Lanjut ke Utara, Menimba Ilmu di Negeri Bersalju..

2 Jan

#Yuki 1

Akhirnya, masa belajar bahasa jepang selama setahun pun selesai. 6 bulan di Jakarta dan 6 bulan di Osaka.

Senang, sedih, bercampur segala rasa memang tidak bisa dipungkiri. Senang karena teman-teman bisa menyesaikan pelatihan dengan hasil yang memuaskan.

Sedih karena terpisah dengan teman yang telah menjadi keluarga selama di perantauan.

Walaupun sudah setahun, rasanya tetap saja masih kurang. Masih terlalu banyak hal yang belum dimengerti, masih terlalu sedikit hal yang bisa dipelajari.

“Bukankah sejatinya memang begitu?” Ujar sensei saya.

Saya hanya menatap retoris dan berharap kalimat itu dilanjutkan.

“Karena sejatinya masa belajar itu selesai saat ‘kontrak’ kita di dunia ini juga usai. Dengan kata lain, sebanyak apapun kamu belajar, akan tetap masih banyak hal yang masih menjadi misteri,”

“Belajar, bukan hanya tentang mendapatkan nilai 100 saja, atau hanya terpaku pada nilai saja. Itu terlalu kecil untuk memahami hakikat belajar,”

“Belajar adalah lebih kepada menaklukan kebodohan diri. Lebih kepada menjadi pribadi yang lebih baik di kemudian hari. Lebih kepada seberapa tangguh kita mengalami jatuh dan bangkit ketika berbagai masalah menghantam diri,”

“Dan juga, salah satu yang terpenting dari hakikat belajar adalah ketika kita berani mengakui bahwa diri kita ini masih belum tahu. Kemudian dengan rendah hati bertanya kepada yang lebih tahu.”

Sambil terdiam saya mencerna perlahan semua kata mutiara itu.

“Akhir suatu proses, merupakan awal dari proses yang baru. Bukan dikatakan bodoh orang yang masih ‘mencari’ dalam proses belajarnya. Boleh jadi, kata ‘bodoh’ ini tersemat kepada mereka yang merasa cukup dan berhenti dari proses belajarnya,”

“Oleh karena itulah, selama masih ada kesempatan. Selama jantung masih memompa, selama itulah kesempatan belajar kalian masih ada,”

Di atas ketinggian lebih dari 30 ribu kaki, di atas kota Sendai, dalam perjalanan sepanjang 1.037 km dari Osaka menuju Sapporo, Hokkaido, lamat-lamat saya kembali memikirkan nasehat-nasehat tersebut.

Berkat koneksi wifi yang disediakan maskapai penerbangan ini.Saya masih bisa sekedar menuliskan babak baru dari kelanjutan kisah pribadi ini.

Yuki (雪),yang dalam bahasa Indonesia berarti salju, akan menjadi hastag selanjutnya dalam cerita saya.

Sembari bersandar di kursi pesawat boeing ini, masih ada hal penting yang disampaikan oleh sensei saya,

“Jangan hanya menjadi sarjana kertas saja. Terlihat hebat diatas kertas, tetapi ciut di dunia nyata,”

“Karena tidak baik kalau hanya melulu merayakan keberhasilan saja. Kegagalan yang kalian alami itu juga harus mendapat porsi untuk dirayakan,”

“Lebih penting malahan,”

“Karena sejatinya, yang disebut orang-orang tangguh adalah mereka yang telah berhasil bangkit setelah berkali-kali mengalami kegagalan,”

“Di dunia nyata, orang yang tangguh, berkemauan tinggi, sanggup belajar dalam berbagai kondisi, itu lebih utama daripada hanya mengantongi sederet gelar dan nilai di atas kertas semata,”

Lamat-lamat, mata saya menjadi berkaca-kaca. Namun, hati saya menjadi lebih tenang dalam melanjutkan langkah berikutnya.

Terima kasih bagi segenap sensei. Bukan hanya di kelas saja, siapapun yang telah mengajari saya untuk menjadi lebih baik lagi, adalah sensei bagi saya.

Untuk perjalanan baru ini, bismillah…

Di Atas Langit Sendai, suhu luar -30 derajat, 09.30 waktu setempat

*Akhirnya, baru bisa upload pas sampe Chitose airport, koneksinya baru stabil.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: