Halaman Persembahan, Untuk Mereka

“Wah, sampeyan hebat ya! Sendirian di Sapporo aja bisa lulus ujian nasional!” ujar teman yang lulus juga.

Sebagai kandidat program EPA, saya memang terdampar sendirian di ibukota provinsi paling utara Jepang, Hokkaido.

Ada sih, satu orang Indonesia. Letaknya 8 jam perjalanan dari Sapporo. Di kota antah berantah bernama Nemuro. Ada yang pernah dengar?

Tapi, saya tak sehebat itu. Saya tak sekuat itu. Tanpa mereka, ya, tanpa campur tangan mereka, saya bukan apa-apa.

Setelah pengumuman kelulusan senin lalu, saya justru terpaku. Seakan napak tilas ke belakang. Saat duduk di ruang kuliah.

Berawal dari kedatangan kakak tingkat. Berkisah serunya hidup di Amerika, hingga mendapat gelar RN (Register Nurse) atau lisensi perawat di Houston.

Jadilah bertekad, saya juga harus bisa menembus dunia internasional.

Akhirnya sembari kerja, di Batam, juga kursus Bahasa Inggris. Seminggu 3 kali. 1,5 jam tiap pertemuan. Dengan pengajar dari Belanda yang fasih Bahasa Indonesia, Mr. Ronald Ramakers.

Suatu ketika, saya meminta izin mengantarkan beliau pulang. Tentu saja sambil ngobrol ngalor-ngidul. Pesannya yang saya ingat, “Yes. You can reach your dream.”

Tak ada jalan kehidupan yang semulus aspal tol ternyata. Saya, 3 kali gagal melamar kerja ke luar negeri.

Amerika, tak ada kelonggaran visa.

Kuwait, sudah daftar, tak ada tanggapan.

Qatar, nyaris wawancara, tiba-tiba PJTKI-nya bermasalah.

Rasanya, sudah tak ada lagi kesempatan. Hingga saat sowan ke Kampus. Pak Giek Potekkes, Direktur Poltekkes kala itu berpesan,

“Ada lowongan perawat ke Jepang, Mas. Silakan dicoba, saya doakan semoga lancar.”

Alhamdulillah. Sedikit mulai sedikit, ujung terowongan gelap nan pengap terlihat.

Bismillah, fokus ke Jepang.

Yayasan BIMA Jakarta, salah satu yang memberi harapan ke Negeri Sakura. Sebulan setelah ujian, ternyata, harus lebih lama bersabar.

Cari informasi lagi. Tanya-tanya lagi. Searching di internet lagi.

Hingga jalan takdir mempertemukan saya dengan dr. M Ar Effendy dan Pak Sony Arsjad dalam keluarga besar Lpk Bahana Inspirasi Muda, di Bale Endah, Bandung.

Saya sempat mengira, itu bukan pelatihan bahasa. Tapi kawah candradimuka yang akan melahap siapa saja yang membangkang.

Aturan ketat dengan segala keunikannya. Senam setiap pagi, ujian setiap jam, pula disiplin belajar yang tak main-main. Hanya demi lolos test EPA angkatan 9.

Saat sesi diskusi, dr. Arsjad mengajukan pertanyaan yang sulit saya jawab, “Uki san pengen lulus di tahun pertama atau kedua?”

Saya terdiam. Boro-boro lulus ujian keperawatan, menginjak tempat lahirnya Nobita saja sudah syukur.

Akhirnya dijawab sendiri oleh beliau, “Menurut saya, lebih bagus bisa lulus di tahun kedua. Jadi, 1 tahun pertama di rumah sakit. Kerja sambil mempelajari kebiasaan orang Jepang.”

Saya mengangguk setuju. Sambil mengaminkan berkali-kali dalam hati.

Alhamdulillah, setelah serangkaian test sepanjang jalan Anyer-Panarukan, saya lolos dan maching dengan rumah sakit Sapporo Higashi Tokushukai di Kota Sapporo, Hokkaido.

Alasannya simpel, memiliki kewenangan menerima pasien asing dan menyediakan musholla. Ya, musholla.

Setahun terakhir, dua kali diminta menjadi interpreter. Saat ada pasien Indonesia dan Thailand. Alhamdulillah ilmu dari Mr. Ronald sangat membantu. Meski agak kacau.

Untungnya mereka masih memaklumi. Iya, maklum, orang Indonesia, ya fasihnya Bahasa Indonesia. Hehe.

Setelah 6 bulan belajar di Srengseng Sawah, Jaksel, lanjut terbang ke Osaka. Tempat di mana saya menemukan pentingnya pengembangan diri dan kedalaman hati.

Pak dhe Hariadi Pamungkas, penerjemah dengan jam terbang kelewat banyak. Menjadi role model bertahan hidup di tanah orang.

Saya pikir orang Jepang. Lah gimana, penampilannya “Jepang” banget, Je!

Tapi eh, tiba-tiba beliau setengah berteriak, “Ayo, Mas. Masuk, masuk. Shalat jumat meh ndang dimulai.” Lah, ternyata Jawa juga, haha.

Ada pula Mas Asdicka Al-ghony yang entah bagaimana awalnya, bisa bertemu sesaat sebelum shalat Idul Fitri 2 tahun lalu.

Yang membuat jantung saya berdegup tak keruan saat beliau bercerita kalau telah lulus di tahun kedua dalam ujian nasional keperawatan Jepang.

Ketika “Kouryuukai” atau pertemuan dengan senpai (kakak tingkat). Mereka mengajarkan bagaimana belajar efektif dan efisien untuk ujian nasional.

Salah satu dari mereka yang berbagi pengalaman, Mas Taqim Alfatih, lulus dengan nilai soal wajib 100%. Padahal di RS-nya, minim support.

Bagaimana bisa? Iya, karena tak diberi jam khusus belajar saat bekerja, jadilah seluruh waktu liburnya ditransformasi untuk menghapal dan memahami materi.

Saya yakin, setiap orang itu unik. Mereka punya caranya masing-masing dalam belajar. Dan tentu, kesempitan tak akan menghambat siapapun yang memiliki kemauan besar.

Juga, saat berkesempatan bertemu dengan salah satu pionir program EPA angkatan pertama, Mas Mohamad Yusup.

Berbagi kisah jatuh bangunnya kehidupan berkeluarga di Jepang setelah lulus ujian nasional. Ilmu juga ini!

Berada di tempat baru pasti sulit. Tapi berkat bantuan Naohiro Shimada sensei, yang selalu ada untuk memotivasi. Saya, mampu beradaptasi, dan mandiri.

Kakak, adik, saudara, dan istri Marintha Violeta yang menyelipkan nama saya di ujung doa.

Serta masih banyak orang penting yang telah mengantarkan saya hingga titik ini. Yang, maaf, belum dapat saya tuliskan satu persatu.

Dan tentu saja, semesta tak akan cukup menampung ungkap terima kasih pada bapak dan ibu tercinta. Tanpa ikhtiar dan doa luar biasa mereka, segala proses di atas boleh jadi tidak pernah terjadi.

Karena jalan menuju ujung terowongan adalah kesediaan mereka memberikan izin anaknya ini untuk mencoba berbagai ketidakmungkinan. Menembus kegelapan. Hingga menemukan cahaya.

Selembar kertas pengumuman kelulusan ini, saya persembahkan kepada segenap insan di balik layar. Atas luasnya doa dan meluapnya dukungan. Atas kesediaannya berbagi pesan dan motivasi untuk terus bergerak. Hingga saya menjadi seperti sekarang ini.

Mereka, adalah pemain kedua belas dalam sepak bola. Selalu menghentakkan kaki. Tak berhenti menyemangati. Selalu optimis dan percaya. Di tepi arena.

Meski setapak perjalanan telah terlalui. Tapi tantangan ke depan juga semakin terjal, curam dan tak terprediksi.

Sabar dalam mendaki. Terencana dalam berkalkulasi. Serta menggigit kuat optimis dalam sanubari. Adalah koentji!

Jikalau setahun terakhir ini saya merasa sudah banyak belajar. Ternyata belum seberapa. Karena nyatanya, hanya 1 persen saja. Sisanya, doa!

Bagaimanapun, sang Kuasa adalah pemilik segala ketetapan dan jalan hidup manusia.

Sapporo, 29 Maret 2018.

Uki

Iklan

Matur suwun

皆様のお陰様で国家試験が合格出来ました。応援、心からありがとうございます。感謝しております。これからも大変な事が沢山出てくると思いしますのでよろしくお願いします。

Alhamdulillah, berkat doa dan support dari semuanya. Saya diberikan kelulusan dalam ujian nasional keperawatan di Jepang.

Salam sungkem dumateng sedoyo.. 🙏

Seleksi Perawat ke Jepang : Bagai Marathon!

Bulan febuari telah resmi berganti menjadi maret.

Dan, bulan kemarin juga sekaligus menjadi kabar yang di tunggu-tunggu bagi teman-teman yang ingin mencoba mendaftar program perawat ke Jepang.

Sebelum lanjut baca, saya sarankan tarik napas dalam dan rileks, karena tulisan kali ini bakal cukup panjang!

Saya ingin sharing sekaligus (semoga bisa) menjawab beberapa pertanyaan seputar seleksi perawat ke Jepang.

Here we go..

Setelah saya rangkum beberapa pertanyaan yang masuk inbox ataupun di kolom komentar, kira-kira seperti ini,

“Mas, pemberkasannya kok luar biasa ya..terus ujian keperawatan sama psikotes itu gimana? wawancaranya ditanyain apa aja ya? Japanese quiz sama aptitude test itu ngapain aja?”

Yah, barangkali memang bukan hanya saya saja yang ditanya. Boleh jadi, teman-teman saya yang sekarang sudah di Jepang juga merasakan demikian.

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita flashback 3 tahun yang lalu. Lorong waktu mana lorong waktu?

Zidan siap? Pak haji siap?….

Bulan maret 2015, saat itu boleh jadi saya juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh teman-teman yang akan mendaftar di program ini.

Senang, karena secara resmi telah diumumkan oleh Bnp2tki.

Cemas bercampur khawatir, lumrah ada, karena resiko gagal memang selalu ada.

Tapi menyerah sebelum mencoba? Itu tidak buat saya.

Pertama adalah pemberkasan. Banyaaaaaaak banget dan memang harus teliti.

Saya sampe berulang-ulang kroscek apa yang harus dipersiapkan dengan apa yang diperlukan, sesuai yang tertera di website bnp2tki.

Beberapa teman-teman ada yang ikut lembaga pelatihan sambil mempersiapkan diri, namun ada juga yang “solo” alias mencoba mengurus semuanya sendiri.

Setelah tahap pertama, yaitu pemberkasan usai, yang biasanya sampe akhir mei, maka kita akan dibuat menunggu sampe juni.

Nah, bulan juni akan keluar pengumuman selanjutnya. Siapa saja yang lolos pemberkasan, akan lanjut ke tahap selanjutnya. Yaitu tes keperawatan dan psikotes.

Tes keperawatan itu bagaimana?

Kalau yang “kangoshi”, mirip soal Ukom alias ujian kompetensi keperawatan.

180 soal, selama 180 menit serta menggunakan lembar jawab komputer.

Untuk teman-teman yang ikut “kaigofukushishi”, soal-soalnya hampir 80% tentang gerontik. Itu kata teman saya. Soal waktunya sama.

Nah, psikotes. Mungkin setiap tahun berubah polanya. Saya dulu ada 7 jenis soal, ada kraeplin, adkudag, hitung-hitungan, dan sebagainya.

Kalau yang tahun kemarin, saya kurang tahu. Yang jelas, lebih baik mempersiapkan diri. Bisa beli soal-soal psikotes di toko buku, atau cari di internet, juga banyak.

Yang jelas, tes menggambar pohon dan manusia sepertinya jarang keluar.

Oh ya, biaya tesnya masing-masing 250 ribu. Tahun ini tidak berubah apa tidak, silahkan dicek di website ya.

Setelah tes, nunggu lagi sampai akhir juli. Barulah, setelah pengumuman keluar lagi, jadi tahu siapa yang lanjut ke tahap wawancara dan Japanese quiz beserta aptitude test.

Ngomong-ngomong soal wawancara, bulan agustus 3 tahun lalu merupakan bulan yang mengesankan bagi saya.

Karena saat itulah pertama kalinya mengikuti wawancara dengan pihak asing, yaitu orang jepang.

Sebelumnya, saya juga pernah wawancara, namun dengan HRD sebuah rumah sakit swasta di daerah Jabodetabek.

Hasilnya, setelah wawancara usai, usai pula prosesnya alias saya belum bisa bergabung menjadi tenaga perawat di rumah sakit tersebut.

Kembali ke topik. Saat itu, tempat wawancara dibagi menjadi 3. Di Jakarta ada 2 tempat, dan satu tempat lagi ada di Medan.

Tempat wawancara saya dan teman-teman calon perawat atau Kangoshi, bertempat di Hotel Alila, di daerah Pecenongan, Jakarta.

Lalu, untuk teman-teman calon Careworker atau Perawat lansia, bertempat di hotel Sari Pan Pasific yang terletak di dekat bundaran Hotel Indonesia.

Saat itu, hari rabu, tanggal 19 Agustus, adalah hari yang mendebarkan.

Bagi saya dan teman-teman yang berasal dari luar kota, harus datang minimal satu hari sebelum hari wawancara, dan mencari penginapan sendiri. Beberapa teman juga ada yang menginap di tempat saudaranya di Jakarta.

Proses wawancara dimulai pukul 8 pagi, dan kami diharuskan datang minimal setengah jam sebelumnya untuk melakukan daftar ulang atau registrasi.

Perlengkapan yang dibawa saat itu adalah, memakai baju batik lengan panjang (ini peraturan dari BNP2TKI) dan alat tulis untuk mengerjakan tes.

Saat saya tes, ada pembagian pensil gratis, namun untuk amannya, mending bawa sendri, daripada bingung kalau stoknya habis nanti.

Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan!

Teman-teman yang ikut tes keperawatan, pasti dapat modul singkat tentang tatacara menulis huruf hiragana dan katakana.

Jadi, setelah tes keperawatan, diharapkan bisa “minimal” baca serta menulis huruf hiragana dan katakana dan paham tentang beberapa kosakata bahasa Jepang dasar, seperti memberi salam misalnya.

Lanjut. Setelah registrasi, kami diberi tanda pengenal berupa nama dan nomor peserta. Tanda pengenal tersebut harus dipakai selama proses wawancara sehari tersebut.

Lalu kami memasuki ballroom hotel tersebut dan duduk di tempat yang telah disediakan.
Setelah waktu menunjukan pukul 8 pagi, maka acara pun dibuka.

Saya pun semakin deg-degan. Saat itu, saya duduk di bangku nomor dua dari depan. Dan di sekeliling kami, sudah ada 7 perwakilan dari 21 rumah sakit Jepang yang membutuhkan calon karyawan baru, untuk datang untuk melihat kami, para calon peserta.

Jadi, perwakilan jepang itu ya yang melakukan wawancaranya? Bukan.

Mereka datang untuk memperkenalkan institusi yang mereka wakili. Semacam “stand” produk yang menawarkan barang dagangannya, nah, mereka juga mengenalkan profil rumah sakit masing-masing, di sela-sela proses wawancara.

Saat itu, peserta kangoshi yang hadir ada sekitar 96 orang. Masih ada sekitar 10 orang lagi, namun mereka mengikuti wawancara di Medan di hari yang berbeda.

Setelah acara pembukaan selesai, ada penjelasan singkat tentang proses wawancara di hari tersebut.

Inti dari penjelasan itu adalah, kami harus ngapain aja dan kemana saja. Karena oh karena, tempat wawancaranya ada di ruangan yang berbeda. Bukan di ballroom hotel tersebut.

Penjelasan acara berlangsung kurang lebih selama 1 jam oleh orang Jepang yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Lalu, acara dilanjutkan dengan wawancara.

Saya lupa durasi waktu pastinya, kalau tidak salah, setiap proses wawancara, berlangsung selama 10 sampai 20 menit.

Ada yang lebih cepat, juga ada yang lebih dari estimasi waktu itu. Mungkin keasyikan ngobrol sama pewawancaranya kali, hehe.

Untuk wawancaranya, dibagi pergelombang. Setiap gelombang isinya 10 peserta. Sementara 10 peserta tersebut melakukan wawancara, yang lain menunggu di ballroom hotel sambil berkeliling ke stan-stan yang sudah ada.

Saat itu, perwakilan yang datang berasal dari Hokkaido, Wakayama, Osaka, Tokyo, Aichi, Yamaguchi, dan Nagano.

Di ruangan yang terpisah, sudah menunggu 10 bilik yang digunakan untuk wawancara. Disana, sudah menunggu dua orang. Yang satu adalah pewawancara, yang tentu saja orang jepang. Dan yang satunya lagi adalah penerjemah.

Apakah saat wawancara harus menggunakan bahasa jepang? Tidak harus.

Namun, kalau sudah bisa berbahasa jepang, walaupun sedikit, tentu akan menjadi nilai tersediri.

Dari cerita teman tahun kemarin, saat jikoshoukai, atau pengenalan diri sendiri, rata-rata menggunakan bahasa jepang. Walaupun setelah itu menggunakan bahasa Indonesia lagi.

Sikap dan posisi duduk juga sangat diperhatikan oleh pewawancara. Kalau posisi duduknya tidak tegap, boleh jadi dianggap tidak serius mengikuti wawancara.

Lalu, saat wawancara yang ditanyakan apa saja?

Tentu yang utama adalah perkenalan. Kan ada pepatahnya bukan? Kalau tidak kenal maka tidak sayang, eh.

Setelah perkenalan, maka seputar diri kita akan ditanyakan. Bisa tentang keluarga, asal sekolah darimana? pernah bekerja dimana? berapa lama? pernah belajar bahasa jepang atau belum? kalau sudah, kapan? apakah saat SMA? Atau mengambil kursus tertentu?

Lalu, pertanyaan seputar program ini. Tahu program ini darimana? Diberitahu kawan, kah? Mencari sendiri di internet kah? Motivasinya apa? Bagi calon perawat, kan sudah bekerja, apakah tidak sayang meninggalkan pekerjaan sebelumnya, apalagi yang sudah menjadi karyawan tetap? Sudah punya senpai (senior) di jepang apa belum? Kalau sudah, namanya siapa, tempat kerjanya dimana?

Lalu pertanyaan seputar Jepang. Pandangan tentang jepang itu bagaimana? Apa yang diketahui tentang jepang? Budaya daerah dan budaya kerjanya seperti apa? Mengapa ingin ke Jepang? Tidak ke negara yang lain aja? Cara membina hubungan dengan sesama karyawan nanti bagaimana? Apalagi beda bahasa dan budaya, dan lainnya.

Boleh jadi, kawan-kawan yang lain ada pertanyaan yang berbeda.

Setelah wawancara dirasa cukup, maka kita akan diambil video dengan waktu sekitar 30 detik, untuk melakukan presentasi singkat tentang rangkuman wawancara barusan.

Minimal, isinya adalah perkenalan singkat dan motivasi untuk bekerja di jepang. Kalau masih ada waktu, silahkan ditambahkan yang lain, asal masih ada hubungannya.

Kan gak lucu juga habis perkenalan tiba-tiba cerita kucingnya yang hilang. Yang ada kita dianggap main-main lagi ntar.

Nah, itu bagian wawancaranya.

Sekarang kita kembali ke ballroom. Menurut pengalaman, setelah menerima penjelasan tentang profil rumah sakit, maka akan ada sesi tanya jawab.

Oleh sebab itu, sebisa mungkin, kita harus melakukan persiapan sebelum bertanding! Dalam artian, mulai saat ini, silahkan browsing tentang daerah-daerah yang ada di jepang.

Semisal, Hokkaido, maka kita akan bisa bicara tentang “Yuki matsuri” atau perayaan salju di musim dingin, atau bisa bicara tentang keindahan kota pelabuhan di Hakodate, walaupun belum pernah kesana.

Kalau Osaka, ada Osaka Castle yang terkenal dan daerah wisata belanja di Namba. Kalau Tokyo, ada apa aja. Dan daerah lainnya.

Jadi, kita bisa menghindari pertanyaan monoton, yang sebenarnya tidak begitu disukai oleh mereka.

Contohnya adalah soal gaji, fasilitas, dan lamanya hari cuti. Lalu, apakah itu tidak boleh ditanyakan? Boleh-boleh saja, silahkan. Namun, saat penjelasan, mereka akan dengan gamblang menjelaskan hal tersebut.

Semisal saat itu belum dijelaskan, maka setelah wawancara selesai, kita akan diberikan sebuah alamat web, dengan kata sandi tertentu, untuk bisa membuka profil rumah sakit dan informasi detail lainnya.

Soal gaji, lama hari cuti, fasilitas, pembimbing saat di tempat kerja, dan lainnya akan tertera dengan jelas. Jadi, sebisa mungkin pertanyaan semacam itu kalau bisa dihindari.

Setelah semua peserta melakukan wawancara. Maka selanjutnya adalah Japanese quiz. Isi dari tes tersebut adalah menulis huruf hiragana dan katakana secara lengkap, menebak kosakata sederhana dalam bahasa jepang, dilanjutkan dengan perubahan kata dalam bahasa jepang.

Kalau dalam bahasa inggris ada istilah present, continuous, dan past. Dalam bahasa jepang pun ada.

Semisal, kata kerja “pergi”, yang artinya akan atau kebiasaan adalah “ikimasu”. Bentuk kamusnya adalah “iku”, bentuk negatifnya adalah “ikimasen”, bentuk lampaunya adalah “ikimasita”, dan bentuk lampaunya adalah “ikimasendesita”. Hehe, rumit ya.

bagi yang ingin belajar, ada buku yang bagus yang biasa dipakai oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa jepang. Namanya adalah buku “Minna no Nihongo”. Ada dua jilid, setiap jilid ada dua buku, yang berbahasa jepang dan terjemahannya.

Sebenarnya, buku ini akan diberikan gratis kepada peserta yang lolos dan melakukan pelatihan di Jakarta. Namun, kalau ingin beli sendiri dan belajar duluan, tidak ada salahnya.

Lalu, kalau saya berminat membeli, dimana yang jual? Saya cek di toko jual beli online banyak yang jual, salah satunya adalah Tokopedia (saya bukan promosi ini loh! Sebagai contoh saja, hehe).

Dan yang terakhir adalah aptitude test.

Ini tes apaan ya? ternyata sama dengan psikotes! Hanya saja jumlah soalnya lebih sedikit dibanding dengan tes sebelumnya.

Jadi, tidak usah terlalu khawatir. Simpaisinaide kudasai!

Dan sehari setelah tes adalah Medical check up, jadi jangan terlalu diforsir tenaganya ya.

Setelah semua tes-tes tersebut, maka yang paling akhir adalah proses “matching”. Intinya, kita diharuskan memilih 10 rumah sakit atau panti lansia yang sesuai dengan pilihan kita.

Soal Informasi tentang hal ini, bakal lebih detail akan diterangkan setelah proses wawancara selesai.

Jadi, sekarang, mending fokus satu-satu dulu. Persiapan mendaftar, belajar sedikit demi sedikit tentang bahasa Jepang, review ilmu keperawatan dan berlatih soal-soal psikotes.

Memang, seleksi program ini cukup melelahkan, bagai marathon. Dan tulisan kali ini juga sepertinya cukup “marathon” juga, hehe.

Baiklah, semoga sedikit bisa memberikan gambaran bagi sesama.

Yang jelas, tetap semangat, tetap sehat dan maknyus *pinjem kata-katanya pak bondan……

Sapporo, 7 Maret 2018. 07.50 waktu setempat. Sapporo masih setia dengan suhu minusnya..

*Uki

**Repost catatan 2 thn lalu.