“Tilik Bayi” ke Rumah Mbak Mey, Alumni Poltekkes Semarang Yang Lulus Ujian Perawat di Jepang

2 Jan

#Bunka 23

“Jadi, cuti hamil sama melahirkan berapa lama, Mbak?” salah satu obrolan saya dengan Mbak Mey, beberapa waktu yang lalu saat mengunjungi rumahnya.

“Saya ambil 2 tahun saja. Sebenarnya diberi batas sampai 3 tahun, namun khawatir lupa sama pekerjaan kalau kelamaan liburnya, hehe” Jawabnya sambil tertawa ringan.

Yap, hari minggu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi rumah mbak mey. Yang sebetulnya, saya juga baru tahu kalau punya senior se-almamater yang ada di Jepang.

Nama lengkapnya Meyrani Maya Iriana. Lulusan Poltekkes Semarang Prodi Keperawatan Semarang tahun 2006. Dua tahun sebelum saya mendaftar di program studi yang sama.

Ketika tahu saya akan berangkat ke Jepang, saya di beritahu oleh salah satu dosen bahwa ada lulusan Poltekkes Semarang yang sudah ada di Jepang.

Itu hampir setahun yang lalu. Setelah tahu, beberapa kali saya bertanya beberapa hal, kemudian berhenti.

Barulah pada tanggal 29 Agustus kemarin, saat ada perayaan kebudayaan Indonesia di Sky Bulding Osaka, selintas saya melewati orang yang kayak pernah ketemu dimana gitu. Yaudah, saya coba sapa saja. Toh, kalau salah juga tinggal minta maaf, salah orang, hehe.

“Mbak Mey ya?” tanya saja agak ragu.

“Eh, siapa ya? Temannya Mas Hadi ya?” dia menjawab sekaligus bertanya, apakah saya itu teman suaminya apa bukan.

“Saya Uki, yang pernah ngirim pesan lewat facebook ke sampean. Dari Poltekkes Semarang juga,” Jawab saya.

“Ooh, Dari Poltekkes Semarang juga toh?” jawabnya yang kemudian mengawali percakapan “ngalor-ngidul” khas orang Jawa.

Kemudian saya dikenalkan ke suaminya yang berasal dari Jawa timur, Mas Hadi namanya.

Saat itu, mbak mey sudah hamil memasuki masa akhir, sebentar lagi dedek bayinya akan keluar.

“Oh, jadi setelah pelatihan di Osaka bakal ke Hokkaido? Mampir dulu ke rumah ya sebelum pindah,” ucapnya sebelum saya pamit duluan karena pulang bareng teman-teman saat itu.

Bulan September dan Oktober pun berjalan dan saya belum bisa kesana.

Beberapa hari sebelum bulan Oktober berakhir, saya melihat postingan di facebook, foto mbak Mey yang sudah menggendong anaknya.

Kemudian saya segera menghubunginya untuk memberikan kabar ingin silaturahim kesana, sekaligus “tilik bayi”, kata orang Jawa.

“Tilik bayi”, entah apa kata yang pas dalam bahasa Indonesia. Apa “menjenguk bayi” ya? Pokoknya begitulah.

Kalau dengar istilah ini, saya kok jadi senyum-senyum sendiri. Padahal dulu ketika di Indonesia, jarang sekali saya datang ke rumah teman saya yang punya anak. Karena saat itu memang saya bekerja di Batam, yang jauh dari Kudus, asal saya.

Paling kalau ada teman yang punya anak, dan fotonya di posting di facebook. Saya hanya bisa ikut memberikan ucapan selamat dan mendoakan anak dan keluarganya.

Nah, ini sekalinya “tilik bayi” kok ya di Jepang, hehe.

Rumahnya ada di Perfektur Nara. Sebuah tempat yang terkenal dengan “shika” atau rusa. Namun, di sekitar rumah mbak mey gak ada rusanya.

Dari tempat pelatihan saya, perlu waktu sekitar 1 jam perjalanan menggunakan “chikatetsu” atau kereta bawah tanah dilanjutkan dengan kereta biasa. Stasiun terdekat dari rumahnya adalah stasiun Sekiya.

Saat turun dari kereta, suhunya cukup dingin untuk ukuran saya yang terbiasa di tempat panas. Saya lihat aplikasi cuaca di smathphone, ternyata suhunya 12 derajat celcius. Pantes dingin. Padahal saat itu saya sampai disana sekitar pukul 1 siang.

Setelah itu kami dijemput oleh Mas Hadi, karena kami salah membaca arah yang diberikan. Untung nyasarnya tidak terlalu jauh.

Setelah sampai, kami dipersilahkan masuk ke rumahnya dan kemudian mulai ngobrol.

Anak pertamanya mbak mey, Alhamdulillah, lahir dengan selamat di rumah sakit tempatnya bekerja. Laki-laki, namanya Akira Ditya, kalau tidak salah. Jadi ada nama Jepang dan Indonesianya.

Setelah lulus tahun 2006 lalu, dia bekerja di RSCM selama 2 tahun. Setelah itu, sebenarnya keinginannya ingin mencoba bekerja di Amerika, karena ada senior kami juga yang bekerja disana. Namun, belum ada kesempatan saat itu.

Setelah tahu ada program G to G ke Jepang, yakni program pengiriman perawat ke Jepang, dia ikut. Dan mulailah perjalanan panjang dari tes hingga pelatihan bahasa di UPI Bandung, tidak seperti saya yang tempat pelatihan selama di Indonesia berada di Jakarta.

Dia masuk angkatan ke 2 program IJ-EPA ini. Yang boleh dibilang program ini masih dalam masa awal-awalnya. Berbeda dengan kami di angkatan 9 yang mendapat kesempatan belajar bahasa Jepang selama 1 tahun sebelum masuk tempat kerja.

EPA angkatan 2 hanya memperoleh kesempatan belajar selama 6 bulan saja.

Sambil mulai bekerja sebagai asisten perawat (kangojoshu) di Rumah sakit pendidikan universitas di Nara, dia juga belajar dengan tekun.

Salah satu support yang diterima dari rumah sakit untuk menghadapi ujian nasional keperawatan adalah dia dikursuskan di Tokyo Academy, sebuah lembaga kursus khusus untuk menghadapi ujian nasional keperawatan.

Susah memang iya, tapi nyatanya dia berhasil melewati tahap itu. Lulus ujian keperawatan yang notabene menggunakan huruf kanji semua!

Dan sampai sekarang masih bekerja di rumah sakit yang sama. Juga sudah mendapat ijin sebagai perawat yang kerjanya sama seperti orang Jepang dengan profesi yang sama. Ditambah lagi, sudah mendapat ijin tinggal permanen di Jepang!

Kalau kita lihat salah satu masalah kependudukan yang ada di Jepang adalah, rendahnya angka kelahiran dan tingginya angka harapan hidup. Kalau dalam bahasa jepangnya disebut “Shousikoureika” 少子高齢化.

Jadi, tren masyarakat Jepang saat ini adalah, jarang yang ingin punya anak. Dan usia harapan hidup para lansianya adalah yang tertinggi di dunia!

Untuk laki-laki adalah 81 tahun dan perempuan adalah 86 tahun. Jadi, kalau menemukan kakek-kakek yang berusia diatas 100 tahun adalah hal yang wajar disini.

Nah, karena itu, jika ada bayi lahir, baik itu yang melahirkan orang asli jepang atau orang asing yang tinggal secara resmi disini, akan mendapat perlakuan istimewa.

Selain masa cuti (bagi yang bekerja) yang lama, setiap ibu yang melahirkan disini, akan langsung mendapat tunjangan sebesar 420 ribu yen atau sekitar 42 juta. Dan biaya persalinannya disubsidi oleh pemerintah alias gratis!

Mengapa bisa demikian? Konon ini adalah salah satu upaya pemerintah untuk membujuk para wanita Jepang agar mau melahirkan.

Kan kalau mereka enggan punya anak, bisa-bisa para pemuda yang sekarang masih dalam usia produktif ketika masuk menjadi lansia, maka populasi di Jepang isinya bisa lansia semua nantinya.

Perlu diketahui, jumlah anak di Jepang (usia 0-14 tahun) sesuai data terbaru tahun 2016 adalah 12,6 % dan jumlah lansianya (65 tahun keatas) adalah 27,1%! Bayangkan kalau jumlah penduduk Jepang sekarang adalah sekitar 130 juta orang, maka hampir 40 juta orang adalah lansia.

Sambil makan pecel dan krupuk racikan ibunya Mbak mey yang sekarang ada di Nara, kami lanjut ngobrol sampai sore. Baru setelah shalat maghrib sekitar pukul 17.10 sore, kami ijin pulang.

Tidak lupa kami diberi oleh-oleh berupa sambal kacang ditambah setumpuk buku yang isinya kanji semua. Semoga bisa terbaca nantinya. 😅

Osaka, 12 November 2016, 23.30 waktu setempat, suhu di luar 13 derajat Celsius
*Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: