Bandung, Jakarta, Hingga Kansai kenshuu Center di Osaka

17 Jul

#Bunka 6

Kota Osaka masih cukup gelap saat saya mulai mengetik catatan ini. Ya, sambil menunggu matahari terbit, tulisan mingguan ini harus segera saya buat. 

Sebenarnya saya ingin menulis catatan ini kemarin. Namun, sebagai manusia biasa yang suka makan keripik Maicih level tiga, terkadang juga kalah dengan yang namanya rasa malas. Setelah selesai shalat isya tadi malam, saya ingin rebahan sebentar, pikir saya. Namun, bangun-bangun kok sudah waktu shubuh ternyata, haha. Bablas akhirnya.

Waktu shubuh di sini dimulai pukul 3 pagi, dan waktu terbit matahari hari ini sekitar pukul 4.57 pagi. Jadi setengah 5 itu langit sudah mulai terang.

Baiklah, hari ini, tanggal 17, kurang lebih kami telah berada di sini selama satu bulan. Dan juga, satu bulan lagi, Negara Republik Indonesia tercinta akan kembali berulang tahun. Ada perayaan sambil panjat pinang gak ya di sini?

Kali ini, saya akan bercerita tentang si kancil yang sedang mencuri timun di kebunnya pak Joko, loh? Salah fokus, bukan itu, saya ingi bercerita tentang tempat pelatihan saya yang ada di Kota Osaka ini.

Kansai Kenshuu Center, adalah nama tempat pelatihan saya di sini. Ketika sudah sampai sini, beberapa kali saya ditanya oleh teman-teman yang ada di Indonesia. “Mas, sampean itu sudah kerja apa belum? Kok kayaknya dari tahun kemarin pelatihan mulu?” kira-kira seperti itu.

Sedikit flashback ke belakang sebentar. Saya mengundurkan diri dari tempat kerja saya pada awal 2015. 

Tujuan saya saat itu memang ingin mengikuti seleksi perawat ke Jepang. Namun, pembukaan pendaftaran biasanya dibuka pada bulan maret dan ditutup pada akhir mei atau seperti tahun ini pada minggu pertama bulan juni.

Lalu, apa yang saya lakukan saat itu? Padahal kan pembukaan pendaftaran belum buka. Saya mendaftarkan diri di lembaga pelatihan bahasa Jepang yang di Bandung, sebagai persiapan tes pada tahun yang sama. Nama lembaganya adalah LPK Bahana Inspirasi Muda.

Pelatihannya selama 4 bulan, intensif, masuk setiap hari kecuali hari sabtu dan minggu. Terkadang hari sabtu juga masuk ketika ada kelas budaya.

Saat itu, baru pertama kalinya saya mengenal huruf hiragana, katakana, dan kanji. Betu-betul menyusahkan pada awalnya. Apalagi belajar bahasa yang benar-benar baru bagi saya. 

Bagaimana kehidupan selama pelatihan di Bandung? Sangat disiplin! Kalau ingin tahu cerita lengkapnya, silahkan aduk-aduk catatan saya di akun ini antara bulan Februari sampai September 2015. Sekitar 44 catatan saya tulis selama pelatihan di Bandung. Saya juga upload di blog saya, dengan alamat catatanarsyadsyauqi.wordpress.com,

Lalu ada yang bertanya juga. “Selama di Bandung, itu gratis atau bayar mas?” karena ikut pelatihan sendiri, maka harus bayar. Sampai di pertanyaan ini, beberapa ada yang bingung. “Loh, kok bayar mas? Bukannya pelatihan sebelum berangkat ke Jepang itu gratis?”

Disinilah beberapa kali saya harus menjelaskan hal tersebut.

Untuk mengikuti seleksi perawat ke Jepang, itu memang tidak diharuskan belajar bahasa Jepang terlebih dahulu. Namun, banyak diantara teman yang semasa SMA nya pernah belajar. itu saja sudah menjadi nilai tambah, terutama saat ujian dasar bahasa Jepang saat tes, juga saat wawancara. 

Salah satu hal yang ditanyakan kepada saya saat itu adalah sudah pernah belajar bahasa Jepang apa belum? Kalau sudah pernah belajar di mana? Buku yang dipakai apa? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Jadi, untuk memperbesar peluang agar lolos tes, saya mengikuti pelatihan yang ada di Bandung tersebut. Keluar biaya memang pasti, namun, alhamdulillah hasilnya sepadan!

Sebelum mengikuti tes ke Jepang, pernah dua kali saya tidak lolos tes perawat ke Timur Tengah, yaitu Qatar dan Kuwait. Boleh dibilang, saya trauma, dan oleh sebab itu, saya tidak ingin mengulanginya untuk yang ke tiga kalinya.

Tes demi tes, lalu wawancara, dan kemudian tes kesehatan, yang kesemuanya itu membutuhkan waktu yang panjang, alhamdulillah berbuah manis. Saat pengumuman, saya dinyatakan diterima di sebuah rumah sakit di Sapporo dan kemudian diharuskan mengikuti pelatihan bahasa selama 1 tahun. Di Jakarta dan di Jepang, masing-masing selama 6 bulan.

Nah, ketika pelatihan di Jakarta dan di Jepang inilah, baru gratis, bahkan dibayar. Mengapa dibayar? Karena pelatihan selama setahun ini merupakan bagian dari kontrak kerja. Calon Perawat yang lolos, maka kontrak kerjanya adalah 3 tahun. Kalau calon careworker itu 4 tahun. Dan setahun pertama tugasnya hanya belajar, belajar, dan belajar. Jadi, mulai kerja itu di tahun kedua.

Selama pelatihan di Jakarta, sekitar 26 catatan saya tulis. Antara bulan Desember hingga awal Juni kemarin. Dan ketika sampai di Osaka bulan lalu, saya pun melakukan hal yang sama. Mulai menulis kembali.

Saat di Jakarta kemarin, kami melakukan pelatihan di P4TK Bahasa yang ada di daerah Srengseng Sawah. Jauh dari Kota Jakarta, namun dekat dengan keramaian kota Depok.

Bagi peserta yang lolos tes selama pelatihan di Jakarta, maka akan ada tiga tempat pelatihan ketika di Jepang. Yaitu KKC, di Osaka. TKC di Tokyo. Dan CKC di Nagoya, Aichi.

Lalu saat ini, saya mendapatkan kesempatan untuk menjalani pelatihan di KKC, atau kepanjangan Kansai Kenshuu Center. Kenshuu adalah bahasa jepang yang artinya pelatihan. 

Bagaimana fasilitas di sini? 

KKC memiliki 3 gedung utama. Gedung tengah adalah asrama, yang mirip hotel yang bisa menampung maksimal 300 tamu. Setiap peserta pelatihan mendapatkan kamar pribadi masing-masing. Lalu ada Uketsuke, yaitu bagian penerimaan tamu. Dan juga Shokudo, atau kantin. Gedung tengah ini memiliki 8 lantai.

Setiap kamar dilengkapi dengan bed ukuran single, internet gratis yang bisa didapatkan dengan membeli router, telepon ruangan, radio sekaligus cd player, TV (yang isinya chanel Jepang semua, bahkan film harry potter pun, si Harry sudah lancar bahasa jepangnya, hehe), meja belajar yang panjang, lemari dan rak, serta kamar mandi.

Masalah kebersihan kamar, ada petugas kebersihan yang setiap hari membersihkan kamar. Sampah yang ada di tempat sampah di kamar diambil setiap hari, sekaligus handuk juga diganti setiap hari. Jadi, ketika para peserta sedang belajar di kelas, maka kamar akan dibersihkan. Pulang dari kelas, kamar sudah bersih lagi seperti baru.

Lalu masalah cuci mencuci. Tidak ada istilah mencuci di kamar mandi lagi, juga menjemur pakaian. Karena telah disediakan mesin cuci di ruang laundry, sekaligus mesin pengeringnya. Jadi, kalau ada istilah cuci, kering, setrika, pakai, itu bisa berlaku di sini. Bahkan kalau sedang malas menyetrika, hanya cuci, kering, langsung pakai pun jadi.

Terdapat 4 buah elevator dan juga dua tangga darurat. Jadi, kalau bosen naik lift, sekali-sekali bisa naik turun lewat tangga darurat. Itung-itung olahraga ringan.

Lalu kantin, yang buka mulai hari senin sampai sabtu. Melayani untuk makan 3 kali sehari. Di sini, kami diberi kartu khusus untuk makan. Jadi, sebelum makan, kami harus menggesekkan kartu tersebut di alat yang terhubung dengan komputer yang ada di kantin, untuk kemudian keluar struk yang bisa digunakan untuk mengambil makan.

Kalau hari minggu, kantin tutup, dan sebagai gantinya, kami diberi uang untuk jajan di luar, sekaligus untuk melatih bahasa jepang yang kami pelajar di kelas untuk berbicara dengan orang-orang asli sini.

Biaya menginap di sini cukup fantastis untuk ukuran saya. Sesuai dengan informasi di website resmi HIDA, yaitu tempat pelatihan saya, biaya permalam adalah 6280 yen. Kalau di kurskan, 1 yen adalah 120 rupiah, maka biaya permalam adalah sekitar 700ribu lebih! Dan saya menginap di sini selama 6 bulan, atau sekitar 180 hari. Sepertinya saya belum sanggup kalau bayar sendiri uang sejumlah itu.

Itu baru biaya untuk menginap. Masih ada biaya lain, yaitu makan 3 kali sehari adalah 2570 yen, uang saku tiap hari 1200 yen, dan biaya pelatihan bahasa yang tentunya tidak sedikit, dan juga buku-buku pelajaran yang kesemuanya itu gratis diberikan kepada peserta pelatihan.

Lalu di sayap kanan, ada taiikukan, atau sport center. di sana ada lapangan bola basket yang bisa beralih fungsi menjadi lapangan badminton dan voli. Hanya saya, tidak diperkenankan untuk main sepak bola atau futsal.

Karena, selain belajar, peserta pelatihan juga harus menjaga kondisi kesehatannya dengan berolahraga. Kalau bosen di indoor, di dekat sini ada Stadion sepak bola yang letaknya tidak jauh. Jalan kali sekitar 30 menit pun sampai. Kalau lari-lari kecil, sekitar 15 menit saja. 

Namanya Yanmar Stadium di daerah Nagai, yang pada 2002 lalu digunakan sebagai salah satu tempat World cup. Saat itu, pertandingan antara Argentina melawan inggris berada di stadion tersebut.

Lalu di sayap kiri, ada ruang kelas dan ruang seminar. Ada tiga lantai yang diperuntukkan bagi peserta pelatihan yang tidak hanya dari Indonesia. Ada juga peserta pelatihan yang berasal dari Filipina, Thailand, India, Mongolia, Vietnam, dan beberapa lainnya.

Ada yang sama-sama berasal dari program EPA, ada juga teman-teman yang dari program magang selama 3 tahun di perusahaan Jepang, yang disebut Kenshuusei.   

Dengan fasilitas yang “wah” tersebut, tugas kami hanya satu. Yaitu belajar, belajar, dan belajar. 

Belajar bahasa jepang sekaligus sering mempraktekannya kepada para sensei, teman, dan juga orang asli jepang yang ada di sini. Karena tugas kami nantinya akan banyak berhubungan lisan atau berkomuniasi dengan para pasien, baik yang menjadi perawat atau careworker.

Senin sampai sabtu, mulai pukul 9 pagi hingga 4.30 sore adalah waktu wajib kami belajar di kelas. Malamnya, digunakan untuk belajar mandiri atau kelompok.

Dan hari minggu seperti ini, bolehlah, sejenak beristirahat. Karena selain kami harus membeli makanan di luar, badan dan pikiran juga harus diistirahatkan sejenak dari kanji-kanji yang bentuknya kadang menari-nari itu.

Boleh jadi, teman-teman pelatihan sudah banyak yang punya rencana jalan-jalan di akhir pekan ini, sebelum bergulat dengan berbagai pelajaran di esok hari.

Saya sendiri? Insya allah siang ini diajak ke Masjid Kobe yang ada di Hyogo. Ada yang mau ikut?

Osaka, 17 Juli 2016. 06.05 waktu setempat

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: