Mall AEON dan Seputar Daftar Harga….

30 Mar

#Yuki 17

“Mas, harga-harga barang buat makan disana berapaan?” Ada yang bertanya kepada saya beberapa waktu yang lalu.

Setelah saya jawab, komentar standar pun biasanya saya terima.

Oh, mahal ya disana. Emm, kalau di Indonesia bisa dapat 5 barang yang sama itu ya. Kira-kira seperti itu.

Nah, berhubung ibu saya juga kadang menanyakan hal yang sama. Yasudah, sepertinya, baiknya saya tulis saja.

Sekalian “mungkin” bisa sedikit dijadikan informasi tentang harga-harga disini.

Seperti biasa, kadang kalau sepulang kerja, saya mampir di Mall yang berada di belakang rumah sakit tempat kerja saya. Jalan sekitar 2 menit, sudah sampai.

Bedanya, tadi malam, saya belanja sekaligus mengambil gambar di sepanjang jalan yang saya lewati untuk dokumentasi.

AEON, atau kalau kata orang Jepang, ION (A dan E nya entah kenapa dibaca I), adalah salah satu mall yang banyak tersebar di seantero Jepang. Mungkin mirip “Matahari” atau “Ramayana” kalau di Indonesia.

AEON yang ada di dekat tempat kerja saya ada 3 lantai dan basement juga. Tidak semua saya akan tulis, karena jelas, terlalu panjang jadinya.

Saya akan ceritakan secara garis besar saja, dan khususnya, tempat-tempat yang biasa saya datangi (karena harganya agak mendingan).

Lantai 1, layaknya di mall-mall pada umumnya. Adalah supermarket yang isinya berbagai barang kebutuhan sehari-hari.

Mulai dari bahan makanan, sampai kebutuhan cuci dan mandi ada semua.

Bedanya, hampir semuanya memakai huruf kanji (karena memang di Jepang) dan tentu “harganya” kalau di rupiahkan, akan terasa mahal semua.

Nah, karena saya hampir tiap hari masak sendiri, maka lama-lama jadi hafal harga-harga barang yang ada disini.

Oh ya, kalau pas belanja, daftar harga di Jepang itu selalu ada 2. Atas dan bawah. Maksudnya, harga sebelum dan setelah kena pajak sebesar 8 %.

Sebagai contoh, harga telur. Sama-sama isi 10 butir, ada yang harganya 178 yen, ada yang 300 yen, dan ada juga yang lain. (catatan, 1 yen kira-kira 115 rupiah sekarang, kalau ingin gampang kita buat 1 yen adalah 100 rupiah).

Jadi, sama-sama sekotak telur isi 10 butir, ada yang harganya sekitar 18 ribu, ada yang 30 ribu.

Lalu biasanya belanja yang mana? Kalau saya, jelaslah, yang lebih murah saja, hehe.

Lalu ada susu murni 1 liter. Ada yang harganya 181 yen, 223 yen dan 300 yen. Entah bedanya apa. Soalnya saya selalu beli dengan harga yang paling minimal.

Selanjutnya adalah daging ayam, sapi, domba dan macam-macam. Yang perlu diwaspadai adalah, bagi yang tidak makan babi seperti saya. Karena hampir semuanya memakai huruf kanji, maka hafal kanji babi adalah utama.

Babi atau dalam bahasa Jepangnya adalah “buta” atau kalau daging babi menjadi “butaniku”.

Berikut adalah huruf kanjinya, (豚). Atau kalau daging babi, atau “butaniku”, berikut adalah kanjinya, (豚肉).

Kemudian, adalah kanji “sake” atau mengandung alkohol. Berikut adalah kanjinya, (酒).

Jadi, saat belanja makanan, yang menjadi kebiasaan kami disini adalah langsung melihat daftar komposisi yang ada di label bungkus makanan.

Kadang ada teman saya yang bilang, kalau di Indonesia, mungkin akan “susah” menemukan daging babi. Nah, kalau di Jepang, hampir semua makanan biasanya ada daging babinya.

Jadi, kita yang harus lebih waspada saat memilih makanan yang akan dibeli. Oleh karena itulah, yang menjadi salah satu alasan saya untuk masak sendiri setiap hari, selain lebih bisa sedikit “ngirit” juga.

Di lantai 1 juga ada food court yang menyediakan banyak makanan. McD, KFC, Takoyaki, Okonomiyaki, Udon, Pizza, dan masih banyak lagi.

Salah satu favorit saya, Kitsune Udon. Mie besar dengan kuah dan ada tahu gorengnya.

Oke, lanjut ke lantai 2. Ada banyak hal yang dijual. Saya akan ajak ke toko serba 100 yen saja, atau lebih dikenal dengan nama “hyakuen shoppu”.

Walaupun katanya serba 100 yen, nyatanya harganya jadi 108 yen. Karena ditambah pajak 8%.

Namun, beragamnya barang yang ada di toko serba 100 yen ini, kadang juga nemu barang yang cocok dan murah.

Ada banyak jenis toko seperti ini. Ada “Seria”, seperti yang di mall ini. Ada juga “Daiso”, “Realize”, “Lawson 100”, dan masih banyak lagi.

Saya beli spatula, sendok, gelas, tempat makan (bento), hanger, keset, ember, headset, buku, tempat minum, dan masih banyak lagi, di tempat ini.

Kadang juga ada barang yang unik yang dijual di tempat seperti ini, yang sering diserbu para pelancong.

Dan sekarang kita ke lantai 3. Ada berbagai tempat makan dan tempat potong rambut (bahasa Jepangnya, Tokoya).

Nah, karena jarang ada tempat makan yang menyediakan menu berbahasa inggris, serta juga agar menarik pelanggan agar mau mampir, maka pihak toko akan memajang “contoh” makanan di etalasenya.

Jadi, semisal kita ingin makan misalnya, tapi gak ngerti cara baca huruf kanjinya. Tinggal ajak saja pelayannya ke depan toko, dan tunjuk makanan sesuai dengan pilihan kita.

Saya pernah melakukannya, saat menemani beberapa teman dari Indonesia di stasiun Sapporo.

Beneran, gak kebaca itu huruf kanjinya. Akhirnya, pesan makannya sambil nunjuk-nunjuk contoh makanan yang ada di pajangan.

Salah satu tempat yang makananya enak dan harganya lumayan adalah Saizeria. Makanannya rata-rata menu Italia. Yah, cukup lumayan rasa dan harganya dibanding tempat sekitarnya.

Dan yang tak kalah pentingnya bagi saya adalah, tempat cukur. Saat di Osaka dulu, saya gak pernah potong rambut di tempat potong rambut, karena ada teman saya yang ahli cukur.

Sekarang, harus rela mengeluarkan uang untuk cukur. Ada yang lumayan murah (menurut ukuran di Jepang), yaitu 1080 yen sekali cukur. Atau sekitar 110 ribu, hemm.

Makanya, kalau dulu biasanya sebulan sekali potong rambut, sekarang bisa satu setengah bulan atau mendekati 2 bulan baru potong rambut.

Kira-kira seperti itu. Memang, kalau semua dilihat dari kacamata “rupiah”, bakal jadi mahal semua.

Namun, biaya hidup disini, tentu sudah disesuaikan dengan rata-rata penghasilan para penduduknya.

Asalkan dibelanjakan seusai kebutuhan hidup, insyaallah bakal cukup, dan bisa nabung. Namun, kalau menuruti “gaya hidup”? Penghasilan berapapun boleh jadi akan kurang terus.

Baiklah, pesawat yang akan saya tumpangi ke Tokyo sebentar lagi datang. Sampai jumpa di tulisan Selanjutnya…

Sapporo, 16 maret 2017. 16.00 waktu setempat.

Nulisnya masih sore disini, sambil nunggu pesawat di Bandara Chitose, karena nanti malam sepertinya gak sempat.

*Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: