Japanese Quiz dan Wawancara Perawat ke Jepang?

7 Agu

#‎Bunka‬ 9

Dimana bumi dipijak, maka disitulah cerita dituliskan! Eh, salah ya, hehe. Harusnya kan, dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung.

Hari ini adalah tanggal 8 bulan agustus, berarti saya sudah berada di negeri antah berantah ini hampir 7 minggu. Minggu depan akan masuk minggu kedelapan, dan kalau kalau sudah 9 bulan 10 hari, ah, ngaco ah, hehe. Kok jadi baper malahan.

Sebelum saya lanjutkan nulisnya, saya ucapkan selamat kepada teman-teman perawat Indonesia yang kemarin lolos di tahap pemberkasan program perawat ke Jepang angkatan 10 tahun ini.

Gimana tes keperawatan dan psikotesnya? Pasti masing-masing punya cerita yang berbeda. Kalau punya cerita, ayok ditulis, biar saya juga bisa baca. Saya tunggu ceritanya ya..

Lalu, denger-denger dari beberapa temen (baru) yang chatting di whatsapp maupun inbox facebook, 2 hari lagi adalah hari pengumuman tes tersebut.

Saya yakin, rasa deg-degan sampai ingin minum es degan pun dirasakan oleh semua calon peserta, hehe. Saya yang ikut aja ikut deg-degan nunggu hasilnya. Pokoknya saya selalu ikut berdoa buat kesuksesan temen-temen semuanya!

Minggu ini, sebenarnya saya ingin bercerita tentang kegiatan Hanabi, atau festival kembang api yang ada di Jepang. Namun, saya urungkan niat itu, karena ada pertanyaan yang harus saya jawab terlebih dahulu.

“Mas, wawancaranya gimana ya? Japanese quiz itu ngapain aja?” kira-kira itulah pertanyaan yang banyak ditanyakan kepada saya, dan mungkin kepada teman-teman saya yang telah di Jepang saat ini.

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita flashback setahun yang lalu. Lorong waktu mana lorong waktu?

Bulan agustus tahun kemarin, merupakan bulan yang mengesankan bagi saya. Karena saat itulah pertama kalinya mengikuti wawancara dengan pihak asing, yaitu orang jepang.

Sebelumnya, saya juga pernah wawancara, namun dengan HRD sebuah rumah sakit swasta di daerah Jabodetabek. Hasilnya, setelah wawancara usai, usai pula prosesnya alias saya belum bisa bergabung menjadi tenaga perawat di rumah sakit tersebut.

Kembali ke topik. Tahun kemarin, tempat wawancara dibagi menjadi 3. Di Jakarta ada 2 tempat, dan satu tempat lagi ada di Medan.

Tempat wawancara saya dan teman-teman calon perawat atau Kangoshi, bertempat di Hotel Alila, di daerah Pecenongan, Jakarta. Lalu, untuk teman-teman calon Careworker atau Perawat lansia, bertempat di hotel Sari Pan Pasific yang terletak di dekat bundaran Hotel Indonesia.

Saat itu, hari rabu, tanggal 19 Agustus, adalah hari yang mendebarkan. Bagi saya dan teman-teman yang berasal dari luar kota, harus datang minimal satu hari sebelum hari wawancara, dan mencari penginapan sendiri. Beberapa teman juga ada yang menginap di tempat saudaranya di Jakarta.

Proses wawancara dimulai pukul 8 pagi, dan kami diharuskan datang minimal setengah jam sebelumnya untuk melakukan daftar ulang atau registrasi.

Perlengkapan yang dibawa saat itu adalah, memakai baju batik lengan panjang (ini peraturan dari BNP2TKI) dan alat tulis untuk mengerjakan tes. Tahun kemarin, ada pembagian pensil gratis, namun untuk amannya, mending bawa sendri, daripada bingung kalau stoknya habis nanti.

Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan!

Teman-teman yang sudah ikut tes keperawatan kemarin, pasti dapat modul singkat tentang tatacara menulis huruf hiragana dan katakana kan? Nah, mumpung masih ada waktu, bagi yang belum hafal, segera dihafalkan, karena kalau belum bisa, bisa susah kalau pas tes Japanese quiz nanti loh!

Setelah registrasi, kami diberi tanda pengenal berupa nama dan nomor peserta. Tanda pengenal tersebut harus dipakai selama proses wawancara sehari tersebut. Lalu kami memasuki ballroom hotel tersebut dan duduk di tempat yang telah disediakan.
Setelah waktu menunjukan pukul 8 pagi, maka acara pun dibuka.

Saya pun semakin deg-degan. Saat itu, saya duduk di bangku nomor dua dari depan. Dan di sekeliling kami, sudah ada 7 perwakilan dari 21 rumah sakit Jepang yang membutuhkan calon karyawan baru, untuk datang untuk melihat kami, para calon peserta.

Jadi, perwakilan jepang itu ya yang melakukan wawancaranya? Bukan.

Mereka datang untuk memperkenalkan institusi yang mereka wakili. Semacam stand produk yang menawarkan barang dagangannya, nah, mereka juga mengenalkan profil rumah sakit masing-masing, di sela-sela proses wawancara.

Saat itu, peserta kangoshi yang hadir ada sekitar 96 orang. Masih ada sekitar 10 orang lagi, namun mereka mengikuti wawancara di Medan di hari yang berbeda.

Setelah acara pembukaan selesai, ada penjelasan singkat tentang proses wawancara di hari tersebut. Inti dari penjelasan itu adalah, kami harus ngapain aja dan kemana saja. Karena oh karena, tempat wawancaranya ada di ruangan yang berbeda. Bukan di ballroom hotel tersebut.

Penjelasan acara berlangsung kurang lebih selama 1 jam oleh orang Jepang yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Lalu, acara dilanjutkan dengan wawancara.

Saya lupa durasi waktu pastinya, kalau tidak salah, setiap proses wawancara, berlangsung selama 20 sampai 30 menit. Ada yang lebih cepat, juga ada yang lebih dari estimasi waktu itu. Mungkin keasyikan ngobrol sama pewawancaranya kali, hehe.

Untuk wawancaranya, dibagi pergelombang. Setiap gelombang isinya 10 peserta. Sementara 10 peserta tersebut melakukan wawancara, yang lain menunggu di ballroom hotel sambil berkeliling ke stan-stan yang sudah ada. Tahun kemarin, perwakilan yang datang berasal dari Hokkaido, Wakayama, Osaka, Tokyo, Aichi, Yamaguchi, dan Nagano.

Di ruangan yang terpisah, sudah menunggu 10 bilik yang digunakan untuk wawancara. Disana, sudah menunggu dua orang. Yang satu adalah pewawancara, yang tentu saja orang jepang. Dan yang satunya lagi adalah penerjemah.

Apakah saat wawancara harus menggunakan bahasa jepang? Tidak harus.

Namun, kalau sudah bisa berbahasa jepang, walaupun sedikit, tentu akan menjadi nilai tersediri. Dari cerita teman tahun kemarin, saat jikoshoukai, atau pengenalan diri sendiri, rata-rata menggunakan bahasa jepang. Walaupun setelah itu menggunakan bahasa Indonesia lagi.

Sikap dan posisi duduk juga sangat diperhatikan oleh pewawancara. Kalau posisi duduknya tidak tegap, boleh jadi dianggap tidak serius mengikuti wawancara.

Lalu, saat wawancara yang ditanyakan apa saja?

Tentu yang utama adalah perkenalan. Kan ada pepatahnya bukan? Kalau tidak kenal maka tidak sayang, hehe.

Setelah perkenalan, maka seputar diri kita akan ditanyakan. Bisa tentang keluarga, asal sekolah darimana? pernah bekerja dimana? berapa lama? pernah belajar bahasa jepang atau belum? kalau sudah, kapan? apakah saat SMA? Atau mengambil kursus tertentu?

Lalu, pertanyaan seputar program ini. Tahu program ini darimana? Diberitahu kawan, kah? Mencari sendiri di internet kah? Motivasinya apa? Bagi calon perawat, kan sudah bekerja, apakah tidak sayang meninggalkan pekerjaan sebelumnya, apalagi yang sudah menjadi karyawan tetap? Sudah punya senpai (senior) di jepang apa belum? Kalau sudah, namanya siapa, tempat kerjanya dimana?

Lalu pertanyaan seputar Jepang. Pandangan tentang jepang itu bagaimana? Apa yang diketahui tentang jepang? Budaya daerah dan budaya kerjanya seperti apa? Mengapa ingin ke Jepang? Tidak ke negara yang lain aja? Cara membina hubungan dengan sesama karyawan nanti bagaimana? Apalagi beda bahasa dan budaya, dan lainnya. Boleh jadi, kawan-kawan yang lain ada pertanyaan yang berbeda.

Setelah wawancara dirasa cukup, maka kita akan diambil video dengan waktu sekitar 30 detik,untuk melakukan presentasi singkat tentang rangkuman wawancara barusan. Minimal, isinya adalah perkenalan singkat dan motivasi untuk bekerja di jepang. Kalau masih ada waktu, silahkan ditambahkan yang lain, asal masih ada hubungannya.

Kan gak lucu juga habis perkenalan tiba-tiba cerita kucingnya yang hilang. Yang ada kita dianggap main-main lagi ntar.

Nah, itu bagian wawancaranya.

Sekarang kita kembali ke ballroom. Menurut pengalaman saya dan teman-teman tahun kemarin, setelah menerima penjelasan tentang profil rumah sakit, maka akan ada sesi tanya jawab.

Oleh sebab itu, sebisa mungkin, kita harus melakukan persiapan sebelum bertanding! Dalam artian, mulai saat ini, silahkan browsing tentang daerah-daerah yang ada di jepang.

Semisal, Hokkaido, maka kita akan bisa bicara tentang Yuki matsuri atau perayaan musim dingin, atau bisa bicara tentang keindahan kota pelabuhan di Hakodate, walaupun belum pernah kesana. Kalau Osaka, ada Osaka Castle yang terkenal dan daerah wisata belanja di Namba. Kalau Tokyo, ada apa aja. Dan daerah lainnya.

Jadi, kita bisa menghindari pertanyaan monoton, yang sebenarnya tidak begitu disukai oleh mereka. Contohnya adalah soal gaji, fasilitas, dan lamanya hari cuti. Lalu, apakah itu tidak boleh ditanyakan? Boleh-boleh saja, silahkan. Namun, saat penjelasan, mereka akan dengan gamblang menjelaskan hal tersebut.

Semisal saat itu belum dijelaskan, maka setelah wawancara selesai, kita akan diberikan sebuah alamat web, dengan kata sandi tertentu, untuk bisa membuka profil rumah sakit dan informasi detail lainnya. Soal gaji, lama hari cuti, fasilitas, pembimbing saat di tempat kerja, dan lainnya akan tertera dengan jelas. Jadi, sebisa mungkin pertanyaan semacam itu kalau bisa dihindari.

Setelah semua peserta melakukan wawancara. Maka selanjutnya adalah Japanese quiz. Isi dari tes tersebut adalah menulis huruf hiragana dan katakana secara lengkap, menebak kosakata sederhana dalam bahasa jepang, dilanjutkan dengan perubahan kata dalam bahasa jepang.

Kalau dalam bahasa inggris ada istilah present, continuous, dan past. Dalam bahasa jepang pun ada. Semisal, kata kerja “pergi”, yang artinya akan atau kebiasaan adalah “ikimasu”. Bentuk kamusnya adalah “iku”, bentuk negatifnya adalah “ikimasen”, bentuk lampaunya adalah “ikimasita”, dan bentuk lampaunya adalah “ikimasendesita”. Hehe, rumit ya.

bagi yang ingin belajar, ada buku yang bagus yang biasa dipakai oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa jepang. Namanya adalah buku “Minna no Nihongo”. Ada dua jilid, setiap jilid ada dua buku, yang berbahasa jepang dan terjemahannya.

Sebenarnya, buku ini akan diberikan gratis kepada peserta yang lolos dan melakukan pelatihan di Jakarta. Namun, kalau ingin beli sendiri dan belajar duluan, tidak ada salahnya.

Lalu, kalau saya berminat membeli, dimana yang jual? Saya cek di toko jual beli online banyak yang jual, salah satunya adalah Tokopedia (saya bukan promosi ini loh! Sebagai contoh saja, hehe).

Dan yang terakhir adalah aptitude test.

Ini tes apaan ya? ternyata sama dengan psikotes! Hanya saja jumlah soalnya lebih sedikit dibanding dengan tes sebelumnya. Jadi, tidak usah terlalu khawatir. Simpaisinaide kudasai!

Dan sehari setelah tes adalah Medical check up, jadi jangan terlalu diforsir tenaganya ya.

Wah, ternyata panjang juga tulisan kali ini. Gomenasai ya.

Masih ada pertanyaan lain juga yang bisa jadi tulisan lagi, namun, saya simpan untuk minggu depan insyaallah. Biar gak keterlaluan panjangnya, hehe.

Baiklah, selamat berakhir pekan buat semua ya!

Meminjam slogan saat saya dulu masih kuliah, semoga selalu displin diri, raih prestasi, sehat semua, mendunia!

Osaka, 8 Agustus 2016, 07.52 waktu setempat
Uki

IMG_20160731_102307[1]

Iklan

11 Tanggapan to “Japanese Quiz dan Wawancara Perawat ke Jepang?”

  1. Eŕna 14 Agustus 2016 pada 10:00 pm #

    Halo mas uqi salam kenal… saya saat ini sedang mngikuti jejak mas uqi nih.. baru selesai spikotes + kprwatan. Minggu depan aptitude+japanes quiz+mcu. Mohon bantuannya mas. Kalau MCU yg di tes apa aja ya?

    • arsyad syauqi 14 Agustus 2016 pada 10:15 pm #

      MCU yang dites sesuai yang tertera di web bnp2tki mb

  2. Shinta 15 Agustus 2016 pada 4:59 pm #

    Hallo ka, selamat sore mau tanya dong japanes quiz itu dlm bentuk soal multiple choice atau lebih ke cara belajar penulisan?? Soalnya diatas ditulis kata ganti dlm bahasa jepang

    • arsyad syauqi 15 Agustus 2016 pada 5:17 pm #

      Tahun kemarin, ada pilihan ganda sama esai. Ada perubahan kata kerja juga

      • Shinta 15 Agustus 2016 pada 7:23 pm #

        Di tahun kaka bnyak gak yg tidak lolos di japanes quiz??

      • arsyad syauqi 17 Agustus 2016 pada 4:03 pm #

        Aku krg tau yg gak lolos karena Japanese quiz. Tp dr 106 orang yg wawancara, yang lolos matching ada 51 orang

  3. Eŕna 17 Agustus 2016 pada 3:59 pm #

    Ya allah itu kan banyak banget mas uqi point2 yg di periksanya…. treadmill sama audiometri juga..ngeri

    • arsyad syauqi 17 Agustus 2016 pada 4:02 pm #

      Treadmill gak ada, tapi audiometri ada, semoga lancar ya

      • Eŕna 17 Agustus 2016 pada 7:48 pm #

        Terimakasi mas uqi..

  4. mykyu88 26 Agustus 2016 pada 12:36 pm #

    Assalamualaikum. Mas uqi nanya lagi nih kalo mcu yg setelah interview dg mcu yg sebelum keberangkatan poin2 nya yg diperiksa sama ? soalnya kan bayarnya beda

    • arsyad syauqi 26 Agustus 2016 pada 12:45 pm #

      Kebanyakan sama, seingatku yg gak ada itu audiometri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: