Ada Beragam Cerita di Osaka

2 Jan

#Bunka 27

Sambil memandang langit Osaka lewat jendela kamar, saya memulai menulis catatan ini. Langit di luar masih cukup gelap, padahal waktu sudah hampir mendekati setengah 7 pagi.

Saya cek aplikasi “muslimpro” di hp, ternyata waktu terbit matahari masih setengah jam lagi.

Kalau teringat masa kecil dulu, setiap jam 6 pagi, sambil sarapan saya sudah mulai mantengin film mickey mouse dan kawan-kawannya, sampai waktu dhuhur tiba, hehe.

Terlempar dari masa itu, waktu terasa sedemikian cepatnya. Melesat bagai peluru. Meninggalkan jejak-jejak perjalanan yang baik untuk dikenang, serta baik untuk dijadikan renungan.

Dan mulai 3 tahun yang lalu, saya mencoba menuliskan kenangan dan renungan tersebut dalam tulisan di setiap akhir pekan.

Boleh jadi benar adanya kata salah satu sensei saya, “Menulis adalah merapikan kenangan.”

6 bulan di Osaka, banyak warna yang telah terlukis, banyak kisah yang telah dibingkai, banyak kenangan yang suatu saat bakal dirindukan.

Pada umumnya, orang pergi ke Jepang itu untuk liburan. Mengambil cuti beberapa hari dan sejenak keluar dari rutinitas pekerjaan di Tanah Air.

Plesir ke Osaka dan menikmati malam di daerah Namba, lalu pergi ke Kyoto untuk melihat indahnya Momiji, atau sekedar ingin mencoba hawa dingin dan bersaljunya Hokkaido.

Kalau memakai ukuran itu, boleh jadi saya lebih dari sekedar liburan. Ketika pada umumnya orang-orang masuk jam kerja, maka kami masuk kelas untuk memperdalam pelajaran bahasa Jepang yang sebelumnya telah diberikan dasarnya selama di Jakarta.

Pada akhir pekan, kami diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi Osaka dan sekitarnya. Beberapa teman bahkan ada yang sudah sampai Hiroshima, dan Tokyo.

Semakin jauh dari Osaka, tentu akan memerlukan biaya yang lebih. Namun tenang, kalau misal ingin jalan-jalan tanpa mengeluarkan biaya juga bisa.

Pembelajaran yang kami lakukan disini tidak terpusat di kelas saja. Ada juga yang dilaksanakan di luar kelas yang berarti kami diberikan kesempatan jalan-jalan secara gratis.

Diantaranya, kunjungan ke Rumah Sakit. 3 bulan yang lalu, kami mendapatkan kesempatan berkunjung selama setengah hari ke Rumah Sakit Pendidikan Kansai di Osaka.

Rumah sakit yang memiliki jumlah tempat tidur sebanyak 773 buah ini memberikan gambaran awal terhadap kami bagaimana sistem pelayanan kesehatan di Negeri Sakura ini bekerja.

Para perawatnya yang selalu membawa tas kecil yang diselempangkan, isinya botol berisi cairan alkohol, yang setiap saat menjaga tangan para perawat agar tetap selalu bersih saat melayani pasien adalah salah satu hal yang menarik perhatian saya.

Setiap perawat saat bekerja, diberikan semacam ponsel khusus yang berfungi sebagai alat komunikasi internal di ruangan untuk melayani pasien.

Lalu, catatan keperawatan yang sudah terintegrasi dengan baik menggunakan sistem komputer yang bernama “denshi karute” adalah pengalaman baru bagi saya.

Jalan-jalan gratis selanjutnya adalah pergi berburu buah kesemek atau dalam bahasa Jepangnya, “kakigari”. Jadi kami boleh makan sepuasnya di kebun kesemek atau kebun “kaki”.

Setelah itu, kami pergi menikmati indahnya perubahan daun momiji di Yoshinoyama, Nara. Kami hanya perlu membawa bekal makanan sendiri, selebihnya biaya bus dan tiket gratis, karena sudah ditanggung oleh pihak pelatihan.

Lalu kami juga pergi ke Kyoto untuk merasakan pengalaman di pusat penanggulangan bencana atau lebih dikenal dengan nama Kyoto Bousai senta.

Disana kami merasakan simulasi bencana gempa dengan kekuatan 7 skala richter, lalu diterpa angin dengan kecepatan 30 meter perdetik, lalu evakuasi di dalam ruangan yang penuh dengan asap karena kebakaran dan cara memadamkannya juga.

Kemudian ada juga kegiatan volunteer atau dalam bahasa jepangnya di sebut “borantia katsudou”. Tugasnya ringan, yaitu bersih-bersih di taman di sekitar balai kota Osaka. Tiket kereta bawah tanah pulang pergi sudah ditanggung.

Saat disana, saking susahnya mencari sampah, yang ada malah pada foto-foto dengan sesama borantia orang jepang di taman sekitar balai kota Osaka di daerah Yodoyabashi.

Ada juga kegiatan yang dinamakan “field work”. Kami diberi uang jalan dan makan untuk pergi ke tempat yang telah ditentukan. Saat tugas itu, saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kuil Tenmangu yang terkenal dengan Tenjin matsurinya.

Tugas kami ada beberapa macam. Saat sampai tempat tujuan, harus bisa menggunakan telepon umum untuk menghubungi penanggung jawab pelatihan.

Lalu harus mewawancarai pengunjung di lokasi wisata tersebut. Dan yang terakhir, harus makan dan belanja!

Karena struknya harus kami tunjukan saat laporan berupa pembuatan koran yang tentu saja menggunakan bahasa jepang.

Selain itu kami juga ada kegiatan shalat idul fitri bersama orang Indonesia yang dilaksanakan oleh Konjen RI yang ada di Osaka yang saat itu bertempat di sebuah gedung dekat stasiun Nakamozu.

Kemudian ada acara gathering atau kumpul bersama dengan para senpai di marble beach, Izumizano, dekat dengan Bandara Kansai yang terlihat mengapung diatas laut.

Dan beberapa teman juga sempat merasakan megahnya universitas momoyama gakuin yang bangunannya mirip dengan kastil di film harry potter saat ujian kemampuan bahasa jepang minggu kemarin.

Serta masih banyak kegiatan lainnya yang tidak kalah menarik.

Dan jumat malam kemarin, semua kegiatan yang telah kami jalani ditutup dengan serangkaian acara “Owakarekai” atau pesta perpisahan yang sangat menarik sekaligus mengharukan.

Penampilan masing-masing kelas yang sangat ciamik dengan menampilkan budaya daerah Indonesia yang sangat khas ditambah 3 lagu dangdut oleh artis EPA 9 yang tidak diragukan lagi kehandalannya!

Tidak hanya kami yang memang suka berjoget saat ada lagu dangdut dinyanyikan, bahkan para orang-orang jepang pun tidak mau kalah saat ikut berjoget ria.

Kemudian, banyak dari teman-teman yang menitikkan air mata saat lagu “himawari no yakusoku” dinyanyikan oleh mbak maria yang diiringi lantunan gitar akustik.

Sesaat kemudian, suasana meriah lagi saat dangdut dinyanyikan. Emosi tertahan lagi saat melihat video “flashback” selama 6 bulan terakhir. Kemudian emosi dihentakkan kembali saat lagu Wakuncar didendangkan.

Emosi benar-benar terasa kayak naik roller coaster! Naik turun seiring acara berlangsung.

Acara pesta perpisahan memang telah usai dengan beragam cerita manisnya. Tinggal 2 kegiatan lagi yang harus kami lakukan sebelum benar-benar harus menuju ke tempat kerja masing-masing.

Pertama adalah persiapan final presentasi akhir sekaligus mempresentasikannya di hari selasa nanti.

Yang kedua, hari selasa besok, insyaallah akan berlangsung upacara penutupan rangkaian pelatihan yang telah kami jalani selama 6 bulan di Osaka ini.

Setelah itu, kami akan menjalani kehidupan di tempat kerja baru dengan berbagai hal yang telah menanti untuk di dikerjakan.

Tenang, kawan! Kita masih akan bertemu lagi di even-even pelatihan untuk menghadapi ujian nasional yang bertempat di Tokyo dan Osaka.

Dan bagi saya pribadi, insyallah mulai minggu depan saya akan mulai menulis di tempat yang berbeda. Di tempat dengan suhu yang tidak biasa bagi orang yang lahir di tanah tropis.

Karena haru rabu pagi nanti, saya akan berangkat ke Sapporo untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Ya, saya akan menuju ke Jepang bagian utara.

Menuju titik nol derajat celcius!

Osaka, 11 desember 2016, 08.40 waktu setempat, suhu luar 6 derajat celcius.

Uki

Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Foto Arsyad Syauqi.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: