Kouryukai – Belajar Dari Senpai – Proses Tidak Akan Pernah Menghinati Hasil

2 Jan

#Bunka 21

“Percayalah, Belajar SKS (system kebut semalam) itu tidak berguna. Minimal persiapkan 3 bulan sebelumnya,” Ujar Mas Henggar dalam acara siang tadi.

Dia adalah salah satu dari sekian perawat yang mengikuti program EPA angkatan ke empat yang telah lulus ujian negara keperawatan atau yang lebih dikenal dengan nama Kokkashiken.

Ya, hari ini kami kedatangan tamu khusus dalam acara “Meet and Share”. 7 orang senpai (senior) yang telah lulus kokkashiken dan sekarang telah memiliki ijin resmi untuk bekerja sebagai perawat di Jepang.

Lalu sebelum lulus ujian negara? Perawat Indonesia yang belum lulus ujian negara keperawatan di Jepang, akan bekerja sebagai “Kangojoshu” atau asisten perawat.

Jadi, pekerjaan sehari-harinya masih seputar kebutuhan dasar manusia sembari belajar lagi untuk bisa lulus ujian disini yang tentunya soal-soalnya memakai huruf kanji.

Dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore, masing-masing senpai menceritakan pengalaman, suka duka, dan berbagai hal yang sangat bermanfaat bagi kami, yang sebentar lagi akan memasuki “alam bebas”.

7 orang senpai, dengan keunikannya masing-masing, memberikan kami gambaran bagaimana cara belajar dan beradaptasi dengan lingkungan baru di rumah sakit nanti.

Karena fasilitas dan support pembelajaran setiap rumah sakit itu berbeda. Maka informasi tentang “support” masing-masing rumah sakit menyedot perhatian kami dan sangat sayang untuk dilewatkan.

Yang pertama, mas Yono yang sampai saat ini sudah 9 tahun di Jepang, yang merupakan perawat EPA angkatan pertama. Sekarang dia bekerja di Rumah sakit pendidikan Universitas Nara, di Hyogo.

Kalau beberapa waktu yang lalu kami sempat terkesima dengan rumah sakit Kansai yang memiliki jumlah tempat tidur 700 lebih, maka rumah sakit tempat mas yono bekerja sekarang memilki jumlah tempat tidur sebanyak 992 buah, dengan berbagai spesialisasi yang ada.

Perlu diketahui, tidak seperti EPA 9 yang sekarang memiliki kesempatan belajar 1 tahun, kemudian dilepas ke tempat kerja. EPA 1 dulu hanya memiliki kesempatan belajar bahasa Jepang selama 6 bulan saja.

Saya jadi membayangkan, belajar setahun saja rasanya seperti masih kurang, nah itu malah setengah tahun saja.

Namun, dengan kerja keras dan sikap pantang menyerah, dia membuat system belajar selama pelatihan bahasa jepang para peserta wajib elajar selama 6 jam ketika di kelas, dan setelah pulang, minimal 5 jam digunakan untuk belajar mandiri. Dan cara itupun dia pakai juga saat sudah memasuki masa kerja.

Dengan ketekunannya seperti itu, alhamdulillah dia dapat melewati tahap pertama. Yaitu lulus ujian negara. Dan setelah 5 tahun bekerja, dia kembali mengambil tantangan untuk mengambil ujian keperawatan bidang khusus, yaitu endoskopi. Dan kembali lagi, alhamdulillah dia lulus.

“Yang saya pikirkan dulu hanya belajar dan belajar saja. karena fokus dengan hal tersebut, boleh dibilang saya hampir tidak pernah menonton film atau acara di TV,” ujarnya tadi.

Lain halnya dengan Mas Yono, Mbak Dewi, yang sama-sama dari EPA 1, pun memiliki cara belajar yang berbeda.

Ketika selesai bekerja, maka ia akan makan sebatang cokelat lalu pergi ke perpustakaan rumah sakit untuk belajar. Ketika perutnya sudah memberikan kode untuk segera makan, barulah ia mengakhiri belajarnya lalu pulang ke penginapan.

Mbak Dewi, yang sekarang bekerja di Daerah Hyogo, terkadang juga belajar di McD. Dengan memesan secangkir kopi, dia bisa belajar dari pagi sampai sore.

“Nah, ketika pelayan McD nya sudah beberapa kali melewati saya dengan raut muka yang berbeda. Ya, saya pesan kopi lagi, hehe.” Sambil tertawa dia menceritakan suka duka saat belajar dulu.

Dia juga bisa belajar di dalam kereta, di family restoran, di toko buku, dan lain-lain.

“Apalagi pas musim dingin, kalau belajar di kereta, selain bisa menambah motivasi belajar, juga bisa menghemat pengeluaran untuk membayar tagihan listrik untuk pemanas ruangan. Karena saya seharian bisa belajar di dalam kereta yang sudah hangat, murah lagi,” tambahnya dengan tertawa ringan.

Selanjutnya adalah mbak Laras, dari EPA 4, yang sekarang bekerja di rumah sakit Senri Chuo, Osaka. Orang yang suka dengan travelling ini menegaskan,

“Kalau kalian bisa bertahan di tahun pertama. Baik tahun pertama ketika mulai kerja, maupun tahun pertama setelah lulus ujian negara, maka kalian akan bisa bertahan di Jepang!”

Boleh jadi hal itu agak sedikit “kurang nyaman” untuk di dengar. Namun memang begitulah realitas yang ada. Bekerja di dalam negeri saja tentu ada hal-hal yang bisa membuat orang menyerah di tahun pertama bekerja.

Apalagi di luar negeri. Tentu perbedaan bahasa dan budaya akan memberikan tantangan sekaligus pembelajaran tersendiri.

Kalau Mas yono tadi bekerja di ruang endoskopi dengan spesialisasi yang dimilikinya. Maka mbak laras bekerja di ruang yang isinya pasien yang akan menjalani pemeriksaan endoskopi dan setelahnya. Pre dan post endoskopi. Kira-kira begitu.

Selanjutnya adalah pasangan suami istri yang berasal dari EPA 6 dan 5. Mas Sholichin dan Mbak Miki. Kedua orang yang lulus masing-masing di Osaka dan Nagano ini akhirnya memutuskan untuk sama-sama bekerja di Osaka. Mas sholichin di rumah sakit Kishiwada dan mbak miki di rumah sakit Shakai Onsinkai.

Hal-hal menarik yang disampaikan oleh mas Sholichin antara lain, kalau setiap tahun itu ada sekitar 60.000 ribu peserta ujian nasional keperawatan di Jepang, dan dari kesemuanya itu rata-rata 10 persen gagal. Maka menurutnya, agar bisa lulus, setidaknya harus bisa mengalahkan 6.000 orang peserta baik perawat asing maupun perawat asli orang jepang.

Untuk memenuhi target tersebut, dia membuat rencana. Pertama, 100 hari menjelang ujian harus fokus. Jangan neko-neko dengan hal-hal yang tidak perlu.

Kedua, kalau sudah memilih buku, jangan menduakannya. Nah, disini ada cerita menarik. Ketika dia menggunakan satu buku dan serius mempelajarinya. Dalam mogi shiken (ujian uji coba) yang pertama, dari 6.800 orang, dia berada di urutan 6.000 an. Namanya masih pertama.

Lalu kembali ia belajar dengan tekun. Buku yang dibacanya pun hampir semua bagian dipelajari, tinggal beberapa bab saja. Lalu ia ikut ujian uji coba lagi. Dari sekitar 18.000 orang, dia berada di urutan 6.000. Dalam ujian uji coba, dia telah berhasil mengalahkan 10.000 orang lebih.

Namun, ada satu hal yang dipelajarinya dari ketidak konsistenan. Ketika menjelang ujian yang sebenarnya, dia tiba-tiba tertarik dengan buku lain. Padahal buku yang pertama tadi belum selesai. Dia berfikir, kalau buku yang pertama tadi sudah hampir selesai dan sebagian besar sudah paham.

Disinilah titik penyeselannya. Ternyata, ketika belajar buku yang kedua, banyak kosakata baru dan pembahasannya berbeda dengan buku yang pertama. Alhasil, dalam ujian yang sebenarnya dia tidak lulus dengan kurang beberapa poin saja.

Menyadari hal tersebut, dia bangkit dan kembali dengan buku yang pertama. Kembali di review dan pahami setiap bagian hingga menyelesaikannya. Alhamdulillah, dalam ujian di kesempatan yang ketiga dia bisa lulus.

Lalu istrinya, mbak miki, memiliki pemikiran yang berbeda. Menurutnya, belajar bahasa jepang dan materi ujian negara harus seimbang.

Lalu dia buat rencana selama setahun dengan detail perbulannya. Betul-betul detail, karena kami diperlihatkan draf perencanaannya tadi.

Dengan perencanaan yang detail dan matang, maka pembelajaran akan lebih mudah untuk dilaksanakan. Begitu pemikirannya.

Kemudian ada mas Heggar yang berasal dari EPA 4 juga. Dia lah orang yang mengucapkan kalimat di awal tulisan ini. Terkadang, kita lebih suka menggunakan sistem SKS (sistem kebut semalam) sebelum ujian daripada menyicilnya jauh-jauh hari.

Memang, setiap orang berbeda cara berfikir dan cara belajarnya. Ada yang tekun dan ada yang lebih sering main. Namun, dari dua kali kegagalannya dalam mengikuti ujian nasional keperawatan sebelumnya, akhirnya dia mulai menata diri dengan belajar jauh-jauh hari sebelum ujian.

Orang yang sekarang menjadi penanggung jawab ruang operasi bedah ortho dan neuro surgery di rumah sakit Himeji di Perfektur Hyogo ini mengajarkan bahwa belajar itu jangan hanya sekali terus berhenti. Merasa sudah paham dan cukup sudah. Tidak begitu. Pengulangan dan pengulangan itu sangat penting.

Kalau 6 orang yang diatas itu mendapatkan support dari rumah sakitnya, semisal ada waktu khusus untuk belajar setelah bekerja, ada guru yang membimbing, maka senpai yang selanjutnya ini tidak mendapatkan semua fasilitas itu.

Bahkan, ketika lulus, orang rumah sakitnya malah kaget, “Loh, kok bisa lulus?!”

Namanya mas Taqim, berasal dari Sumatera, dulu bekerja di salah Rumah sakit di Fukuoka.

“Kalau para senpai yang lain mendapatkan kemudahan dari rumah sakit, maka hal yang akan saya sampaikan semua adalah komaru koto (hal-hal yang menyusahkan).

“Saat itu, bahasa jepang saya masih pas-pasan. Lalu tidak mendapatkan support dari rumah sakit. Jam belajar dari rumah sakit tidak ada. Lalu untuk menghadapi ujian negara, hari libur saya gunakan untuk belajar. Jadi, ketika semua numpuk dan jadi capek, malah gak bisa konsentrasi untuk belajar,” ucapannya dalam salam pembuka.

Dia melanjutkan, “Tidak selalu mereka yang diberi jam khusus untuk belajar itu bisa lulus. Juga sebaliknya, tidak selalu mereka yang tidak diberi fasilitas maupun jam belajar secara khusus itu tidak akan bisa lulus.”

“Bahkan, dengan keterbatasan yang saya alami, soal wajib dalam ujian negara yang berjumlah 50 itu saya bisa betul semua. Walaupun untuk bisa lulus minimal harus betul 40 soal saja. Bahkan secara khusus, saya mendapatkan ucapan selamat dari orang Jepang, dan diberitahu bahwa ini adalah kali pertama ada peserta EPA yang bisa betul semua dalam mengerjakan soal wajib”

“Memang, terkesan kehidupan yang saya alami sebelum lulus ujian negara itu sangat menyusahkan. Namun, sabar, semua penderitaan itu akan terbayar penuh saat nama saya tercantum di lembar pengumuman saat hasil ujian diumumkan,”

Ketika merenungi berbagai hal yang diutarakan oleh para senpai itu, saya merasa, perjalanan saya ini boleh jadi baru beberapa tapak saja. Atau mungkin belum menapak satu pun.

Ibarat mendaki gunung, puncaknya masih begitu jauh. Belum terlihat karena masih tertutup awan.

Semua itu memang susah, ujian nasional keperawatan di Jepang itu menyulitkan, bahkan untuk orang Jepang sendiri. Namun, tidak mustahil untuk bisa dikerjakan!

Osaka, 29 Oktober 2016, 21.00, suhu udara di luar 14 derajat celcius
Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: