Segelas Teh Obeng

9 Jul

#Benkyou 25
Bagi orang yang pernah berkunjung ke Batam, mungkin tidak asing dengan nama teh yang satu ini. Namun, bagi yang baru pertama kali mendengarnya? Hmp, itu teh atau apa, kok pakai obeng segala? Boleh jadi seperti itu.

Perbedaan budaya, adalah salah satu hal yang menarik perhatian saya. Terutama dalam berbahasa.

Contoh sederhananya adalah seperti yang ada di atas. Teh obeng? Itu minuman apa? Bagi yang sudah tahu pasti gampang menerkanya. Yap, itu adalah nama lain dari es teh. Kok bisa ya? Panjang ceritanya, silahkan di googling kalau penasaran, hehe.

Itu baru di Batam. Dan sekarang saya berada di sebuah tempat pelatihan yang orang-orangnya berasal dari berbagai daerah yang berbeda. Dan saya sangat menikmati berbagai perbedaan bahasa yang digunakan.

Kalau bahasa asal, tentu saja belum bisa mencernanya. Misal, ada teman-teman dari medan atau sunda, berbicara dengan bahasa asalnya, saya hanya bisa tersenyum kecut, gak ngerti apa yang mereka omongkan.

Namun, ada beberapa penggunaan kosakata yang menarik. Yang kalau di daerah asalnya dengan daerah lain bisa berlainan artinya.

Kita mulai dari saat saya masih bekerja di Batam dulu. Ada 2 kosakata yang benar-benar bikin salah paham. Pertama, siap, kedua, semalam.

“Bang uki, operasi di ruang 2 udah siap bang. Abang diminta untuk bantu mindahin pasiennya”, kata teman saya yang dari Medan. 

Saya kan jadi bingung. Ya kan udah siap, kenapa mau dipindahin. Kan belum selesai operasinya. Pikir saya.

Ternyata, eh ternyata. Kosakata “siap” itu artinya “selesai”. Haha, jadilah saya salah paham saat itu. Jadi, udah siap itu artinya udah selesai. Oh, pikir saya.

Kedua, semalam. Yang saya pikirkan ketika mendengar kosakata ini adalah, waktu yang dimulai dari terbenamnya matahari sampai waktu tengah malam.

Saat itu saya ditanya teman saya yang dati Riau. “Eh, semalam pergi kemana? Saya cari ke asrama kok gak ada?”. Nah loh, saya jadi bingung, padahal saya kan semalaman di asrama. Nonton film. Kok dibilang gak ada.

Dan ternyata, arti kata semalam itu adalah…….kemarin. Ya, kemarin, saudara-saudara. Saat itu, memang sorenya saya ada acara. Baru pulang malemnya, habis maghrib saya sampai asrama. Benar-benarlah, haha.

Dan disini, saya menemukan berbagai kosakata baru, yang tentu menarik bagi saya. Beberapa juga ada yang bikin salah paham kalau belum tahu artinya.

Masih dari medan. Teman-teman dari medan mempunyai kosakata lain ketika menyebut permen, penggaris dan sandal. Yaitu, bonbon, rol, dan selop.

Pajak adalah tempat jualan. Dan pasar adalah jalan raya. Kereta adalah motor roda 2, sedangkan motor adalah penyebutan untuk mobil.

Sekarang kita ke Sunda. Kalau kata dhahar, adalah kosakata yang sangat sopan di jawa, yang artinya makan. Biasa digunakan ke orang tua. Bapak nembe dhahar, artinya bapak sedang makan. Namun, ketika di sunda, malah menjadi tidak sopan ketika digunakan ke orang tua. karena kosakata itu malah digunakan ke anak-anak.

Lalu Bali. Kalau saya menulis jam seperti ini, 13.45. Bagaimana anda dalam menyebutkannya? Bisa jam 2 kurang seperempat, bisa jam 1 lewat 45, bisa juga 15 menit lagi jam 2.

Kalimat terakhir. 15 menit lagi. Bagi teman yang dari Bali, penyebutannya menjadi, lagi 15 menit jam 2. Nah loh, kok bisa jadi seperti itu?

Sekarang kita ke Kupang. Ada teman saya yang jago dalam berbahasa asing, namun agak kacau dalam berbahasa Indonesia. Jadi, kadang kita lebih ngerti kalau dia ngomong pakai bahasa inggris atau jepang, dibanding bahasa Indonesia.

Ketika chatting misalnya, dia menulis “memberitahukin”, itu apa maksudnya? Jadi, setelah kami tahu, imbuhan “kan” itu berubah menjadi “kin”. Saya juga bingung.

Berturut-turut, kata yang pernah saya dengar. Membacakin, menerjemahkin, membalikin. Hehe. 

Pernah dia bingung, judul lagunya slank itu yang benar, balikin oh balikin, apa balikan oh balikan? Haha, menarik!

Yang terakhir, teman-teman yang berasal dari Sulawesi. Pernah mendengar kata-kata “sebentar malam”? Saya juga baru tau saat punya teman orang Palu. Sebentar malam itu malamnya sebentar atau bagaimana? Pikir saya.

Ternyata artinya adalah, nanti malam. Jadi, kalau sebentar malam kita ketemu ya. silahkan diartikan sendiri, hehe.

Lalu ketika menghidupkan lampu. Kata-kata yang akan kita dengar bukanlah tolong hidupkan lampunya. Tetapi berubah, tolong kasih hidup lampunya. Lalu kalau mematikan, ya kasih mati. Ngajak berantem berubah menjadi panggil ribut!

Menarik, sungguh menarik mengamati berbagai perbedaan budaya yang ada. Tentu saja, setelah berada di jepang nanti, akan tambah banyak lagi perbedaan budaya yang ada.

Oleh karena itu, banyaknya perbedaan budaya itu jangan malah menjadikan kita tercerai berai. Namun, sebaliknya, banyaknya perbedaan itulah yang akan menjadikan kita kuat. Seperti slogan yang selalu kita gigit kuat, Bhineka tunggal ika!

Itu baru sebagian kecil yang saya pahami. Tentu saja, masih banyak hal-hal yang belum saya tahu. Kalau mau menambahkan, silahkan di kolom komentar. Biar saya dan pembaca yang lain bisa sama-sama belajar. 🙂

Baiklah, sebagai penutup, saya ucapkan,

Selamat menikmati siang dengan segarnya segelas teh obeng, hehe.

Srengseng sawah, 15 mei 2016

*Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: