Lingkungan Dan Cita-Cita

13 Mei

#Yuki 20

Setiap jumat malam, duduk bersama para mahasiswa dari Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S2 dan S3 di Hokkaido University, memberikan saya bermacam pengetahuan.

Sekaligus sebagai obat rindu dengan kampung halaman, bisa berbicara lepas dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, serta makan bersama dengan “nampan” atau piring besar.

Ahh, selalu suka dengan keadaan seperti ini.

Melihat gelar serta pencapaian mereka dalam meraih gelar master serta doktoral, beberapa ada juga yang post-doc, saya terasa begitu kecil. Begitu jauh. Karena saya masih ada di jenjang Diploma.

Juga, sekaligus memberikan energi positif kepada saya. Insyaallah, ketika mereka bisa, saya juga bisa. 

Jalannya bagaimana? Belum tahu, tapi saya yakin, setiap usaha pasti akan ada jalannya.

Yang selalu saya syukuri adalah begitu energi positif dari lingkungan sekitar itu akan ikut membentuk diri kita menjadi “minimal” dengan lingkungan itu.

Sebagaimana saat saya kecil, yang dilahirkan di lingkungan yang mayoritas adalah guru dan petani.

Maka, secara otomatis, saya menganggap nanti saya juga kalau tidak jadi petani ya jadi guru.

Tapi, ada hal yang saya belum tahu saat itu. Setiap orang berhak memilih cita-citanya. Berhak menentukan masa depannya.

Dan perjalanan saya hingga hari ini, boleh jadi tidak terlepas dari kesempatan saya “keluar” melihat hal-hal yang tidak ada di kampung halaman.

Kadang sebagian dari kita memang ada yang ingin sekolah, kuliah, dan kerja di dekat rumah saja lah. Apakah itu salah?

Tidak juga. Tapi itu pilihan.

Karena setiap orang itu unik dan tentu memiliki keinginan yang berbeda, maka munculah pilihan dan kesempatan.

Apakah ingin berada di kampung halaman terus? Silahkan. Tapi jika ingin berpetualang melihat dunia luar, juga silahkan.

Kita yang lebih tahu kemana hati ini ingin melangkah. Kemana keinginan ini menuntun untuk berpetualang.

Profesi yang kita jalani bukanlah akhir dari cita-cita. Tapi lebih sebagai jalan, sebagai sarana.

Semisal anda ingin pergi ke Sapporo, tidak perlu sampai harus menjadi perawat ataupun pelajar univesitas. Anda bisa menjadi apa saja untuk bisa ke Sapporo.

Bahkan, dalam 3 bulan terakhir ini, saya bertemu orang-orang dari Indonesia dengan berbagai latar profesi yang datang kesini.

Kadang, kita terlalu terbelenggu oleh pikiran kita sendiri. Kalau jadi perawat ya lumrahnya kerja di Puskesmas, lumrahnya ya kerja di RSUD, atau jadi mantri di kampung.

Itu menjadi mindset yang membelenggu kebanyakan dari kita, karena “enggan” dalam melihat dunia luar.

Anda pernah mendengar cerita suksesnya NASA, badan antariksa Amerika, yang berhasil mendaratkan pesawat ulang alik sampai di bulan? Saya kira semua pernah mendengarnya.

Di balik cerita itu, ada efek yang lebih besar dari sekedar sampai ke bulan saja.

Tapi kejadian itu telah memberikan energi inspirasi, motivasi, dan membuat jutaan rakyatnya untuk bermimpi “yang paling gila” sekalipun.

Karena sejatinya, mimpi itu untuk diperjuangkan. Cita-cita itu untuk dicapai. Dan kesamaan dari kedua hal itu adalah, kita telah menetapkan tujuan kita!

Kita bisa lihat fenomena yang ada sekarang.

Begitu banyak orang yang tidak mau “sekedar” melihat dunia luar. Yang banyak mereka tahu adalah sebatas pintu kamar dan layar hape.

Jadinya, sampai ke kampung tetangga saja tidak pernah tapi begitu jumawa di media sosial seakan tahu semuanya.

Kalau dikritik, langsung copy-paste tulisan orang (yang sumbernya juga tidak jelas, asal terlihat keren saja), yang panjang tulisannya melebihi panjang tol cipali.

Akhirnya, pikiran tidak semakin terbuka yang ada ingin perang saja di media sosial.

Kalau anda ingin berkeliling dunia, cobalah sesekali lihat grup backpacker di facebook, maka akan terlihat betapa banyaknya orang kita yang telah sampai ke berbagai negara dan lintas benua.

Kalau ingin hidup tenang, maka jauhilah akun-akun yang hobinya saling hujat dan provokasi.

Dan kalau ingin mencapai apa yang anda cita-citakan, termasuk saya juga, maka sering-seringlah berkumpul atau mencari perkumpulan yang mendekatkan kita dengan tujuan tersebut.

Belum, saya memang masih belum sepadan dengan para calon master serta doktor di berbagai bidang yang ada di perkumpulan setiap jumat malam di masjid Sapporo,

Tapi, insyaallah, saya yakin ada jalan menuju kesana!

Sapporo, 6 april 2017. 22.00 waktu setempat. Sapporo sudah hangat, gak perlu pakai jaket tebal lagi…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: