Yang Dikira Kembaran Saya

11 Okt

#Bunka 13

Kemarin pagi, ada sebuah akun yang mengunggah foto dan mencantumkan nama saya di status tersebut. Saya baru mengetahuinya saat istirahat makan siang.

Saya hanya ketawa ditambah cengar cengir sendiri setelah melihat salah satu kouhai (adik angkatan pelatihan) mengomentari foto tersebut, “Loh, senpai pernah ke Kediri?”

Boro-boro pernah ke Kediri, kalau keinginan yang belum kesampaian, itu betul, hehe. Lalu, yang difoto siapa dong?

Yang jelas bukan kembaran saya, itu adalah adik saya yang sekarang sedang menempuh pengabdian setelah menyelesaikan pendidikannya selama 4 tahun di Pondok Modern Gontor Ponorogo.

Ngomong-ngomong soal Gontor, saya jadi teringat 6 tahun lalu saat masih duduk di tingkat dua kuliah keperawatan.

Gara-gara membaca novelnya Bang Ahmad Fuadi yang berjudul Negeri 5 Menara, saya punya keinginan untuk berhenti kuliah dan ingin masuk ke Pondok Modern tersebut.

Alasannya sederhana saja, saya ingin mempelajari bahasa agar bisa keliling dunia! Lalu menjelajah berbagai tempat dengan berbagai budaya dan bahasa yang berbeda. Saya pikir itu hal yang akan menyenangkan.

Namun, keinginan saya tidak mendapat restu dari orang tua. Karena memang saat itu tinggal setahun lagi kuliah selesai. Jadinya, tetap kuliah sambil terus memeluk mimpi-mimpi itu. Entah kapan mimpi itu terwujud, saya tidak ambil pusing.

Setelah lulus kuliah, berbagai lamaran pekerjaan saya kirimkan ke ibukota. Saat itu, hanya ada satu panggilan tes dilanjutkan dengan wawancara, kemudian sayonara karena tidak ada panggilan lagi. Lalu datanglah kesempatan untuk berkarir namun tempatnya jauh, yaitu Batam.

Setelah mengantongi ijin dari orang tua, kemudian saya berangkat ke luar pulau untuk pertama kali. Walaupun belum sampai ke luar negeri, ya Batam kan juga dekat dengan Singapura, pikir saya.

Di tahun pertama kerja itulah, akhirnya adik saya yang justru mendapat kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan di Gontor.

Awalnya dia ingin melanjutkan sekolah menengah atas di Kudus saja. Namun, setelah dipertimbangkan baik-baik selaras dengan tujuan dan juga perkiraan biaya, akhirnya di Gontor lah dia mendapatkan kesempatan tersebut.Tentunya setelah melewati tes yang berlapis-lapis.

Kalau berbicara tentang perbedaan saya dan adik, mungkin akan menjadi hal yang menarik. (Sebenarnya ini kesempatan untuk ngomongin dia sih. Nanti juga kalau dia baca status ini, akan men-counter attack tulisan saya ini, hehe).

Kalau sekarang saya agak putihan. Kayaknya ini udah paling terang, yang sebenarnya warna kulit saya masih aja tetep kuning kecoklatan. Namun, setidaknya lebih terang dibanding adik saya yang sekarang agak gelap karena 4 tahun dijemur dibawah terik matahari kawah candradimuka selama mesantren di Ponorogo.

Selama 4 tahun terakhir, ketika dia berpanas-panasan karena berbagai kegiatan yang ada disana. Saya sebaliknya, dengan segenap tenaga harus membiasakan diri dengan dinginnya kamar operasi tempat bekerja.

Ketika dia berjuang menghafal berbagai kosakata baru, baik dalam bahasa inggris ataupun bahasa arab, saya sibuk menghafal dan memahami berbagai jenis operasi beserta alat-alatnya.

Ketika saya pernah suatu waktu setahun sekali baru bisa pulang karena pertimbangan biaya untuk ambil cuti, adik saya yang walaupun dekat saja, pernah satu setengah tahun baru bisa pulang karena alasan akademik.

Lalu kesamaannya, kami sama-sama sedang mengejar mimpi masing-masing.

Dulu saya belum mendapat kesempatan untuk belajar bahasa inggris secara intensif, namun sekarang saya mendapatkan kesempatan belajar bahasa jepang selama setahun penuh dengan berbagai fasilitas yang melebihi dugaan. Dengan catatan khusus, semua ini gratis dan kami malah mendapatkan uang saku!

Boleh jadi, saat itu belum menjadi jalan saya. Allah lebih mengetahui jalan yang terbaik dengan belum memberikan kesempatan saat itu dan menggantinya sekarang dengan berbagai hal yang sedang saya lakukan.

Dan adik saya, dengan jalan yang ditempuhnya sekarang, sudah jauh melebihi saya dalam bidang bahasa arab dan bahasa inggris. Karena memang lingkungan Gontor yang sudah dirancang sedemikian rupa agar peserta didiknya bisa belajar kedua bahasa tersebut secara aktif.

Ketika saya sudah mulai terbiasa dengan bahasa jepang, maka adik saya sekarang sudah memahami kedua bahasa itu yang mungkin sudah mencapai tingkat mahir.

Ketika saya mulai menulis karangan dengan bahasa Indonesia dan Jepang, maka adik saya di status-status facebooknya, menulis tulisan dengan bahasa arab dan inggris.

Untuk tulisan bahasa inggris, saya masih agak mengerti, walaupun harus buka kamus kalau ada kosakata sulit. Namun, untuk bahasa arab, saya benar-benar gak paham dengan apa yang ditulis.

Saya bisa berbahasa inggris, namun masih sebatas baca tulis saja, itupun ketika 4 tahun lalu terakhir ikut tes Toefl belum tembus angka 500. Kalau diajak bicara, walaupun di dalam kepala sudah ada kosakatanya, namun susah sekali keluar.

Seperti beberapa waktu yang lalu di Masjid Kobe, “Can you speak English?”, tanya seorang bule asal Yordania. “Hai, sukoshi” (Iya, sedikit), tanpa sengaja jawabnya malah pakai bahasa Jepang. Lah ini gimana? kok yang keluar bahasa Jepang, haha.

Oleh karena itu, bagi diri saya sendiri, bagi adik saya, juga boleh jadi untuk semua orang yang pernah mengalami kegagalan. Tidak secara otomatis pintu itu akan tertutup selamanya.

Ketika satu pintu tertutup, maka masih ada pintu-pintu lain yang menunggu untuk dibuka. Kira-kira seperti itu petuah agung yang selalu diingatkan oleh bapak saya.

Baiklah, kurang lebih masih tiga bulan lagi saya menjalani pelatihan di tempat ini, sebelum benar-benar terjun ke dunia nyata di rumah sakit nantinya.

Dan di saat ini juga, seperti 4 tahun lalu, saya juga memberikan tantangan kepada adik agar bisa melangkah ke tahap selanjutnya.

Ibarat sebuah lahan, maka Gontor adalah lahan yang subur untuk mencari informasi bagaimana caranya untuk bisa mencari informasi ke belajar luar negeri.

Teruntuk adikku, Mahfud Wafda, kutunggu kiprahmu!

Osaka, 4 September 2016, 06.20 waktu setempat
Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: