​Terperangkap Dalam Zona Nyaman

13 Mei

#Yuki 21

Sedari kecil, saya sering menganggap bahwa saat dewasa kelak, boleh jadi saya akan menjadi guru atau petani.

Mengapa demikian?

Saya adalah anak dari seorang guru dan lingkungan tempat saya tinggal, sebagian besar warganya adalah petani.

Terus terang, mindset seperti ini baru berubah saat saya hampir lulus Madrasah Aliyah (setingkat SMA). 

Itu karena teknologi informasi yang saya terima terbilang telat. Boro-boro tahu tentang facebook, saat saya baru masuk kuliah, itu juga pertama kalinya saya kenal dengan yang namanya email!

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Saat itu, saya terjebak dalam kenyamanan dengan dalih, ah, tidak mengenal internet pun tidak apa-apa. Toh, hidup juga masih berjalan.

Ternyata saya salah. Sikap saya yang demikian, menjadikan saya terbelakang dalam dunia teknologi yang sangat cepat berkembang.

Terkait dengan hal itu, ada satu cerita menarik dari dosen saya. Pada tahun 1990, saat beliau mengikuti kursus singkat selama 3 bulan di sebuah rumah sakit di Amerika, dimana semua hal disana sudah terkomputerisasi dengan baik.

Saat hendak pulang ke Indonesia, beliau membawa berbagai data yang disimpan di disket atau juga kita kenal dengan nama 3 1/2 floppy A. (Masih ada yang punya kah?)

Nah, saat sampai di Indonesia, beliau baru sadar bahwa pada tahun-tahun tersebut, masih sangat langka menemukan komputer disini. Malahan, TV berwarna saja masih jarang yang punya.

Baiklah, sekarang mari kita tengok diri kita masing-masing. Boleh jadi, salah satu hal yang menyebabkan kemampuan kita masih terus berjalan di tempat adalah karena masih terjebak dalam kenyamanan yang masih kita pelihara.

Contohnya, seorang pelajar, memang tugas utamanya adalah belajar. Namun, jika hanya belajar pelajaran (baca buku) terus menerus, tanpa mengikuti hal lain, semisal ekskul, belajar berwirausaha, atau hal lain, sudah bisa dipastikan saat sudah lulus nanti hanya akan menjadi “sarjana kertas.”

Nilainya bagus diatas kertas, namun belum bisa berbuat apa-apa di masyarakat. Tidak usah terlalu jauh dulu bicara tentang dunia kerja, ikut rapat tingkat RT pun boleh jadi bingung dan akan keluar keringat dingin terus menerus.

Ingin keluar dari zona nyaman.

Hal itulah yang menjadi salah satu motivasi saya untuk berani meninggalkan kenyamanan yang pernah saya alami. Bekerja serta menerima gaji setiap bulan beserta berbagai bonusnya di salah satu rumah sakit di pulau yang dekat dengan Singapura.

Setiap berfikir ingin melanjutkan karir ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yang mengharuskan saya untuk resign tentunya, saya kadang diserang dengan pemikiran yang mengatakan, apakah saya siap untuk meninggalkan semua kenyamanan ini?

Setelah beberapa lama, akhirnya saya pun siap. Entah bagaimana nanti, itu urusan nanti. Yang jelas, saya harus terus melangkah.

Saya hanya berfikir, bukankah akan mengasikkan untuk menghadapi hal-hal yang baru? Mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya datangi. Merasakan aroma petualangan yang baru? Siap!

Sebagai penutup, Anda akan saya ajak untuk menyimak sebuah pengalaman dari Prof. Renald Kasali berikut ini,

***

Ketika diminta memimpin Podomoro University, saya pun dikirim belajar ke Babson College di Amerika Serikat yang terkenal dengan pendidikan kewirausahaannya.

Selama seminggu saya berkeliling kampus dan berdialog dengan profesor, peneliti, eksekutif, alumnus, donatur, serta para mahasiswa. Bagaimana cara Babson College melatih jiwa kewirausahaan?

Di sebuah kelas, seluruh mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan kesenian. Pilihannya beragam. Ada drama, menari, komedi, melukis, membuat patung, musik, menyanyi, dan sebagainya. Masing-masing kelompok diberi instruktur dan dalam tiga pekan ke depan harus tampil dalam sebuah festival. Hampir pasti, mahasiswa penyuka musik akan memilih musik. Mereka yang suka drama akan memilih seni drama dan seterusnya.

Apa yang dilakukan Babson College?

Karena tujuannya adalah melatih keluar dari zona nyaman, mereka yang suka musik justru tidak boleh memilih musik. Begitu seterusnya.

Alhasil, seluruh mahasiswa protes. Mereka harus mencoba sesuatu yang baru dan harus tampil hanya dalam waktu tiga minggu. Bagaimana mungkin?

Tapi, bukankah tujuan pendidikan adalah membangun manusia? Di antaranya, manusia yang berani keluar dari zona nyaman.

Menurut hemat saya, kita sangat abai melatih hal tersebut. Karena itu, setiap menghadapi perubahan, kita pun menjadi galak, marah, resistan, menolak, dan ampun, main ancam dan bolak-balik berteriak seperti orang gila.

***

Malam ini, ketika saya melihat catatan di atas, yang saya tulis pada bulan april 2 tahun lalu, sungguh, rasanya menjadi sangat berbeda.

Saat itu, dimana saya masih mengikuti kursus bahasa di Bandung, sekaligus persiapan mendaftar, perlu dicatat, mendaftar, dan bahkan informasi hasil seleksi pendaftaran pun belum diumumkan.

Saya hanya percaya, pada setiap kesempatan yang ada. 

Kalau gagal? Jelas, pasti meninggalkan jejak berupa rasa kecewa, tapi toh, sebelumnya saya pun sudah gagal 3 kali saat mendaftar ke luar negeri.

Kalaupun gagal, ya tinggal ditambahkan jadi yang keempat.

Namun, yang utama adalah terus mencoba. Karena salah satu guru bangsa pernah berujar, “Anak muda! Habiskanlah jatah gagalmu di masa muda!” Kurang lebih seperti itu.

Hari ini, setelah dua tahun berlalu, saya sudah menapakkan kaki di pulau paling utara Jepang, yang dekat dengan Rusia.

Apakah harus ke Jepang? Tidak selalu. Masing-masing orang saya yakin pasti punya keinginan serta jalan yang berbeda.

Ada yang ingin bekerja dimana, traveling ke negara mana, melihat dan mengamati bahasa serta budaya berbagai suku di tempat-tempat terjauh, akan membuka lebar-lebar mata serta pikiran kita dari gejolak hoax yang merajalela.

Yang jelas, jangan sampai seumur hidup tidak pernah sekalipun keluar dari zona nyaman, walaupun hanya sekedar pergi ke desa tetangga.

Teman-teman, kemasilah barangmu, masukkan ke dalam ransel, mulailah menjelajah, mulailah berpetualang!

Mengutip salah satu dialog di film “3 Idiots”,

“Jangan sampai, 50 tahun lagi, ketika tubuhmu sudah lemah, dan berbaring di ranjang rumah sakit, engkau akan menyesali berbagai hal yang sebenarnya ingin kau lakukan, tapi kau tidak pernah melakukannya…”

Sapporo, 13 April 2017. Sapporo hari turun salju, tapi langsung cair karena suhunya datas 0 derajat.

Uki

Lingkungan Dan Cita-Cita

13 Mei

#Yuki 20

Setiap jumat malam, duduk bersama para mahasiswa dari Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S2 dan S3 di Hokkaido University, memberikan saya bermacam pengetahuan.

Sekaligus sebagai obat rindu dengan kampung halaman, bisa berbicara lepas dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, serta makan bersama dengan “nampan” atau piring besar.

Ahh, selalu suka dengan keadaan seperti ini.

Melihat gelar serta pencapaian mereka dalam meraih gelar master serta doktoral, beberapa ada juga yang post-doc, saya terasa begitu kecil. Begitu jauh. Karena saya masih ada di jenjang Diploma.

Juga, sekaligus memberikan energi positif kepada saya. Insyaallah, ketika mereka bisa, saya juga bisa. 

Jalannya bagaimana? Belum tahu, tapi saya yakin, setiap usaha pasti akan ada jalannya.

Yang selalu saya syukuri adalah begitu energi positif dari lingkungan sekitar itu akan ikut membentuk diri kita menjadi “minimal” dengan lingkungan itu.

Sebagaimana saat saya kecil, yang dilahirkan di lingkungan yang mayoritas adalah guru dan petani.

Maka, secara otomatis, saya menganggap nanti saya juga kalau tidak jadi petani ya jadi guru.

Tapi, ada hal yang saya belum tahu saat itu. Setiap orang berhak memilih cita-citanya. Berhak menentukan masa depannya.

Dan perjalanan saya hingga hari ini, boleh jadi tidak terlepas dari kesempatan saya “keluar” melihat hal-hal yang tidak ada di kampung halaman.

Kadang sebagian dari kita memang ada yang ingin sekolah, kuliah, dan kerja di dekat rumah saja lah. Apakah itu salah?

Tidak juga. Tapi itu pilihan.

Karena setiap orang itu unik dan tentu memiliki keinginan yang berbeda, maka munculah pilihan dan kesempatan.

Apakah ingin berada di kampung halaman terus? Silahkan. Tapi jika ingin berpetualang melihat dunia luar, juga silahkan.

Kita yang lebih tahu kemana hati ini ingin melangkah. Kemana keinginan ini menuntun untuk berpetualang.

Profesi yang kita jalani bukanlah akhir dari cita-cita. Tapi lebih sebagai jalan, sebagai sarana.

Semisal anda ingin pergi ke Sapporo, tidak perlu sampai harus menjadi perawat ataupun pelajar univesitas. Anda bisa menjadi apa saja untuk bisa ke Sapporo.

Bahkan, dalam 3 bulan terakhir ini, saya bertemu orang-orang dari Indonesia dengan berbagai latar profesi yang datang kesini.

Kadang, kita terlalu terbelenggu oleh pikiran kita sendiri. Kalau jadi perawat ya lumrahnya kerja di Puskesmas, lumrahnya ya kerja di RSUD, atau jadi mantri di kampung.

Itu menjadi mindset yang membelenggu kebanyakan dari kita, karena “enggan” dalam melihat dunia luar.

Anda pernah mendengar cerita suksesnya NASA, badan antariksa Amerika, yang berhasil mendaratkan pesawat ulang alik sampai di bulan? Saya kira semua pernah mendengarnya.

Di balik cerita itu, ada efek yang lebih besar dari sekedar sampai ke bulan saja.

Tapi kejadian itu telah memberikan energi inspirasi, motivasi, dan membuat jutaan rakyatnya untuk bermimpi “yang paling gila” sekalipun.

Karena sejatinya, mimpi itu untuk diperjuangkan. Cita-cita itu untuk dicapai. Dan kesamaan dari kedua hal itu adalah, kita telah menetapkan tujuan kita!

Kita bisa lihat fenomena yang ada sekarang.

Begitu banyak orang yang tidak mau “sekedar” melihat dunia luar. Yang banyak mereka tahu adalah sebatas pintu kamar dan layar hape.

Jadinya, sampai ke kampung tetangga saja tidak pernah tapi begitu jumawa di media sosial seakan tahu semuanya.

Kalau dikritik, langsung copy-paste tulisan orang (yang sumbernya juga tidak jelas, asal terlihat keren saja), yang panjang tulisannya melebihi panjang tol cipali.

Akhirnya, pikiran tidak semakin terbuka yang ada ingin perang saja di media sosial.

Kalau anda ingin berkeliling dunia, cobalah sesekali lihat grup backpacker di facebook, maka akan terlihat betapa banyaknya orang kita yang telah sampai ke berbagai negara dan lintas benua.

Kalau ingin hidup tenang, maka jauhilah akun-akun yang hobinya saling hujat dan provokasi.

Dan kalau ingin mencapai apa yang anda cita-citakan, termasuk saya juga, maka sering-seringlah berkumpul atau mencari perkumpulan yang mendekatkan kita dengan tujuan tersebut.

Belum, saya memang masih belum sepadan dengan para calon master serta doktor di berbagai bidang yang ada di perkumpulan setiap jumat malam di masjid Sapporo,

Tapi, insyaallah, saya yakin ada jalan menuju kesana!

Sapporo, 6 april 2017. 22.00 waktu setempat. Sapporo sudah hangat, gak perlu pakai jaket tebal lagi…

Bulan April, Awal Debut Karyawan Baru di Jepang

30 Mar
17622050_10206992839018452_7755202266522727862_o

Tempat tunggu pasien poliklinik di RS tempat saya bekerja

#Yuki 19

Bulan maret sudah hampir usai. Bulan maret, yang identik dengan suasana hangat di negeri yang memiliki 4 musim, sudah mulai terhiasi oleh semerbak bunga sakura.

Ya, Sakura yang mampu menarik perhatian banyak orang.

Lantas, apa kabar Sapporo? Hmpt, saya sepertinya harus bersabar sedikit lagi. Mungkin di akhir april baru mekar.

Cuaca sekarang? Sudah mulai menghangat, hanya saja kadang-kadang masih ada bonus turun salju seperti sore hingga malam Ini, hehe.

Bulan april di Jepang juga dikenal dengan sebutan “nendo” (年度), atau tahun paskal Jepang.

Di bulan ini, mulai dari TK hingga perkuliahan disini, memasuki tahun ajaran barunya. Serempak!

Berbeda dengan di kampung saya, yang ketika bulan juni-juli, dari TK hingga SMA mulai memasuki tahun ajaran barunya. Kalau perkuliahan, antara bulan agustus-september.

Lalu, di bulan april juga, para karyawan baru di Jepang (khususnya yang baru lulus dari kuliah), memulai debutnya untuk mulai bekerja di berbagai perusahaan dan kantoran.

Jadi, jarak antara prosesi wisuda dan mulai bekerja, dekat sekali. Tidak lebih dari satu bulan.

Ini dikarenakan rata-rata perusahaan di Jepang, termasuk rumah sakit juga, sudah merekrut para calon karyawannya jauh-jauh hari sebelum mereka lulus ujian akhir.

Awalnya saya juga belum paham. Tapi setelah ngobrol dengan teman kerja saya, akhirnya saya mengerti.

Disini, ada istilah “Shuushoku katsudou”, (就職活動) atau kegiatan yang bertujuan mencari tempat kerja setelah lulus nanti.

Biasanya, kegiatan ini dilakukan setahun atau bisa dua tahun sebelum kelulusan.

Misalnya, sekolah keperawatan yang berdurasi 3 tahun. Maka, di awal semester kelima atau awal tahun ketiga, mereka memiliki program untuk mengunjungi berbagai rumah sakit yang diminati.

Ah, saya pengen kerja di daerah sini. Atau, bisa pergi ke luar daerahnya dan melihat-lihat calon tempat kerjanya.

Seperti rumah sakit tempat saya bekerja sekarang, beberapa waktu yang lalu kedatangan berbagai mahasiswa keperawatan dari berbagai daerah untuk melihat-lihat suasana rumah sakit dan pekerjaannya.

Beberapa dari mereka ada yang dari luar Hokkaido. misalnya, dari Iwate, Aomori, bahkan Tokyo.

Nah, setelah mereka melihat-lihat dan mantap dengan pilihannya. Barulah mereka mengikuti seleksi di tempat tersebut.

Seleksinya sendiri dilakukan ketika mereka masih duduk di bangku kuliah, kira-kira setahun sebelum kelulusan itu tadi.

Bisa juga ada semacam “Job fair” atau ajang pencarian kerja.

Jadi, ketika seleksi sudah selesai, lolos, dan kepastian tempat kerja sudah ditetapkan, mereka tinggal fokus ke tahap ujian akhir saja.

Yang jadi pertanyaan saya adalah, ketika mereka sudah dapat tempat kerja tapi ujian akhir gagal?

Ya….., mereka harus dengan berat hati merelakan kesempatan memulai bekerja di tahun itu.

Karena syarat bekerja adalah kelulusan di ujian akhir tersebut.

Tapi, prosentasenya kecil, karena sebagian besar memang bisa melewati ujian tersebut dengan gemilang.

Kalau seperti saya, yang mulai kerja di bulan desember kemarin, adalah pengecualian. Karena saya mengikuti program yang berbeda.

Dan saya pun belum bekerja sebagai perawat, masih asisten, karena memang belum lulus ujian keperawatan disini.

Hanya saja, tiba-tiba menjadi teringat dengan sistem penerimaan karyawan baru di kampung saya.

Syarat untuk “mendaftar” bekerja harus lulus dulu. Harus punya ijazah dulu. Harus punya surat keterangan ini dulu. Dan surat-surat yang lain.

Boleh jadi, saya terkesan “tidak adil” ketika membandingkan dua keadaan yang berbeda ini.

Yang satu kekurangan calon karyawan sekaligus generasi mudanya. Yang satu lagi, kelebihan jumlah lulusan dan semakin berkurangnya lahan pekerjaan di kampung halaman.

Sebagai kata penutup, mungkin saya agak terkesan “ngompor-ngomporin” (apa ya bahasa indonesianya?) teman-teman di kampung.

Mumpung disini sedang kekurangan tenaga kerja (karena pada jarang yang punya anak, dan lansianya awet betul umurnya), Hayuk mulai mempelajari bahasa selain bahasa ibu kita.

Karena menguasai berbagai bahasa itu akan menjadi pintu masuk ke berbagai negara yang akan membuka luas wawasan kita (serta menambah isi dompet tentunya).

Sapporo, 30 Maret 2017. 21.00 Waktu setempat. Malam jumat, yang sering dihiasi salju hingga esok sorenya.

*Uki

Ke Luar Negeri Dan Kesempatan Berkembang

30 Mar

17362834_10206951707390187_6123452794523168193_n#Yuki 18

Saya jadi teringat kejadian hampir dua tahun yang lalu. Ketika itu, saya sedang “sowan” ke kampus, sebagaimana kebiasaan saya ketika liburan di rumah.

Saat saya bercerita kepada salah satu dosen tentang keinginan saya mendaftar program perawat ke Jepang (karena saat itu memang masih proses pendaftaran, bahkan hasil seleksi pemberkasan pun belum diumumkan), saya langsung ditodong dengan pertanyaan,

“Memang di Jepang gajinya berapa, Mas?” Kira-kira seperti itu.

Karena saat itu informasi saya hanya sebatas data dan “katanya” saja, alhasil saya jawab seadanya juga.

Kalau masih belum lulus ujian negara, rata-rata 10 sampai 15 juta, itupun tergantung UMR masing-masing daerah di Jepang.

Nah, kalau sudah lulus ujian nasional keperawatan di Jepang, bisa 30 juta lebih, itupun sesuai dengan berita di media online.

Sebagai dosen dan “orang tua” murid di kampus, saya sangat memahami maksud pertanyaan itu.

Tentu sebagai bahan pertimbangan dan juga realistis. Dalam arti, jika bekerja di tempat yang jauh, ya “gajinya” juga harus sepadan.

Namun, ada kata-kata yang “mohon maaf”, saya kurang sependapat, ketika dibilang,

“Kalau hanya segitu, di Indonesia juga bisa loh, Mas”, atau “Nagapain jauh-jauh kerja kalau hanya dapat segitu”, Ucap beberapa orang, bukan hanya beliau saja.

Terkadang, pandangan “orang tua” yang sudah mapan, punya jabatan, dan pekerjaan tetap yang selalu menghasilkan, menganggap anaknya yang ingin pergi merantau ke luar negeri adalah sesuatu yang tidak sepadan.

Atau dalam arti lain, mereka mungkin ingin bilang, “Yaudah, mending kerja disini saja, deket rumah. Kontrakan gak usah bayar, udah gitu tiap hari bisa ibu masakin, jadi hemat kan….”

Apakah itu salah? Saya tidak berhak mengatakan itu salah atau benar.

Namun, satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, orang tua yang terlalu “mengungkung” anaknya, boleh jadi secara tidak tidak sadar telah merenggut masa depannya.

Saya garis bawahi kata-kata “terlalu” ini loh ya. Nanti saya diprotes sama para orang tua yang membaca tulisan saya ini, apalagi nantinya ibu saya juga baca, jadi harus hati-hati dalam menulis. Biar tidak salah paham.

Apapun, yang ditambahi kata “terlalu” itu memang terkadang menjadi tidak baik. Memperhatikan itu baik, tapi kalau terlalu memperhatikan itu menjadi hal yang akan sangat berbeda.

Kembali ke masalah gaji tadi dan sekarang soal pendapat kebanyakan masyarakat.

Terkadang, entah mengapa kita gemar menerima informasi yang sepotong-sepotong. Tidak lengkap.

Seperti fenomena sosial media yang tren saat ini. Share (bagikan) dulu baru baca. Iya kalau yang di “share” itu informasi benar, kalau salah? Itu karena kita kadang enggan membacanya terlebih dahulu.

Dan kebanyakan masyarakat kita beranggapan, kalau ada orang yang bekerja di luar negeri itu pasti uangnya banyak.

Hal ini perlu diluruskan tentunya. Kalau gaji yang diterima di luar negeri dikurskan ke rupiah, tentu akan membuat siapa saja tergiur. Itu pasti.

Hanya saja, kita belum menguranginya dengan biaya pengeluaran yang ada serta sistem pajak di negeri yang bersangkutan.

Gampangnya, kalau gaji UMR di Jepang kurang lebih 4 kalinya Jakarta, maka itu juga berlaku untuk harga barang, biaya kos-kosan, dan sebagainya.

Sebagai perbandingan sederhana,

Kalau di Indonesia kita bisa dengan mudah membeli indomie seharga 2 ribu rupiah, maka kalau disini, bisa jadi 10 ribu.

Kalau sambel ABC terasi yang sachetan itu di Indonesia harganya 2 ribuan, maka disini menjadi 12 ribu.

Biaya kos di Jakarta mungkin sudah 800 ribu ke atas. Disini, bisa 4 jutaan ke atas setiap bulannya. Belum termasuk bayar air, listrik, gas, dan lain-lain.

Biaya tempat tinggal saya sendiri disini, kalau tidak ada subsidi dari tempat kerja, bisa jadi mahal sekali (untuk ukuran saya yang pernah kos di semarang dengan biaya 200ribu/bulan).

Biayanya kurang lebih 2,5 juta perbulan. Asrama saya isinya ada ruang ruang tamu, kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruang untuk mesin cuci.

Desain asrama saya bisa untuk sendiri dan keluarga (karena depan kamar saya ada teman kerja yang sudah berkeluarga).

Lalu biaya asuransi. Disini, membayar asuransi itu wajib. Karena langsung dipotong dari gaji setiap bulannya.

Untuk saya sekarang, biaya asuransi kesehatan sekitar 800 ribu rupiah per bulan kalau di kurs kan. Dan asuransi jaminan hari tua, sekitar 1,2 juta setiap bulannya (kalau ini semacam tabungan, nanti bisa diambil ketika pensiun atau memutuskan untuk pulang ke indonesia dan gak balik lagi).

Jadi, ketika dulu saya membayangkan kakak kelas saya yang sekarang bekerja di Amerika dengan gaji (yang kalau di kurskan) 40 jutaan perbulan, saya jadi ngeri-ngeri sedap dengan biaya hidup dan potongan berbagai pajaknya.

Kalau sudah membaca hal tersebut, mungkin langsung ada yang berfikiran mahal dan untungnya dimana. Toh kalaupun gajinya gede, potongannya juga gede.

Itu benar. Saya kira itu berlaku dimanapun. Kalau biaya hidup di kota Kudus dibandingkan dengan Jakarta. Jauh mas bro…

Jauuuuuuuuuuh. Saya banyakin huruf u nya, hehe.

Secara di Kudus, saya masih bisa menikmati sepiring lentog tanjung yang mewah dengan harga 3.500 rupiah, hehe.

Nah, untungnya dimana?

Kesempatan berkembang!

Kalau hanya di Indonesia saja, tentu saya tidak akan pernah bisa merasakan sensasi belajar bahasa dan budaya Jepang langsung di negerinya.

Ditambah, sesuai bidang keilmuan saya, saya juga berkesempatan mempelajari ilmu keperawatan di negara ini.

Mungkin hal itu juga bisa dilalui dengan kuliah disini. Iya, tapi dengan biaya sendiri? Ampun-ampunan mahalnya.

Mau lewat jalur beasiswa? Bisa, tapi harus sudah mempunyai kemampuan bahasa Jepang minimal setara N2!

Bagi yang belajar bahasa Jepang, saya yakin paham betapa susahnya mencapai level tersebut.

Nah, boleh jadi, program antar pemerintah Indonesia-Jepang yang difasilitasi oleh Bnp2tki ini adalah salah satu kesempatan untuk masuk, belajar, dan bekerja di Jepang.

Jadi, gaji itu penting, karena kita memang harus realistis.

Tapi, kesempatan untuk berkembang yang tentunya harus dilalui dengan berbagai hal yang “tidak menyenangkan” saat belajar di Jepang, menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi saya pribadi dan teman-teman saya yang tersebar di seantero Jepang sekarang.

Karena keadaan setiap rumah sakit itu berbeda. Ada yang menerima kandidat dua orang, tiga orang, bahkan lebih. Ada juga yang sudah punya senpai atau senior.

Ada juga yang seperti saya. Sudah sendiri, tidak ada senpai, hehe.

Semua ada plus dan minusnya. Kalau ada senpai, ketika ada hal yang bingung dan ingin ditanyakan, bisa ke senpai.

Kalau seperti saya? Mau tidak mau ya harus bertanya ke rekan kerja yang semuanya asli orang Jepang, haha.

Kalau pas gak mudeng ya saya harus nanya berulang-ulang, dan mereka pun dengan baik hati mengulangi penjelasannnya.

Jadi, mau ke luar negeri atau tidak. Itu kesempatan sekaligus pilihan.

Mau berkembang atau hanya puas disitu-situ saja.

Sebagai penutup, saya ada kutipan menarik dari Prof. Rhenald Kasali tentang Orang tua dan masa depan anak sebagai berikut,

“…Orang tua yang rela melepas anaknya belajar dari alam. Ya, belajar itu berarti menghadapi realitas, bertemu dengan aneka kesulitan, mengambil keputusan, dan berhitung soal hidup, bukan matematika imajiner.

Belajar itu bukan cuma memindahkan isi buku ke kertas, melainkan menguji kebenaran dan menghadapi aneka ketidakpastian.

Orang tua yang berani melepas anak-anaknya dan tidak mengganggu proses alam mengajak anak-anaknya bermain adalah orang tua yang hebat.

Memercayai kehebatan anak merupakan awal kehebatan itu sendiri.

Sapporo, 23 Maret 2017. 20.15 Waktu setempat.

*Uki

Mall AEON dan Seputar Daftar Harga….

30 Mar

#Yuki 17

“Mas, harga-harga barang buat makan disana berapaan?” Ada yang bertanya kepada saya beberapa waktu yang lalu.

Setelah saya jawab, komentar standar pun biasanya saya terima.

Oh, mahal ya disana. Emm, kalau di Indonesia bisa dapat 5 barang yang sama itu ya. Kira-kira seperti itu.

Nah, berhubung ibu saya juga kadang menanyakan hal yang sama. Yasudah, sepertinya, baiknya saya tulis saja.

Sekalian “mungkin” bisa sedikit dijadikan informasi tentang harga-harga disini.

Seperti biasa, kadang kalau sepulang kerja, saya mampir di Mall yang berada di belakang rumah sakit tempat kerja saya. Jalan sekitar 2 menit, sudah sampai.

Bedanya, tadi malam, saya belanja sekaligus mengambil gambar di sepanjang jalan yang saya lewati untuk dokumentasi.

AEON, atau kalau kata orang Jepang, ION (A dan E nya entah kenapa dibaca I), adalah salah satu mall yang banyak tersebar di seantero Jepang. Mungkin mirip “Matahari” atau “Ramayana” kalau di Indonesia.

AEON yang ada di dekat tempat kerja saya ada 3 lantai dan basement juga. Tidak semua saya akan tulis, karena jelas, terlalu panjang jadinya.

Saya akan ceritakan secara garis besar saja, dan khususnya, tempat-tempat yang biasa saya datangi (karena harganya agak mendingan).

Lantai 1, layaknya di mall-mall pada umumnya. Adalah supermarket yang isinya berbagai barang kebutuhan sehari-hari.

Mulai dari bahan makanan, sampai kebutuhan cuci dan mandi ada semua.

Bedanya, hampir semuanya memakai huruf kanji (karena memang di Jepang) dan tentu “harganya” kalau di rupiahkan, akan terasa mahal semua.

Nah, karena saya hampir tiap hari masak sendiri, maka lama-lama jadi hafal harga-harga barang yang ada disini.

Oh ya, kalau pas belanja, daftar harga di Jepang itu selalu ada 2. Atas dan bawah. Maksudnya, harga sebelum dan setelah kena pajak sebesar 8 %.

Sebagai contoh, harga telur. Sama-sama isi 10 butir, ada yang harganya 178 yen, ada yang 300 yen, dan ada juga yang lain. (catatan, 1 yen kira-kira 115 rupiah sekarang, kalau ingin gampang kita buat 1 yen adalah 100 rupiah).

Jadi, sama-sama sekotak telur isi 10 butir, ada yang harganya sekitar 18 ribu, ada yang 30 ribu.

Lalu biasanya belanja yang mana? Kalau saya, jelaslah, yang lebih murah saja, hehe.

Lalu ada susu murni 1 liter. Ada yang harganya 181 yen, 223 yen dan 300 yen. Entah bedanya apa. Soalnya saya selalu beli dengan harga yang paling minimal.

Selanjutnya adalah daging ayam, sapi, domba dan macam-macam. Yang perlu diwaspadai adalah, bagi yang tidak makan babi seperti saya. Karena hampir semuanya memakai huruf kanji, maka hafal kanji babi adalah utama.

Babi atau dalam bahasa Jepangnya adalah “buta” atau kalau daging babi menjadi “butaniku”.

Berikut adalah huruf kanjinya, (豚). Atau kalau daging babi, atau “butaniku”, berikut adalah kanjinya, (豚肉).

Kemudian, adalah kanji “sake” atau mengandung alkohol. Berikut adalah kanjinya, (酒).

Jadi, saat belanja makanan, yang menjadi kebiasaan kami disini adalah langsung melihat daftar komposisi yang ada di label bungkus makanan.

Kadang ada teman saya yang bilang, kalau di Indonesia, mungkin akan “susah” menemukan daging babi. Nah, kalau di Jepang, hampir semua makanan biasanya ada daging babinya.

Jadi, kita yang harus lebih waspada saat memilih makanan yang akan dibeli. Oleh karena itulah, yang menjadi salah satu alasan saya untuk masak sendiri setiap hari, selain lebih bisa sedikit “ngirit” juga.

Di lantai 1 juga ada food court yang menyediakan banyak makanan. McD, KFC, Takoyaki, Okonomiyaki, Udon, Pizza, dan masih banyak lagi.

Salah satu favorit saya, Kitsune Udon. Mie besar dengan kuah dan ada tahu gorengnya.

Oke, lanjut ke lantai 2. Ada banyak hal yang dijual. Saya akan ajak ke toko serba 100 yen saja, atau lebih dikenal dengan nama “hyakuen shoppu”.

Walaupun katanya serba 100 yen, nyatanya harganya jadi 108 yen. Karena ditambah pajak 8%.

Namun, beragamnya barang yang ada di toko serba 100 yen ini, kadang juga nemu barang yang cocok dan murah.

Ada banyak jenis toko seperti ini. Ada “Seria”, seperti yang di mall ini. Ada juga “Daiso”, “Realize”, “Lawson 100”, dan masih banyak lagi.

Saya beli spatula, sendok, gelas, tempat makan (bento), hanger, keset, ember, headset, buku, tempat minum, dan masih banyak lagi, di tempat ini.

Kadang juga ada barang yang unik yang dijual di tempat seperti ini, yang sering diserbu para pelancong.

Dan sekarang kita ke lantai 3. Ada berbagai tempat makan dan tempat potong rambut (bahasa Jepangnya, Tokoya).

Nah, karena jarang ada tempat makan yang menyediakan menu berbahasa inggris, serta juga agar menarik pelanggan agar mau mampir, maka pihak toko akan memajang “contoh” makanan di etalasenya.

Jadi, semisal kita ingin makan misalnya, tapi gak ngerti cara baca huruf kanjinya. Tinggal ajak saja pelayannya ke depan toko, dan tunjuk makanan sesuai dengan pilihan kita.

Saya pernah melakukannya, saat menemani beberapa teman dari Indonesia di stasiun Sapporo.

Beneran, gak kebaca itu huruf kanjinya. Akhirnya, pesan makannya sambil nunjuk-nunjuk contoh makanan yang ada di pajangan.

Salah satu tempat yang makananya enak dan harganya lumayan adalah Saizeria. Makanannya rata-rata menu Italia. Yah, cukup lumayan rasa dan harganya dibanding tempat sekitarnya.

Dan yang tak kalah pentingnya bagi saya adalah, tempat cukur. Saat di Osaka dulu, saya gak pernah potong rambut di tempat potong rambut, karena ada teman saya yang ahli cukur.

Sekarang, harus rela mengeluarkan uang untuk cukur. Ada yang lumayan murah (menurut ukuran di Jepang), yaitu 1080 yen sekali cukur. Atau sekitar 110 ribu, hemm.

Makanya, kalau dulu biasanya sebulan sekali potong rambut, sekarang bisa satu setengah bulan atau mendekati 2 bulan baru potong rambut.

Kira-kira seperti itu. Memang, kalau semua dilihat dari kacamata “rupiah”, bakal jadi mahal semua.

Namun, biaya hidup disini, tentu sudah disesuaikan dengan rata-rata penghasilan para penduduknya.

Asalkan dibelanjakan seusai kebutuhan hidup, insyaallah bakal cukup, dan bisa nabung. Namun, kalau menuruti “gaya hidup”? Penghasilan berapapun boleh jadi akan kurang terus.

Baiklah, pesawat yang akan saya tumpangi ke Tokyo sebentar lagi datang. Sampai jumpa di tulisan Selanjutnya…

Sapporo, 16 maret 2017. 16.00 waktu setempat.

Nulisnya masih sore disini, sambil nunggu pesawat di Bandara Chitose, karena nanti malam sepertinya gak sempat.

*Uki

“Mas, Kulit Kacangnya Jangan Ikut Dimakan..”

10 Mar

#Yuki 16

Kira-kira Itu yang saya katakan kepada teman saya yang orang Jepang, ketika makan kacang kulit rasa, beberapa waktu yang lalu.

Kacang itu saya dapatkan dari “nitip” kenalan di grup facebook yang datang ke Sapporo sebulan kemarin.

Entah, tiba-tiba saya ingin makan kacang kulit rasa, dan teman yang mau datang ke Sapporo bertanya, “Mas Uki mau nitip apa dari Indonesia?”

“Bisa minta tolong dibawain kacang kulit rasa bawang?” Jawab saya.

“Ada lagi, Mas?” Tanya lagi.

Duhh, saya beneran gak enak nitip sama temen yang niatnya jalan-jalan.

Tapi karena “setengah” dipaksa, dengan alasan, “Saya juga pernah merantau ke Luar negeri, Mas. Jadi tahu rasanya kalau tiba-tiba ingin makan makanan dari tanah air,” Lanjutnya.

Akhirnya, saya nitip yang ringan-ringan saja. Seperti sambal dan beberapa bumbu masak khas Indonesia yang “langka” disini. Kalaupun ada, harganya bisa 5 kali lipat dari harga asalnya. Maklum, karena bumbunya naik pesawat.

Kembali ke teman saya tadi.

“Uki san, ini kacang apa namanya? Belum penah saya makan kacang seenak ini. Apalagi bisa dimakan sama kulitnya..”

Beneran saya tepok jidat. Duhh, apa memang orang Jepang kalau makan kacang kulit sama kulitnya ya. Betul-betul penasaran saya dibuatnya. Sekaligus khawatir kalau kenapa-napa.

Saya tanya balik ke dia. Memang kalau makan kacang sama kulitnya ya? Dia pun jawab, enggak.

Tetapi khusus untuk yang “satu” ini, kacang kulit rasa, beneran itu kacang dimakan “krauk, krauk” sekulit-kulitnya.

Padahal saya sudah bilang kalau biasanya, kulitnya gak ikut dimakan. Takut kenapa-kenapa.

Tapi ya, dia bilang, “Kono rakkasei wa totemo oishii desuyo. Meccha ooshii!” (Kacang ini beneran enak banget!) Sambil terdengar suara “krauk, krauk” disebelah saya.

Entahlah, kulit kacang kan juga organik kan ya? Nyatanya temen saya sehat-sehat saja hingga hari ini.
Yah, mungkin memang berbeda cara kami menikmati kacang kulit tersebut. Dan hingga hari inipun, ada beberapa perbedaan yang saya amati selama hampir 3 bulan berada disini.

Pertama tentang bahasa.

Ada beberapa kosakata yang menarik buat saya, karena dari arti aslinya, berubah sesuai dengan dialek hokkaido.

Kosakata “nageru” yang arti aslinya adalah melempar, seperti melempar bola pada kasti, berubah menjadi membuang yang lekat dengan kata sampah.

Biasanya kalau meminta tolong untuk membuangkan sampah, maka akan terucap, “Gomi wo sutete kudasai..”.

Disini menjadi beda, “Gomi wo nagete kudasai..” Kalau diartikan apa adanya, tolong lemparkan sampahnya! Nah, loh!

Selanjutnya adalah kosakata “kowai” yang artinya takut.

Pertama kali saya disini, saya dibuat bingung sama pasien yang ketika siang-siang, habis rehabilitasi, tiba-tiba bilang, “Karada kowakatta..” Kalau diartikan apa adanya, “Badan saya ketakutan”..

Lah, ini kan siang-siang. Takut apa memangnya. Saya (karena belum tahu) pun nanya balik. “Takut ada apa?”. Si pasien tetep kekeuh bilang, “kowakatta, kowakatta”

Tahu saya menjadi tambah bingung. Teman kerja saya (sambil senyum-senyum) bilang, “Kowakatta, disini itu artinya sama dengan ‘sindokatta’, yaitu capek, atau lelah..”

Yahhh, jadi begitu rupanya. Saya pikir takut kenapa coba.

Lalu ada juga “gokkun” yang artinya sama dengan “nomikomu” atau menelan.

Kemudian, kalau mengakhiri pertanyaan, jarang yang pake “ka”, misal “ogenki desuka” yang artinya bagaimana keadaannya. Tapi berubah, “genki no kai?”. “Ka” berubah jadi “kai” yang dengan ucapan orang setempat begitu menarik di telinga saya.

Lalu ada juga perbedaan budaya “sikat gigi” yang mungkin agak aneh, boleh jadi malah risih kalau dilakukan di Indonesia.

Setiap habis makan siang di ruang istirahat, teman-teman saya kemudian mengambil sikat gigi beserta pasta gigi, dan seketika itu langsung sikat gigi di tempat makan.

Alamakkk, padahal disebelahnya masih asik menyantap sate ayam (yakitori).

Awal-awal disini, terus terang saya merasa “enek”. Bisa-bisanya, yang satu gosok-gosok gigi, sebelahnya “srutup-srutup” nyendok sup.

Tapi lama-lama, akhirnya saya juga terbiasa dan melebur dengan budaya seperti itu.

Mengamati hal yang berbeda, menjadi hal yang mengasikkan buat saya. Karena bagaimanapun, perbedaan itu indah.

Dan ketika ada orang-orang yang enggan menerima perbedaan, dijamin tensinya bakal naik terus, hehe. Apalagi yang ingin memberangus perbedaan.

Sama seperti sekarang, ketika di daerah-daerah lain di Jepang sudah mulai bermekaran bunga sakura, bunga ume, dan masih banyak lagi. Di Sapporo masih begitu setia dengan salju lembutnya (yang katanya masih sampai akhir maret masih turun salju).

Nah, karena melihat perbedaan itu indah, biar tidak melulu lihat salju, insyaallah minggu depan ada kesempatan pelatihan di Tokyo.

Siapa tahu bisa lihat sakura disana.

Ada yang mau ikut?

 

Image may contain: one or more people and people sitting

(Bersama Sugai san, di Warung Ramen Halal di daerah Susukino, Sapporo. Sayangnya, saat itu gak bawa kacang kulit rasa, eh)

Sapporo, 9 Maret 2017. 20.30 waktu setempat. Seharian turun salju euy..

*Uki

 

Seleksi Perawat ke Jepang : Bagai Marathon!

3 Mar

#Yuki 15

Bulan febuari telah resmi berganti menjadi maret.

Dan, bulan kemarin juga sekaligus menjadi kabar yang di tunggu-tunggu bagi teman-teman yang ingin mencoba mendaftar program perawat ke Jepang.

Sebelum lanjut baca, saya sarankan tarik napas dalam dan rileks, karena tulisan kali ini bakal cukup panjang! (Saya serius, ternyata panjang euy…)

Saya ingin sharing sekaligus (semoga bisa) menjawab beberapa pertanyaan seputar seleksi perawat ke Jepang.

Here we go! korekara, ganbatte ikimashou!

Setelah saya rangkum beberapa pertanyaan yang masuk inbox ataupun di kolom komentar, kira-kira seperti ini,

“Mas, pemberkasannya kok luar biasa ya..terus ujian keperawatan sama psikotes itu gimana? wawancaranya ditanyain apa aja ya? Japanese quiz sama aptitude test itu ngapain aja?”

Yah, barangkali memang bukan hanya saya saja yang ditanya. Boleh jadi, teman-teman saya yang sekarang sudah di Jepang juga merasakan demikian.

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita flashback dua tahun yang lalu. Lorong waktu mana lorong waktu?

Bulan maret 2015, saat itu boleh jadi saya juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh teman-teman yang akan mendaftar di program ini.

Senang, karena secara resmi telah diumumkan oleh Bnp2tki. Cemas bercampur khawatir, lumrah ada, karena resiko gagal memang selalu ada.

Tapi menyerah sebelum mencoba? Itu tidak buat saya.

Pertama adalah pemberkasan. Banyaaaaaaak banget dan memang harus teliti.

Saya sampe berulang-ulang kroscek apa yang harus dipersiapkan dengan apa yang diperlukan, sesuai yang tertera di website bnp2tki.

Beberapa teman-teman ada yang ikut lembaga pelatihan sambil mempersiapkan diri, namun ada juga yang “solo” alias mencoba mengurus semuanya sendiri.

Setelah tahap pertama, yaitu pemberkasan usai, yang biasanya sampe akhir mei, maka kita akan dibuat menunggu sampe juni.

Nah, bulan juni akan keluar pengumuman selanjutnya. Siapa saja yang lolos pemberkasan, akan lanjut ke tahap selanjutnya. Yaitu tes keperawatan dan psikotes.

Tes keperawatan itu bagaimana?

Kalau yang “kangoshi”, mirip soal Ukom alias ujian kompetensi keperawatan. 180 soal, selama 180 menit serta menggunakan lembar jawab komputer.

Untuk teman-teman yang ikut “kaigofukushishi”, soal-soalnya hampir 80% tentang gerontik. Itu kata teman saya. Soal waktunya sama.

Nah, psikotes. Mungkin setiap tahun berubah polanya. Saya dulu ada 7 jenis soal, ada kraeplin, adkudag, hitung-hitungan, dan sebagainya.

Kalau yang tahun kemarin, saya kurang tahu. Yang jelas, lebih baik mempersiapkan diri. Bisa beli soal-soal psikotes di toko buku, atau cari di internet, juga banyak.

Yang jelas, tes menggambar pohon dan manusia sepertinya jarang keluar.

Oh ya, biaya tesnya masing-masing 250 ribu. Semoga tahun ini tidak berubah.

Setelah tes, nunggu lagi sampai akhir juli. Barulah, setelah pengumuman keluar lagi, jadi tahu siapa yang lanjut ke tahap wawancara dan Japanese quiz beserta aptitude test.

Ngomong-ngomong soal wawancara, bulan agustus 2 tahun lalu merupakan bulan yang mengesankan bagi saya.

Karena saat itulah pertama kalinya mengikuti wawancara dengan pihak asing, yaitu orang jepang.

Sebelumnya, saya juga pernah wawancara, namun dengan HRD sebuah rumah sakit swasta di daerah Jabodetabek.

Hasilnya, setelah wawancara usai, usai pula prosesnya alias saya belum bisa bergabung menjadi tenaga perawat di rumah sakit tersebut.

Kembali ke topik. Saat itu, tempat wawancara dibagi menjadi 3. Di Jakarta ada 2 tempat, dan satu tempat lagi ada di Medan.

Tempat wawancara saya dan teman-teman calon perawat atau Kangoshi, bertempat di Hotel Alila, di daerah Pecenongan, Jakarta.

Lalu, untuk teman-teman calon Careworker atau Perawat lansia, bertempat di hotel Sari Pan Pasific yang terletak di dekat bundaran Hotel Indonesia.

Saat itu, hari rabu, tanggal 19 Agustus, adalah hari yang mendebarkan.

Bagi saya dan teman-teman yang berasal dari luar kota, harus datang minimal satu hari sebelum hari wawancara, dan mencari penginapan sendiri. Beberapa teman juga ada yang menginap di tempat saudaranya di Jakarta.

Proses wawancara dimulai pukul 8 pagi, dan kami diharuskan datang minimal setengah jam sebelumnya untuk melakukan daftar ulang atau registrasi.

Perlengkapan yang dibawa saat itu adalah, memakai baju batik lengan panjang (ini peraturan dari BNP2TKI) dan alat tulis untuk mengerjakan tes.

Saat saya tes, ada pembagian pensil gratis, namun untuk amannya, mending bawa sendri, daripada bingung kalau stoknya habis nanti.

Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan!

Teman-teman yang ikut tes keperawatan, pasti dapat modul singkat tentang tatacara menulis huruf hiragana dan katakana.

Jadi, setelah tes keperawatan, diharapkan bisa “minimal” baca serta menulis huruf hiragana dan katakana dan paham tentang beberapa kosakata bahasa Jepang dasar, seperti memberi salam misalnya.

Lanjut. Setelah registrasi, kami diberi tanda pengenal berupa nama dan nomor peserta. Tanda pengenal tersebut harus dipakai selama proses wawancara sehari tersebut.

Lalu kami memasuki ballroom hotel tersebut dan duduk di tempat yang telah disediakan.
Setelah waktu menunjukan pukul 8 pagi, maka acara pun dibuka.

Saya pun semakin deg-degan. Saat itu, saya duduk di bangku nomor dua dari depan. Dan di sekeliling kami, sudah ada 7 perwakilan dari 21 rumah sakit Jepang yang membutuhkan calon karyawan baru, untuk datang untuk melihat kami, para calon peserta.

Jadi, perwakilan jepang itu ya yang melakukan wawancaranya? Bukan.

Mereka datang untuk memperkenalkan institusi yang mereka wakili. Semacam “stand” produk yang menawarkan barang dagangannya, nah, mereka juga mengenalkan profil rumah sakit masing-masing, di sela-sela proses wawancara.

Saat itu, peserta kangoshi yang hadir ada sekitar 96 orang. Masih ada sekitar 10 orang lagi, namun mereka mengikuti wawancara di Medan di hari yang berbeda.

Setelah acara pembukaan selesai, ada penjelasan singkat tentang proses wawancara di hari tersebut.

Inti dari penjelasan itu adalah, kami harus ngapain aja dan kemana saja. Karena oh karena, tempat wawancaranya ada di ruangan yang berbeda. Bukan di ballroom hotel tersebut.

Penjelasan acara berlangsung kurang lebih selama 1 jam oleh orang Jepang yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Lalu, acara dilanjutkan dengan wawancara.

Saya lupa durasi waktu pastinya, kalau tidak salah, setiap proses wawancara, berlangsung selama 10 sampai 20 menit.

Ada yang lebih cepat, juga ada yang lebih dari estimasi waktu itu. Mungkin keasyikan ngobrol sama pewawancaranya kali, hehe.

Untuk wawancaranya, dibagi pergelombang. Setiap gelombang isinya 10 peserta. Sementara 10 peserta tersebut melakukan wawancara, yang lain menunggu di ballroom hotel sambil berkeliling ke stan-stan yang sudah ada.

Saat itu, perwakilan yang datang berasal dari Hokkaido, Wakayama, Osaka, Tokyo, Aichi, Yamaguchi, dan Nagano.

Di ruangan yang terpisah, sudah menunggu 10 bilik yang digunakan untuk wawancara. Disana, sudah menunggu dua orang. Yang satu adalah pewawancara, yang tentu saja orang jepang. Dan yang satunya lagi adalah penerjemah.

Image may contain: 1 person, smiling, standing and outdoor

Foto di “Shiroikoibito park”, tempat wisata di Hokkaido

Apakah saat wawancara harus menggunakan bahasa jepang? Tidak harus.

Namun, kalau sudah bisa berbahasa jepang, walaupun sedikit, tentu akan menjadi nilai tersediri.

Dari cerita teman tahun kemarin, saat jikoshoukai, atau pengenalan diri sendiri, rata-rata menggunakan bahasa jepang. Walaupun setelah itu menggunakan bahasa Indonesia lagi.

Sikap dan posisi duduk juga sangat diperhatikan oleh pewawancara. Kalau posisi duduknya tidak tegap, boleh jadi dianggap tidak serius mengikuti wawancara.

Lalu, saat wawancara yang ditanyakan apa saja?

Tentu yang utama adalah perkenalan. Kan ada pepatahnya bukan? Kalau tidak kenal maka tidak sayang, eh.

Setelah perkenalan, maka seputar diri kita akan ditanyakan. Bisa tentang keluarga, asal sekolah darimana? pernah bekerja dimana? berapa lama? pernah belajar bahasa jepang atau belum? kalau sudah, kapan? apakah saat SMA? Atau mengambil kursus tertentu?

Lalu, pertanyaan seputar program ini. Tahu program ini darimana? Diberitahu kawan, kah? Mencari sendiri di internet kah? Motivasinya apa? Bagi calon perawat, kan sudah bekerja, apakah tidak sayang meninggalkan pekerjaan sebelumnya, apalagi yang sudah menjadi karyawan tetap? Sudah punya senpai (senior) di jepang apa belum? Kalau sudah, namanya siapa, tempat kerjanya dimana?

Lalu pertanyaan seputar Jepang. Pandangan tentang jepang itu bagaimana? Apa yang diketahui tentang jepang? Budaya daerah dan budaya kerjanya seperti apa? Mengapa ingin ke Jepang? Tidak ke negara yang lain aja? Cara membina hubungan dengan sesama karyawan nanti bagaimana? Apalagi beda bahasa dan budaya, dan lainnya.

Boleh jadi, kawan-kawan yang lain ada pertanyaan yang berbeda.

Setelah wawancara dirasa cukup, maka kita akan diambil video dengan waktu sekitar 30 detik, untuk melakukan presentasi singkat tentang rangkuman wawancara barusan.

Minimal, isinya adalah perkenalan singkat dan motivasi untuk bekerja di jepang. Kalau masih ada waktu, silahkan ditambahkan yang lain, asal masih ada hubungannya.

Kan gak lucu juga habis perkenalan tiba-tiba cerita kucingnya yang hilang. Yang ada kita dianggap main-main lagi ntar.

Nah, itu bagian wawancaranya.

Sekarang kita kembali ke ballroom. Menurut pengalaman, setelah menerima penjelasan tentang profil rumah sakit, maka akan ada sesi tanya jawab.

Oleh sebab itu, sebisa mungkin, kita harus melakukan persiapan sebelum bertanding! Dalam artian, mulai saat ini, silahkan browsing tentang daerah-daerah yang ada di jepang.

Semisal, Hokkaido, maka kita akan bisa bicara tentang “Yuki matsuri” atau perayaan salju di musim dingin, atau bisa bicara tentang keindahan kota pelabuhan di Hakodate, walaupun belum pernah kesana.

Kalau Osaka, ada Osaka Castle yang terkenal dan daerah wisata belanja di Namba. Kalau Tokyo, ada apa aja. Dan daerah lainnya.

Jadi, kita bisa menghindari pertanyaan monoton, yang sebenarnya tidak begitu disukai oleh mereka.

Contohnya adalah soal gaji, fasilitas, dan lamanya hari cuti. Lalu, apakah itu tidak boleh ditanyakan? Boleh-boleh saja, silahkan. Namun, saat penjelasan, mereka akan dengan gamblang menjelaskan hal tersebut.

Semisal saat itu belum dijelaskan, maka setelah wawancara selesai, kita akan diberikan sebuah alamat web, dengan kata sandi tertentu, untuk bisa membuka profil rumah sakit dan informasi detail lainnya.

Soal gaji, lama hari cuti, fasilitas, pembimbing saat di tempat kerja, dan lainnya akan tertera dengan jelas. Jadi, sebisa mungkin pertanyaan semacam itu kalau bisa dihindari.

Setelah semua peserta melakukan wawancara. Maka selanjutnya adalah Japanese quiz. Isi dari tes tersebut adalah menulis huruf hiragana dan katakana secara lengkap, menebak kosakata sederhana dalam bahasa jepang, dilanjutkan dengan perubahan kata dalam bahasa jepang.

Kalau dalam bahasa inggris ada istilah present, continuous, dan past. Dalam bahasa jepang pun ada.

Semisal, kata kerja “pergi”, yang artinya akan atau kebiasaan adalah “ikimasu”. Bentuk kamusnya adalah “iku”, bentuk negatifnya adalah “ikimasen”, bentuk lampaunya adalah “ikimasita”, dan bentuk lampaunya adalah “ikimasendesita”. Hehe, rumit ya.

bagi yang ingin belajar, ada buku yang bagus yang biasa dipakai oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa jepang. Namanya adalah buku “Minna no Nihongo”. Ada dua jilid, setiap jilid ada dua buku, yang berbahasa jepang dan terjemahannya.

Sebenarnya, buku ini akan diberikan gratis kepada peserta yang lolos dan melakukan pelatihan di Jakarta. Namun, kalau ingin beli sendiri dan belajar duluan, tidak ada salahnya.

Lalu, kalau saya berminat membeli, dimana yang jual? Saya cek di toko jual beli online banyak yang jual, salah satunya adalah Tokopedia (saya bukan promosi ini loh! Sebagai contoh saja, hehe).

Dan yang terakhir adalah aptitude test.

Ini tes apaan ya? ternyata sama dengan psikotes! Hanya saja jumlah soalnya lebih sedikit dibanding dengan tes sebelumnya.

Jadi, tidak usah terlalu khawatir. Simpaisinaide kudasai!

Dan sehari setelah tes adalah Medical check up, jadi jangan terlalu diforsir tenaganya ya.

Setelah semua tes-tes tersebut, maka yang paling akhir adalah proses “matching”. Intinya, kita diharuskan memilih 10 rumah sakit atau panti lansia yang sesuai dengan pilihan kita.

Soal Informasi tentang hal ini, bakal lebih detail akan diterangkan setelah proses wawancara selesai.

Jadi, sekarang, mending fokus satu-satu dulu. Persiapan mendaftar, belajar sedikit demi sedikit tentang bahasa Jepang, review ilmu keperawatan dan berlatih soal-soal psikotes.

Memang, seleksi program ini cukup melelahkan, bagai marathon. Dan tulisan kali ini juga sepertinya cukup “marathon” juga, hehe.

Baiklah, semoga sedikit bisa memberikan gambaran bagi sesama.

Yang jelas, tetap semangat, tetap sehat dan maknyus *pinjem kata-katanya pak bondan……

Sapporo, 1 Maret 2017. 21.00 waktu setempat. Sapporo masih setia dengan suhu minusnya..

*Uki