Minggu di Osaka

21 Agu

#Bunka 11
Hari minggu pagi di negeri antah berantah, suasananya sangat berbeda jauuuuh dengan kampung halaman di pojok kota Kudus sana. 

Di Kudus kala pagi hari, bisa dengan mudah menemukan orang-orang dengan senyum merekah pergi ke sawah maupun melaksanakan kewajiban mengajar di madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. 

Kalau disini, sunyi, sepi, bahkan suara klakson pun tidak terdengar. Itu karena pengguna sepeda onthel berkali-kali lipat jumlahnya dibanding kendaraan bermotor.

Kalaupun terdengar keramaian, paling juga teriakan anggota tenis lapangan yang sedang unjuk kebolehan. Suara mereka itu terdengar jelas karena tepat dibelakang gedung pelatihan kami, ada 4 lapangan tenis milik Universitas Osaka yang letaknya persis sepelemparan batu dari sini.

Kalau lagi penat karena susah menghapal kosakata atau pusing dengan coretan kanji yang meliuk-liuk itu, sesekali saya melihat para mahasiswa yang sedang berlatih tenis dari balkon kamar lantai 7. Kelihatannya asik, hehe, boleh tuh kayaknya dicoba kapan-kapan.

Baiklah, sebelum dikomplain karena tulisan saya yang sering nggak fokus dan jarang membahas satu topik secara runtut, saya minta maaf dulu sebelumnya. Karena ini adalah catatan mingguan yang isinya bebas. 

Ibarat gado-ado, nggak akan enak kalau isinya kol sama saus kacang aja. Jadi, yang masih berkenan membaca sampai kali ini, saya haturkan banyaaaaak terima kasih sambil sungkem satu-satu.

Ngomong-ngomong soal gado-gado, kira-kira 20 menit dari tempat pelatihan ini ada sebuah warung Indonesia yang penjualnya berasal dari bali. Nama warungnya Balibong. Jujur, saya belum tahu nama mas-mas penjualnya, kami hanya memanggil “Bli” yang artinya Mas atau Akang. 

Karena setiap hari minggu kantin tutup, maka kami harus beli makanan sendiri. Kalau ada dapur umum, mungkin akan lebih enak. Beberapa teman bilang, rasanya tangan sudah “gatal” pengen masak sendiri, namun, karena memang tidak disediakan dapur untuk peserta. Apa boleh buat, jadinya hari minggu harus keluar deh.

Bagi yang kangen masakan Indonesia, tempat ini menjadi alternatif untuk sekedar mengobati lidah yang rindu dengan aneka masakan Indonesia.

Menu yang ditawarkan pun bermacam-macam. Mulai dari tempe penyet, ayam bumbu bali, gado-gado, lumpia, nasi goreng, dan masih banyak lagi. Dan menu andalan di tempat ini adalah nasi campur! Rasanya ultimate lah pokoknya!

Lalu soal kegiatan di hari minggu, ada dua pilihan yang tersedia. Bisa jalan-jalan atau bersantai seharian di kamar.

Soal jalan-jalan, banyak tempat yang bisa dikunjungi disini. Kalau dibuat list bisa sangat panjang. Saya sendiri, mulai dari datang 2 bulan lalu, sudah mengunjungi Taman benteng Osaka, Dotonbori di Namba, Akuarium Raksasa di pojok Osaka, Masjid Osaka di dekat stasiun Chibune, Masjid Kobe di Hyogo, Pantai Marble di umisano dekat bandara Kansai, perayaan musim panas di kuil Tenmanggu, festival kembang api di dekat Yodoyabashi, dan salah satu favorit saya, toko buku Kinnokuniya di atas stasiun Umeda!

Kalau hari minggu, kita bisa menggunakan tiket terusan atau sebutan lainnya one day pass ticket. Dengan membayar 600 yen, dari pagi sampai jam 12 malam bisa keluar masuk seluruh stasiun kereta bawah tanah yang ada. Catatan, hanya stasiun bawah tanah. Kalau pindah ke kereta yang ada diatas tanah, semisal kereta cepat atau kereta biasa, harus membeli tiket lagi tentunya.

Lokasi jalan-jalan saya sebagian besar masih berada di wilayah Osaka, keluar Osaka hanya sekali, saat ke Masjid Kobe karena terletak di perfektur yang berbeda, yaitu di Hyogo. Beberapa teman, bahkan ada yang sudah pernah sampai Nagoya, Nara, dan lain lagi. 

Itu kalau yang ingin jalan-jalan. Namun, kalau jalan-jalan terus, tentunya nggak baik buat kesehatan kantong dan dompet bukan. Oleh karena itu, harus diatur dengan baik kapan waktunya jalan dan kapan waktunya bersantai di kamar biar hari esok bisa lebih fresh saat pelajaran dimulai kembali.

Dan hari minggu ini, saya ikut rombongan yang bersantai di kamar saja, hehe. Karena seminggu ini lumayan panjang waktu belajar bagi kami. Ada jam tambahan karena mulai masuk pelajaran keperawatan yang kesemuanya itu menggunakan kanji!

Dulu saat baca buku Fundamental Keperawatan dan Keperawatan Medikal Bedah yang berbahasa Indonesia saja sudah merepotkan, apalagi ini dengan bahasa yang berbeda. Tentu menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan teman-teman yang mengambil program ini.

Sulit memang iya, berat memang tidak bisa dipungkiri, namun mustahil itu tidak. Nyatanya, tahun ini ada 11 perawat Indonesia yang lulus ujian negara dan mendapatkan lisensi sebagai perawat di Jepang.

Baiklah, sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ucapkan selamat berjuang kepada 98 orang calon kangoshi dan 593 orang calon kaigofukushishi yang dari hari jumat kemarin hingga hari kamis minggu depan telah, sedang, dan akan melakukan wawancara dengan pihak Jepang dan tes kesehatan.

Semoga diberi kelancaran bagi semua! Kami tunggu kalian di Jepang!

Osaka, 21 Agustus 2016, 11.20 waktu setempat

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: