Sayang Untuk Dilewatkan

2 Jan

#Bunka 26

“Waduuhhhh, aku belum belajar nih tadi malam. Mana habis makan malam langsung tidur lagi. Eh, ujian hari ini tentang apa?” ucapan “wajib” salah seorang teman saya sebelum ujian dimulai.

“Oh, hari ini ujian bab 6, sama ujian kanji juga..” Jawab yang lain dengan santai.

Ya, awalnya kami pernah menganggapnya serius. Lah apa benar belum belajar? Kan di jadwal sudah ditulis oleh wali kelas, hari dan tanggal sekian akan ada kuis, akan ada ujian.

Dan setelah hasil dibagikan, ternyata “teman” yang tadi itu, nilainya menjadi salah satu yang terbaik. Nah loh!

Itulah salah hal yang saya perhatikan selama disini. Ketika sebelum ujian bab dimulai, orang yang paling lantang bilang “belum belajar semalam, atau semalaman nonton film”, boleh jadi belajarnya malah lebih kenceng dibanding yang lain.

Sebaliknya, jika ada yang datang ke kelas dan langsung diem, terus bolak balik buku, mulutnya berulang kali mengulang kosakata bak mengucap mantra. Boleh jadi yang malah semalaman tidur dan baru buka buku, hehe.

Itulah salah satu bercandaan kami ketika di kelas di sela-sela pelajaran yang semakin kesini memang semakin rumit.

Kalau ditanya itu hasil “observasi” dari mana, janganlah dianggap serius. Karena itu memang bercandaan kami saja.

Namun, teman yang saya tadi itu hasil ujiannya memang bagus loh! Eh,

Berbicara tentang hal-hal yang terjadi disini, tentu bermacam-macam yang bisa diceritakan.

Tentang musim, waktu, serta keseharian baru yang sebelumnya saya belum pernah merasakannya selama di Bumi Nusantara tercinta.

Musim dan waktu, bagaikan sepasang sejoli yang tak terpisahkan. Saling melengkapi dan terkait.

Jika kemarin kami pernah merasakan waktu siang yang lama, maka sekarang adalah kebalikannya. Sungguh sangat berbeda, baik lama waktu siang serta suhunya!

Bicara tentang waktu, maka akan terkait juga dengan waktu shalat.

Karena disini tidak ada suara adzan yang bebas berkumandang, kebanyakan dari kami menggunakan salah aplikasi di handphone yang bernama “muslimpro” atau versi websitenya di “muslimpro.com”.

Dari situ, kita bisa melihat jadwal shalat di belahan bumi manapun asal tersambung dengan internet.

Semisal untuk hari ini, waktu shalat shubuh di Osaka adalah pukul 05.19 sampai 06.49. Dan pukul 16.47 sudah masuk waktu maghrib.

Kalau di Indonesia semisal rata-rata jamaah shalat shubuh dimulai antara pukul setengah 5 sampai jam 5, maka untuk saat ini di Osaka, jam 5 malah belum masuk waktu shubuh.

Makanya rata-rata sekolah disini, pelajaran dimulai pukul 9 pagi. Begitupun dengan waktu pelajaran kami disini.

Kalau di Indonesia, upacara bendera tiap hari senin biasanya dimulai pada setengah 7 pagi. Maka kalau disini, untuk waktu sekarang dan musim dingin yang sebentar lagi akan datang, setengah 7 pagi bahkan matahari belum terbit. Masih gelap, dengan catatan tambahan, dingin pakai bangett!

Bagaimana tidak, suhu di malam hari untuk sekarang rata-rata di angka 5-6 derajat Celsius. Beberapa poin lagi kebawah bisa menjadi titik beku.

“Jadi kalau keluar di pagi hari, persis kalau naik puncak Semeru atau di Dataran tinggi Dieng” kata teman saya yang pernah kesana.

Ketika kita meniupkan udara melalui mulut, akan keluar asap. Jadi, minggu kemarin saat kami sekelas liburan ke Kyoto, sepanjang jalan teman-teman saya, dan saya juga, sibuk meniup-niupkan udara dari mulut, haha.

Ya, potongan demi potongan kenangan seperti itu memang sayang untuk dilewatkan.

Soal makanan. Ketika di Indonesia kita bisa dengan mudah menemukan makanan yang halal untuk dikonsumsi.

Maka ketika disini, bahkan untuk membeli cemilan pun, kami menjadi lebih waspada.

Huruf kanji yang memiliki arti “babi” dan “sake” betul-betul harus kami lihat dulu di bagian komposisinya.

Jika ada, maka kelihatan seenak apapun makanan itu, tidak jadi kami beli.

Tidak hanya cemilan saja, untuk kue, roti, onigiri, makanan siap saji, jika tidak tertera atau ragu, mending ditanyakan kepada penjualnya saja, “makanan ini mengandung babi atau sake apa tidak?”, kira-kira begitu.

Kalau terkadang kangen masakan Indonesia, ada juga warung masakan Indonesia yang dekat dari tempat pelatihan kami.

Kira-kira jalan 20 menit, namanya “Balibong”, penjualnya asli orang Bali yang sudah fasih berbahasa Jepang.

Saya dan teman-teman juga sesekali waktu mampir untuk menikmati hidangan nusantara di tempat ini.

Selain jajan di luar, disini juga, saya belajar menjadi kreatif dari teman-teman yang bisa masak nasi goreng plus irisan telur dengan berbagai toping lainnya hanya dengan bermodalkan microwave saja.

Awalnya saya tidak percaya, kok bisa hanya dengan microwave bisa tersaji nasi goreng seperti yang dimasak oleh emak-emak asli Indonesia punya.

Namun, ternyata memang benar adanya. Lalu juga dari teman-teman dari Lombok, dari hasil kreatifitas mereka, setiap hari minggu ada saja yang bisa dimasak dan menjadi masakan yang luar biasa “maknyusss”, kalau kata pak Bondan.

Lalu, selama pelatihan, selain kemampuan bahasa jepang yang terus meningkat, muncul juga pianis, gitaris, vokalis dari teman-teman pelatihan yang kualitasnya jempolan!

Disini, disediakan piano klasik yang bisa dimainkan oleh siapa saja. setelah makan malam, lobi biasanya berubah menjadi arena untuk kebolehan bagi siapa saja yang bisa memainkannya.

Kalau saya sih, senang mendengarkannya saja, kalau disuruh main nanti para pemirsa bisa bubar duluan, hehe.

Sayang untuk dilewatkan.

Berbagai hal yang telah mengiringi kami selama pelatihan di tempat ini, HIDA Kansai Kenshuu Senta yang berada di tepi kota Osaka.

Pelatihan kami sebentar lagi akan usai. Tanggal 13 desember nanti, kami akan mengikuti upacara kelulusan, kemudian pindah ke tempat kerja masing-masing.

Sebagai penutup, saya sertakan sebuah video pendek yang memperlihatkan lobi dan kantin di tempat pelatihan kami.

Siapa tahu ada dari teman-teman yang suatu saat mampir ke tempat ini juga.

“Minasan, ato ishhuukan gurai desune. Otagaini ganbatte ikimashouyo…”

(Teman-teman, masih ada sekitar seminggu lagi kita disini. Mari kita bersama-sama terus bersemangat!!!)

Osaka, 3 Desember 2016, 19.50 waktu setempat. Suhu di luar 11 derajat dan terus merosot turun seiring malam..

Uki

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: