Ke Luar Negeri Dan Kesempatan Berkembang

30 Mar

17362834_10206951707390187_6123452794523168193_n#Yuki 18

Saya jadi teringat kejadian hampir dua tahun yang lalu. Ketika itu, saya sedang “sowan” ke kampus, sebagaimana kebiasaan saya ketika liburan di rumah.

Saat saya bercerita kepada salah satu dosen tentang keinginan saya mendaftar program perawat ke Jepang (karena saat itu memang masih proses pendaftaran, bahkan hasil seleksi pemberkasan pun belum diumumkan), saya langsung ditodong dengan pertanyaan,

“Memang di Jepang gajinya berapa, Mas?” Kira-kira seperti itu.

Karena saat itu informasi saya hanya sebatas data dan “katanya” saja, alhasil saya jawab seadanya juga.

Kalau masih belum lulus ujian negara, rata-rata 10 sampai 15 juta, itupun tergantung UMR masing-masing daerah di Jepang.

Nah, kalau sudah lulus ujian nasional keperawatan di Jepang, bisa 30 juta lebih, itupun sesuai dengan berita di media online.

Sebagai dosen dan “orang tua” murid di kampus, saya sangat memahami maksud pertanyaan itu.

Tentu sebagai bahan pertimbangan dan juga realistis. Dalam arti, jika bekerja di tempat yang jauh, ya “gajinya” juga harus sepadan.

Namun, ada kata-kata yang “mohon maaf”, saya kurang sependapat, ketika dibilang,

“Kalau hanya segitu, di Indonesia juga bisa loh, Mas”, atau “Nagapain jauh-jauh kerja kalau hanya dapat segitu”, Ucap beberapa orang, bukan hanya beliau saja.

Terkadang, pandangan “orang tua” yang sudah mapan, punya jabatan, dan pekerjaan tetap yang selalu menghasilkan, menganggap anaknya yang ingin pergi merantau ke luar negeri adalah sesuatu yang tidak sepadan.

Atau dalam arti lain, mereka mungkin ingin bilang, “Yaudah, mending kerja disini saja, deket rumah. Kontrakan gak usah bayar, udah gitu tiap hari bisa ibu masakin, jadi hemat kan….”

Apakah itu salah? Saya tidak berhak mengatakan itu salah atau benar.

Namun, satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, orang tua yang terlalu “mengungkung” anaknya, boleh jadi secara tidak tidak sadar telah merenggut masa depannya.

Saya garis bawahi kata-kata “terlalu” ini loh ya. Nanti saya diprotes sama para orang tua yang membaca tulisan saya ini, apalagi nantinya ibu saya juga baca, jadi harus hati-hati dalam menulis. Biar tidak salah paham.

Apapun, yang ditambahi kata “terlalu” itu memang terkadang menjadi tidak baik. Memperhatikan itu baik, tapi kalau terlalu memperhatikan itu menjadi hal yang akan sangat berbeda.

Kembali ke masalah gaji tadi dan sekarang soal pendapat kebanyakan masyarakat.

Terkadang, entah mengapa kita gemar menerima informasi yang sepotong-sepotong. Tidak lengkap.

Seperti fenomena sosial media yang tren saat ini. Share (bagikan) dulu baru baca. Iya kalau yang di “share” itu informasi benar, kalau salah? Itu karena kita kadang enggan membacanya terlebih dahulu.

Dan kebanyakan masyarakat kita beranggapan, kalau ada orang yang bekerja di luar negeri itu pasti uangnya banyak.

Hal ini perlu diluruskan tentunya. Kalau gaji yang diterima di luar negeri dikurskan ke rupiah, tentu akan membuat siapa saja tergiur. Itu pasti.

Hanya saja, kita belum menguranginya dengan biaya pengeluaran yang ada serta sistem pajak di negeri yang bersangkutan.

Gampangnya, kalau gaji UMR di Jepang kurang lebih 4 kalinya Jakarta, maka itu juga berlaku untuk harga barang, biaya kos-kosan, dan sebagainya.

Sebagai perbandingan sederhana,

Kalau di Indonesia kita bisa dengan mudah membeli indomie seharga 2 ribu rupiah, maka kalau disini, bisa jadi 10 ribu.

Kalau sambel ABC terasi yang sachetan itu di Indonesia harganya 2 ribuan, maka disini menjadi 12 ribu.

Biaya kos di Jakarta mungkin sudah 800 ribu ke atas. Disini, bisa 4 jutaan ke atas setiap bulannya. Belum termasuk bayar air, listrik, gas, dan lain-lain.

Biaya tempat tinggal saya sendiri disini, kalau tidak ada subsidi dari tempat kerja, bisa jadi mahal sekali (untuk ukuran saya yang pernah kos di semarang dengan biaya 200ribu/bulan).

Biayanya kurang lebih 2,5 juta perbulan. Asrama saya isinya ada ruang ruang tamu, kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruang untuk mesin cuci.

Desain asrama saya bisa untuk sendiri dan keluarga (karena depan kamar saya ada teman kerja yang sudah berkeluarga).

Lalu biaya asuransi. Disini, membayar asuransi itu wajib. Karena langsung dipotong dari gaji setiap bulannya.

Untuk saya sekarang, biaya asuransi kesehatan sekitar 800 ribu rupiah per bulan kalau di kurs kan. Dan asuransi jaminan hari tua, sekitar 1,2 juta setiap bulannya (kalau ini semacam tabungan, nanti bisa diambil ketika pensiun atau memutuskan untuk pulang ke indonesia dan gak balik lagi).

Jadi, ketika dulu saya membayangkan kakak kelas saya yang sekarang bekerja di Amerika dengan gaji (yang kalau di kurskan) 40 jutaan perbulan, saya jadi ngeri-ngeri sedap dengan biaya hidup dan potongan berbagai pajaknya.

Kalau sudah membaca hal tersebut, mungkin langsung ada yang berfikiran mahal dan untungnya dimana. Toh kalaupun gajinya gede, potongannya juga gede.

Itu benar. Saya kira itu berlaku dimanapun. Kalau biaya hidup di kota Kudus dibandingkan dengan Jakarta. Jauh mas bro…

Jauuuuuuuuuuh. Saya banyakin huruf u nya, hehe.

Secara di Kudus, saya masih bisa menikmati sepiring lentog tanjung yang mewah dengan harga 3.500 rupiah, hehe.

Nah, untungnya dimana?

Kesempatan berkembang!

Kalau hanya di Indonesia saja, tentu saya tidak akan pernah bisa merasakan sensasi belajar bahasa dan budaya Jepang langsung di negerinya.

Ditambah, sesuai bidang keilmuan saya, saya juga berkesempatan mempelajari ilmu keperawatan di negara ini.

Mungkin hal itu juga bisa dilalui dengan kuliah disini. Iya, tapi dengan biaya sendiri? Ampun-ampunan mahalnya.

Mau lewat jalur beasiswa? Bisa, tapi harus sudah mempunyai kemampuan bahasa Jepang minimal setara N2!

Bagi yang belajar bahasa Jepang, saya yakin paham betapa susahnya mencapai level tersebut.

Nah, boleh jadi, program antar pemerintah Indonesia-Jepang yang difasilitasi oleh Bnp2tki ini adalah salah satu kesempatan untuk masuk, belajar, dan bekerja di Jepang.

Jadi, gaji itu penting, karena kita memang harus realistis.

Tapi, kesempatan untuk berkembang yang tentunya harus dilalui dengan berbagai hal yang “tidak menyenangkan” saat belajar di Jepang, menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi saya pribadi dan teman-teman saya yang tersebar di seantero Jepang sekarang.

Karena keadaan setiap rumah sakit itu berbeda. Ada yang menerima kandidat dua orang, tiga orang, bahkan lebih. Ada juga yang sudah punya senpai atau senior.

Ada juga yang seperti saya. Sudah sendiri, tidak ada senpai, hehe.

Semua ada plus dan minusnya. Kalau ada senpai, ketika ada hal yang bingung dan ingin ditanyakan, bisa ke senpai.

Kalau seperti saya? Mau tidak mau ya harus bertanya ke rekan kerja yang semuanya asli orang Jepang, haha.

Kalau pas gak mudeng ya saya harus nanya berulang-ulang, dan mereka pun dengan baik hati mengulangi penjelasannnya.

Jadi, mau ke luar negeri atau tidak. Itu kesempatan sekaligus pilihan.

Mau berkembang atau hanya puas disitu-situ saja.

Sebagai penutup, saya ada kutipan menarik dari Prof. Rhenald Kasali tentang Orang tua dan masa depan anak sebagai berikut,

“…Orang tua yang rela melepas anaknya belajar dari alam. Ya, belajar itu berarti menghadapi realitas, bertemu dengan aneka kesulitan, mengambil keputusan, dan berhitung soal hidup, bukan matematika imajiner.

Belajar itu bukan cuma memindahkan isi buku ke kertas, melainkan menguji kebenaran dan menghadapi aneka ketidakpastian.

Orang tua yang berani melepas anak-anaknya dan tidak mengganggu proses alam mengajak anak-anaknya bermain adalah orang tua yang hebat.

Memercayai kehebatan anak merupakan awal kehebatan itu sendiri.

Sapporo, 23 Maret 2017. 20.15 Waktu setempat.

*Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: