Seleksi Perawat ke Jepang : Bagai Marathon!

3 Mar

#Yuki 15

Bulan febuari telah resmi berganti menjadi maret.

Dan, bulan kemarin juga sekaligus menjadi kabar yang di tunggu-tunggu bagi teman-teman yang ingin mencoba mendaftar program perawat ke Jepang.

Sebelum lanjut baca, saya sarankan tarik napas dalam dan rileks, karena tulisan kali ini bakal cukup panjang! (Saya serius, ternyata panjang euy…)

Saya ingin sharing sekaligus (semoga bisa) menjawab beberapa pertanyaan seputar seleksi perawat ke Jepang.

Here we go! korekara, ganbatte ikimashou!

Setelah saya rangkum beberapa pertanyaan yang masuk inbox ataupun di kolom komentar, kira-kira seperti ini,

“Mas, pemberkasannya kok luar biasa ya..terus ujian keperawatan sama psikotes itu gimana? wawancaranya ditanyain apa aja ya? Japanese quiz sama aptitude test itu ngapain aja?”

Yah, barangkali memang bukan hanya saya saja yang ditanya. Boleh jadi, teman-teman saya yang sekarang sudah di Jepang juga merasakan demikian.

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita flashback dua tahun yang lalu. Lorong waktu mana lorong waktu?

Bulan maret 2015, saat itu boleh jadi saya juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh teman-teman yang akan mendaftar di program ini.

Senang, karena secara resmi telah diumumkan oleh Bnp2tki. Cemas bercampur khawatir, lumrah ada, karena resiko gagal memang selalu ada.

Tapi menyerah sebelum mencoba? Itu tidak buat saya.

Pertama adalah pemberkasan. Banyaaaaaaak banget dan memang harus teliti.

Saya sampe berulang-ulang kroscek apa yang harus dipersiapkan dengan apa yang diperlukan, sesuai yang tertera di website bnp2tki.

Beberapa teman-teman ada yang ikut lembaga pelatihan sambil mempersiapkan diri, namun ada juga yang “solo” alias mencoba mengurus semuanya sendiri.

Setelah tahap pertama, yaitu pemberkasan usai, yang biasanya sampe akhir mei, maka kita akan dibuat menunggu sampe juni.

Nah, bulan juni akan keluar pengumuman selanjutnya. Siapa saja yang lolos pemberkasan, akan lanjut ke tahap selanjutnya. Yaitu tes keperawatan dan psikotes.

Tes keperawatan itu bagaimana?

Kalau yang “kangoshi”, mirip soal Ukom alias ujian kompetensi keperawatan. 180 soal, selama 180 menit serta menggunakan lembar jawab komputer.

Untuk teman-teman yang ikut “kaigofukushishi”, soal-soalnya hampir 80% tentang gerontik. Itu kata teman saya. Soal waktunya sama.

Nah, psikotes. Mungkin setiap tahun berubah polanya. Saya dulu ada 7 jenis soal, ada kraeplin, adkudag, hitung-hitungan, dan sebagainya.

Kalau yang tahun kemarin, saya kurang tahu. Yang jelas, lebih baik mempersiapkan diri. Bisa beli soal-soal psikotes di toko buku, atau cari di internet, juga banyak.

Yang jelas, tes menggambar pohon dan manusia sepertinya jarang keluar.

Oh ya, biaya tesnya masing-masing 250 ribu. Semoga tahun ini tidak berubah.

Setelah tes, nunggu lagi sampai akhir juli. Barulah, setelah pengumuman keluar lagi, jadi tahu siapa yang lanjut ke tahap wawancara dan Japanese quiz beserta aptitude test.

Ngomong-ngomong soal wawancara, bulan agustus 2 tahun lalu merupakan bulan yang mengesankan bagi saya.

Karena saat itulah pertama kalinya mengikuti wawancara dengan pihak asing, yaitu orang jepang.

Sebelumnya, saya juga pernah wawancara, namun dengan HRD sebuah rumah sakit swasta di daerah Jabodetabek.

Hasilnya, setelah wawancara usai, usai pula prosesnya alias saya belum bisa bergabung menjadi tenaga perawat di rumah sakit tersebut.

Kembali ke topik. Saat itu, tempat wawancara dibagi menjadi 3. Di Jakarta ada 2 tempat, dan satu tempat lagi ada di Medan.

Tempat wawancara saya dan teman-teman calon perawat atau Kangoshi, bertempat di Hotel Alila, di daerah Pecenongan, Jakarta.

Lalu, untuk teman-teman calon Careworker atau Perawat lansia, bertempat di hotel Sari Pan Pasific yang terletak di dekat bundaran Hotel Indonesia.

Saat itu, hari rabu, tanggal 19 Agustus, adalah hari yang mendebarkan.

Bagi saya dan teman-teman yang berasal dari luar kota, harus datang minimal satu hari sebelum hari wawancara, dan mencari penginapan sendiri. Beberapa teman juga ada yang menginap di tempat saudaranya di Jakarta.

Proses wawancara dimulai pukul 8 pagi, dan kami diharuskan datang minimal setengah jam sebelumnya untuk melakukan daftar ulang atau registrasi.

Perlengkapan yang dibawa saat itu adalah, memakai baju batik lengan panjang (ini peraturan dari BNP2TKI) dan alat tulis untuk mengerjakan tes.

Saat saya tes, ada pembagian pensil gratis, namun untuk amannya, mending bawa sendri, daripada bingung kalau stoknya habis nanti.

Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan!

Teman-teman yang ikut tes keperawatan, pasti dapat modul singkat tentang tatacara menulis huruf hiragana dan katakana.

Jadi, setelah tes keperawatan, diharapkan bisa “minimal” baca serta menulis huruf hiragana dan katakana dan paham tentang beberapa kosakata bahasa Jepang dasar, seperti memberi salam misalnya.

Lanjut. Setelah registrasi, kami diberi tanda pengenal berupa nama dan nomor peserta. Tanda pengenal tersebut harus dipakai selama proses wawancara sehari tersebut.

Lalu kami memasuki ballroom hotel tersebut dan duduk di tempat yang telah disediakan.
Setelah waktu menunjukan pukul 8 pagi, maka acara pun dibuka.

Saya pun semakin deg-degan. Saat itu, saya duduk di bangku nomor dua dari depan. Dan di sekeliling kami, sudah ada 7 perwakilan dari 21 rumah sakit Jepang yang membutuhkan calon karyawan baru, untuk datang untuk melihat kami, para calon peserta.

Jadi, perwakilan jepang itu ya yang melakukan wawancaranya? Bukan.

Mereka datang untuk memperkenalkan institusi yang mereka wakili. Semacam “stand” produk yang menawarkan barang dagangannya, nah, mereka juga mengenalkan profil rumah sakit masing-masing, di sela-sela proses wawancara.

Saat itu, peserta kangoshi yang hadir ada sekitar 96 orang. Masih ada sekitar 10 orang lagi, namun mereka mengikuti wawancara di Medan di hari yang berbeda.

Setelah acara pembukaan selesai, ada penjelasan singkat tentang proses wawancara di hari tersebut.

Inti dari penjelasan itu adalah, kami harus ngapain aja dan kemana saja. Karena oh karena, tempat wawancaranya ada di ruangan yang berbeda. Bukan di ballroom hotel tersebut.

Penjelasan acara berlangsung kurang lebih selama 1 jam oleh orang Jepang yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Lalu, acara dilanjutkan dengan wawancara.

Saya lupa durasi waktu pastinya, kalau tidak salah, setiap proses wawancara, berlangsung selama 10 sampai 20 menit.

Ada yang lebih cepat, juga ada yang lebih dari estimasi waktu itu. Mungkin keasyikan ngobrol sama pewawancaranya kali, hehe.

Untuk wawancaranya, dibagi pergelombang. Setiap gelombang isinya 10 peserta. Sementara 10 peserta tersebut melakukan wawancara, yang lain menunggu di ballroom hotel sambil berkeliling ke stan-stan yang sudah ada.

Saat itu, perwakilan yang datang berasal dari Hokkaido, Wakayama, Osaka, Tokyo, Aichi, Yamaguchi, dan Nagano.

Di ruangan yang terpisah, sudah menunggu 10 bilik yang digunakan untuk wawancara. Disana, sudah menunggu dua orang. Yang satu adalah pewawancara, yang tentu saja orang jepang. Dan yang satunya lagi adalah penerjemah.

Image may contain: 1 person, smiling, standing and outdoor

Foto di “Shiroikoibito park”, tempat wisata di Hokkaido

Apakah saat wawancara harus menggunakan bahasa jepang? Tidak harus.

Namun, kalau sudah bisa berbahasa jepang, walaupun sedikit, tentu akan menjadi nilai tersediri.

Dari cerita teman tahun kemarin, saat jikoshoukai, atau pengenalan diri sendiri, rata-rata menggunakan bahasa jepang. Walaupun setelah itu menggunakan bahasa Indonesia lagi.

Sikap dan posisi duduk juga sangat diperhatikan oleh pewawancara. Kalau posisi duduknya tidak tegap, boleh jadi dianggap tidak serius mengikuti wawancara.

Lalu, saat wawancara yang ditanyakan apa saja?

Tentu yang utama adalah perkenalan. Kan ada pepatahnya bukan? Kalau tidak kenal maka tidak sayang, eh.

Setelah perkenalan, maka seputar diri kita akan ditanyakan. Bisa tentang keluarga, asal sekolah darimana? pernah bekerja dimana? berapa lama? pernah belajar bahasa jepang atau belum? kalau sudah, kapan? apakah saat SMA? Atau mengambil kursus tertentu?

Lalu, pertanyaan seputar program ini. Tahu program ini darimana? Diberitahu kawan, kah? Mencari sendiri di internet kah? Motivasinya apa? Bagi calon perawat, kan sudah bekerja, apakah tidak sayang meninggalkan pekerjaan sebelumnya, apalagi yang sudah menjadi karyawan tetap? Sudah punya senpai (senior) di jepang apa belum? Kalau sudah, namanya siapa, tempat kerjanya dimana?

Lalu pertanyaan seputar Jepang. Pandangan tentang jepang itu bagaimana? Apa yang diketahui tentang jepang? Budaya daerah dan budaya kerjanya seperti apa? Mengapa ingin ke Jepang? Tidak ke negara yang lain aja? Cara membina hubungan dengan sesama karyawan nanti bagaimana? Apalagi beda bahasa dan budaya, dan lainnya.

Boleh jadi, kawan-kawan yang lain ada pertanyaan yang berbeda.

Setelah wawancara dirasa cukup, maka kita akan diambil video dengan waktu sekitar 30 detik, untuk melakukan presentasi singkat tentang rangkuman wawancara barusan.

Minimal, isinya adalah perkenalan singkat dan motivasi untuk bekerja di jepang. Kalau masih ada waktu, silahkan ditambahkan yang lain, asal masih ada hubungannya.

Kan gak lucu juga habis perkenalan tiba-tiba cerita kucingnya yang hilang. Yang ada kita dianggap main-main lagi ntar.

Nah, itu bagian wawancaranya.

Sekarang kita kembali ke ballroom. Menurut pengalaman, setelah menerima penjelasan tentang profil rumah sakit, maka akan ada sesi tanya jawab.

Oleh sebab itu, sebisa mungkin, kita harus melakukan persiapan sebelum bertanding! Dalam artian, mulai saat ini, silahkan browsing tentang daerah-daerah yang ada di jepang.

Semisal, Hokkaido, maka kita akan bisa bicara tentang “Yuki matsuri” atau perayaan salju di musim dingin, atau bisa bicara tentang keindahan kota pelabuhan di Hakodate, walaupun belum pernah kesana.

Kalau Osaka, ada Osaka Castle yang terkenal dan daerah wisata belanja di Namba. Kalau Tokyo, ada apa aja. Dan daerah lainnya.

Jadi, kita bisa menghindari pertanyaan monoton, yang sebenarnya tidak begitu disukai oleh mereka.

Contohnya adalah soal gaji, fasilitas, dan lamanya hari cuti. Lalu, apakah itu tidak boleh ditanyakan? Boleh-boleh saja, silahkan. Namun, saat penjelasan, mereka akan dengan gamblang menjelaskan hal tersebut.

Semisal saat itu belum dijelaskan, maka setelah wawancara selesai, kita akan diberikan sebuah alamat web, dengan kata sandi tertentu, untuk bisa membuka profil rumah sakit dan informasi detail lainnya.

Soal gaji, lama hari cuti, fasilitas, pembimbing saat di tempat kerja, dan lainnya akan tertera dengan jelas. Jadi, sebisa mungkin pertanyaan semacam itu kalau bisa dihindari.

Setelah semua peserta melakukan wawancara. Maka selanjutnya adalah Japanese quiz. Isi dari tes tersebut adalah menulis huruf hiragana dan katakana secara lengkap, menebak kosakata sederhana dalam bahasa jepang, dilanjutkan dengan perubahan kata dalam bahasa jepang.

Kalau dalam bahasa inggris ada istilah present, continuous, dan past. Dalam bahasa jepang pun ada.

Semisal, kata kerja “pergi”, yang artinya akan atau kebiasaan adalah “ikimasu”. Bentuk kamusnya adalah “iku”, bentuk negatifnya adalah “ikimasen”, bentuk lampaunya adalah “ikimasita”, dan bentuk lampaunya adalah “ikimasendesita”. Hehe, rumit ya.

bagi yang ingin belajar, ada buku yang bagus yang biasa dipakai oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa jepang. Namanya adalah buku “Minna no Nihongo”. Ada dua jilid, setiap jilid ada dua buku, yang berbahasa jepang dan terjemahannya.

Sebenarnya, buku ini akan diberikan gratis kepada peserta yang lolos dan melakukan pelatihan di Jakarta. Namun, kalau ingin beli sendiri dan belajar duluan, tidak ada salahnya.

Lalu, kalau saya berminat membeli, dimana yang jual? Saya cek di toko jual beli online banyak yang jual, salah satunya adalah Tokopedia (saya bukan promosi ini loh! Sebagai contoh saja, hehe).

Dan yang terakhir adalah aptitude test.

Ini tes apaan ya? ternyata sama dengan psikotes! Hanya saja jumlah soalnya lebih sedikit dibanding dengan tes sebelumnya.

Jadi, tidak usah terlalu khawatir. Simpaisinaide kudasai!

Dan sehari setelah tes adalah Medical check up, jadi jangan terlalu diforsir tenaganya ya.

Setelah semua tes-tes tersebut, maka yang paling akhir adalah proses “matching”. Intinya, kita diharuskan memilih 10 rumah sakit atau panti lansia yang sesuai dengan pilihan kita.

Soal Informasi tentang hal ini, bakal lebih detail akan diterangkan setelah proses wawancara selesai.

Jadi, sekarang, mending fokus satu-satu dulu. Persiapan mendaftar, belajar sedikit demi sedikit tentang bahasa Jepang, review ilmu keperawatan dan berlatih soal-soal psikotes.

Memang, seleksi program ini cukup melelahkan, bagai marathon. Dan tulisan kali ini juga sepertinya cukup “marathon” juga, hehe.

Baiklah, semoga sedikit bisa memberikan gambaran bagi sesama.

Yang jelas, tetap semangat, tetap sehat dan maknyus *pinjem kata-katanya pak bondan……

Sapporo, 1 Maret 2017. 21.00 waktu setempat. Sapporo masih setia dengan suhu minusnya..

*Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: