Uniknya Ujian di Jepang : Serba Angkat Tangan

3 Mar

#Yuki 14

Image may contain: sky and outdoorAkhirnya, ujian nasional keperawatan di Jepang telah selesai!!!

Minna, otsukaresamadeshita!

Telah berlalu, tapi bukan “hanya” berlalu begitu saja tentunya. Evaluasi serta pengalaman dari ujian di kesempatan pertama ini sangat penting untuk ujian berikutnya.

Eits..,berarti?

Iya, saya belum bisa lolos tahun ini. Kemampuan saya masih jauhhhhhhh dari standar nilai kelulusan.

Lah, kok tau darimana? Bukannya pengumumannya masih bulan depan?

Begini, setelah ujian selesai, soal-soalnya boleh dibawa pulang. Nah, kita bisa langsung buka internet buat “nyocokin” jawaban kita tadi itu bener berapa.

Kemarin, saya diberitahu oleh teman, sebuah alamat website “Tokyo academy”, sebuah lembaga kursus di Jepang, yang setiap tahun mengeluarkan jawaban setelah ujian selesai.

Taraaaa, setelah saya “cocokan” terjadilah goresan tinta merah dimana-mana, haha.

Alhasil, nilai minimal kelulusan pun belum bisa saya penuhi, tentu sesuai jawaban di website tersebut.

Untuk hasil pastinya memang masih harus menunggu bulan depan.

Ya, marilah kita “merayakan kegagalan” sekali lagi. Karena sekali lagi, “gagal” itu bukanlah aib. Tapi lebih sebagai proses untuk evaluasi dan menyusun rencana lebih baik lagi.

Udah, cerita tentang saya belum lulus udahan. Saya mau cerita kesan-kesan terhadap ujian kemarin. Ada beberapa hal yang boleh jadi menarik kita bahas.

Pertama, soal waktu dan persiapan ujian.

Soal waktu, Bah! Lama banget! Dari jam 08.20 pagi sampai 17.50 sore!

Tapi saat ujian berlangsung, seakan putaran jamnya bergerak dua kali lebih cepat! Apa baterai jamnya baru ya? Ah, ngaco jadinya, haha.

Teknisnya, 08.20 itu peserta sudah kumpul di ruang ujian. Ada sesi penjelasan dan persiapan ujian. Ujian dimulai pukul 09.00 sampai 12.30 untuk sesi pagi.

Begitupun saat siangnya, 13.35 sudah harus kumpul juga. Ujiannya dimulai pukul 14.20 hingga 17.50 waktu setempat.

Kemarin, saya berada seruangan dengan 5 orang Filipina. Karena sama-sama dari program EPA juga.

Dari mereka berlima, 2 orang sudah 2 tahun di Hokkaido, alias kali ini adalah ujian terakhir. 3 orang baru 1 tahun di Hokkaido dan kali ini adalah kesempatan kedua.

Lalu ada saya, yang baru 2 bulan di Hokkaido, dan ini merupakan kesempatan pertama saya dalam ujian nasional.

Sebelum ujian dimulai, wajah kami “dicocokan” dengan foto di dokumen milik pengawas ujian.

Jadi, identitas dan wajah kami dipastikan dulu, bener apa gaknya. Setelah itu, baru soal ujian dibagikan.

Soal ujiannya ada 2 jenis. Jenis pertama adalah yang sama persis dengan yang akan dikerjakan orang Jepang. Kanji semua, tanpa ada huruf bantu bacanya.

Yang kedua, adalah yang khusus bagi orang asing, ada huruf bantu bacanya.

Lah, enak dong ada bantuan huruf bacanya? Iya, sih, kebacanya kebaca, tapi banyak yang belum tahu artinya, haha.

No automatic alt text available.

Setelah itu, HP harus dikeluarkan, dimatikan daya listriknya, dan dimasukkan ke dalam amplop khusus yang disediakan panitia.

Setelah dimasukkan ke dalam amplop, ditutup, lalu diletakkan dibawah meja di ujung kiri. Biar gak terinjak.

Catatan, saat mematikan, pengawas ujian akan mengecek sekali lagi. Sudah beneran mati apa pura-pura.

Kalau pas ujian berlangsung, dan HP berdering, atau bahkan hanya getar saja. Sudah, langsung beresin tas dan sayonaraaaa, dipersilahkan pulang dan dianggap tidak mengikuti ujian.

Jam tangan juga harus dilepas. Karena diperiksa juga. Jika jam tangan ada fungsi kalkulatornya, maka selama ujian akan disita.

Lalu yang boleh diletakkan di atas meja apa saja?

Di atas meja cuma ada lembar soal dan jawaban, pensil, penghapus dan kartu ujian saja. Jam tangan yang dilepaskan tadi, ditaruh di atas meja, di pojok sebelah kiri.

Kemudian, saat ujian tidak diperbolehkan minum, apalagi makan, lah emangnya piknik?

Dan yang “menarik” bagi saya adalah peraturan “angkat tangan” sebelum bertanya dan minta ijin.

Ini berlaku saat ketika ujian berlangsung. Ketika “kebelet” dan ingin ke toilet, maka angkat tangan dulu, minta ijin, lalu akan ditemani salah satu pengawas ujian hingga ke depan toilet.

Jadi seakan pergi ke toilet serasa punya “bodyguard” orang Jepang. Setelah menunaikan “kewajiban” di toilet, maka akan diantar lagi ke tempat ujian.

Saya kemarin ke toilet 2 kali, saat ujian pagi sekali dan siangnya juga sekali, hehe.

Oh ya, pengawasnya ada 3 orang. 1 di depan, 2 orang di belakang dan setiap beberapa menit sekali muter-muter ruangan.

Lalu, ketika ada pensil atau penghapus yang jatuh, tidak boleh diambil sendiri, karena akan diambilkan.

Jadi, ketika ada yang jatuh, harus angkat tangan, bilang kalo pensil jatuh, atau penghapus jatuh, atau lembar soal jatuh (hah??! lembar soal jatuh?), pokoknya ketika ada yang jatuh deh.

Tapi jangan coba-coba menjatuhkan diri sendiri dan angkat tangan lalu minta ditolongin, haha, itu mah lebay namanya.

Malah jadi adegan film drama nantinya..

Ujian kemarin memang meninggalkan banyak kesan. Khusus bagi saya, Saking lama waktu nya, entah sudah berapa kali merem-melek, itupun soalnya gak selesai-selesai.

Juga, kata orang Jepangnya sendiri, termasuk wakil kepala keperawatan saya tadi sore, bahwa ujian tahun ini lumayan susah!

Lah, orang Jepangnya aja kesusahan.

Iya, memang susah sih, apalagi persiapan saya juga masih terlalu sedikit. Baiklah, evaluasi, buat rencana baru, dan tentukan target!

Tahun depan harus lulus! Bismillah!

Sapporo, 23 febuari 2017. Suhu 0 derajat. Saat ini sedang berlangsung olimpiade musim dingin se-Asia di Sapporo.

*Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: