Dari Belajar Kanji Hingga Musiaru San

9 Jul

‪#‎Benkyou‬ 9

Sabtu pun berubah menjadi sabtu kembali. Malam minggu pun seperti biasa, disiram hujan rintik yang membasahi genting. Dan kemudian daripada itu, daripada keterusan malah jadi baper, mending kita obrolin sesuatu yang bisa menambah wawasan kita? Setuju?

Baiklah, kita lanjutkan saja. Oh ya, sampai saya menulis kalimat ini, saya belum menemukan judul yang pas untuk tulisan kali ini. Yaudah, tidak apa-apa, yang penting tulisan jadi dulu, judul bisa dipikirkan nanti.

Kali ini, saya ingin menulis tentang obrolan saya dengan sensei di kelas beberapa hari yang lalu. Mungkin tulisan ini akan seperti gado-gado, alias campur-campur. Biasanya memang seperti ini, kalau mood lagi bagus, tulisannya malah jadi ngaco, hehe, entahlah.

Beberapa hari yang lalu, saat pelajaran kanji, saya dan teman-teman di kelas mendapatkan intro sebelum pelajaran kanji dimulai. Intro tersebut adalah sedikit mengenai sejarah adanya huruf kanji. Sensei saya bercerita bahwa Negara Jepang itu pada awalnya tidak memiliki huruf sebagai bahasa tulisannya. Namun, setelah orang China datang ke Jepang, mulailah diperkenalkan huruf kepada penduduk Jepang. Waktu demi waktu berlalu. Dan kemudian, dipakailah huruf kanji itu sebagai bahasa tulisan orang jepang, dan seterusnya, dan seterusnya.

Untuk sejarah lengkapnya bisa dibaca di berbagai situs di internet. Karena kali ini saya hanya akan membahas yang menjadi bahan obrolan beberapa hari yang lalu itu saja.

Nah, sensei saya melanjutkan ceritanya. Walaupun huruf kanji itu berasal dari China, namun, Jepang lah yang lebih dulu membuat kamus besar kanji dari hasil penelitian orang jepang terhadap jumlah kanji yang ada.

Tadaaaaaaa, setelah dikumpulkan, diteliti, ditelaah, serta berbagai proses lainnya, jadilah 15 jilid kamus besar kanji dengan jumlahnya yang kurang lebih ada sekitar 50.000 kanji. Ya, lima puluh ribu huruf kanji, yang berbeda bentuk, ada yang sama cara bacanya, ada pula yang berbeda, dengan tingkat kerumitan yang bervariasi.

Kami pun menghela napas.

Namun. Ada namunnya. Dari semua kanji tersebut, yang biasa digunakan untuk bahasa lisan maupun tulisan sehari-hari berjumlah sekitar 2000 kanji saja. kalau dibuat prosentase, ya sekitar 4 persen dari jumlah yang ada. Dan dari jumlah itu, masih dibagi lagi sesuai dengan tingkatan kemampuan bahasa Jepang.

Sensei saya melanjutkan. Untuk bisa lulus ujian kemampuan bahasa Jepang setara N5, maka minimal harus hafal dan paham kanji sekitar 110 buah. Tentu saja beserta kosakata dan tata bahasanya. Lalu untuk N4, minimal 300-400 kanji. Lalu untuk N3, minimal 700-800 kanji. Lalu untuk N2, minimal 1100 kanji. Dan untuk N1, mau tidak mau harus menguasai setidaknya 2000 kanji atau dalam kata lain, kanji yang biasa digunakan untuk keseharian orang Jepang itu harus dikuasai, dan tentu saja itu termasuk kosakata serta tata bahasanya,

Begitu pun dengan tingkatan buku yang dipelajari, semakin meningkat levelnya, semakin meningkat juga kerumitannya. Untuk bisa mengatasi soal-soal ujian N5 dan N4, harus mempelajari bahasa Jepang level dasar, atau disebut Shoukyuu. Lalu untuk bisa lulus N3, harus mempelajari yang tingkat menengah atau disebut Chuukyuu. Lalu untuk bisa lulus N2, harus mempelajari bahasa Jepang tingkat atas atau Jyoukyuu. Dan untuk level tertinggi alias N1, lanjut sensei saya, maka harus bisa memahami koran jepang.

Ada yang pernah membaca koran asli Jepang?

Semuanya memakai kanji. Jadi, tulisannya itu seperti simbol-simbol yang berbentuk bulat dan kotak dan sangat minim huruf hiragana alias kata bantunya.

Nah loh. Gimana dong solusinya?

Perlu diketahui, walaupun kami sudah memasuki tahap pelatihan di sini, kami tetap akan dihadapkan ujian yang kemungkinan akan dilaksanakan dua kali sesuai jadwal. Kalau tidak salah akan dilakukan pada bukan maret dan mei. Dan level yang ditetapkan yaitu N4. Yang berarti, kami harus menguasai minimal 400 kanji yang diajarkan.

Belajar, belajar, dan belajar. Itulah tugas kami di sini. Kami sudah mendapat uang saku, mendapatkan berbagai buku yang asli cetakan dari Jepang, serta mendapat berbagai fasilitas yang menurut saya mewah, dan berbagai lainnya, hal itu supaya kami bisa belajar dengan nyaman dan selalu bersemangat.

Walaupun demikian, masih ada kemungkinan pertanyaan dibawah ini akan muncul.

“Kendati fasilitas sudah disediakan sedemikian rupa, mengapa semangat juang untuk belajar bisa menurun? Apalagi ketika shukudai atau PR, lalu shiken atau ujian itu selalu datang dengan intensitas yang tinggi. Apakah kami mampu melewati semua proses ini?” Boleh jadi ada yang merasa sedemikian.

Nah, saya akan tunjukan sebuah video yang saya download dari Youtube yang boleh jadi bisa menambah semangat belajar kita bersama. Video ini diperlihatkan kepada kami saat istirahat pergantian jam pelajaran beberapa waktu yang lalu. Sebuah video reportase oleh media Jepang, yang meliput orang Indonesia yang bernama Syamsiar yang dalam bahasa Jepangnya berubah menjadi Syaamusiaru. Karena agak kesulitan diucapkan semua, maka jadinya dia dipanggil dengan nama panggilan Musiaru san, atau saudari Musiaru.

Dia adalah seorang Careworker atau perawat lansia, EPA tahun 2008. Video yang berdurasi sekitar 14 menit ini sudah saya tonton berulang-ulang dan sungguh sangat memotivasi. Beliau, walaupun usianya sudah memasuki kepala tiga, masih semangat untuk belajar. yang pada awalnya bahasa Jepangnya masih belepotan, namun secara bertahap dan kemudian menjadi lancar berbicara kepada pasien lansia yang ditangani. Dan hebatnya, dia telah lulus ujian negara untuk sesuai profesinya. Perlu diketahui, ujian negara ini tidak membedakan apakah pesertanya itu orang Jepang atau luar Jepang. Jadi kalau bisa lulus ujian ini merupakan sesuatu hal yang menurut saya luar biasa, dan itupun menjadi salah satu cita-cita saya.

Baiklah, daripada saya jelaskan berlama-lama, malah jadi membosankan. Selamat menyaksikan. Boleh jadi akan ada banyak pelajaran serta motivasi yang bisa kita dapatkan.

Ganbatte Kudasai….

Srengseng Sawah, 24 Januari 2016
*Uki

NB. Videonya ada di FB saya, Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: