“Mas, Kulit Kacangnya Jangan Ikut Dimakan..”

10 Mar

#Yuki 16

Kira-kira Itu yang saya katakan kepada teman saya yang orang Jepang, ketika makan kacang kulit rasa, beberapa waktu yang lalu.

Kacang itu saya dapatkan dari “nitip” kenalan di grup facebook yang datang ke Sapporo sebulan kemarin.

Entah, tiba-tiba saya ingin makan kacang kulit rasa, dan teman yang mau datang ke Sapporo bertanya, “Mas Uki mau nitip apa dari Indonesia?”

“Bisa minta tolong dibawain kacang kulit rasa bawang?” Jawab saya.

“Ada lagi, Mas?” Tanya lagi.

Duhh, saya beneran gak enak nitip sama temen yang niatnya jalan-jalan.

Tapi karena “setengah” dipaksa, dengan alasan, “Saya juga pernah merantau ke Luar negeri, Mas. Jadi tahu rasanya kalau tiba-tiba ingin makan makanan dari tanah air,” Lanjutnya.

Akhirnya, saya nitip yang ringan-ringan saja. Seperti sambal dan beberapa bumbu masak khas Indonesia yang “langka” disini. Kalaupun ada, harganya bisa 5 kali lipat dari harga asalnya. Maklum, karena bumbunya naik pesawat.

Kembali ke teman saya tadi.

“Uki san, ini kacang apa namanya? Belum penah saya makan kacang seenak ini. Apalagi bisa dimakan sama kulitnya..”

Beneran saya tepok jidat. Duhh, apa memang orang Jepang kalau makan kacang kulit sama kulitnya ya. Betul-betul penasaran saya dibuatnya. Sekaligus khawatir kalau kenapa-napa.

Saya tanya balik ke dia. Memang kalau makan kacang sama kulitnya ya? Dia pun jawab, enggak.

Tetapi khusus untuk yang “satu” ini, kacang kulit rasa, beneran itu kacang dimakan “krauk, krauk” sekulit-kulitnya.

Padahal saya sudah bilang kalau biasanya, kulitnya gak ikut dimakan. Takut kenapa-kenapa.

Tapi ya, dia bilang, “Kono rakkasei wa totemo oishii desuyo. Meccha ooshii!” (Kacang ini beneran enak banget!) Sambil terdengar suara “krauk, krauk” disebelah saya.

Entahlah, kulit kacang kan juga organik kan ya? Nyatanya temen saya sehat-sehat saja hingga hari ini.
Yah, mungkin memang berbeda cara kami menikmati kacang kulit tersebut. Dan hingga hari inipun, ada beberapa perbedaan yang saya amati selama hampir 3 bulan berada disini.

Pertama tentang bahasa.

Ada beberapa kosakata yang menarik buat saya, karena dari arti aslinya, berubah sesuai dengan dialek hokkaido.

Kosakata “nageru” yang arti aslinya adalah melempar, seperti melempar bola pada kasti, berubah menjadi membuang yang lekat dengan kata sampah.

Biasanya kalau meminta tolong untuk membuangkan sampah, maka akan terucap, “Gomi wo sutete kudasai..”.

Disini menjadi beda, “Gomi wo nagete kudasai..” Kalau diartikan apa adanya, tolong lemparkan sampahnya! Nah, loh!

Selanjutnya adalah kosakata “kowai” yang artinya takut.

Pertama kali saya disini, saya dibuat bingung sama pasien yang ketika siang-siang, habis rehabilitasi, tiba-tiba bilang, “Karada kowakatta..” Kalau diartikan apa adanya, “Badan saya ketakutan”..

Lah, ini kan siang-siang. Takut apa memangnya. Saya (karena belum tahu) pun nanya balik. “Takut ada apa?”. Si pasien tetep kekeuh bilang, “kowakatta, kowakatta”

Tahu saya menjadi tambah bingung. Teman kerja saya (sambil senyum-senyum) bilang, “Kowakatta, disini itu artinya sama dengan ‘sindokatta’, yaitu capek, atau lelah..”

Yahhh, jadi begitu rupanya. Saya pikir takut kenapa coba.

Lalu ada juga “gokkun” yang artinya sama dengan “nomikomu” atau menelan.

Kemudian, kalau mengakhiri pertanyaan, jarang yang pake “ka”, misal “ogenki desuka” yang artinya bagaimana keadaannya. Tapi berubah, “genki no kai?”. “Ka” berubah jadi “kai” yang dengan ucapan orang setempat begitu menarik di telinga saya.

Lalu ada juga perbedaan budaya “sikat gigi” yang mungkin agak aneh, boleh jadi malah risih kalau dilakukan di Indonesia.

Setiap habis makan siang di ruang istirahat, teman-teman saya kemudian mengambil sikat gigi beserta pasta gigi, dan seketika itu langsung sikat gigi di tempat makan.

Alamakkk, padahal disebelahnya masih asik menyantap sate ayam (yakitori).

Awal-awal disini, terus terang saya merasa “enek”. Bisa-bisanya, yang satu gosok-gosok gigi, sebelahnya “srutup-srutup” nyendok sup.

Tapi lama-lama, akhirnya saya juga terbiasa dan melebur dengan budaya seperti itu.

Mengamati hal yang berbeda, menjadi hal yang mengasikkan buat saya. Karena bagaimanapun, perbedaan itu indah.

Dan ketika ada orang-orang yang enggan menerima perbedaan, dijamin tensinya bakal naik terus, hehe. Apalagi yang ingin memberangus perbedaan.

Sama seperti sekarang, ketika di daerah-daerah lain di Jepang sudah mulai bermekaran bunga sakura, bunga ume, dan masih banyak lagi. Di Sapporo masih begitu setia dengan salju lembutnya (yang katanya masih sampai akhir maret masih turun salju).

Nah, karena melihat perbedaan itu indah, biar tidak melulu lihat salju, insyaallah minggu depan ada kesempatan pelatihan di Tokyo.

Siapa tahu bisa lihat sakura disana.

Ada yang mau ikut?

 

Image may contain: one or more people and people sitting

(Bersama Sugai san, di Warung Ramen Halal di daerah Susukino, Sapporo. Sayangnya, saat itu gak bawa kacang kulit rasa, eh)

Sapporo, 9 Maret 2017. 20.30 waktu setempat. Seharian turun salju euy..

*Uki

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: