​Susah, Senang, Sedih, dan Pantang Menyerah

9 Jul

#Benkyou 19

Mentari terbit dan tenggelam dengan aggunnya. Dalam masa itu, pasti ada banyak hal yang dirasakan oleh setiap insan yang masih diberi kesempatan menghirup segarnya udara pagi, menikmati hangatnya sinar mentari, serta masih banyak kenikmatan yang lainnya.

Begitu juga dengan kami disini. Para lulusan Universitas, sekolah tinggi kesehatan maupun akademi keperawatan, baik yang sudah pernah bekerja maupun yang masih fresh graduate, berkumpul untuk mempelajari bahasa yang baru. Berkumpul untuk terus melangkah maju, setelah melewati tes masuk yang berlapis-lapis. 

Di sebuah tempat pelatihan bahasa di ujung Jakarta selatan yang hampir memasuki wilayah Depok. Kami bersatu, menyatukan asa serta cita-cita, menggantungkan harapan seraya melakukan perjuangan untuk memahami bahasa serta budaya yang benar-benar baru. Meninggalkan zona nyaman masing-masing untuk bisa sesegera mungkin memahami segala sesuatu yang berhubungan dengan bahasa Jepang.

Pelatihan ini, sudah berjalan 18 minggu, dengan kata lain, tinggal 6 minggu lagi pelatihan akan usai, akan ada upacara penutupan serta persiapan pemberangkatan ke Jepang.

Perjalanan teman-teman disini bukanlah hal yang mudah. Setiap tahap yang dilewati, semuanya merupakan hal yang susah. 

Saya teringat bagaimana saat awal-awal dulu, dimulai dengan menulis huruf hiragana serta katakana, berlanjut memasuki pelajaran tata bahasa, terus berlanjut dengan membaca bacaan yang singkat dan kemudian secara bertahap memasuki fase-fase yang lebih sulit, hingga sekarang.

Saya yakin, setiap peserta, di setiap kelas, akan menghadapi tingkat kesulitannya masing-masing.

Ujian demi ujian terus ada setiap minggunya, hingga kami jadi teman akrab dengan yang namanya ujian!

Dan akhirnya, hari rabu kemarin, rasa susah itupun di bayar dengan hasil yang sepadan. Alhamdulillah lembaran kontrak kerja kami akhirnya dibagikan oleh pihak bnp2tki. Rangkap 3, ditulis dalam bahasa indonesia, inggris, dan jepang.

kami dikumpulkan di aula, diberi penjelasan serta informasi terkini seputar kehidupan di jepang yang akan kami jalani. Hanya saja, tempat pelatihan kami nanti di jepang belum diumumkan, entah di Tokyo, Nagoya, atau Osaka. 

Hari itu, saya melihat wajah-wajah yang awalnya kusut karena banyaknya kosakata serta kanji yang harus dihafalkan berubah menjadi cerah merona, tersenyum bahagia penuh rasa syukur atas terlewatinya satu fase lagi, yaitu penandatanganan kontrak kerja dengan institusi penerima kami masing-masing.

Mulai dari Okinawa yang berada di ujung selatan, hingga Hokkaido yang dekat dengan Rusia.

Namun, di hari itu juga, kami juga merasakan kesedihan yang mendalam. Karena sehari sebelum penandatanganan kontrak kerja, dengan rasa berat hati serta masih ada rasa belum rela, kami harus melepas 4 orang teman kami yang belum bisa lolos tes kesehatan. 

4 orang yang mulai awal pelatihan sudah ikut belajar bersama, melewati berbagai ujian kanji serta kotoba, melewati hari-hati dengan tertawa dan sedih bersama, pada akhirnya kami harus menerima kenyataan bahwa mereka harus pulang lebih cepat sebelum pelatihan ini benar-benar usai.

Saat itu, kami berusaha menguatkan mereka, namun malah jadi sebaliknya. Kami malah yang menjadi cengeng dan dikuatkan oleh mereka. 

Ada satu hal yang dikatakan oleh 

salah satu teman yang belum bisa lanjut pelatihan, yang membuat saya menjadi belajar banyak pada mereka,

“Saat kita naik pesawat, walaupun  kita tidak kenal dengan pilotnya, toh kita tetap percaya pilot tersebut akan membawa kita sampai tempat tujuan kita. Apalagi kehidupan ini, sudah ada Tuhan yang maha kuasa yang menjadi pilotnya. Boleh jadi, saya tidak lolos kali ini, memang ini yang terbaik buat saya. Tapi tidak dengan kalian. Kalian yang lolos, harus lebih semangat lagi. Saya doakan perjalanan kalian semua lancar.”

Kami terharu. Kami malah yang dinasehati oleh teman kami tersebut.

Sekarang, waktu belajar di Indonesia sebentar lagi selesai. Jika semua orang punya pilihan, kita pun sama. Akankan kita memilih untuk tetap semangat belajar? Ataukah terlalu larut dalam kesedihan dan menjadikan teman kita yang belum bisa ikut berangkat bersama tersebut menjadi kecewa lantaran sikap kita? Jawabannya hanya kita sendiri yang tahu.

Nilai dari setiap ujian itu penting, tapi akan menjadi tidak berguna manakala didapatkan dengan jalan yang tidak baik. Karena, seperti yang selalu diingatkan oleh para sensei, masa pelatihan akan sangat berbeda dengan masa kerja.

Boleh jadi, kalau kita sekarang masih malu ataupun enggan menggunakan bahasa Jepang dalam percakapan, masih ada bahasa Indonesia, karena memang masih di Indonesia dan masih ada temannya banyak.

Akan menjadi hal yang sangat berbeda pada bulan desember nanti, saat kita sudah berpisah dengan teman-teman pelatihan dan hidup masing-masing di tempat kerja yang berbeda kota serta perfekturnya.

Hanya ada diri kita sendiri yang menjadi penolong saat kita berkomunikasi dengan pasien atau rekan kerja yang mayoritas tidak bisa berbahasa Indonesia.

Oleh karena itulah, perasaan semangat untuk belajar, hanya bisa dimunculkan oleh diri sendiri. 

Walaupun sudah didorong, diberi motivasi oleh motivator handal pun, namun kita sendiri tidak mau berubah, akan menjadi sama saja.

Ingatlah kawan, saat kita sedang down, galau, ingin menyerah, minimal, tolong ingat orang tua kita yang sedang menunggu keberhasilan kita!

Ganbatte kudasai…

Srengseng Sawah, 2 april 2016

07.00 am

*Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: