​….. Dan Salju Pun Mulai Mencai

13 Mei

#Yuki 22
Seperti terlempar ke masa kuliah yang hampir 7 tahun yang lalu, saat itu, di ruang diskusi,

“Sebenarnya, ada beberapa dari alumni kita yang mencoba bekerja di luar negeri,” Kata Kaprodi saya saat itu.

“Hanya saja, ada yang tidak tahan dengan perubahan cuaca, apalagi di tempat yang bersalju, sehingga dengan berat hati, memutuskan untuk pulang ke Indonesia lagi…” Lanjutnya.

Saat itu saya hanya terdiam saja. Mencerna setiap kalimat yang sekaligus petuah yang berharga di sela-sela padatnya jadwal kuliah.

Apakah saya nanti juga tidak tahan salju? Pikir saya. Apalagi saya berpostur kurus, susah nambah berat badan pula. Jadi nambah kepikiran.

Waktu pun melesat. Hari demi hari berlalu, menyalip bulan dan tahun, hingga sampailah di hari ini.

Melesat dari tahun itu, saya pun sekarang, seperti masih merasakan “rasanya” duduk di ruang diskusi itu. Entah kenapa malam ini teringat isi dari percakapan singkat itu.

Bulan desember kemarin, saat pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Chitose, Hokkaido, hanya kemantapan hati yang selalu saya teguhkan.

Bagaimana tidak? Salju dimana-mana dan menghias seluruh pemandangan sejauh mata memandang.

Indah? Tentu. Apalagi seumur hidup baru kali pertama saya melihatnya. Melihat salju itu memang menyenangkan kalau hanya beberapa hari, seperti pergi liburan misalnya.

Tapi untuk hidup di tanah bersalju, tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi orang berdarah tropis seperti saya.

“Suhu terendah disana berapa?” Tanya teman kerja saya.

“Berapa ya,” Sejenak saya melihat aplikasi cuaca saat musim hujan awal tahun lalu. Dan angka 24 derajat itu ada pada cuaca hujan yang lebat!

Itu sudah termasuk dingin bagi kebanyakan orang tropis. Enak di dalam rumah, anget, apalagi ada mi rebus dobel dengan telor, ditambah potongan cabe. Enak banget dah pokoknya!

Disini? Bulan desember hingga maret kemarin, suhu terus tenang di angka dibawah nol derajat. Tenang, bagaikan orang yang sedang makan mi rebus yang masih hangat-hangatnya.

Suatu ketika, ketika hari lumayan cerah, suhu menunjukan persis nol derajat, ada teman kerja yang tersenyum sambil berkata, “Wahhhh, hari ini lumayan hangat ya…”

Kening saya pun berkerut, dan teman saya pun tersenyum, “Oh iya, di Indonesia selalu panas kok ya,” Celetuknya.

Tapi, apakah itu menyurutkan semangat saya? Alhamdulillah, sama sekali tidak.

Entah, rasanya saya seperti mulai menjalani setapak demi setapak mimpi yang pernah saya ikrarkan bertahun yang lalu,

“Pergi ke tempat baru, belajar bahasa dan budaya baru, menjelajah ke tempat yang belum saya ketahui sebelumnya..”

Saat musim dingin, memang, betul-betul dingin ketika berada di luar ruangan. Bahkan, kalau ada orang yang melihat saya, mungkin hanya kelihatan mata saja. “Tutupan, krekep..” Kalau orang Kudus bilangnya.

Namun, ketika di dalam ruangan, suhu berubah menjadi hangat karena ada “danbo” atau penghangat yang ada di rumah-rumah di daerah dingin seperti tempat saya sekarang.

Salju pun mulai mencair, kuncup-kuncup sakura pun mulai nampak. Walaupun memang lebih telat di banding daerah lainnya.

Musim semi di Sapporo, tentu akan menjadi hal yang berbeda dan tentu, akan mengisi potongan demi potongan mozaik dalam perjalanan yang entah akan kemana lagi kaki ini melangkah selanjutnya.

Sapporo, 20 April 2017, Salju pun sempurna mencair! Selamat datang musim semi…

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: