Buka Puasa di Osaka

9 Jul

#Bunka 3
Langit Osaka masih gelap ketika saya mulai menulis catatan ini. Suhu udara di luar sekarang adalah 27 derajat celcius dengan curah kelembapan 90%. Dan prediksi perkiraan cuaca untuk hari ini adalah cerah. Jadi bagi teman-teman yang hari ini rencana ingin jalan-jalan, sepertinya tidak perlu membawa payung ketika pergi.

Saya mulai menulis catatan ini sekitar pukul setengah 4 waktu setempat. Jadi saat saya masih asik dengan tuts layar di laptop ini, di Kudus sana masih pukul setengah 2. Masih belum waktunya untuk sahur, karena waktu imsak serta shubuhnya masih cukup lama. Boleh jadi masih banyak orang yang masih menikmati kesendiriannya untuk beriktikaf di masjid-masjid sembari menunggu mengakhirkan waktu untuk sahur.

Kalau di sini, waktu sahur sudah selesai beberapa waktu yang lalu sekitar pukul 3 waktu setempat, dan sebentar lagi sang mentari perlahan akan muncul sekitar pukul 04.49. selanjutnya puasa akan berlangsung seharian hingga waktu berbuka nanti sekitar pukul 19.14 saat matahari kembali ke peraduannya.

Sahur dan berbuka, kalau di Indonesia boleh jadi akan menjadi cerita yang biasa untuk dibicarakan. Karena dari Sabang sampai Merauke tidak terlalu ada perbedaan yang terlalu mencolok dalam segi waktu.

Teman-teman di Indonesia bagian timur memang terpaut dua jam lebih dulu dalam sahur maupun berbuka dikarenakan perbedaan zona waktu yang ada. Namun, secara jumlah waktu yang ditempuh dalam berpuasa, kurang lebih sama.

Lalu, bagaimana dengan puasa teman-teman yang ada di sini? Sepertinya akan menjadi hal yang menarik ketika dibicarakan.

Kami datang ke sini sekitar dua minggu yang lalu, jadi secara musim, ini adalah awal musim panas. Bagi orang-orang Jepang, cuaca di sini berangsur-angsur sudah mulai panas hingga nanti puncaknya pada pertengahan bulan juli.

Namun, beberapa dari kami masih ada yang merasa cuaca di sini masih cukup sejuk, sehingga beberapa teman ketika di kelas merasa kedinginan ketika AC dinyalakan. Mengapa begitu? Entahlah, saya juga kurang tahu. Mungkin masih adaptasi dengan cuaca setempat.

Di sini, kami menghabiskan dua pertiga bulan Ramadhan sambil memulai pelatihan bahasa Jepang tahap kedua setelah tahap pertama dulu diselesaikan selama 6 bulan di Jakarta.

Sesuai fasilitas pelatihan, selain mendapatkan tempat tinggal berupa kamar pribadi selama pelatihan, kami juga mendapatkan jatah makan 3 kali sehari. Nah, karena teman-teman muslim berpuasa, jatah makannya berubah menjadi dua kali. Yaitu makan pagi dan makan siang diganti dengan paket sahur, dan makan malam seperti biasanya.

Paket sahurnya apa? Kami mendapatkan sekantong plastik dengan isi nasi atau kadang roti dan selai, lauk kaleng, buah kaleng, kopi instan, yoghurt, serta biskuit. Waktu mengambil paket sahur tersebut adalah pukul 9 malam. Jadi, ketika jam menunjukkan sekitar pukul 9 malam, maka akan ada pemberitahuan dari pihak asrama bahwa paket sahur sudah bisa diambil. Kami tinggal datang, mengisi tanda tangan dan paket sahur pun sudah bisa diambil.

Nasi kotak yang ada di sini betul-betul berbeda dengan yang ada di Indonesia. Jadi, nasinya dibungkus sedemikian rupa hingga masa kadaluarsanya bisa bertahan sampai beberapa bulan. Entah teknologi apa yang dipakai, saya kurang tahu. Ketika ingin memakannya, nasinya tinggal dipanaskan dengan denshi renji atau microwave selama 2 menit, dan nasi pulen khas jepang siap disantap. Begitupun dengan lauk kalengnya, bisa cumi atau ikan. Ya, mirip sarden kaleng yang ada di Indonesia.

Lalu untuk waktu berbuka, menyesuaikan dengan waktu makan malam. Cara mengambilnya, tinggal datang ke shokudou atau kantin, melakukan swap atau menggesek kartu khusus untuk makan ke mesin hingga keluar semacam struk ketika berbelanja, lalu antri mengambil jatah makan. Karena makannya dengan cara prasmanan. Silahkan ambil makanan sesuai dengan selera.

Berbeda dengan cara makan ala orang Indonesia, yang ketika makan, maka nasi yang ada di piring akan ditumpuk dengan sayur dan lauk di atasnya. Lalu masih ada tambahan topingnya berupa sambal dan kerupuk kalau ada.

Ketika di sini, kami antri untuk mengambil nampan, lalu berturut-turut mengambil sendok, garpu, sumpit, ada pisau kecil (untuk mengiris daging, hanya saja jarang yang mengambil), lalu tissu. Setelah itu, kami mengambil jatah lauk.

Perlu diperhatikan, karena kami di tempat pelatihan ini tidak sendirian, dalam arti tidak hanya orang Indonesia yang kebanyakan adalah muslim. Namun juga ada teman-teman dari Filipina, India, Vietnam, dan sebagainya yang beragama kristen, hindu, dan lain-lain. Maka jangan heran ketika ada menu berupa daging babi dalam sajian lauknya. Untuk itu, kita perlu waspada.

Semisal, ada 3 jenis lauk utama dalam makan malam. Lauk pertama, daging sapi cincang. Kedua, ayam bumbu spageti. Dan ketika, daging babi. Untuk lauk yang pertama dan kedua, ada label halalnya dari lembaga setempat.

Setelah mengambil lauk, lalu pindah untuk mengambil nasi. Nasi di sini betul-betul beda, pulen banget!

Jadi ketika makannya pakai sumpit, jadi mudah. Lalu pindah ke tempat sayur dan ada tambahan lauk berupa gorengan atau tempura. Terakhir, tinggal mengambil buah dan minuman. Pilihan minumannya ada jus jeruk, kopi, atau teh.

Selesai makan, semua alat makan yang kami gunakan tadi, ditaruh di bagian pencucian, karena ada petugas khusus yang mencuci segala perabotan makan para peserta.

Yang tidak kalah penting, bagaimana rasa makanannya? Kalau kita selalu berharap rasanya sama persis yang ada di Indonesia, maka boleh jadi akan kecewa. Karena masakan jepang, walaupun bentuknya mirip dengan masakan Indonesia, tetap saja rasanya beda. Makanan di sini terkenal dengan rasanya yang cukup hambar. Tidak seperti masakan asli Indonesia yang nendang! Apalagi ada sambel lombok ijo sama tempe anget, haha.

Walaupun baru sekitar dua minggu di sini, rasa kangen terhadap masakan Indonesia kadang muncul. Maklum, di sini tidak ada abang-abang penjual nasi goreng yang bebas berkeliaran, ataupun warung tenda yang menjajakan berbagai lauk yang di penyet. Apalagi kalau berharap ada yang jualan mie ayam atau bakso, hemmmm, langka!

Sebagai gantinya, di akhir pekan yang lalu, beberapa dari kami diundang oleh komunitas orang Indonesia di daerah Kishiwada, dekat dengan stasiun Haruki, yaitu senpai atau kakak angkatan kami yang sudah lebih dulu di sini setahun atau beberapa tahun yang lalu.

Dari tempat pelatihan kami, naik chikatetsu atau kereta bawah tanah. Dari stasiun Abiko lalu turun di Namba. Lalu kami ganti kereta dengan Kyuukou atau kereta cepat ke arah Bandara Kansai. Di tengah perjalanan, kami turun di stasiun Haruki namanya. Dari situ, jalan kaki sekitar 200 meter ada sebuah rumah susun untuk karyawan rumah sakit. Ke situlah kami diundang acara buka puasa bersama.

Saat itu, melihat tumpukan gorengan bakwan di atas mangkok saji berasa mimpi, haha. Saat kami datang, kami disambut ramah para senpai yang mengajak berkenalan sambil mereka masak. Baik cowok maupun cewek, mereka memasak bersama untuk menu berbuka puasa.

Coba tebak apa menu saat itu? Ada opor ayam, pecel, sambal goreng tahu, telur balado, dan hidangan pembuka yang tidak terlupakan adalah sepiring besar bakwan dan tahu isi!

Entah mengapa, rasa nasionalisme seakan tiba-tiba muncul melihat dua jenis makanan ini, haha.

Ternyata, sesuatu yang biasa di Indonesia berubah menjadi hal yang luar biasa ketika jauh dari daerah asalnya.

Begitupun dengan kami. Boleh jadi, kami yang terlihat biasa-biasa saja ketika di daerah asal, akan menjadi seseorang yang berbeda dan luar biasa kelak!

Hehe, ngomong apa sih. Hayok, mumpung masih anget bakwan sama tahu isinya, ittadakimasssssu!

Oh ya, makasih banget buat mbak-mbak dan mas-mas di HKC (Haruki Kenshuu Center) yang telah mengundang kami ya. Semoga bisa berjumpa lagi.

Osaka, 3 Juli 2016, 04.30 waktu setempat

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: