Dari Sudut Desa Undaan, Sampai Nyasar ke Kyoto

23 Okt

#Bunka 20
Suhu Osaka malam ini berada pada suhu 17 derajat celcius. 1 derajat lebih rendah dibanding suhu ruangan operasi tempat saya kerja dulu. Kalau di luar tentu saja terasa dingin, khususnya kami yang berasal dari daerah tropis sepanjang tahun.

Bulan oktober sudah semakin mendekati akhir. Karena berada di negara yang terletak di belahan bumi bagian utara, maka ada hal yang berbeda dengan negara yang berada di garis khatulistiwa seperti Indonesia.

Contohnya adalah waktu shalat. Karena berpatokan dengan terbit dan tenggelamnya matahari, maka shalat maghrib hari ini sudah bisa dimulai pukul 17.16 waktu setempat. 

Karena ingin tahu, iseng saja saya membuka aplikasi tentang penunjuk waktu shalat. Dan memang benar adanya, semakin mendekati musim dingin, maka jumlah waktu siang akan menjadi lebih pendek dari malam.

Berkebalikan dengan waktu di musim panas!

Bulan depan, alias november, akan ada hari dimana matahari terbit pukul 06.45 pagi dan tenggelam pukul 16.48 sore. Jadi, waktu shalat shubuh baru dimulai pukul 05.17 dan selesai saat matahari terbit pukul 06.45. Dan waktu shalat maghrib akan dimulai pukul 16.48 sampai pukul 18.11 waktu setempat.

Hal-hal yang berbeda seperti inilah yang membuat saya semakin tertarik dengan negara ini. Masih banyak hal yang belum saya tahu. Masih banyak hal baru yang masih ingin saya rasakan.

Kalau berfikir tentang keadaan sekarang, saya jadi teringat kejadian sekitar 11 tahun yang lalu. Saat itu, saya masih ikut aktif di kegiatan pramuka di MTs Nahdlatul Muslimin, di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. 

Sebuah sekolah yang oleh para orang tua di kampung kami, dibilang “sekolah neng ngisor pring” (sekolah di bawah pohon bambu, sebuah ungkapan yang mengungkapkan betapa sekolah kami berada di pedesaan).

Sebuah foto setelah mengikuti kemah dalam rangka perlombaan di SMA Kramat Kudus, tahun 2005, membuat saya mengenang tentang berbagai hal yang telah saya lalui sampai saat ini

Bepergian ke tempat yang baru, memperhatikan ragam budaya dan bahasa setempat, membuat saya semakin memahami, bahwa dunia ini terdapat khazanah keilmuan yang luar biasa!

Sebelas tahun yang lalu, saya hanya baru berani bermimpi agar bisa bepergian ke seantero pulau Jawa. Kalau ke Bali, sampai sekarang pun masih menjadi keinginan belaka. Karena memang belum kesampaian. Maklum, saat itu belum punya biaya sendiri untuk kesana.

Bulan berganti, tahun beranjak. Akhirnya saya bertemu dengan buku Laskar Pelangi nya Andrea Hirata. Barulah saat itu saya berani bermimpi untuk bisa pergi ke Eropa! Sepertinya saya akan bisa belajar banyak hal, seperti tokoh Ikal dan Arai di Tetralogi buku tersebut.

Mimpi ke Eropa memang belum terwujud hingga hari ini. Namun, Sang Maha Pengatur telah memberikan jalan lain kepada saya. Alhamdulillah, dengan segala hal yang telah saya lalui, akhirnya saya diijinkan untuk menginjakkan kaki serta mulai belajar di Negeri Matahari Terbit ini.

Entah suatu saat nanti, apakah saya akan sampai di Eropa atau tidak, saya belum tahu. Yang saya tahu sekarang adalah terus bergerak, terus belajar. Seperti sebuah ungkapan yang dilontarkan oleh Einstein, 

“Hidup itu seperti naik sepeda. agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak.”

Dalam perjalanan ini, saya berusaha menikmatinya semaksimal mungkin. Karena masa-masa yang saya alami sekarang boleh jadi tidak akan terulang di masa depan.

Kalau dulu belajar sandi morse, sandi rumput, semaphore dan kawan-kawannya. maka sekarang saya juga berasa sedang belajar sandi berupa huruf kanji. 

Mulai dari yang sederhana dan berangsur-angsur semakin rumit. Namun, dibalik kerumitannya itu, kalau sudah bisa dipahami, akan mudah untuk dibaca. Ya, layaknya mempelajari berbagai jenis sandi saat masih mengikuti pramuka dulu.

Contohnya saat membaca huruf kanji penunjuk jalan. Kalau sudah bisa memahami kanji yang tertera, maka akan menjadi mudah. 

Contohnya, ketika menaiki kereta, maka kalau dari Osaka akan ada kereta dengan kanji 阪神 (hansin) dan 京阪 (keihan). Hansin adalah jurusan dari Osaka menuju Kobe, dan Keihan adalah Osaka menuju Kyoto. 

Bagaimana cara mengetahuinya? Begini, huruf “Han (阪)” adalah symbol atau huruf kanji yang mewakili Osaka (大阪). Dan “sin (神)” nya “hansin” adalah simbol dari Kobe (神戸). Dan “kei (京)” nya “keihan” adalah simbol dari Kyoto (京都).

Serta masih banyak lagi. Secara, huruf kanji yang berhasil dibukukan di Jepang jumlahnya lebih dari 40.000 huruf. Namun, yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari sekitar 2.000 huruf saja. itu kata salah satu sensei yang mengajar di Kelas kami.

Ibarat sebuah perjalanan, boleh jadi saya baru berjalan beberapa langkah saja hingga saat ini. Masih banyak hal yang menanti untuk dipelajari. Masih banyak hal menarik yang belum saya ketahui.

Sebagai penutup, saya selalu suka merenungi salah satu kalimatnya Andrea Hirata dalam Novelnya, Padang Bulan,

“Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat islam disarankan melihat banyak tempat dan bertemu banyak orang supaya nasibnya berubah.”

Mari kita kemasi barang, masukkan ke dalam ransel. Lakukan perjalanan. Mari kita temui banyak orang. beragam budaya. Lihatlah, Kawan, betapa luas dan indahnya dunia ini. 

Osaka, 23 Oktober 2016, 00.45 waktu setempat

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: