​Berkenalan dengan Ilmu Keperawatan dalam Huruf Kanji

28 Agu

#Bunka 12

Akhir pekan, masih dengan suasana Osaka yang panas. Panasnya beda dengan di Indonesia, kalau disini, panas kering. Serasa angin itu diem saja.

Jadi, kalau di Indonesia ada penggalan lirik lagu “Coba kita bertanya pada rumpung yang bergoyang”, kurang pas kalau digunakan disini. Lah,  gimana mau bergoyang, angin saja diem, hehe.

Sebelum masuk ke tulisan selanjutnya. Bolehlah saya mengucapkan “Otsukaresamadesita!”, atau selamat atas usaha teman-teman calon perawat dan careworker EPA angkatan 10 yang telah menyelesaikan misi berikutnya, yaitu wawancara dan medical check up.

Boleh jadi, ada beberapa hasil cek kesehatan masih pending atau perlu diulang karena beberapa hal. Namun, lepas dari itu, teman-teman telah melewati tahap selanjutnya! Tinggal selangkah lagi yaitu proses matching. Semoga teman-teman mendapatkan hasil yang terbaik!

Kami yang sudah berada di Jepang, tidak lupa selalu mendoakan kelancaran proses teman-teman yang sekarang dilanda cemas dan deg-degan. Tenang, kami dulu juga merasakan hal yang sama.

Kami mengerti betul bagaimana arti kata “menunggu”. Mulai dari pemberkasan, pengumuman, kemudian tes keperawatan dan psikotes. Lalu menunggu lagi pengumuman untuk wawancara dan tes kesehatan.

Dan akhirnya, setelah proses yang terakhir ini, yang awalnya saya kira sudah selesai, masih ada satu langkah yang mendebarkan. Proses matching yang hasilnya keluar sebulan kemudian!

Cukup melelahkan hati dan pikiran. Namun, memang begitulah adanya.

Baiklah, cukup sampai disitu dulu nostalgianya. Kelamaan mengenang masa lalu bisa-bisa baper nantinya, hehe.

Kita menuju ke masa sekarang! Wusshhhhh, *pakai lorong waktu ceritanya.

Teman-teman yang mengikuti pelatihan disini, baik yang di Osaka, Tokyo, maupun Aichi, sudah hampir memasuki bulan ketiga. Alhasil, sekitar tinggal 3 bulan lagi kami akan memasuki dunia baru. Yaitu, dunia pekerjaan yang sesungguhnya.

Lah, memang selama ini belum kerja ya? Kira-kira itu yang sering ditanyakan kepada saya dan teman-teman disini.

Di dalam kontrak, kami memang sudah terhitung kerja mulai bulan desember tahun lalu. Namun, kami wajib mengikuti pelatihan bahasa jepang selama setahun penuh!

Diawali dengan 6 bulan pertama pelatihan bahasa jepang di Indonesia, tes kemampuan bahasa Jepang setara N5 (yang tahun ini dinaikan menjadi N4) dan Medical Check Up (MCU).

Alhamdulillah semua lolos N5. Tetapi sayangnya, beberapa teman terhalang hasil MCU hingga tidak dapat melanjutkan tahap berikutnya, yaitu pelatihan 6 bulan kedua di Jepang.

Nah, saat di Jepang inilah kelas kami terbagi berdasarkan program yang diambil. Kelas dipisah antara calon Kangoshi (perawat) dan Kaigofukushishi (careworker/perawat lansia).

Untuk tempat pelatihan saya di Osaka, calon kaigofukushishi dibagi menjadi 3 kelas, yaitu A sampai C. Sedangkan calon kangoshi dibagi menjadi menjadi 4 kelas, yaitu A sampai D.

Setiap kelas mendapatkan materi yang sama. Tetapi dengan kecepatan berbeda. Menyesuaikan kemampuan teman-teman di setiap kelas.

Sejak desember tahun lalu, kami fokus belajar ilmu bahasa Jepang saja. Mulai yang paling dasar, lalu berangsur-angsur menuju bagian yang sulit.

Hingga satu minggu yang lalu, akhirnya, para calon kangoshi bertemu kembali dengan ilmu keperawatan atau senmon kango.

Sebagian besar memang sudah kami pelajari saat duduk di bangku kuliah di Indonesia. Contohnya, materi persiapan mental di tempat kerja, keperawatan geriatrik, fundamental keperawatan, dan masih banyak lainnya.

Bedanya, kali ini kami harus mengingat, memahami dan menghafal kembali ilmu keperawatan itu dalam huruf kanji!

Pengajarnya pun adalah para perawat Jepang yang sudah memiliki pengalaman kerja diatas 30 tahun!

Secara pengalaman, teman-teman sudah bekerja rata-rata diatas 2 tahun, bahkan ada yang 8 tahun di angkatan saya ini. Maka penguasaan teori dan praktik lapangan tidak diragukan lagi.

Nah, sekarang tantangannya adalah bagaimana menerjemahkan semua pengalaman dan pengetahuan tersebut ke dalam bahasa yang benar-benar baru.

Berat? Iya, saya pun merasakannya. Namun, tidak mustahil untuk dilakukan, bukan?

Untuk itu, sebagai pengantar masuk ke dalam dunia keperawatan Jepang. Buku pertama yang kami pelajari adalah 場面から学ぶ看護の日本語 (Bamen Kara Manabu Kango no Nihongo – Belajar Bahasa Jepang tentang Keperawatan dari Berbagai Keadaan di Lapangan) yang tentu isinya bahasa jepang semua. Namun dipermudah dengan terjemahan kosakata dalam bahasa Indonesia berikut huruf kanjinya. Sangat membantu bagi saya pribadi.

Kalau tertarik dengan buku ini, tentu harus beli. Namun, kalau ingin tahu daftar kosakatanya, bisa di download secara gratis di website berikut bonjinsha.com/senmon-nihongo/. Siapa tahu ada yang berminat menemani kami belajar. Walaupun masih di Indonesia atau di negara manapun yang boleh jadi, suatu saat berkeinginan menjadi perawat di Jepang.

Belajar di kelas adalah hal yang utama. Namun, jika ada kesempatan di akhir pekan ada kesempatan untuk jalan-jalan, rasanya sayang untuk dilewatkan.

Karena dengan jalan-jalan, kita juga bisa belajar berbagai hal tentang Jepang langsung di lapangan.

Seperti hari kemarin. Yang biasanya pada hari sabtu kami belajar sampai jam 16.30 sore, kemarin hanya setengah hari saja.

Setelah itu, kami beserta sensei jalan-jalan ke Nara dan melihat festival Tanabata dan Lampion dalam festival tenpyou tanabata di Kota Nara, sebelahnya Osaka(天平たなばた祭り).

Oh ya, hari minggu ini adalah hari terakhir pameran Indonesia di Osaka, ada yang mau ikut?

Osaka, 28 Agustus 2016, 05.30 waktu setempat

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: