Ada Kehangatan diantara Timbunan Salju

2 Jan

#Yuki 2

Suhu di Sapporo malam ini minus 3 derajat celcius.

Orang-orang yang berlalu lalang atau sekedar keluar ke minimarket, semua tertutup oleh baju tebal, syal, penutup muka serta sepatu anti “kepleset” yang khusus untuk berjalan diatas salju yang telah membeku.

Begitupun dengan saya. Hari pertama masuk kerja kali ini terasa begitu hangat dibalik dinginnya suhu minus yang mampu membekukan.

“Uki san, mou jikan desune. Douzo reihai site kudasai..(Saudara Uki, sudah waktunya shalat. Silahkan shalat terlebih dulu)..” ucap kepala ruang lantai 2 rumah sakit Sapporo ini.

Ya, saya adalah karyawan baru di rumah sakit di daerah Higashi ku, Sapporo shi. Nama rumah sakitnya adalah Sapporo Higashi Tokushukai Hospital.

Selain sebagai karyawan baru, juga satu-satunya karyawan yang beragama islam.

“Wah, berat gak mas jadi orang minoritas disitu?” celetuk salah seorang teman saya saat chatting.

Kalau dibilang minoritas, iya, itu benar. Tapi para karyawan disini sungguh saat menghormati saya sebagai pemeluk agama islam.

Ketika sudah masuk waktu shalat, mudah untuk minta ijin. Dan tidak jarang saya diingatkan untuk segera melaksanakan shalat.

Rumah sakit tempat saya mulai bekerja sekaligus belajar untuk menghadapi ujian nasional keperawatan di Jepang ini, merupakan salah satu rumah sakit rujukan bagi wisatawan asing yang berlibur di Sapporo.

“Kalau pas musim liburan, banyak pasien dari Malaysia dan Indonesia,” papar kepala keperawatan yang membimbing saya saat orientasi.

“Saat itu, tolong uki san jadi penerjemah juga ya,” lanjutnya.

Oleh karena wisatawan muslim semakin bertambah ke Jepang, khususnya Sapporo juga, maka rumah sakit ini juga telah meresmikan sebuah musholla atau “reihai sitsu” sejak setahun yang laku.

Dan karena bulan ini tidak ada pasien muslim yang masuk RS, maka yang bakal sering menggunakannya adalah saya.

Selain itu, berkat komunikasi yang baik dengan pihak RS, waktu libur pun bisa dinegosiasikan.

“Bagi muslim, hari jum’at itu hari yang khusus karena orang laki-laki harus shalat jum’at di masjid,” salah satu penjelasan dokter rumah sakit ini yang pernah belajar selama 3 tahun di Indonesia.

Hal itu berlangsung sudah lama, saat saya baru datang ke Jepang dan bertemu dengan “fukukangobuchou” atau wakil kepala keperawatan.

Akhirnya, setelah masa orientasi tadi pagi, saya diberikan jadwal untuk bulan ini dan bulan depan.

Dari libur wajib mingguan yang biasanya pada hari sabtu dan minggu, khusus untuk saya adalah libur hari jumat dan satu harinya lagi bisa hari sabtu atau minggu.

Yang jelas, liburnya 2 hari dalam seminggu.

Jadi berasa kayak balik masa MTs, selama setahun ke depan libur wajibnya hari jum’at, hehe.

Dan insyaallah besok bisa pergi jumatan di masjid sapporo yang terletak 15 menit dari asrama karyawan dengan menggunakan kereta bawah tanah.

“Loh, kerja 5 hari doang mas?” tanya teman saya yang lain.

Iya, 5 hari kerja namun berbeda lamanya waktu. Tidak seperti saat masih di Indonesia dulu.

Di tempat saya ini, “nikkin” atau jaga pagi, mulai dari jam 08.30 sampai 17.00 dengan waktu istirahat 1 jam di siang hari.

Waktu istirahatnya bergantian, dibagi menjadi 2 kali. Kloter pertama pukul 11.30-12.30 dan kloter kedua 12.30-13.30.

Jadi, saat waktu istirahat, bisa digunakan bebas. Rata-rata digunakan untuk makan siang, namun ada juga yang menggunakannya untuk tidur, karena memang disediakan ruang khusus bagi yang ingin tidur siang.

Kalau saya tadi, dapat istirahat di kloter pertama. Segera shalat di musholla yang terletak di lantai 4, kemudian bergabung dengan karyawan lain makan siang.

Bagi karyawan seperti saya yang ikut program khusus, yaitu IJEPA, mendapatkan jadwal tersendiri di RS ini.

Jadi, “gozenchuu” atau pagi sampe istirahat siang ikut kegiatan di ruangan. Lalu, “gogo” atau setelah istirahat siang sampe jam 5 sore merupakan waktu belajar bersama para kepala ruang, bergantian, untuk menghadapi ujian nasional keperawatan.

Sepertinya, bakal banyak cerita yang insyaallah bisa diceritakan ke depan.

Sapporo memang dingin, beku malahan. Tapi orang-orangnya ramah dan hangat dalam bergaul dengan sesama.

Sapporo, 15 Desember 2016, 22.40 waktu setempat

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: