​Menyambut Ramadhan di Sapporo

20 Mei

#Yuki 26
“Jadi puasanya mulai kapan dan berapa lama?” Tanya teman kerja saya.

“Mulai minggu depan, selama sebulan?” Jawab saya.

“Hah? Uki san kuat? Selama sebulan tidak makan?” Lanjut teman saya, dengan ekspresi ingin tahunya.

Akhirnya diskusi pun berlanjut di sela-sela makan siang beberapa waktu yang lalu.

Saya jelaskan secara sederhana, waktunya mulai terbit matahari (karena saya belum bisa menjelaskan kosakata “shubuh”) sampe tenggelamnya matahari.

Mereka ber “oh…” pelan. Tanda paham.

“Jadi kalau malam boleh makan dan minum kan?” Lanjut mereka.

“Iya, boleh” Jawab saya.

Ada dua hal yang mereka pikiran, sekaligus khawatirkan.

Pertama, terkait pekerjaan, apakah tidak apa-apa? Selanjutnya, perbedaan lama waktu di Sapporo dan Indonesia yang memang benar-benar berbeda.

Terkait pekerjaan, insyaallah tidak apa-apa, jawab saya. Kalau soal lamanya waktu, tentu akan menjadi pengalaman baru tentunya.

Karena tahun kemarin, saat di Osaka, waktu shubuh tercepat adalah pukul 3 dini hari. Dan minggu depan, saya akan disambut waktu shubuh pada pukul 01.52 dini hari.

Dan jam 3 pagi? Matahari sudah terbit, di sekitar asrama tempat tinggal saya, bakalan cerah dengan cahaya pagi!

Saat ini saja, seperti tadi pagi, pukul 4 pagi sudah ada cahaya matahari masuk jendela kamar saya.

Tentu, lamanya waktu akan menjadi hal baru, sekaligus menjadi tantangan tersendiri selama ada di Sapporo ini.

Namun, dibalik semua itu, Ramadhan adalah momentum yang bisa kita gunakan untuk mengevaluasi diri.

Evaluasi terhadap sebelas bulan yang telaj terlewati.

Terkait dengan hal itu, tak bosan-bosannya saya membaca tulisan Gus Mus yang bertajuk “Membuka pintu langit” di bawah ini.

Mari, kita baca dan insyaallah bagus untuk kita renungkan bersama.

“Membuka Pintu Langit, Momentum Tahunan Untuk Evaluasi Perilaku”

Oleh Gus Mus,

Ada Hadis shahih yang menyebutkan pernyataan Kanjeng Nabi Muhammad SAW bahwa apabila ada datang Ramadhan, pintu langit (dalam riwayat lain : pintu sorga) dibuka, pintu neraka jahannam ditutup, dan setan-setan dirantai. 

Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pernyataan itu adalah seperti yang tersurat. 

Bila Ramadhan datang, langit atau sorga memang dibuka pintu-pintunya; neraka jahannam memang ditutup; dan setan-setan memang dirantai.

Namun, ada juga yang menafsirkan bahwa dibukanya pintu langit atau sorga mempunyai arti diturunkannya rahmat Allah atau dibukanya peluang diterimanya amal-amal baik hamba-Nya melalui pertolongan-Nya.

Yang sering ditanyakan : apabila setan-setan dirantai, mengapa kok kenyataannya pada Ramadhan masih banyak orang yang melakukan perbuatan buruk sebagaimana yang dianjur-bujukkan setan?

Ada yang menjawab, yang dimaksudkan dengan setan-setan yang dirantai ialah setan-setan married, setan-setan yang biasa keluyuran, nguping berita-berita dari langit (untuk dibisikkan ke dukun-dukun tukang ramal).

Pada Ramadhan setan-setan itu tidak bisa lagi naik ke langit karena dirantai.

Adapula yang menjawab, setan-setan itu makhluk yang gigih, meskipun “kecincukan”, tertatih-tatih, karena dirantai; setan-setan tetap berusaha melaksanakan misinya membujuk dan menjerumuskan anak cucu Adam. 

Hanya, anak-cucu Adam lebih ringan menghadapinya dibanding apabila setan-setan itu bebas tanpa hambatan seperti pada bulan-bulan lainnya.

Adalagi yang menjawab, setan-setan itu meskipun dirantai, bahkan tidak bisa kemana-mana, ada saja anak-cucu Adam yang kangen untuk minta advis. Mungkin karena menganggap advis setan-setan itu manjur, terutama bila berkaitan dengan kepentingan duniawi, cepat tembus.

Apa pun tafsir orang terhadap hadis itu, yang jelas pada bulan suci Ramadhan, kita merasakan sendiri kekhususan-nya. Kondisi dan suasananya lain daripada bulan-bulan yang lain. Ada kedamaian, kekhusyukan, keakraban, dan kebersamaan yang istimewa. 

Kondisi dan  suasana yang benar-benar kondusif, terutama bagi kaum muslimin untuk melakukan hal-hal khusus yang tidak sama dengan pada bulan-bulan lain. Sesuatu yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas sebagai hamba Allah.

Tinggal bagaimana kita menyikapi dengan benar rahmat Allah berupa bulan suci ini untuk kepentingan kita sendiri. Ingat, Allah sendiri tidak punya kepentingan. 

Bagaimana kita akan menghayati makna puasa kita? bagaimana kita menyadari “kesendirian” kita dengan Sang Pencipta kita? sejauh mana intensitas dialog kita dengan diri kita sendiri. Dan sebagainya dan seterusnya.

Bulan puasa adalah bulan antara kita dan Allah. Hanya kita dan Allah yang mengetahui kualitas pengisian kita terhadapnya. Hanya kita dan Allah yang mengetahui seberapa besar kesungguhan kita mengabdi kepada-Nya. Dan hanya Dia yang mengetahui seberapa besar ganjaran yang akan dilimpahkan kepada kita.

Puasa merupakan momentum istimewa yang hanya datang setahun sekali, dimana kita bisa mendidik diri kita untuk jujur dan ikhlas, terutama untuk diri kita sendiri. Juga momentum untuk mengadakan evaluasi tahunan tentang perilaku kita selama sebelas bulan yang sudah; baik kaitannya dengan Tuhan kita, maupun yang berkenaan dengan hamba-Nya.

Namun bulan Ramadhan, karena datangnya rutin, juga berpotensi membuat kita terjerembab ke dalam rutinitas sebagaimana hal-hal rutin yang lain. Dia bisa datang dan pergi hanya sebagaimana angin lewat. Inilah kiranya yang perlu kita waspadai.

Jangan sampai mulut kita berucap Ramadhan bulan suci, tetapi selalu terlewatkan oleh kita kesuciannya. Semoga rahmat dan ampunan Allah terlimpah kepada kita. Amin

Sapporo, 18 Mei 2017

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: