​Tunas Baru di Musim Gugur

16 Okt

#Bunka 19
Dengan bentuk sempurnanya, bulan masih menggantung di salah satu sudut langit Osaka di waktu shubuh kali ini. 

Kalau hanya memperhatikan perubahan bulan sesuai siklusnya, boleh jadi kita akan mendapati hal yang telah digariskan olehNya.

Perubahan bulan dari bulan baru, ke bulan sabit, serta ke bentuk bulan purnama sebagaimana yang telah pernah pelajari bersama di dalam ilmu pengetahuan alam di bangku SD dulu.

Dan karena siklus purnama inilah, tercipta salah satu puisi fenomenal yang terucap oleh Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta. Berikut petikannya,
Ada apa dengan cinta

Tapi aku pasti akan kembali

Dalam satu purnama

Untuk mempertanyakan kembali cintanya.

Bukan untuknya, bukan untuk siapa

Tapi untukku

Karena aku ingin kamu, itu saja.
Weisssss, mantep banget puisinya ya. Hayo jangan pada baper lho, hehe.

Perubahan siklus bulan, bagi umat muslim tentu aja kaitannya dengan penentuan waktu shalat. 

Kalau di Indonesia mungkin perubahannya tidak terlalu signifikan. Karena memang terletak di garis ekuator. Nah, bagi Jepang, yang secara geografis terletak di belahan bumi bagian utara, maka perubahan waktu yang dipengaruhi oleh siklus bulan akan memberikan dampak yang berbeda pula.

Bulan Juni yang lalu, saat pertama kali datang ke negara ini, kami langsung mencicipi rasanya musim panas yang sungguh berbeda dengan di Indonesia. 

Saat itu, matahari terbit sekitar 4.30 pagi dan terbenam 19.30 malam. Jadi, kami harus sahur sebelum jam 3 pagi, karena waktu shubuh saat itu mulai pukul 3 pagi dan baru bisa shalat tarawih setelah waktu menunjukan pukul 21.00 malam! 

Karena belum terbiasa, beberapa dari kami, termasuk saya juga, kadang melewatkan waktu sahur dan baru bangun jam 4 pagi untuk melaksanakan waktu shalat shubuh. 

Pengennya sih bisa bangun sebelum shubuh, tapi kebiasaan sahur yang sering dilakukan sekitar jam 4 saat di Indonesia, tidak bisa serta merta berubah. Ya, semua perlu proses tentunya.

Dan saat ini, kami sedang berada di musim gugur dengan segala suasananya. Bagi orang Jepang, musim gugur merupakan musim dengan suhu udaranya yang sejuk. 

Namun, bagi para pendatang yang baru pertama kali seperti kami ini, suhu di saat sekarang sudah termasuk dingin. Bagaimana tidak, suhu rata-rata di pagi hari berkisar di antara 16-18 derajat celcius. Dan suhu puncak di siang hari ini sesuai dengan petunjuk cuaca adalah 24 derajat celsius.

Padahal di tempat kerja yang dulu, yaitu di kamar operasi, saya harus berjuang keras agar terbiasa dengan suhu standarnya, yaitu 18-20 derajat celsius. Lah ini malah jadi suhu normal saat musim gugur, hehe.

Brrrrr, biasanya kalau pagi, saya suka buka jendela agar udara luar bisa masuk. Nah, kalo sekarang buka jendela, malah jadi menggigil karena suhu di luar ruangan lebih dingin daripada di dalam ruangan. Padahal ini masih bulan oktober, nah loh, apa kabar bulan desember nanti ya? Haha. 

Suhu terendah di kota Osaka tahun lalu saat musim dingin adalah -2 derajat celcius. Ya, di bawah nol derajat yang sudah bisa membekukan daging ayam yang disimpan seperti di dalam freezer. 

Kalau di Hokkaido, tahun kemarin, sampai -20! Dan saya bulan 12 nanti akan mulai bekerja di Hokkado. Jadi kita lihat nanti, mungkin saya akan akrab dengan beruang kutub dan penguin kali disana, wkwk. Lah emang pekerjaan saya pawang kebun binatang? Hehe. 

Namun, negara 4 musim tentu keadaannya berbeda dengan negara yang memiliki dua musim seperti di Indonesia (sebenarnya Indonesia memliki banyak musim sih selain itu, ada musim rambutan, musim durian, musim nikahan, dan sebagainya, hehehe). 

Kalau sudah masuk ke musim gugur seperti ini, maka fungsi dari AC akan berubah. Disini dikenal dengan istilah “Reibou” dan “Danbou”. Kalau reibou artinya pendingin ruangan, sebaliknya, danbou adalah pemanas ruangan.

Jadi, saat suhu udara mulai turun seperti ini, maka AC yang dipasang di kamar tidak lagi berfungsi mendinginkan ruangan, tapi sebaliknya, menghangatkan ruangan.

Di asrama kami, fix mulai hari ini fungsi pendingin akan dirubah menjadi pemanas. Syukur deh.

Selain tentang suhu, maka banyak keindahan yang terjadi di musim gugur. Yap, perubahan warna daun khususnya pohon maple atau yang lebih dikenal dengan nama momiji. Kalau saat ini, masih sedikit yang mengalami perubahan warna, karena memang masih proses. Kita tunggu saja di akhir bulan sebelas nanti ya.

Dan juga, cerita yang muncul di musim gugur kali ini adalah tumbuhnya tunas-tunas baru khususnya peserta program EPA 10 yang pengumuman matching pertamanya sudah diumumkan beberapa saat yang lalu. 

Ada yang berhasil, dan ada juga yang tertunda. Itu memang tidak bisa dipungkiri. Namun, semuanya telah bekerja keras dengan usaha terbaiknya, kita patut mengapresiasi hal tersebut.

Dan salah satu kabar yang menggembirakan bagi saya adalah 4 orang adik kelas se-almamater saya, dinyakan matching dalam tes EPA tahun ini dan insyallah tahun depan akan berangkat ke Jepang setelah mengikuti pelatihan 6 bulan di Jakarta tentunya.

Saya teringat hampir setahun yang lalu, sebelum saya berangkat ke Jakarta untuk memulai pelatihan bahasa. Saya bertemu mereka dan berbincang sebentar. “Kami ingin bisa berkarir di luar negeri juga mas,” kata mereka mantap. Akhirnya, sejenak kami berdiskusi untuk persiapan tes yang telah mereka lalui beberapa waktu yang lalu.

“Alhamdulillah, kami berempat dinyatakan lolos mas,” sebuah pesan singkat masuk di BBM masuk pas setelah pengumuman hasil matching pertama diumumkan. Saya ikut merasa bersyukur. 

Walaupun berjarak 5 tahun setelah tahun kelulusan saya, dan juga baru pertama bertemu, mereka akan menjadi penyemangat buat adik kelas selanjutnya.

Di tengah suasana musim gugur, saya ucapkan selamat kepada kalian semua. Aisyah Putri Nuriawati yang diterima di Kounoushima Health Care Facility for the Elderly, di perfektur Okayama. Aprilia D’Jaya, yang di terima di Special Nursing Home Ayumien, di Tokyo. Maulida F. Kamalia, yang diterima di Special Nursing Home Hamasaki, di Osaka. Dan Nur Fauziyah, yang diterima di Yonezu health care facility for the elderly, di perfektur Aichi. 

Kalau di Jepang ada istilah “Toudoufuken”. Yaitu jumlah provinsi yang berjumlah 47 di Jepang. Dan mereka berempat di tambah saya, sudah genap mewakili masing-masing daerah tersebut. Tou, adalah sebutan khusus untuk Tokyo, yaitu Tokyo Tou (東京都). Dou untuk Hokkaido (北海道). Fu untuk Osaka dan Kyoto, dan salah satu dari mereka berempat ada di Osaka Fu (大阪府), dan yang terakhir adalah Ken(県), yaitu sebutan untuk ke 43 daerah selain Tokyo, Osaka, Kyoto dan Hokkaido. 

Yap, karena mereka berempat, mulai bulan desember nanti, ketika mereka mulai pelatihan bahasa di P4TK Bahasa di Srengseng Sawah, Jakarta, saya juga akan mulai bekerja dan belajar di tempat kerja yang baru. Yaitu di Rumah Sakit Sapporo Higashi Tokushukai di Hokkaido.

Selesai pengumuman, selesai pelatihan, bukanlah sebuah akhir dari proses. Tetapi awal dari sesuatu yang baru. Baik kalian berempat, teman-teman yang lolos mathing lainnya, dan juga bagi saya, mari kita sama-sama lebih semangat untuk belajar! Ishhoni ganbarimashou!

Osaka, 16 Oktober 2016, 07.00 pagi waktu setempat

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: