Tersesat Dalam Hujan Salju

2 Jan

#Yuki 4

“Sumimasen, Kita juyon nishi san chome wa doko ni arundesuka (Maaf, alamat ‘kita 14 nishi 3 chome’ itu dimana ya?),” Tanya saya kepada seorang ibu-ibu yang lewat di jalan.

“Aa, kita 14 nishi 3 chome desune. Mukou ni arimasu. roku ban me no shingou desu. Koko wa jusan higashi desu. (Ah, alamat ‘kita 14 nishi 3 chome’ ya. itu ada disebelah sana, sambil menunjukkan arah. masih 6 blok lagi. Disini ‘kita 13 higashi’),” Jelas ibu-ibu itu.

Kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju masjid Sapporo, dan alhamdulillah ketemu.

Kejadiannya bermula saat saya keluar dari Deguci (pintu keluar) stasiun kereta bawah tanah.

Padahal seminggu yang lalu saya sudah pernah sekali pergi ke Masjid Sapporo, tentunya dengan bantuan google maps.

Namun kemarin, tiba-tiba koneksi jaringan internet menjadi tidak stabil. Entah karena hujan salju lebat yang mulai kamis pagi sampai jumat malam, atau mungkin karena sebab lain, saya kurang tahu.

Hanya dengan mengandalkan ingatan seminggu kemarin, saya mantap melangkahkan kaki menuju pintu keluar stasiun.

Rutenya sebenarnya sederhana. Dari pintu keluar, belok kanan, ada perempatan. Dari perempatan, lalu belok kanan kemudian lurus kira-kira 2 kali lampu merah. Dari situ, belok kiri dan lurus saja, kemudian sampai.

Saya sudah berjalan sesuai dengan jalur yang saya ingat. Bukannya sampai, saya malah berada di tempat yang asing.

Entah dimana itu. Ada bangunan dan jalan yang sebelumnya belum pernah saya lihat.

Hujan salju semakin lebat, dan saya menyadari dengan pasti kalau saya tersesat.

Segera saya menepi dan berteduh di bawah sebuah atap rumah di tepi jalan. Saya keluarkan HP dan mencoba menyambungkannya kembali. Nihil, jaringan tidak terkoneksi.

Kemudian saya membuka galeri foto, teringat kemarin saya mengambil foto papan nama masjid. Pasti disitu ada nama alamatnya, pikir saya.

Setelah melihat foto alamat masjid, jelaslah sudah, saya benar tersesat.

Di papan penunjuk jalan terdekat yang saya lihat, tertulis “Kita 13 higashi 3” (Utara 13 Timur 3). Tujuan saya, yaitu masjid sapporo ada di “Kita 14 nishi 3” (Utara 14 Barat 3).

Hal pertama sudah saya sadari, saya tersesat. Masalah selanjutnya yang muncul adalah, saya tahu ini di daerah timur, tapi arah barat itu dimana?

Kompas di HP jelas tidak berfungsi karena tidak ada internet. Jalan satu-satunya adalah bertanya.

Masalahnya, di tengah hujan salju yang lebat seperti ini, susah menemukan orang di luar ruangan. Sama dengan di Indonesia, kalau sedang hujan lebat, kan mending di dalam rumah, menghangatkan diri.

Beruntung, setelah berjalan beberapa saat, ada ibu-ibu yang lewat dan saya pun segera bertanya. Arah pun ditunjukkan, dan saya pun tersesat hampir 1 km dari tempat tujuan saya.

Sebenarnya, tidak kali itu saja saya tersesat. Pada awal masuk kerja kemarin, jalan dari ruang ganti baju menuju ruang kerja saya di lantai 2, junkanki byouto (ruang penyakit kardiovaskuler), saya pun sempat tersesat.

Di rumah sakit tempat saya bekerja, memiliki dua gedung yang terpisah. Gedung untuk ruang perawatan dan gedung untuk kantor. Karena masih hari pertama, setelah diorientasikan pun, terus lupa.

Saat pulang kerja, saya perlu waktu hampir 20 menit muter-muter mencari jalan menuju ruang ganti baju.

Hal yang saya pahami setelah beberapa hari kemudian adalah, desain tiap lantai ternyata berbeda.

Setelah beberapa hari melewati ruangan yang awalnya membuat saya tersesat itu, akhirnya saya pun menjadi paham.

Begitupun dengan jalan menuju masjid kemarin. Ketika perjalanan pulang, di tengah hujan salju yang lebat, saya ambil foto di setiap perempatan yang saya lewati. Buat jaga-jaga biar gak tersesat lagi.

Setelah sampai di stasiun, saya menjadi paham. Ternyata tadi saya keluar di pintu keluar nomor 2, yang berada diseberang jalan. Yang benar harusnya, pintu keluar nomor 1.

Jadi, kalau dari pintu keluar nomor satu, kemudian belok kanan, akan langsung menuju arah barat. Sebaliknya, kalau dari pintu keluar nomor dua, lalu belok kanan, maka akan menuju arah timur. Benar-benar arah yang berlainan.

Perlu diketahui, pintu keluar setiap stasiun disini itu cukup banyak. Minimal ada 4 pintu keluar, kalau seperti stasiun Namba di Osaka yang selalu ramai, bahkan sampai 26 pintu keluar. Jadi memang perlu hati-hati.

Namun, bukan berarti tersesat tidak memberikan pelajaran.

Saya pikir, tersesat itu (terkadang) perlu. Agar kita bisa menemukan jalan baru, membuka suatu pandangan baru.

Serta bisa menantang kita untuk bisa berinteraksi dengan orang lain, dengan bertanya misal.

Saya pikir, terlalu banyak orang di saat ini yang pemikirannya sempit karena hanya terlalu sering melewati satu jalan, tanpa pernah berani lewat jalan lain. Menakutkan lah, tidak biasa lah, nanti khawatir terjadi apa-apa lah.

Hasilnya, pemikiran menjadi kerdil dan terlalu cepat menyalahkan orang lain karena tidak sependapat.

Lah, gimana pikiran terbuka kalau tahunya satu jalan saja.

Oleh karena itulah, membaca bacaan baru, melangkah serta menemukan jalan baru, terkadang tersesat, terkadang harus memutar jalan, saya pikir adalah bagian dari sebuah proses pendewasaan pikiran.

Dunia itu luas, Kawan. Banyak hal yang bisa dipelajari, banyak hal yang bisa membuat kita menjadi lebih mawas diri.

Sekarang saya pun sudah tahu, insyaallah minggu depan semoga tidak tersesat lagi, hehe.

Sapporo, 24 Desember 2016. 10.30 waktu setempat.

Cuaca luar cerah, suhu minus 6 derajat.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: