Merayakan Kegagalan

#Yuki 41

Malam ini kembali saya menginjakkan kaki di Tokyo.

Bukan untuk datang pelatihan seperti biasanya. Tapi karena besok harus “sowan” ke KBRI untuk mengurus perpanjangan paspor.

Berbagai dokumen sudah saya siapkan, semoga tidak ada masalah.

Serta yang membuat saya senang adalah, malam ini saya berkesempatan silaturahim sekalian “nginep” di tempat teman seangkatan EPA 9, Said Amin.

Datang, lalu buka pintu dan ruangan kamarnya ampun, rapi banget! Jadi keinget kamar sendiri yang masih lebih parah dibanding kapal pecah, haha.

Setidaknya, saya bisa “kengaku” atau studi banding, saat nanti balik ke Sapporo bisa nata kamar jadi lebih baik (semoga, hehe).

Silaturahim, yang jelas kita sudah tahu banyak manfaatnya, juga memberikan waktu bagi saya untuk berbagi dengan Said tentang makna kegagalan (kok kayaknya serius amat yak).

Begini, sebagaimana keberhasilan, kegagalan pun sebaiknya diberikan porsi untuk dirayakan, bahkan harus porsi lebih malahan.

Seperti contoh, ada senpai EPA angkatan awal-awal yang sudah hampir 10 tahun merajut asa sembari bermanfaat bagi orang banyak, dari segi keilmuan maupun berkah materi yang dipunya.

Sebagai manusia biasa, rasa pengen bisa menjadi seperti itu dan kadang iri itu bisa timbul kapan saja.

Sialnya, terkadang rasa pengen itu hanya sebatas pengen saat sudah jadi tanpa melihat bagaimana jatuh bangun serta kegagalan demi kegagalan yang pernah dialami.

Bagaimana mereka bertahan dan kembali bangkit dari rasa kecewa, frustasi, stres, dan segala hal yang gak enak lah pokoknya.

Misal lagi yang masih hangat di beberapa hari ini. Ketika melihat hasil pengumuman tes bahasa Jepang atau JLPT yang belum sesuai harapan (atau bilang aja gak lulus), lalu tiba-tiba melihat teman atau orang lain memajang hasil ujiannya dengan nilai sempurna!

Lah, tiba-tiba kok ada yang terasa panas, haha. Apa lupa matikan kompor ya. Atau kabel setrika belum dicabut? Eh,

Saya bukan sedang membicarakan orang lain, karena itu yang terjadi pada saya.

Ujian bulan desember tahun kemarin, saya gagal. Ujian tahun ini, belum berhasil.

Awal menerima pengumuman, walaupun sudah saya tegar-tegarkan, ternyata bubar saat melihat ada teman yang lulus dengan nilai yang jauh dari pencapaian saya.

Mungkin ada yang bakal menegur saya, “Loh, sampean mbok ya jangan iri sama orang lain. Tiap orang kan beda-beda…”

Nah! Itulah jawabannya.

Kesalahan saya adalah membandingkan diri saya dengan hasil orang lain, tanpa melihat bagaimana kerasnya perjuangan orang itu dalam menggapai hasil yang telah dicapainya.

Saya sadar, saya keliru. Makanya buru-buru saya merubah pandangan saya terhadap hal ini.

Memang, secara batas minimal kelulusan saya belum sampai. Tapi dibanding ujian sebelumnya, alhamdulillah ada peningkatan (walaupun memang belum lulus sih, haha).

Saya jadi ingat “wejangan” seorang guru yang kembali menghentakkan kesadaran saya.

Bahwa, keberhasilan adalah kumpulan dari sikap bangkit dari keterpurukan.

Gagal itu jelas sakit. Tapi bisa bangkit, atau bahasa anak sekarang, move on, adalah proses untuk melampaui rasa gagal itu sendiri.

Seseorang yang tangguh, tidak hanya dilihat dari sebuah kesuksesannya saja, tapi bagaimana ketika dia bisa bangkit dari kegagalannya yang berkali-kali.

Mungkin, saat ini kita tidak akan menikmati lampu yang terang jika Om Alfa Edison langsung ngambek saat gagal dalam percobaan pertamanya.

Nyatanya, dia selalu merayakan kegagalannya dengan mencari jalan lain, mencoba cara baru, hingga ribuan kali sampai lampu bisa berpijar dan menerangi kehidupan sampai lintas generasi.

Ucapannya yang terkenal saat itu kira-kira begini, “Aku bukan gagal dalam ribuan percobaanku, tapi aku telah menemukan ribuan cara agar bisa membuat lampu itu bisa menyala..”

Ah, om Alfa, semoga bisa aku meneladani sikapmu walau hanya sedikit..

Selain om Alfa, ada juga pesan moral dari Dory, si ikan berwarna biru yang mempunyai sindrom sering lupa di kisah “Finding Dory”,

“Ketika banyak kegagalan dalam kehidupanmu, tahu gak apa yang harus kamu lakukan?”

“Terus berenang…” Jawab Dory dengan sikap riangnya…

Tokyo, 24 Agustus 2017. 24.00 waktu setempat..

*Lah mas, itu ada fotonya bang Said kok gak ada ceritanya? (Eh, iya ya, malah aku keasikan cerita hal lain. Ya, setidaknya jadi tahu lah kali ini bisa silaturahim sam nginep di tempatnya Said, hehe)

 

Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s