Menjadi Perawat di Jepang, Kenapa Tidak?

19 Jan

#Yuki 8

11 Januari, jika menyebut tentang hal ini, banyak yang langsung teringat salah satu lagunya GIGI yang terkenal itu.

Itu memang benar, saya juga sangat suka dengan lagu itu, tapi “januari” juga menyimpan salah satu kenangan dari perjalanan saya.

Januari, 2 tahun silam, saya mengambil keputusan untuk “resign” dari rumah sakit Awal Bros Batam guna mempersiapkan diri untuk mengikuti serangkaian tes perawat ke Jepang.

Masih terkait tulisan saya di minggu yang lalu. Setelah saya posting, beberapa ada yang bertanya di kolom komentar, juga ada yang bertanya melalui inbox.

Rata-rata pertaannya sama, “Mas, bagaimana caranya bisa menjadi perawat di Jepang?”

Lalu, “Mohon bimbingannya ya, Mas. Saya juga ingin bisa bekerja disana,” Dan beberapa pertanyaan yang lain.

Baiklah, agar semua bisa membaca informasi ini, mari kita bahas bersama-sama.

Pertama, bagaimana cara daftarnya?

Saya langsung balas dengan singkat, silahkan buka website bnp2tki.go.id. Lalu cari bagian program perawat ke Jepang. Setelah terbuka web nya, ada di sebelah kanan bawah.

Disana, ada berbagai informasi tentang program IJEPA, atau pengiriman perawat ke jepang dari beberapa tahun yang lalu.

Kalau bingung tentang “informasinya” yang mana, dibawah saya sudah sertakan “screenshoot” utuh informasi pendaftaran tahun lalu.

Mohon dicatat baik-baik. Kalau perlu diberi garis tebal biar gak salah paham. Itu informasi tahun lalu, tahun 2016, untuk pengiriman ke jepang tahun 2017.

Kedua, “Lalu bisa daftarnya kapan mas?”

Kalau ini saya tidak bisa menjawab dengan pasti, tapi melihat informasi dari beberapa tahun yang lalu, biasanya pengumuman pendaftaran diumumkan di bulan maret.

Jadi, kira-kira 2 bulan lagi akan dibuka pendaftarannya.

Ketiga, “Mas, kok persyaratannya banyaaaaak banget?” Tanya seorang teman.

Ya memang begitu adanya. Secara, ini adalah program antar negara, jadi kualifikasi dan dokumen yang diperlukan juga sesuai keputusan antara pemerintah Indonesia dan Jepang.

Lalu, ini saran pribadi dari saya. Boleh diterima, boleh tidak.

Bagi yang ingin mendaftar sebagai calon perawat di rumah sakit atau “Kangoshi”, alangkah sebaiknya punya pengalaman kerja minimal 2 tahun, baik yang lulusan D3 maupun S1.

Melihat 2 tahun terakhir ini, pemerintah jepang sepertinya mulai merubah kebijakan tentang syarat minimal pengalaman kerja bagi pendaftar Kangoshi.

Keempat, “Sebelum daftar sudah harus bisa bahasa Jepang ya, Mas?”

Memang di persyaratan tidak ada kata “harus”. Tapi ada kolom yang mempersilahkan menyertakan sertifikat kemampuan masing-masing pendaftar.

Entah itu sertifikat kemampuan bahasa Jepang, bahasa inggris, pelatihan BTCLS, atau apapun.

Tapi kalau kita nalar bersama, namanya mau daftar ke Jepang, ya sebaiknya bisa bahasa Jepang walaupun sebatas baca tulis huruf hiragana-katakana serta perkenalan diri.

Apalagi kalau memang sudah niat untuk mempersiapkan diri dengan mengikuti pelatihan atau kursus. Tentu akan menjadi nilai tambah bukan?

Bukankah teman-teman yang ingin bekerja di luar negeri yang mayoritas menggunakan bahasa inggris, rata-rata mempersiapkan diri.

Saya rasa itu juga berlaku hal yang sama.

Kelima, “Mas dulu kursus ya?”

Iya, saya mengikuti pelatihan selama 4 bulan di Bandung sebelum mengikuti tes.

Setelah saya resign dari tempat kerja, sambil menunggu pembukaan pendaftaran, saya ikut kursus di LPK Bahana Inspirasi Muda Bandung.

“Bayar lagi dong mas?” Lanjutnya.

Iya, dimana-mana kalau belajar ya harus bayar. Tapi itu sepadan dengan hasilnya.

Lalu ada yang bilang, “Memang kalau kursus itu dijamin lolos tes, Mas?”

Kalau ada pertanyaan seperti itu, sama saja dengan pertanyaan, “Memang kalau sudah kuliah lantas bisa langsung dapat kerja?”

Hening, orang yang bertanya itupun berhenti mengetik. Hingga hari ini belum bertanya lagi.

Memang, ada suatu lembaga pelatihan di Jakarta yang memberikan semacam “beasiswa” bagi yang ingin bekerja di Jepang.

Namanya “Yayasan Bima”, silahkan dicari sendiri di internet. Kalau lolos tes masuknya, nanti akan dapat mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 10 bulan gratis. Hanya mengeluarkan uang untuk selain biaya pendidikan saja.

Saya tahu karena saya pernah ikut tesnya, tapi saat pengumuman, nama saya tidak tertera.

Dan masih ada banyak lembaga serta kursus di berbagai kota yang bisa menjadi pilihan teman-teman kalau ingin belajar.

Persoalannya hanya satu, mau mempersiapkan diri terlebih dahulu atau tidak.

Kalaupun tidak ingin kursus terlebih dulu, ya tidak apa-apa. Karena tidak bisa dipungkiri, banyak juga teman-teman saya yang bisa lolos tanpa pelatihan sebelumnya.

Keenam, “Kalaupun saya ikut pelatihan, ikut tes, lalu gak lolos gimana, Mas?”

Duh dek, daftar aja belum sudah takut gak lolos.

Logikanya begini deh, kalau daftar, ikut tes, memang benar, ada kemungkinan tidak lolos.

Kalau ingin aman, ya tidak perlu daftar. Yakin, itu aman banget! Bahkan kemungkinan untuk gagal pun tidak ada. Iya kan?

Namanya kegagalan, saya yakin semua orang juga tidak menginginkannya. Jujur, saya pun juga.

Tapi satu hal yang saya pelajari dan saya “gigit” kuat prinsip ini. Gagal itu bukanlah suatu aib. Gagal itu ada untuk menguji seberapa tangguh kita bisa bangkit lagi.

Kegagalan adalah salah satu jalan terbaik untuk mengetahui seberapa tangguh kualitas seseorang tersebut.

Sebelum saya daftar program ke Jepang, sudah 3 kali saya gagal ikut tes ke luar negeri sebelumnya.

Sakit, iya, kecewa itu pasti.

Tapi bangkit dari kegagalan itu memberikan banyak hal yang tidak didapat oleh mereka yang hanya punya segudang “cita-cita” dan rancangan “angan” yang indah, tapi tidak pernah mau mencoba.

Layaknya “Sang Pemimpi” yang enggan bangun dari tidurnya.

Cita-citanya sungguh luar biasa tapi tidak pernah mau meninggalkan zona nyaman sebelumnya.

Mumpung masih 2 bulan dari pembukaan pendaftaran. Silahkan mempersiapkan diri sebaik mungkin bagi yang berminat.

Pengurusan dokumen itu tidak terlihat sederhana jika kita lihat rentetan daftarnya.

Minimal buat paspor dulu lah, siapa tahu sebelum daftar minimal bisa melancong ke Malaysia atau Singapura dulu.

Teman-teman mau melangkah, mau bergerak, keputusan itu ada dalam diri kalian.

Kalaupun saya selalu bilang, “Sampai bertemu di Jepang”, tapi teman-teman masih takut untuk sekedar mendaftar,

Lalu, kapan kita ketemunya? hehe

Sapporo, 11 Januari 2017. 20.30 waktu setempat. Hari ini suhunya ekstrim, -12 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: