​Pemandangan Baru di Luar Sana

20 Mei

#Yuki 27
Kereta cepat membawa saya pergi ke bandara lagi pagi ini. 

Dari stasiun Sapporo menuju bandara Shin Chitose untuk kemudian berlanjut penerbangan ke bandara Haneda di Tokyo.

Belum, memang belum untuk kembali ke tanah air untuk berbagi ilmu atau sekedar libur cuti. Tapi, sesuai dengan jadwal dari program yang membawaku ke sini, tiap 2 bulan sekali ada pelatihan di jantung kota negeri Sakura ini.

Kereta melaju cepat, melewati rindangnya hehijauan yang beberapa bulan lalu masih semerbak putih menghampar.

“Musim semi itu mitos belaka!” Ujar salah satu teman yang bertandang ke Sapporo awal bulan april lalu.

Bagaimana tidak, ketika di daerah lain sudah hijau dan bunga bermekaran dimana-mana, Sapporo masih setia dengan salju dan suhu minusnya.

Namun, sebulan kemudian, musim pun benar-benar berganti. 

Hujan yang turun serta cahaya mentari yang mengelus lembut daratan paling utara Jepang ini telah mencairkan salju yang tebal.

Sesuai berita, ketebalan salju tahun ini sama dengan 50 tahun lalu. Benar-benar tebal!

Sepanjang jalan, memang tidak terlihat pohon cemara, sesuai dengan lagu kesukaan kita itu. Namun, hijaunya dedaunan dan merah muda mekarnya sakura masih terlihat sejauh mata memandang.

Sungguh, begitu agung alam milik Sang Maha ini, hanya saja, kadang rasa syukur itu masih terlalu kerdil untuk bisa kita haturkan.

Hutan, sawah, sungai, dan berbagai pemandangan baru di negeri-negeri terjauh ini telah membuat saya semakin memahami indahnya perbedaan.

Rumah dan bangunan yang terlihat mungil di kejauhan, seakan membawa saya ke dalam imajinasi dalam buku dongeng.

Rapi dan tertatanya orang maupun kendaraan yang antri, terlihat tenang tanpa adanya kasak-kusuk maupun bunyi klakson.

Semua saling memahami dan menjaga toleransi. Segala budaya baik yang diajarkan oleh agama saya, terlihat mengakar kuat dan sejuk di dalam tatanan masyarakat di negeri yang pernah merasakan pil pahit berupa bom atom berpuluh tahun lalu ini.

Mereka bersatu, mengesampingkan perbedaan, merendahkan ego, menyatukan persamaan dari berbagai warna untuk bangkit. 

Dan itu, bukan sekedar cerita dongeng atau isapan jempol belaka.

Jarak yang jauh mereka kalahkan dengan kereta peluru. Laut yang membentang antar pulau mereka satukan dengan terowongan bawah laut. Serta, diatas laut pun mereka bangun sebuah bandara yang menghubungkan antar negeri-negeri terjauh juga.

Bukan, saya bukan sedang membangga-banggakan negeri yang sedang saya tinggali ini. Tapi sekedar ingin mengajak membuka wawasan kita agar tidak selalu terkungkung dengan dunia sebatas layar sentuh 5 inchi.

Toh, saya lebih bangga dengan kampung halaman yang sederhana, serta berbagai pemahaman kuat akan toleransi dengan sesama.

Hanya sayangnya, akhir-akhir ini ada beberapa orang yang ingin memberangus indahnya perbedaan itu. 

Saya berharap, suatu saat mereka akan memahami rahmat serta berbagai perbedaan itu.

Masih ingat betul dalam pikiran saya, tentang nasehat serta ajaran para orang tua,

“Kita ini diciptakan dengan berbagai perbedaan, baik suku, bangsa, budaya, bahasa serta banyak lainnya. Kenalilah, pelajarilah, suatu saat engkau akan paham betapa kita itu begitu kecil diantara berbagai ciptaan serta keagunganNya..”

“Sebelum engkau bisa merasakan serta memahami indahnya perbedaan dari berbagai pemandangan di luar sana. Jangan pernah terbersit pikiran untuk berhenti belajar..”

“Karena jika seseorang baru tahu sedikit dan berhenti belajar, maka hanya rasa jumawa dan egonya saja yang akan sangat nampak..”

Kereta saya sudah sampai bandara, saatnya check in dan mulai kembali merenungkan nasehat serta petuah yang telah mengkristal dalam kata mutiara para orang berilmu itu.

Sapporo, 20 Mei 2017.

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: