​Perjalanan Panjang

13 Mei

#Yuki 25

“Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain. Dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Keraguan. 

Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja” (“Pulang”, karya Tere liye)

Sengaja saya mengutip salah satu quote yang ada di novel Tere Liye sebagai pembuka tulisan kali ini.

Mengapa? Sebagai seorang pembelajar, apapun jenis pelajarannya, boleh jadi akan mengalami dua hal.

Membandingkan dan dibandingkan.

Pertama, ketika “kebetulan” berada di kelas atau kumpulan orang-orang yang “level”nya kita anggap lebih tinggi dari kita, secara tidak sadar (atau sadar sebetulnya), kita akan langsung membandingkan diri kita dengan yang lain.

“Kok dia cepet ‘nyantol’ sama pelajarannya ya,” misal, atau “Berapakalipun mempelajarinya, kok kayaknya sama aja, gak masuk-masuk. Sedangkan dia, orang itu, yang duduk di sebelah sana…” Fokus kita malah menjadi kacau balau.

Itu memang manusiawi. Saya pun pernah mengalaminya. Hanya saja, sebelum terlalu dalam “baper” dengan hal itu, akhirnya saya paham akan sesuatu.

Kita diciptakan oleh Yang Maha Menciptakan dengan keunikan masing-masing. 

Memang benar, ada yang diberi anugerah sejak lahir dengan bakat tertentu, sementara yang lain, butuh perjuangan yang tidak mudah ketika memahami sesuatu.

Apakah kita akan menyalahkan Sang Maha, ketika kita terkesan “lambat” dibanding yang lain? Padahal, ketika dibandingkan dengan segala hal yang telah diberi saja, setitik rasa syukur saja boleh jadi sering terlupa.

Kita tidak bisa mengukur ukuran sepatu kita dengan kaki milik orang lain. Ukuran kaki kita ya jelas harus diukur sesuai dengan ukuran yang ada.

Oleh karenanya, lambat atau cepat itu kadang relatif. Dan tentu saja, baiknya kita tanyakan dulu pada diri sendiri.

Orang yang menurut kita “wah” tersebut, ternyata juga tidak hanya mengandalkan bakat saja. 

Setelah tahu, ternyata malam dan siangnya lebih banyak dihabiskan dengan tebalnya tumpukan buku, rumitnya pemahaman yang harus diurai, berlembar-lembar kalimat penting yang dicatat, serta pengulangan yang boleh jadi sangat menjenuhkan.

Sedangkan sebagian dari kita? Hanya ingin langsung ingin berada di puncak tanpa pernah mau melangkah susah di anak tangga.

Sebuah lelucon pernah diutarakan teman saya, “Se instan-instannya mie instan, tetap harus melewati proses yang rumit hingga menjadi sebuah produk bernama mie instan,”

Yang kedua, Dibandingkan.

Hal ini berkaitan dengan penilaian orang terhadap diri kita. Bicara tentang hasilnya, itu tergantung diri kita tentunya.

Ada yang ketika dibandingkan dengan orang lain, langsung keras reaksinya. Juga, ada yang tenang, tidak menanggapi, dan menjadikannya pembelajaran.

Para orang tua pernah bilang bahwa sebaik-baiknya pekerjaan yang kita lakukan, akan selalu diremehkan oleh mereka yang belum paham atau belum tahu.

Diremehkan disini, berarti, bisa juga kadang dibandingkan dengan apapun.

Semisal, panjang perjalanan sebuah proses pembelajaran yang kita lalui, oleh mereka yang belum paham, atau memang tidak mau memahami, akan selalu “dimentahkan”.

Karena apa? Orang-orang yang belum paham, hanya akan menggunakan sebatas pengetahuannya untuk menilai orang lain, serta biasanya akan memancing untuk berdebat kusir. Yang tanpa tujuan, dan hanya ingin menunjukan kebesaran ego nya saja.

Banyak contoh yang tersebar di masyarakat. Sekali anda luangkan waktu untuk memandang sekitar, boleh jadi hal-hal tersebut akan muncul dengan sendirinya.

Belajar, adalah sebuah proses yang melelahkan dan sangat panjang.

Jika ada yang bilang belajar itu menyenangkan, maka itu akan terucap oleh mereka yang telah kenyang dengan pahitnya perjalanan panjang tersebut.

Karena, segala hal yang hebat, luar biasa, dan menakjubkan, itu akan selalu ada hal pahit yang mendahuluinya.

Seperti kata Tere Liye di novelnya yang lain,

“Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justru menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya. 

Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh.”

Sapporo, 11 Mei 2017. 21.30 waktu setempat. Kamis hujan seharian.

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: