​Terlatih Karena Berlatih

13 Mei

#Yuki 24

Namanya Pak Abdal, saya memanggilnya Abdal san, sesuai dengan panggilan lumrah di Jepang.

Dia keturunan asli India, namun, beberapa pelanggannya yang belum pernah bertemu dan hanya memesan makanan lewat telpon, rata-rata mengira sedang berbicara dengan orang asli Jepang.

Tidak perlu saya menanyakan alasannya. Ketika saya berbicara dengannya, saat memesan makan “chicken curry”, rasanya seperti berbicara dengan orang Jepang saja.

Aksen, pengucapan, kecepatan, penggunaan kosakata dan tata bahasa, menunjukan betapa telah terasah kemampuan tersebut selama bertahun-tahun.

“Abdal san, sudah berapa lama di Jepang?” Akhirnya saya kepo juga, sembari menyantap kare ayam buatannya.

“Berapa ya,” Sambil mikir. “Tahun ini genap 18 tahun,” Kata pemilik warung makanan halal yang bernama Dawat Cage ini.

Saya terhenyak dalam hati, luar biasa!

Bahasa, budaya, dan apapun yang berbeda dari budaya asalnya, seakan benar-benar telah menyatu dengannya.

Selain fasih berbahasa Jepang, selayaknya para perantau dari India, bahasa inggrisnya mantap dan cakap!

Awal bertemu dengannya, saya disapa menggunakan bahasa inggris. Saya paham maksudnya, tapi entah mengapa, terasa begitu sulit saat menjawabnya menggunakan bahasa inggris juga.

“Pakai bahasa Jepang tidak apakah?” Tanya saja. “Ya, gak apa-apa,” Jawabnya ramah sambil tersenyum.

Hampir setiap jumat kami bertemu di Masjid Sapporo, dan baru dua kali saya makan di Dawat Cafe. Namun, ngobrol dan mendengarkan kisahnya merupakan kesenangan sendiri buat saya.

Darinya, saya belajar hal mendasar tentang belajar, khususnya bahasa.

Panjang cerita yang saya dengarkan, kembali mengingatkan saya akan salah satu tulisan fenomenal yang ada di Bukit Diponegoro, Semarang.

“Terlatih Karena Berlatih”

Hal itu betul-betul melekat erat dengan keseharian Abdal san.

Lamanya waktu selama di Jepang, akan menjadi tidak berguna kalau memang tidak digunakan untuk latihan. Apalagi jika (maaf) alergi dengan kosakata, tata bahasa, serta apapun yang baru.

Bahasa Jepang itu sangat luas jangkauannya. banyaknya kanji yang ada, bahkan membuat orang Jepang sendiri kadang merasa kesulitan.

Lah, bagi kita yang bukan orang Jepang, nambah susah dong? Betul, memang susah, tapi bisa dipelajari.

Selayaknya bahasa Indonesia, walaupun kita asli orang Indonesia, coba deh, sesekali baca cerpen yang ada di harian Kompas. Kebacanya sih kebaca, tapi inti ceritanya belum tentu semua orang tahu.

Juga, soal keterbukaan. Belajar bahasa berarti siap menerima setiap masukan dan menyadari betapa banyaknya hal yang belum kita tahu.

Hanya saja, ketika kita memutuskan untuk berhenti belajar dan menutup diri dari hal baru, apalagi sampai “jumawa” dan beranggapan sudah tahu banyak, tamatlah sudah.

Bertemu dengan orang baru, mendengarkan kisahnya, bak membuka sebuah buku yang belum terlihat batas akhirnya. Semakin dibaca, seakan rangkaian kata itu terus mengukirkan dirinya dalam lembaran yang tak berkesudahan.

Begitulah sejatinya ilmu dan pengetahuan. Semakin dipelajari, semakin tak terlihat ujungnya, dan semakin membuat kita menjadi kecil.

Seperti salah satu quote yang saya suka,

“Puncak dari pengetahuan adalah ketidak tahuan”.

Terima kasih, Abdal san, insyaallah semoga bisa mampir lagi. Masih banyak hal yang saya ingin dengarkan dari kisahmu..

Sapporo, 4 Mei 2017. 22.10 waktu setempat. Hari ini, Sapporo benar-benar hangat!

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: