Sebuah Cerita Untuk Yang Terkasih

2 Jan

#Bunka 24

“Tulisanmu itu loh mas, panjang banget. Apa gak capek ngetiknya?” Tanya seorang teman ketika sarapan pagi beberapa waktu yang lalu.

“Itu nulis status, apa nulis cerpen sih?” Seloroh yang lain.

“Itu idenya dapat darimana sih mas? Kok tulisannya bisa panjang sepanjang jalan kenangan gitu,” Kalo ini bercandanya udah masuk wilayah baper, bawa perasaan, hehe.

Serta berbagai pertanyaan dan candaan yang lainnya.

Terkadang saya juga berfikir, untuk apa saya menulis sepanjang itu?

Pada awalnya, saya hanya menulis karena ingin menulis saja. Tidak ada alasan khusus kenapa harus menulis. Ketika ada ide yang terlintas, segera saya tulis.

Entah itu berbentuk puisi, prosa, atau bahkan sebuah cerita yang panjang, dan saya rasa mungkin bakal membosankan.

Ketika facebook memperkenalkan fitur menilik sejarah tulisan atau status yang pernah ditulis, saya jadi cengar-cengir sendiri. Oh, saya juga pernah alay ternyata. Menulis dengan perpaduan huruf besar dan kecil ditambah dengan angka-angka, haha.

Lalu, semakin kesini, saya menyadari sesuatu hal yang sangat penting. Tulisan yang saya buat, ditunggu oleh ibu saya setiap minggunya.

Sebelum saya pergi meninggalkan tanah air, komunikasi yang awalnya bisa terjangkau dengan menggunakan HP biasa, mau tidak mau harus berubah.

Ketika penggunaan internet yang semakin mudah dan murah, maka para orang tua yang awalnya masih menggunakan HP Nokia 1100, mulai berganti dengan Hp android.

Hanya saja, ibu saya hanya bisa membuka aplikasi facebook, line dan imo aja. Baginya, selain 3 aplikasi tersebut tidak terlalu berguna.

Untuk facebook, itupun memakai akun kakak saya. Tujuannya hanya satu, yaitu memantau anak-anaknya yang ketiga-tiganya berada di rantau semua. Anak pertama ada di Jogja, anak kedua ada di luar negeri, dan anak yang ketiga ada di Jawa Timur.

Untuk aplikasi line dan imo, beliau hanya bisa menggunakannya untuk video call saja. Cukup. Untuk chatting atau mengirim SMS tidak terlalu suka dengan alasan HP nya terlalu kecil, “Sekali pencet semua huruf malah muncul semua secara berjamaah,” kata ibu saya.

“Tinggal dipilih imamnya Bu, kan langsung bisa berjamaah” Balas saya dengan bercanda.

Memang boleh dikata, para orang tua kita di zaman teknologi yang maju pesat seperti sekarang ini, mereka malah jadi ketinggalan dengan para kaum mudanya.

Bagi sebagian besar dari mereka, bisa mengangkat telpon dan mendengarkan kabar keluarga, sanak saudara, yang berada nun jauh disana adalah sebuah kemewahan tersendiri.

Apalagi kalau dibayangkan dengan masa kecil mereka, yang masih bermain telpon-telponan dengan menggunakan seutas tali dan dua kaleng bekas susu full cream.

Begitulah mereka, kaya akan kesederhanannya.

Begitu juga dengan tulisan-tulisan di facebook. Semenjak ibu saya mulai membaca tulisan-tulisan saya, itu hal yang lebih dari cukup.

Karena kita tidak tahu pasti siapa saja yang bakal membaca tulisan yang kita tulis bukan?

Saya yakin semua pasti setuju. Kebahagiaan orang tua adalah ketika mengetahui kabar dari anak-anaknya, apalagi yang sedang merantau di luar sana.

Disamping kabar lewat telpon, segala macam kabar yang berupa tulisan, cerita, bahkan ketika ada tetangga yang menceritakan tentang diri kita pun, akan jadi perhatian khusus bagi para orang tua.

Oleh karena itu, ijinkan saya untuk terus menggoreskan cerita demi cerita untuk orang-orang terkasih. Mereka lah yang lebih tahu bagaimana kesedihan kita. Lebih tahu bagaimana perjuangan kita hingga saat ini. Jatuh bangunnya kita. Serta segala hal yang terkadang kita tidak menyadarinya.

Kita bisa mencapai tahap sampai sekarang ini, bukanlah karena hasil kita sendiri. Jerih payah kita sendiri. Ada sebuah kekuatan besar yang boleh jadi kita lalai untuk memperhatikannya.

Boleh jadi, ketika kita sedang tidur terlelap, mereka bangun terlebih dulu. Duduk takzim seraya berdoa dengan tulus dan dalam kepada Sang Maha Segalanya. Mereka berusaha lebih dari kita, mereka berdoa lebih lama dari kita.

Kalau ada sebuah ungkapan, “Dibalik lelaki yang sukses, ada wanita hebat dibaliknya”, maka boleh jadi, ada ungkapan penerusnya,

“Ketika ada anak yang sukses, maka ada orang tua yang hebat yang selalu mendukung dan mendoakannya.”

Osaka, 20 November 2016, 01.00 waktu setempat
Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: