Tidak Ada Yang Namanya Mantan Guru

2 Jan
#Bunka 22

Malam minggu di negeri antah berantah. Suhu di luar 14 derajat, dan semakin mendekati musim dingin suhu akan semakin turun. Beberapa hari yang lalu suhu di luar pernah mencapai 8 derajat. Kayak suhu standar di dalam kulkas aja, hehe.

Kalau dingin seperti ini, sungguh terasa nikmat jika makan mie rebus campur telor bulat dengan sayuran hijau ditambah irisan cabe, haha. Mie rebus mana mie rebus? Ups,

Ternyata tulisan kali ini sudah menyentuh angka 22. Kalau saya menulis seminggu sekali, maka sudah sekitar 5 bulan saya dan teman-teman menjalani pelatihan bahasa di tempat ini. Mau tidak mau, bulan depan kami akan memasuki babak baru, yaitu mulai bekerja sekaligus belajar di tempat kerja.

Kalau di total, sudah hampir 11 bulan kami belajar bahasa Jepang.

Banyak kejadian demi kejadian yang menarik kalau dikenang. Mulai dari awal belajar dulu, yang ketika nulis hiragana garisnya kurang, ketika membubuhi “maru” atau “teng-teng” nya kelewatan, dan juga ketika nulis kanji jadi awut-awutan. Kadang setelah ditulis malah lupa cara bacanya.

Itu soal menulis. Kalau soal berbicara, pada awal-awal dulu ketika kosakata masih sedemikian terbatasnya, banyak hal yang ingin diomongkan, tapi belum bisa lantaran belum tahu kosakatanya.

Ketika sudah mempelajari beberapa bab, sudah mulai bisa ngomong, tapi ketika ide sudah terbentuk di kepala, entah mengapa hanya sampai tenggorokan saja, susah rasanya keluar sampai di lidah.

Dan sekarang, ketika kumpul dengan banyak orang dari berbagai negara yang notabene ngomong pakai bahasa inggris, ketika diajak ngomong malah terkadang jawabnya pakai bahasa jepang. Nah loh,

Begitulah perubahan yang kami selama hampir setahun ini. Bahasa Jepang memang sulit, bahkan bagi orang jepang sendiri. Apalagi huruf kanji.

“Bukan berarti semua orang jepang bisa baca tulis kanji. Kalau mereka tidak belajar sedari kecil pun, boleh jadi tidak bisa juga,” begitu kata teman saya yang orang Jepang.

Dan kesemuanya itu, tidak lepas dari sensei-sensei luar biasa yang mengajar kami. Baik sensei orang Indonesia maupun yang orang Jepang asli.

Dan sensei berikut adalah salah satu dari sekian banyak sensei yang sangat berjasa dalam pembelajaran bahasa Jepang saya.

Beliau adalah Tomoko Kato Sensei. Asli dari Osaka. Rumahnya dari tempat tempat pelatihan ini kira-kira 1 jam perjalanan dengan naik kereta bawah tanah atau dalam bahasa Jepangnya, chikatetsu.

Karena asli orang Osaka, maka akan seru ketika diajak bicara dengan menggunakan logat serta dialek Osaka atau lebih dikenal dengan “Kansai ben”.

Saat di Jakarta kemarin, beliau mengajar di kelas 1 dan 2. Full, selama 6 bulan. Dan ketika kami disini, beliau juga ikut dalam tim pengajar juga, namun di kelas Kaigofukushishi. Jadi saya yang masuk kelas Kangoshi, tidak mendapat kesempatan untuk mendapat pengajaran oleh beliau.

Namun, bukan berarti kalau tidak diajar terus tidak bisa belajar dari beliau. Kalau ada kesulitan, atau ingin belajar percakapan, maka ketika di luar kelas beliau sangat terbuka sekali.

Satu hal yang sangat berkesan dari beliau adalah, detil dan teliti.

Jadi, ketika kita belajar percakapan misalnya, maka ketika saya ada kesalahan, sekecil apapun, maka akan dikoreksi hingga sampai bagian yang kecil dan penting untuk dipelajari lagi.

Ketika ada kesalahan penggunaan kata sambung, maka akan ditunggu sampai bicaranya benar. Dan itu benar-benar tantangan yang menyenangkan.

Bulan November semakin bergerak menuju pertengahan, dan sebentar lagi pelatihan bagi peserta EPA angkatan 10 akan dimulai. Tomoko sensei pun sudah mulai berkemas untuk bergabung dengan tim pengajar JF (Japan Foundation) di P4TK Jakarta.

Bagi teman-teman EPA 10 yang nanti mendapat kesempatan diajar sama beliau, saya nitip salam ya.

Karena bagi saya, siapapun orang yang pernah mengajari saya, beliau adalah guru. Dan sampai kapanpun, saya akan memanggilnya dengan sebutan guru.

Tidak ada istilah mantan guru bagi saya. Karena andil mereka jugalah, saya bisa sampai tahap ini.

Osaka, 5 November 2016, 24.00 waktu setempat
Uki

*Foto saat kemarin makan malam perpisahan dengan beliau. di warung makan masakan Indonesia, “Balibong” namanya. Jaraknya cukup dekat dengan asrama.

Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: