Perawat ke Jepang?

31 Jul

‪#‎Bunka‬ 8

Ohayou Gozaimasu, Minasan. Selamat Pagi semuanya. Sugeng enjang kagem sederek sedoyo!

Bagaimana kabar semuanya di hari minggu pagi ini? Semoga senantiasa sehat dan ceria selalu.

Baiklah, mari kita lawan kemalasan di awal hari minggu ini dengan menulis dan bercerita. Semoga tulisan kali ini ada manfaatnya.

Hari ini adalah akhir bulan juli, dan besok sudah mulai memasuki tanggal satu Agustus. Berarti, sebentar lagi akan ada perayaan tujuh belasan di berbagi pelosok nusantara. Pasti bakala ramai. Ada yang sudah mendaftar lomba makan kerupuk disini?

Akhir juli, berarti juga teman-teman perawat di berbagai penjuru Indonesia yang telah lolos tes pemberkasan program perawat ke Jepang tahun ini telah selesai melakukan tes keperawatan dan psikotes.

Saya berharap semoga semuanya diberi kelancaran dan kemudahan agar bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu wawancara!

2 minggu terakhir ini, karena tulisan tentang pengalaman saya mengikuti program perawat ke Jepang yang saya publish di blog, akhirnya ada nomor-nomor baru yang muncul di aplikasi whatsapp saya.

Dan, hampir kesemuanya menanyakan hal yang sama. “Mas, enak mana kerja di Jepang atau di Indonesia?”

Terus terang, saya belum bisa menjawab pertanyaan ini. Alasannya sederhana, karena memang saya belum secara resmi bekerja di rumah sakit yang telah saya pilih dan juga telah memilih saya. Nah loh,lalu selama ini saya ngapain aja?

Kalau di Indonesia dulu, setelah lamaran kerja masuk, dipanggil tes lalu pengumuman diterima, maka akan ada orientasi pengenalan tempat kerja. Mulai dari seluk beluk rumah sakit, K3, dan lain-lain.

Secara kontrak kerja, saya sekarang memang sudah terikat kontrak dengan rumah sakit yang akan saya tempati nanti. Namun, dari 3 tahun kontrak kerja tersebut, tahun pertama tugas saya adalah belajar bahasa jepang.

Ya, setahun penuh saya harus belajar untuk memenuhi target yang telah ditetapkan sebelum memasuki dunia kerja.

6 bulan pertama saya sudah menyelesaikannya di Jakarta kemarin, mulai bulan desember 2015 sampai bulan mei 2016. Dan target minimal adalah lulus kemampuan bahasa Jepang setara dengan N5. Dan tahun ini, denger-denger dari berita target dinaikan menjadi N4. Ganbatte kudasai!

Alhamdulillah saya dan teman-teman bisa menyelesaikan target di 6 bulan pertama. Dan kali ini, selama pendidikan di Jepang, kami harus minimal bisa mencapai target minimal N3. Mengapa demikian? Karena untuk bisa berkomunikasi dengan Bahasa sehari-hari orang Jepang, kemampuan N3 sangat penting.

Jadi masalah enak tidak enak, saya kira itu relatif.

Walaupun semisal saya bilang enak, karena bisa belajar budaya dan bahasa baru, pun ada juga yang berpikiran sebaliknya. Itu wajar, kita tidak bisa mengeneralisir semua pendapat orang jadi satu.

Lalu soal gaji? Ada juga yang bertanya jumlah gaji yang saya terima. Kalau jumlah pastinya, tentu tidak akan saya beritahukan secara spesifik, karena itu menyangkut privasi. Namun, kalau dibuat rata-rata sesuai UMR nya Jepang, maka sekitar 12 juta adalah gaji awal bagi karyawan di Jepang. Tentu itu bukan jumlah bersih, masih ada tunjangan dan juga potongan berupa pajak dan asuransi kesehatan.

Setiap daerah tentu berbeda pendapatan yang akan diterima. Semisal daerah Osaka dan Kyoto, tentu berbeda. Di Indonesia juga sama kan? Semisal Bandung dengan Jakarta, UMR nya berbeda kan? Nah, disini juga sama.

Yang saya tahu, gaji awal tertinggi ada di Tokyo. Ibukota negara ini. Saya kira itu wajar, karena sesuai dengan biasa hidupnya. Ibarat kata, harga-harga barang di Jakarta tentu lebih mahal dibandingkan dengan di Kudus.

Jadi, kalau soal bisa menabung atau tidak, itu kembali kepada pribadi masing-masing. Walaupun penghasilannya tinggi, namun gaya hidupnya glamor, ya kelar sudah!

Lalu, kapan gaji bisa naik? Jawabnya ada di ujung langit, kita kesana dengan seorang anak, hehe. Malah nyanyi. Gaji bisa naik secara drastis adalah ketika sudah lulus ujian negara atau disebut kokkashiken.

Kalau perawat, diberi kesempatan sebanyak 3 kali. Jadi, selama 3 tahun kontrak, maka akan mendapatkan kesempatan sebanyak 3 kali untuk mengikuti ujian. Kalau teman-teman yang mendaftar careworker atau kaigofukushishi, kesempatannya sekali saja, yaitu di tahun keempat.

Naiknya jadi berapa? Tentu berbeda rumah sakit berbeda kebijakan. Saya tidak mau mengira-ngira. Saya ambil data saja dari sebuah media online yang pernah mencatat bahwa perawat Indonesia yang telah lulus ujian negara, gaji yang diterima minimal 30 juta perbulan!

Lalu, sekarang kan belum mendapat gaji. Berarti uang saku harus bawa sendiri dong? Tidak begitu juga.

Selama pelatihan di Jakarta maupun di Jepang, kami mendapat uang saku sekitar 10 dolar perhari. Itu belum termasuk biaya penginapan, makan, buku pelajaran, biaya pelatihan, yang kesemuanya gratis. Kalau diuangkan semua, tentu akan banyak!

Jadi, sekali lagi. Soal enak atau tidak enak, silahkan ditentukan sendiri.

Bagi yang sering bosan dengan kegiatan yang monoton, maka menjadi perawat di Jepang tentu akan memberikan banyak tantangan baru. Bagaimana bisa berkomunikasi dengan Bahasa baru, membaca kanji yang gak karuan jumlahnya, dan juga harus belajar ilmu keperawatan yang pernah dipelajari yang kali ini tentu harus menggunakan Bahasa Jepang.

Namun sebaliknya, mengikuti program ini bisa menjadi sangat menjengkelkan kalau tujuannya hanya ingin jalan-jalan semata dan enggan belajar. Karena terus terang, bahasa jepang itu tidak mudah!

Bukankah kalau ingin menangkap ikan yang besar, semakin besar umpannya juga bukan

*serius banget ya tulisannya, hehe

Osaka, 31 Juli 2016, 07.15 waktu setempat
Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: