hari yang lalu, sehari sebelum beliau berangkat ke Sapporo.

Keesokan harinya, meeting point sudah ditentukan. Jam 3 sore di stasiun Sapporo.

“Saya pakai jaket cokelat ya. Nanti ketemu di pintu barat stasiun JR,” Tulisnya dalam percakapan di inbox facebook.

Setelah beberapa saat, ketika akan segera berangkat, beliau menelpon saya dengan tergesa-gesa.

“Arsyad san, tolong jangan berangkat dulu. Disini macetnya gak ‘ketulungan’. Kata petugasnya, antrinya bisa sampai 3 jam lewat,” Ucap beliau.

Saya yang awalnya mau berangkat, terpaksa menunda beberapa saat.

Eh, beberapa saat kemudian ada pesan masuk, “Saya berangkat sekarang ya.”

Segera saya menuju Stasiun Shindohigashi untuk naik kereta bawah tanah menuju stasiun Sapporo. Tidak terlalu lama, 15 menit kemudian saya sampai dan segera menuju ke meeting point.

Setelah ketemu tempat yang sesuai dengan janji, pesan baru masuk. Saat itu masih jam 3 sore.

“Arsyad san, kayaknya susah untuk ketemu hari ini. Antriannya mengular, dari bandara chitose ke arah manapun macet. Bus, kereta, semua bakal terlambat. Ada salju tebal yang menumpuk…” Tulisnya di pesan facebook.

Kejadian semacam ini memang bisa terjadi di Sapporo.

Jadwal bus dan kereta bisa ditunda lama karena salju. Apalagi hari kamis dan jumat kemarin, terjadi peristiwa turun salju lebat di bulan desember yang terakhir terjadi 50 tahun lalu. Itu sesuai berita yang saya lihat.

Hujan salju di Sapporo, atau Hokkaido secara keseluruhan adalah hal yang lumrah.

Namun, turun salju selebat kemarin dan di bulan desember adalah hal yang tidak wajar. Seperti turunnya salju di bulan November di Tokyo kemarin, juga hal yang sama.

“Saya tunggu sampai jam 6 sensei. Karena jam 7 saya ada janji juga dengan Shimada sensei,” jawab saya di pesan facebook.

“Ok, semoga bisa bertemu sebelum jam 6 sore,” balasnya.

Akhirnya, sambil menunggu. Saya muter-muter di mall yang ada di atas stasiun sapporo. Luasssss bangettt ternyata.

Saya segera buka internet dan cari tempat shalat. Ketemu. Di Mall Daimaru lantai 3. Ada tulisan kanji “礼拝室”, bacanya reihaisitsu atau dalam bahasa inggris prayer room alias tempat shalat.

Saya shalat ashar disana dan ketemu dengan orang Malaysia yang juga habis shalat. Setelah berbincang sebentar, kemudian saya segera shalat.

Setelah itu, saya nyasar ke toko Big Camera untuk mencari tahu bagaimana cara membeli kartu “freetel” agar bisa mempunyai nomor telpon disini sekaligus paket internetnya.

Informasi dapat, harganya lumayan murah, namun sayangnya, harus punya kartu kredit. Karena saya tidak punya, jadi harus buat dulu. Yah, belinya besok-besok lagi deh.

Setelah itu, sekitar jam setengah 5, Kembali saya ke Daimaru untuk shalat maghrib. Setelah itu pesan baru masuk,

“Arsyad san, gomenasai. Kayaknya hari ini susah ketemunya. Insyaallah, saya usahakan ketemu sebelum balik ya,” Tulis beliau.

“Zenzen kamaimasen. Gak apa-apa sensei. Semoga ada kesempatan yang lain,” Balas saya.

Setelah itu saya pulang asrama.

Kemarin, rencananya juga mau ketemu. Tapi sekali lagi, batal karena beliau harus menemani para turis yang dibawanya jalan-jalan hingga larut malam.

Dan beberapa saat yang lalu. Akhirnya saya bisa bertemu dengan beliau. Padahal tidak ada janji sebelumnya.

Biasanya, saya pulang dari RS sekitar jam 6 sore. Namun tadi, jam 7 saya baru pulang karena habis ngobrol dengan staf “Speech therapy” di ruang perpus RS.

Namanya Hirao san, umurnya 3 tahun dibawah saya tapi lancar banget bahasa jepangnya. (Ya iyalah, namanya juga orang jepang, hehe).

Ketika hendak ganti baju, saya kembali dihubungi beliau, “30 menit lagi saya sampai di stasiun Shindohigashi. Tolong tunggu disana ya,”

Kok pas banget, pikir saya. Setelah ganti baju, segera saya meluncur ke tempat yang disebutkan.

Dan alhamdulillah bisa bertemu. Setelah 2 kali gagal, akhirnya yang ketiga bisa ketemu juga.

Sampai di asrama saya, walaupun dalam waktu yang singkat, tidak sampai 1 jam, ada secercah ilmu baru yang saya dapatkan.

“Saya tadi ‘melarikan diri’ sejenak dari rombongan. Mumpung mereka sedang belanja, saya segera kesini,” Ucapnya tadi.

“Saat saya kirim pesan tadi, itupun sambil lari ke stasiun,” Ucapnya.

Ya, pertemuan singkat tadi sungguh sangat berkesan. Sambil menyantap bakwan goreng yang masih hangat, ditemani sambal ulek pedas mantap, beliau bercerita,

“Saya salut dengan teman-teman yang merantau ke Jepang ini,”

“Sejatinya, belajar bahasa jepang itu bukan soal bisa atau tidak. Tapi apakah mau atau tidak,”

“Belajar bahasa itu tidak selalu soal nilai diatas kertas saja. Tapi lebih kepada sebarapa banyak kita mempraktekkannya, khususnya kepada orang jepang yang memang itu bahasa mereka,”

“Jika itu terus dilakukan, saya yakin, kemampuan bahasa jepang akan meningkat dengan cepat. Yakinlah dengan hal itu,” sambungnya.

Kemudian beliau segera pamit pulang karena sudah ditunggu rombongan.

Sebenarnya, beliau adalah bukanlah sensei yang pernah mengajar saya dalam hal bahasa jepang. Beliau adalah sensei bahasa Jepang yang pernah mengajar teman-teman saya di Yayasan Bima, Jakarta.

Saya memanggilnya sensei karena memang beliau adalah seorang sensei, bagi teman-teman saya, maupun bagi siapapun yang mau belajar darinya. Baik tentang bahasa maupun tentang pengalamannya.

Kunjungan yang singkat, obrolan serta bakwan yang hangat dengan sambel yang maknyus, akan menjadi catatan tersendiri buat saya dalam perjalanan di Sapporo ini.

Wazawaza irasshatte itadaki, hontouni arigatou gozaimasu.

Mata aimashou, sensei.

Sapporo, 28 Desember 2016. 23.00 Waktu setempat. Suhu luar minus 5 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.