Perawat Jepang : Soal Jam Kerja dan Budaya Kumpul-Kumpul…

22 Sep

#Yuki 37

“Mas, jam kerja disana berapa jam?”

Baiklah, dari pertanyaan itu, ijinkan saya bercerita lagi..

Rumah sakit di tempat saya bekerja, dan boleh jadi sebagian besar RS di Jepang, menggunakan sistem 5 hari kerja dan 2 hari libur.

Menggunakan sistem 2 shift. Shift pagi dan malam.

Shift pagi, disebut “Nikkin” (日勤), dimulai dari jam 08.30 hingga 17.00. Lalu shift malam, atau “Yakin”, bacanya “yaking” (夜勤), dimulai dari pukul 16.30 hingga hari berikutnya pukul 09.00.

Namun, kenyataan di lapangan, karena memang pekerjaannya banyak, jarang terlihat para staff pulang on time.

Yang ada, yang dines pagi, paling cepat pulangnya sekitar jam 6 sore, bahkan tidak jarang yang sampai jam 8 malam.

Yang dines malam, padahal sudah dari sore dan ketemu pagi, jarang yang “tet” jam 9 langsung pulang. Masih ada hal yang harus dikerjakan, minimal sampai jam 10 pagi.

Belum lagi semisal ada kejadian tidak terduga, misal ada pasien yang mendadak mengalami kegawatan, bisa sampai jam 12 siang mereka di rumah sakit.

Selain itu, ada juga namanya “hayaban” atau masuk lebih pagi, pukul 07.30 hingga 16.00. Lalu “osoban”, atau masuk siang, pukul 12.30 hingga 21.00.

Masih ada beberapa jenis sistem masuk kerja yang lain, tapi di tempat saya kerja, menggunakan 4 pola waktu itu.

Saya sendiri, selalu masuk “nikkin” karena setelah bekerja di pagi hari, siangnya harus belajar.

Perbedaan yang kelihatan mencolok dengan sistem 3 shift di kebanyakan RS di Indonesia adalah waktu istirahat.

Di Jepang, pada shift pagi semisal, para staff akan bergantian bergantian istirahat dengan durasi 1 jam.

Tim pertama, istirahat pukul 11.30 hingga 12.30, lalu tim kedua, 12.30 hingga 13.30.

Nah, selama satu jam itu, mau tidur, mau makan, sampe jungkir balik pun silahkan. Karena waktu istirahat ya istirahat.

Berbeda dengan sistem 3 shift yang memang kadang waktu istirahatnya kurang jelas (jikalau boleh dibilang, memang tidak tercantum di surat kontrak kerja).

Jadi, misal agak luang ya istirahat, kalau pas banyak kerjaan ya istirahatnya (makan siangnya juga) sekaligus setelah pulang kerja.

Selama waktu kerja itu, semuanya bergerak kesana kemari sesuai dengan pekerjaannya masing-masing tentunya.

Hape mereka ditaruh di ruang staf. Sebagai gantinya, mereka akan membawa Iphone khusus dan sebuah telpon genggam yang terkoneksi dengan seluruh staf di rumah sakit.

Untuk urusan telpon ke luar RS, hanya “leader” yang bisa, sama kepala ruangan.

Melihat rutinitas para perawat dari pengamatan saya, terlihat sesekali duduk, itupun saat menulis laporan di komputer, atau dikenal dengan sistem “denshi karute”.

Setelah itu? Sibuk lagi. Lalu terlihat mendekati “leader” yang bertugas di hari itu untuk memberikan laporan secara berkala tentang keadaan pasien, sambil sesekali diskusi ringan.

Kalau orang jawa boleh bilang, “Koyok ora nduwe udel!”..seperti tidak punya pusar, alias begitu energik!

Nah, dengan intensitas pekerjaan yang seperti itu, jangankan ngobrol dengan sesama staf, manggil aja kalau pas minta bantuan alias pas memang kerjaan itu gak bisa dikerjakan sendiri. Misal, saat mindahin pasien yang cukup “berbobot”.

Selama mereka bisa mengerjakan sendiri, bakal nolak kalau mau dibantu.

Ini kadang yang menjadi kesulitan saya di awal-awal kerja. Lah saya niatnya mau bantu, sering ditolak, haha.

Terus, kalau sibuk seperti itu, kapan ada acara kumpul-kumpulnya, mas?

Di Jepang, minimal ada 2 acara wajib setiap tahunnya bagi para pekerja.

Pertama, “kangekai”, atau pesta penyambutan karyawan baru. Kedua, “Bounenkai”, atau pesta akhir tahun.

Kangekai dilaksanakan biasanya pada bulan april, yakni ketika para karyawan baru pada masuk kerja.

Acaranya lebih familier dikenal dengan nama “nomikai” atau minum-minum. Soal makan, menyesuaikan dengan tempat makan yang dituju, misal seafood, ayam bakar, atau yang lain. Tapi soal minum, bisa dipastikan minum bir!

Saya? Alhamdulillah mereka mengerti dan dipesankan jus apel sama jus jahe biasanya. Atau kalau gak ya es teh (yang gak pake gula).

Jadi, awal-awal acara, semua masih normal, kesadaran masih terjaga. Setelah berganti gelas, alias bir nya nambah-nambah, omongan mereka jadi ngelantur kemana-mana.

Kata teman saya, itulah salah satu kelebihan orang Jepang yang sekaligus jadi kekurangannya.

Maksudnya?

Mereka akan sangat pendiam ketika di ruangan, jarang bicara, dan saat istirahat bersama pun, terkadang masih seputar soal pasien yang diperbincangkan.

Jadi, saat dalam keadaan sadar setengah mabuk itu, akan keluar semua cerita-cerita yang selama ini ingin mereka sampaikan.

Kadang saya pikir, untuk cerita saja, mereka perlu sampai mabuk dulu, haha.

Kita yang di Indonesia, gorengan hangat dan wedang teh, cukup. Mari nge-teh, mari bicara, haha. Lah kok jadi iklan…

Namun, walaupun menyandang predikat sebagai orang asli Jepang, ternyata tidak semua suka minum bir, atau minumal ber alkohol.

Alasannya bermacam-macam. Bisa tentang diet lah, habis sakit dan masa penyembuhan lah, alergi lah, dan lain-lain.

Makanya, mereka pun menghormati saya yang sama sekali tidak mau minum bir.

Selain Kangekai dan Bounenkai, tentu ada bermacam-macam acara lainnya. Tergantung masing-masing ruangan juga.

Di RS kami, pas di tengah-tengah musim panas ini, diselenggarakan acara makan-makan di restoran dengan menu “Gengis Khan”..

Itu adalah jenis masakan yang menjadi ciri khas Hokkaido. Daging domba yang dibakar. Mirip sate di Indonesia.

Karena daging domba, akhirnya saya ikut dan makan sepuasnya, haha. Ada onigiri atau nasi kepal. Tapi saya cuma ambil sepotong, dan sisanya makan daging dengan sayur-sayuran yang dipanggang jadi satu…

Acara ini tentu agar para staf bisa “relaks” sejenak dari penatnya kerja dan bisa ngobrol dan bertemu dengan para staf dari berbagai ruangan..

Memang benar kata penggalan syair yang terkenal itu,

“Tinggalkanlah kampung halaman, dan engkau akan temukan pengganti kerabat dan kawan…”

Sapporo, 27 Juli 2017. 20.00 waktu setempat.

Besok ada festival kembang api di Sapporo, ada yang mau ikut?

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.

Iklan

Perawat Jepang : Mulai Dari Sepatu Kets Hingga Rambut Gondrong..

22 Sep

#Yuki 36

Sepatu kets. Dulu saya mengira sepatu ini ada kaitannya dengan kucing, atau setidaknya memiliki merek gambar kucing seperti logo puma.

Habis, kalau mendengar orang mengucapkan jenis sepatu ini kan, “sepatu kets”, dalam benak saya itu tergambar kosakata “cat”, dalam bahasa inggrisnya.

Maklum, di kampung saya kalau menyebut merek sepatu ya kalau gak “Pro ATT” yang legendaris, sama “New Era” yang selalu ada hadiahnya itu.

Lalu apa hubungannya sama perawat Jepang, masee?

Sabar, sabar, kalau bernostalgia ya jadinya begini. Habis, saya kangen beli sepatu yang ada hadiahnya je, haha.

Semasa di Indonesia, rata-rata perawat di ruangan, kecuali di ICU dengan kamar operasi, rata-rata akan memakai sepatu pantofel yang akan berbunyi “klotak-klotak” kalau digunakan jalan.

Saya kurang tahu sejak era kapan penggunaan sepatu pantofel ini. Boleh jadi, ada kaitannya dengan turunan budaya Belanda yang pernah di Indonesia selama berabad-abad lamanya itu.

Kadang saya mbatin, kayaknya lebih enak kalau perawat di ruangan pun menggunakan sepatu yang lincah. Sepatu kets misal.

Karena kerja perawat itu dituntut cepat, tangkas, dan efektif. Agak sayang sebenarnya kalau hanya terhambat gara-gara sepatu pantofel yang keras itu.

Di Jepang, sebelum masuk kerja, saya ditanya ukuran sepatu. Kemudian, setelah masuk kerja, saya pun mendapatkan sepasang sepatu kets!

Ya, sepasang sepatu kets. Saya langsung bisa membayangkan bagaimana ritme kerja disini.

“Cho hayai!!!” Sangat cepat, kurang lebih itu artinya.

Para tenaga medis, mulai dari dokter, perawat, rehabilitasi medis, petugas rontgen, nurse aid, semuanya lah pokoknya. Seakan gak ada yang berjalan pelan, apalagi santai.

Kalau gak berjalan cepat ya setengah berlari. Tidak jarang yang malah terlihat lari. Whuss, whusss, whussss…

Soal tinggi badan, saya tidak terlalu pendek-pendek amatlah. Tinggi badan saya 174 cm. Rekan-rekan kerja saya, sebagai sesama orang Asia, tidak jauh-jauh dari tinggi badan tersebut.

Malahan, teman-teman perempuan yang orang Jepang, rata-rata di angka 155 sampai 160 cm. Namun, sebulan pertama kerja, saya megap-megap mengikuti ritme kerja mereka.

Ampun deh. Mereka memang tidak terlalu tinggi, tapi gerakannya udah kayak ninja!

Makanya, kalau mereka dikasih sepatu pantofel, malah akan membuat pergerakan menjadi lambat, serta resiko lecet juga.

Selanjutnya soal pakaian.

Untuk seragam, malah mirip seragam saya saat kuliah dulu. Atas putih dan celana warna biru dongker.

Hanya saja, untuk perawat disini, baju putihnya dipadu dengan lurik biru dongker dari bahu ke bawah.

Kadang juga atas dan bawah putih-putih. Tidak terlalu berbeda.

Untuk asisten perawat, seperti saya, atas putih dipadu hijau muda dan celana warna hijau muda.

Yang berbeda adalah perawat yang bekerja di ruang hemodialisis, ICU, dan UGD. Bajunya dominan warna gelap dengan pilihan warna macam-macam.

Ada yang merah padam. Kadang hitam. Ada juga yang biru dongker.

Alasan sederhananya, area tersebut rawat terkena percikan darah. Sehingga jika terkena baju, gak terlalu jadi terlihat.

Itu soal pakaian dinas. Kalau soal pakaian sehari-hari, ada sedikit cerita menarik beberapa waktu yang lalu.

Kita tahu, bahwa Jepang adalah negeri dengan empat musim. Maka, jangan pernah nekat memakai baju lengan pendek dan celana kain saat musim dingin. Dijamin semua anggota badan akan berdisko ria.

Nah, saat ini adalah musim panas. Walaupun Hokkaido terkenal dengan salju di musim dinginnya, saat musim panas ya tetep panas.

Hanya saja, ukuran panas saat awal musim panas, masih terasa sejuk bagi saya yang hidup lama di negeri tropis.

Wajar kalau saya berangkat kerja tetap pakai celana panjang, kaos lengan pendek dengan jaket jumper tipis. Maklum, masih terasa sejuk dan cenderung dingin di pagi hari, menurut saya.

Saat sampai di RS, banyak orang melirik le saya. Hingga sampai di ruang ganti, saya disapa oleh teman seruangan sambil ditanya,

“Uki kun, kamu gak panas pakai baju seperti itu?” Tanyanya.

Owalah dalah, ternyata karena itu toh. Pantas saja saya diliatin orang banyak dari pintu masuk RS.

Saya yang baru setengah tahun di Sapporo, masih merasa suasana pagi hari itu sejuk. Nah, bagi teman-teman saya, itu sudah panas. Dasar mereka yang terbiasa suhu minus!

Jadi, teman-teman saya itu kalau datang ke RS, pakaiannya ya fungsionalis dan cenderung minimalis.

Pakai baju ya yang lengan pendek, tidak jarang juga yang lengannya tidak ada. Soal celana, ya celana pendek, dengan sandal atau sepatu dengan kaos kaki yang super pendek.

Itu umum dikenakan oleh pria dan wanita. Sichou, atau kepala ruang saya yang perempuan, sudah berumur 40 tahun lebih saya kira, kalau datang ya pakai baju lengan pendek dan celana pendek. Sudah kayak mau tamasya saja. Lah gimana lagi, mereka merasa gerah.

Dan terakhir soal rambut gondrong.

Kalau saya di rumah dengan rambut saya yang sekarang, sudah barang tentu tidak akan luput dari teriakan ibu saya untuk disuruh potong.

Biasanya saya potong sebulan sekali, dan itu sudah semenjak zaman baholak dulu.

Sekarang, mau potong sebulan sekali? Mahal je!

Saat di Osaka dulu masih enak, ada teman saya yang ahli pangkas. Disini, kalau mau potong harus merogoh kocek 1.080 yen atau sekitar 120 ribu rupiah. Itu yang paling murah!

Tidak jarang ada salon, atau tukang cukur yang memasang tarif diatasnya. Bahkan ada yang 5 ribu yen sekali potong. Alamakkk…

Makanya, waktu potong rambut saya pun berubah. Minimal satu setengah bulan sampai dua bulan sekali.

Sebenarnya ingin saya panjangkan sekalian seperti para perawat disini.

Di foto yang saya sertakan di bawah, yang rambutnya panjang kayak pemain di film Jepang itu adalah perawat di ruangan bedah jantung.

Nah, dia punya rambut panjang kelihatan keren. Kalau saya? Kalau saya panjangkan lebih dari 2 bulan, jatuh-jatuhnya kelihatan jadi bulet walaupun tidak kribo, haha.

Untuk mensiasatinya, akhirnya saya sisir ke bagian samping kiri. Tambahannya, saya jadi punya poni, haha.

Seumur-umur, baru kali ini punya poni, yang kelihatan kriting…

Walaupun sama-sama di daerah Asia, aturan soal rambut di Indonesia agaknya lebih ketat dibanding di Jepang.

Disini memang ada anjuran agar rambutnya rapi, tapi mereka mengartikan rapi itu tidak selalu pendek.

Kalau di Indonesia, semisal ada perawat laki-laki kok sampe gondrong, boleh jadi akan langsung dipanggil kepala ruangan dan bakal mendapatkan ceramah soal kerapian di tempat kerja. Iya, kan?

Sapporo, 20 juli 2017. 22.30 waktu setempat. Musim panas semakin hot-hot pop…

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.

Perawat Jepang : Bergaji Tinggi dan Sering Jalan-Jalan

22 Sep

#Yuki 35

Setidaknya, itulah kesan yang dipahami oleh sebagian besar orang Indonesia, wabil khusus, teman-teman perawat dan para mahasiswa keperawatan.

Apakah itu salah? Tidak. Nyatanya memang demikian.

Di Jepang, profesi perawat memang merupakan salah satu profesi dengan gaji tinggi.

Apalagi sesuai dengan kebiasaan orang kita, apa-apa di kurs-kan, jadi sepuluh kali lipat rata-rata UMR, bahkan bisa lebih.

Coba saja tanya mbah google, berapa kisaran gaji perawat di Jepang. Sekali browsing, maka akan banyak data yang muncul.

Lalu, soal jalan-jalan.

Karena memang ritme kerja yang “gila” menurut saya, wajar kalau mereka pergi untuk menghilangkan stress sambil jalan-jalan ke berbagai negara.

Ada yang suka ke Hawaii. Ada yang bolak-balik ke Thailand dan Bali, sampai ceritanya itu wah banget, hanya saja kadang masih gak tahu Bali itu bagian dari Indonesia.

Lalu, ada juga teman seruangan saya yang bakal liburan ke Eropa 3 bulan. Lah, kok bisa? Saya kurang tahu ijinnya bagaimana, hanya saja dia bakal pergi untuk ikut program belajar bahasa inggris selama sebulan, sisanya digunakan buat “mbolang..”

“Lalu, Mas sudah jadi perawat disana?” Tanya seorang teman.

Belum, itu jawaban saya. Namun, Insyaallah saya sedang menuju kesana.

“Maksudnya bagaimana? Bukannya Mas ikut program perawat ke Jepang? Kok belum jadi perawat disana?” Lanjutnya.

Betul. Saya memang ikut program pengiriman perawat ke Jepang lewat Bnp2tki. Namun, sebelum mendapatkan surat tanda registrasi perawat disini, ya belum bisa disebut sebagai perawat.

Sebutan bagi kami yang masih belum mendapatkan surat tanda registrasi, disebut “Kango Joshu”, atau Asisten perawat. Dalam bahasa yang lain, Nurse Aid, atau pembantu perawat.

“Lah, jauh-jauh ke Jepang kok cuma jadi pembantu perawat?” Bisa jadi ada yang berfikiran seperti itu.

Begini, setelah lulus tes di Jakarta, kami diwajibkan mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama setahun. Itu gratis, tempat tinggalnya enak, apalagi kalau sudah mengikuti pelatihan setengah tahun kedua di Jepang, tambah enak fasilitasnya, ditambah dapat uang saku sekitar 10 dollar perhari, baik selama di Indonesia dan di Jepang.

Nah, setelah itu, kami masuk tempat kerja sesuai dengan kontrak yang tersisa. Kalau perawat di RS, tinggal 2 tahun. Kalau perawat di panti lansia, masih ada 3 tahun.

Untuk perawat yang di RS, diberi kesempatan sebanyak 3 kali untuk ikut ujian nasional keperawatan, dimana soal-soalnya “plek”, atau sama persis dengan soal buat orang Jepang.

Hanya saja, untuk orang asing (karena yang ikut program ini, selain Indonesia, ada Filipina dan Vietnam juga), ada keringanan berupa huruf bantu “furigana” atau cara baca kanji, serta waktunya 3,5 jam setiap sesi. Kalau untuk orang Jepang, 2 jam 10 menit.

Apakah soal-soalnya susah?

Kalau paham dan bisa mengerjakan, tentunya mudah. Tapi ternyata tidak sesederhana itu.

Pertama, pemahaman ilmu keperawatan mau tidak mau harus paham. Apalagi soal-soal yang global.

Selanjutnya, dari pemahaman yang dibawa dari negeri asal, berubah menjadi deretan huruf kanji yang terbagi menjadi tiga jenis soal.

Soal wajib sebanyak 50 soal, soal umum sebanyak 130 soal, dan soal kasus sebanyak 60 soal. Dan itu dikerjakan selama 7 jam dengan jeda istirahat 1 jam.

“Klenger”, mungkin itu kata yang pas kalau di bahasa jawa kan.

Selain soal-soal yang global, ada soal-soal khusus yang hanya bisa ditemui di Jepang. Misal, keperawatan lansia, beda jauh dengan ilmu lansia di Indonesia.

Semisal, ada istilah “yousien” (要支援) dan “youkaigo” (要介護), yang menggambarkan dimana level kebutuhan perawatan bagi lansia yang awet betul usianya itu.

Lalu, selain GCS (Glasgow coma scale), ada juga JCS (Japan coma scale).

Disini, saat keadaan gawat darurat, GCS digunakan, atau pasien yang terpasang alat bantu napas semisal. Nah, untuk pasien yang stabil, JCS yang digunakan.

Itu gambaran sekilas soal ilmu keperawatan. Soal kerja bagaimana?

Rata-rata teman yang mengikuti program ini, selain bekerja, juga diwajibkan belajar. Sebenarnya yang utama belajarnya sih, tapi, karena mendapat gaji, ya harus seimbang, bekerja ya iya, belajar ya iya.

Tiap RS bervariasi sistem belajarnya. Ada yang bekerja setengah hari, lalu siang sampai sore belajar. Ada yang kerja dari pagi sampe jam 3 sore, selebihnya belajar. Ada juga yang 4 hari kerja, satu hari full belajar. Boleh jadi masih banyak lagi sistem lainnya.

Di Jepang, menggunakan sistem 5 hari kerja dan 2 hari libur. Jadi, dalam setahun, rata-rata jumlah hari liburnya adalah 105 hingga 110 hari, ditambah dengan cuti tahunan yang berbeda-beda sistemnya.

Sebagai seorang “kango joshu” atau pembantu perawat, kebanyakan ruang lingkup kerjanya adalah “kankyou seibi”, atau menjaga kerapian lingkungan.

Sebagai aplikasinya, semisal ikut perawat membantu ganti popok pasien setiap pagi, ikut memandikan pasien, mengambil obat di farmasi, mengumpulkan serta membuang sampah, membantu pasien ke toilet, membagikan makanan, dan membantu mengambilkan peralatan yang diminta oleh perawatn ruangan.

“Lah, kalau seperti itu kan gampang, Mas..”

Kalau semua pekerjaan itu dilakukan di Indonesia, saya kira tidak terlalu jadi masalah. Yang kadang, dan sering jadi masalah adalah soal bahasa.

Ketika berkomunikasi dengan teman kerja, yang tentu saja berbahasa Jepang, ketika masih ada kendala, pekerjaan yang sederhana pun bisa jadi rumit.

Belum dengan pasien. Apalagi jika pasiennya tua pakai banget. Misal, pasien dengan usia 90 tahun, masih bisa jalan, namun ketika ke toilet perlu diantar. Benar-benar, gak ketangkap apa yang dia omongkan.

Lalu pas membantu menyuapi makan, sambil dengerin dia cerita, ampun, ini orang ngomong apa coba. Saya nanya ke teman kerja, dia juga bingung. Memang dasar cara bicaranya susah dipahami, kata teman saya

Selanjutnya adalah bahasa tulis.

Sebagai karyawan baru, tentu saya juga ikut orientasi. Dijelaskan bagaimana sejarah rumah sakit, cara pengendalian infeksi, cara evakuasi ketika ada bencana, cara memberikan bantuan pertama pada orang yang tidak sadar, dan sebagainya.

Orang Indonesia saya sendiri, dan lainnya orang Jepang semua.

Presentasi menggunakan power point dan semuanya huruf kanji! Alamakkk, rata-rata gak kebaca kanjinya. Apesnya lagi, ada tes setelahnya.

Ketika teman-teman sebelah saya sudah selesai mengerjakan, saya masih megap-megap baca kanjinya. Ini kanji apa coba, bacanya gimana, artinya apa, haha.

Walhasil, hanya separuh yang bisa saya kerjakan. Habis itu, remidi, mengulang tes didampingi staf rumah sakit, sambil dijelaskan cara baca kanjinya.

Lalu ketika ada informasi di ruangan atau lewat komputer yang masuk ke dalam akun masing-masing karyawan.

Karena sebagian besar RS di Jepang sudah terkomputerisasi. Semua informasi itu pakai kanji dan bahasanya formal banget.

Mau tidak mau saya harus bertanya kepada rekan kerja tentang cara baca kanjinya, juga artinya. Penjelasannya? Tentu menggunakan bahasa Jepang juga.

Jadi, kalau bicara tentang gaji tinggi, dan mau menuruti keinginan hati untuk jalan-jalan, boleh-boleh saja. Tapi, syaratnya ya itu, harus lulus ujian nasional keperawatan dulu. Biar setara dengan perawat yang asli orang Jepang.

Ibarat sebuah pohon, semakin tinggi pohonnya, semakin kencang angin yang menerpanya. Lalu semakin tinggi layang-layang, semakin senang kita memandangnya. Eh, gak nyambung lagi ya, haha.

Sapporo, 13 Juli 2017. 23.00 waktu setempat. Musim panas, malam pun harus buka jendela…

Uki

*Di lampiran foto, saya sertakan contoh soal “mogishiken” atau try out ujian bulan kemarin.
Contoh soal tentang keperawatan anak. Ada yang mau bantu saya ngerjakan?

 

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.

Halal Bihalal Nusantara..

22 Sep

#Yuki 34

Saya jadi teringat salah satu slogan yang terkenal di Jawa Tengah beberapa tahun yang lalu, yaitu, “Bali deso, mbangun deso”.

Atau dalam bahasa Indonesianya, Kembali ke desa dan membangun desa, yang tentu bertujuan untuk kemaslahatan masyarakat desa.

Sebagai orang ndeso, keinginan untuk kembali, atau mudik, apalagi masih anget-angetnya suasana lebaran yang penuh dengan ketupat, opor, sambel goreng ini, bisa jadi masuk ke dalam kebutuhan paling dasar kalau memakai teorinya om Maslow.

Kalau misal pintu Doraemon itu benar-benar nyata, mungkin saya akan ngekost di Kudus saja dan tiap pagi kerja di Sapporo, haha. Sayangnya, itu hanya ada dalam film saja.

Ya, kembali atau mudik adalah suatu hal yang mengundang segala jenis kerinduan.

Tapi karena merasa belum bisa berperan membangun desa, biarlah saat ini saya menimba ilmu di negeri antah berantah dulu, mencoba memahami arti yang tersirat maupun tersurat diantara tumpukan huruf kanji.

Ndilalah, menjelang lebaran kemarin, tiba-tiba seperti mendapat durian runtuh yang masak di pohonnya.

Saya mendapat undangan menghadiri halal bihalal nusantara di Sapporo.

Dulu, sebelum datang ke Sapporo, saya sempat khawatir.

Apakah ada orang Indonesia apa tidak. Karena yang ikut program EPA dan akan menuju Sapporo hanya saya sendiri. Pernah sih, ada orang Indonesia yang ikut program yang sama, tapi setelah lulus ujian, eh, pindah ke Osaka. Tidak tahan dingin, katanya.

Setelah sampai sini, lahdalah, orang Indonesia ternyata ada ratusan (bukan iklan wafer loh ya….).

Sebagian besar adalah para mahasiswa di Hokudai (sebutan untuk Hokkaido Daigaku atau Universitas Hokkaido), baik yang masih bujang, maupun yang datang membawa keluarganya.

Jadi, ketika ada undangan halal bihalal, sudah terbayang akan aroma opor, sate, es buah beserta kawan-kawannya, haha.

Hari sabtu yang lalu, atau lebaran hari keenam, acara tersebut dilaksankan. Bertempat di salah satu aula milik pengusaha Indonesia di kota Ishikari, kota sebelahnya Sapporo.

Sebelumnya, kami berkumpul di masjid Sapporo untuk kemudian dijemput secara bergantian.

Taraaa, sampai disana, semua langsung menempati pos masing-masing.

Ada yang bantu-bantu memotong daging untuk sate, ada yang masak opor, ada yang membuat lontong, goreng-goreng tahu isi dan risoles, dan tak lupa anak-anak kecil yang turut memeriahkan acara masak-masak.

Kalau sudah begini, serasa balik ke kampung.

Rasa akrab antar warga, tak ada sekat pagar beton antar rumah, saling pinjam gula dan garam saat perlu, serta semua keramahan khas “wong ndeso”, kembali memenuhi setiap jengkal acara ini.

Nusantara, karena warga Indonesia yang ada di Sapporo bisa dibilang berasal mulai dari Indonesia timur, tengah, hingga ujung atas pulau Sumatera.

Saya kira, tidak hanya bangsa India atau China yang tersebar di berbagai pelosok dunia.

Ternyata, orang Indonesia, baik dengan loghat medok Jawanya, candaan khas Bataknya, senyum ramah adat timurnya, beserta berbagai keunikan lainnya, telah mengisi dan menjadi satu diantara ragam masyarakat dunia.

Zamrud khatulistiwa sudah menjadi bagian dari diaspora penduduk dunia.

Ah, jadi teringat penggalan lagu kesukaan saya ketika awal-awal ikut kemah kelas 5 SD dulu,

….
Jauhlah dari kampung,
Turuti kata hati,
Guna bhakti pada bunda pertiwi.

Sapporo, 6 Juli 2017. 20.30 waktu setempat. Musim panasnya Sapporo, ternyata memang sejuk…

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.

Ke Jepang, Apa Yang Kau Cari?

22 Sep

#Yuki 33

Ini beneran tiba-tiba kepikiran judul seperti itu. Bukan sebuah atau sejenis pertanyaan “sengak”, tapi lebih kepada evaluasi diri.

Memang betul adanya, banyak orang Indonesia yang ada di Jepang. Sapporo saja ada ratusan, kalau Tokyo? Mungkin bisa ribuan lebih..

Ada yang datang sebagai pelajar dengan berbagai tingkatannya. Mulai dari S1 hingga mahasiswa calon profesor.

Ada yang datang sebagai Kenshusei, yaitu ikut program magang di berbagai perusahaan di Jepang.

Rata-rata 3 tahun, tapi ada yang sampai puluhan tahun karena menikah dengan penduduk lokal misal.

Ada yang datang untuk sekedar melancong, mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada mulai hokkaido hingga ujung bawah di Okinawa.

Mereka ini kadang punya prinsip, “Jobs fill your pocket, Adventures fill your soul..”

Jadi untuk mengisi jiwa-jiwa yang kering karena penat bekerja, maka jalan-jalan adalah salah satu solusinya.

Ketika mereka kembali ke tanah air, tak jarang mereka menjadi lebih bijak, lebih panjang pertimbangannya, lebih mawas pemikirannya.

Karena eh karena, daratan itu gak seluas Jakarta aja cuy! Yang macet di jalanan sampai gerah di media sosial.

Lalu saya sendiri? Ikut program G to G, pengiriman perawat ke Jepang lewat Bnp2tki. Yang proses seleksinya bisa bikin level sabar bertambah beberapa tingkat saking lama prosesnya.

Tapi, ketika sudah sampai Jepang seperti ini, eh, kok sudah setahun ya.

Kalau hanya melihat foto-foto yang bersliweran, mungkin banyak yang bakal bilang, “Lah, itu malah jalan-jalan terus..”

Atau, “Wah, enak ya, bisa jalan-jalan tiap hari..”

Untuk menanggapi pertanyaan ini, saya mengamini pendapat teman saya yang ada di Kyoto sekarang,

“Kalau ada yang bilang jalan-jalan, jawab aja. Lah, saya cuma mondar-mandir di asrama juga sudah jalan-jalan. Kan sekarang lagi di luar negeri..” Haha

Adik kelas saya melanjutkan bertanya, “Emang susah ya mas kerja disana?”

Kalau soal kerja, asalkan menguasai bahasa Jepang dengan baik, tentu akan sangat membantu. Karena memang rekan kerjanya adalah orang Jepang semua..

Masalahnya, menguasai bahasa dan budaya yang berbeda itu perlu waktu. Perlu kesabaran. Perlu belajar. Serta perlu-perlu yang lain..

Tidak tiba-tiba habis daftar, lulus tes, eh, tiba-tiba langsung cas-cis-cus ngomong bahasa Jepang. Lah apa situ habis dimasukin data dari flashdisk?

Kalau hanya ngomong “Jepang” saja sih, orang di iklan air mineral itu juga bisa. Lancar malahan.

Ditambah, kontrak kerja yang akan membatasi sekaligus memberi kesempatan kepada kami, agar bisa mengikuti ujian nasional.

Bagi kandidat perawat, kontraknya 3 tahun. Serta bagi kandidat perawat lansia atau careworker, kontraknya 4 tahun.

Kontrak itu mulai dari saat pelatihan bahasa di jakarta dimulai. Jadi, ketika sudah masuk kerja, maka waktu yang tersisa adalah 2 tahun bagi kandidat perawat, dan 3 tahun bagi kandidat careworker. Karena setahun pertama tugasnya hanya belajar di kelas saja.

Kalau perawat, diberi kesempatan ujian 3 kali, yaitu setahun sekali. Kalau careworker, setahu saya (entah sekarang sudah berubah atau masih tetap) sekali saja di tahun terakhir kerja.

Apakah ujiannya susah?

Susah! Tapi tidak mustahil. Nyatanya memang ada yang lulus dan bisa memperpanjang kontraknya sampai sekarang.

Kesulitannya dimana?

Pertama, huruf kanji, bahasa dan budaya berbeda yang tentu akan mempengaruhi soal. Selanjutnya, ada ilmu keperawatan yang tidak ada di Indonesia.

Semisal, ada yang pernah dengar JCS? Kalau GCS kan Glasgow Coma Scale, untuk mengukur tingkat kesadaran.

Nah, di Jepang ada JCS yaitu Japan Coma Scale.Yap, mereka mengembangkan sendiri penilaian terhadap tingkat kesadaran.

Itu baru satu hal. Yang lain, semisal ilmu topografi, kependudukan.

Usia sekian sampai sekian ada berapa persen jumlahnya? Lansianya (yang awet betul umurnya) ada berapa banyak? Mereka yang tinggal sendiri ada berapa? Yang tinggal dengan istri ada berapa? Kurang lebih seperti itu.

Nah, bagi yang ingin tinggal lama di Jepang melalui jalur perawat, mau gak mau harus belajar hal-hal itu.

Karena boleh jadi, ada yang ke Jepang tapi dengan tujuan lain selain tujuan utama tentunya.

Adakah? Boleh jadi ada, hal itu tidak tertutup kemungkinannya.

Masuk ke Jepang misalnya, lewat jalur perawat, tapi minatnya kok ndilalah jalan-jalan.

Ikut ujian sampai berkali-kali belum bisa lulus, setelah kontrak selesai malah bisa jadi tour guide.

Ada yang masuk lewat jalur kenshusei, ketika kontrak selesai, eh, malah sekarang bisa bisnis kamera, bisnis hp, dan lain-lain.

Ibarat perjalanan itu kadang tidak selalu sesuai rencana. Kalau dibutuhkan memutar ya memutar. Kalau perlu mundur ya mundur dulu.

Idealnya sih memang kalau ikut kalur perawat, ya sebisa mungkin segera lulus ujian nasional (itu doa kami semua tentunya).

Namun, keinginan pasti mengapa orang yang masuk ke Jepang, hanya orang itu dan Tuhan saja yang tahu.

Karena dalamnya lautan ada ikan paus, eh, bisa diikur. Dalamnya hati, siapa yang tahu?

Sapporo 29 Juni 2017. 20.20 waktu setempat..

Uki

(Gambar : Tampak depan rumah sakit tempat kerja saya sekarang. Sapporo Higashi Tokushukai Hospital)

 

Foto Arsyad Syauqi.

Bang Toyib dan Grup WA Keluarga

22 Sep

#Yuki 32

Sebentar. Biar saya luruskan sedari awal biar gak salah paham.

Itu memang foto keluarga saya, bukan keluarga cemara, apalagi keluarga cendana.

Ada bapak, ibu dan saudara-saudara dan suami mbak saya. Namun, itu adalah 3 tahun lalu. Tepatnya saat lebaran tahun 2014, saat kami (para anak-anaknya) yang “gemar” merantau, ndilalah bisa kumpul di Kudus.

Ndilalah, karena setelah negara api menyerang kembali, eh, setelah kami pada merantau lagi, jarang bisa kumpul komplit (pake telor) seperti itu.

Ya, memang saya yang jarang ikut kumpul sih. Soalnya yang paling sering loncat kesana-kemari, tapi sampai sekarang belum punya kemampuan seperti kera sakti.

Seperti tahun ini saja, ketika saya sedang mengetik tulisan ini, adik saya sudah nangkring di Kudus menikmati liburan dari Pondok Gontor, serta keluarga mbak saya, sedang siap-siap mudik dari Jogja.

Kok tiba-tiba pengen dibawain gudeg ya..

Oleh karena itu, insyaallah tahun ini, akhirnya saya resmi bergabung dengan jamaah “Bang Toyib” nasional.

Tahu kan, bang toyib? Yang liriknya fenomenal itu, “Tiga kali puasa, tiga kali lebaran…”

Dua kali puasa plus lebaran saat dulu masih bekerja di Batam (tahun 2012 dan 2013, karena 2014 saya mudik). Lalu tahun ini sebagai pelengkapnya.

Loh, bukannya tahun kemarin sudah di Jepang? Iya, tapi setengah bulan saya ada di Indonesia, jadi gak masuk hitungan.

Tinggal menunggu beberapa hari lagi, jika lebaran tiba, ketika para anak-anak di kampung sibuk dengan baju barunya, lepas pasang sandal gunung karena silaturahim le rumah tetangga, serta sesekali mendapatkan kejutan berupa rengginang yang ada di kaleng Khong Guan.

Saat itu, gelar bang toyib akan resmi saya dapatkan (lah, ini bangga apa ngenes ya, haha).

“Eh, kalau cowok bisa dong disebut bang toyib, kalau cewek bagaimana?” Ujar teman saya.

“Kalau cewek ya bukan bang toyib, tapi mbak Sri. Ingat kan lirik lagunya?”

“Sri, kapan kowe bali…..” Hiyaaaaa

Kemudian tentang grup WA keluarga.

Ada sebuah artikel yang saya baca dan menyebutkan kira-kira begini,

“Tiga hal yang menjadikan ramai sosmed atau sosial media adalah, pertama, komentar netizen. Dua, grup chat sekolah atau alumni, dan ketiga adalah grup WA keluarga…”

Soal komentar netizen atau pengguna sosmed tidak perlu saya bahas, toh saya yakin sudah pada tahu semua.

Beritanya apa, komentarnya apa. Mulai dari debat kusir, adu makian serta sumpah serapah, sampai komentar yang paling maknyuss yang seperti ini,

“Apa cuman gue disini yang langsung liat komentar sebelum baca beritanya?” Nah loh.

Lalu soal grup chatting. Mulai dari WA, BBM, Line, dan lainnya. Yang ketika lagi seru yang dibahas, ibarat mata sekejap berkedip, sudah harus langsung scroll ke bawah lama..

Mulai dari ajakan buka bersama teman-teman kuliah, ramai soal kapan lebaran, apakah tahun ini NU dan Muhammadiyah akan barengan, sampai yang nge-share status panjangnya gak ketulungan.

Di tengah keramaian tersebut, ibarat oase, hadirlah grup WA keluarga.

Saya perlu berbangga terhadap hal ini. Walaupun terbilang telat, karena nunggu adik saya punya hape layar datar, barulah mbak saya berinisiatif membuat grup ini.

Ibu dan bapak saya malah sudah punya hape android duluan.

Tapi ya begitu. Ibu saya, cuma digunakan buat “mantau” anak-anaknya lewat status-status facebook dan sesekali video call kalau pas jaringannya lagi gak ngambek.

Maklum, rumah saya itu “mewah”, mepet dengan persawahan dan jauh dari kota.

Soal nulis komentar di facecook? Pernah sekali ibu saya ngetik komentar, eh, yang ketulis huruf konsonan semua.

“Susah, sekali pencet, kepencet semua, haha…” Kata Ibu saya. Maklum, mencetnya bebarengan soalnya, hehe.

Bapak saya? Punya tablet 7 inchi, dengan sinyal 3G.

Hanya saja, lebih banyak digunakan buat lihat video pengajian yang diisi oleh temannya. Jadi lebih berfungsi kayak tivi yang bisa dibawa kemana-mana. Selebihnya? Bahkan aplikasi cuaca pun saya yakin gak pernah dibuka.

Jadi, keluarga kami masing-masing terkoneksi di grup ini (kecuali keponakan saya yang masih kelas 1 SD, seringnya ikut nimbrung pakai hape mbak saya).

Apapun bisa dibahas. Apalagi grup ini dimulai pas awal ramadhan kemarin. Jadi, saat mau berbuka, masing-masing pada ngirim gambar menu berbukanya.

Keponakan saya, ikut-ikutan, setiap jam 12 siang, ngirim foto, mau berbuka, karena masih latihan puasa setengah hari.

Mulai dari mie goreng, tumis kangkung, pecel, oseng teri, dan masih banyak lagi, pernah mampir di grup ini.

Salah satu yang seru adalah, ketika beberapa waktu yang lalu, pas adik saya mudik naik kereta dan upload foto roti dan minuman botol untuk berbuka.

Langsung jadi sasaran bully an, haha. “Lah, kalau cuma roti itu ntar sampe tenggorokan langsung hilang fud…” Kira-kira seperti itu. Maklum, walaupun kami kurus, jangan ditanya soal porsi makan, haha.

Namun, apapun yang kami tulis di grup itu, selalu membuat ibu saya senang.

“Setidaknya kalian tetap rukun walaupun berbeda daerah…..” Begitu ucap ibu saya beberapa waktu yang lalu.

Kami memang berjauhan, tapi, selalu menyempatkan diri untuk selalu berpamitan sebelum pergi kemanapun.

Seperti saya misal. Semenjak merantau 6 tahun lalu, setiap akan berangkat kerja, selalu mengirim sms atau kalau sekarang, pakai chatting di Line atau WA.

“Pamit berangkat bu, Assalamualaikum..” Minimal seperti itu.

Jadi, ibu saya selalu membaca pesan-pesan itu, kecuali pas sedang ada perlu.

Dan ketika grup keluarga ini hadir, minat ibu saya untuk buka facebook menurun dan lebih asik melihat para anak-anaknya “berantem” di grup WA ini.

Walaupun kami terpisah kota, provinsi, bahkan negara, insyaallah grup WA ini akan selalu ramai oleh keceriaan para anaknya.

Karena silaturahim itu mendekatkan dan insyaallah akan selalu memberikan keberkahan.

Sapporo, 22 Juni 2017. 20.45 waktu setempat.

Insyaallah beberapa hari lagi lebaran, mari senantiasa bersihkan hati dan diri, agar selalu “fitri”…

Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.

Tarawih di Malam yang Pendek

22 Sep

#Yuki 31

Beberapa hari terakhir ini, tiba-tiba beranda facebook saya meriah dengan foto-foto kedubes Jepang, bandara, tempat pelatihan, dan tak lupa dengan berbagai pose selfie pemegang kameranya.

Ternyata, saya banyak berteman dengan teman-teman EPA 10, haha.

Melihat berbagai foto dan postingan tersebut (yang telah berhasil memunculkan rasa rindu dan hasrat pengen “dolan”), membuat satu fakta yang tidak terbantahkan (lah apa skripsi ini?), bahwa saya dan teman-teman EPA 9 telah berada di Jepang selama setahun!

Ya, setahun dan selamat berulang tahun buat teman-teman EPA 9 sekalian.

Sama seperti EPA 10 ini juga, kami dibagi menjadi 3 tempat pelatihan. Ada Tokyo, Nagoya, dan Osaka.

Saya kebetulan mendapatkan tempat di Osaka dengan KKC (Kansai Kenshu Centre) sebagai tempat pelatihannya.

Pun sama, saya menikmati separuh bulan puasa di Osaka dengan segala hal barunya.

Pas di Indonesia, bangun jam 4 masih aman, walaupun harus buru-buru sahur karena mau imsak.

Lah, di Osaka kemarin, selepas shalat isya dan tarawih yang waktunya agak malam, lalu mencoba tidur sebentar, bangun-bangun, eh, kok udah terang?

Jreng, jrenggg, ternyata waktu shubuh sudah lewat, berikut waktu sahur dan imsaknya.

Maklum, belum pernah mengalami matahari terbit jam 4 lewat, jadi badan masih berusaha beradaptasi.

Kalau biasanya di kampung, jam 7 malam sudah bisa shalat isya plus tarawihan, malah kadang bisa selesai setengah 8 lalu buru-buru pulang buat nonton Saras 008 sama Panji Manusia Milenium(Hoiii, itu zaman kapan oiii!), beserta mister black-nya.

Di Osaka, jam 20.30 baru isya karena jam 19.00 baru maghrib sama berbuka.

Nah, bagaimana di Sapporo?

Sapporo terletak di bagian utara Jepang, jadi, perbedaan waktunya juga bertambah dibandung daerah-daerah di sebelah selatannya.

Rata-rata waktu berbuka adalah 19.15 waktu setempat dan 21.30 baru terdengar “bedhuk” adzan isya (dari hape terdekat).

Soal shalat tarawih, ada beberapa pilihan.

Bisa sendiri (ini yang sering saya lakukan), bisa ikut jamaah di masjid Sapporo (8 rakaat plus witir 3 rakaat), atau ikut jamaah sama orang Indonesia yang 20 rakaat tambah 3 rakaat witir.

Kalau sendiri, setidaknya ada 2 cara yang biasa dilakukan.

Pertama, ketika sudah masuk waktu isya (sekitar 21.30), lalu shalat isya berikut tarawih dan witirnya.

Kedua, karena setelah seharian kerja dan makan agak kenyang di waktu buka, kadang ngantuk tidak bisa terelakkan. Bisa tidur dulu dan bangun tengah malam lalu shalat isya sama tarawih.

Atau bisa juga nunggu waktu isya, lalu shalat isya, lanjut tidur. Baru sekitar jam 12 malam bangun, lalu lanjut tarawihan plus shalat malam yang lain.

Kalau bangun jam 1 gimana? Bisa sih, tapi mepet banget, soalnya setengah 2 lewat dikit sudah masuk waktu shubuh.

Lalu, jamaah di masjid. Saya tidak bisa ikut setiap hari karena jaraknya lumayan jauh. Dan sampai hari ini, saya baru ikut sekali, pas awal ramadhan.

Imamnya orang Mesir. Beliau berperawakan tinggi. Bahasa inggrisnya fasih dan mudah dipahami.

Tarawih didahului shalat isya, dimulai jam 21.30 lewat dikit. Selesainya? Hampir jam 23.20 saat itu. Tiap malam satu juz dikhatamkan oleh imamnya.

Jadi, konsentrasi agar tidak ngantuk menjadi tantangan utama. Apakah saya kuat saat itu? Jangan ditanya, ngantuknya bukan main!

Lalu ikut jamaah bapak-bapak yang suka tarawih dengan 20 rakaat. Kalau ini saya ikuti minggu lalu.

Jadi, selepas buka bersama di masjid, kami berkumpul di salah satu apartemen dekat kampus Universitas Hokkaido, lalu jamaah dimulai.

Seperti layaknya di kampung saya, bacaan imamnya tidak terlalu cepat serta membaca surah-surah pendek.

Alhasil, kurang dari satu jam selesai dan dilanjut kultum oleh orang yang ditunjuk, serta dilanjut diskusi.

Jangan ditanya apakah bisa nonton Saras apa tidak, sudah tidak tayang, haha. Itu saja selesai sekitar jam 11 malam, karena start-nya baru sekitar jam 10 (nunggu pada kumpul sambil nyemil dulu).

Dimanapun tempatnya, mau tarawih 8 rakaat ataupun 20 rakaat, silahkan saja. Karena masing-masing punya dasar masing-masing.

Kalau ada yang kurang baik, itu bukan yang berdebat soal jumlah rakaatnya. Malah-malah yang sibuk berdebat itu tidak melaksanakan dua-duanya, hehe.

Sebagai penutup, yang mungkin juga agak panjang sih, saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah “membanjiri” saya dengan doa-doanya hari ini.

Mulai dari nulis di timeline, kirim lewat pos, eh, inbox, WA, Line, maupun BBM (Banyak amat sosmednya ya), maupun yang ngucapin tapi tidak ditulis dimana-mana (ge-er amat yak).

Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan oleh Sang Maha hingga hari ini, di usia ke dua puluh sekian-sekian (paham kok kalau sudah berumur, hehe).

Diberikan kesempatan sekaligus berbagai anugrahnya, salah satunya adalah kenal dan bisa berteman dengan teman-teman semua tentunya.

Tiap hari adalah waktu yang baik buat evaluasi, merenungi diri. Akan tetapi ketika hari lahir tiba, dan banjir ucapan serta doa-doa, menjadikan hari ini memiliki momentum khusus sekaligus mendekati akhir Ramadhan.

Ketika saya sampai di Jepang tahun lalu, banyak yang memberikan ucapan serta kata-kata “hebat”, “luar biasa!”, dan sebagainya.

Saya sepertinya belum pantas menerima hal itu, karena saya sadar, ada kekuatan doa-doa dari banyak pihak yang telah menembus langit dan membantu saya hingga terlihat hebat oleh sebagian oraang.

Begitupun juga hari ini. Kegagalan ujian beberapa waktu yang lalu, boleh jadi memang sayanya yang belum siap.

Akan tetapi, insyaallah, dengan menerima ucapan serta doa dari teman-teman sekalian, saya jadi semakin optimis untuk ujian tahun depan.

Jikalau saya bisa menapak ke depan, entah, setapak, dua tapak, serta selanjutnya, kemampuan saya terus terang baru sedikit, boleh jadi, hal itu terlihat melesat karena doa-doa kalian semua.

Itu adalah hadiah terbaik saya dari teman-teman semua.

Bukan berupa bunga atau cincin (lah apa lagu Jamrud), ataupun diberi telur, tepung, (yang kemudian dibuat lempar-lemparan selanjutnya).

Dari teman-teman ruangan disini, memang saya tidak mendapat Kue ulang tahun beserta lilin, tapi saya sangat terharu ketika mereka setelah jam istirahat makan siang, tiba-tiba berbaris seraya mengucapkan,

“Selamat hari ulang tahun….” dalam bahasa Indonesia, dengan logat yang agak terdengar aneh tentunya, namun saya tahu, mereka setulus hati mengucapkannya.

Habis itu, mereka nanya, “Eh, tadi bahasa Indonesia nya betul kan?”

Sambil senyum saya berikan dua jempol kepada mereka.

Sapporo, 15 Juni 2017. 20.07 waktu setempat. Sudah pertengahan juni, suhunya masih sejuk..

*Uki

 

Foto Arsyad Syauqi.